Kaskus

Story

dausinAvatar border
TS
dausin
Dia... Masa lalu yang indah..
2007

Aku berjalan menyusuri kota yang asing bagiku dan saat itulah aku mengenalnya, hanya dengan seutas senyum yang aku berikan di antrian salah satu fastfood di kota itu. Dia yaaa.. dia datang selamanya dalam hidupku tanpa aku bisa menduga bahkan membayangkannya.. dan aku ingin mengenangnya lewat sedikit tulisan yang akan aku torehkan ini..

Tahun Pertama - Kenangan
Spoiler for Tahun Pertama:


Tahun Kedua- Lembaran yang terungkap
Spoiler for Tahun kedua:


Tahun Kedua- Cinta yang bersemi
Spoiler for cinta:



bersambung ( ada urusan bentar )
Diubah oleh dausin 28-05-2014 11:17
anasabilaAvatar border
anasabila memberi reputasi
1
10.7K
126
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.7KThread52.5KAnggota
Tampilkan semua post
dausinAvatar border
TS
dausin
#59
Aku bangkit
Kami lebih banyak menghabiskan waktu sibuk dengan diri sendiri, karena memang sudah terbiasa dengan kondisi bersama tapi hanya diam saja.. entah kenapa dewa tak pernah bosan jika bersama ku walau tanpa berbicara sekalipun. dasar dewa.. Saat ini saja aku asik membaca buku dan dia asik dengan mainannya yang entah apa pun aku tak tau dan tak mau tau..

" taaa.. "
" hemmmm.. "
" aku mau beli goreng diwarung depan "
" yaudah geh sana, pake lapor segala "
" judes amat sih. cuma bilang doang ajah udah ngerep "
" bodok "
" dasar baweeelll " dia menarik hidungku sebelum pergi membeli gorengan dan aku hanya bisa pasrah tanpa pembalasan.

sekitar 20 menit kemudian dewa sudah kembali dengan gorengan yang masih panas didalam plastik yang dibawanya dan seperti kuduga, sebagian gorengan yang dibelinya merupakan kesukaanku.. Ah.. dewa kenapa hidupmu cuma kau habiskan untuk mengetahui semua hal tentangku yang sayangnya aku tak pernah tau tentangmu. Aku bergegas mengambil piring untuk tempat gorengan yang dibawanya, berhubung masih panas aku mengurungkan niat untuk melahapnya.. Setidaknya hal itu juga yang dilakukan dewa.

" kok lama wa belinya ?"
" iyaa.. abis, baru digoreng soalnya "
" ooh.. kiraen kamu emang minta digorengin yg baru "
" nggak kok "

Aku mulai mengambil bakwan ( ote-ote kalo orang surabaya bilangnya ) yang sudah sedikit dingin, ku makan berbarengan dengan cabai dengan begitu lahap.
" pelan-pelan taa.. masih panas loh "
" ekmm iyaaa wa "
" rakus amat " ku balas dia dengan cengiran manisku dan dia hanya senyum sambil menggelengkan kepalanya.. Selesai aku melahap bakwanku, aku mencoba membuka obrolan tentang rahma.. sudah lama tak kudengar namanya semenjak kami disini.. Dahulu setiap saat dia berbicara tentang rahma, bercerita, curhat minta pendapat apalah, bahkan hapeku pun jika bisa berbicara akan bilang " eloo lagi.. elo lagi yang buat gue lowbat " dan tak ajrang emak atau adekku berkata " sebenernya siapa sih yang pacaran ? kakak apa rahma ? kok tiap detik, menit, jam, hari tlpnya sama kakak ?" dan yaa.. aku hanya bisa berkata " lagi galau dia tiap saat " dengan jawaban sekenanya cuek bebek..

" wa... "
" iya.. "
" gimana rahma.? dia masuk mana jadinya.? aku denger dia nggak keterima di U** ya.? "
" eh.. dia masuk H***P**. "
" itukan swasta wa, kalo nggak salah maya, dia, rara, lisa juga kesono.?"
" iya ta, mereka barengan. beda kelas n jadwal masuk keknya "
" oooh.. kiraen bareng "

Dan tiiiiiiiiiiiittttttt... obrolan rahma sampai disini saja sedikitpun dewa tak menyinggungnya.. Aku bahkan tak mendengar hapenya berdering dari tadi, justru hapeku yang penuh dengan sms emak atau temanku maya, ya maya teman terbaikku selain dewa hanya saja maya tak semuanya tau tentang hidupku dan hanya dewa yang sepenuhnya tau bagaimana kehidupanku. Sampai kali ini dia mengingatkan ku dengan hal yang mulai aku ubah dalam hiduku.

