TS
pauslumbalumba
[FanFict] Tantra: Rise of Trimurti
![[FanFict] Tantra: Rise of Trimurti](https://dl.kaskus.id/nexogame.net/wp-content/uploads/2012/09/LogoTantra2.png)
![[FanFict] Tantra: Rise of Trimurti](https://dl.kaskus.id/1.bp.blogspot.com/_YGJa2GEQYZs/SQuYkI275NI/AAAAAAAAIqY/VOSIB8moh8w/s400/Copy+of+tantra+poster.jpg)
Spoiler for Prakta:
Quote:
fanfict ini ane dedikasiin buat game yang muncul pada taun 2007 (kalau ga salah gan, hehehehe), mungkin disini ada yang pernah mainin juga, jadi disini ceritanya dibuat berdasarkan game, ga ada maksud untuk ngejelekin atau apapun pada salah satu agama, terima kasih atas perhatiannya agan-agan, silahkan dinikmati
Quote:
semua yang ada dicerita ini adalah game dari publisher hanbisoft, TS disini cuma membuat fanfict berdasarkan game Tantra Online
untuk yang nggak mainin gamenya mungkin bisa baca sedikit keterangan mengenai tantra disini
Spoiler for helper:
Spoiler for Suku:
Spoiler for Ashura:
![[FanFict] Tantra: Rise of Trimurti](https://dl.kaskus.id/students.ukdw.ac.id/~23060134/ashura%5B1%5D.jpg)
Suku Ashura menetap pada wilayah timur laut dataran tinggi Mandala yang dikelilingi oleh pegunungan yang tajam dan curam. Umumnya, suku Ashura hidup dengan cara berburu binatang di area yang tandus dan kering. Namun, beberapa dari suku Ashura hidup dengan bekerja sebagai pemburu kriminal yang tengah dicari, dan mendapatkan reward/imbalan dari jasanya tanpa ada yang secara pasti mengetahuinya bahwa suku Ashura membunuh guna mencari penghidupan atau sekedar alasan untuk dapat membunuh tanpa dikecam pihak lain.
Suku Ashura sangat lemah fisiknya, tapi mereka unggul dalam hal kecepatan dan kekuatan serangan. Seringkali terlihat pada masyarakat Ashura, beberapa bekas luka yang diperoleh dari pertarungan dengan binatang liar ataupun kriminal yang diburunya.
Spoiler for Rakhasa:
![[FanFict] Tantra: Rise of Trimurti](https://dl.kaskus.id/bengbeng.blogdetik.com/files/2008/03/rakshasa.jpg)
Rakshasa tinggal menetap di wilayah sebelah utara semenanjung dataran tinggi Mandala. Area terdekat dari dataran Mandala namun dengan iklim dan karakteristik wilayah yang berbeda dari dataran Mandala. Suku Rakshasa tinggal pada wilayah dengan iklim lembab dan wilayah hutan tropis berlembah.
Suku Rakshasa menghargai keindahan tubuh sebagai nilai tertinggi dan terpenting, sehingga mereka tidak suka mengenakan pakaian perang/armor dan juga mereka memiliki kemampuan berlari tercepat diantara suku yang lain. Keengganannya mengenakan armor dan keinginan menunjukkan keindahan tubuh yang dimilikinya, mengakibatkan suku rakshasa mudah menderita luka ketika menerima serangan. Terlebih lagi suku rakshasa secara umum memiliki tubuh yang lemah karena mereka menganggap tabu/memalukan bentuk tubuh yang berotot, dan rakshasa jarang berlatih memperkuat otot.
Spoiler for Yaksa:
![[FanFict] Tantra: Rise of Trimurti](https://dl.kaskus.id/0-media-cdn.foolz.us/ffuuka/board/tg/image/1336/42/1336427033108.jpg)
Yaksa merupakan manusia yang pindah dan menetap ke wilayah utara dataran tinggi Mandala. Mereka sangat ahli dalam berburu dan sangat menikmati pertarungan. Yaksa memiliki karakteristik tubuh yang besar sehingga dapat dengan mudah berjalan di wilayah yang sukar dan sulit dilalui.
