- Beranda
- Stories from the Heart
Dia... Masa lalu yang indah..
...
TS
dausin
Dia... Masa lalu yang indah..
2007
Aku berjalan menyusuri kota yang asing bagiku dan saat itulah aku mengenalnya, hanya dengan seutas senyum yang aku berikan di antrian salah satu fastfood di kota itu. Dia yaaa.. dia datang selamanya dalam hidupku tanpa aku bisa menduga bahkan membayangkannya.. dan aku ingin mengenangnya lewat sedikit tulisan yang akan aku torehkan ini..
Tahun Pertama - Kenangan
Tahun Kedua- Lembaran yang terungkap
Tahun Kedua- Cinta yang bersemi
Aku berjalan menyusuri kota yang asing bagiku dan saat itulah aku mengenalnya, hanya dengan seutas senyum yang aku berikan di antrian salah satu fastfood di kota itu. Dia yaaa.. dia datang selamanya dalam hidupku tanpa aku bisa menduga bahkan membayangkannya.. dan aku ingin mengenangnya lewat sedikit tulisan yang akan aku torehkan ini..
Tahun Pertama - Kenangan
Spoiler for Tahun Pertama:
Tahun Kedua- Lembaran yang terungkap
Spoiler for Tahun kedua:
Tahun Kedua- Cinta yang bersemi
Spoiler for cinta:
bersambung ( ada urusan bentar )
Diubah oleh dausin 28-05-2014 11:17
anasabila memberi reputasi
1
10.7K
126
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
dausin
#105
Percakapan singkat
" taa.. tungguin yaa.."
" iyaaa.."
" beneran yaa.. "
" iyaa loh ma " Rahma masih asik ditoilet, sementara aku di wastafel membetulkan kerudungku.. Sehabis pulang kuliah, rahma sudah menarikku ke toilet agar menemaninya, jadi jika dia telat datang untuk rapat dengan panitia suksesi, dia ada temennya yaitu aku.
-----------------
" udah ?" aku menoleh kearah rahma yang baru keluar dari toilet
" udah dong, yuk " dia tersenyum lebar kepadaku, kami pun menuju lantai 4 tempat panitia berkumpul..
" telat banget ya kita ?"
" ya kamu, masak tidur di WC "
" etaaa... namanya juga nggak bisa ditahan " aku hanya tertawa melihat ekspresi sebal rahma " yuk cepetan, nanti bingung duduk dimana "
" pastinya kita barengan dong ta "
Aku membentuk tanda interupsi pada kedua tanganku saat masuk keruangan dari belakang, kulihat tian sudah memberikan anggukan untukku. Rahma dan aku masuk bersamaan, tak ada sepasang bangku yang kosong, rahma memilih mengambil disudut kiri dan aku disudut kanan, hanya itu yang tersisa dan sepertinya sudah diatur oleh yang mengaturnya.
Aku duduk dibangku kosong itu tanpa memperhatikan siapa didepanku, samping kanan atau lainnya, aku hanya memperhatikan pasangan bangkuku.
" tumben telat dari mana ?" ardi bertanya padaku
" nemeni rahma tadi bentar, udah bahas apa ajah ? "
" masih bahas teknis acara kok, jadi santai ajah.. kamu kan nggak gitu terjun "
" iyaa sih.. tapikan wajib tau " aku tersenyum kepada ardi, kami sesekali sedikit bercerita.. sampai pembahasan yang terjadi sedikit santai..
" toilet dulu ta " ardi pamitan padaku sambil membentuk tanda interupsi ke tian dan tian memberi anggukan. Aku mencoba fokus pada rangkuman yang telah aku buat dari sesi rapat (diskusi) santai kami.
-------------------------
" taaaa " Deg.. jantungku seperti mau keluar dari tubuhku, suara itu.. ya suara itu tak pernah asing bagiku bahkan masih dalam ingatanku.. suara yang coba kuhilangkan setahun belakangan ini, kini memanggil namaku tepat disamping ku. Perlahan aku mencoba menoleh kearah suara itu, dia tepat duduk dibangku kosong sebelahku sekarang.
" yaa " aku mencoba menjawab dengan ekspresi dan suara tenang
" beneran kamu ternyata " dia tersenyum seperti tak menyangka bahwa disebelahnya aku, aku menyambutnya dengan tersenyum dan mencoba mencairkan suasana.
