- Beranda
- Stories from the Heart
...
TS
jumpingworm





6th Story 



Spoiler for "The Menu":




5th Story : Wrap Your Heart




Spoiler for "The Menu":




4th Story : Irreplaceable 




Spoiler for The Menu:
Diubah oleh jumpingworm 16-07-2017 00:41
samsung66 dan anasabila memberi reputasi
2
102.7K
1.3K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
jumpingworm
#1243
25. Short Reunion
Aku baru akan mengucapkan sepatah kalimat yang kaku, ketika memandang Sammy dari ujung rambut sampai ujung kaki.
Berlawanan dariku, Sammy justru nyengir lebaaar sekali.
Senyuman yang khas dan tidak berubah persis seperti ingatanku selama ini.
Well, at least sebelum kami saling hilang kontak selama 3 bulan ini.
"Chery! Akhirnya ketemuuu!" Sammy langsung mengacak-acak rambutku. "Woahh,... jadi panjang rambut elo. Wangi lagii... habis keramas ya?"
"Eh,.. iya." aku tertawa garing menimpali ice-breaker nya.
"Yuk masuk. Gue pake baju sebentar." Sammy membuka pintu lebih lebar agar aku dapat melangkah masuk.
"Ah, enggak. Gue cuma mampir untuk say hello kok." aku menolak halus.
Rasanya tidak wajar berada di satu ruangan dengan Sammy.
Mungkin aku yang overacting dan terlalu berlebihan, tapi aku refleks menggambar garis pemisah di atas pasir di antara kami.
Untuk cengengesan kepada Sammy seperti jaman dulu, rasanya seberat menarik kedua ujung pipiku dengan suntikan botox.
"Pak Grandy lagi beli makanan. Kalo mau nunggu, mending di dalem aja."
Sammy akhirnya menyingkir dari pintu dan kembali ke kamar mandi untuk menggosok gigi tanpa menutup pintu depan seolah memberi isyarat aku untuk masuk ke dalam.
Setelah menimbang sedikit, aku melangkah masuk dan menutup pintu di belakangku.
Aku duduk di atas ranjang dan memandang ke luar balkon.
"So,... what brings you here?" Sammy yang sudah berpakaian lengkap muncul beberapa saat kemudian.
"Tadinya gue mau bantuin beberes barang." aku membuang pandangan ke sekeliling.
Hanya dua buah koper dan satu travel bag di samping meja.
Aku heran dengan kaum Adam.
Mana mungkin bisa tahan hidup lebih dari 2 hari hanya dengan 1 atau 2 potong baju?
Tapi, ukuran apartemen yang ditempati Sammy dan Pak Grandy lebih kecil dari punyaku.
"Pak Grandy lagi cari makanan." Sammy mengeringkan rambutnya dengan handuk kemudian menarik kursi untuk duduk di hadapanku.
"Oo.." aku hanya ber-oo panjang; berusaha menanggapi berita darinya.
"How are you?" Sammy menatapku lurus dan bertanya dengan hati-hati.
God! He makes me nervous!
Baru 3 bulan tidak bertemu dengannya, rasanya sudah bertahun-tahun.
Suara bariton nya, rambut halus di dagunya, dan wajahnya yang fresh sehabis mandi.
Pemandangan ini membawaku hampir terhanyut nostalgia.
Tapi 3 bulan usahaku pergi menjauh sepertinya membuahkan sedikit hasil.
Aku mampu mengendalikan ekspresiku agar tetap terlihat santai dan intelek.
Sebelum pergi ke sini, tawaku pasti sudah meledak jika ditatap lekat-lekat dari jarak sedekat ini.
Aku pasti tertawa heboh untuk menutupi rasa grogi yang menjalar bagaikan roller coaster.
"I'm perfectly fine. Bahkan, akan dipromosiin sebentar lagi."
"O ya?" Sammy menaikkan alis. "Secepat itu?"