Suku Yaksa membenci kelemahan dan mengatasinya dengan cara berlatih tanpa henti dan diperkuat dengan pengalaman pertempuran yang pernah diikutinya. Tubuh suku Yaksa dapat menahan serangan, dan penggunaan senjata yang relative sederhana membuktikan kemampuan mereka bertempur jarak dekat. Namun, keunggulan suku Yaksa bukan terletak pada kekuatan fisiknya tapi terletak pada keahlian bertempurnya bahkan suku Gandharvapun mengakui hal tersebut.
Spoiler for Gandharva:
![[FanFict] Tantra: Rise of Trimurti](https://dl.kaskus.id/www.dal.kr/data/wallpaper/game/tantra/wall02.jpg)
Suku Gandarva hidup di area pegunungan, yang terletak pada area bagian utara dari dataran tinggi Mandala. Meskipun pertumbuhan fisik suku Gandarva sangat lambat, terbiasa berlari di area pegunungan dengan udara yang minim memberi mereka keahlian bergerak dengan cepat yang memungkinkan mereka untuk dapat menghindar dari serangan musuh. Tanpa memperhatikan jenis kelamin, keduanya baik laki-laki maupun wanita dapat bergerak dengan lincah. Namun, diketahui bahwa wanita dari suku Gandharva relatif lebih lincah dibandingkan laki-lakinya.
Meskipun mereka berukuran tubuh terkecil diantara suku lainnya, suku Gandharva memiliki fisik yang kuat. Mereka memiliki kemampuan yang sangat luar biasa dalam pertarungan jarak dekat, namun serangannya sangatlah lemah. Meskipun ukuran tubuh mereka kecil dibandingkan dengan suku Yaksa, keahlian bertempur jarak dekat suku Gandharva sama baiknya dengan suku Yaksa. Suku Gandharva lebih memilih menggunakan senjata yang dibuat untuk pertarungan jarak dekat dan pada umumnya dikenakan pada tangan atau pergelangan tangan mereka.
Spoiler for Naga:
![[FanFict] Tantra: Rise of Trimurti](https://dl.kaskus.id/www.3000fr.com/forum/3000-img-foru/tantra/7x8x9x/Naga-86-01.jpg)
Suku Naga terbentuk oleh sebagian umat manusia yang menetap pada ujung selatan kepulauan. Untuk pastinya, pada wilayah Aegean Sea bagian barat Rameswaram, tanah suci di wilayah selatan. Mereka menggunakan kapal untuk bepergian antar pulau.
Suku naga hidup dari menangkap ikan. Meskipun lambat untuk wilayah darat, kekuatan fisiknya adalah yang terbaik diantara suku lainnya. Mereka memiliki kekuatan yang luar biasa dengan membawa pedang besar yang dapat membelah perahu kecil menjadi dua dengan hanya sekali tebas. Karena suku Naga lambat dalam area daratan, tidak mudah untuk menghindari serangan musuh. Karena itu, mereka mengenakan armor/pakaian tempur yang kuat. Kekaguman mereka terhadap kekuatan sangatlah besar sehingga masyarakat Naga menghindari penggunaan Mantra secara langsung, dan mereka juga membenci orang yang menggunakan Mantra.
Spoiler for Kimnara:
Pada kepulauan wilayah barat yang terjauh, terdapat padang pasir dimana lingkungannya merupakan wilayah yang amat sukar dan sulit untuk dihuni. Menetap di wilayah ini, masyarakat dan suku Kimnara hidup dengan cara berdagang, mengantarkan dan menjual kebutuhan hidup ke berbagai wilayah alam yang sangat sulit untuk dilalui.Para ksatria dan pendekar Kimnara menguasai Chakra pengembangan kekuatan di padang pasir, dan mereka diketahui memiliki kekuatan sama halnya dengan kaum laki-laki dari suku Naga. Kekuatan menyerang yang luar biasa ditambah dengan perlindungan pakaian tempur/armor dari wilayah Aegean Sea yang diperoleh dari para pedagang membuat suku Kimnara unggul dari sisi kekuatannya. Namun, karena mengemban perlengkapan tempur yang berat membuat mereka tidak dapat bergerak secara cepat.
