- Beranda
- Stories from the Heart
CEREBRO : KUMPULAN CERITA CINTA PAKAI OTAK
...
TS
reloaded0101
CEREBRO : KUMPULAN CERITA CINTA PAKAI OTAK
Judul thread ini ane ganti, sekarang tidak semua cerpennya mengisahkan cinta. Tetapi temanya lebih umum, ada detektif,sci-fi,horor,thriller,drama dan lain-lain yang tidak selalu melibatkan percintaan antar karakternya.
INDEX BARU:
CERITA 2020
AZAB ILMU PELET
MUDIK 2020
Terima kasih untuk Agan Gauq yang sudah membuatkan index cerita ini.
Index by Gauq:
INDEX
INDEX lanjutan
Cerita baru 2019:
KISAH-KISAH MANTAN DETEKTIF CILIK di postingan terakhir halaman terakhir
INDEX PART 3
INDEX PART 4-new
Langsung saja cerpen pertama
Apa yang akan kau lakukan ketika dia yang kaucinta meminta syarat berupa rumah dengan 1000 jendela sebelum menerima cintamu?
Leo merogoh saku belakang celana hitam barunya. Sebuah sisir kecil diambilnya dari kantong itu. Sambil melihat spion, ia merapikan kembali rambut yang sempat dipermainkan angin selama dalam perjalanan, maklum saja kaca pintu depan mobilnya rusak dan hanya bisa ditutup setengahnya saja. Setelah dirasa sudah rapi, Leo dan rambutnya keluar dari roda empatnya kemudian berjalan dengan jantung berdegup kencang menuju rumah nomor 2011 dan menekan belnya. Sang pembantu rumah keluar dan menyapanya
“Oh Mas Leo ”
“Riska-nyaada Bi?”
“Oh ada, sebentar saya panggilkan.”
Beberapa menit kemudian seorang wanita muda cantik berusia 20 tahunan awal keluar, mendapati Leo yang sedang menghirup teh celup panas buatan Bibi.
“Mau pergi ke pestanya siapa? Perasaan teman kita nggak ada yang ulang tahun atau nikah hari ini.”
Tanya Riska.
“Memang tidak ada.”
“Kalau nggak ke kondangan, mengapa pakai baju serapi ini? Sok formal banget. ”
“ Harus formal, kan mau melamar.”
“Ngelamar kerja?”
Leo menggeleng. Jantungnya berdegup makin kencang.
“Bukan.”
“Lalu melamar apa?”
“Kamu.”
Kata Leo sambil bersimpuh dan mengeluarkan sebuah kotak merah berisi cincin emas dengan sebuah berlian berukuran mini di tengahnya. Sementara itu Riska mundur beberapa langkah ke belakang.
“Aku? kita kan nggak pernah pacaran?”
“Tetapi kita sudah saling mengenal belasan tahun Ris. Aku tahu apa yang kamu suka, aku tahu apa yang kamu tidak suka, aku tahu bagaimana kamu selalu menghentakkan kaki kirimu ke tanah ketika mendengar kabar gembira,
aku tahu bagaimana kau selalu mencengkeram erat kertas tisu di tanganmu waktu kau sedang gugup, dan aku tahu aku mencintaimu. ”
“Tapi kamu kan nggak tahu apakah aku juga cinta kamu?
“Karena aku tidak tahu, bagaimana kalau kamu beritahukan padaku sekarang.”
“Mmm, gimana ya? Untuk urusan cinta, apalagi orientasinya nikah. Tentu aku maunya sama pria yang sungguh-sungguh.”
“Cintaku kepadamu sungguhan Ris, bukan bohongan atau tren musiman.”
“Sejak kapan lidah punya tulang?”
“Kau tidak percaya pada kata-kataku?”
“Aku butuh bukti Yo, bukan janji.”
“Baik, bukti seperti apa yang kauminta Ris?”
“Tidak ada yang mustahil untuk orang yang sungguh-sungguh. Demi cinta Shah Jehan mampu menciptakan Taj Mahal untuk istrinya.”