" kenapa.? ada yang salah ?"
" nggak sih.. cuma aneh ajah "
" aneh ? kan dulu kamu yang bilang aku bakal balik, inget nggak ?"
" eh.. iyaa.. tapi aku nggak nyangka kalo gini "
" gini gimana ?"
" nggak apa2 " dia tersenyum kepadaku " eh.. hapemu kok nggak aktif lagi ?" tiba-tiba dia melontarkan pertanyaan yang tak kuduga, berarti dia sempat mencariku.. betapa senangnya hatiku saat itu, namun kesenangan itu harus kututupi rapat-rapat.
" ilang waktu dibandara, kenapa ? kamu nyariin aku ya " aku coba mengejeknya
" nggak kok, cuma di sms gagal, di tlp nggak aktif.. "
" ya namanya juga ilang "
" masih sama ternyata "
" apanya ?"
" judesnya " dia tertawa lebar mengejekku
" biarin " aku menjawab sekenahnya
Hening.. semua diruangan terasa hening bagiku, dan dia yang disampingku juga hening, terasa canggung semua percakapan kami, terkesan basa basi yang tak layak diucapkan untuk dua orang yang lama tak berrjumpa.. Namun, aku sadar yanu juga bingung akan berkata apa, dan akupun begitu, karena itu sudah terkubur setahun yang lalu, bahkan dia tak menyangkah aku disini disampingnya, sama sepertiku..
Diskusi kali ini lebih singkat, aku tak banyak bicara dengan yanu.. Ardi sudah mencari bangku kosong lainnya.. dan saat pulangpun tak banyak berkata, bahkan tak ada kata basa basi yang berarti.
" aku duluan ya "
" iya ta " dia hanya menjawab seperti itu, yang membuatku semakin sebal.. tanya kek pulang sama siapa? naik apa? kos dimana? mau aku anter? atau bersikaplah seperti dulu.. bisa nggak, cuek seenaknya tapi ada untukku walau sebentar.. Dengan perasaan dongkol dan muka manyun aku berjalan melewati semua teman-temanku yang masih numpuk didepan ruangan, aku memilih cuek menanggapi candaan dan sapaan mereka, suasana hatiku sedang tak nyaman.
Aku mempercapat langkahku menuruni anak tangga berharap, sesekali melihat kebelakang, berharap dia mengejarku seperti dulu.. Ahh.. sia-sia taa.. dia berbeda, dia bukan yanu yang dulu.. Semakin kupercepat langkahku yang gusar dan kacau.. Ternyata aku yang berlebihan merindu dan berharap pada yanu.. dia sudah melupakanku bahkan mungkin aku tak ada dihatinya sedikitpun..
-------------------
" kenapa wa?" aku mengangkat tlp dewa dengan sedikit kesal.
" diih.. galak amat.. udah pulang belom ?"
" sorry, udah.. nih lagi ditangga mau ke lantai 1 "
" jangan lari ya, pelan ajah, nanti jatuh "
" eh.. kok tau ? kamu dimana emangnya ?"
" ya taulah, dari suaramu.. aku otw kesana.. tungguin ya "
" lama nggak ? aku mau pulang cepat soalnya "
" bentar aja lo wel.. tumben amat pulang cepat2.. biasanya juga senang aku jemput dan tungguin "
" eh.. nggak apa wa.. pengen ajah "
" udah tunggu pokoknya.. sesebel apapun kamu.. wajib tunggu.. oke " Belum lagi aku menjawabnya, dewa sudah menutup tlpnya.. ya aku harus menunggunya, ku perlambat langkahku demi dewa.. dia yang tak mau aku kenapa-kenapa.. Benar saja hanya dalam waktu 10 menit dia sudah mencungul di depan gedung kampusku dengan senyum yang meriah menatapku yang manyun berjalan kearahnya.
" senyum geh.. manyun muluk "
" lagi males ah "
" udah yuk naik "
" iyaa.. kemana kita ?"
" mana ajah, asal kamu seneng, udah?"