" taaa.. "
" yaa.. " jawabku semangat.
" masih kambuh ?"
" apanya wa.? " tanyaku bingung
" si B ? " Aku tercengang mendengar dewa mengucapkan inisial dari apa yang aku derita selama ini. Namun aku berusaha menormalkan pikiranku dan menanggapinya dengan sedikit santai.
" belom sih.. tapi kalo kambuh kan ada kamu " aku ternyum ceria kepadanya
" aku nggak mau kamu kambuh lagi ta " jawabnya dengan nada datar
" ........."
" taaaa... "
" heemmmm.. "
" aku bakal lebih sibuk dan kamu juga.. kalo kamu kambuh, aku takut nggak bisa selamanya ada buatmu " jawabnya lirih.
" udah ah.. bahas apa sih " aku mencoba keluar dari topik yang mulai tidak mengenakan ini.
" aku serius ta.. kamu jangan kambuh ya " masih dengan suara datarnya
" iyaaa.. iyaaa.. aku nggak bakal kambuh kok.. cukup yang kemaren ajah yang sekarang bakal lebih aku kontrol.. " aku mencoba meyakinkannya dengan senyum yang mengembang.
" makasih ya ta " dia berusaha tersenyum walau terlihat pahit, tapi ya sudahlah setidaknya kecemasannya berkurang.
" iyaa loh wa.. harusnya aku yang makasih "
" udah ah ta.. nanti kamu kumat lagi kalo bahas ini " serganya
" diiiiiih.. dianya yang bahas.. kok aku yang disalahin " sewotku
" siapa yang nyalahin kamu loh.. dasar bawel " dia masih melakukan kebiasaannya
" tauk ah " aku membalasnya dengan ekspresi ngambek. dia hanya tersenyum melihat tingkahku yang menurutnya lucu.
" geh.. abisin gorangnnya "
" iyaa.. pelan-pelan dong "
" kan biar semok katanyaa.. eh.. udah semok kok yaaa .. hahahaha " dia selalu saja mengejek kalo urusan badanku -.-a sialan

Tanpa sadar aku mulai merangkai kejadian itu..

----------------------------------
2007
Pagi itu dikamar yang sama selama 2 minggu ini aku mencoba bertarung dengan jiwa ku lebih tepatnya aku melawan penyakitku dan aku hampir saja kalah. Aku berada pada fase depresi yang harus aku lawan dengan sekuat tenaga, dimana fase ini tak pernah aku harapkan dalam hidupku. Setiap hari aku harus meminum anti depresan ataupun mood stabilizer agar aku tidak melakukan tindakan berlebihan terhadap diriku, namun terkadang obat itu sia-sia.. Aku sudah melakukan percobaan bunuh diri sebanyak 5 kali terhadap diriku selama 2 minggu ini dan selalu saja ada dia disaat itu terjadi, dia mencoba menenangkanku dan berupaya menjagaku.

Sempat dia membawaku ke psikolog namun itu hanya bertahan sementara ya sementara karena faktor utama penyakitku berasal dari dalam hatiku, hatiku yang terluka.. Namun kali ini hatiku sudah bisa menerima sedikit saja rasa luka itu.. Karena dia, dia yang duduk didepanku yang dengan sabar membasuh diriku yang sudah tak berdaya bahkan sudah tak menginginkan apapun lagi. Aku berusaha memandangnya lebih lama, entah apa yang ada dalam benakku. Sepertinya aku mulai kembali kealam nyata, alam dimana aku bisa melihat sekeliling kamarku dengan jelas dan melihatnya dengan jelas. dan sangat jelas, wajahnya yang tenang dan penuh kasih membuatku sadar bahwa aku masih berarti bukan untuk yang menganggapku tak berarti tapi untuk dia yang ada didepan..

