- Beranda
- Stories from the Heart
The Ultimate Four (Genre: Sci-Fi, Drama, Thriller)
...
TS
wait.and.see70
The Ultimate Four (Genre: Sci-Fi, Drama, Thriller)
Quote:
Selamat malam SFTH. Ini trit pertama ane disini setelah sekian lama SR. Sebagai penggemar film science fiction, dan membaca beberapa karya tulis fiksi beberapa TS disini, ane jadi tergerak untuk membuat suatu cerita bertema Fiksi dan Sains. Karena ane baru pertama kali nulis disini, mohon bimbingannya dan koreksi jika ada kata-kata yang salah. Trimakasih sebesar-besarnya untuk reader yang telah sudi mampir.
Quote:
Quote:
Spoiler for INDEX:
Quote:
Quote:
Diubah oleh wait.and.see70 26-04-2014 20:54
anasabila memberi reputasi
1
5.5K
37
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
wait.and.see70
#25
Scene #7
Scene #7
Dr. Redi yang berpakaian parlente tampak keluar dari ruang kerjanya. Dengan menggunakan topi lebar dan mantel panjang, dia keluar dari Universitas Medan bersama kawalan 2 tentara yang akan mengantarnya menuju stasiun bawah tanah menuju Amazon.
Stasiun bawah tanah merupakan alternatif transportasi yang menghubungkan tiap titik di Ultimate Four. Setidaknya ide ini sangat aman dari pada harus menjelajahi permukaan bumi, dan alternatif yang lebih murah ketimbang harus menggunakan pesawat jet. Kendaraan yang melewati jalur bawah tanah ini disebut ‘Underground Light Vehicle’ atau biasa disingkat ULV. Bentuknya mirip Shinkansenyang dulu pernah dimiliki Jepang. Dan ULV merupakan pengembangan dari moda transportasi itu, yang memiliki kecepatan lebih tinggi dari pada Shinkansen. Selain mengangkut sumber daya berupa manusia, ULV juga sering digunakan untuk mengangkut sumber daya alam dari satu titik ke titik lainnya. Bisa dibayangkan betapa pentingnya jalur ini bagi penduduk. Mungkin diantara sekian banyak kebijakan yang dibuat Paradise, kebijakan ini merupakan yang paling brilian.
Beberapa jam kemudian, Dr. Redi sudah tiba di pangkalan militer Brazil. Dengan wajah yang tidak menunjukkan kelelahan sama sekali, dia masuk kesebuah tenda besar ditengah camp yang langsung disambut mentri Pertahanan & Keamanan, Rajesh Kumar.
“Welcome, Dr. Redi. Did You enjoy the ride?”
“I think I have a jetlag!” Ujar Dr. Redi meledek.
“Please, take a seat.”
Dr. Redi duduk disalah satu kursi yang disediakan. Ruang pertemuan itu telah diisi oleh berbagai macam manusia yang memiliki kepentingan yang sama. Memang tidak terlalu ramai, hanya puluhan orang. Mulai dari ilmuwan, pejabat keamanan, hingga pejabat senior pemerintah. Tujuan mereka adalah untuk membicarakan perihal pembobolan Beast ke berbagai distrik serta kelangsungan Ultimate Four untuk kedepannya.
“Beberapa kejadian penyusupan Beast selama satu pekan ini telah kami telusuri. Dan kami menemukan fakta bahwa penyerangan yang mereka lakukan semakin lama semakin bertambah, dengan cara yang makin cerdik.” Ucap Rajesh didepan podium.
“Kita semua mengerti, bahwa pemerintah bukannya tidak bertindak. Kami telah melakukan segala upaya yang kami bisa untuk mengurangi serangan para Beast. Mulai dari pemusnahan Beast di beberapa Hotspot hingga membentuk pertahanan di tiap wilayah perbatasan. Namun semakin lama para Beast sepertinya belajar membaca situasi kita.” Rajesh terdiam beberapa detik sebelum melanjutkan kalimatnya.
“Untuk itulah kita berkumpul disini malam ini, agar bisa merembukkan solusi yang terbaik kedepannya bagi kelangsungan hidup manusia di Ultimate Four. Beberapa saran dan informasi dari kalian akan sangat berguna untuk kami. Segera setelah ini kita akan menyusun strategi yang lebih baik untuk melawan para Beast.”
