- Beranda
- Stories from the Heart
HATI MALAIKAT DARAH IBLIS (POSITIF HIV AIDS)
...
TS
masternagato
HATI MALAIKAT DARAH IBLIS (POSITIF HIV AIDS)
Bissmillah.
Assalamualaikum.
Nb: kontak bbm berubah: 5AB07E99
Wa:08128886670
Line:
@masternagato
mas ter nagato proudly Present
HATI MALAIKAT DARAH IBLIS
’BLACK WORLD’
DISCLAIMER
1. sangat dianjurkan mencopy dan memperbanyak. Share kepada dunia tulisan busuk ini! (kayanya lebay banget sih?)
Ijin atau tanpa seijin dari penulis (buat ane sah-sah aje)
pelanggaran hak cipta akan dikenakan sanksi sesuai dengan hati nurani lau sendiri.
.
2. Kisah dalam cerita ini adalah fiksi belaka kalau ada kesamaan nama, tempat atau kejadian itu cuma kebetulan semata.
Selamat membaca tulisan busuk ini!
*******
Petunjuk arah baca HD
Kalo membaca tanda:
*******
Berarti pergantian waktu, bisa tempat, tokoh.
Atau bisa tokoh sama waktu dan tempat berbeda?
Bisa aja cuma di alam mimpi!
Kalo membaca tanda:
-------
Ini menandakan hari yang sama.
Bisa berbbeda waktu, berbeda tokoh, berbeda tempat, tapi tetap dihari yang sama.
Bisa juga menunjukan kelanjutan alur cerita!
*******
soudtrack: Eminem Not Afraid
Langsung update add line:
@masternagato
Pin bb: 5AB07E99
WhatsappBrother-sister
Jangan lupa

Bikin

sekalian


Atas saran berbagai pihak.
:Yang mau memberikan donasi seikhlasnya.

Untuk terwujudnya buku ini
Rekening bank btpn
Kode bank 213
Norek:
90010415858
Rudi hermawan

sedikit sinobsis:
bersetting di tahun 2003.
Rudi kelas 2 SMA.
Masuk ke blackworl, drugs user tingkat dewa.
Menjadi drugs dealer.
Hidup penuh bling-bling,wanita.
Teman-teman yang mengelilingi karena uang.
Dengan time skip.
Rudi yang di tahun 2014.
Sudah berkeluarga,punya anak.
Hidup dengan kemiskinan,tanpa penglihatan,positif HIV?
*******
’HIV AIDS salah satu penyakit paling menakutkan.’
’penyakit kutukan’
’yang terkena tak tertolong!’
’sampah masyarakat’
’jauhi orang-orang sampah itu’
’tak ada obatnya!’
’pasti mati’
dan masih banyak lagi label stigma yang menempel!
Yang berpendapat sama dengan stigma di atas!
Monggo jangan di teruskan membaca.
Why..?
Guest what?
Yang nulis HIV+

jadi harus di jauhi.. Nanti ketularan.


warning 16+ only.

Minimal SMA kelas satu boleh lanjut baca, wajib malah!

"Ini nyata gan?"
"terserah.! Anggap aja fiksi"
HIV (Human Immunodeficiency Virus)
AIDS (Acquired Immunodeficiency Deficiency Syndrome)
ane nulis ini biar bro-sis mikir sejuta kali!
Untuk tenggelam di blackworl,sex,drugs.
Dan buat yang sudah terkena!
Bangun! Bangkit! Kembalikan warna hidup lo sebelumnya.
Gak ada yang mau bertemen ama lo?
Minder?
Sekeliling lo penuh kepalsuan?
Takut? Trauma?
Sumpah demi Allah
Ane siap kapan aja jadi best friend forever!
Melewati semua cobaan yang ane anggap adalah pujian dari Allah
ane bukan siapa-siapa.
Cuma orang buta pengangguran kelas berat.
Bermodalkan laptop jadul dengan pembaca layar.
Dengan tetesan darah, dengan gerimis air mata.
Dengan sepenuh hati..
Berharap kejelekan ane jadi kebaikan lo.
Kesedihan ane menjadi kebahagiaan buat lo.
Salah langkahnya ane menjadi jalan buat lo.
Penyakit ane menjadi kesehatan buat lo.
"kenapa pemeran utamanya Rudi sama ama agan?"
"habis gak ada yang lebih bagus dari Rudi, yang lebih mahal banyak!"

harapan utama ane. Menurunkan tingkat HIV AIDS walaupun cuma beberapa %
setidaknya menghambat kecepatan tingkat HIV AIDS yang menggila setiap detiknya.
Harapan ke dua.
Tentu saja tulisan ini jadi sumber penghasilan ane!
Gak ada yang bisa ane lakuin selain nulis!
Setiap hari bini kerja nyari nafkah!
Bayangin perasaan ane yang cuma enak-enakan dirumah!
Asli mending tusuk ane gan.. Daripada ane ngerasain ini setiap hari.


stop!
Ane gak minta di kasihani.
Tapi ane berharap buat agan-sista bantuin nerbitin tulisan ane ini.
Kendala ane di modal gak ada!
Boro-boro buat publish keseharian ane juga susah.
Ngiklanin rumah buat modal di fjb.
Ampe capek nyundulnya belum ketemu jodohnya tuh rumah.
Entah kenapa ane yakin aja kalo ini jadi novel, pasti laris.

impianya sih kalo jadi novel.
Taruh di sekolahan, yayasan narkoba atau HIV AIDS.
Taruh dirumah sakit tempat HIV AIDS.
Kalo bisa di toko buku apalagi.
Yah cuma harapan.
Mudah-mudah dikabulkan allah, aamiin.
dan agan sista ada yang tertarik.
Apalagi dilirik penerbit.
"kenapa gak langsung ngirim ke penerbit gan?"
"karena tulisan ane,ane ngerasa berantakan perlu di poles.. Perlu ada yang ngeditorin.
Penerbit mana mau nerima tulisan mentah ane!"

"emang tulisanya udah tamat gan?"
"boro-boro,. Males-malesan nulisnya. Kalo ada yang nerbitin tuh! Baru semangat"
sebetulnya sih tokoh utamanya bukan cuma Rudi.
Banyak tokoh utama lainya.
Termasuk pembaca ane sebut tokoh utama juga disini.
cerita ini agan-sista
Bakal nemuin 3type orang HIV

Ini pakai pengamatan ane sendiri dan bahasa ane seadanya:
Jadi gak bakal ketemu kalo search di google.


1: saver: orang yang terkena HIV dan sadar akan HIVnya!
2. Invite: orang terkena HIV tapi dendam!
Dan membahayakan orang lain.
Menyebarkan HIV ke orang lain!
Biasanya faktornya adalah type invite ini terkena HIV tapi gak terima!
Masih bisa disadarkan type yang ini.
3. Zero: orang ini terkena HIV tapi ia gak tahu!
Ini yang paling berbahaya!
Ia gak tahu.
Yang terkena gak tahu!
Semua gak tahu.
Tahu-tahu pada kena HIV.
Sedikit saran dan percobaan buat agan-sista.
Supaya lebih bersyukur atas nikmat Allah
Kalo agan-sista di rumah sendiri.
Terserah mau malem boleh, siang juga boleh.
Coba lakuin kegiatan sambil di tutup pake apa aja matanya.
Sejam aja coba rasain.abis itu agan-sista renungin.
Seberapa nikmat Allah yang diberikan.
Banyak yang nyoba saran ane ini.
Nanti pandangan agan-sista berubah, setelah melakukan percobaan di atas.

