Kaskus

Story

dausinAvatar border
TS
dausin
Dia... Masa lalu yang indah..
2007

Aku berjalan menyusuri kota yang asing bagiku dan saat itulah aku mengenalnya, hanya dengan seutas senyum yang aku berikan di antrian salah satu fastfood di kota itu. Dia yaaa.. dia datang selamanya dalam hidupku tanpa aku bisa menduga bahkan membayangkannya.. dan aku ingin mengenangnya lewat sedikit tulisan yang akan aku torehkan ini..

Tahun Pertama - Kenangan
Spoiler for Tahun Pertama:


Tahun Kedua- Lembaran yang terungkap
Spoiler for Tahun kedua:


Tahun Kedua- Cinta yang bersemi
Spoiler for cinta:



bersambung ( ada urusan bentar )
Diubah oleh dausin 28-05-2014 11:17
anasabilaAvatar border
anasabila memberi reputasi
1
10.7K
126
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread53.1KAnggota
Tampilkan semua post
dausinAvatar border
TS
dausin
#82
Maaf, cinta tak secepat ini
Aku dan liya mulai mencoba memejamkan mata, kali ini niar sudah tertidur kurasa.. tiba-tiba dalam pejaman matanya liya memanggilku " taaaa.. "
" hemmmmm... "
" udah tidur?"
" udah..."
" iiih.. etaa.. beneran ini.. aku mau tanya dan curhat boleh ?"
" iya beneran.. tidur geh.. besok bangun pagi loh "
" taaa.. plisss.. yaaa dengerin yaaa "
" ya udah deh " aku menjawab pasrah sambil membuka mataku " mau cerita apa li ?" jawabku lembut
" aku suka sama ardian ta "
" ya bagus dong.. lanjutin pedekatenya " jawabku sekenahnya
" bukan itu taa "
" trus ?"
" dia suka sama kamu.. " jawab liya datar, aku seketika terkejut. namun aku berusaha bersikap tenang.
" darimana kamu tau li ?, kalopun dia suka aku, kamu belum usaha deketin dia kan?" jawabku menyemangati
" masak kamu nggak tau, mereka suka sama kamu ta ?"
" eh.. mereka.. mereka siapa li ?" aku mulai bingung
" putu, ardian, ve, dika, adit.. mereka suka sama kamu ta ?"
" hah.. serius li.. kok bisa loh ?"
" mana aku tau.. pokoknya mereka suka liatin kamu diem2 trus juga kadang tanyain kamu "
" perasaan mu ajah li.. sudahlah.."
" beneran taa.. kemaren pas kamu pingsan mereka ajah bingung setengah mati.. "
" masak sih.. tapi kok pas aku balik mereka biasa ajah ya ?"
" ya mereka mana mungkin terang2an kayak si ve "
" kalo si ve ma sinting li.. agak gila tuh anak.. buat sebel ajah " aku tertawa membayangkan tingkah aneh ve.
" hahaha.. awas loh jatuh cinta "
" ogah ah.. "
" beneran loh.. hayoooo "
" kagak.. mending jomblo deh akunya "
" yakin ?"
" iya dong.. weekk "
" iyaaa deh... " liya diam sejenak " taaa "
" hemm.. kenapa li ?"
" gimana caranya supaya cowok suka sama kita ya walau kita nggak cantik ?"
" itu dari hati li.. cukup jadi dirimu sendiri.. nggak perlu cantik tapi menarik dan mempesona.. trus.. kalo udah mempesona, jangan gampang percaya sama omongan tuh cowok.. bisa2 kamu kayak ikan lagi klepek2" aku mencoba bercanda dengan liya
" hahaha.. bisa ajah kamu.. emang aku mirip ikan apa ?"
" kali ajah kamu sebenernya ikan li ?"
" etaaa... enak ajah "
" truss gimana ardian ?"
" ntahlah ta. dia suka kamu gitu loh "
" eeiittss.. nggak boleh nyerah.. coba rajin sms dia loh.. tapi jangan kepo, biasa ajahlah.. trus coba sering ngobrolin apa gitu, biar dia tertarik samamu.. intinya suka itu karena kagum dan cinta itu karena rasa.. semangat ya "
" iya deh aku coba ya ta "
" harus.. bukan cuma niat loh "
" iyaaa.. udah tidur yuk.. aku malas dengar repetan niar besok "
" hahaha.. iya.. aku juga "

------------------------------------------
Hari terakhir OMB, rasanya biasa saja tak ada yang istimewa. Kalau tidak salah hari ini kegiatannya lebih ringan, mengarah ke pengenalan jurusan dan lain-lain. Tapi ada cerita menarik dari hari ini. Kami menjalani rutinitas dengan berbeda saat berada dijurusan masing-masing. Hingga tiba dipenutupan acara. Kami diberi tugas meminta tanda tangan dari panitia yang ada. Aku menghampiri salah seorang panitia yang sedang duduk dilapangan basket, kenapa aku memilihnya dibanding yang lain, karena dia terkesan cool bagiku.