“Anyone in this room have an idea?” Tanyanya kepada para audiens. Beberapa orang berpikir keras, yang lain banyak saling berdiskusi tentang jalan keluar masalah ini.
“Kita fokuskan ke pola pikir Beast lebih dulu. Dr. Redi, anda seorang Etholog, bukan?” ucap Presiden Braga yang duduk disamping Rajesh. Dr. Redi yang sejak tadi hanya menunduk langsung mengangkat kepalanya.
“Mmm, ya. Tapi sepertinya aku butuh disiplin ilmu lain untuk membantuku. Maksudku, come on!. Beast bukanlah hewan. Mereka hanya bertindak seperti hewan, tapi pada dasarnya mereka tetaplah manusia.” Ujar Redi.
“Benar kalau bidangku adalah mempelajari perilaku hewan, namun mereka makhluk yang lebih kompleks dari hewan.”
“Setidaknya berikan kami pencerahan, Doktor. Give us a useful information” Tegas Braga.
Dr. Redi mengatupkan mulutnya. Matanya membelalak sambil mengangguk cepat. Sepertinya dia sedang memikirkan jawaban dari pertanyaan Presiden Braga.
Setelah sekian detik terdiam, Dr. Redi angkat bicara,
“Ok. Mmmm, beberapa tahun ini aku meneliti sampel Beast dari tiap Hotspot yang berbeda. Mereka yang bermukim di dataran China, Australia, Atlantik, daerah Pasifik, Eropa. Kami punya sampelnya. Dari tiap sampel yang kuteliti, aku menemukan kesamaan pada salah satu bagian tubuh mereka, yaitu bagian belakang kepala.” Ucap Dr. Redi dengan penuh semangat.
“Ada apa dibagian belakang kepala mereka?” tanya Rajesh.
“Semacam bekas lubang kecil. Mungkin suntikan atau semacamnya. Dan ketika kubedah otak mereka, sejenis benda mikroskopis tertanam disana. Sejenis Chip.”
Para hadirin sontak terkejut dengan temuan Dr.Redi. Suasana ruangan begitu riuh hingga Presiden Braga mencoba menenangkan mereka.
“Ok. A chip. Jadi menurutmu apa gunanya dan siapa yang memasang benda itu ke mereka?” Tanya seorang ilmuwan dibelakang Redi.
“I have no idea!. Kukira kalian para ilmuwan yang lain pasti memiliki penelitian sendiri mengenai Beast, dan kalian bisa memberikan opini mengenai itu.” sahut Redi.
“Mungkinkah benda itu yang membuat mereka menjadi cerdas?” tanya Rajesh. Dr.Redi langsung tertawa keras mendengar kalimat itu.
“Oh, Please!. Tidak butuh sebuah chip untuk membuat mereka cerdas. Bahkan menurut pendapatku setelah beberapa tahun meneliti otak dan perilaku mereka, aku semakin yakin kalau kecerdasan Beast bisa saja jauh melampaui kita.” Kalimat kontroversi yang keluar dari mulut Dr.Redi membuat audiens di ruangan justru balik mentertawakan dia.
“Please, remain calm!” Seru Braga. Tampaknya dari sekian banyak audiens yang merasa omongan Redi adalah sebuah guyonan, hanya Presiden Braga yang saat itu menganggapnya serius.
“Ok, Dr.Redi. Thanks for your valuable information. Sekarang aku ingin mendengar pendapat kalian tentang strategi kita kedepannya. Silahkan membuat sebuah kalimat singkat tentang rencana kalian, dan diikuti dengan alasan dibawahnya.” Rajesh mengomandoi para audiens.
Semua audiens tampak asyik menggoreskan kalimat mereka di sebuah kertas untuk kemudian diberikan ke Rajesh. Beberapa saran akan ditampung dan dilihat kemungkinan pelaksanaannya. Selang beberapa menit, semua saran telah terkumpul dan Rajesh membacakan saran-saran dari para petinggi dan tulang punggung Ultimate Four tersebut.
"Setelah mengingat dan menimbang, maka kami dapat menyampaikan saran-saran yang bisa digunakan untuk kelangsungan Ultimate Four kedepannya, diantaranya..." Ujar Rajesh sambil menatap ke audiens sebelum melanjutkan omongannya.
Diubah oleh wait.and.see70 24-04-2014 21:28
0




