Kaskus

Story

wait.and.see70Avatar border
TS
wait.and.see70
The Ultimate Four (Genre: Sci-Fi, Drama, Thriller)
Quote:


Selamat malam SFTH. Ini trit pertama ane disini setelah sekian lama SR. Sebagai penggemar film science fiction, dan membaca beberapa karya tulis fiksi beberapa TS disini, ane jadi tergerak untuk membuat suatu cerita bertema Fiksi dan Sains. Karena ane baru pertama kali nulis disini, mohon bimbingannya dan koreksi jika ada kata-kata yang salah. Trimakasih sebesar-besarnya untuk reader yang telah sudi mampir.

Quote:


Quote:


Spoiler for INDEX:


Quote:


Quote:
Diubah oleh wait.and.see70 26-04-2014 20:54
anasabilaAvatar border
anasabila memberi reputasi
1
5.5K
37
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread53.4KAnggota
Tampilkan semua post
wait.and.see70Avatar border
TS
wait.and.see70
#11
Scene #4
Scene #4


3 PM, Paradise Control Room, ±2000 km diatas bumi.

Ruangan itu sangat ramai oleh beberapa operator yang setiap hari terpaku menatap layar monitor dengan beragam citra dan gambar didalamnya. Di tengah ruangan, tampak seorang pria yang berdiri membusungkan dada sambil mengamati kerja anak buahnya. Dengan seragam yang seba hijau lengkap dengan topi baretnya, dia lebih kelihatan seperti panglima perang diruangan itu.

Any casualties?” Tanyanya kepada salah satu operator disampingnya.

No, sir! Just one injuried soldier.” Serunya. Pria bertopi baret itu tidak menampakkan ekspresi berlebih.

Tak lama sesosok wanita masuk keruangan itu. Dengan wajah Asia dan umur yang hampir uzur, dibuktikan dengan rambutnya yang agak memutih serta wajah yang sedikit memperlihatkan kerutan di bagian pipi.

We must change our plan!” Serunya.

Not now, Sally! Not now.” Ujar sang pria bertopi baret.

Bob, did you hear any report from another district? The Beast are more powerful now! We can’t just wait and watch more victim!

“Bukankah selalu seperti ini?” Ujar Bob dengan bahasa Indonesia yang agak kaku. Wanita itu tampak melotot ke arahnya.

“Seharusnya ide nuklir lebih baik ketimbang penyergapan yang banyak memakan korban.”

Nuclear is a bad idea!” Tegas Bob.

“Sudah berulang kali kutegaskan, nuklir hanya memperparah kondisi bumi. Belum lagi pasokan uranium yang semakin sedikit. Kita harus menggunakan nuklir dengan bijak, Sally. Uranium tidak tumbuh dari pohon, bahkan di bumi pun pohon sudah sangat langka.” Sally terdiam mendengar penjelasan Bob.

“Kalau bukan karena dukungan hutan dari Ultimate Four, mungkin bumi benar-benar tinggal sejarah saat ini.” Ucap Bob lagi. Sally hanya menghela napas.

Sally pun hanya mengangguk pelan sebelum membalikkan badan dan keluar dari ruangan, namun baru beberapa langkah, dia berhenti dan membalikkan badannya ke arah Bob.

“Kau tahu, Bob? Aku sudah lelah menerima umpatan orang-orang di bumi tentang kita.” Ucapnya, sambil kembali berjalan menjauhi Bob.

“Mereka pasti mengerti, Sally. Kita disini untuk mendukung mereka, bukan lari dari mereka.” Ucap Bob pelan, tanpa memperdulikan apakah Sally mendengar omongannya. Dia hanya menatap Sally yang telah berada di pintu ruangan dan masih terus berlalu hingga pintu itu tertutup.

==================


11 PM, Perbatasan Distrik Palembang.

“Ali, jangan main jauh-jauh nak! Ujar seorang ibu memperingatkan anaknya. Namun anak yang bernama Ali tampak tidak peduli dan terus bermain disekitar sungai yang masih jernih. Sang Ibu tampak memanggul jerigen berisi air dan hendak pulang ke gubuknya di pinggir hutan. Suara helicopter penjelajah baru terdengar beberapa saat yang lalu, mengawasi seisi distrik dari The Beast yang bisa saja menyelinap masuk ke Green Zone. Beberapa jam yang lalu pun para tentara banyak berkeliaran disekitar sungai, sepertinya mereka mendengar kabar kalau beberapa Beast menyusup ke distrik Palembang.

