- Beranda
- Stories from the Heart
Dia... Masa lalu yang indah..
...
TS
dausin
Dia... Masa lalu yang indah..
2007
Aku berjalan menyusuri kota yang asing bagiku dan saat itulah aku mengenalnya, hanya dengan seutas senyum yang aku berikan di antrian salah satu fastfood di kota itu. Dia yaaa.. dia datang selamanya dalam hidupku tanpa aku bisa menduga bahkan membayangkannya.. dan aku ingin mengenangnya lewat sedikit tulisan yang akan aku torehkan ini..
Tahun Pertama - Kenangan
Tahun Kedua- Lembaran yang terungkap
Tahun Kedua- Cinta yang bersemi
Aku berjalan menyusuri kota yang asing bagiku dan saat itulah aku mengenalnya, hanya dengan seutas senyum yang aku berikan di antrian salah satu fastfood di kota itu. Dia yaaa.. dia datang selamanya dalam hidupku tanpa aku bisa menduga bahkan membayangkannya.. dan aku ingin mengenangnya lewat sedikit tulisan yang akan aku torehkan ini..
Tahun Pertama - Kenangan
Spoiler for Tahun Pertama:
Tahun Kedua- Lembaran yang terungkap
Spoiler for Tahun kedua:
Tahun Kedua- Cinta yang bersemi
Spoiler for cinta:
bersambung ( ada urusan bentar )
Diubah oleh dausin 28-05-2014 11:17
anasabila memberi reputasi
1
10.7K
126
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
dausin
#95
Dia Disini
Maaf ya kalo adegan ini aku lupa kejadiannya berapa bulan setelah kuliah, kemungkinan 2 atau 3 bulan setelah kuliah karena ini termasuk KPP ( Kegiatan Paska Pengkaderan ),Saat ini merupakan gencar-gencarnya pemilihan Ketua Himpunan Jurusanku ( Suksesi ). Kami berkumpul dan diperkanan menjadi panitia, kebetulan aku memegang posisi yang cukup membuatku berhubungan dengan panitia lain untuk urusan pendanaan. Dan saat ini lah semuanya dimulai..
Aku direkomendasikan menjadi posisi tersebut oleh teman-temanku dan aku menyanggupinya, awalnya tak ada yang janggan dengan kepanitiaan ini, semua terkesan apa adanya dan biasa saja, sampai seluruh panitia berkumpul.. Aku melihat sosok yang telah setahun ini tak kulihat dan menjadi kenangan terdalamku bahkan aku tlah melupakannya.. Ya dia tiba-tiba muncul di dalam hariku lagi.. dia ada pojok kanan ruangan dan aku dipojok kiri ruangan, kupandang dirinya, kuperhatikan, apakah itu benar dirinya.. Tapi jika memang itu dia, kenapa dia tak memperhatikanku bahkan melihatku, kenapa dia seperti itu padaku.. Oh.. TUHAN.. tolonglah aku.. sadarkan aku dari kenangan itu.. Aku hanya bisa terdiam sesaat dan berharap itu bukan dia.. sampai akhirnya ketua panitia membacakan nama kami satu persatu beradasakan posisi yang dipegang..
Namaku berada pada deretan nomer 3 yang disebutkan, dan saat namaku dipanggil aku berharap dia menoleh ke arahku.. seperti di film, bakal ada saling pandang dan malu kemudian senyum senduh, dan selanjutnya adegan romantis akan berlanjut dari senyum senduh itu.. Namun, penonton kecewa.. Dia tak menoleh kearahku sedikit pun, malah asik berbicara dengan teman disebelahnya..dan aku seperti pohon yang kering kerontang layu tak ada air dan terus menerus terkena matahari.. Ah.. sudahlah.. mungkin bukan dia aku hanya salah orang sepertinya..