Index setelah pariwara berikut ini:yang mau bergabung di FHD (fans hati malaikat darah iblis)
Invite pin: 5AB07E99
Mau memberikan donasi silakan
Rekening btpn.
Kode bank 213
Norek:
90010415858
Atas nama Rudi hermawan
Call/sms/whatsapp:
08128886670
Update add line:
@masternagato
selamat membaca

HATI MALAIKAT DARAH IBLIS
’BLACK WORLD’
Mau membeli buku ini?
Mau memberikan donasi untuk membantu tulisan ini
:thubup
Menjadi novel


"apa yang didapetin kalo ngasih donasi gan?"
"gak ada! Ente dapet ucapan terimakasih sedalamnya dari lubuk hati ane!"

Mudah-mudahan dengan donasi gotong royong seikhlasnya.
Bisa menerbitkan tulisan busuk ane.
aamiin..
Bisa di bilang ini sumbangan lebih tepatnya kale

Rekening btpn.
Norek:
90010415858
Rudi hermawan.
DAFTAR ISI:
Update langsung ad line:
@masternagato
BAB1: KABUKI
BAB2 BAGIAN1: PENGANTIN KOPLAK
BAB2 BAGIAN2: PENGANTIN KOPLAK
BAB SIDE STORY: PENCARIAN SAHABAT 12 TAHUN
BAB3 BAGIAN1: TULISAN BERBICARA
BAB3 BAGIAN2: TULISAN BERBICARA
BAB4 BAGIAN1: OTAK MAFIA
BAB4 BAGIAN2: OTAK MAFIA
BAB5 BAGIAN1: PRODUK GAGAL
BAB5 BAGIAN2: PRODUK GAGAL
BAB6: SAVE HOUSE
BAB7: OTAK ATIK
BAB8: TEKAD BLENDER
BAB9 BAGIAN1: EMOTION
BAB9 BAGIAN2: EMOTION
BAB WARNING: WAJIB BACA
BAB WARNING: WAJIB BACA
BAB10: LATIHAN MEMBUNUH
BAB11 BAGIAN1: UNDER THE INFLUENCE
BAB11 BAGIAN2: UNDER THE INFLUENCE
BAB : warning2: galaw gak penting!
BAB12 BAGIAN1: CANDIED MANGO MISERABLE
BAB12 BAGIAN2: CANDIED MANGO MISERABLE
BAB13: NGENES AWARDS
BAB14: TULISANKU ATAU KELUARGAKU
BAB15 BAGIAN1: HEY MAN
BAB15 BAGIAN2: HEY MAN
update FHD16: koberlaw
BAB16 BAGIAN1: RIP
BAB16 BAGIAN2: RIP
BAB WARNING3: PETUNJUK ARAH
BAB17 BAGIAN1: LOVE NOTES FOR MY DRUGS
BAB17 BAGIAN2: LOVE NOTES FOR MY DRUGS
BAB18 BAGIAN1: POCONG VS KUNTILANAK
BAB18 BAGIAN2: POCONG VS KUNTILANAK
BAB19 BAGIAN1: FROZEN HEART
BAB19 BAGIAN2: FROZEN HEART
REHAT
BAB WARNING4: FHD LEGOWO
BAB20: MENGECOH HITUNGAN LANGIT
BAB21 BAGIAN1: BIG MOM
BAB21 BAGIAN2: BIG MOM
BAB22: SATU TITIK X SEPULUH=SEPULUH
BAB23 BAGIAN1: FOUR GODFATHER
BAB23 BAGIAN2: FOUR GODFATHER
BAB24 BAGIAN1: ROLLER HEARTS
BAB24 BAGIAN2: ROLLER HEARTS
BAB25: VIRGIN SEGAW
BAB26 BAGIAN1: MASIH HIJAU
BAB26 BAGIAN2: MASIH HIJAU
BAB27 BAGIAN1: FIRST JACKPOT
BAB27 BAGIAN2: FIRST JACKPOT
BAB28 BAGIAN1: FOR SENTIMENTAL REASON
BAB28 BAGIAN2: FOR SENTIMENTAL REASON
BAB28 BAGIAN3: FOR SENTIMENTAL REASON
video zamirah monster kecil
wait yo!
IN PROGRESS


Kontak:
WA: 08128886670
Pin bbm: 5AB07E99
line:
@masternagato
Twitter: @masternagato
Diubah oleh masternagato 24-03-2017 22:20
anasabila memberi reputasi
1
256.6K
1.1K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
masternagato
#1
BAB1
HATI MALAIKAT DARAH IBLIS
BAB1:
KABUKI
Senapan AK-47 yang biasa kulihat pada Game Metal Gear Solid itu kini benar-benar mengancam dadaku. Otakku loading mencari data dari baja hitam yang mengarah padaku.
Types of weapons: AK-47
Caliber: 7.62 mm
Weight: 4.3 kg
Long Rifle (total): 0.87 m
Barrel length: 0.415 m
Muzzle velocity: 715 m/sec
The pace / acceleration of the shot: 600 rpm (600 rounds per minute) The rate of fire (practical): 40 -100 rpm
Magazine capacity (bullet points): 30 catridges
Cartridge: 7.62 x 39 mm
Shooting distance: 800 m
Effective shot distance: 400 m
"Gila! Masa senjata buatan Soviet Union yang legendaris itu sekarang nyata ada di hadapanku? "

Dua pria bersetelan jaket hitam khas intel berdiri tegak siap menembak.

"Sial! Bodohnya aku tak menyadari kehadiran polisi preman ini.." dalam hati aku terus mengutuki kecerobohanku.
"Lo yang namanya sempak, kan?!" bentak intel itu bengis.

"Tak salah lagi, motor SATRIA-R dengan cat air brush tribal, dan tadi temannya juga memanggilnya sempak."Polisi yang satunya berbicara sambil menghisap rokoknya.

"Tembak aja langsung din! Nanti gua kasih laporan doi lari pas di tangkap."
Tamatlah riwayatku kali ini. Efek dari kombinasi ubas dan coke semuanya hilang tak berbekas.

Inilah perasaan drop yang paling fatal. Otakku berputar-putar dan menampilkan slide animasi CGI dengan kualitas grafis melebihi VGA manapun di dunia ini. Slide itu terus berputar dengan kecepatan tinggi di kepalaku.
*****
"Lo tahu Man, gua rasa setahun di sekolahan ini berlalu sangat cepat!" sambil mengeluarkan rokok.

"Yaah... lo kan slalu seperti itu pak, pesimis sepanjang waktu.." Jidad mengeluarkan korek, menyalakan rokokku. "Hmm... thanks.."
Inilah kegiatan rutin pagi hari sebelum masuk sekolah di SMA Negeri Waterdoor. Ini sudah menjadi kebiasaan, tempat favorit Kami ngobrol sambil merokok di bawah tangga besi menuju kelas di atas. Dari situ, kami tak terlihat, tapi kami bisa melihat anak-anak yang berlalu-lalang. Suara berisik tangga besipun seperti irama yang tak membosankan.

