Kaskus

Story

jumpingwormAvatar border
TS
jumpingworm
• •• •• •
emoticon-Hot Newsemoticon-rainbowemoticon-rainbowemoticon-rainbowemoticon-rainbowemoticon-rainbow 6th Story emoticon-rainbowemoticon-rainbowemoticon-rainbowemoticon-rainbowemoticon-rainbow
Spoiler for "The Menu":


emoticon-Matahariemoticon-Matahariemoticon-Matahariemoticon-Matahariemoticon-Matahari5th Story : Wrap Your Heartemoticon-Matahariemoticon-Matahariemoticon-Matahariemoticon-Matahariemoticon-Matahari
Spoiler for "The Menu":


emoticon-kucingemoticon-kucingemoticon-kucingemoticon-kucingemoticon-kucing4th Story : Irreplaceable emoticon-kucingemoticon-kucingemoticon-kucingemoticon-kucingemoticon-kucing
Spoiler for The Menu:
Diubah oleh jumpingworm 16-07-2017 00:41
anasabilaAvatar border
samsung66Avatar border
samsung66 dan anasabila memberi reputasi
2
102.8K
1.3K
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.9KThread53.7KAnggota
Tampilkan semua post
jumpingwormAvatar border
TS
jumpingworm
#1237
24. Setelah Sekian Lama
"Ms. Cheri...?" sebuah suara memanggilku perlahan. "Boss wants to see you."

Aku menoleh sekilas dan tersenyum kecil.
Setelah memastikan penampilanku rapi, aku melenggang ke ruang kerja atasanku.

"Excuse me,..." kataku setelah mengetuk pintu ruang Ms.Svetlana.

"Yes, Cheri. Please, come in." Ms. Svetlana bangkit dari kursi dan mengambil seberkas file dari mejanya."How's work? Betah kerja di sini?"

Ms. Svetlana menyunggingkan senyumannya.
Oke, mungkin aku terlalu banyak menonton Serial TV Barat atau novel Chicklit.
Tapi sejauh yang kutahu, ketika seorang atasan menanyakan 'kebetahan' kita di kampus, hanya ada dua maksudnya.
Mau memecat, atau mau memberikan tugas yang pahit.

"Iya, ... saya betah banget." aku menjawab setegas mungkin untuk sekedar menunjukkan aura percaya diri; berjaga-jaga jika alasannya adalah yang pertama alias mau

memecatku.

"Good. Saya juga lihat kamu punya potensi besar. Untuk itu, saya mau menawarkan promosi untuk kamu."

Aku agak melongo sambil berusaha mencerna maksud kalimat Ms. Svetlana.

"You heard me. Saya mau menaikkan jabatan kamu."

"Maaf,... kalau saya boleh tahu detailnya?" aku memastikan dengan hati-hati.

"So,... we're going to host a party. Lebih tepatnya ekspansi perusahaan bertepatan di Anniversary company IRX. Untuk itu, saya perlu tenaga kamu sebagai salah

satu ambassador dari Indonesia untuk menjadi tim inti Annual Party ini."

"Jadi tugas saya bukan sekedar membuat design?"

"Lebih tepatnya, kamu akan saya promosikan menjadi Creative Director nantinya. Jadi kalau saya evaluasi dari performa kamu, sangat disayangkan bakat komunikasi

kamu terkurung di balik meja. You will be the face of the company. Tanamkan salah satu ciri khas kamu dalam keseluruhan design perusahaan kita nantinya."

Aku gelagapan berusaha menggapai realita sambil sedikit melirik ke kalender meja kalau-kalau ini tipuan April's Fool dari si Boss.
Untungnya April Mop sudah lewat.

"Baik, dengan senang hati saya bersedia." aku menanggapi dengan antusias.

"Good." Ms. Svetlana tersenyum puas dan anggun. "Since you've said yes, nanti sore kita akan kedatangan mentor kamu dari Indonesia dulu. Mentor kamu sepakat untuk

membimbing kamu dalam persiapan tahap awal dan brainstorming untuk keseluruhan ide ini."

"Mentor... ?" aku merenyitkan dahi.

"Mr. Grandy Rahardja. Does that name ring a bell?"