Aku fokus mendengarkan nama-nama panitia yang ikut, dan memang benar tiba seksi dokumentasi, tian menyebut namanya.. Seketika itu hatiku bergetar, aku tak berani memandangnya, kuputuskan untuk memendam rasa yang selama ini menyiksaku, rasa yang membuatku hampir gila memikirkannya, rasa yang aku dapatkan hanya dalam sekejap bersamanya.. ya rasa itu, rasa yang aku tak pernah tau akan berbalas atau tidak.. Dia ada dlam jangkauan ku tapi tak bisa kusentuh bahkan kudekati.. Aku hanya bisa memendam rasa ini dalam diam.. yanu.. dia ada disini sekarang, satu ruangan denganku, satu deretan denganku, tapi tak bisa aku mengajaknya bertegur sapa.
Kuhabiskan waktu yang menyiksaku diruangan ini dengan menguatkan diriku akan getirnya perasaanku.. Aku kacau, serba kacau.. Mungkin agak sedikit didramatisir tapi memang begitulah rasa, akan kacau jika mengalami gejolak tak tertahankan, Aku memilih diam tak banyak bicara, biarlah mereka-mereka memberi pendapat dan berdiskusi, karena toh aku hanya akan mengurusi pendanaan saja tentunya beserta embel-embelnya..
" ta.. kok diem ajah ?" rahma sedikit bingung melihatku ( rahma merupakan temen cewek sekelasku, dia menjadi seksi dekorasi disini )
" eeh.. nggak apa ma " aku menjawab dengan suara lemah
" kamu sakit ta ? kalo iya ijin pulang aja ta " dia sedikit kahwatir
" nggak ma, nggak apa, cuma ngantuk aja " aku tersenyum kepadanya
" owalaah.. aku pikir sakit.. " dia keliatan tenang sekarang
-----------------
" pulang bareng siapa ta ?" tian bertanya kepadaku
" sendiri, biasa nya juga gitu "
" oooh.. hati2 ya ta.. jangan lupa hasil diskusi tadi ya " dia mengingatkanku sambil tersenyum
" iyaa.. tenang ajah.. nanti aku print, aku tempelin di jidat mu.. mau ?" aku menanggapinya dengan bercanda
" hahaha boleh lah.. biar kamu liatin aku trus "
" diiih.. maunyaaa.. kurangi tuh pede "
" harus pede dong.. dari pada malu tapi malu2in "
" aah... bakal kalah kalo gini ceritanyaa " aku sedikit tertawa ke tian
" iyaaa yaa.. okelah, aku duluan yaa "
" iyaa.. hati2 juga yoo "
" yoooo " tian melambaikan tangan kepadaku depan ruang kelas yang kami pakai untuk berdiskusi.
Aku mulai melangkahkan kakiku, aku, tian, tia, lisa pulang agak telat dibanding yang lain. kami merupakan panitia inti jadi mengadakan diskusi kembali bersama, tia dan lisa sudah pulang duluan, mereka satu kelas dan satu kos, sementara aku berbeda dengan mereka dan tian mungkin menjemput pacarnya atau ntah lah..
Kulangkahkan kakiku dengan perlahan menikmati sepinya kampusku dimalam hari walau tak sepi juga.. Tapi setidaknya aku mencoba menenangkan diri akibat goncangan dasyat hari ini. Selama ini aku mencoba mengenangnya memikirkannya ada dimana, ternyata dia ada disini dekat sekali denganku dan yang lebih menyakitkan.. Dia satu kelas dengan dewa.. Ooooh TUHAN.. apalagi ini.. haruskah seperti ini, jika dia akrab dengan dewa dan dewa menemuiku dan membawanya dan dia tak mengenaliku dan aku memendam rasa kepadanya.. apa yang harus kulakukan.. kenapa kenyataan selalu pahit TUHAN.. Baru saja aku merasakan hidup yang mulai berjalan normal, kenapa dia selalu datang saat hidupku normal..
----------------------
Dewa menungguku didepan pintu gedung, kulihat dia dengan senyumnya dan menggoyangkan bungkusan yang dibawanya.. Seketika aku tersenyum berjalan cepat menghampirinya.