“Lalu apa yang kau inginkan agar mau menjadi istriku Ris?”
“Buatkan aku rumah dengan 1000 jendela.”
“Baik”
“Jika kau mampu menyelesaikannya dalam waktu 24 jam aku akan menerimamu tetapi jika tidak ya kita temenan saja ya Yo.”
“Buat rumah 1000 jendela dalam waktu 24 jam. Sudah itu saja?”
“Memangnya kamu bisa?”
“Akan kucoba semampuku.”
“Baik aku tunggu hasilnya besok. Good luck.”
Leo pun pergi dari halaman rumah itu dan menuju mobilnya sambil mengambil nafas panjang. Ia memacu kendaraannya dan pergi ke beberapa toko kelontong dan toko bangunan. Banyak hal yang dibelinya. Setelah selesai berbelanja, benda-benda itu dibungkus dalam beberapa kantong kresek dan kardus yang dijejalkan ke bagasi mobil.
Pulang ke rumah Ia langsung menuju ke halaman belakang yang luas dan masih berupa lahan kosong yang hanya dihuni oleh rimbun ilalang dan satu dua pohon nangka.
Leo mengambil nafas panjang lalu menghelanya dan mulai bekerja. Ia menurunkan semua barang yang ia beli. Tak lama kemudian suara gaduh dari palu bertemu paku terdengar berulang-ulang hingga malam tiba.
Malam harinya halilintar menyambar, disusul hujan yang turun sederas-derasnya. Air membanjiri halaman belakang yang masih tetap kosong dan hanya dihuni oleh rimbun ilalang dan satu dua pohon nangka.
“Ris bisa mampir kerumah sekarang? ada sesuatu yang mau kuperlihatkan padamu.”
Kata Leo keesokan harinya lewat ponsel yang dijawab dengan gugup oleh Riska.
“I...iya.”
Dalam hati gadis itu berpikir, bagaimana ini? Apa Leo bisa menyelesaikan permintaan yang mustahil itu? Memang sih dia itu baik, cerdas dan tidak sombong tapi Riska tidak mencintainya. Ia memberikan syarat itu dengan tujuan agar Leo gagal dan mereka berdua bisa kembali happily everafter...meskipun hanya di friend zone saja.
Riska sampai di depan rumah Leo dan heran mendapati mobil ayahnya terparkir di halaman. Ketika masuk ke dalam ia mendapati ayahnya sednag bercakap-cakap di beranda bersama Leo.
“Kok Papi bisa ada di sini?”
“Aneh kamu ini Ris, Masak Papi nggak boleh sowan ke rumah calon suamimu?”
“Calon suami? Calon suami apa?”
“Kan kamu sendiri yang mengajukan syarat, kalau Nak Leo bisa membuat rumah yang memiliki 1000 jendela dalam waktu 24 jam, kau akan menikahinya?”
“Memangnya bisa?”
“Nak Leo tunjukkan!”
Leo masuk ke dalam dan mengambil sebuah benda yang ditutup taplak meja.
“Apaan nih?”
Tanya Riska dengan tanda tanya menggantung di atas kepalanya.
“Yang kau minta.”
Kata Leo sambil membuka taplak meja itu dan memperlihatkan sebuah rumah berukuran sedikit lebih besar dari telapak tangan yang terbuat dari ribuan tusuk gigi.
“Papi sudah hitung sendiri jendelanya ada 1000 pas.”
“Tapi ini kan kecil sekali.”
“Di syaratmu tidak disebutkan ukurannya harus besar.”
“Tapi ini...definisi rumah kan tempat tinggal, siapa yang bisa tinggal di rumah sekecil ini. Paling-paling juga semut.”
“Di syarat yang kamu ajukan tidak ada keterangan kalau harus rumah manusia. Rumah semut kan juga termasuk dalam kategori rumah.”
Riska serasa disambar geledek. Ia menyesal mengapa tidak jelas dan detail ketika meminta syarat itu kemarin.
“Papi say something dong, belain Riska?”
