- Beranda
- Stories from the Heart
CEREBRO : KUMPULAN CERITA CINTA PAKAI OTAK
...
TS
reloaded0101
CEREBRO : KUMPULAN CERITA CINTA PAKAI OTAK
Judul thread ini ane ganti, sekarang tidak semua cerpennya mengisahkan cinta. Tetapi temanya lebih umum, ada detektif,sci-fi,horor,thriller,drama dan lain-lain yang tidak selalu melibatkan percintaan antar karakternya.
INDEX BARU:
CERITA 2020
AZAB ILMU PELET
MUDIK 2020
Terima kasih untuk Agan Gauq yang sudah membuatkan index cerita ini.
Index by Gauq:
INDEX
INDEX lanjutan
Cerita baru 2019:
KISAH-KISAH MANTAN DETEKTIF CILIK di postingan terakhir halaman terakhir
INDEX PART 3
INDEX PART 4-new
Langsung saja cerpen pertama
Apa yang akan kau lakukan ketika dia yang kaucinta meminta syarat berupa rumah dengan 1000 jendela sebelum menerima cintamu?
Leo merogoh saku belakang celana hitam barunya. Sebuah sisir kecil diambilnya dari kantong itu. Sambil melihat spion, ia merapikan kembali rambut yang sempat dipermainkan angin selama dalam perjalanan, maklum saja kaca pintu depan mobilnya rusak dan hanya bisa ditutup setengahnya saja. Setelah dirasa sudah rapi, Leo dan rambutnya keluar dari roda empatnya kemudian berjalan dengan jantung berdegup kencang menuju rumah nomor 2011 dan menekan belnya. Sang pembantu rumah keluar dan menyapanya
“Oh Mas Leo ”
“Riska-nyaada Bi?”
“Oh ada, sebentar saya panggilkan.”
Beberapa menit kemudian seorang wanita muda cantik berusia 20 tahunan awal keluar, mendapati Leo yang sedang menghirup teh celup panas buatan Bibi.
“Mau pergi ke pestanya siapa? Perasaan teman kita nggak ada yang ulang tahun atau nikah hari ini.”
Tanya Riska.
“Memang tidak ada.”
“Kalau nggak ke kondangan, mengapa pakai baju serapi ini? Sok formal banget. ”
“ Harus formal, kan mau melamar.”
“Ngelamar kerja?”
Leo menggeleng. Jantungnya berdegup makin kencang.
“Bukan.”
“Lalu melamar apa?”
“Kamu.”
Kata Leo sambil bersimpuh dan mengeluarkan sebuah kotak merah berisi cincin emas dengan sebuah berlian berukuran mini di tengahnya. Sementara itu Riska mundur beberapa langkah ke belakang.
“Aku? kita kan nggak pernah pacaran?”
“Tetapi kita sudah saling mengenal belasan tahun Ris. Aku tahu apa yang kamu suka, aku tahu apa yang kamu tidak suka, aku tahu bagaimana kamu selalu menghentakkan kaki kirimu ke tanah ketika mendengar kabar gembira,
aku tahu bagaimana kau selalu mencengkeram erat kertas tisu di tanganmu waktu kau sedang gugup, dan aku tahu aku mencintaimu. ”
“Tapi kamu kan nggak tahu apakah aku juga cinta kamu?
“Karena aku tidak tahu, bagaimana kalau kamu beritahukan padaku sekarang.”
“Mmm, gimana ya? Untuk urusan cinta, apalagi orientasinya nikah. Tentu aku maunya sama pria yang sungguh-sungguh.”
“Cintaku kepadamu sungguhan Ris, bukan bohongan atau tren musiman.”
“Sejak kapan lidah punya tulang?”
“Kau tidak percaya pada kata-kataku?”
“Aku butuh bukti Yo, bukan janji.”
“Baik, bukti seperti apa yang kauminta Ris?”
“Tidak ada yang mustahil untuk orang yang sungguh-sungguh. Demi cinta Shah Jehan mampu menciptakan Taj Mahal untuk istrinya.”
“Lalu apa yang kau inginkan agar mau menjadi istriku Ris?”