" untung kamu disini, aku kangen " aku menggandeng tangan kirinya. dewa hanya terkejut melihatku yang sedikit aneh
" diliatin orang loh taa "
" iyaaa, aku lepas kok.. bawa apa nih ?" aku menyelidik bungkusan yang dibawanya
" mau makan dimana ?" dewa masih saja menyebalkan
" emangnya apa sih isinya wa ?"
" udaaah.. pasti suka kok.. mau makan dimana ?"
" ehmmmm ... halte ajah deh "
" oke.. yuk.."
" motormu mana wa ? parkir ?"
" kagak.. tuh.. "
" pinter " aku mencubit pipi tembemnya
" iyaa dong, kan biar cepet jemput kamunya " dia mengusap kepalaku dengan lembut
" makasih wa " aku sangat senang sekali dia ada saat aku membutuhkan seseorang dan dewa menyadari bahwa aku membutuhkannya saat ini, dia selalu tau apa yang aku tak tau.. ya dewa..
----------------------
" ayoook waa... laper nih "
" nggak sabaran amat sih " dia turun beranjak dari motornya membawa bungkusan yang tak boleh aku sentuh sama sekali
" isinya apa sih wa ? buat penasaran ajah "
" udah jangan bawel, tinggak makan juga "
" iiih.. dewaaaa... "
" iiiihhh.. etaaa " dia menirukanku dengan nada mengejek
" aah.. kamu mah.. siniin geh. "
" nih.. udah jangan nangis ya "
Aku dengan cepat membuka bungkusan yang dibawanyaa.. dan benar dugaanku.. dia mambawakanku burger..
" waaaah... makasih ya wa.. aku sayang banget sama kamu.. kamu memang nomer satu wa " aku membuka bungkusan burgerku, kulihat ada 3 burger. " eeh.. kok banyak amat wa ?"
" ya kan kamu belom makan dari sore, mana tau mau dobel "
" eeh.. beneran wa ?" aku bertanya dengan nada girang
" benerlah, buat kamu apa yang nggak "
" aah.. makasih waa.. makasih banget yaa "
" udah geh makan, nanti keburu nggak enak loh "
" iyaa wa "
Aku melahap burger yang dibawakan dewa, tak mau bertanya kapan beli, beli dimana dan bla-bla.. itu akan membuatnya semakin marah.. jadi aku putuskan saja memakannya dengan lahap.. Malam ini dewa memang menjadi dewa bagiku, dia selalu ada dalam masa kacau hidupku sekecil apapun.. Dewa selalu ada untukku..
----------------------
" Langsung istirahat yaa "
" iyaaa wa.. makasih yaa.. hati2 dijalannya "
" iyaaaa " dia berlalu meninggalkanku...
Aku tak memikirkan yanu lagi, malamku sudah terlalu lelah sehingga aku memutuskan beristirahat dan bangun tengah malam untuk mengerjakan tugasku, tentunya tanpa menggalau memikirkan yanu yang dekat denganku.. karena, aku dan yanu tak ditakdirkan bersama dan hanya menguntai kenangan yang kian indah..
Aku direkomendasikan menjadi posisi tersebut oleh teman-temanku dan aku menyanggupinya, awalnya tak ada yang janggan dengan kepanitiaan ini, semua terkesan apa adanya dan biasa saja, sampai seluruh panitia berkumpul.. Aku melihat sosok yang telah setahun ini tak kulihat dan menjadi kenangan terdalamku bahkan aku tlah melupakannya.. Ya dia tiba-tiba muncul di dalam hariku lagi.. dia ada pojok kanan ruangan dan aku dipojok kiri ruangan, kupandang dirinya, kuperhatikan, apakah itu benar dirinya.. Tapi jika memang itu dia, kenapa dia tak memperhatikanku bahkan melihatku, kenapa dia seperti itu padaku.. Oh.. TUHAN.. tolonglah aku.. sadarkan aku dari kenangan itu.. Aku hanya bisa terdiam sesaat dan berharap itu bukan dia.. sampai akhirnya ketua panitia membacakan nama kami satu persatu beradasakan posisi yang dipegang..