“Menurut Papi rumah buatan Nak leo ini sudah memenuhi syarat.”
“Jadi Papi setuju punya menantu seperti dia ini?”
“Tentu saja setuju, kalian sudah kenal dari kecil, Papi juga kenal Nak Leo dari kecil. dia juga cerdas dan pernah magang di kantor kita jadi tahu kultur organisasi kita kayak gimana. Nanti kan bisa bantuin kamu waktu gantiin Papi megang perusahaan.”
“Tidaaaaak!!!!”
Riska pun pingsan karena shock. Otak kanannya seolah mengejek, melakukan bullying bawah sadar terhadapnya sambil terus-menerus berkata.
“Makanya Ris, kalau minta sesuatu itu yang jelas.”
INDEX BARU:
CERITA 2020
AZAB ILMU PELET
MUDIK 2020
Terima kasih untuk Agan Gauq yang sudah membuatkan index cerita ini.
Index by Gauq:
INDEX
INDEX lanjutan
Cerita baru 2019:
KISAH-KISAH MANTAN DETEKTIF CILIK di postingan terakhir halaman terakhir
Spoiler for :
Quote:
INDEX
RUMAH SERIBU JENDELA DI POST INI
SETIA
DEAD OR ALIVE
MAKAN TUH CINTA
KALAU JODOH TAK LARI KEMANA
OUTLIER
MAKAN BATU
TA'ARUF
SETIA
DEAD OR ALIVE
MAKAN TUH CINTA
KALAU JODOH TAK LARI KEMANA
OUTLIER
MAKAN BATU
TA'ARUF
INDEX PART 3
INDEX PART 4-new
Langsung saja cerpen pertama
Apa yang akan kau lakukan ketika dia yang kaucinta meminta syarat berupa rumah dengan 1000 jendela sebelum menerima cintamu?
Spoiler for :
RUMAH SERIBU JENDELA
Leo merogoh saku belakang celana hitam barunya. Sebuah sisir kecil diambilnya dari kantong itu. Sambil melihat spion, ia merapikan kembali rambut yang sempat dipermainkan angin selama dalam perjalanan, maklum saja kaca pintu depan mobilnya rusak dan hanya bisa ditutup setengahnya saja. Setelah dirasa sudah rapi, Leo dan rambutnya keluar dari roda empatnya kemudian berjalan dengan jantung berdegup kencang menuju rumah nomor 2011 dan menekan belnya. Sang pembantu rumah keluar dan menyapanya
“Oh Mas Leo ”
“Riska-nyaada Bi?”
“Oh ada, sebentar saya panggilkan.”
Beberapa menit kemudian seorang wanita muda cantik berusia 20 tahunan awal keluar, mendapati Leo yang sedang menghirup teh celup panas buatan Bibi.
“Mau pergi ke pestanya siapa? Perasaan teman kita nggak ada yang ulang tahun atau nikah hari ini.”
Tanya Riska.
“Memang tidak ada.”
“Kalau nggak ke kondangan, mengapa pakai baju serapi ini? Sok formal banget. ”
“ Harus formal, kan mau melamar.”
“Ngelamar kerja?”
Leo menggeleng. Jantungnya berdegup makin kencang.
“Bukan.”
“Lalu melamar apa?”
“Kamu.”
Kata Leo sambil bersimpuh dan mengeluarkan sebuah kotak merah berisi cincin emas dengan sebuah berlian berukuran mini di tengahnya. Sementara itu Riska mundur beberapa langkah ke belakang.
“Aku? kita kan nggak pernah pacaran?”
“Tetapi kita sudah saling mengenal belasan tahun Ris. Aku tahu apa yang kamu suka, aku tahu apa yang kamu tidak suka, aku tahu bagaimana kamu selalu menghentakkan kaki kirimu ke tanah ketika mendengar kabar gembira,
aku tahu bagaimana kau selalu mencengkeram erat kertas tisu di tanganmu waktu kau sedang gugup, dan aku tahu aku mencintaimu. ”
“Tapi kamu kan nggak tahu apakah aku juga cinta kamu?