Spoiler for Deva:
![[FanFict] Tantra: Rise of Trimurti](https://dl.kaskus.id/i6.ifrm.com/2334/10/upload/p64353.jpg)
Suku Deva yang menetap di ujung timur kepulauan dengan wilayah beriklim sedang bermusim empat. Hidup dalam iklim yang bersahabat, memungkinkan suku Deva untuk mempelajari bahasa dewa dan berlatih menggunakan Mantra. Beberapa dari suku Deva diketahui melakukan modifikasi bentuk asli bahasa dewa yang ditransformasi oleh Oracle.
Suku Deva dikenal sangat segan mengenakan aksesoris pada lengannya yang terukir oleh bahasa dewa. Meskipun memiliki kemampuan menggandakan kekuatan Mantra dan daya tahan dari serangan Mantra, suku Deva sangat rentan dan rapuh dari serangan jarak dekat karena kekuatan fisiknya yang relative lemah. Dibandingkan dengan suku yang lain, suku Deva tidak memiliki kelebihan dalam pengembangan kekuatan fisiknya. Namun mereka tetap bersikeras tidak mengenakan armor/pakaian tempur yang dapat menutupi bahasa dewa yang terukir pada lengannya, hal ini menyebabkan suku Deva lebih lemah fisiknya dibandingkan suku yang lain.
Spoiler for Garuda:
![[FanFict] Tantra: Rise of Trimurti](https://dl.kaskus.id/www.mmobomb.com/wp-content/uploads/2011/03/Tantra-Online-1.jpg)
Suku Garuda menetap pada wilayah delta yang terletak pada bagian selatan wilayah suku Deva dan tenggara dataran Mandala. Mereka tinggal pada area subtropics yang sangat nyaman untuk dihuni dimana suku Garuda dapat menebang pohon selama setahun.
Suku Garuda selalu mempelajari Mantra yang memungkinkan mereka memulihkan kekuatan fisiknya. Sama halnya dengan suku Deva, mereka sangat mahir menggunakan Mantra dan memiliki daya tahan yang tinggi terhadap serangan Mantra. Kelemahan suku Garuda terletak pada fisiknya. Suku Garuda dapat terluka parah ketika mereka diserang dengan jarak yang dekat. Mereka menguasai ilmu menggandakan kekuatan Mantra dan mereka juga menyediakan suku lain termasuk suku Deva dengan berbagai ilmu dan peralatan yang mereka miliki.
Spoiler for Dewa:
![[FanFict] Tantra: Rise of Trimurti](https://dl.kaskus.id/i989.photobucket.com/albums/af16/xganja/sdasdasdas.png)
Dewa dalam dunia tantra menjadi 3:
Dewa Vidha yang bewarna merah, merupakan lambang dari penjagaan alam semesta
Dewa Bathara yang berwarna kuning, merupakan lambang penciptaan dari alam semesta
Dewa Sethi yang berwarna biru, merupakan lambang dari penghancuran alam semesta
Spoiler for List of Character:
ntar diupdate
Spoiler for Index:
Spoiler for Epilog:
Ratusan tahun telah berlalu semenjak serangan mara besar-besaran terjadi didaratan mandara. Mara yang merupakan iblis-iblis terkutuk menyerang banyak kota dan desa membawa daratan tantra menuju kehancuran hebat, namun para ksatria terpilih dari 8 suku yang terdiri dari suku ashura, Rakshasa, yaksa, Gandharva, deva, garuda, naga, kimnara berhasil mengalahkan dan mengusir para makhluk terkutuk tersebut keluar dari daratan tantra kembali ketempat asal mereka, kegelapan.
Kini kedamaian didunia mulai terusik ketika banyak orang-orang mulai mengalami kegilaan mara, kegilaan yang melanda daratan ini ratusan tahun yang lalu. Kegilaan yang dihasilkan begitu hebat hingga membuat seorang ibu tidak mengenali anaknya, adik tidak mengenal kakak, hanya fanatisme belaka.