“Buatkan aku rumah dengan 1000 jendela.”
“Baik”
“Jika kau mampu menyelesaikannya dalam waktu 24 jam aku akan menerimamu tetapi jika tidak ya kita temenan saja ya Yo.”
“Buat rumah 1000 jendela dalam waktu 24 jam. Sudah itu saja?”
“Memangnya kamu bisa?”
“Akan kucoba semampuku.”
“Baik aku tunggu hasilnya besok. Good luck.”
Leo pun pergi dari halaman rumah itu dan menuju mobilnya sambil mengambil nafas panjang. Ia memacu kendaraannya dan pergi ke beberapa toko kelontong dan toko bangunan. Banyak hal yang dibelinya. Setelah selesai berbelanja, benda-benda itu dibungkus dalam beberapa kantong kresek dan kardus yang dijejalkan ke bagasi mobil.
Pulang ke rumah Ia langsung menuju ke halaman belakang yang luas dan masih berupa lahan kosong yang hanya dihuni oleh rimbun ilalang dan satu dua pohon nangka.
Leo mengambil nafas panjang lalu menghelanya dan mulai bekerja. Ia menurunkan semua barang yang ia beli. Tak lama kemudian suara gaduh dari palu bertemu paku terdengar berulang-ulang hingga malam tiba.
Malam harinya halilintar menyambar, disusul hujan yang turun sederas-derasnya. Air membanjiri halaman belakang yang masih tetap kosong dan hanya dihuni oleh rimbun ilalang dan satu dua pohon nangka.
“Ris bisa mampir kerumah sekarang? ada sesuatu yang mau kuperlihatkan padamu.”
Kata Leo keesokan harinya lewat ponsel yang dijawab dengan gugup oleh Riska.
“I...iya.”
Dalam hati gadis itu berpikir, bagaimana ini? Apa Leo bisa menyelesaikan permintaan yang mustahil itu? Memang sih dia itu baik, cerdas dan tidak sombong tapi Riska tidak mencintainya. Ia memberikan syarat itu dengan tujuan agar Leo gagal dan mereka berdua bisa kembali happily everafter...meskipun hanya di friend zone saja.
Riska sampai di depan rumah Leo dan heran mendapati mobil ayahnya terparkir di halaman. Ketika masuk ke dalam ia mendapati ayahnya sednag bercakap-cakap di beranda bersama Leo.
“Kok Papi bisa ada di sini?”
“Aneh kamu ini Ris, Masak Papi nggak boleh sowan ke rumah calon suamimu?”
“Calon suami? Calon suami apa?”
“Kan kamu sendiri yang mengajukan syarat, kalau Nak Leo bisa membuat rumah yang memiliki 1000 jendela dalam waktu 24 jam, kau akan menikahinya?”
“Memangnya bisa?”
“Nak Leo tunjukkan!”
Leo masuk ke dalam dan mengambil sebuah benda yang ditutup taplak meja.
“Apaan nih?”
Tanya Riska dengan tanda tanya menggantung di atas kepalanya.
“Yang kau minta.”
Kata Leo sambil membuka taplak meja itu dan memperlihatkan sebuah rumah berukuran sedikit lebih besar dari telapak tangan yang terbuat dari ribuan tusuk gigi.
“Papi sudah hitung sendiri jendelanya ada 1000 pas.”
“Tapi ini kan kecil sekali.”
“Di syaratmu tidak disebutkan ukurannya harus besar.”
“Tapi ini...definisi rumah kan tempat tinggal, siapa yang bisa tinggal di rumah sekecil ini. Paling-paling juga semut.”
“Di syarat yang kamu ajukan tidak ada keterangan kalau harus rumah manusia. Rumah semut kan juga termasuk dalam kategori rumah.”
Riska serasa disambar geledek. Ia menyesal mengapa tidak jelas dan detail ketika meminta syarat itu kemarin.
“Papi say something dong, belain Riska?”
“Menurut Papi rumah buatan Nak leo ini sudah memenuhi syarat.”
“Jadi Papi setuju punya menantu seperti dia ini?”
