- Beranda
- Stories from the Heart
Ketika Cinta Berkata (Ep.II Kakakkus BosKu KekasihKu) [Based on True Stories]
...
TS
lemot2010
Ketika Cinta Berkata (Ep.II Kakakkus BosKu KekasihKu) [Based on True Stories]
Spoiler for cerita sebelumnya:
Aku suka deh dengan Love Bird..
Kamu tau kenapa??
Karena Love Bird itu Burung yang paling setia dengan pasangannya..
Dia tak akan pernah mencari pasangan lain..
Kalau salah satu dari mereka mati.. Maka yang lainnya tidak akan mencari pasangan lain...
Bahkan salah satunya pasti akan mati juga..
Kata-katamu selalu terngiang dlm hati ku..
Cinta...
Cinta itu Terdiri dari Dua Kata Hidup
Dan Tiga Kata Mati....
Kamu tau Artinya??
Cinta itu adalah...
Dua Insan yang siap..
Sehidup semati...
Seperti Love Bird...
Sayang...
Spoiler for indeks:
Spoiler for My cerpen:
Diubah oleh lemot2010 16-05-2014 08:16
anasabila memberi reputasi
1
38.4K
287
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
lemot2010
#43
Sceen VII : Memori yang hilang
Wajah manis yang selalu terbayang itu hadir kembali. Hadir.. Dan selalu hadir dalam setiap kesempatan. Lesung pipinya yang manis menghiasi senyumnya membuat Ia tak bosan di pandang.. Begitu indah.. Ya.. Begitu indah untuk dilupakan wajah semanis itu.. Namun kenapa tak satu memoripun tertinggal ketika aku bertemu semasa kecil??
"Rara.. Kamu pernah ada ingat ga kita pernah bertemu sewaktu kecil??" Tanyaku iseng. Ketika kita lagi jalan-jalan ke pantai.
"Hmmm.. " Rara mencoba berpikir keras.
"Kayaknya tidak.." Lanjutnya.
Guubraak.. Ku pikir dia ada ingat sedikit saja memori yang tertinggal.. Padahal waktu ia mencoba mengingat seolah-olah Ia ada ingat sesuatu
:
Ya sudahlah... Toh udah lama banget..
"Memangnya kenapa Ndre? " Gantian Rara balik bertanya.
"Aaah ga.. Cuma iseng aja nanya" jawabku.
Aku sendiri masih penasaran.. Rasanya dia begitu dekat dan familiar denganku.. Ntahlah... Mungkin cuma perasaan.. Perasaan karena aku memang sudah cinta sama dia..
"Tangan kamu hangat yaa.." Sahut Rara ketika menggenggam tanganku.
"Ntah kenapa aku nyaman banget gandengan sama kamu seperti ini Ndre..." Tambahnya..
"Aaah aku juga Ra.. Aku juga nyaman banget dekat sama kamu.. Bahkan aku seperti sudah lama banget kenal sama kamu.." Batinku.
"Eeeh gimana kabar Roni Ra?? Tumben kamu tidak ada komunikasi sepertinya?" Tanya ku mencoba mencari info, karena beberapa hari ini dia tak ada kontek sama kekasihnya itu.
Tiba-tiba Ia melepas genggaman tangannya.
"Kamu kenapa? Are u ok? " Tanya ku.
"Aku sudah putus Ndre.." Jawabnya singkat sambil tersenyum paksa.
"Uups sorry.. Aku ga maksud "kepo" dan buat kamu sedih.." Sesalku.
"Hahaha.. Tidak apa-apa kok Ndre.. " Jawabnya Riang.
"Aku senang malah.." Sambungnya.
Kok malah senang ya?? Kali ini aku yang bingung, garuk-garuk kepalaku yang tidak gatal.
"Hahahaha... Kamu ini ya.. Kebiasaan.. Kamu kalau lagi mikir selalu ya garuk kepala??" Rara tertawa manis di depanku, dan itu sedikit membuatku lega.
"Aku boleh nanya ga Ra??" Tanya ku hati-hati.
"Ya?? Tanya aja.." Jawabnya sambil menggenggam tanganku lagi.
"Memangnya kapan kalian putus??" Tanyaku hati-hati.
"Sewaktu kita ketemu terakhir di gelanggang pemuda.. Ketika ada acara itu.. Trus kita ke cafe tepi laut itu lho.." Jawabnya sambil meletakkan kepalanya di bahuku.
"Ooooh.. Waktu itu??" Jawabku.