Namaku berada pada deretan nomer 3 yang disebutkan, dan saat namaku dipanggil aku berharap dia menoleh ke arahku.. seperti di film, bakal ada saling pandang dan malu kemudian senyum senduh, dan selanjutnya adegan romantis akan berlanjut dari senyum senduh itu.. Namun, penonton kecewa.. Dia tak menoleh kearahku sedikit pun, malah asik berbicara dengan teman disebelahnya..dan aku seperti pohon yang kering kerontang layu tak ada air dan terus menerus terkena matahari.. Ah.. sudahlah.. mungkin bukan dia aku hanya salah orang sepertinya..
Aku fokus mendengarkan nama-nama panitia yang ikut, dan memang benar tiba seksi dokumentasi, tian menyebut namanya.. Seketika itu hatiku bergetar, aku tak berani memandangnya, kuputuskan untuk memendam rasa yang selama ini menyiksaku, rasa yang membuatku hampir gila memikirkannya, rasa yang aku dapatkan hanya dalam sekejap bersamanya.. ya rasa itu, rasa yang aku tak pernah tau akan berbalas atau tidak.. Dia ada dlam jangkauan ku tapi tak bisa kusentuh bahkan kudekati.. Aku hanya bisa memendam rasa ini dalam diam.. yanu.. dia ada disini sekarang, satu ruangan denganku, satu deretan denganku, tapi tak bisa aku mengajaknya bertegur sapa.
Kuhabiskan waktu yang menyiksaku diruangan ini dengan menguatkan diriku akan getirnya perasaanku.. Aku kacau, serba kacau.. Mungkin agak sedikit didramatisir tapi memang begitulah rasa, akan kacau jika mengalami gejolak tak tertahankan, Aku memilih diam tak banyak bicara, biarlah mereka-mereka memberi pendapat dan berdiskusi, karena toh aku hanya akan mengurusi pendanaan saja tentunya beserta embel-embelnya..
" ta.. kok diem ajah ?" rahma sedikit bingung melihatku ( rahma merupakan temen cewek sekelasku, dia menjadi seksi dekorasi disini )
" eeh.. nggak apa ma " aku menjawab dengan suara lemah
" kamu sakit ta ? kalo iya ijin pulang aja ta " dia sedikit kahwatir
" nggak ma, nggak apa, cuma ngantuk aja " aku tersenyum kepadanya
" owalaah.. aku pikir sakit.. " dia keliatan tenang sekarang
-----------------
" pulang bareng siapa ta ?" tian bertanya kepadaku
" sendiri, biasa nya juga gitu "
" oooh.. hati2 ya ta.. jangan lupa hasil diskusi tadi ya " dia mengingatkanku sambil tersenyum
" iyaa.. tenang ajah.. nanti aku print, aku tempelin di jidat mu.. mau ?" aku menanggapinya dengan bercanda
" hahaha boleh lah.. biar kamu liatin aku trus "
" diiih.. maunyaaa.. kurangi tuh pede "
" harus pede dong.. dari pada malu tapi malu2in "
" aah... bakal kalah kalo gini ceritanyaa " aku sedikit tertawa ke tian
" iyaaa yaa.. okelah, aku duluan yaa "
" iyaa.. hati2 juga yoo "
" yoooo " tian melambaikan tangan kepadaku depan ruang kelas yang kami pakai untuk berdiskusi.
Aku mulai melangkahkan kakiku, aku, tian, tia, lisa pulang agak telat dibanding yang lain. kami merupakan panitia inti jadi mengadakan diskusi kembali bersama, tia dan lisa sudah pulang duluan, mereka satu kelas dan satu kos, sementara aku berbeda dengan mereka dan tian mungkin menjemput pacarnya atau ntah lah..