“Tentu saja setuju, kalian sudah kenal dari kecil, Papi juga kenal Nak Leo dari kecil. dia juga cerdas dan pernah magang di kantor kita jadi tahu kultur organisasi kita kayak gimana. Nanti kan bisa bantuin kamu waktu gantiin Papi megang perusahaan.”
“Tidaaaaak!!!!”
Riska pun pingsan karena shock. Otak kanannya seolah mengejek, melakukan bullying bawah sadar terhadapnya sambil terus-menerus berkata.
“Makanya Ris, kalau minta sesuatu itu yang jelas.”
INDEX BARU:
CERITA 2020
AZAB ILMU PELET
MUDIK 2020
Terima kasih untuk Agan Gauq yang sudah membuatkan index cerita ini.
Index by Gauq:
INDEX
INDEX lanjutan
Cerita baru 2019:
KISAH-KISAH MANTAN DETEKTIF CILIK di postingan terakhir halaman terakhir
Spoiler for :
Quote:
INDEX
RUMAH SERIBU JENDELA DI POST INI
SETIA
DEAD OR ALIVE
MAKAN TUH CINTA
KALAU JODOH TAK LARI KEMANA
OUTLIER
MAKAN BATU
TA'ARUF
SETIA
DEAD OR ALIVE
MAKAN TUH CINTA
KALAU JODOH TAK LARI KEMANA
OUTLIER
MAKAN BATU
TA'ARUF
INDEX PART 3
INDEX PART 4-new
Langsung saja cerpen pertama
Apa yang akan kau lakukan ketika dia yang kaucinta meminta syarat berupa rumah dengan 1000 jendela sebelum menerima cintamu?
Spoiler for :
RUMAH SERIBU JENDELA
Leo merogoh saku belakang celana hitam barunya. Sebuah sisir kecil diambilnya dari kantong itu. Sambil melihat spion, ia merapikan kembali rambut yang sempat dipermainkan angin selama dalam perjalanan, maklum saja kaca pintu depan mobilnya rusak dan hanya bisa ditutup setengahnya saja. Setelah dirasa sudah rapi, Leo dan rambutnya keluar dari roda empatnya kemudian berjalan dengan jantung berdegup kencang menuju rumah nomor 2011 dan menekan belnya. Sang pembantu rumah keluar dan menyapanya
“Oh Mas Leo ”
“Riska-nyaada Bi?”
“Oh ada, sebentar saya panggilkan.”
Beberapa menit kemudian seorang wanita muda cantik berusia 20 tahunan awal keluar, mendapati Leo yang sedang menghirup teh celup panas buatan Bibi.
“Mau pergi ke pestanya siapa? Perasaan teman kita nggak ada yang ulang tahun atau nikah hari ini.”
Tanya Riska.
“Memang tidak ada.”
“Kalau nggak ke kondangan, mengapa pakai baju serapi ini? Sok formal banget. ”
“ Harus formal, kan mau melamar.”
“Ngelamar kerja?”
Leo menggeleng. Jantungnya berdegup makin kencang.
“Bukan.”
“Lalu melamar apa?”
“Kamu.”
Kata Leo sambil bersimpuh dan mengeluarkan sebuah kotak merah berisi cincin emas dengan sebuah berlian berukuran mini di tengahnya. Sementara itu Riska mundur beberapa langkah ke belakang.
“Aku? kita kan nggak pernah pacaran?”
“Tetapi kita sudah saling mengenal belasan tahun Ris. Aku tahu apa yang kamu suka, aku tahu apa yang kamu tidak suka, aku tahu bagaimana kamu selalu menghentakkan kaki kirimu ke tanah ketika mendengar kabar gembira,
aku tahu bagaimana kau selalu mencengkeram erat kertas tisu di tanganmu waktu kau sedang gugup, dan aku tahu aku mencintaimu. ”
“Tapi kamu kan nggak tahu apakah aku juga cinta kamu?
“Karena aku tidak tahu, bagaimana kalau kamu beritahukan padaku sekarang.”
“Mmm, gimana ya? Untuk urusan cinta, apalagi orientasinya nikah. Tentu aku maunya sama pria yang sungguh-sungguh.”
