TS
pauslumbalumba
[FanFict] Tantra: Rise of Trimurti
![[FanFict] Tantra: Rise of Trimurti](https://dl.kaskus.id/nexogame.net/wp-content/uploads/2012/09/LogoTantra2.png)
![[FanFict] Tantra: Rise of Trimurti](https://dl.kaskus.id/1.bp.blogspot.com/_YGJa2GEQYZs/SQuYkI275NI/AAAAAAAAIqY/VOSIB8moh8w/s400/Copy+of+tantra+poster.jpg)
Spoiler for Prakta:
Quote:
fanfict ini ane dedikasiin buat game yang muncul pada taun 2007 (kalau ga salah gan, hehehehe), mungkin disini ada yang pernah mainin juga, jadi disini ceritanya dibuat berdasarkan game, ga ada maksud untuk ngejelekin atau apapun pada salah satu agama, terima kasih atas perhatiannya agan-agan, silahkan dinikmati
Quote:
semua yang ada dicerita ini adalah game dari publisher hanbisoft, TS disini cuma membuat fanfict berdasarkan game Tantra Online
untuk yang nggak mainin gamenya mungkin bisa baca sedikit keterangan mengenai tantra disini
Spoiler for helper:
Spoiler for Suku:
Spoiler for Ashura:
![[FanFict] Tantra: Rise of Trimurti](https://dl.kaskus.id/students.ukdw.ac.id/~23060134/ashura%5B1%5D.jpg)
Suku Ashura menetap pada wilayah timur laut dataran tinggi Mandala yang dikelilingi oleh pegunungan yang tajam dan curam. Umumnya, suku Ashura hidup dengan cara berburu binatang di area yang tandus dan kering. Namun, beberapa dari suku Ashura hidup dengan bekerja sebagai pemburu kriminal yang tengah dicari, dan mendapatkan reward/imbalan dari jasanya tanpa ada yang secara pasti mengetahuinya bahwa suku Ashura membunuh guna mencari penghidupan atau sekedar alasan untuk dapat membunuh tanpa dikecam pihak lain.
Suku Ashura sangat lemah fisiknya, tapi mereka unggul dalam hal kecepatan dan kekuatan serangan. Seringkali terlihat pada masyarakat Ashura, beberapa bekas luka yang diperoleh dari pertarungan dengan binatang liar ataupun kriminal yang diburunya.
Spoiler for Rakhasa:
![[FanFict] Tantra: Rise of Trimurti](https://dl.kaskus.id/bengbeng.blogdetik.com/files/2008/03/rakshasa.jpg)
Rakshasa tinggal menetap di wilayah sebelah utara semenanjung dataran tinggi Mandala. Area terdekat dari dataran Mandala namun dengan iklim dan karakteristik wilayah yang berbeda dari dataran Mandala. Suku Rakshasa tinggal pada wilayah dengan iklim lembab dan wilayah hutan tropis berlembah.
Suku Rakshasa menghargai keindahan tubuh sebagai nilai tertinggi dan terpenting, sehingga mereka tidak suka mengenakan pakaian perang/armor dan juga mereka memiliki kemampuan berlari tercepat diantara suku yang lain. Keengganannya mengenakan armor dan keinginan menunjukkan keindahan tubuh yang dimilikinya, mengakibatkan suku rakshasa mudah menderita luka ketika menerima serangan. Terlebih lagi suku rakshasa secara umum memiliki tubuh yang lemah karena mereka menganggap tabu/memalukan bentuk tubuh yang berotot, dan rakshasa jarang berlatih memperkuat otot.
Spoiler for Yaksa:
![[FanFict] Tantra: Rise of Trimurti](https://dl.kaskus.id/0-media-cdn.foolz.us/ffuuka/board/tg/image/1336/42/1336427033108.jpg)
Yaksa merupakan manusia yang pindah dan menetap ke wilayah utara dataran tinggi Mandala. Mereka sangat ahli dalam berburu dan sangat menikmati pertarungan. Yaksa memiliki karakteristik tubuh yang besar sehingga dapat dengan mudah berjalan di wilayah yang sukar dan sulit dilalui.