"3 months are very long time, Sam." aku mengoreksinya. "Elo sendiri, gimana?"
Sammy memutar bola matanya dan mengatur kalimat dengan cermat.
"Gue masih seperti terakhir kita ketemu kok."
"Masih naksir Pak Grandy juga dong?"
"Hey!" Sammy protes dan meletakkan telunjuk di bibirnya mengisyaratkan aku untuk diam. "I thought we've discussed about this! Gue udah move-on dari Pak Grandy.
Lagipula, kayaknya gue nggak pernah naksir dia gimana-gimana amat sejak awal."
Aku ternganga.
"What?! Setelah sekian lama, akhirnya baru sekarang elo KAYAKNYA nggak naksir-naksir amat sama dia?!" nadaku tidak santai.
"Bukan sekarang sih... Udah beberapa waktu ini gue berpikir keras." Sammy sedikit terkekeh-kekeh berusaha menenangkanku yang nadanya meninggi.
Sammy meraih sebelah tanganku dan menggenggamnya dengan kedua tangan.
"I realized it, when you left me..."
Deg! Ujung jariku seakan tergelitik jemari Sammy yang hangat.
Badanku ingin melepas tangan kami yang bersentuhan, tapi otakku mulai konslet dan justru menikmati saat-saat ini.
Sammy menatapku sendu.
Membawaku kembali ke memori 3 bulan yang lalu.
"Gue pikir elo balik ke Debby." aku menyindir frontal. "So I left, and wish you'd be happy with her."
"What?! Chery,... you know it won't ever happen. Gue dan Debby..."
Sammy baru akan menjelaskan, ketika pintu terbuka.
Sontak, aku menarik tangan dari genggaman Sammy dan setengah melompat bangkit menuju pintu.
"Met' malam Pak..." aku menyapa sopan.
"Hey! Look at you! Wow,...you look gorgeous!" Pak Grandy memegang dan mengguncang bahku pelan. "How's Ms.Svetlana?"
"Bapak belum ketemu Bu Lana?"
Pak Grandy meneguk instant coffee yang dibelinya sambil memberi isyarat negatif dengan telunjuknya.
"Maksud saya, bukan nanyain kabar Svetlana, tapi bagaimana dia memperlakukan kamu di sini."
"Ohh,... Ms.Svetlana baik banget. Agak tegas sih, tapi di bawah leadershipnya saya justru ngerasa lebih terpacu. Bahkan..."
"Bahkan Chery baru aja naik jabatan." Sammy menyeletuk dan melengkapi kalimatku.
In my personal opinion, Sammy sedang merajuk karena diasingkan dari obrolanku dengan Pak Grandy.
Tapi,... hello? What do you expect?
Aku rutin masih berkomunikasi dengan Pak Grandy meski telah bertolak ke Singapura.
Tapi di sisi lain, putus kontak samasekali dengan Sammy.
Lumrah jika aku tidak begitu menikmati percakapan panjang dengan Sammy ketimbang Pak Grandy.
"Ralat,... saya baru AKAN dipromosikan sehabis projcet Annual Party bareng Bapak."
"Still, it's great." Pak Grandy melewatiku dan meletakkan belanjaan di meja makan. "Kamu udah makan?"
"Memangnya ada jatah porsi saya?" aku bergurau.
"Kita bagi 2 aja kalo mau..." Pak Grandy menunjuk sekotak Katsu Chop yang dibelinya.
"Enggak, Pak. Malahan saya mau pulang balik ke apartemen saya dan tidur. Biar kalian bisa istirahat..."
Pak Grandy hanya tersenyum dengan mulut berisi makanan kemudian melambaikan tangannya.
Aku sempat melirik Sammy yang hanya termangu dan tersenyum kecil.
"See you tomorrow..." Sammy bergumam pelan sebelum menutup pintu tepat ketika aku keluar.
Sekelibat pemandangan terakhir yang kulihat adalah matanya yang meredup.
Masih terngiang percakapan kami barusan.
Aku sedikit merasa bodoh karena mengaitkan nama Debby di tengah obrolan kami yang berkualitas dan singkat.