Aku dan Jidad teman akrab dari kelas 1. Sampai sekarang kelas 2, kami tetap akrab. Kami bahkan berada di kelas yang sama.
eace
Tumben aku bertahan 2 tahun di sekolahan seperti ini. Biasanya, ada aja masalah yang membuatku tak pernah lebih dari setahun di sekolahan yang sama. Saat SMP, tiga kali aku pindah sekolah.
"Pesimis gimana maksudnya?"

"Sepanjang tahun kita nongkrong di bawah tangga besi ini! gak ada yang berubah sama sekali!"
"Hei brother, kita punya tempat nongkrong paling strategis di seluruh pelosok sekolahan ini!"

Jidad menepuk bahuku.
cis..
:P
"Strategis dari hongkong?"

"Lah liat nih, gua buktiin seberapa strategis tempat ini.." sambil merangkul ku dan Jidad menatap celah tangga dengan penuh harap.
:
Tak lama, ada beberapa siswi yang lewat,


mereka menggunakan rok pendek di atas dengkul. Model hordeng jendela kalo kata Jidad
sepertinya lagi trend, dan celakanya rok seperti itu tak melanggar peraturan sekolah.
"Coba liat itu, pemandangan yang tak bisa lo dapatkan di manapun kecuali di sini.." Jidad memasang muka mesum kelaparan.

Dari tempat Kami nongkrong, celana dalam para siswi itu bisa terlihat.


Sadisnya, setahun nongkrong di situ, aku baru sadar hari ini.
"Sialan lo Man, setahun waktu gue terbuang tanpa tahu pemandangan ini.."


"Ha...ha..ha.."

Jidad senang sekali melihatku kembali bersemangat. Tapi kemudian, siswi yang mendengar suara ketawa Jidad melirik ke bawah. "KYAAAA!!!" mereka

berteriak sambil merapatkan paha dan menutupi rok. Siswi yang lain pun sama berteriak dan lari.

Tapi sebelum para siswi itu pergi, kami sudah menghilang bagaikan shinobi.

Aku dan Jidad berlari menjauh dari tempat kejadian, atau bisa dibilang tempat tadi kini adalah TKP pembunuhan.
Jidad dengan tampang muka lonjong, tambah kacamata, rambut jambul. Dibilang jelek sih kagak, tapi kalo dibilang ganteng juga berlebihan.

:norose
Kini tampangnya seperti orang yang kehilangan lotre satu milyar.
"Hah..hah..hah.."
"BEGO LO! Tempat istimewa gua, eh.. istimewa kita maksudnya! hilang sudah.." Jidad ngomong sambil kehabisan nafas setelah berlarian. Jidad kecewa karena telah kehilangan tempat tongkronganya,

sementara aku kecewa karena sepertinya di antara siswi tadi ada teman sekelasku. Sepintas siswi itu tadi menatap dingin ke arahku.
Jidad masih terus ngedumel dan menggumamkan, "Ah.. koleksi celana dalam gua.."


Aku masih tak menghiraukan ocehanya, aku lebih memikirkan siswi tadi. Dari kelas 1, aku udah tertarik dengan siswi itu. Waktu masih di kelas 1-b dan siswi itu 1-a. Dan kini, aku dan siswi itu sekelas di 2-a.
Berapa hari di ajaran baru 2003, mulutku serasa membisu. Otakku pun blank setiap berhadapan denganya.
Aku dan Jidad masuk ke kelas. Tampaknya, belum ada guru yang masuk. Suara gitar dan ocehan ala pasar terdengar brisik sekali. Anak-anak di kelas sedang membahas dua orang maniak yang nongkrong di bawah tangga besi.


Was-was merasuki pikiranku, tapi Jidad masih tenang dan cuek aja. Bahkan Jidad ikut ngobrolin dua maniak itu.

Jidad sangat yakin kalo dari atas tangga, melihat ke bawah takan jelas.
Aku yang masih kepikiran dengan tatapan dingin itu sepanjang pelajaran masih bengong
hingga spidol dari pak Yon melesat di kepalaku.
"Tugh... apa pelajaran kesenian begitu membosankanmu?

atau kamu sedang membayangkan bapak pake baju bikini?"


Seisi kelaspun tertawa.

Malu sekali aku

:norose
di pelajaran guru paling killer, pak Yon, guru kesenian, olahraga, bahkan merangkap sebagai guru BK. pak Yon terkenal sebagai pembunuh berdarah dingin. Tak heran makanya kalo ada pelajar yang sampe pingsan karena di hukum pak Yon.
"Baiklah anak-anak,

di penghujung tahun perpisahan kakak kelas, para senior kalian,
sudah tradisi anak kelas 2 yang mengurusnya, maka kita membutuhkan pasangan pengurus,
ada usulan?"

Seisi kelas mulai seperti sarang tawon, mulai mengunjuk teman masing-masing.
"DIAM!"

"Baiklah, yang wanita kutugaskan ketua kelas 2-a, gimana menurutmu, Ros?"
Seorang siswi berdiri, ia adalah Rosdiana, siswi cantik dengan rambut panjang sepinggul,
body super model. Setiap gerakanya bagaikan animasi grafis tinggi.

Ros sangat berprestasi di bidang apapun. Ia seperti anak emas pak Yon. Saking handalnya Ros, banyak pelajar yang berpendapat ketua osis berikutnya pasti Ros.

"Saya siap pak.."

"Hmm.. bagus, kini tinggal cari pasanganmu dalam kerjasama tim!" pak Yon tampak sedang berpikir,

dan pak Yon menatap seisi kelas dengan tajam.

Tatapanya bagaikan sinar x, bisa melihat isi kepalamu. Banyak anak lelaki yang memasang tampang siap

untuk berpasangan dengan Ros. Siapa yang gak mau berpasangan dengan idola sekolah?

Tapi pak Yon seolah tahu isi kepala anak lelaki yang mesum itu. Di antara sekian banyaknya anak lelaki, ada satu anak yang memasang muka cuek, malah tak menghiraukan.

Aku sedang membaca baca catatan, berharap tak ada nasib sial lagi hari ini.

Ketika aku merasa seisi kelas senyap,

aku melirik ke teman-teman.


Kagetnya aku, teman-teman sekelas sedang menatapku. Bahkan semua teman sekelasku sedang menatap! Pas aku menatap pak Yon, pak Yon langsung menyeringai seolah sudah menemukan mangsanya.

"Baiklah Rudi, kau akan menjadi pasangan Ros, walaupun menurutku, kamu lebih cocok jadi pembantunya.."
:hamer
"Ha..ha..ha..ha.."

Pak Yon senang dapat memilih aku karena pak Yon melihat tatapan mata anak lain sangat buas
ingin berpasangan dengan Ros, tapi aku tatapanya tak seperti itu, maka dari itu pak Yon memilihku. Sebaliknya, aku seperti jatuh dari tangga, kecebur got, ketimpa lemari, abis itu digigit ular.


Sepanjang di kelaspun mataku selalu melirik ke tatapan Ros yang dingin.
:
Saat Ros yang aku taksir terpilih menjadi pengurus acara perpisahan kakak kelas dan pak Yon mencari pasangan lelakinya, aku berdoa mudah-mudahan bukan aku yang terpilih. Bagaimana aku berbicara dengan gadis yang aku taksir? Bagaimana aku berbicara dengan gadis yang aku intip celana dalamnya?