Kegilaan mara membuat para pengikut dewa menjadi kaum fanatik yang hanya peduli dengan dewa mereka saja. Vidha, Bathara, Sethi, ketiga dewa yang merupakan bentuk trinitas dari ketuhanan yang menciptakan dunia ini merupakan dewa yang hidup dalam keharmonisan, Vidha sebagai dewa pencipta, Bathara sebagai dewa pelindung dan Sethi sebagai dewa perusak. Namun keadaan berubah ketika kegilaan mara memaksa para pengikut mereka untuk berperang, saling membunuh satu sama lain untuk dapat mengetahui siapa yang paling benar.
Dunia tengah dilanda ancaman kekacauan yang dapat menghancurkan keharmonisan tiga dewa. Kekuatan para mara semakin berkembang sehingga mulai menampakan diri mereka kembali kedaratan tantra. Titik hitam mulai meluas menjadi noda, para pejuang dipaksa menghunus pedang, sebuah kegilaan yang akan mengusik keharmonisan, saat 8 suku terpaksa menanggung beban
Diubah oleh pauslumbalumba 01-05-2014 22:08
0
7.7K
Kutip
42
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Fanstuff
1.9KThread•350Anggota
Tampilkan semua post
TS
pauslumbalumba
#1
Bab I
Spoiler for Prelude:
Sosok itu menatap relief kuno yang terukir dengan indah disepanjang kuil. Wajahnya tertutup dengan cadar hitam, rambut panjangnya dia biarkan tergerai, beberapa helai rambut menutupi matanya yang berkilat ketika dia berhasil menemukan apa yang dicarinya. Ya tidak salah lagi, ucapnya dalam hati.
Spoiler for Part 1:
Sesosok pemuda meninggalkan geledak kapal ketika hari mulai gelap, tubuhnya tinggi, bahkan sangat tinggi jika dibandingkan dengan orang-orang yang berada dipelabuhan tersebut. Kulitnya hitam terbakar dengan tattoo berbentuk tribal diseluruh tangan kanannya, kepalanya yang tidak berambut ditutupi dengan bandana hitam serta janggut tebal disekitar rahangnya membuat penampilannya terlihat seperti perampok.

“Satya!!” teriak seseorang memanggil pemuda tersebut
“Apa ayah, aku sedang sibuk mengikat kayu!?” sahut satya kepada sang ayah, tangannya sibuk membuat simpul.
“Ada pelanggan! Dia ingin menyewa kapal!”
Satya segera menghampiri sang ayah yang sedang berbincang dengan seseorang, pria itu lebih pendek dari sang ayah, tubuhnya berotot dan tidak mengenakan pakaian kecuali celana dan sandal kulit, sudah pasti dia bukan suku naga, tidak ada suku naga yang memiliki rambut panjang dan tebal, punya rambut saja sudah menjadi sebuah kelebihan tersendiri untuk suku naga, pikir satya dalam hati.
“Amir” orang itu menyodorkan tangannya.
“Satya” Satya balas menjabat tangan orang itu, tangannya terasa sangat kokoh ketika dia menjabatnya, sekalipun mereka berdua memiliki perbedaan tinggi yang sangat signifikan, satya dapat merasakan kekuatan dari tangan orang tersebut.
Amir hanya dapat takjub melihat tinggi dari Satya, tubuh Amir sendiri tergolong tinggi untuk ukuran Suku Yaksa, namun ketika berdiri dihadapan Satya dia merasa seperti anak umur 10 tahun berkenalan dengan suku naga dewasa. Tinggi Satya mencapai 5.5 hasta sedangkan tingginya hanya sekitar 4.5 hasta. Dengan tato ditangannya serta muka yang tidak ramah, maka wajar jika Amir merasa tidak nyaman jika memang harus melakukan perjalanan laut dengan Satya. Tidak ada yang ingin bepergian dengan perampok.
“kau yang akan menjadi juru kemudi kapal menuju mandara?” Tanya Amir waspada
“Ya, sepertinya begitu, hanya aku yang dapat mengendalikan kapal ditengah kondisi laut sekarang” Satya menjelaskan bahwa laut sekarang sedang tidak aman dengan ombak yang cukup tinggi didaerah utara arcipelago, menuju mandara sangat sulit jika tidak memiliki juru kemudi handal dan kuat.