“Ali! Kalau orang tua ngomong itu coba dengarkan!” bentak sang Ibu. Ali tanpa ba-bi-bu langsung berlari mendekati Ibunya, sepertinya dia ketakutan mendengar bentakan Ibunya. Sang Ibu menggapai tangan Ali dan berjalan menuju pondok mereka, sebelum akhirnya cahaya yang menyilaukan menusuk mata mereka.

Identified yourself!” Seru seseorang yang menyorotkan cahaya ke sang Ibu.

“Saya petani domestik, Pak!” Sahut sang Ibu, tangannya sesekali menutupi matanya yang terkena silau bias lampu, sesekali juga menggaet tangan anaknya, menyuruh Ali agar berada sedekat mungkin dengannya.

Well, beast don’t talk!” Ucap tentara itu. Sekelompok tentara, sekitar 3 orang berjalan mendekati sang Ibu, salah satunya berucap,

“Bu, kalau sudah malam jangan lagi meninggalkan rumah. Diluar tidak aman. Ibu bagian dari serikat petani di ladang mana?”

“Ladang nomor 5, sekitar 1 km dari sini.” Ucap sang ibu lirih, sepertinya dia sedikit ketakutan.

“Ya sudah, sekarang Ibu cepat kembali ke kelompok. Ingat, berjalan sendirian ditempat sepi itu sangat tidak dianjurkan.”

“Psst, Di! Coba kau lihat itu!” Ujar salah satu teman tentara yang berbicara dengan sang Ibu. Adi sontak menatap ke arah yang ditunjuk temannya. Seorang pria menggunakan jubah panjang dengan penutup kepala berdiri beberapa meter didepan mereka.

“Hey! Identified yourself!!” Ujar Adi. Pria itu tak bersuara.

Perlahan ketiga tentara berjalan mendekati mereka dengan penuh kesiagaan. Adi, tentara yang berada di garis depan segera menodongkan senjatanya tepat di kepala pria berjubah itu.

“Kenapa kau sendirian? Disini sangat berbahaya. Segera kembali ke satuanmu, apapun itu!” Ujarnya lantang. Pria itu masih tidak bergeming.

“Di, Something’s wrong!” Ucap salah satu teman Adi.

“Hei! Aku tidak main-main! Kalau kau tidak segera menyebutkan identitasmu, aku terpaksa mengambil langkah untuk menahanmu, karena sudah berani keluar dari satuan.” Ujar Adi sambil perlahan berjalan mendekati pria itu. 2 orang temannya memberikan dukungan dari kiri dan kanan, mengarahkan moncong senjata ke pria berjubah.

Belum sempat Adi mengambil tangan dan memborgol pria itu, tiba-tiba terdengar suara erangan darinya. Ketiga tentara terkejut, begitupun sang Ibu dan anaknya, Ali, yang masih tertegun sejak tadi melihat kejadian itu. Pemandangan berikutnya lebih mengejutkan lagi. Sang pria berjubah perlahan melepas jubah coklatnya. Dan tampaklan kulit merah yang terkelupas dan penuh darah disekujur tubuh pria itu, dengan kepala botak dan mata berwarna hitam pekat.

SON OF A B***H!” Ujar salah satu tentara sambil menghindar dan ingin segera meletuskan tembakan. Tapi tindakannya sia-sia setelah seekor Beast menerkamnya dari belakang.

AMBUSH!!” Ucap Adi.

“Markas! Disini Adi! Kami menemukan beberapa beast di… aaaarghhh!!” seekor beast terlebih dulu menerkamnya dari balik rimbunnya semak. Hanya beberapa kali terdengar bunyi senjata serta teriakan, hingga akhirnya tempat itu kembali sunyi. Semua manusia ditempat kejadian itu telah terpedaya oleh Beast. Tak lama, beberapa meter persegi dari tempat itu berubah jadi lautan darah. Para beast tampak menggotong mayat mereka satu persatu untuk kemudian dibawa ke sarang mereka di luar green zone. Bahkan ada beast yang mungkin sudah sangat kelaparan, sehingga sambil menggotong mayat tentara, dia sempat mengutil beberapa organ di perut tentara itu. hanya tersisa senjata, beberapa proyektil peluru dan jerigen sang Ibu yang airnya tumpah bercampur dengan darah disekitarnya.
Diubah oleh wait.and.see70 23-04-2014 17:29
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.