Suku Yaksa membenci kelemahan dan mengatasinya dengan cara berlatih tanpa henti dan diperkuat dengan pengalaman pertempuran yang pernah diikutinya. Tubuh suku Yaksa dapat menahan serangan, dan penggunaan senjata yang relative sederhana membuktikan kemampuan mereka bertempur jarak dekat. Namun, keunggulan suku Yaksa bukan terletak pada kekuatan fisiknya tapi terletak pada keahlian bertempurnya bahkan suku Gandharvapun mengakui hal tersebut.
Spoiler for Gandharva:
![[FanFict] Tantra: Rise of Trimurti](https://dl.kaskus.id/www.dal.kr/data/wallpaper/game/tantra/wall02.jpg)
Suku Gandarva hidup di area pegunungan, yang terletak pada area bagian utara dari dataran tinggi Mandala. Meskipun pertumbuhan fisik suku Gandarva sangat lambat, terbiasa berlari di area pegunungan dengan udara yang minim memberi mereka keahlian bergerak dengan cepat yang memungkinkan mereka untuk dapat menghindar dari serangan musuh. Tanpa memperhatikan jenis kelamin, keduanya baik laki-laki maupun wanita dapat bergerak dengan lincah. Namun, diketahui bahwa wanita dari suku Gandharva relatif lebih lincah dibandingkan laki-lakinya.
Meskipun mereka berukuran tubuh terkecil diantara suku lainnya, suku Gandharva memiliki fisik yang kuat. Mereka memiliki kemampuan yang sangat luar biasa dalam pertarungan jarak dekat, namun serangannya sangatlah lemah. Meskipun ukuran tubuh mereka kecil dibandingkan dengan suku Yaksa, keahlian bertempur jarak dekat suku Gandharva sama baiknya dengan suku Yaksa. Suku Gandharva lebih memilih menggunakan senjata yang dibuat untuk pertarungan jarak dekat dan pada umumnya dikenakan pada tangan atau pergelangan tangan mereka.
Spoiler for Naga:
![[FanFict] Tantra: Rise of Trimurti](https://dl.kaskus.id/www.3000fr.com/forum/3000-img-foru/tantra/7x8x9x/Naga-86-01.jpg)
Suku Naga terbentuk oleh sebagian umat manusia yang menetap pada ujung selatan kepulauan. Untuk pastinya, pada wilayah Aegean Sea bagian barat Rameswaram, tanah suci di wilayah selatan. Mereka menggunakan kapal untuk bepergian antar pulau.
Suku naga hidup dari menangkap ikan. Meskipun lambat untuk wilayah darat, kekuatan fisiknya adalah yang terbaik diantara suku lainnya. Mereka memiliki kekuatan yang luar biasa dengan membawa pedang besar yang dapat membelah perahu kecil menjadi dua dengan hanya sekali tebas. Karena suku Naga lambat dalam area daratan, tidak mudah untuk menghindari serangan musuh. Karena itu, mereka mengenakan armor/pakaian tempur yang kuat. Kekaguman mereka terhadap kekuatan sangatlah besar sehingga masyarakat Naga menghindari penggunaan Mantra secara langsung, dan mereka juga membenci orang yang menggunakan Mantra.
Spoiler for Kimnara:
Pada kepulauan wilayah barat yang terjauh, terdapat padang pasir dimana lingkungannya merupakan wilayah yang amat sukar dan sulit untuk dihuni. Menetap di wilayah ini, masyarakat dan suku Kimnara hidup dengan cara berdagang, mengantarkan dan menjual kebutuhan hidup ke berbagai wilayah alam yang sangat sulit untuk dilalui.Para ksatria dan pendekar Kimnara menguasai Chakra pengembangan kekuatan di padang pasir, dan mereka diketahui memiliki kekuatan sama halnya dengan kaum laki-laki dari suku Naga. Kekuatan menyerang yang luar biasa ditambah dengan perlindungan pakaian tempur/armor dari wilayah Aegean Sea yang diperoleh dari para pedagang membuat suku Kimnara unggul dari sisi kekuatannya. Namun, karena mengemban perlengkapan tempur yang berat membuat mereka tidak dapat bergerak secara cepat.
Spoiler for Deva:
![[FanFict] Tantra: Rise of Trimurti](https://dl.kaskus.id/i6.ifrm.com/2334/10/upload/p64353.jpg)
Suku Deva yang menetap di ujung timur kepulauan dengan wilayah beriklim sedang bermusim empat. Hidup dalam iklim yang bersahabat, memungkinkan suku Deva untuk mempelajari bahasa dewa dan berlatih menggunakan Mantra. Beberapa dari suku Deva diketahui melakukan modifikasi bentuk asli bahasa dewa yang ditransformasi oleh Oracle.