Dan.. kujatuhkan air mataku..
" taa.. kamu kenapa.? " Isak ku mulai tak tertahan lagi atas penyesalanku terhadapnya yang rela menghabiskan waktunya untukku.
" maa...maaf... ma..afin a..ku " aku mencoba mengeluarkan suara parauku, entah sudah berapa lama aku tak bersuara sehingga untuk mulai bersuara lagi pun aku susah.
" iya ta.. nggak apa.. sudahlah.. sudah ta.. jangan gini " dia mulai memasu airmataku.
" ma..afin.. aku..wa " aku menangis dipeluknya untuk kesekian kali dalam waktu sulitku, tapi kali ini aku sadar.. aku sadar dia ada disisiku.. bahkan aku sadar dia ada untukku..
" nggak ada yang salah ta.. nggak ada.. kamu baik.. kamu nggak salah " dengan sabar dia selalu membujukku dan membuatku menjadi lebih baik. aku hanya diam terisak dipelukannya..
" sudahlah ta.. sudah.. aku akan lebih senang kalo kamu tersenyum " dia melepaskan ku dari peluknya dan mmasih menghapus air mataku seperti seorang kakak yang sedang mendiamkan adiknya yang menangis karena kehabisan permen..

Aku mencoba menguntai senyum dalam tangisku.. " sekarang kamu cukup berkata terimakasih dan aku juga gitu.. jangan pernah bilang maaf ta karena kamu akan miliki aku ta sampe kapanpun. " entah kenapa aku ingin mengucapkan kata seakan aku tak mau kehilangannya " janji wa ?"
" aku akan berjanji semampuku ta "
" makasih wa " setidaknya kata-kata dewa sedikit membuatku lebih berarti.
" dan kamu jangan mau kalah dari penyakitmu ya ta " Aku hanya menganggup sekuat tenagaku, tepatnya tenagaku yang tersisa..
" kamu mau mandikan ta.?" aku mengangguk lemah.

Aku berusaha membersihkan diriku dengan sisa tenaga yang aku punya.. beberapa waktu ini aku tak suka makan dan tak suka melakukan apapun, aku hanya suka bermain dalam duniaku sendiri.. itulah aku, punya sejuta kehidupan yang tak diketahui semua orang dan kini sebagian kehidupanku aku bagi. Selesai aku membersihkan diriku, dewa berusaha mengajakku untuk menatap cermin yang ada dikamarku yang selama ini dia sembunyikan dariku, karena jika tak menyembunyikannya maka aku akan dengan nekat memcahkannya dengan tanganku dan mencoba menyayat diriku dengan kepingannya, ya aku gila saat itu dan benar-benar gila.

" cobalah ta.. kamu manis dan menarik " Aku hanya diam menyiapkan sekuat tenaga menatap cermin yang ada dihadapanku. " dia tak mengerti ta, dia terlalu bodoh untuk kau tangisi.. lagian kau pintar, kenapa menangisinya yang bodoh.. mending kau tangisi aku " dia masih bisa bercanda disela-sela perkataannya.. aku hanya tersenyum melihatnya..
" taa.. kau tersenyum.. cak liat.. maniskan ?" godanya kepadaku.. dan aku hanya mencoba menyisihkan sebagian hatiku untuknya, biarkan dia mengisinya hingga aku bisa memendam luka ini.

Setelah beberapa saat kami melihat ke cermin, aku merasa.. ya betapa bodohnya aku meratapi kesedihan yang tak berujung membiarkan penyakitku menang hanya karena dia yang tak pernah menghargai semua yang telah kami bangun.. Aku benar-benar berani memutuskan untuk menjadi diriku yang lebih kuat dan terkendali tanpa obat dan tanpa apapun hanya saja dengan bantuan dewa.. Pengharapan dewa membuatku sadar bahwa aku memang berharga dan bisa bahagia ( sesaat dalam setiap hidupku ) lagi...

Aku mulai mencoba mengendalikan emosiku, dewa membuang semua obatku dan mencoba membersihkan kamarku agar lebih terlihat tidak suram seperti dahulu.. Aku memang masih terlena dengan penyakitku namun aku mencoba memeranginya dengan sekuat emosiku. Dan haru itu.. dalam hidupku, aku berjanji " aku akan bahagia selamanya "

----------------------------------------------------------------

Malam yang aku lewatkan dengan dewa biasa saja, karena memang aku menganggapnya sahabat dan dia mengerti itu.. hanya sesekal candaan kami lontarkan dan seperti biasa kami memang selalu suka bercanda dan berbagi.. Namun Surabaya menjadi kota yang aneh bagiku, kenapa aku ingat masalalu, kenapa dewa memberikan pengakuan cintanya dan kenapa semua diSurabaya setelah terkubur sekian lamanya..
Diubah oleh dausin 08-04-2014 10:15
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.