Teeeet..
Teeet..
Bel sekolah seperti suara malaikat penolong.

"baiklah kalian berdua kutunggu di kantor seusai sekolah!"

Aku masih terpaku di tempat duduk, bahkan tak menoleh saat Jidad menyapa. Aku masih menopang kepala dengan tangan kiri dan tangan kanan bermain dengan pulpen.
"Maaf lo duluan aja ke tempat pak Yon, gua ada latihan teater sebentar.."

Degg..

Jantungku berdegup semakin kencang. Aku tak bisa menjawab, hanya menggumam, "Hmm.."

Suara langkah kaki Ros keluar dari kelas, "Fiuuh.. nasib-nasib.."
Aku menggumam dengan bisikan lirih. Entah merasa beruntung bisa kerja sama dengan cewek incaranku atau merasa sial karena baru saja mengintip celana dalamnya..

***
30 Menit berlalu sementara aku masih duduk di kantor Pak Yon. Agar rileks dan menghilangkan ketegangan, sebelum ke sini aku sempat snip sedikit coke.

Sekarang aku sudah siap walau ada 10 Pak Yon..


Pak Yon tak berada di kantornya. Aku mencoret coret buku, membuat konsep untuk acara nanti.
Tap.. tap.. tap..
Suara langkah lari menuju kantor ini. "Maaf ya gua lama.." suara penuh penyesalan keluar dari bibir manis itu. Ros menggeser bangku di seberangku.
Deg.. deg.. deg..

Jantungku serasa seperti terlalu banyak menggunakan ubas. Aku terus mencoreti buku, tak tahu apa yang kutulis.
"Umm, boleh pinjem penghapus?"

Kuletakan penghapus yang tak pernah kupakai di ajaran baru ini. Kuletakan di meja tanpa menatapnya. Jarak meja cukup panjang. Ia mengambil penghapus itu dari tempatnya dengan mencondongkan badan.
"Makasih.." sahutnya dengan lembut.

Sial, kenapa sih nih cewek suaranya bikin blingsatan? sejujurnya aku tergoda melirik kerah bajunya

saat ia mengambil penghapus tadi. Ah kok jadi gak bisa ngomong di depan nih cewek? Sial!! bahkan coke gak mempan buat ngadepin nih cewek. Aku rasa Ros lagi mikirin perbuatanku yang ngintip roknya.
"Maaf anak-anak, bapak tadi ada urusan sebentar.."

Gila! nih orang kaya ninja tiba-tiba nongol.
"Oke, bapak udah menyiapkan sesuatu, ikut bapak ke ruang belakang.."

Kami mengikuti Pak Yon. Kuharap ia tak mempersiapkan pistol untuk menembak kami berdua.

Kalo dipikir, hebat sekali Pak Yon ini. Punya ruangan kesenian pribadi yang luas.

Di sebuah ruangan, aku melihat meja Tatami gaya Jepang.
Di meja tersedia kue dan minuman untuk 1 orang. Ada beberapa siswa kesayangan Pak Yon, sekitar 5 orang. Semuanya kelas 3, 2 cewek dan 3 cowok. Aku kenal 2 cowok yang biasa jadi pasienku.

Mereka sedang menyusun alat music. Jadi benar kabar mau di adakan ruang band di sekolah..
Pak Yon duduk di sofa pojok ruangan, sambil menyeringai.

Permainan gila apa lagi ini? Kutahu ia suka kesenian. Ampe Budaya Jepang ada disini? lagi pula bagaimana berdiskusi sementara ada anak lain yang sedang stem alat music.

"Kalian duduk di sana, pernah nonton film Jepang kan? jadi jangan tanya cara duduknya seperti apa.."

Dengan penuh tanda tanya kami mengikuti printahnya.
"Kalian tahu Kabuki?."

Kulihat wajah Ros yang kebingungan, kesal sekali aku melihat wajah Pak Yon yang senang melihat kami tak bisa menjawab. He..he..he.. Salah perangkap nih orang. Kalo soal Jepang sedikit sedikit aku tahu.

"Kabuki merupakan teater tradisional Jepang, menggabungkan unsur tari, pantomim, musik, dan drama.."

Sepintas kulihat wajah shock Pak Yon dan Ros dengan jawabanku. "Huh, lumayan pengetahuanmu untuk anak yang nilai kesenianya merah.."

Ada suara tawa tertahan dari anak yang sedang stem alat musik. Kukepal tangan di bawah meja.


Ingin rasanya melempar piring ini kemuka Pak Yon.

Tapi aku bertahan, hari ini kehancuranya karena bahas Jepang padaku.
:
"Apa yang dilakukan pelaku dalam Kabuki?"
Pak Yon menatapku seolah aku takan bisa menjawab

"Pelaku sering memakai kostum dan make-up berlebihan untuk menegaskan karakter mereka."

Pak Yon mengkerut dan bersiap dengan pertanyaan selanjutnya, takan berhenti sebelum aku tak bisa menjawab.
"Apa yang digunakan Kabuki untuk merias dan untuk apa riasan itu?"
"Riasan antara lain menggunakan tepung beras untuk menciptakan efek porselen pada kulit."
"Huh,tahun berapa dan siapa penemu Kabuki ini?"
Pak Yon kini mulai membakar rokok
Bahagia sekali aku membuatnya stress.

"Sekitar tahun 1603, seorang gadis kuil muda bernama Okuni mulai mementaskan tarian di luar Kyoto, ibukota kuno Jepang.."
"Baik, sepertinya bukan cuma lumayan pengetahuanmu, coba jelaskan sejarah yang kau tahu tentang Kabuki ini.."

Aku menghela nafas sejenak…
"Saat Okuni mempertunjukan di luar Kyoto, pertunjukan ini menjadi begitu terkenal sehingga sejumlah penari dan musisi lain membentuk grup Kabuki mereka sendiri. Namun, karena para pementasan terutama diperuntukkan bagi masyarakat kelas bawah, teater Kabuki tidak mendapatkan perhatian lebih parah, beberapa pemain Kabuki perempuan menjadi populer untuk lagu mesum dan tarian provokatif mereka. Prostitusi juga menjadi praktik umum mengikuti pementasan Kabuki. Akibatnya, pemerintah akhirnya melarang perempuan terlibat dalam pementasan kabuki.."
"Sama seperti pementasan teater Shakespeare, tokoh perempuan dalam Kabuki diperankan oleh aktor laki-laki yang disebut Onnagata. Seiring dengan waktu, pertunjukan teater Kabuki semakin berkualitas. Penekanan bergeser dari tema tarian asli menjadi drama dan komedi berdasarkan tema kontemporer seperti pengkhianatan atau intrik politik."
"Aktor Kabuki umumnya juga mempelajari gerakan dan dialog dari teater boneka populer yang disebut bunraku. Seiring apresiasi dari pemerintah dan kalangan kelas
atas yang semakin meningkat, teater kabuki menjadi semakin populer di Jepang."
"Selama Perang Dunia ke-2, komunitas teater Kabuki menderita kerugian yang luar biasa. Butuh waktu beberapa dekade untuk memulihkan dan melatih jumlah aktor yang memadai untuk menggantikan mereka yang menjadi korban perang."
"Saat ini, teater Kabuki masih cukup populer di kalangan masyarakat Jepang. Kabuki antara lain dimainkan untuk kepentingan pariwisata sebagai bukti pencapaian budaya tradisional Jepang.."