Bisa-bisa nanti Sammy berpikir bahwa aku pergi karena cemburu.
Walau sejujurnya, tidak sepenuhnya salah ...
Namun aku menampar pipiku pelan untuk kembali ke alam nyata.
Berlawanan dariku, Sammy justru nyengir lebaaar sekali.
Senyuman yang khas dan tidak berubah persis seperti ingatanku selama ini.
Well, at least sebelum kami saling hilang kontak selama 3 bulan ini.
"Chery! Akhirnya ketemuuu!" Sammy langsung mengacak-acak rambutku. "Woahh,... jadi panjang rambut elo. Wangi lagii... habis keramas ya?"
"Eh,.. iya." aku tertawa garing menimpali ice-breaker nya.
"Yuk masuk. Gue pake baju sebentar." Sammy membuka pintu lebih lebar agar aku dapat melangkah masuk.
"Ah, enggak. Gue cuma mampir untuk say hello kok." aku menolak halus.
Rasanya tidak wajar berada di satu ruangan dengan Sammy.
Mungkin aku yang overacting dan terlalu berlebihan, tapi aku refleks menggambar garis pemisah di atas pasir di antara kami.
Untuk cengengesan kepada Sammy seperti jaman dulu, rasanya seberat menarik kedua ujung pipiku dengan suntikan botox.
"Pak Grandy lagi beli makanan. Kalo mau nunggu, mending di dalem aja."
Sammy akhirnya menyingkir dari pintu dan kembali ke kamar mandi untuk menggosok gigi tanpa menutup pintu depan seolah memberi isyarat aku untuk masuk ke dalam.
Setelah menimbang sedikit, aku melangkah masuk dan menutup pintu di belakangku.
Aku duduk di atas ranjang dan memandang ke luar balkon.
"So,... what brings you here?" Sammy yang sudah berpakaian lengkap muncul beberapa saat kemudian.
"Tadinya gue mau bantuin beberes barang." aku membuang pandangan ke sekeliling.
Hanya dua buah koper dan satu travel bag di samping meja.
Aku heran dengan kaum Adam.
Mana mungkin bisa tahan hidup lebih dari 2 hari hanya dengan 1 atau 2 potong baju?
Tapi, ukuran apartemen yang ditempati Sammy dan Pak Grandy lebih kecil dari punyaku.
"Pak Grandy lagi cari makanan." Sammy mengeringkan rambutnya dengan handuk kemudian menarik kursi untuk duduk di hadapanku.
"Oo.." aku hanya ber-oo panjang; berusaha menanggapi berita darinya.
"How are you?" Sammy menatapku lurus dan bertanya dengan hati-hati.
God! He makes me nervous!
Baru 3 bulan tidak bertemu dengannya, rasanya sudah bertahun-tahun.
Suara bariton nya, rambut halus di dagunya, dan wajahnya yang fresh sehabis mandi.
Pemandangan ini membawaku hampir terhanyut nostalgia.
Tapi 3 bulan usahaku pergi menjauh sepertinya membuahkan sedikit hasil.
Aku mampu mengendalikan ekspresiku agar tetap terlihat santai dan intelek.
Sebelum pergi ke sini, tawaku pasti sudah meledak jika ditatap lekat-lekat dari jarak sedekat ini.
Aku pasti tertawa heboh untuk menutupi rasa grogi yang menjalar bagaikan roller coaster.
"I'm perfectly fine. Bahkan, akan dipromosiin sebentar lagi."
"O ya?" Sammy menaikkan alis. "Secepat itu?"
"3 months are very long time, Sam." aku mengoreksinya. "Elo sendiri, gimana?"
Sammy memutar bola matanya dan mengatur kalimat dengan cermat.
"Gue masih seperti terakhir kita ketemu kok."
"Masih naksir Pak Grandy juga dong?"
"Hey!" Sammy protes dan meletakkan telunjuk di bibirnya mengisyaratkan aku untuk diam. "I thought we've discussed about this! Gue udah move-on dari Pak Grandy.