Satya merasa gembira, ya inilah kesempatannya untuk dapat pergi dari tempat ini, dia sudah jenuh dengan pola hidup ditempat ini yang memang sangat monoton, sebagai pembuat kapal, hari-hari yang ia lalui tidak jauh-jauh dari pelabuhan. Bahkan ketika dia harus berlatih tarung sering kali dilakukan diatas kapal. Sang ayah adalah pelatih dalam membuat kapal ataupun bertarung, namun ketika kini usianya sudah dewasa, sang ayah tidak pernah lagi berlatih tarung dengannya hal ini dikarenakan kekuatan fisiknya sendiri sudah jauh melampaui suku naga didesa ini, tidak ada artinya berlatih dengan yang lebih lemah ungkap sang ayah.
Dia tidak akan membiarkan kesempatan ini lepas!.
Amir hanya dapat mengangguk mencoba berfikir apa yang jalur apa yang harus dia tempuh, jika harus menggunakan jalur darat itu berarti menambah perjalanan hampir selama satu minggu, sedangkan jika menaiki perahu dia dapat memotong waktu perjalanan menjadi tiga hari. Dia tidak ingin terlambat untuk pemilihan dewa sang adik, ditangan kanannya tersemat sebuah symbol bewarna merah, dia adalah penganut dewa Vidha.
Dengan kebulatan tekad, Amir memutuskan bahwa dia memang harus menggunakan kapal jika ingin tiba tepat waktu. Dia mengutuk kelalaiannya ketika dia harus terjebak dengan gerombolan pengikut Sethi yang menyebalkan, kakinya mengalami cidera yang membuat dia terpaksa memperlambat perjalanannya menuju mandara, andai dia cukup bijak untuk tidak terpancing dengan gerombolan tidak berguna itu gumamnya.
“Kau tadi bicara apa?” Satya mendengar sedikit gumaman Amir.
“Tidak penting, kapan kita bisa berangkat?”
“Secepatnya”
“Malam ini juga?”
“Secepatnya kau membayar setengah dari harga yang disepakati!” Ujar Satya tersenyum.
Amir hanya dapat menghela nafas mendengar gurauan yang dikeluarkan oleh Satya, tidak akan ada yang tertawa dengan gurauan seperti itu, terutama jika yang berbicara adalah raksasa dengan wajah penjahat. Jika memang tidak dalam keadaan terdesak dia sudah pasti memilih untuk berjalan kaki atau memaksa untuk membayar semuanya ketika dia sampai mandara. Namun dengan situasi yang tidak memungkinkan seperti ini maka pilihan itu menjadi pilihan mewah, bahkan tidak mungkin dilakukan.
Dengan berat hati dia memberikan sejumlah uang yang dia simpan dalam kantung kulit dipinggangnya. Satya mengambilnya dengan riang dan menyerahkannya kepada sang ayah. Dia tidak dapat mendengarkan apa yang ayah-anak itu bicarakan dari jarak yang cukup jauh, dan jika mereka adalah perampok yang memang berniat untuk merampasnya ditengah laut, maka dia hanya dapat menyerahkan segalanya kepada nasip, terutama karena kakinya yang masih cedera. Sihir penyembuhan yang dimiliki Yaksa tidak dapat membantu banyak, dia adalah seorang Nakayuda, seorang petarung dewa bukan penyembuh. Semoga dengan tinju saja cukup doanya dalam hati.
“Baik kita berangkat malam ini” ujar Satya kepada Amir yang tengah terduduk dipinggir dermaga.
“Makanan dan minuman untuk tiga hari bagaimana?” Amir menatap kantung uangnya yang sudah sangat menipis.
“Tenang, laut adalah makanan bagi suku naga” Satya tersenyum lebar
“yah….”
“Tenang saja, tidak akan ada kelaparan ketika kita dilaut”
Ketika semua perlengkapan sudah disiapkan, Satya dan Amir bergegas menuju perahu yang tertambat diujung pelabuhan, sebuah perahu dengan ukuran yang tidak besar dan memiliki beberapa tambalan. Amir hanya dapat berdoa kepada Dewa Vidha, semoga mereka sampai di Desa Mandara dengan selamat!.