Suku Deva dikenal sangat segan mengenakan aksesoris pada lengannya yang terukir oleh bahasa dewa. Meskipun memiliki kemampuan menggandakan kekuatan Mantra dan daya tahan dari serangan Mantra, suku Deva sangat rentan dan rapuh dari serangan jarak dekat karena kekuatan fisiknya yang relative lemah. Dibandingkan dengan suku yang lain, suku Deva tidak memiliki kelebihan dalam pengembangan kekuatan fisiknya. Namun mereka tetap bersikeras tidak mengenakan armor/pakaian tempur yang dapat menutupi bahasa dewa yang terukir pada lengannya, hal ini menyebabkan suku Deva lebih lemah fisiknya dibandingkan suku yang lain.
Spoiler for Garuda:
![[FanFict] Tantra: Rise of Trimurti](https://dl.kaskus.id/www.mmobomb.com/wp-content/uploads/2011/03/Tantra-Online-1.jpg)
Suku Garuda menetap pada wilayah delta yang terletak pada bagian selatan wilayah suku Deva dan tenggara dataran Mandala. Mereka tinggal pada area subtropics yang sangat nyaman untuk dihuni dimana suku Garuda dapat menebang pohon selama setahun.
Suku Garuda selalu mempelajari Mantra yang memungkinkan mereka memulihkan kekuatan fisiknya. Sama halnya dengan suku Deva, mereka sangat mahir menggunakan Mantra dan memiliki daya tahan yang tinggi terhadap serangan Mantra. Kelemahan suku Garuda terletak pada fisiknya. Suku Garuda dapat terluka parah ketika mereka diserang dengan jarak yang dekat. Mereka menguasai ilmu menggandakan kekuatan Mantra dan mereka juga menyediakan suku lain termasuk suku Deva dengan berbagai ilmu dan peralatan yang mereka miliki.
Spoiler for Dewa:
![[FanFict] Tantra: Rise of Trimurti](https://dl.kaskus.id/i989.photobucket.com/albums/af16/xganja/sdasdasdas.png)
Dewa dalam dunia tantra menjadi 3:
Dewa Vidha yang bewarna merah, merupakan lambang dari penjagaan alam semesta
Dewa Bathara yang berwarna kuning, merupakan lambang penciptaan dari alam semesta
Dewa Sethi yang berwarna biru, merupakan lambang dari penghancuran alam semesta
Spoiler for List of Character:
ntar diupdate
Spoiler for Index:
Spoiler for Epilog:
Ratusan tahun telah berlalu semenjak serangan mara besar-besaran terjadi didaratan mandara. Mara yang merupakan iblis-iblis terkutuk menyerang banyak kota dan desa membawa daratan tantra menuju kehancuran hebat, namun para ksatria terpilih dari 8 suku yang terdiri dari suku ashura, Rakshasa, yaksa, Gandharva, deva, garuda, naga, kimnara berhasil mengalahkan dan mengusir para makhluk terkutuk tersebut keluar dari daratan tantra kembali ketempat asal mereka, kegelapan.
Kini kedamaian didunia mulai terusik ketika banyak orang-orang mulai mengalami kegilaan mara, kegilaan yang melanda daratan ini ratusan tahun yang lalu. Kegilaan yang dihasilkan begitu hebat hingga membuat seorang ibu tidak mengenali anaknya, adik tidak mengenal kakak, hanya fanatisme belaka.
Kegilaan mara membuat para pengikut dewa menjadi kaum fanatik yang hanya peduli dengan dewa mereka saja. Vidha, Bathara, Sethi, ketiga dewa yang merupakan bentuk trinitas dari ketuhanan yang menciptakan dunia ini merupakan dewa yang hidup dalam keharmonisan, Vidha sebagai dewa pencipta, Bathara sebagai dewa pelindung dan Sethi sebagai dewa perusak. Namun keadaan berubah ketika kegilaan mara memaksa para pengikut mereka untuk berperang, saling membunuh satu sama lain untuk dapat mengetahui siapa yang paling benar.