" kak, ganggu nggak ?" dia hanya menoleh ke arahku dengan wajah bingung.
" aku ganggu ya kak ?" aku mencoba bertanya lagi kepadanya, memastikan.
" aneh " dia hanya berkata seperti itu, sementara aku mematung berdiri disampingnya. Tak berapa lama dalam posisi keheningan, dia mengucapkan kata yang aneh bagiku.
" sejak kapan ada MABA mau minta tanda tangan tanya ganggu apa nggak"
" eh... iya kak " aku salah tingkah menjwabnya
" liat tuh temen-temen kamu, minta tanda tangan ajah pake acara ngotot n keroyokan " aku menole ke arah temen-temen yang lain, sedikit aneh karena tak ada yang meminta tanda tangan ke panitia yang satu ini kecuali aku.
" ehm.. " aku sudah kehabisan kata.
" sini " dia menepuk lantai kosong yang ada disebalahnya
" ehmmmm... " aku masih saja seperti orang begok
" duduk sini, nggak usah takut.. aku nggak makan orang kok " dia meyakinkan dengan ekspresi datar. Aku memberanikan diriku duduk disebelahnya.
" namamu ?"
" eta kak "
" ooh.. jurusan ?"
" Teknik ********* kak "
" flat banget ya " die memperlihatkan senyum mengejeknya sejenak
" eh.. makasudnya kak ?"
" nggak.. cobalah lebih agresif seperti temen-temenmu itu .." dia mengarahkan pandangannya sekelompok anak yang berebut tanda tangan.
" eh.. iya kak.. pemisi " aku hendak berdiri meninggalkannya, untuk mencari tanda tangan yang lain seperti yang dianjurkannya.. Namun,
" kemana ? kamu udah ganggu aku, mana boleh main pergi gitu ajah " dia menajwab dengan ekspresi datar. Aneh banget nih orang, nyebelin banget.. tadi disuruh kayak mereka, sekarang mala nemenin dia. Kulirik bukuku, masih kosong.. Oh Tuhan.. mampus aku.. Aku hanya diam dan berusaha tetap tenang disampingnya.
" asik ya ?" dia memecahkan lamunanku
" eh.. apanya kak ?"
" ini.. diema sendiri, asikkan ? "
" iyaa.. " aku menjawab dengan senyuman yang tanpa kusadari, karena jika sudah menyangkut diam dalam kesendirian itu kesukaanku dan aku selalu tersenyum mengingatnya. Dan saat itu aku tak sadar dia memandangku sejenak, melihatku tersenyum.
" aku suka kamu " dia berkata dengan santainya tanpa beban.
Deg.. seketika aku terdiam.. ya hanya terdiam, aku bingung harus melakukan apa, bahkan itu bukan pertanyaan yang harus ku ajwab itu.. itu pernyataan dari orang yang tak ku kenal.. Dia masih dalam posisinya memandang lurus kedepan dengan ekspresi datarnya..
" gila ya.. sekian lama aku hidup.. baru kali ini aku bilang suka " dia bergumam dengan senyumnya. aku hanya diam menemaninya dan mencoba menyambung kalimatnya.
" kita nggak bisa milih jatuh cinta sama siapa.? nggak pernah tau kapan cinta itu datang.? alasannya pun juga nggak tau.? yang tau, tiba2 kita udah jatuh cinta.." aku menjawab dengan tenang dan tersenyum, dia menoleh kearahku memperhatikanku dengan tenang.
" senyum mu "
" eh... " aku kembali dalam kebingunganku memandangnya.
" makasih yaa.." dia tersenyum " siniin bukumu "
" iya kak " aku menyodorkan buku dan bolpoinku ke arahnya, dia menyambutnya dan mulai menuliskan sesuatu di bukuku. " nih.. kamu nggak perlu tanda tangan yang lain " dia mengembalikan bukuku dan bangkit dari duduknya.
" kenapa kak ?" aku masih duduk dalam kebingunganku. Dia berdiri tepat dihadapanku dan mensejajarkan wajahnya tepat didepan wajaku, aku mencoba menetralkan diriku agar tak nampak grogi dan bersikap tenang.
" karena kamu spesial adek manis " dia mengembangkan senyumnya dan mengelus kepalaku, pergi meninggalkanku yang mematung seperti orang yang dihipnotis.. Senyuman manis itu.. Berhasil menghipnotisku beberapa saat.. Inilah efeknya masuk kampus yang banyak cowoknya, kadang kau takkan tahan dengan mereka yang bisa menarik hatimu.