“Cintaku kepadamu sungguhan Ris, bukan bohongan atau tren musiman.”
“Sejak kapan lidah punya tulang?”
“Kau tidak percaya pada kata-kataku?”
“Aku butuh bukti Yo, bukan janji.”
“Baik, bukti seperti apa yang kauminta Ris?”
“Tidak ada yang mustahil untuk orang yang sungguh-sungguh. Demi cinta Shah Jehan mampu menciptakan Taj Mahal untuk istrinya.”
“Lalu apa yang kau inginkan agar mau menjadi istriku Ris?”
“Buatkan aku rumah dengan 1000 jendela.”
“Baik”
“Jika kau mampu menyelesaikannya dalam waktu 24 jam aku akan menerimamu tetapi jika tidak ya kita temenan saja ya Yo.”
“Buat rumah 1000 jendela dalam waktu 24 jam. Sudah itu saja?”
“Memangnya kamu bisa?”
“Akan kucoba semampuku.”
“Baik aku tunggu hasilnya besok. Good luck.”
Leo pun pergi dari halaman rumah itu dan menuju mobilnya sambil mengambil nafas panjang. Ia memacu kendaraannya dan pergi ke beberapa toko kelontong dan toko bangunan. Banyak hal yang dibelinya. Setelah selesai berbelanja, benda-benda itu dibungkus dalam beberapa kantong kresek dan kardus yang dijejalkan ke bagasi mobil.
Pulang ke rumah Ia langsung menuju ke halaman belakang yang luas dan masih berupa lahan kosong yang hanya dihuni oleh rimbun ilalang dan satu dua pohon nangka.
Leo mengambil nafas panjang lalu menghelanya dan mulai bekerja. Ia menurunkan semua barang yang ia beli. Tak lama kemudian suara gaduh dari palu bertemu paku terdengar berulang-ulang hingga malam tiba.
Malam harinya halilintar menyambar, disusul hujan yang turun sederas-derasnya. Air membanjiri halaman belakang yang masih tetap kosong dan hanya dihuni oleh rimbun ilalang dan satu dua pohon nangka.
“Ris bisa mampir kerumah sekarang? ada sesuatu yang mau kuperlihatkan padamu.”
Kata Leo keesokan harinya lewat ponsel yang dijawab dengan gugup oleh Riska.
“I...iya.”
Dalam hati gadis itu berpikir, bagaimana ini? Apa Leo bisa menyelesaikan permintaan yang mustahil itu? Memang sih dia itu baik, cerdas dan tidak sombong tapi Riska tidak mencintainya. Ia memberikan syarat itu dengan tujuan agar Leo gagal dan mereka berdua bisa kembali happily everafter...meskipun hanya di friend zone saja.
Riska sampai di depan rumah Leo dan heran mendapati mobil ayahnya terparkir di halaman. Ketika masuk ke dalam ia mendapati ayahnya sednag bercakap-cakap di beranda bersama Leo.
“Kok Papi bisa ada di sini?”
“Aneh kamu ini Ris, Masak Papi nggak boleh sowan ke rumah calon suamimu?”
“Calon suami? Calon suami apa?”
“Kan kamu sendiri yang mengajukan syarat, kalau Nak Leo bisa membuat rumah yang memiliki 1000 jendela dalam waktu 24 jam, kau akan menikahinya?”
“Memangnya bisa?”
“Nak Leo tunjukkan!”
Leo masuk ke dalam dan mengambil sebuah benda yang ditutup taplak meja.
“Apaan nih?”
Tanya Riska dengan tanda tanya menggantung di atas kepalanya.
“Yang kau minta.”
Kata Leo sambil membuka taplak meja itu dan memperlihatkan sebuah rumah berukuran sedikit lebih besar dari telapak tangan yang terbuat dari ribuan tusuk gigi.
“Papi sudah hitung sendiri jendelanya ada 1000 pas.”
“Tapi ini kan kecil sekali.”
“Di syaratmu tidak disebutkan ukurannya harus besar.”
“Tapi ini...definisi rumah kan tempat tinggal, siapa yang bisa tinggal di rumah sekecil ini. Paling-paling juga semut.”