" udah " dewa masih belum melajukan motornya " waa.. udah nih " aku memastikannya lagi, namun ada yang salah.. kuikuti kemana pandangannya.. Oh.. TUHAN.. dia melihat yanu, yang berdiri tak jauh dari pintu masuk gedung, sejenak dewa tersenyum kaku dan yanu juga sepertinya begitu.. tenggorokanku sejenak tercekat untuk waktu yang lama, sampai akhirnya aku memilih menegur dewa agar cepat pergi dari sini. " waa.. yuk ah.. cepetan "
" iyaa bawel.. pegangan ya " dia mencoba menggodaku dengan senyum jahilnya.
" ogaaah "
" diih.. ntar jatuh loh.. pegangan geh "
" ogaah.. udah ayuk " aku menjawab sewot
Kami berlalu meninggalkan yanu, yang sepertinya sudah mengetahui kondisi seperti ini.. aku mencoba membuka pembicaraan dengan dewa..
" yang tadi temen mu ya ?"
" eh.. siapa ta ?"
" yang ketemu didepan wa ?"
" yanu ya.. iya sekelasku.. kan kamu udah kenal ya ?"
" eh.. kok tau ?" aku hampir merasa bingung dari mana dewa tau, namun sirna setelah dia menjawabnya
" iyalah.. kan kalian satu kepanitiaan "
" eh.. iya sih.. trus kita kemana wa ?"
" K*C ajah ya, tempat biasa "
" okelah " aku tersneyum menjawabnya. Dewa mengintikku dari sepionnya dan berkata " gitu dong, kan cakep "
" awas naksir " ejekku
" emang udah "
" bodok " aku menjawab sekenanya.
---------------------
" tunggu sini ajah, mau pesen apa ?"
" terserah "
" nggak ada terserah, cepetan pesen apa ?"
" apa ajah kamu pesenin bakal aku makan kok "
" duuh nih anak, selalu aja nyebelin"
" emang.. udah buruan pesen geh "
Dewa meninggalkanku dengan muka kesalnya sambil mengomel sedikit, dia paling benci dengan kata terserah jika kami hendak membeli atau melakukan apapun.. tapi ya namanya cewek, suka sekali dengan kata itu.
Lumayan lama, dewa datang membawa makanan yang dipesannya dan dia selalu sama menyuruhku mencuci tangan dan membereskan semuanya.. Terkadang tanpa sadar dia menjadi sosok yang memanjakanku.. sangat memanjakanku..
Kami mulai melahap makanan kami dan sedikit berbincang ringan.. bahkan sedikit menyinggung tentang masalaluku dengan yanu..
" ta, waktu kamu kesini dulu kemana ajah.? kamu kan nggak ada cerita ya." Deg.. kenapa tiba-tiba dewa bertanya hal ini.. apa dia sudah tau dari yanu..
" ya banyak wa, kan jalan-jalan " aku mencoba menjawab dengan cuek
" dapet kenalan nggak ?"
" kenapa emangnya? cemburu ?"
" nggak tanya ajah, tau yanu kan ?"
" iyaa.. yang tadi.. kenapa.?"
" waktu aku bilang dari medan, dia kayak penasaran gitu, apalagi aku bilang ada temen yang bareng aku disini "
" ooh.. trus kenapa.?"
" ya dia tanya-tanya ajah, kali ajah kamu kenal sama dia dulu, soalnya dia kok tanyanya agak ngebet gitu"
" kalo kenal kenapa? kan cuma kenal toh "
" ya nggak apa2 sih, cuma mau tau ajah.. jadi beneran kenal ?"
" udahlah.. abisin ajah makanannya.. banyak ngobrol nggak abis loh "
" iya deh nona bawel tapi beneran kenal nggak ?"Dia masih berusaha bertanya dengan tatapan lemahnya, aku membalasanya dengan tatapan galak dan akhirnya dia memutuskan untuk menghabiskan makannya " iyaa.. deh iyaaa "
----------------------
" langsung pulang ya ta "
" iyalah, udah malam juga, kamu kan hrus istirahat "
" iyaa.. langsung tidur ya " dia mengusap kepalaku
" iyaa loh.. cerewet "
" biarin, asal kamu baik2 ajah.. aku bakal cerewetin terus " dia tersenyum nakal ke arahku
" iyaa.. iyaa.. udah geh buruan.. nanti nggak pulang2 loh "
" udah main usir ajah.. ya udah deh aku balik " Dewa berlalu pelan dengan motornya sambil tersenyum dan sedikit mengeluarkan ekspresi ngambek
" hati2 yaa " kulambaikan tanganku dengan senyuman indah ke dewa
------------------------
setelah berberes, aku merebahkan badanku dikasur.. sudah lama aku tak menikmati kesendirian lantai dua.. tapi ya sudahlah.. sepertinya aku tak membutuhkanny selama masih ada dewa, karena dewa bisa menjadi obat bagi kejiwaanku tanpa perlu aku menyendiri memikirkan sesuatu dalam hidupku dan mengkajinya lebih dalam agar aku menjadi lebih tenang dan dewasa.. Aku lebih bahagia jika dewa membuatku bahagia seperti dulu dan seterusnya..