-------------------------------------------------
" udah dapat berapa tanda tangannya ?" Aku terbangun dari hipnotis itu, aah.. padahal tadi indah, kenapa cepat banget sadarnya. kulihat mas panitia yang selalu menanyakan kondisiku sudah ada disampingku.
" eh.. satu mas "
" loh.. kok satu.. nanti kena hukuman loh " dia sedikit bingung denganku yang santai menjawab pertanyaannya.
" eh.. katanya mas yang aku minta, cukup punya dia ajah "
" haduuh.. kamu ini polos banget sih.. mau amat dikerjain.. siniin aku isi punyaku.. abis tuh cari ke yang lain ya.. waktunya tinggal dikit soalnya "
" eeh.. iya mas " ternyata aku ditipu.. "sialan awas kamu ya" aku sudah mengomel dalam hatiku. aku menyodorkan buku dan bolpoinku. Sejenak dia diam memandang bukuku.
" kenapa mas.? "
" nggak apa2.." dia menjawab datar " nih.. langsung ajah balik geh.. kayaknya kamu memang berbeda " dia menyodorkan bukuku dan tersenyum tanpa memberikan tanda tangannya.
" eh.. iya mas.. permisi " Aku beranjak meninggalkannya.
" mi.. " dia memanggilku
" saya mas " aku menoleh kearahnya.
" candra "
" ehh.. maksudnya mas ?" aku berdiri dalam kebingunganku.
" kamu bisa panggil aku candra.. semangat yaa " dia tersenyum kepadaku
" eh.. iya mas.. makasih ya mas.. " Aku membalas senyumnya berlalu meninggalkannya kembali ke kelompokku. Mereka sudah riuh dengan memperlihatkan tanda tangan dan saling bercerita tentang perjalanan panjang mencari tanda tangan para panitia, sementara aku.. Aku hanya diam saja, karena aku cuma punya 1 tanda tangan.
" dapat berapa dek ?" IC kelompokku bertanya padaku yang kebetulan berada dibarisan belakang. kali ini kondisi sudah tak formal, jadi mungkin IC kelompokku sudah mulai berani bertegur sapa dengan kami.
" eh.. cuma satu kak ?" aku menjawab dengan ragu
" satu.. dari siapa ?" dia bertanya dengan kebingungan, aku yakin dalam hatinya dia berkata " begok banget nih anak cuma dapat satu, padahalkan panitianya banyak "
" nggak tau kak " jawabku ragu
" lah.. kamu nggak kenalan tadi ? " dia masih bingung denganku
" eh.. nggak kak, cuma ngobrol bentar.. trus dikasih tanda tangan " jawabku dengan jujur pake banget dengan tampang begok bin bloon kayaknya.
" ya ampun dek.. kenapa nggak tanya. ? coba sih liat dari siapa.? mana bukumu ?"
" eh.. iya ya kak.. ini kak " aku membuka lembaran bukuku dan kami melihatnya bersamaan.. Dan ekspresi yang sama seperti mas candra terlihat dari wajanya.
" ooh.. ya udah nggak apa kalo ini "
" kenapa kak ?"
" kamu beruntung bisa dapat punya dia" dia tersenyum melihatku
" kok bisa kak. ? emang dia siapa.? " aku bertanya bingung dan penasaran
" dia panitia, cuma susah dapet tanda tangan dia.. dan yang bisa dapet dari sekian banyak MABA pasti cuma kamu " dia menjelaskan tentang sosok yang tak ku tahu namanya.
" emang nama kakak itu siapa kak ?"
" cari ajah disela-sela bukumu, nanti juga kamu tau "
" aah.. kakak nggak sik.. pelit ih "
" usaha dong.. kan kamu hebat bisa dapet tanda tangannya "
" iyaaaa deh "
Sosok kakak senior itu semakin membuatku bingung, kenapa tanda tangannya begitu cetar membahana ( versi syahrini ) dan membuat semua tanda tangan tak berarti jika sudah mendapatkannya. Sampai saat ditanya siapa yang mendapatkan tanda tangan yang paling sedikit pun, aku tak masuk kategori itu.. Karena kakak IC ku memperingatkanku agar tidak maju, dia kahwatir jika aku maju akan berdampak buruk sepertinya dan aku hanya menurut saja. Acara penutupan begitu ramai, masing-masing gugus diwajibkan memberikan pertunjukan, selesai acara dalam gedung. Kami di giring ke lapangan merah, yang merupakan puncak penutupan acara.. Disana kami melihat video 4 hari perjalanan kami.. dan beberapa kata yang membuat kami merasa ya begitulah. Dikelilingi lilin dalam remangnya malam, yang membuat acara semakin sakral.. inilah akhor OMB yang tak akan bisa terulang kembali.. 3 hariku.. berlalu sudah..