Dunia tengah dilanda ancaman kekacauan yang dapat menghancurkan keharmonisan tiga dewa. Kekuatan para mara semakin berkembang sehingga mulai menampakan diri mereka kembali kedaratan tantra. Titik hitam mulai meluas menjadi noda, para pejuang dipaksa menghunus pedang, sebuah kegilaan yang akan mengusik keharmonisan, saat 8 suku terpaksa menanggung beban
Diubah oleh pauslumbalumba 01-05-2014 22:08
0
7.6K
Kutip
42
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Fanstuff
1.9KThread•350Anggota
Tampilkan semua post
TS
pauslumbalumba
#2
Spoiler for Part 2:
Sebagai laki-laki diawal umur kepala dua, tentu hal yang ada dipikirannya saat melihat para pramuria adalah hubungan seks, hal ini yang dialami Satya ketika dia memasuki gang-gang yang dipenuhi oleh para pramuria. Para pamannya selalu bercerita bagaimana mandara menjadi pusat dari prostitusi dan menjadi pasar bagi para pelaut dan pengelana untuk transaksi seks. Kuil para dewa yang terdapat di Desa Mandara merupakan tempat wajib bagi mereka yang ingin menganut ajaran dewa, hal ini membuat mandara menjadi tujuan bagi orang-orang dari seluruh belahan dunia baik untuk perdagangan ataupun ibadah. Dengan banyaknya lalu lalang orang-orang membuat pramuriaan menjadi tumbuh subur, permintaan membuat penawaran meningkat, maka sekalipun Mandara adalah tempat suci, namun prostitusi adalah hal yang tidak dapat diberantas.
Menyusuri gang-gang yang dipenuhi pramuria, Satya menyadari bahwa semua dari pramuria disini tidak memiliki dewa. Hampir semua pramuria disini adalah perempuan walau ada beberapa pramuria laki-laki yang berdandan seperti perempuan. Hampir semua suku perempuan ada ditempat ini, mulai dari Rakhasa, Kimnara, Ghandarva Bahkan para Garuda. Mereka hanya mengenakan pakaian dalam dan dalam kondisi yang dapat dikatakan memprihatinkan, beberapa dari mereka hanya terduduk sambil memeluk lutut mereka sendiri dan beberapa berusaha menarik perhatian Satya dengan memeluk dan menarik-narik dirinya. Ramainya orang-orang membuktikan bahwa memang permintaan akan pramuriaan di Mandara sangat tinggi, bahkan transaksi seksual pun dapat dilakukan ditempat, Satya beberapa kali melihat orang sedang berhubungan seks dipinggiran gang.
Satya pada akhirnya memutuskan untuk pergi meninggalkan gang-gang pramuriaan tersebut, melihat kondisi para pramuria membuatnya bersimpati, mereka bukan hewan. Dengan menahan nafsu yang sudah mencapai ubun-ubun kepalanya, Satya memutuskan untuk duduk menenangkan diri ditaman yang berada ditengah kota mandara. Udara malam yang dingin membuatnya mendekapkan tangannya. Udinpetot gatot.
“Ada yang bisa dibantu?’ Tanya seseorang dibelakang Satya.
“ha!” Satya terkejut dengan kehadiran orang tersebut, dia adalah pendeta yang setiap hari memanjatkan doa dikuil ditengah taman, pendeta yang dia lihat saat sore hari.
“ah maaf jika mengejutkan, ada yang bisa saya bantu?” Tanya sang pendeta dengan lembut, tubuhnya hanya dibalut dengan kain tipis sehingga menimbulkan lekuk tubuhnya yang indah, bahkan penutup dadanya hanya dibuat dari kain tipis yang membuatnya terlihat agak transparan karena cahaya kuil dibelakangnya. Suasana taman malam itu cenderung sepi sekalipun berada ditengah kota, sangat berbeda ketika siang hari.
“ahh.., tidak apa-apa, maaf jika menganggu malam-malam”
Sang pendeta tertawa sedikit melihat respon Satya yang sangat sopan, tidak seperti kaum naga yang biasanya kasar dan tidak sopan, Naga yang ada dihadapannya sangat sopan bahkan hampir sesopan kaum Deva.
Satya segera bergegas meninggalkan pendeta tersebut tanpa mengatakan sepatah katapun kalimat selamat tinggal, pakaian pendeta itu begitu terbuka sehingga membuat nafsu yang sudah berhasil diredamnya kembali mencapai kepalanya, dia tidak ingin menjadi seseorang yang lebih rendah dari binatang dengan merudapaksa seorang pendeta!.