Terimakasih untuk hari ini, setidaknya kau membuatku merasa lebih baik jika aku sedang tak baik.. Dan kau tau, aku selalu membutuhkanmu disaat itu..
" iyaaa.."
" beneran yaa.. "
" iyaa loh ma " Rahma masih asik ditoilet, sementara aku di wastafel membetulkan kerudungku.. Sehabis pulang kuliah, rahma sudah menarikku ke toilet agar menemaninya, jadi jika dia telat datang untuk rapat dengan panitia suksesi, dia ada temennya yaitu aku.
-----------------
" udah ?" aku menoleh kearah rahma yang baru keluar dari toilet
" udah dong, yuk " dia tersenyum lebar kepadaku, kami pun menuju lantai 4 tempat panitia berkumpul..
" telat banget ya kita ?"
" ya kamu, masak tidur di WC "
" etaaa... namanya juga nggak bisa ditahan " aku hanya tertawa melihat ekspresi sebal rahma " yuk cepetan, nanti bingung duduk dimana "
" pastinya kita barengan dong ta "
Aku membentuk tanda interupsi pada kedua tanganku saat masuk keruangan dari belakang, kulihat tian sudah memberikan anggukan untukku. Rahma dan aku masuk bersamaan, tak ada sepasang bangku yang kosong, rahma memilih mengambil disudut kiri dan aku disudut kanan, hanya itu yang tersisa dan sepertinya sudah diatur oleh yang mengaturnya.
Aku duduk dibangku kosong itu tanpa memperhatikan siapa didepanku, samping kanan atau lainnya, aku hanya memperhatikan pasangan bangkuku.
" tumben telat dari mana ?" ardi bertanya padaku
" nemeni rahma tadi bentar, udah bahas apa ajah ? "
" masih bahas teknis acara kok, jadi santai ajah.. kamu kan nggak gitu terjun "
" iyaa sih.. tapikan wajib tau " aku tersenyum kepada ardi, kami sesekali sedikit bercerita.. sampai pembahasan yang terjadi sedikit santai..
" toilet dulu ta " ardi pamitan padaku sambil membentuk tanda interupsi ke tian dan tian memberi anggukan. Aku mencoba fokus pada rangkuman yang telah aku buat dari sesi rapat (diskusi) santai kami.
-------------------------
" taaaa " Deg.. jantungku seperti mau keluar dari tubuhku, suara itu.. ya suara itu tak pernah asing bagiku bahkan masih dalam ingatanku.. suara yang coba kuhilangkan setahun belakangan ini, kini memanggil namaku tepat disamping ku. Perlahan aku mencoba menoleh kearah suara itu, dia tepat duduk dibangku kosong sebelahku sekarang.
" yaa " aku mencoba menjawab dengan ekspresi dan suara tenang
" beneran kamu ternyata " dia tersenyum seperti tak menyangka bahwa disebelahnya aku, aku menyambutnya dengan tersenyum dan mencoba mencairkan suasana.
" kenapa.? ada yang salah ?"
" nggak sih.. cuma aneh ajah "
" aneh ? kan dulu kamu yang bilang aku bakal balik, inget nggak ?"
" eh.. iyaa.. tapi aku nggak nyangka kalo gini "
" gini gimana ?"
" nggak apa2 " dia tersenyum kepadaku " eh.. hapemu kok nggak aktif lagi ?" tiba-tiba dia melontarkan pertanyaan yang tak kuduga, berarti dia sempat mencariku.. betapa senangnya hatiku saat itu, namun kesenangan itu harus kututupi rapat-rapat.
" ilang waktu dibandara, kenapa ? kamu nyariin aku ya " aku coba mengejeknya
" nggak kok, cuma di sms gagal, di tlp nggak aktif.. "
" ya namanya juga ilang "
" masih sama ternyata "
" apanya ?"