“Karena aku tidak tahu, bagaimana kalau kamu beritahukan padaku sekarang.”
“Mmm, gimana ya? Untuk urusan cinta, apalagi orientasinya nikah. Tentu aku maunya sama pria yang sungguh-sungguh.”
“Cintaku kepadamu sungguhan Ris, bukan bohongan atau tren musiman.”
“Sejak kapan lidah punya tulang?”
“Kau tidak percaya pada kata-kataku?”
“Aku butuh bukti Yo, bukan janji.”
“Baik, bukti seperti apa yang kauminta Ris?”
“Tidak ada yang mustahil untuk orang yang sungguh-sungguh. Demi cinta Shah Jehan mampu menciptakan Taj Mahal untuk istrinya.”
“Lalu apa yang kau inginkan agar mau menjadi istriku Ris?”
“Buatkan aku rumah dengan 1000 jendela.”
“Baik”
“Jika kau mampu menyelesaikannya dalam waktu 24 jam aku akan menerimamu tetapi jika tidak ya kita temenan saja ya Yo.”
“Buat rumah 1000 jendela dalam waktu 24 jam. Sudah itu saja?”
“Memangnya kamu bisa?”
“Akan kucoba semampuku.”
“Baik aku tunggu hasilnya besok. Good luck.”
Leo pun pergi dari halaman rumah itu dan menuju mobilnya sambil mengambil nafas panjang. Ia memacu kendaraannya dan pergi ke beberapa toko kelontong dan toko bangunan. Banyak hal yang dibelinya. Setelah selesai berbelanja, benda-benda itu dibungkus dalam beberapa kantong kresek dan kardus yang dijejalkan ke bagasi mobil.
Pulang ke rumah Ia langsung menuju ke halaman belakang yang luas dan masih berupa lahan kosong yang hanya dihuni oleh rimbun ilalang dan satu dua pohon nangka.
Leo mengambil nafas panjang lalu menghelanya dan mulai bekerja. Ia menurunkan semua barang yang ia beli. Tak lama kemudian suara gaduh dari palu bertemu paku terdengar berulang-ulang hingga malam tiba.
Malam harinya halilintar menyambar, disusul hujan yang turun sederas-derasnya. Air membanjiri halaman belakang yang masih tetap kosong dan hanya dihuni oleh rimbun ilalang dan satu dua pohon nangka.
“Ris bisa mampir kerumah sekarang? ada sesuatu yang mau kuperlihatkan padamu.”
Kata Leo keesokan harinya lewat ponsel yang dijawab dengan gugup oleh Riska.
“I...iya.”
Dalam hati gadis itu berpikir, bagaimana ini? Apa Leo bisa menyelesaikan permintaan yang mustahil itu? Memang sih dia itu baik, cerdas dan tidak sombong tapi Riska tidak mencintainya. Ia memberikan syarat itu dengan tujuan agar Leo gagal dan mereka berdua bisa kembali happily everafter...meskipun hanya di friend zone saja.
Riska sampai di depan rumah Leo dan heran mendapati mobil ayahnya terparkir di halaman. Ketika masuk ke dalam ia mendapati ayahnya sednag bercakap-cakap di beranda bersama Leo.
“Kok Papi bisa ada di sini?”
“Aneh kamu ini Ris, Masak Papi nggak boleh sowan ke rumah calon suamimu?”
“Calon suami? Calon suami apa?”
“Kan kamu sendiri yang mengajukan syarat, kalau Nak Leo bisa membuat rumah yang memiliki 1000 jendela dalam waktu 24 jam, kau akan menikahinya?”
“Memangnya bisa?”
“Nak Leo tunjukkan!”
Leo masuk ke dalam dan mengambil sebuah benda yang ditutup taplak meja.
“Apaan nih?”
Tanya Riska dengan tanda tanya menggantung di atas kepalanya.
“Yang kau minta.”
Kata Leo sambil membuka taplak meja itu dan memperlihatkan sebuah rumah berukuran sedikit lebih besar dari telapak tangan yang terbuat dari ribuan tusuk gigi.