Lagipula, kayaknya gue nggak pernah naksir dia gimana-gimana amat sejak awal."
Aku ternganga.
"What?! Setelah sekian lama, akhirnya baru sekarang elo KAYAKNYA nggak naksir-naksir amat sama dia?!" nadaku tidak santai.
"Bukan sekarang sih... Udah beberapa waktu ini gue berpikir keras." Sammy sedikit terkekeh-kekeh berusaha menenangkanku yang nadanya meninggi.
Sammy meraih sebelah tanganku dan menggenggamnya dengan kedua tangan.
"I realized it, when you left me..."
Deg! Ujung jariku seakan tergelitik jemari Sammy yang hangat.
Badanku ingin melepas tangan kami yang bersentuhan, tapi otakku mulai konslet dan justru menikmati saat-saat ini.
Sammy menatapku sendu.
Membawaku kembali ke memori 3 bulan yang lalu.
"Gue pikir elo balik ke Debby." aku menyindir frontal. "So I left, and wish you'd be happy with her."
"What?! Chery,... you know it won't ever happen. Gue dan Debby..."
Sammy baru akan menjelaskan, ketika pintu terbuka.
Sontak, aku menarik tangan dari genggaman Sammy dan setengah melompat bangkit menuju pintu.
"Met' malam Pak..." aku menyapa sopan.
"Hey! Look at you! Wow,...you look gorgeous!" Pak Grandy memegang dan mengguncang bahku pelan. "How's Ms.Svetlana?"
"Bapak belum ketemu Bu Lana?"
Pak Grandy meneguk instant coffee yang dibelinya sambil memberi isyarat negatif dengan telunjuknya.
"Maksud saya, bukan nanyain kabar Svetlana, tapi bagaimana dia memperlakukan kamu di sini."
"Ohh,... Ms.Svetlana baik banget. Agak tegas sih, tapi di bawah leadershipnya saya justru ngerasa lebih terpacu. Bahkan..."
"Bahkan Chery baru aja naik jabatan." Sammy menyeletuk dan melengkapi kalimatku.
In my personal opinion, Sammy sedang merajuk karena diasingkan dari obrolanku dengan Pak Grandy.
Tapi,... hello? What do you expect?
Aku rutin masih berkomunikasi dengan Pak Grandy meski telah bertolak ke Singapura.
Tapi di sisi lain, putus kontak samasekali dengan Sammy.
Lumrah jika aku tidak begitu menikmati percakapan panjang dengan Sammy ketimbang Pak Grandy.
"Ralat,... saya baru AKAN dipromosikan sehabis projcet Annual Party bareng Bapak."
"Still, it's great." Pak Grandy melewatiku dan meletakkan belanjaan di meja makan. "Kamu udah makan?"
"Memangnya ada jatah porsi saya?" aku bergurau.
"Kita bagi 2 aja kalo mau..." Pak Grandy menunjuk sekotak Katsu Chop yang dibelinya.
"Enggak, Pak. Malahan saya mau pulang balik ke apartemen saya dan tidur. Biar kalian bisa istirahat..."
Pak Grandy hanya tersenyum dengan mulut berisi makanan kemudian melambaikan tangannya.
Aku sempat melirik Sammy yang hanya termangu dan tersenyum kecil.
"See you tomorrow..." Sammy bergumam pelan sebelum menutup pintu tepat ketika aku keluar.
Sekelibat pemandangan terakhir yang kulihat adalah matanya yang meredup.
Masih terngiang percakapan kami barusan.
Aku sedikit merasa bodoh karena mengaitkan nama Debby di tengah obrolan kami yang berkualitas dan singkat.
Bisa-bisa nanti Sammy berpikir bahwa aku pergi karena cemburu.
Walau sejujurnya, tidak sepenuhnya salah ...
Namun aku menampar pipiku pelan untuk kembali ke alam nyata.
Diubah oleh jumpingworm 16-04-2014 01:01
0