---------------------------------------
Kali ini kami pulang tak berbarengan dengan kelompok kami, karena sebelumnya kamu sudah dipisahkan menjadi perkelas. Saat berjalan pulang kami menyalami semua panitia yang berjejer dipinggir jalan menuju gerbang kampus. Mereka ramah dan tersenyum, mengucapkan beberapa kata semangat dan motivasi. Aku mencari sosok yang membuatku takjub sementara ini, namun tak kutemui juga.. Aku hanya menjumpai sosok mas candra.
" semangat ya mi.. yang betah nanti kuliahnya " dia tersenyum memperlambat salaman kami, sementara panitia disebelahnya sudah riuh menggodanya " ciee..cieee.. ", " eheemm.. eheemmm ", " semangat ya ", " oooh.. ini toh ", " siapa tadi namanya " .. Lengkap sudah aku menjadi bahan ejekan malam itu.. dan aku hanya menjawab " iya makasih mas " tentunya wajib dengan senyuman yang ikhlas.

Aku masih mencarinya, sosok yang membuatku duniaku teralihkan sedikit selama OMB ini.. dimana kah dia ? kulirik semuanya.. dia tak ada.. dan memang aku baru melihatnya kali itu.. dia memang tak ada.. mungkin aku hanya berahayal.. ahhh.. tapi dia nyata.. sudahlah.. mungkin hanya selembar kenangan OMB ku.. biarlah dia menjadi kenangan indah.

" etaaaaa.. etaaaa " aku mengalihkan pandanganku mencari sosok suara yang memanggilku. Kulihat niar dan teman-teman ada di pojok halte kampus. Aku melambaikan tanganku tersenyum berjalan ke arah mereka, kupercepat langkahku.. Namun beberapa meter dari gerbang kampus, seketika langkahku terhenti, ada sosok yang tiba-tiba ada dihadapanku. Kupandang dia secara perlahan, ya dia.. sosok yang aku cari, tiba-tiba muncul dihadapanku.. Kulirik kelompokku, mereka tampak bingung melihatku dengan sosok yang tak kukenal ini. namun mereka masih setia menungguku.

