Tak ada pilihan lain, mungkin Tuhan telah mengaturnya.
Quote:
Kak Nosa : ”Loh Cika...?”
Aku : ”Eh..Kak Nosa...hehehe..”
Kak Nosa : ”Darimana, Cik?”
Aku : ”Emmh...habis dari mesjid, Kak..”
Kak Nosa : ”Kamu kemana aja? Kok jarang keliatan lagi lewat sekolah ku? Aku kira kamu tu pindah sekolah lho..?”
Aku : ”Hehehe...gak kok, masih sekolah di Pasundan, cuma sekarang sering dianter-jemput aja sama Ayah..”
Kak Nosa : ”Oh..gitu ya..?”
Aku : ”Iya..gak taulah sekarang lagi rajin2nya..hehe...”
Kak Nosa : ”Oya, nomer mu berapa Cik?”
Aku : ”Nomer hp?”
Kak Nosa : ”Iya...berapa...berapa?” Sambil mengeluarkan ponselnya dari saku.
Aku : ”Duuh...aku belum punya hp Kak.. Eh udah dulu ya Kak, aku lagi buru2 nih, mau pulang?”
Kak Nosa : ”Oh ok...besok kita bisa ketemu lagi kan sepulang sekolah?”
Aku : ”Iya insya allah Kak... Daaaagh..”
Aku berjalan cepat meninggalkan Kak Nosa, entahlah mungkin dia sedang memandangi ku karena perasaanku tak enak dibuatnya, dan aku juga tak ingin berbalik badan. Akhirnya aku keluar dari gang, sambil menghela nafas panjang. Jarak menuju rumah pun semakin dekat. Dan... diujung jalan sana July berjalan dengan santainya, sepertinya dia akan pulang.
Dalam hati :
”Hiyah...mau kemana dia? Emang ini udah jamnya pulang kerja? Heemh..ada apa dengan hari ini? Tadi ketemu Kak Nosa, trus sekarang July..”
Lalu, July pun menyebrang jalan. Tak menghiraukan aku yg berada kurang dari 50 meter darinya.
Saat itu aku belum mengetahui bahwa July dan Kak Nosa saling mengenal, bahkan katanya masih ada hubungan saudara, lebih tepatnya saudara jauh. Bunda yg juga mengenal keluarganya Kak Nosa, ditambah kejadian2 yg aku alami selama dekat dengannya, membuat perasaan suka kepadanya hilang tak tersisa. Aku ingin segera mengatakan putus, namun hati ku masih tak ingin menemuinya. Aku menyesalkan diri mengapa aku menerima begitu saja orang yg baru aku kenal? Begitu mudahnya suka terhadap cowo yg hanya bisa bertemu ketika aku melewati sekolahnya.