" judesnya " dia tertawa lebar mengejekku
" biarin " aku menjawab sekenahnya
Hening.. semua diruangan terasa hening bagiku, dan dia yang disampingku juga hening, terasa canggung semua percakapan kami, terkesan basa basi yang tak layak diucapkan untuk dua orang yang lama tak berrjumpa.. Namun, aku sadar yanu juga bingung akan berkata apa, dan akupun begitu, karena itu sudah terkubur setahun yang lalu, bahkan dia tak menyangkah aku disini disampingnya, sama sepertiku..
Diskusi kali ini lebih singkat, aku tak banyak bicara dengan yanu.. Ardi sudah mencari bangku kosong lainnya.. dan saat pulangpun tak banyak berkata, bahkan tak ada kata basa basi yang berarti.
" aku duluan ya "
" iya ta " dia hanya menjawab seperti itu, yang membuatku semakin sebal.. tanya kek pulang sama siapa? naik apa? kos dimana? mau aku anter? atau bersikaplah seperti dulu.. bisa nggak, cuek seenaknya tapi ada untukku walau sebentar.. Dengan perasaan dongkol dan muka manyun aku berjalan melewati semua teman-temanku yang masih numpuk didepan ruangan, aku memilih cuek menanggapi candaan dan sapaan mereka, suasana hatiku sedang tak nyaman.
Aku mempercapat langkahku menuruni anak tangga berharap, sesekali melihat kebelakang, berharap dia mengejarku seperti dulu.. Ahh.. sia-sia taa.. dia berbeda, dia bukan yanu yang dulu.. Semakin kupercepat langkahku yang gusar dan kacau.. Ternyata aku yang berlebihan merindu dan berharap pada yanu.. dia sudah melupakanku bahkan mungkin aku tak ada dihatinya sedikitpun..
-------------------
" kenapa wa?" aku mengangkat tlp dewa dengan sedikit kesal.
" diih.. galak amat.. udah pulang belom ?"
" sorry, udah.. nih lagi ditangga mau ke lantai 1 "
" jangan lari ya, pelan ajah, nanti jatuh "
" eh.. kok tau ? kamu dimana emangnya ?"
" ya taulah, dari suaramu.. aku otw kesana.. tungguin ya "
" lama nggak ? aku mau pulang cepat soalnya "
" bentar aja lo wel.. tumben amat pulang cepat2.. biasanya juga senang aku jemput dan tungguin "
" eh.. nggak apa wa.. pengen ajah "
" udah tunggu pokoknya.. sesebel apapun kamu.. wajib tunggu.. oke " Belum lagi aku menjawabnya, dewa sudah menutup tlpnya.. ya aku harus menunggunya, ku perlambat langkahku demi dewa.. dia yang tak mau aku kenapa-kenapa.. Benar saja hanya dalam waktu 10 menit dia sudah mencungul di depan gedung kampusku dengan senyum yang meriah menatapku yang manyun berjalan kearahnya.
" senyum geh.. manyun muluk "
" lagi males ah "
" udah yuk naik "
" iyaa.. kemana kita ?"
" mana ajah, asal kamu seneng, udah?"
" udah " dewa masih belum melajukan motornya " waa.. udah nih " aku memastikannya lagi, namun ada yang salah.. kuikuti kemana pandangannya.. Oh.. TUHAN.. dia melihat yanu, yang berdiri tak jauh dari pintu masuk gedung, sejenak dewa tersenyum kaku dan yanu juga sepertinya begitu.. tenggorokanku sejenak tercekat untuk waktu yang lama, sampai akhirnya aku memilih menegur dewa agar cepat pergi dari sini. " waa.. yuk ah.. cepetan "
" iyaa bawel.. pegangan ya " dia mencoba menggodaku dengan senyum jahilnya.
" ogaaah "
" diih.. ntar jatuh loh.. pegangan geh "
" ogaah.. udah ayuk " aku menjawab sewot
Kami berlalu meninggalkan yanu, yang sepertinya sudah mengetahui kondisi seperti ini.. aku mencoba membuka pembicaraan dengan dewa..
" yang tadi temen mu ya ?"
" eh.. siapa ta ?"
" yang ketemu didepan wa ?"
" yanu ya.. iya sekelasku.. kan kamu udah kenal ya ?"