Sosok itu tersenyum ramah, sementara aku mematung seperti batu dihadapannya " kamu nyariin aku ya ? " dia bertanya dengan sejuta PeDe dalam senyumnya.
" eh.. nggak kak " aku menjawab salah tingkah dan sepertinya pipiku mulai merona malu atau apalah.. sialan.. masak iya aku suka dia.. tidak TUHAN..
" ngaku deh.. nggak usah bohong " dia mencoba menggodaku dengan ekspresi datarnya.
" beneran nggak kak " aku mencoba menyakinkannya untuk tak terlalu berharap.
" yaudah kalo nggak ngaku.. " tanpa basa basi dia meningkanku dengan senyum " jangan menyesal ya adek manis " dia melakukan hal yang sama dan berlalu meningkalkanku lagi. Entah apa dalam pikiranku, aku memanggilnya dengan suara yang tertahan di tenggorokanku.
" k... " belum lagi aku menyelesaikan panggilanku, dia berbalik mengahmpiriku, kondisi kampusku sudah terhitung sepi, karena aku tadi sengaja berlama-lama mencari sosoknya.. Tanpa sadar dia sudah ada didepanku menguntai senyumnya. Aku mematung seketika, entah berapa orang yang sudah melihat kami.. ooh TUHAN semoga mereka tak mengenaliku dan semoga ini tak memalukan.
" jadi, kamu mau ?"
" eh....." aku mencoba bersikap tenang menjawab pertanyaannya, mencoba mengalihkan pandanganku ke beberapa sisi. Deg.. dewa.. ada dewa di depan gerbang kampusku. Dia melihatku dengan pandangan lemah, seakan dia akan kehilanganku untuk kedua kalinya seperti waktu itu, sejenak aku memikirkannya.. Dia hanya mengangguk. Jika dewa sudah begitu, dia tahu bahwa sosok yang ada dihadapanku akan memintaku menjadi pasangannya dan dewa menyetujuinya. Namun kali ini, anggukan terlihat lemah..
" taa.. aku masih nunggu " dia berkata lembut. Aku memutar otakku.
" mau apa kak ?" aku bertanya kepadanya.
" jadi orang pertama di hidupku dan terakhir "
" maaf kak " belum sempat aku meneruskan kalimatku dia memotonganya " aku udah tau bakal kayak gini " dia tersenyum lirih di sudut bibirnya " bodoh banget aku nggak pake mikir "
" bukan gitu kak.. cinta nggak dateng secepet ini buatku.." dia terdiam menatapku dengan tatapan tajamnya, melihat masuk kedalam hatiku dan sepertinya dia menemukan kenangan pahit dalam hidupku yang lalu, dengan lembut dia berkata " kamu harus melepasnya ta.. bisa kah ?" dia ebrkata lebih lirih sekarang.
" aku tak janji kak, tapi aku tak larang kakak suka samaku, cuma aku tak bisa balasnya.. maaf kak "
" itulah kenapa aku suka kamu, kamu berbeda.. dan aku bodoh banget langsung bilang ke kamu.. maaf ta " dia mencoba menegarkan dirinya. aku tau yang dia rasakan, saat kau tak bisa menyukai siapapun, lalu datang sosok yang membuatmu bisa merasakan suka hanya dalam sesaat, kemudian dia menghilang, namun aku tak menghilang, aku masih ada dan dia bisa melihatku.
" maaf kak " aku hanya bisa berkata lemah terdiam membisu melihatnya yang menelan kecewa " tapi, kita masih bisa temenan kok kak " aku mencoba membuatnya lebih bisa menerima kenyataan.
" makasih adek manis " dia mengelus kepalaku dan tersenyum " hati2 ya pulangnya.. aku bakal nunggu kok kalo harus nunggu " dia berlalu meninggalkanku.. Aku hanya bisa memandang punggungnya yang menghilang dalam kegelapan malam itu.. Aku mencoba menenangkan diri, menarik nafas dalamku berjalan ke kelompokku yang menungguku.

Sepertinya mereka memilih diam, dan ve juga tak banyak bicara.. Kami hanya berbincang sebentar dan saling mengucapkan apa yang kami rasakan selama ini.. Tanpa benih-benih romansa OMB tentunya, karena mereka yang katanya menyukaiku lebih memilih diam setelah melihat kejadian tadi. Sejenak kulihat dewa, kuputuskan untuk menghampirinya.
" aku kesana dulu ya "
" pulang sama siapa ta ?" niar bertanya padaku
" sama temen, kamu diantar mirza ajah, liya diantar ardian.. tolong ya antarin mereka " aku sudah melakukan pengumuman seenakku.. Liya memandangku memberi isyarat "terimakasih" sementara niar mulai terlihat malu-malu..

-----------------------------
" kenapa ?"
" eh.. belum juga sampe didepanmu. main samber ajah pakek kenapa ?" aku menajwab santai
" dia baik ta, bisa jagain kamu banget loh "
" aku punya alasan lain wa "
" dulu ?"
" nggak dong.. ada hal yang kadang nggak bisa diucapkan dan dimengerti "
" okelah kalo maumu gitu "
" makasih dewa, yuk pulang samaku " Aku mengandeng tangannya dan mengajaknya jalan berbarengan.
" eeh.. diliat orang loh "
" bodok ah.. yukk aah.. cepetan.."
" iyaaa bawel " dia mengusap kepalaku dengan kencang
" aduuuh.. rusak kerudungnya " aku membenarkan kerudungku dengan tangan kananku
" diiiih.. gitu doang juga udah manyun" dia mencubit pipiku
" aah.. udah ah.. "
" iyaa bawel "

Kami berjalan bersama dan bercanda, kali ini tak bergandengan.. karena terlalu berlebihan jika berlama-lama menggandengnya.