Tak terasa aku ngoceh panjang lebar.
Suara steman musik sudah tak terdengar.
Ruangan sunyi.
Dan entah sejak kapan di ruangan bertambah beberapa Guru dan murid lain. Pak Yon kini melotot seperti mau keluar bola matanya.


Tapi sinar matanya bersinar kagum bukan meremehkan seperti awal tadi. Ros menutup mulut dengan ke dua tangan, seperti baru pertama kali melihatku.

Pak Yon mulai tepuk tangan duluan dan diikuti yang lainnya. Ros ikut tepuk tangan. Kini aku yang bengong. Tadi aku berbicara setengah sadar setengah coke. Pak Yon jalan menghampiriku, dan duduk ala jepang disebelahku..
"Brengsek kamu Rud, kenapa nilai kesenianmu merah kalo punya pengetahuan sedalam itu?"

Sekarang terbalik malah aku yang stress, bagaimana harus ku jawab pertanyaan pak Yon.

"Ah gak kok pak, kebetulan memang saya suka budaya Jepang.."
Ruangan kini kembali sepi, anak-anak dan para Guru mulai keluar. Masih terdengar bisikan Guru di telingaku..
"Dia tuh pintar sebetulnya tapi malas.."
"Lah coba ingat Mrs Felin, Guru bahasa asing itu pernah bilang anak itu jenius di pelajaranya.."
"Ya, saya pikir waktu itu Mrs Felin bohong. Tapi pas saya dengar dari Pak Kusno pengawas ujian kemaren, anak ini keluar 15 menit saat ujian bahasa Inggris, saya sendiri yang ceck ujianya sungguh mengejutkan nilainya sempurna.."
"Anehnya dipelajaran lain jeblok semua.."
Suara para Guru itu mulai menjauh dan tak terdengar lagi.
Pak Yon masih menatapku, matanya berbinar-binar..

"Kamu juga suka alat musik Jepang?"
"Sa..saya gak bisa main alat musik apapun Pak.."

Jidad Pak Yon mengkerut..
"Tapi Bapak kalo mau mengadakan Kabuki, saya bisa ngasih Bapak Shamisen buat infentaris kesenian, jadi bisa dipakai buat properti yang bertema Jepang.."
"Sha..Shamisen? kamu mau beli di mana Rud??"

"Oh gak beli Pak, kebetulan di rumah ada, Ibu saya bawa pulang sehabis liburan di gunung Fujiyama.."

Lucu sekali aku melihat ekspresi Pak Yon..

"Shamisen asli dari Jepang? ka..kamu serius Rud? belum tentu Ibu kamu ngizinin, kan!?"
"Kalo saya bilang buat sekolahan, saya yakin boleh Pak.."
"Biar Bapak tegasin sekali lagi, jadi Shamisen itu buat Bapak? Eh maksudnya buat sekolahan, bukan di pinjamkan?"


Aku melirik Ros yang cekikikan dengan tingkah Pak Yon yang kaya anak kecil dapat mainan baru. "Ya Pak, buat Bapak, eh buat sekolah maksudnya.."

Pak Yon tak menghiraukan candaanku. Matanya masih berbinar-binar..
"Baiklah cukup, kita bahas soal yang di sini dulu, Ros kamu ambil baju kimono yang bapak gantung di lemari sebelah sana.."

Ros berjalan ke lemari dan kembali lagi dengan kimono merah motif bunga sakura. Aneh besar sekali kimono ini? lebih kaget lagi aku.
Pak Yon menyuruh Ros memakai kimono itu, bukannya aku. "Nah kalian pasti bingung kan? Yang Bapak ingin kalian lakukan adalah Menjadi Kakek jompo dalam Kabuki. Nnantinya akan ada pemain lain, tapi si kakek ini pemeran utamanya.."
Aku masih bingung apa maksud Pak Yon Ros menjadi kakek-kakek..

"Terus saya jadi apa, pak?"
"Nah di sini menariknya Rud, justru kamu dan Ros itu jadi seorang dalam kimono itu!"
Aku mulai mengerti kenapa kimono ini besar sekali..
"Oh saya paham Pak, kalo begitu lebih baik saya pakai duluan baru Ros masuk di belakang!"
Pak Yon menggeleng. Aku tak suka Pak Yon mulai menyeringai lagi seperti menyembunyikan sesuatu. Akhirnya Pak Yon yang memberi instruksi ke Ros. Aku disuruh tetap duduk.
Sebetulnya udah pegal kakiku duduk seperti ini, Ros mulai duduk di belakangku. Saat aku mau memasuki tangan ke kimono, Pak Yon menggeleng. Tanganku disuruh memeluk pinggang Ros. Jadi aku memeluk ke belakang.
Oh, aku paham sekarang, jadi tangannya adalah tangan Ros. Ros menempelkan badanya kebadanku. Ia tertutup kimono sampe tak terlihat kepalanya. Saat kimono itu diikatkan tali pinggangya oleh Pak Yon, kini kami tampak seperti 1 orang yang bungkuk.
Aku tak mendengar ocehan Pak Yon yang menyuruh Ros mengambil kue dan menyuapiku. Konsentrasiku hilang karena buah dada yang menempel erat di belakangku.

Aku tersadar kembali saat potongan kue mencolok mataku. Saat itu pula Pak Yon tertawa

"Ha.ha.ha.ha.ha!! Nah di situ lucunya, paham kamu Rud!?"
Aku masih bengong, gak sadar dengan permainan konyol ini. Tangan Ros menyapu mukaku untuk membersihkan kue. Bukanya bersih tapi malah tambah gak karuan.

Pak Yon masih terpingkal-pingkal.
Sejujurnya aku juga merasa lucu bagaimana mungkin Ros bisa menyuapi tanpa melihat?
Aku mendengar bisikan Ros, "Maaf ya Rud.."

Konyol sekali hari ini.
Aku yang salah ngintip rok, tapi Ros sudah 3 kali minta maaf..

BERSAMBUNG..
BAB1:
KABUKI
Senapan AK-47 yang biasa kulihat pada Game Metal Gear Solid itu kini benar-benar mengancam dadaku. Otakku loading mencari data dari baja hitam yang mengarah padaku.
Types of weapons: AK-47
Caliber: 7.62 mm
Weight: 4.3 kg
Long Rifle (total): 0.87 m
Barrel length: 0.415 m
Muzzle velocity: 715 m/sec
The pace / acceleration of the shot: 600 rpm (600 rounds per minute) The rate of fire (practical): 40 -100 rpm
Magazine capacity (bullet points): 30 catridges
Cartridge: 7.62 x 39 mm
Shooting distance: 800 m
Effective shot distance: 400 m
"Gila! Masa senjata buatan Soviet Union yang legendaris itu sekarang nyata ada di hadapanku? "

Dua pria bersetelan jaket hitam khas intel berdiri tegak siap menembak.

"Sial! Bodohnya aku tak menyadari kehadiran polisi preman ini.." dalam hati aku terus mengutuki kecerobohanku.
"Lo yang namanya sempak, kan?!" bentak intel itu bengis.

"Tak salah lagi, motor SATRIA-R dengan cat air brush tribal, dan tadi temannya juga memanggilnya sempak."Polisi yang satunya berbicara sambil menghisap rokoknya.