"Tapi kamu kok happy aja waktu itu?? Kamu bahkan ketawa Riang saat kita di cafe itu.." Tanyaku hati-hati agar tidak menggores perasaan wanita yang sangat ku cintai ini.
"Bukan karena aku kan Ra.." Tambahku.
"Aku senang banget Ndre.. Ntah aku sendiri bingung.. Kenapa aku tidak sedih.. Mungkin karena ada kamu kali ya Ndre...??" Jawabnya semakin meletakkan kepalanya di bahu kiriku.
"Ga karena kamu juga kok.. Kita udah ga cocok Ndre..." Tambahnya.
"Ga cocok.. Beda keyakinan??" Timpalku hati-hati.
"......"
"Iya beda keyakinan.. Dia yakin kalau Lu sayang dia.. Dan elu ga yakin dengan perasaan Lu sendiri.." Sambungku sambil bercanda.
"Sialan Lu Ndre.." Tandasnya sambil menepuk bahuku sambil tertawa lepas.
"Aku senang kamu bisa happy Ra.." Aku mencoba untuk tidak gugup mengatakannya.
"Kamu emang aneh ya Ndre..." Sahut Rara.
"Yaa.. Emang.." Jawabku sambil ngakak.
"Eeh.. Aku mau nanya Ra.. Tapi tolong jujur..." Sambungku mencoba terlihat sangat serius.
"Ya tanya aja... " Jawabnya.
"Kamu makin aneh kalau seperti itu Ndre.. Ahahhaha.. " Rara malah ngakak keras.
"Kamu nganggap aku siapa Ra?? Yaa diluar jam kerja.. " Sambungku tak peduli tawanya yang lepas.
"Hmmm... Aku sendiri bingung Ndre..." Jawabnya pelan sambil memelukku erat, seolah tak ingin kehilanganku.
Kubalas pelukannya, erat dan tulus.. Serta ku usap lembut rambutnya yang hitam tebal terurai.
"Aku nyaman banget sama kamu Ndre.. Kamu lain.. Hangat dan nyaman.. Ntah apa perasaanku ini sama kamu Ndre.. " Jawab Rara semakin erat memelukku.
"Maaf Ra.. Aku ga maksa kamu menjawab kok.. Aku juga nyaman sama kamu... Aku sayang banget sama kamu Ra.. Dan aku ga butuh jawaban kamu.. " Jawabku sambil memeluk Rara dan mengusap rambutnya.
"Aaaauch.." Teriakku..
"Kenapa Ndree...??" Tanya Rara seketika dan panik serta melepas pelukannya yang erat.
"Aaaauuch... Kutu kamu gigit tangan aku.... " Candaku sambil ngakak
"Sialan Lu..." Jawabnya semakin memelukku erat.
"Ra... Sesak... " Sahutku perlahan.
"Hahahahaha..." Tawa lepas Rara semakin erat memelukku.
Wajah manis yang selalu terbayang itu hadir kembali. Hadir.. Dan selalu hadir dalam setiap kesempatan. Lesung pipinya yang manis menghiasi senyumnya membuat Ia tak bosan di pandang.. Begitu indah.. Ya.. Begitu indah untuk dilupakan wajah semanis itu.. Namun kenapa tak satu memoripun tertinggal ketika aku bertemu semasa kecil??
"Rara.. Kamu pernah ada ingat ga kita pernah bertemu sewaktu kecil??" Tanyaku iseng. Ketika kita lagi jalan-jalan ke pantai.
"Hmmm.. " Rara mencoba berpikir keras.
"Kayaknya tidak.." Lanjutnya.
Guubraak.. Ku pikir dia ada ingat sedikit saja memori yang tertinggal.. Padahal waktu ia mencoba mengingat seolah-olah Ia ada ingat sesuatu
: Ya sudahlah... Toh udah lama banget..
"Memangnya kenapa Ndre? " Gantian Rara balik bertanya.
"Aaah ga.. Cuma iseng aja nanya" jawabku.
Aku sendiri masih penasaran.. Rasanya dia begitu dekat dan familiar denganku.. Ntahlah... Mungkin cuma perasaan.. Perasaan karena aku memang sudah cinta sama dia..
"Tangan kamu hangat yaa.." Sahut Rara ketika menggenggam tanganku.
"Ntah kenapa aku nyaman banget gandengan sama kamu seperti ini Ndre..." Tambahnya..
"Aaah aku juga Ra.. Aku juga nyaman banget dekat sama kamu.. Bahkan aku seperti sudah lama banget kenal sama kamu.." Batinku.