" taaa.. motorku kelewatan "
" diih.. kosku kan didepan.. antar aku dulu lah baru ambil motor"
" iyaa deh.. buat kamu apa yang nggak"
" gitu dong.."

Dia mengantarku sampa didepan kos dan dia berpamitan pulang.. Aku melihatnya dari kejauhan sampai dia benar-benar meninggalkan jalanan TMB dengan motornya dan aku beranjak masuk kedalam kos ku.

" taaa.. "aku sudah tau darimana asal suara itu, dia berjalan ke arahku.
" eh.. kamu dik.? kok belom pulang ?"
" iyaa.. nunggu kamu"
" heh.. ngapain nungguin aku ?" Dia diam sejenak, oh TUHAN jangan sampai banyak hati yang akan hancur malam ini, yang harusnya menjadi malam indah bagi mereka, justru menjadi malam penolakan yang sedikit mengecewakan.
" kamu nggak harus jawab, aku mau kamu tau ajah. udah cukup"
" maaf dik" aku hanya bisa menajwab lemah (lagi)
" iya aku tau. tapi aku nggak tau kenapa ini cepet ta.. aku mau kamu tau kalo aku suka kamu.. makasih ya ta " dia mengucapkannya secara perlahan dan hati-hati
" maaf dik.. aku nggak bisa balasnya "
" iyaa.. aku ngerti." dia berkata pelan, sejenak hening diantara kami. Dia menghela nafas panjang..
" akhirnya aku bisa tenang taa.. makasih ta.. udah ijinin aku bilang ini " dia tersenyum dengan hangat kepadaku
" iya dik.. maaf ya"
" iya taa.. nggak apa2. aku nggak maksa, kamu nggak jauhin ajah udah sukur" dia tersenyum lagi, kali ini lebih tenang.
" tenang ajah.. kalo itu nggak kok, asal kamu nggak nekat ajah "
" kenapa kalo nekat emangnya ?" kali ini dia tertawa
" aku timpukin sandal mau ?"
" aah.. sadis mu nggak berkurang ternyata"
" emang.. salahnya godain aku. dah tau aku sadis. weekk"
" abis asik sih. hahaha"
" enak ajah" jawabku jutek
" makasih ya taa. aku pamit balik dulu yaa " dia melemparkan senyum terbaiknya malam itu.
" iyaa.. hati2 yaa dik"
" iyaa. kamu masuk loh. dingin ini"

Aku mengangguk meng"iya"kannya.. Aku masuk kedalam kosanku.. melemparkan tasku dan semua yang menggantung dibadanku.. Kurebahkan badanku dilantai sejenak, menenangkan pikiranku dari perasaan bersalah atas mereka, maafkan aku.. Ku aktifkan hapeku, berpikir mungkin dewa akan sms dan bisa meredahkan perasaanku yang kacau malam ini.. Namun aku justru tak mendapatkan yang aku inginkan.. Ada sms masuk di hapeku, langsung ku buka,ve :

" aku udah liat dua orang yang kecewa malam ini dan kayaknya aku bakalan bernasib sama nih.. selamat tidur etaa emoticon-Big Grin "

Ternyata dia menunggu ku juga malam ini, aku sejenak merasa bersalah dengan keadaan ini.. Aku tak mengerti kenapa mereka bisa memiliki rasa itu, jika dari fisik aku tak seperti liya dan niar, liya mempunyai kulit putih, waja manis, hidung mancung, senyum menawan dan postur tubuh yang tinggi semampai sementara niar berkulit putih, waja mungil, mata bulat yang indah, hidung mancung, bibir mungilnya yang menawan dan postur tubuh mungilnya yang menggemaskan. Sementara aku, warna kulitku saja sawo anyep, ukuran mata dibawa rata-rata ( agak sipit ), idung kecil ( pembenaran dari pesek ), bibir tebal, pipi tembem dan postur tubuh yang berlebih ( pembenaranku semok ). sungguh perbandingan yang jauh sekali, aah. memikirkan hal itu membuatku pusing.
Diubah oleh dausin 15-04-2014 15:23
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.