“Papi sudah hitung sendiri jendelanya ada 1000 pas.”
“Tapi ini kan kecil sekali.”
“Di syaratmu tidak disebutkan ukurannya harus besar.”
“Tapi ini...definisi rumah kan tempat tinggal, siapa yang bisa tinggal di rumah sekecil ini. Paling-paling juga semut.”
“Di syarat yang kamu ajukan tidak ada keterangan kalau harus rumah manusia. Rumah semut kan juga termasuk dalam kategori rumah.”
Riska serasa disambar geledek. Ia menyesal mengapa tidak jelas dan detail ketika meminta syarat itu kemarin.
“Papi say something dong, belain Riska?”
“Menurut Papi rumah buatan Nak leo ini sudah memenuhi syarat.”
“Jadi Papi setuju punya menantu seperti dia ini?”
“Tentu saja setuju, kalian sudah kenal dari kecil, Papi juga kenal Nak Leo dari kecil. dia juga cerdas dan pernah magang di kantor kita jadi tahu kultur organisasi kita kayak gimana. Nanti kan bisa bantuin kamu waktu gantiin Papi megang perusahaan.”
“Tidaaaaak!!!!”
Riska pun pingsan karena shock. Otak kanannya seolah mengejek, melakukan bullying bawah sadar terhadapnya sambil terus-menerus berkata.
“Makanya Ris, kalau minta sesuatu itu yang jelas.”
end
Diubah oleh reloaded0101 15-05-2020 14:17
indrag057 dan 37 lainnya memberi reputasi
34
191.1K
Kutip
1.1K
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
reloaded0101
#31
CERBERUS
Spoiler for :
Libur lebaran memang saat yang tepat untuk pulang kampung. Tetapi bagaimana kalau kau tidak punya kampung nan jauh di mata untuk dituju, kalau kau bukan anak perantauan, ya seperti diriku ini yang sejak kecil kuliah,sekolah dan tinggal di kota asal.Apa masih bisa pulang kampung? Tentu saja bisa, kalau kau tidak bisa pulang ke kampungmu, ikutlah pulang ke kampung temanmu. Dan itu yang aku lakukan pada lebaran saat itu.
“Kalau mau tidur dulu silahkan.”
Kata Bayu temanku sambil membukakan pintu sebuah kamar kosong di rumahnya.
“Aku tidak capek kok Yu, belum ngantuk.”
“Ya sudah, kalau begitu ikut aku.”
“Kemana?”
“Aku kenalinsama teman-teman lamaku di sini.”
Aku dan Bayu keluar rumah dan di teras sudah ada dua orang anak muda seusiaku yang sedang bersenda gurau, kata Bayu dulu setiap sore mereka memang selalu ngumpul di teras rumahnya.
“Rendy, Angga, kenalin ini Isak temanku dari kota.”
“Nih tissue” Kata seorang dari mereka yang bernama Joko
“Buat apa?”
“Buat dipakai kalau kamu lagi terisak-isak”
“Oh salah bukan Isak tangis. Namaku Isak karena lahir waktu Isak dan nenek aku ngefans berat sama Isaac Newton.”
“Oh ya, kamu sudah punya pacar belum Sak?”
Aku menggeleng
“Kalau begitu kamu datang ke tempat yang tepat Sak, kampungnya Bayu ini pabriknya cewek cantik.”
Kata Angga.
“Oh ya?”
“Kalau nggak percaya tanya saja si Bayu, temanmu ini lagi kesengsem berat sama Dinda cewek tercantik nomor tiga di kampung ini.”
“Kalau kamu sendiri Ngga?”
“Bukannya sombong nih, sekarang aku lagi deket sama yang tercantik nomor dua di sini, Si Virna.”
“Jangan percaya Sak, bukan sedang dekat tapi sedang ngincer Virna, sama seperti semua cowok normal di sini.”
Aku berpikir mengapa semuanya mengincar cewek tercantik nomor dua.