Berjalan tanpa tujuan ditengah mandara malam hari memberikan resiko tersendiri, dengan banyaknya gang-gang gelap membuat Mandara mempunyai sisi gelap yang tidak dapat dihindarkan. Dengan banyaknya lalu lintas orang menuju Mandara, tentu membuat banyak penjahat seperti perampok memiliki keuntunga tersendiri. Beberapa orang sudah memperhatikan gerak-gerik Satya semenjak dia didalam daerah pramuriaan, tingkah laku “polos”nya menarik perhatian banyak penjahat, bahkan beberapa sudah memutuskan bahwa Naga tersebut adalah makanan mereka malam ini.
Satya yang berjalan disalah satu gang yang sepi, tersesat. Dia berjalan cepat sehingga tidak melihat jalan mana yang ia tempuh, kesunyian malam membuatnya sedikit bergidik ngeri, ya dia sangat takut dengan hal gaib. Hal ini bukan tidak beralasan, sejak kecil Satya selalu bisa merasakan hal-hal yang berada diluar nalar, untuk mencegah hal itu maka tubuhnya ditato dengan bantuan pendeta Vananta dikuil utama Mandara. Sekalipun dia tidak pernah mengalami kejadian gaib semenjak ditato, namun tetap saja trauma masa kecilnya masih membekas hingga sekarang.
Sebersit bayangan tampak disudut mata Satya.
Sesuatu meluncur dengan cepat kearah Satya yang dengan sigap berhasil dia hindari. Darah mengalir dari tangannya ketika anak panah itu ternyata tidak berhasil Satya hindari seluruhnya, bagian tajam anak panah berhasil menggores tangan kanannya. Satya secara reflek melihat anak panah yang menancap ditanah ketika tiba-tiba dari sisi kanan dan kirinya muncul dua orang lain dengan pisau berusaha menyerangnya.
Sang penyerang menggunakan tudung untuk menutupi wajah mereka, namun dari senjata yang digunakan maka dapat diketahui bahwa mereka mungkin gerombolan Ashura-Rakhasa.
Satya segera memukul orang disisi kirinya dengan sebuah pukulan keras yang membuat orang itu jatuh tersungkut, dengan tinggi dua meter, jangkauan tangan satya sendiri hampir seperti orang yang menggunakan pedang. Tangan kanannya berdenyut sakit akibat anak panah yang mengenai dirinya. Karena terfokus untuk menyerang orang yang berada dikiri, maka orang yang menyerang Satya dari kanan berhasil melukai tangan kanannya, pisau menancap dalam keotot bisepnya.
Sang pemanah kembali melesatkan panahnya, tembakannya tidak meleset kali ini, panah menancap dibahu kanan Satya. Siall! Umpat sang pemanah dalam hati, dia mengincar kepala Satya namun berhasil Satya lindungi dengan menaikan Bahu kanannya.
Satya menyadari bahwa mereka adalah ahli dalam melakukan hal ini, terbukti bahwa Satya dapat dibuat seperti ini adalah salah satu contohnya, mereka tidak berniat langsung menyerang bagian-bagian vital, namun lebih memilih mengincar kemampuan bergerak Satya. Tangan kanannya sudah tidak bisa digerakan ketika pisau merobet ototnya dan menyebarkan racun yang membuat tangan kanannya tidak terasa. Satya memiliki kelebihan lain dalam pertarungan, yakni kemampuannya dalam merasakan pertarungan sangat baik. Dia dapat tetap terfokus kepada sekelilingnya sekalipun dalam keadaan terdesak, salah satu buktinya adalah ketika dia mendengar tali panah dilepaskan, ini lah yang menyelamatkannya dua kali dari serangan panah tersebut.
Sang penyerang kini bertambah jumlahnya, dari hanya tiga sekarang bertambah dua lagi, dikurangi dengan satu orang yang pingsan maka Satya masih harus berhadapann dengan empat orang dan salah satunya adalah pemanah.