“Sialan! Kau hampir membuat kita tidak akan pernah sampai disini! Bagaimana aku bisa begini bodoh mempercayai orang seperti kau!” Teriak Amir ketika mencapai pelabuhan Mandara, emosi menyelimuti Amir membuatnya memukul Satya dengan keras, Satya berusaha menghindar, namun pukulan Amir begitu cepat hingga membuat usahanya menjadi sia-sia, dia terpelanting, namun wajahnya tetap memasang senyum lebar.
“hahahaha, pelayaran pertama kita sukses!”
“Keparat! Kau hampir membunuh kita berdua! Kau bahkan tidak tahu bagaimana cara membaca bintang! Kalau bukan karena aku, kita sudah tersesat dilautan!” Amir berteriak tidak mempedulikan orang-orang dipelabuhan yang memperhatikan mereka.
Ya, dia sangat marah! Kapal yang dikemudikan Satya hampir tenggelam karena badai pada hari pertama dia mengangkat sauh dari pelabuhan dan untung saja pada hari kedua tidak ada badai, namun itu tidak memperbaiki keadaan, mereka berdua kelelahan setelah berjuang melawan badai semalaman. Kapal beberapa kali hampir menabrak karang jika tidak dibantu Amir untuk memberitahu Satya dimana posisi karang-karang tersebut dari geladak depan, danKetika malam tiba Amir yang harus membaca petunjuk bintang karena Satya tidak bisa membaca bintang. Satu-satunya yang ditepati oleh Satya adalah mereka tidak kelaparan dilautan, tentu dengan dengan daging ikan mentah yang dibumbui air laut, pelayanan kelas satu untuk harga yang terlalu tinggi.
Satya hanya tersenyum ketika Amir marah-marah kepadanya, sudah menjadi impiannya untuk dapat keluar dari desa naga diarchipelago. Selama hampir 20 tahun dia hidup disana membuatnya bosan, dia ingin melakukan sesuatu hal yang baru, sesuatu yang membuatnya terlepas dari kehidupan sehari-harinya, berlatih tarung dan membuat kapal. Namun dia tidak menyangka kesempatan itu dapat datang begitu cepat.
Amir sudah pergi meninggalkannya setelah mereka memutuskan untuk makan siang bersama, sekalipun amir sangat marah kepada Satya, namun pada akhirnya amir memang mengakui bahwa Satya tidak seburuk yang dia pikir. Setelah selesai melakukan semua transaksi dan pembayaran, Amir meninggalkan Satya sendirian. Dengan bayaran dari amir yang ia terima, Satya memutuskan untuk berkunjung menuju Desa Mandara.
Perjalanan menuju Desa Mandara tidak terlalu jauh sekalipun berjalan kaki. Satya baru dapat pergi menuju Desa Mandara setelah dia memastikan bahwa perahul yang dia tambatkan didermaga sudah benar-benar aman. Sekalipun ada penjaga yang menjaga perahu dipelabuhan, namun kemungkinan kapal untuk hilang selalu ada. Tidak seperti perahu-perahu besar yang biasa berlabuh, perahu Satya tidaklah besar dan mencolok, sehingga kemungkinan untuk terlewatkan oleh penjaga cukup besar. Oleh karena itu Satya dengan sengaja merusak sedikit bagian lambung perahunya agar tidak menarik untuk dicuri orang, sebagai tukang kapal memperbaiki perahu bocor seperti membalikan telapak tangan.
Jalanan menuju Desa Mandara selalu ramai oleh orang-orang, dia sangat terkejut melihat ternyata banyak sekali hal menarik diluar archipelago, salah satunya adalah agama yang dianut oleh orang-orang disepanjang jalan menuju Desa Mandara. Hampir setiap orang memiliki tanda dewa disetiap tangan mereka.Menurut penjaga pelabuhan yang ditanyanya, orang yang memiliki tanda biru adalah penganut dewa sethi, yang kuning adalah dewa bathara, dan yang merah adalah dewa vidha. Sekalipun begitu tetap ada orang yang tidak memilih dewa, sedangkan penjaga yang ditanyanya adalah penganut dewa bathara.