“Kalian ngincar cewek tercantik nomor dua, apa karena yang paling cantik sudah punya pacar?”
Tanyaku yang dijawab dengan saling pandang.”
“Justru yang paling cantik belum pernah pacaran sama sekali.”
“Kalau begitu kenapa kalian tidak...?”
Tanyaku heran.
“Ikut aku”
Kata Bayu sambil mengajakku berjalan menuju rumah terbesar di jalan itu. Di halaman depan kulihat seorang anak muda berpakaian rapi membawa seikat bunga. Kepada pria setengah baya di balik pagar ia bertanya.
“Helen-nya ada Om?”
“Ada, silahkan lewat pintu samping.”
Anak muda itupun meninggalkan sepeda motornya dan pergi ke pintu samping.
“Ada mangsa baru, ayo ikut.”
Kata Bayu dan teman-temannya yang mengajakku pindah ke depan pintu samping rumah besar itu. Si pria muda berjalan melewati jalan samping yang lebih sempit sambil bersiul-siul riang. Baru sepuluh langkah ia berlari, seekor anjing besar berwarna hitam yang aku tidak tahu jenisnya apa mengejar dari belakang. Anak muda itu berlari makin cepat sebelum akhirnya tangannya tergigit dan jatuh terpelanting sambil terkaing-kaing. Ayah Helen mendekat, menenangkan anjingnya lalu berkata
“Maaf, kau terlalu lambat untuk mendekati putriku. Lain kali jangan datang lagi”
Si anak muda meringis kesakitan. Baju barunya yang semula tersetrika rapi jadi compang-camping. Dengan penampilan mirip orang gila di jalanan anak muda malang itu keluar, menghampiri sepeda motornya dan pergi meninggalkan rumah bermonster tempat tinggal Helen, sang pujaan hati yang tak terjangkau oleh tangan dan kakinya.
Setibanya di rumah, kami bercakap-cakap sebentar di kamar Bayu
“Kalau kau tidak bisa berlari lebih cepat dari cerberus itu, kau takkan bisa mendekati Helen.”
“Ngeri juga ya.”
“Bilang ngeri tapi kamu mau nyoba juga kan?”
“Aku cuma penasaran, secantik apa yang namanya Helen itu?”
“Aku sarankan jangan penasaran. Lihat tubuhmu, terlalu gemuk untuk berlari.”
“Tapi otakku lebih pintar dari Cerberus itu.”
“Oh ya? Jadi bagaimana caranya melewati anjing itu? Jangan bilang dipancing pakai daging seperti di film-film. Cara itu sudah banyak yang mencoba dan semuanya gagal. Ayah helen sudah melatih anjingnya untuk tidak menerima makanan dari orang yang tidak dikenal.”
“Yang bilang pakai daging juga siapa?”
“Lalu pakai apa?”
“Kucing. Tapi sudahlah aku hanya penasaran saja tidak ada maksud untuk mendekati gadis itu. Wajahnya saja aku tidak tahu, yang kutahu dia paling cantik tapi itupun cuma katanya. ”
“Oh ya sudah kalau begitu. Soal kucing masuk akal juga. Kalau kau tidak mau biar aku saja yang mencobanya.”
“Jangan Yu, terlalu berisiko, kalau kucingnya mati bagaimana?”
“Masih banyak kucing yang lain.”
Keesokan harinya pagi-pagi aku berlari sambil membiasakan diri dengan keadaan kota kecil ini. Aku jogging sendiri karena sejak pagi Bayu pergi entah kemana. Jangan-jangan....
Akupun bergegas menuju rumah besar itu, di tengah jalan berhenti sebentar karena ada seorang anak perempuan sedang menangis.
“Kenapa Dik?”