Satya segera berlari menghindari jangkauan sang pemanah. Para pengejar dibelakangnya beberapa kali hampir mendapatkan dirinya, namun setiap kali akan mendekat Satya selalu dapat menghindar dengan mengayunkan batang pohon yang ia temukan. Anak panah yang dilesatkan sang pemanah beberapa kali hampir mengenainya, panah-panah melesat rendah mengincar kakinya namun selalu dapat dihindari dengan baik. Menyadari bahwa yang menyusahkan dirinya adalah seorang Rakhasa yang menggunakan panah, Satya berbalik badan menerjang gerombolan yang mengejar dirinya menuju Rakhasa yang berlari dibagian belakang. Beruntung gerombolan itu memberikan ruang kosong kepada sang Rakhasa agar dapat melesatkan panahnnya.
Tidak menduga akan mendapat serangan, mereka terdiam sebentar ketika Satya membalikan badan dan menyerang sang Rakhasa, dengan kekuatan penuh dia berlari menghampiri rakhasa tersebut. Sang rakhasa segera mengambil lima buah anak panah dan dengan memanipulasi tapas, dia melesatkan panahnya secara bersamaan. Panah-panah itu menancap ditubuh Satya, namun kelemahan dari teknik yang digunakan oleh rakhasa itu adalah panahnya menancap tidaklah dalam, sehingga luka yang diakibatkan dapat dikatakan tidak berbahaya, terlebih bagi kaum naga yang memang melatih tubuh mereka sehingga sering kali digambarkan sekuat besi.
Satya mengumpulkan tapas ditelapak tangannya dan ketika panah akan dilepaskan lagi dari busurnya, Satya menusukan kayu yang ia pegang ke ulu hati rakhasa tersebut. Kejadian itu begitu cepat hingga para pengejarnya hanya dapat melihat ketika sang rakhasa tersungkur dengan kayu tumpul menembus ulu hati.
Melihat salah satu dari mereka mati, salah seorang penyerang segera bereaksi dan menyerang Satya, tendangan yang dia lakukan secara telak mengenai punggung Satya yang tengah melihat sosok rakhasa itu tersungkur ditanah. Tendangan yang dilakukan membuat Satya terpental, tubuhnya terjatuh mengenai mayat Rakhasa yang mati ditanah, darah yang menggenang mengotori muka Satya, tubuhnya penuh darah, darah dari mayat yang baru dibunuhnya.
Satya berusaha bangkit ketika tiga orang itu segera mengelilinginya, satu orang ashura, satu orang yaksa, dan satu orang yang tidak ia ketahui. Dengan frustasi dia mengambil potongan kayu yang tertancap dibawah dada mayat disampingnya, tubuhnya lelah dan tangan kanannya tidak dapat digerakan. Para pengejarnya tampak berhati-hati saat ingin menyerang Satya, Dengan sebuah kayu ditangan kirinya, Satya bersiap menghadapi serangan-serangan dari para penyerangnya.
Yang pertama menyerang adalah sang yaksa, dia meloncat tinggi dan menangkat tangannya yang bersenjatakan sebuah sarung tinju dengan sisi-sisi tajam. Satya segera mengayunkan kayunya keatas, sesaat setelahnya dia menyadari bahwa ashura yang telah menusukan pisau ditangan kanannya berusaha menyerang sisi kanannya lagi. Tidak dapat bereaksi secepat yang ia inginkan, justru tindakannya mengayunkan kayu kesisi kanan untuk menghalau sang ashura menjadi kesalahan fatal yang ia lakukan, pisau yang digunakan ashura tersebut berhasil mengenai punggung kanannya dan serangan yang dilakukan oleh Yaksa berhasil melukai bahu kirinya.
Teriakan Satya menggema dijalan kosong tersebut, satya merasakan sakit disekujur tubuhnya, pisau yang menancap ditangan kanan satya mengandung racung ashura yang menyebabkan tangannya kebas, maka dari itu dia tidak merasakan sakit saat pisau itu menancap, namun pisau yang kali ini digunakan berbeda dari yang sebelumnya, pisau itu bergelombang dan memberikan rasa sakit yang berlipat saat ditusukan. ketiga orang itu menikmati saat teriakan yang Satya keluarkan.
Frustasi dengan keadaan yang terjadi, Satya hanya dapat tersungkur ditanah, kesadarannya semakin hilang ketika semakin banyak darah keluar dari punggungnya. Penglihatannya yang semakin kabur menyadari bahwa telah terjadi sesuatu, ketiga penyerangnya mendadak tersungkur ditanah, ketika kesadarannya semakinn menghilang, dia hanya dapat mencium aroma manis dihidungnya.
Diubah oleh pauslumbalumba 28-04-2014 22:44
0
Kutip
Balas