Quote:
Seminggu berlalu, semenjak kejadian mengenaskan itu, gue belum berani lagi mengungkapkannya ke Salsa. Gue harus mengumpulkan keberanian gue dulu. Jujur, walaupun gue udah deket, bahkan udah ciuman pun gue masih takut kalo Salsa nantinya bakal menolak cinta gue. Gue gak punya alasan pasti.
Ditengah lamunan gue, tiba-tiba hp gue geter. Ada SMS masuk dari Vira.
“Adit, gimana? Jangan lupa, udah seminggu lagi loh kita ngadain bazarnya.”
Sial, gue juga masih bingung, apakah gue akan menolak atau menerima ajakan Vira. Tapi gue ingat, malam itu Salsa bilang ke gue, “Dit, kalo menurut lo, lo dapet manfaat dengan ikut bazar itu, yaudah, ikut aja.”
Dalam kasus ini kayaknya gue butuh saran. Gue temui Andi di kelas.
“Woi, kak ketos! Gue mau ngomong.” Kata gue teriak dari pintu kelas Andi.
Lalu Andi keluar, “Ada apa gerangan mas Adit memanggil-manggil daku?”
“Gue mau cerita sama lo Ndi. Tapi dikantin aja yok, biar aman.”
Gue & Andi langsung ke kantin.
“Biar gue tebak, pasti Salsa?”
“Iya, ada hubungannya sama doi.” 
Kemudian gue ceritain semua masalah gue ke Andi. Semuanya!
“Ooooh, gitu, jadi lo bingung gegara ituu?” 
“Ho oh. Kalo gue ikut nanti Salsa gimana? Terus kalo gue nolak, gue gak enak sama anak kelas 3.” 
“Yaelah, elu masalah ginian doang dibawa ribet. Haha.
” Kata Andi dengan muka sok kalem,
“Kalo lo emang enggak mau ikut, yaudah, bilang aja lo ada acara keluarga pas kelas 3 ngadain bazar.”
“Lalu..” kata Andi melanjutkan, “Masalah Salsa, coba deh lo balik keadaan lo sekarang ini. Coba lo bayangin Salsa yang akan di ajak ke bazar itu dan dia yang akan foto-foto sama cowok yang akan membeli banyak barang di bazar itu. Gimana perasaan lo?”
Gue diem. Mencerna baik-baik apa yang Andi katakan.
“Gila, Ndi! LO BENER-BENER JENIUS!” kata gue sambil teriak-teriak.
“Sebenernya gue gak jenius, tapi lo nya aja yang bego.”
“Aseeem lo, ketek tapir!” Lalu gue pergi sambil berlari, “Thanks ya Ndi!” teriak gue dari kejauhan.
Andi mengangkat jempolnya.
Akhirnya gue tahu harus melakukan apa kala itu.
Seminggu pun berlalu dengan cepat, malam setelah acara bazar itupun gue mengajak Salsa makan nasi goreng di tempat langganan gue.
“Gimana dit, Bazarnya? Banyak yang mau foto bareng lo dong ya?”
Gue cuma senyum.
“Cieee...” katanya meledek gue.
“Gue gak ikut kok.” Kata gue kalem.
“hah?”
“Iya cantik, gue gak ikut, gue nolak ajakan Vira.”
Salsa senyum, “Kenapa enggak ikut?”
“Gue bilang aja kalo gue ada acara keluarga habis pulang sekolah.” Iya, waktu itu bazarnya di mulai pada saat anak-anak pulang sekolah, karena di barengi oleh pertandingan bola basket antar sekolah, jadinya walaupun udah pulang sekolah, sekolah masih rame.
“Yeee, dasar!” katanya sambil ketawa.
Kemudian kita berdua tertawa. Gue seneng banget gue gak salah ngambil keputusan.
Kadang hidup itu seperti menempuh perjalanan jauh ke suatu tempat. Terkadang kita harus berhenti dan bertanya jalan kepada seseorang. Namun jika kita tak berhenti untuk sekadar bertanya, kemungkinan besar kita akan memilih jalan yang salah dan bertambah jauh dari tempat tujuan.
Sama halnya kayak masalah yang barusan gue hadapi. Jika saja gue tak bertanya jalan ke Andi dan salah pilih jalan, mungkin Salsa akan tambah jauh dari gue.
Makasih banyak buat yang udah ngasih cendol atau yang udah rate thread ini.

dan semoga kesibukan ane di RL gak menganggu update-an Thread ini.