“Kitty ilang”
Celaka, Bayu yang gelap mata ternyata nekad mencuri kucing gadis kecil itu dan pergi ke pintu samping itu. Ia akan melepaskan kucing bernama Kitty itu agar dikejar oleh Cerberus si anjing galak. Ketika si anjing sedang sibuk mengejar kucing buruannya, Bayu akan bergegas menyeberangi halaman dan masuk ke rumah. Cara ini belum tentu berhasil karena bisa saja pemiliknya sudah mengajarkan untuk tidka mengejar target non manusia selain itu nyawa kucing milik gadis kecil ini jadi taruhan. Bayu dan kucing itu bisa celaka, semuanya hanya demi seorang gadis-sementara kita tahu jumlah gadis di bumi ini ada milyaran.
Kuhampiri pintu depan rumah itu dan bertanya
“Apa tadi ada yang bertamu ke rumah ini, mencari Helen?”
“Tidak, tetapi kalau kau mau bertemu Helen silahkan masuk lewat pintu samping.”
Kata Ayah Helen yang sedang membaca koran. Rupanya Bayu sengaja menerobos langsung ke pintu samping tanpa memberitahu ayahnya Helen terlebih dahulu.
Aku bergegas menuju pintu samping dan menemukan Bayu sedang menelungkup di atas tanah tak sadarkan diri, sementara tak jauh dari tempatnya tergeletak, terjadi perkelahian yang tak seimbang antara seekor kucing kecil dengan anjing raksasa. Bagaimana ini? Kembali lagi ke pagar depan untuk memberitahu sang ayah yang acuh tak acuh, terlalu lama. Membawa pergi Bayu dan Kitty sambil berlari juga mustahil. Satu-satunya cara adalah mengeluarkan anjing galak tu dari persamaan ini. Kuambil batu kecil dan kulempar kepala anjing itu. Cerberus yang marah berbalik arah. Ia memandangku dengan sepasang matanya yang memerah. Tanganku meraih pintu pagar yang terbuka, ini pertaruhan, jika salah menghitung waktu, nyawaku bisa melayang.
GRRR
Anjing menggeram lalu berlari melewati jalan samping yang sempit menuju ke arahku yang masih berdiri di luar pagar. Tepat ketika kami hanya berjarak satu meter, kututup pintu pagar kuat-kuat. Benda besi itu mengayun keluar, tepat menghantam leher Cerberus dan menjepitnya. Mulutnya terus menyalak, gigi-giginya yang tajam terus mencoba mencabik-cabik tubuhku tetapi tak bisa. Kutahan terus pintu pagar hingga ia lemas dan tak sadarkan diri. Saat itulah kupukul kepalanya berkali-kali hingga yakin bahwa monster itu benar-benar tak bisa bergerak lagi.
Sambil kehabisan nafas dan tenaga aku berjalan memasuki halaman rumah dan berhenti di depan sebuah pintu bercat putih. Kutekan belnya berulang-ulang hingga seorang gadis cantik membuka pintu dari dalam.
“Siapa ya?”
“Temannya Bayu, mau pinjam perban,obat merah,alkohol dan telepon. Oh ya aku juga mau minta maaf sudah melukai anjingmu.”
“Ya aku lihat dari dalam. Luar biasa sekali. Yang lain mencoba lari, tetapi kamu memilih untuk melawan anjing itu. Berani dan kuat seperti Hercules. Oh ya kenalin, aku Helen.”
“Aku ke sini mau minta pertolongan untuk temanku yang juga temanmu, bukan untuk berkenalan dengan gadis barbar yang suka melihat manusia bertarung melawan hewan seperti di jaman romawi kuno.”
“Jadi kamu kemari bukan untuk mencariku?”
Kata Helen heran karena setiap pria mencoba untuk bertamu dan menemuinya di rumah itu.
“Tidak”
“Kamu ini gay atau apa?”
“Bukan gay, hanya saja aku tidak mencintaimu.”
Tetapi kenyataan berkata lain, 5 tahun setelah peristiwa itu aku bertemu lagi dengan Helen dan dua tahun kemudian menikahinya. Kini setiap tahun, aku punya rumah tujuan mudik. Ya sulit dipercaya, sarang monster di dekat rumah Bayu itu kini menjadi rumahku juga.
THE END
jwbali memberi reputasi
1
Kutip
Balas