Selain dewa, ada banyak juga orang yang baru dia temui untuk pertama kali, mereka adalah suku-suku lain selain naga, hampir setiap orang didesanya adalah suku naga-kimnara. Amir yang menyewa jasanya adalah seorang Yaksa. Berdasarkan cerita dari Amir, terdapat 8 jenis suku didunia ini, mereka adalah Yaksa- Gandharva, Naga-Kimnara, Ashura-Rakshasa, Deva-Garuda. Amir mencontohkan bahwa Yaksa dan Gandharva adalah orang dengan ras yang sama, namun berbeda nama suku.Dengan demikian dapat dikatakan bahwa suku Yaksa dan Gandharva adalah satu, mereka yang laki-laki disebut Yaksa dan yang perempuan disebut Gandharva, dan dalam hal kemampuan memanipulasi tapas tidak ada perbedaan antara keduanya. Hal ini berlaku terhadap suku-suku lain.
Sepanjang perjalanan menuju Desa Mandara banyak orang menatap Satya penuh selidik, sekalipun Suku Naga memang terkenal karena memiliki tubuh yang besar, namun sangat jarang ada yang sebesar Satya. Bahkan beberapa sengaja menyingkir karena takut Satya merupakan penjahat yang memiliki niat buruk. kejahatan memang bukan hal yang luar biasa didunia ini, terutama pembunuhan, dengan banyak dendam antara pengikut dewa, terkadang orang kehilangan akal sehat dan segera membunuh orang yang menjadi musuh dewanya. Hal ini disebut sebagai kegilaan Mara, Mara yang berarti iblis merasuki hati manusia dan menghasut mereka untuk mengingkari ajaran para dewa, apapun dewanya.
Bahkan Satyapun pernah mendengar legenda ini. Legenda yang selalu diturunkan turun-menurun kepada setiap anak didunia ini. Hal ini dilakukan agar memberitahu kepada setiap orang bahwa memiliki dendam kepada orang lain terutama pengikut dewa lain adalah sebuah kesalahan, bahkan hal itu terjadi karena hasutan para mara, iblis yang menjadi musuh setiap umat manusia.
Satya menghentikan lamunannya ketika melihat tanda dewa dari seorang perempuan suku Rakshasa yang melintas, warna biru itu berpendar terang dalam temaramnya sore hari, berbeda dari tanda dewa orang lain. Perempuan yang ia lihat memiliki paras yang cantik, rambutnya yang bewarna hitam senada dengan baju pelindung yang ia kenakan. Dia memang selalu mendengar cerita tentang liarnya para Rakshasa dari para pamannya, namun melihat secara langsung sangat berbeda dengan cerita, naluri lelakinya membuat celananya sempit.
Lamunan kotornya terhenti ketika perempuan itu mellirik kearah kedua matanya, rasa malu membuatSatyamengalihkan pandangannya dan melanjutkan perjalanan menuju desa mandara. Perempuan itu menatap Satya berjalan menuju Desa Mandara, sesuatu menarik perhatiannya, tato tribal ditangan satya. Ya tato itu, tidak salah lagi!, perempuan itu memutuskan untuk mengikuti Satya menuju Desa Mandara.
Desa Mandara memang terkenalsebagai pusat peradabandan keagamaan diseluruh negeri ini, hanya namanya yang desa, namun pada kenyataan yang sebenarnya tempat ini bukanlah desa!. Banyak bangunan berdiri tegak mengelilingi sebuah taman indah, seorang pendeta perempuan berdoa didalam altar ditengah taman tersebut. Lalu lalang orang dalam kota ini membuatnya tidak pernah sepi. Seorang penjual obat tengah melayani pembeli yang memenuhi kios yang dibukanya, penjual baju pelindung yang cantik dan sexy menggoda orang-orang untuk membeli barang-barangnya, bahkan beberapa orang membuka toko jualan dipinggir jalan dan beberapa pramuria menjajakan diri digang-gang antara bangunan memberikan kesan kumuh.Kemegahan dan kekumuhan saling berdekatan satu sama lain, inilah desa para dewa, Desa Mandara.
Diubah oleh pauslumbalumba 04-05-2014 13:16
0
Kutip
Balas