“Di syarat yang kamu ajukan tidak ada keterangan kalau harus rumah manusia. Rumah semut kan juga termasuk dalam kategori rumah.”
Riska serasa disambar geledek. Ia menyesal mengapa tidak jelas dan detail ketika meminta syarat itu kemarin.
“Papi say something dong, belain Riska?”
“Menurut Papi rumah buatan Nak leo ini sudah memenuhi syarat.”
“Jadi Papi setuju punya menantu seperti dia ini?”
“Tentu saja setuju, kalian sudah kenal dari kecil, Papi juga kenal Nak Leo dari kecil. dia juga cerdas dan pernah magang di kantor kita jadi tahu kultur organisasi kita kayak gimana. Nanti kan bisa bantuin kamu waktu gantiin Papi megang perusahaan.”
“Tidaaaaak!!!!”
Riska pun pingsan karena shock. Otak kanannya seolah mengejek, melakukan bullying bawah sadar terhadapnya sambil terus-menerus berkata.
“Makanya Ris, kalau minta sesuatu itu yang jelas.”
end
Diubah oleh reloaded0101 15-05-2020 14:17
indrag057 dan 37 lainnya memberi reputasi
34
191K
Kutip
1.1K
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
reloaded0101
#27
KARTINI HARI INI
Spoiler for :
Mobil offroad berhenti di depan pagar bambu sebuah rumah desa yang sederhana. Seorang pria muda berusia 24 tahun keluar dari dalamnya dan masuk ke dalam rumah tanpa mengetuk pintu. Ia celingak-celinguk di ruang tamu lalu masuk ke ruang tengah,
“Assalamualaikum,”
Sapanya pada Mbok Poniti yang sedang menanak nasi di dapur.
“Dam, kamu kok nggak bilang kalau mau pulang? Lho kopermu mana?”
“Adam cuma mampir kok Bu. Kebetulan tadi habis survei lokasi dekat sini.”
Katanya sambil mencium tangan Mbok Poniti, ibunya.
“Kerjaanmu bagaimana di kota?”
“Alhamdulillah Bu lancar. Oh ya Hadi kemana ya Bu?”
“Adikmu itu bantu-bantu ngecat di rumahnya Pak Baroto. Dia jadi rajin sekarang, katanya mau nabung biar bisa kuliah di kota juga. ”
“Oh, kalau begitu Adam ke rumah Pak Baroto dulu, mau silaturahmi.”
“Mau silaturahmi sama Pak Baroto apa kangen sama Kartini?”
“Ya Adam kan masih normal, masak kangen sama Pak Baroto?”
“oh ya Kartini juga baru bulan lalu datang dari kota, selesai wisuda.”
Kata Adam sambil mengambil sepeda yang tersandar di dinding rumahnya. Sepeda itu dulu sering dipakainya berboncengan dengan Kartini setiap pergi dan pulang sekolah. Ya Kartini, entah mengapa Adam selalu teringat pada Kartini. Terutama akhir-akhir ini ketika usianya mendekati seperempat abad dan pertanyaan “kapan kimpoi?” menjadi lebih sering didengar telinganya. Baginya tidak ada gadis selain Kartini yang cocok untuk mendampinginya. Ingat kimpoi ingat Kartini. Itulah alasan mengapa ia singgah sebentar ke desanya.
“Assalamualaikum.”
Sapanya kepada sekelompok pekerja bangunan yang sedang mengecat di rumah Pak Baroto, mantan kades di akhir tahun 90-an sekaligus ayah Kartini.
“Wah Nak Adam, datang kok ngasih kabar ”
“Iya Pak soalnya buru-buru.”
“Tiiiin, tolong buatkan minum. Ada tamu spesial dari kota ini lho.”
Tak lama kemudian Kartini keluar sambil membawa nampan berisi kopi manis. Ia tersenyum kepada Adam.
“Oh Mas Adam, Tini kira Juragan yang mau beli tanahnya Bapak.”
Katanya sambil menaruh nampan di atas meja dan menyibakkan poni yang menutupi dahi. Kartini lebih dewasa tetapi menjadi lebih cantik dari sosoknya yang bersemayam dalam ingatan Adam. Kalau saja ponsel Pak Baroto tidak berdering pasti Adam sudah tenggelam dalam lamunan.