"Eeeh gimana kabar Roni Ra?? Tumben kamu tidak ada komunikasi sepertinya?" Tanya ku mencoba mencari info, karena beberapa hari ini dia tak ada kontek sama kekasihnya itu.
Tiba-tiba Ia melepas genggaman tangannya.
"Kamu kenapa? Are u ok? " Tanya ku.
"Aku sudah putus Ndre.." Jawabnya singkat sambil tersenyum paksa.
"Uups sorry.. Aku ga maksud "kepo" dan buat kamu sedih.." Sesalku.
"Hahaha.. Tidak apa-apa kok Ndre.. " Jawabnya Riang.
"Aku senang malah.." Sambungnya.
Kok malah senang ya?? Kali ini aku yang bingung, garuk-garuk kepalaku yang tidak gatal.
"Hahahaha... Kamu ini ya.. Kebiasaan.. Kamu kalau lagi mikir selalu ya garuk kepala??" Rara tertawa manis di depanku, dan itu sedikit membuatku lega.
"Aku boleh nanya ga Ra??" Tanya ku hati-hati.
"Ya?? Tanya aja.." Jawabnya sambil menggenggam tanganku lagi.
"Memangnya kapan kalian putus??" Tanyaku hati-hati.
"Sewaktu kita ketemu terakhir di gelanggang pemuda.. Ketika ada acara itu.. Trus kita ke cafe tepi laut itu lho.." Jawabnya sambil meletakkan kepalanya di bahuku.
"Ooooh.. Waktu itu??" Jawabku.
"Tapi kamu kok happy aja waktu itu?? Kamu bahkan ketawa Riang saat kita di cafe itu.." Tanyaku hati-hati agar tidak menggores perasaan wanita yang sangat ku cintai ini.
"Bukan karena aku kan Ra.." Tambahku.
"Aku senang banget Ndre.. Ntah aku sendiri bingung.. Kenapa aku tidak sedih.. Mungkin karena ada kamu kali ya Ndre...??" Jawabnya semakin meletakkan kepalanya di bahu kiriku.
"Ga karena kamu juga kok.. Kita udah ga cocok Ndre..." Tambahnya.
"Ga cocok.. Beda keyakinan??" Timpalku hati-hati.
"......"
"Iya beda keyakinan.. Dia yakin kalau Lu sayang dia.. Dan elu ga yakin dengan perasaan Lu sendiri.." Sambungku sambil bercanda.
"Sialan Lu Ndre.." Tandasnya sambil menepuk bahuku sambil tertawa lepas.
"Aku senang kamu bisa happy Ra.." Aku mencoba untuk tidak gugup mengatakannya.
"Kamu emang aneh ya Ndre..." Sahut Rara.
"Yaa.. Emang.." Jawabku sambil ngakak.
"Eeh.. Aku mau nanya Ra.. Tapi tolong jujur..." Sambungku mencoba terlihat sangat serius.
"Ya tanya aja... " Jawabnya.
"Kamu makin aneh kalau seperti itu Ndre.. Ahahhaha.. " Rara malah ngakak keras.
"Kamu nganggap aku siapa Ra?? Yaa diluar jam kerja.. " Sambungku tak peduli tawanya yang lepas.
"Hmmm... Aku sendiri bingung Ndre..." Jawabnya pelan sambil memelukku erat, seolah tak ingin kehilanganku.
Kubalas pelukannya, erat dan tulus.. Serta ku usap lembut rambutnya yang hitam tebal terurai.
"Aku nyaman banget sama kamu Ndre.. Kamu lain.. Hangat dan nyaman.. Ntah apa perasaanku ini sama kamu Ndre.. " Jawab Rara semakin erat memelukku.
"Maaf Ra.. Aku ga maksa kamu menjawab kok.. Aku juga nyaman sama kamu... Aku sayang banget sama kamu Ra.. Dan aku ga butuh jawaban kamu.. " Jawabku sambil memeluk Rara dan mengusap rambutnya.
"Aaaauch.." Teriakku..
"Kenapa Ndree...??" Tanya Rara seketika dan panik serta melepas pelukannya yang erat.
"Aaaauuch... Kutu kamu gigit tangan aku.... " Candaku sambil ngakak

"Sialan Lu..." Jawabnya semakin memelukku erat.
"Ra... Sesak... " Sahutku perlahan.
"Hahahahaha..." Tawa lepas Rara semakin erat memelukku.
0