"Tembak aja langsung din! Nanti gua kasih laporan doi lari pas di tangkap."
Tamatlah riwayatku kali ini. Efek dari kombinasi ubas dan coke semuanya hilang tak berbekas.

Inilah perasaan drop yang paling fatal. Otakku berputar-putar dan menampilkan slide animasi CGI dengan kualitas grafis melebihi VGA manapun di dunia ini. Slide itu terus berputar dengan kecepatan tinggi di kepalaku.
*****
"Lo tahu Man, gua rasa setahun di sekolahan ini berlalu sangat cepat!" sambil mengeluarkan rokok.

"Yaah... lo kan slalu seperti itu pak, pesimis sepanjang waktu.." Jidad mengeluarkan korek, menyalakan rokokku. "Hmm... thanks.."
Inilah kegiatan rutin pagi hari sebelum masuk sekolah di SMA Negeri Waterdoor. Ini sudah menjadi kebiasaan, tempat favorit Kami ngobrol sambil merokok di bawah tangga besi menuju kelas di atas. Dari situ, kami tak terlihat, tapi kami bisa melihat anak-anak yang berlalu-lalang. Suara berisik tangga besipun seperti irama yang tak membosankan.

Aku dan Jidad teman akrab dari kelas 1. Sampai sekarang kelas 2, kami tetap akrab. Kami bahkan berada di kelas yang sama.
eaceTumben aku bertahan 2 tahun di sekolahan seperti ini. Biasanya, ada aja masalah yang membuatku tak pernah lebih dari setahun di sekolahan yang sama. Saat SMP, tiga kali aku pindah sekolah.
"Pesimis gimana maksudnya?"

"Sepanjang tahun kita nongkrong di bawah tangga besi ini! gak ada yang berubah sama sekali!"
"Hei brother, kita punya tempat nongkrong paling strategis di seluruh pelosok sekolahan ini!"

Jidad menepuk bahuku.
cis..
:P
"Strategis dari hongkong?"

"Lah liat nih, gua buktiin seberapa strategis tempat ini.." sambil merangkul ku dan Jidad menatap celah tangga dengan penuh harap.
:Tak lama, ada beberapa siswi yang lewat,


mereka menggunakan rok pendek di atas dengkul. Model hordeng jendela kalo kata Jidad
sepertinya lagi trend, dan celakanya rok seperti itu tak melanggar peraturan sekolah.
"Coba liat itu, pemandangan yang tak bisa lo dapatkan di manapun kecuali di sini.." Jidad memasang muka mesum kelaparan.

Dari tempat Kami nongkrong, celana dalam para siswi itu bisa terlihat.


Sadisnya, setahun nongkrong di situ, aku baru sadar hari ini.
"Sialan lo Man, setahun waktu gue terbuang tanpa tahu pemandangan ini.."


"Ha...ha..ha.."

Jidad senang sekali melihatku kembali bersemangat. Tapi kemudian, siswi yang mendengar suara ketawa Jidad melirik ke bawah. "KYAAAA!!!" mereka

berteriak sambil merapatkan paha dan menutupi rok. Siswi yang lain pun sama berteriak dan lari.

Tapi sebelum para siswi itu pergi, kami sudah menghilang bagaikan shinobi.

Aku dan Jidad berlari menjauh dari tempat kejadian, atau bisa dibilang tempat tadi kini adalah TKP pembunuhan.
Jidad dengan tampang muka lonjong, tambah kacamata, rambut jambul. Dibilang jelek sih kagak, tapi kalo dibilang ganteng juga berlebihan.

:norose
Kini tampangnya seperti orang yang kehilangan lotre satu milyar.
"Hah..hah..hah.."
"BEGO LO! Tempat istimewa gua, eh.. istimewa kita maksudnya! hilang sudah.." Jidad ngomong sambil kehabisan nafas setelah berlarian. Jidad kecewa karena telah kehilangan tempat tongkronganya,

sementara aku kecewa karena sepertinya di antara siswi tadi ada teman sekelasku. Sepintas siswi itu tadi menatap dingin ke arahku.
Jidad masih terus ngedumel dan menggumamkan, "Ah.. koleksi celana dalam gua.."


Aku masih tak menghiraukan ocehanya, aku lebih memikirkan siswi tadi. Dari kelas 1, aku udah tertarik dengan siswi itu. Waktu masih di kelas 1-b dan siswi itu 1-a. Dan kini, aku dan siswi itu sekelas di 2-a.
Berapa hari di ajaran baru 2003, mulutku serasa membisu. Otakku pun blank setiap berhadapan denganya.
Aku dan Jidad masuk ke kelas. Tampaknya, belum ada guru yang masuk. Suara gitar dan ocehan ala pasar terdengar brisik sekali. Anak-anak di kelas sedang membahas dua orang maniak yang nongkrong di bawah tangga besi.


Was-was merasuki pikiranku, tapi Jidad masih tenang dan cuek aja. Bahkan Jidad ikut ngobrolin dua maniak itu.

Jidad sangat yakin kalo dari atas tangga, melihat ke bawah takan jelas.
Aku yang masih kepikiran dengan tatapan dingin itu sepanjang pelajaran masih bengong
hingga spidol dari pak Yon melesat di kepalaku.
"Tugh... apa pelajaran kesenian begitu membosankanmu?

atau kamu sedang membayangkan bapak pake baju bikini?"


Seisi kelaspun tertawa.

Malu sekali aku

:norose
di pelajaran guru paling killer, pak Yon, guru kesenian, olahraga, bahkan merangkap sebagai guru BK. pak Yon terkenal sebagai pembunuh berdarah dingin. Tak heran makanya kalo ada pelajar yang sampe pingsan karena di hukum pak Yon.
"Baiklah anak-anak,

di penghujung tahun perpisahan kakak kelas, para senior kalian,
sudah tradisi anak kelas 2 yang mengurusnya, maka kita membutuhkan pasangan pengurus,
ada usulan?"

Seisi kelas mulai seperti sarang tawon, mulai mengunjuk teman masing-masing.
"DIAM!"

"Baiklah, yang wanita kutugaskan ketua kelas 2-a, gimana menurutmu, Ros?"
Seorang siswi berdiri, ia adalah Rosdiana, siswi cantik dengan rambut panjang sepinggul,
body super model. Setiap gerakanya bagaikan animasi grafis tinggi.

Ros sangat berprestasi di bidang apapun. Ia seperti anak emas pak Yon. Saking handalnya Ros, banyak pelajar yang berpendapat ketua osis berikutnya pasti Ros.

"Saya siap pak.."

"Hmm.. bagus, kini tinggal cari pasanganmu dalam kerjasama tim!" pak Yon tampak sedang berpikir,

dan pak Yon menatap seisi kelas dengan tajam.

Tatapanya bagaikan sinar x, bisa melihat isi kepalamu. Banyak anak lelaki yang memasang tampang siap

untuk berpasangan dengan Ros. Siapa yang gak mau berpasangan dengan idola sekolah?

Tapi pak Yon seolah tahu isi kepala anak lelaki yang mesum itu. Di antara sekian banyaknya anak lelaki, ada satu anak yang memasang muka cuek, malah tak menghiraukan.

Aku sedang membaca baca catatan, berharap tak ada nasib sial lagi hari ini.

Ketika aku merasa seisi kelas senyap,

aku melirik ke teman-teman.