“Halo, Iyo aku tak mrono saiki. (Ya saya segera ke sana sekarang)”
“Maaf Nak Adam, Tin, Bapak pergi dulu ke balai warga.”
Sepeninggal Pak Baroto, Adam berdua saja di ruang tamu dengan 'calon pengantin dalam benaknya'.
“Lho mana kok nggak ada?”
Kata Adam sambil mencari-cari ke seluruh ruangan.
“Mas Adam nyari apaan sih?”
“Cowok kamu.”
“Wah nyindir nih, kok tahu kalau Tini masih jomblo?”
Asyik, hati Adam seperti diguyur es krim satu galon mendengar Kartini tidak punya pacar.
“Kalau Mas Adam sendiri bagaimana?”
“Sama kayak kamu.”
“Ah masak? Kota kan lumbungnya gadis cantik.”
“Tapi nggak ada yang secantik kamu.”
“Ah Mas Adam bisa saja.”
“Tiin...sebenarnya aku ke sini mau ngomong sesuatu sama kamu tapi gimana ya?, susah ngomongnya.”
“Apaan sih, kalau mau ngomong, ngomong aja”
“Aku jomblo kamu juga jomblo, mmm gimana kalau mulai sekarang, status jomblo ini kita akhiri bersama?”
Kartini diam sejenak lalu berkata
“Boleh deh.”
“Alhamdulillah.”
Adam bernafas lega. Mulai siang itu Kartini resmi menjadi kekasihnya. Di belakang seorang pria yang sukses, selalu ada wanita luar biasa dibalik kesuksesan itu dan Adam bersyukur bahwa wanita itu adalah Kartini. Melati putih yang mengharumkan taman hatinya.
Waktupun berlalu tak terasa 12 bulan sudah Kartini menjalin hubungan asmara dengan Adam. Semuanya berjalan harmonis-harmonis saja hingga siang itu, pada jam istirahat kantor, ketika Adam makan siang bersama teman-temannya.
“Oh ya Dam, kapan kimpoi?”
“Bentar lagi.”
“Nggak percaya, memangnya ada calonnya?”
“Lho ada. Nih lihat.”
Kata Adam sambil menunjukkan foto di ponselnya
“Wah rekayasa nih, ini kan foto artis korea?”
“Bukan ini Kartini, Indonesia asli.”
“Wah selamat ya, kita tunggu undangannya.”
Selesai makan Adam menelepon kekasihnya tetapi yang ia dengar hanya nada sambung dan suara operator yang menyuruhnya untuk meninggalkan pesan ke kotak surat. Sorenya Adam mencoba lagi tetapi semua telepon,SMS maupun messenger yang ia kirim tidak dijawab. Keesokan harinya juga masih sama. Pada hari ketiga Adam memutuskan untuk kembali ke desa.
“Tin, kamu menghindar ya?”
“Bukan menghindar tapi Tini sedang mikir Mas.”
“Mikir?”
“Ya mikir bagaimana masa depan hubungan kita?”
“memangnya ada apa dengan kita Tin?”
“Ada ragu di hati Tini.”
“Ragu bagaimana?”
“Mas Adam memang tampan, pintar dan baik.”
“Tapi?”
“Tini ragu setelah melihat struk gaji Mas Adam, Semakin lama kebutuhan hidup semakin mahal dan menurut perhitunganku gaji Mas Adam tidak akan cukup untuk membiayai aku dan anak-anakmu kelak kalau kita menikah.”
“Tapi aku kan juga bisa naik jabatan.”
“Bisa juga di-PHK, akibat high cost economy ditambah tuntutan UMR yang naik terus, banyak perusahaan asing yang pindah ke Vietnam, ke Thailand dan lain-lain. Perusahaan Mas Adam juga multi national company kan?”
“Kamu jangan pesimis Tin, lihat ke sekitar masih banyak kok karyawan dan karyawati yang bisa berumah tangga dan mempunyai anak-anak. Gaji mereka cukup kok untuk membiayai kebutuhan bulanan.”