" eh.. kok tau ?" aku hampir merasa bingung dari mana dewa tau, namun sirna setelah dia menjawabnya
" iyalah.. kan kalian satu kepanitiaan "
" eh.. iya sih.. trus kita kemana wa ?"
" K*C ajah ya, tempat biasa "
" okelah " aku tersneyum menjawabnya. Dewa mengintikku dari sepionnya dan berkata " gitu dong, kan cakep "
" awas naksir " ejekku
" emang udah "
" bodok " aku menjawab sekenanya.
---------------------
" tunggu sini ajah, mau pesen apa ?"
" terserah "
" nggak ada terserah, cepetan pesen apa ?"
" apa ajah kamu pesenin bakal aku makan kok "
" duuh nih anak, selalu aja nyebelin"
" emang.. udah buruan pesen geh "
Dewa meninggalkanku dengan muka kesalnya sambil mengomel sedikit, dia paling benci dengan kata terserah jika kami hendak membeli atau melakukan apapun.. tapi ya namanya cewek, suka sekali dengan kata itu.
Lumayan lama, dewa datang membawa makanan yang dipesannya dan dia selalu sama menyuruhku mencuci tangan dan membereskan semuanya.. Terkadang tanpa sadar dia menjadi sosok yang memanjakanku.. sangat memanjakanku..
Kami mulai melahap makanan kami dan sedikit berbincang ringan.. bahkan sedikit menyinggung tentang masalaluku dengan yanu..
" ta, waktu kamu kesini dulu kemana ajah.? kamu kan nggak ada cerita ya." Deg.. kenapa tiba-tiba dewa bertanya hal ini.. apa dia sudah tau dari yanu..
" ya banyak wa, kan jalan-jalan " aku mencoba menjawab dengan cuek
" dapet kenalan nggak ?"
" kenapa emangnya? cemburu ?"
" nggak tanya ajah, tau yanu kan ?"
" iyaa.. yang tadi.. kenapa.?"
" waktu aku bilang dari medan, dia kayak penasaran gitu, apalagi aku bilang ada temen yang bareng aku disini "
" ooh.. trus kenapa.?"
" ya dia tanya-tanya ajah, kali ajah kamu kenal sama dia dulu, soalnya dia kok tanyanya agak ngebet gitu"
" kalo kenal kenapa? kan cuma kenal toh "
" ya nggak apa2 sih, cuma mau tau ajah.. jadi beneran kenal ?"
" udahlah.. abisin ajah makanannya.. banyak ngobrol nggak abis loh "
" iya deh nona bawel tapi beneran kenal nggak ?"Dia masih berusaha bertanya dengan tatapan lemahnya, aku membalasanya dengan tatapan galak dan akhirnya dia memutuskan untuk menghabiskan makannya " iyaa.. deh iyaaa "
----------------------
" langsung pulang ya ta "
" iyalah, udah malam juga, kamu kan hrus istirahat "
" iyaa.. langsung tidur ya " dia mengusap kepalaku
" iyaa loh.. cerewet "
" biarin, asal kamu baik2 ajah.. aku bakal cerewetin terus " dia tersenyum nakal ke arahku
" iyaa.. iyaa.. udah geh buruan.. nanti nggak pulang2 loh "
" udah main usir ajah.. ya udah deh aku balik " Dewa berlalu pelan dengan motornya sambil tersenyum dan sedikit mengeluarkan ekspresi ngambek
" hati2 yaa " kulambaikan tanganku dengan senyuman indah ke dewa
------------------------
setelah berberes, aku merebahkan badanku dikasur.. sudah lama aku tak menikmati kesendirian lantai dua.. tapi ya sudahlah.. sepertinya aku tak membutuhkanny selama masih ada dewa, karena dewa bisa menjadi obat bagi kejiwaanku tanpa perlu aku menyendiri memikirkan sesuatu dalam hidupku dan mengkajinya lebih dalam agar aku menjadi lebih tenang dan dewasa.. Aku lebih bahagia jika dewa membuatku bahagia seperti dulu dan seterusnya..
Terimakasih untuk hari ini, setidaknya kau membuatku merasa lebih baik jika aku sedang tak baik.. Dan kau tau, aku selalu membutuhkanmu disaat itu..
Diubah oleh dausin 18-04-2014 22:55
0