Kagetnya aku, teman-teman sekelas sedang menatapku. Bahkan semua teman sekelasku sedang menatap! Pas aku menatap pak Yon, pak Yon langsung menyeringai seolah sudah menemukan mangsanya.

"Baiklah Rudi, kau akan menjadi pasangan Ros, walaupun menurutku, kamu lebih cocok jadi pembantunya.."
:hamer
"Ha..ha..ha..ha.."

Pak Yon senang dapat memilih aku karena pak Yon melihat tatapan mata anak lain sangat buas
ingin berpasangan dengan Ros, tapi aku tatapanya tak seperti itu, maka dari itu pak Yon memilihku. Sebaliknya, aku seperti jatuh dari tangga, kecebur got, ketimpa lemari, abis itu digigit ular.


Sepanjang di kelaspun mataku selalu melirik ke tatapan Ros yang dingin.
:Saat Ros yang aku taksir terpilih menjadi pengurus acara perpisahan kakak kelas dan pak Yon mencari pasangan lelakinya, aku berdoa mudah-mudahan bukan aku yang terpilih. Bagaimana aku berbicara dengan gadis yang aku taksir? Bagaimana aku berbicara dengan gadis yang aku intip celana dalamnya?

Teeeet..
Teeet..
Bel sekolah seperti suara malaikat penolong.

"baiklah kalian berdua kutunggu di kantor seusai sekolah!"

Aku masih terpaku di tempat duduk, bahkan tak menoleh saat Jidad menyapa. Aku masih menopang kepala dengan tangan kiri dan tangan kanan bermain dengan pulpen.
"Maaf lo duluan aja ke tempat pak Yon, gua ada latihan teater sebentar.."

Degg..

Jantungku berdegup semakin kencang. Aku tak bisa menjawab, hanya menggumam, "Hmm.."

Suara langkah kaki Ros keluar dari kelas, "Fiuuh.. nasib-nasib.."
Aku menggumam dengan bisikan lirih. Entah merasa beruntung bisa kerja sama dengan cewek incaranku atau merasa sial karena baru saja mengintip celana dalamnya..

***
30 Menit berlalu sementara aku masih duduk di kantor Pak Yon. Agar rileks dan menghilangkan ketegangan, sebelum ke sini aku sempat snip sedikit coke.

Sekarang aku sudah siap walau ada 10 Pak Yon..


Pak Yon tak berada di kantornya. Aku mencoret coret buku, membuat konsep untuk acara nanti.
Tap.. tap.. tap..
Suara langkah lari menuju kantor ini. "Maaf ya gua lama.." suara penuh penyesalan keluar dari bibir manis itu. Ros menggeser bangku di seberangku.
Deg.. deg.. deg..

Jantungku serasa seperti terlalu banyak menggunakan ubas. Aku terus mencoreti buku, tak tahu apa yang kutulis.
"Umm, boleh pinjem penghapus?"

Kuletakan penghapus yang tak pernah kupakai di ajaran baru ini. Kuletakan di meja tanpa menatapnya. Jarak meja cukup panjang. Ia mengambil penghapus itu dari tempatnya dengan mencondongkan badan.
"Makasih.." sahutnya dengan lembut.

Sial, kenapa sih nih cewek suaranya bikin blingsatan? sejujurnya aku tergoda melirik kerah bajunya

saat ia mengambil penghapus tadi. Ah kok jadi gak bisa ngomong di depan nih cewek? Sial!! bahkan coke gak mempan buat ngadepin nih cewek. Aku rasa Ros lagi mikirin perbuatanku yang ngintip roknya.
"Maaf anak-anak, bapak tadi ada urusan sebentar.."

Gila! nih orang kaya ninja tiba-tiba nongol.
"Oke, bapak udah menyiapkan sesuatu, ikut bapak ke ruang belakang.."

Kami mengikuti Pak Yon. Kuharap ia tak mempersiapkan pistol untuk menembak kami berdua.

Kalo dipikir, hebat sekali Pak Yon ini. Punya ruangan kesenian pribadi yang luas.

Di sebuah ruangan, aku melihat meja Tatami gaya Jepang.
Di meja tersedia kue dan minuman untuk 1 orang. Ada beberapa siswa kesayangan Pak Yon, sekitar 5 orang. Semuanya kelas 3, 2 cewek dan 3 cowok. Aku kenal 2 cowok yang biasa jadi pasienku.

Mereka sedang menyusun alat music. Jadi benar kabar mau di adakan ruang band di sekolah..
Pak Yon duduk di sofa pojok ruangan, sambil menyeringai.

Permainan gila apa lagi ini? Kutahu ia suka kesenian. Ampe Budaya Jepang ada disini? lagi pula bagaimana berdiskusi sementara ada anak lain yang sedang stem alat music.

"Kalian duduk di sana, pernah nonton film Jepang kan? jadi jangan tanya cara duduknya seperti apa.."

Dengan penuh tanda tanya kami mengikuti printahnya.
"Kalian tahu Kabuki?."

Kulihat wajah Ros yang kebingungan, kesal sekali aku melihat wajah Pak Yon yang senang melihat kami tak bisa menjawab. He..he..he.. Salah perangkap nih orang. Kalo soal Jepang sedikit sedikit aku tahu.

"Kabuki merupakan teater tradisional Jepang, menggabungkan unsur tari, pantomim, musik, dan drama.."

Sepintas kulihat wajah shock Pak Yon dan Ros dengan jawabanku. "Huh, lumayan pengetahuanmu untuk anak yang nilai kesenianya merah.."

Ada suara tawa tertahan dari anak yang sedang stem alat musik. Kukepal tangan di bawah meja.


Ingin rasanya melempar piring ini kemuka Pak Yon.

Tapi aku bertahan, hari ini kehancuranya karena bahas Jepang padaku.
:"Apa yang dilakukan pelaku dalam Kabuki?"
Pak Yon menatapku seolah aku takan bisa menjawab

"Pelaku sering memakai kostum dan make-up berlebihan untuk menegaskan karakter mereka."

Pak Yon mengkerut dan bersiap dengan pertanyaan selanjutnya, takan berhenti sebelum aku tak bisa menjawab.
"Apa yang digunakan Kabuki untuk merias dan untuk apa riasan itu?"
"Riasan antara lain menggunakan tepung beras untuk menciptakan efek porselen pada kulit."
"Huh,tahun berapa dan siapa penemu Kabuki ini?"
Pak Yon kini mulai membakar rokok
Bahagia sekali aku membuatnya stress.

"Sekitar tahun 1603, seorang gadis kuil muda bernama Okuni mulai mementaskan tarian di luar Kyoto, ibukota kuno Jepang.."
"Baik, sepertinya bukan cuma lumayan pengetahuanmu, coba jelaskan sejarah yang kau tahu tentang Kabuki ini.."