“Aku maunya yang lebih dari cukup Mas.”
“Kok sekarang kamu jadi materialistis begini?”
“Bukan materialistis tapi realistis.”
“Tapi tuntutanmu ini tidak realistis Tin, aku ini kan hanya karyawan biasa bukan milyuner atau pejabat.”
“Tetapi jadi realistis kalau suamiku kelak lebih dari Mas Adam.”
“Kamu....mutusin aku?”
“Ya.”
“Selain alasan penghasilanku tak cukup, apakah karena ada pria lain?”
“Ya, ada.”
“Apa dia lebih kaya dariku?”
“Ya.”
“Apa aku mengenalnya?”
“Semua orang Indonesia mengenalnya.”
Kata Tini sambil mengambil koran di atas meja dan menunjukkan sebuah Artikel tentang peresmian sentra agroindusti. Dalam artikel itu terdapat foto seorang politikus sekaligus pengusaha yang usianya setengah abad lebih sedang dikalungi bunga oleh seorang wanita muda yang tak lain adalah Kartini.
“Tapi dia lebih tua dari ayahmu Tin dan sudah punya istri.”
“Usia tidak masalah bagi Tini demikian juga dengan penampilan fisik. Untuk poligami memang masih agak berat tapi Tini bisa mencoba bersabar menjalaninya. Toh di luar sana banyak wanita yang berbahagia meskipun hanya menjadi istri kedua.”
Adam serasa disambar petir. Masih segar dalam ingatannya cerita-cerita era pujangga tahun 20-an ketika para gadis muda memilih untuk mencari pasangan hidup yang seumuran. Bagaimana mereka untuk bunuh diri atau lari ketika dipaksa kimpoi dengan datuk tua kaya. Tetapi sekarang keadaan justru terbalik 180 derajat, pria tua kaya lebih diminati Kartini daripada pria muda tampan yang serasi untuk bersanding dengannya. Agaknya good old fashioned lover boy seperti Adam sudah tidak diminati lagi di masa kini.
Setelah itu Adam kembali ke kota, berharap secara perlahan, sang waktu dapat menjadi dokter yang mampu menyembuhkan hatinya yang patah. Tiga tahun berlalu dan undangan pernikahan Kartini dengan sang pria kaya. Setelah itu foto keduanya terpampang semakin sering di media online,koran,majalah,infotainment dan acara bincang-bincang.
Suatu malam, sepulang lembur, Adam merebahkan diri di kamar kost sambil menonton TV. Chanel pertama sinetron, pindah ke chanel kedua acara joged, pindah ke channel ketiga acara berita-sebuah breaking news terpampang nyata di depan mata Adam, membuatnya terbelalak kaget sekaget-kagetnya. Suami Kartini ditangkap atas dugaan penyuapan dan pencucian uang. Beberapa hari berselang dan Kartini juga ikut dijebloskan sebagai tahanan titipan di sebuah LP, karena turut membantu suaminya melakukan money laundry. Puluhan supercar impor dari rumah Kartini pun disita demikian juga dengan belasan rumah dan tanah milik keduanya. Tak sampai di situ, drama media inipun semakin menyedot perhatian publik ketika suami Kartini mengalami serangan jantung mendengar vonis hakim dan meninggal dunia di ruang sidang.
“Mas Adam?”
“Bagaimana kabar kamu?”
“Kalau niatnya cuma mempermalukanku sebaiknya jangan besuk ke sini deh Mas.”
“Aku ke sini bukan untuk mempermalukanmu.”
“Lalu buat apa? Kalau media tahu Mas Adam silaturahmi dengan koruptor justru merugikan nama dan karir Mas Adam sendiri kan?”
“Aku ke sini bukan ingin nama baik atau karir cemerlang.”
“Lalu ingin apa?”
“Kau kan tahu, dari dulu yang kuinginkan hanya mencintaimu.”
“Setelah semua yang terjadi, Mas Adam masih mau mencintaiku?”
“Kau sudah tahu jawabannya”
THE END
Diubah oleh reloaded0101 23-04-2014 00:42
jwbali memberi reputasi
1
Kutip
Balas