Kulangkahkan kakiku dengan perlahan menikmati sepinya kampusku dimalam hari walau tak sepi juga.. Tapi setidaknya aku mencoba menenangkan diri akibat goncangan dasyat hari ini. Selama ini aku mencoba mengenangnya memikirkannya ada dimana, ternyata dia ada disini dekat sekali denganku dan yang lebih menyakitkan.. Dia satu kelas dengan dewa.. Ooooh TUHAN.. apalagi ini.. haruskah seperti ini, jika dia akrab dengan dewa dan dewa menemuiku dan membawanya dan dia tak mengenaliku dan aku memendam rasa kepadanya.. apa yang harus kulakukan.. kenapa kenyataan selalu pahit TUHAN.. Baru saja aku merasakan hidup yang mulai berjalan normal, kenapa dia selalu datang saat hidupku normal..
----------------------
Dewa menungguku didepan pintu gedung, kulihat dia dengan senyumnya dan menggoyangkan bungkusan yang dibawanya.. Seketika aku tersenyum berjalan cepat menghampirinya.
" untung kamu disini, aku kangen " aku menggandeng tangan kirinya. dewa hanya terkejut melihatku yang sedikit aneh
" diliatin orang loh taa "
" iyaaa, aku lepas kok.. bawa apa nih ?" aku menyelidik bungkusan yang dibawanya
" mau makan dimana ?" dewa masih saja menyebalkan
" emangnya apa sih isinya wa ?"
" udaaah.. pasti suka kok.. mau makan dimana ?"
" ehmmmm ... halte ajah deh "
" oke.. yuk.."
" motormu mana wa ? parkir ?"
" kagak.. tuh.. "
" pinter " aku mencubit pipi tembemnya
" iyaa dong, kan biar cepet jemput kamunya " dia mengusap kepalaku dengan lembut
" makasih wa " aku sangat senang sekali dia ada saat aku membutuhkan seseorang dan dewa menyadari bahwa aku membutuhkannya saat ini, dia selalu tau apa yang aku tak tau.. ya dewa..
----------------------
" ayoook waa... laper nih "
" nggak sabaran amat sih " dia turun beranjak dari motornya membawa bungkusan yang tak boleh aku sentuh sama sekali
" isinya apa sih wa ? buat penasaran ajah "
" udah jangan bawel, tinggak makan juga "
" iiih.. dewaaaa... "
" iiiihhh.. etaaa " dia menirukanku dengan nada mengejek
" aah.. kamu mah.. siniin geh. "
" nih.. udah jangan nangis ya "
Aku dengan cepat membuka bungkusan yang dibawanyaa.. dan benar dugaanku.. dia mambawakanku burger..
" waaaah... makasih ya wa.. aku sayang banget sama kamu.. kamu memang nomer satu wa " aku membuka bungkusan burgerku, kulihat ada 3 burger. " eeh.. kok banyak amat wa ?"
" ya kan kamu belom makan dari sore, mana tau mau dobel "
" eeh.. beneran wa ?" aku bertanya dengan nada girang
" benerlah, buat kamu apa yang nggak "
" aah.. makasih waa.. makasih banget yaa "
" udah geh makan, nanti keburu nggak enak loh "
" iyaa wa "
Aku melahap burger yang dibawakan dewa, tak mau bertanya kapan beli, beli dimana dan bla-bla.. itu akan membuatnya semakin marah.. jadi aku putuskan saja memakannya dengan lahap.. Malam ini dewa memang menjadi dewa bagiku, dia selalu ada dalam masa kacau hidupku sekecil apapun.. Dewa selalu ada untukku..
----------------------
" Langsung istirahat yaa "
" iyaaa wa.. makasih yaa.. hati2 dijalannya "
" iyaaaa " dia berlalu meninggalkanku...
Aku tak memikirkan yanu lagi, malamku sudah terlalu lelah sehingga aku memutuskan beristirahat dan bangun tengah malam untuk mengerjakan tugasku, tentunya tanpa menggalau memikirkan yanu yang dekat denganku.. karena, aku dan yanu tak ditakdirkan bersama dan hanya menguntai kenangan yang kian indah..
Diubah oleh dausin 16-04-2014 17:05
0