Sontak jantungku melonjak sedikit mendengar nama itu.
Rasa girang mendadak menyeruak karena akan bertemu lagi dengan Pak Grandy setelah sekian lama.
Sudah 3 bulan lebih sejak aku meninggalkan Jakarta dan sejak itu kami tidak pernah absen ngobrol lewat social media setidaknya seminggu sekali.
Aku juga sering berkonsultasi kepada beliau mengenai project yang sedang kukerjakan.

"He will be staying next to your place." Ms.Svetlana melanjutkan tanpa melepaskan pandangannya dari layar MacBook.

"Di Apartemen saya?"

"Iya. Kami sudah arrange, tempat tinggal kamu memang fasilitas dari kantor IRX kami untuk karyawannya agar lebih efisien me-manage jarak. Maka itu, rasanya lebih

pas jika Mr.Grandy tempatnya berdekatan dengan kamu agar mempermudah komunikasi." lirikan Ms.Svetlana seolah mengatakan 'this is an order'.

"Baik, saya mengerti." aku mengangguk penuh hormat dan kembali ke meja kerjaku.

Hal pertama yang kulakukan adalah meraih smartphone dan melayangkan pesan singkat ke Pak Grandy.

"Kenapa Bapak nggak bilang bakal ke Singapura sore ini untuk kerjain project bareng saya?"

Balasan datang tidak lama kemudian.

"Who told you? Yahh,...batal surprise nya deh :'("

Aku tertawa kecil melihat respon dari Pak Grandy.
Seperti inilah kondisi kami yang memang sudah rutin saling mengobrol layaknya teman dibanding kolega.
Jika ditanya selain ini adakah hal yang berubah diantara kami, jawabannya adalah tidak.
Entah dengan Pak Grandy, tapi bagiku di sini yang larut dalam pekerjaan sambil sesekali bersosialisasi lewat sosmed tentu tidak ada waktu untuk menjalin hubungan

spesial dalam bentuk apapun.

Pernah beberapa kali Pak Grandy dengan candaannya ala-ala bujangan tahun 80an mencoba untuk menggodaku.
Tapi bagiku yang sudah sering mengobrol, hafal baik dengan karakternya yang memang sesama melepas stress dengan candaan yang sedikit flirting.
As long as it's acceptable, aku tidak ambil pusing.

Jam berlalu agak cepat hari ini.
Tiba sekitar pukul 8 malam, tepat seusai bekerja aku berjalan kembali ke apartemenku yang terletak di lantai 7.
Sesudah berbaring di kasur dan meletakkan kepala sejenak, aku teringat kembali dengan Pak Grandy.
Kulirik smartphone yang LEDnya berkedip sayup-sayup.

"I'm already in Singapore, dan sedang move in ke unit apartemennya. Jam berapa kamu selesai kerja? Text me when you're home."

Kulirik keterangan waktu pada pesan itu bertuliskan 3 jam yang lalu.
Itu artinya, Pak Grandy sudah pindah ke sebelah dan mungkin sedang beberes.
Mungkin aku bisa menawarkan diri untuk membantunya berberes barang.

Segera setelah aku mandi singkat agar segar, aku mengenakan pakaian santai.
Awalnya aku ingin mengenakan celana pendekku, tapi mengingat posisi Pak Grandy yang masih merupakan atasanku, kuputuskan untuk mengenakan celana panjang santai

berbahan katun dan t-shirt bali yang nyaman.

Kuketuk pelan pintu apartemen yang berwarna cokelat tua itu.
Sekilas kudengar suara TV dari dalam, yang menandakan ada orang di sana.
Suara shower mengucur dari kamar mandi di dalam.

"Permisi..." aku menyapa sambil menekan bel.

Terdengar suara orang mendekati pintu dan kemudian kuncinya diputar.
Aku tersenyum lebar dan bersiap-siap menyapa ketika kulihat siapa yang berdiri di hadapanku.
Seketika nafasku terhenti dan senyum menghilang dari wajahku.
Orang yang selalu berada di urutan teratas dalam pikiranku, tapi berada di urutan terakhir orang yang paling ingin kutemui sekarang.
Bukan hanya itu, dia berdiri dengan rambut yang masih basah, otot perut yang tidak pernah berubah kerennya sejak terakhir kali kulihat, dan handuk putih yang

membelit pinggangnya.
He's Sammy.
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.