Aku menghela nafas sejenak…
"Saat Okuni mempertunjukan di luar Kyoto, pertunjukan ini menjadi begitu terkenal sehingga sejumlah penari dan musisi lain membentuk grup Kabuki mereka sendiri. Namun, karena para pementasan terutama diperuntukkan bagi masyarakat kelas bawah, teater Kabuki tidak mendapatkan perhatian lebih parah, beberapa pemain Kabuki perempuan menjadi populer untuk lagu mesum dan tarian provokatif mereka. Prostitusi juga menjadi praktik umum mengikuti pementasan Kabuki. Akibatnya, pemerintah akhirnya melarang perempuan terlibat dalam pementasan kabuki.."
"Sama seperti pementasan teater Shakespeare, tokoh perempuan dalam Kabuki diperankan oleh aktor laki-laki yang disebut Onnagata. Seiring dengan waktu, pertunjukan teater Kabuki semakin berkualitas. Penekanan bergeser dari tema tarian asli menjadi drama dan komedi berdasarkan tema kontemporer seperti pengkhianatan atau intrik politik."
"Aktor Kabuki umumnya juga mempelajari gerakan dan dialog dari teater boneka populer yang disebut bunraku. Seiring apresiasi dari pemerintah dan kalangan kelas
atas yang semakin meningkat, teater kabuki menjadi semakin populer di Jepang."
"Selama Perang Dunia ke-2, komunitas teater Kabuki menderita kerugian yang luar biasa. Butuh waktu beberapa dekade untuk memulihkan dan melatih jumlah aktor yang memadai untuk menggantikan mereka yang menjadi korban perang."
"Saat ini, teater Kabuki masih cukup populer di kalangan masyarakat Jepang. Kabuki antara lain dimainkan untuk kepentingan pariwisata sebagai bukti pencapaian budaya tradisional Jepang.."

Tak terasa aku ngoceh panjang lebar.
Suara steman musik sudah tak terdengar.
Ruangan sunyi.
Dan entah sejak kapan di ruangan bertambah beberapa Guru dan murid lain. Pak Yon kini melotot seperti mau keluar bola matanya.


Tapi sinar matanya bersinar kagum bukan meremehkan seperti awal tadi. Ros menutup mulut dengan ke dua tangan, seperti baru pertama kali melihatku.

Pak Yon mulai tepuk tangan duluan dan diikuti yang lainnya. Ros ikut tepuk tangan. Kini aku yang bengong. Tadi aku berbicara setengah sadar setengah coke. Pak Yon jalan menghampiriku, dan duduk ala jepang disebelahku..
"Brengsek kamu Rud, kenapa nilai kesenianmu merah kalo punya pengetahuan sedalam itu?"

Sekarang terbalik malah aku yang stress, bagaimana harus ku jawab pertanyaan pak Yon.

"Ah gak kok pak, kebetulan memang saya suka budaya Jepang.."
Ruangan kini kembali sepi, anak-anak dan para Guru mulai keluar. Masih terdengar bisikan Guru di telingaku..
"Dia tuh pintar sebetulnya tapi malas.."
"Lah coba ingat Mrs Felin, Guru bahasa asing itu pernah bilang anak itu jenius di pelajaranya.."
"Ya, saya pikir waktu itu Mrs Felin bohong. Tapi pas saya dengar dari Pak Kusno pengawas ujian kemaren, anak ini keluar 15 menit saat ujian bahasa Inggris, saya sendiri yang ceck ujianya sungguh mengejutkan nilainya sempurna.."
"Anehnya dipelajaran lain jeblok semua.."
Suara para Guru itu mulai menjauh dan tak terdengar lagi.
Pak Yon masih menatapku, matanya berbinar-binar..

"Kamu juga suka alat musik Jepang?"
"Sa..saya gak bisa main alat musik apapun Pak.."

Jidad Pak Yon mengkerut..
"Tapi Bapak kalo mau mengadakan Kabuki, saya bisa ngasih Bapak Shamisen buat infentaris kesenian, jadi bisa dipakai buat properti yang bertema Jepang.."
"Sha..Shamisen? kamu mau beli di mana Rud??"

"Oh gak beli Pak, kebetulan di rumah ada, Ibu saya bawa pulang sehabis liburan di gunung Fujiyama.."

Lucu sekali aku melihat ekspresi Pak Yon..

"Shamisen asli dari Jepang? ka..kamu serius Rud? belum tentu Ibu kamu ngizinin, kan!?"
"Kalo saya bilang buat sekolahan, saya yakin boleh Pak.."
"Biar Bapak tegasin sekali lagi, jadi Shamisen itu buat Bapak? Eh maksudnya buat sekolahan, bukan di pinjamkan?"


Aku melirik Ros yang cekikikan dengan tingkah Pak Yon yang kaya anak kecil dapat mainan baru. "Ya Pak, buat Bapak, eh buat sekolah maksudnya.."

Pak Yon tak menghiraukan candaanku. Matanya masih berbinar-binar..
"Baiklah cukup, kita bahas soal yang di sini dulu, Ros kamu ambil baju kimono yang bapak gantung di lemari sebelah sana.."

Ros berjalan ke lemari dan kembali lagi dengan kimono merah motif bunga sakura. Aneh besar sekali kimono ini? lebih kaget lagi aku.
Pak Yon menyuruh Ros memakai kimono itu, bukannya aku. "Nah kalian pasti bingung kan? Yang Bapak ingin kalian lakukan adalah Menjadi Kakek jompo dalam Kabuki. Nnantinya akan ada pemain lain, tapi si kakek ini pemeran utamanya.."
Aku masih bingung apa maksud Pak Yon Ros menjadi kakek-kakek..

"Terus saya jadi apa, pak?"
"Nah di sini menariknya Rud, justru kamu dan Ros itu jadi seorang dalam kimono itu!"
Aku mulai mengerti kenapa kimono ini besar sekali..
"Oh saya paham Pak, kalo begitu lebih baik saya pakai duluan baru Ros masuk di belakang!"
Pak Yon menggeleng. Aku tak suka Pak Yon mulai menyeringai lagi seperti menyembunyikan sesuatu. Akhirnya Pak Yon yang memberi instruksi ke Ros. Aku disuruh tetap duduk.
Sebetulnya udah pegal kakiku duduk seperti ini, Ros mulai duduk di belakangku. Saat aku mau memasuki tangan ke kimono, Pak Yon menggeleng. Tanganku disuruh memeluk pinggang Ros. Jadi aku memeluk ke belakang.
Oh, aku paham sekarang, jadi tangannya adalah tangan Ros. Ros menempelkan badanya kebadanku. Ia tertutup kimono sampe tak terlihat kepalanya. Saat kimono itu diikatkan tali pinggangya oleh Pak Yon, kini kami tampak seperti 1 orang yang bungkuk.
Aku tak mendengar ocehan Pak Yon yang menyuruh Ros mengambil kue dan menyuapiku. Konsentrasiku hilang karena buah dada yang menempel erat di belakangku.

Aku tersadar kembali saat potongan kue mencolok mataku. Saat itu pula Pak Yon tertawa

"Ha.ha.ha.ha.ha!! Nah di situ lucunya, paham kamu Rud!?"
Aku masih bengong, gak sadar dengan permainan konyol ini. Tangan Ros menyapu mukaku untuk membersihkan kue. Bukanya bersih tapi malah tambah gak karuan.

Pak Yon masih terpingkal-pingkal.
Sejujurnya aku juga merasa lucu bagaimana mungkin Ros bisa menyuapi tanpa melihat?
Aku mendengar bisikan Ros, "Maaf ya Rud.."

Konyol sekali hari ini.
Aku yang salah ngintip rok, tapi Ros sudah 3 kali minta maaf..

BERSAMBUNG..
Diubah oleh masternagato 28-04-2014 14:02
0