- Beranda
- Stories from the Heart
Kumpulan Cerita Pendek Kehidupan - realeyes
...
TS
realeyes
Kumpulan Cerita Pendek Kehidupan - realeyes

Halo kakak2 semua, perkenalkan saya realeyes. 
Disini saya akan share karya2 kecil saya. Cerita-cerita ini berdasarkan pengalaman saya, jadi maaf ya kalau ada beberapa nantinya yang terkesan kelam dan agak aneh
Saya juga berharap support dari kakak2 semua. Karena tujuan saya disini adalah mengembangkan kembali bakat dan minat menulis saya. Setelah vakum 3 tahun menulis cerita dikarenakan sibuknya aktivitas kuliah
Kalau ada kritik saya juga akan terima, tapi saya mohon tolong kritiklah yang membangun dan jangan menjatuhkan, karena saya butuh motivasi untuk mewujudkan cita-cita saya menjadi penulis novel fantasi
Mungkin hanya itu sekilas info tentang saya dan maaf kalau threadnya berantakan dan jelek, saya masih belajar disini


Mari berteman

















=============================================================================
[INDEX]
1.Pengemis Lumpuh

2.Pukulan Telak di Dada Kiri
Diubah oleh realeyes 10-04-2014 00:48
anasabila memberi reputasi
1
2.4K
4
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
realeyes
#1
Jalanan hari ini seolah membakar ban motor. Kendaraan roda dua itu menguarkan bau karet, aku berhenti sejenak menikmati, mengendus, bau yang agak eksotis itu. Aku tidak punya pilihan kan? Saat ini aku terjebak kemacetan dan hanya itu yang bisa kulakukan demi menghindari gejolak untuk turun dan menendang motor di belakangku yang sedari tadi membunyikan klakson.
Apakah dia buta? Klakson hanya akan menambah kebisingan.
Aku menghela nafas dan melirik mobil Honda Jazz disamping kananku yang juga berhenti. Hanya satu orang disana, hanya pengemudi, dan dia menikmati sejuknya AC sementara kendaraannya memakan jatah untuk dua motor, aku hanya bisa mendesis kesal.
Apakah dia egois? Dia hanya sendiri dan mengendarai mobil, penyebab macet adalah orang-orang seperti ini.
Aku mungkin iri, karena aku bukanlah salah satu dari mereka yang beruntung memiliki orang tua yang kelewat mampu untuk memberikan seorang anak SMA mobil Honda Jazz dan Smartphone keluaran terbaru yang hanya digunakan untuk bermain flappy bird dan upload foto ke instagram.
Hell, aku mengendarai Supra X keluaran tahun 2000 bekas ayahku dan handphone nokia Asha 300 yang sudah sompel disana-sini.
Antrian kemacetan bergerak sedikit, aku pun memajukan si Supra agar orang dibelakangku bisa sedikit lega juga dan berhenti mengklakson.
Kombinasi cuaca terik di tambah suara klakson dan knalpot bajaj dari motor anak-anak alay bukan simfoni yang ingin kau dengar. Percayalah.
Aku kembali mendesis kesal, apakah remaja sekarang begitu bodoh? Mereka bermimpi jadi pembalap dengan suara knalpot secempreng itu?
Mataku menyapu jalan dan kawasan minimarket, mencoba mencari pengalih kekesalan.
Sesuatu bergerak diantara orang-orang yang berjalan di trotoar, beberapa dari mereka adalah pengendara motor sepertiku yang turun untuk membeli minuman di pedagang kaki lima. Bedanya hanya mereka punya uang dan aku tidak. Lagipula orang-orang seperti itu hanya menambah kemacetan.
Makhluk itu bergerak merangkak mengadahkan tangannya ke kerumunan, dia berhenti di pinggir trotoar, rambutnya pendek dan kusam, kulitnya hitam karena sengatan sinar matahari.
Antrian kembali berjalan dan kini aku berada di sampingnya. Pengemis lumpuh yang memasang sandal di lututnya, matanya menatap kosong ke bawah sementara tangannya mengadahkan sebuah mangkuk plastik kecil berisi recehan dan beberapa lembar uang ribuan.
Aku melihat kakinya, terlalu kecil untuk berjalan dan salah satu kakinya bengkok ke dalam.
Aku diam, mengalihkan pandanganku mencoba untuk tidak merasa iba. Tapi entahlah, pertobatan itu sesuatu yang bisa mengubah hati seseorang.
Tanpa sadar aku merogoh kantong belakangku mencari dompet, dan tersadar bahwa uangku sudah habis untuk mengisi bahan bakar.
Aku melirik lagi sekilas dan bertemu mata dengan si pengemis yang kini menatapku dengan binar pengharapan. Merogoh saku celana tidak membantu, karena tidak ada lagi uang sepeserpun yang ada di tubuhku.
Antrian kembali bergerak, terbesit pikiran untuk pergi ke ATM di salah satu minimarket untuk menarik setengah saldoku yang menjadi biaya hidup perkuliahanku sampai akhir bulan ini. Tapi aku mengenyahkan pikiran itu, aku membuang muka dan kembali menatap barisan kendaraan disekitarku.
Aku marah kali ini kepada diriku sendiri, aku bisa berbuat sesuatu tapi aku tidak melakukannya. Selalu saja aku tidak mampu melakukan apapun jika itu sudah menyangkut soal uang, karena aku sendiri pun kekurangan.
Tapi terlebih dari semua itu aku kesal kepada manusia disekitarku, mereka yang mampu membeli minuman dingin di trotoar dan mengunyah roti diatas motor, para remaja dengan jajan berpuluh ribu yang dibuang untuk memodifikasi motor, dan mereka yang bermobil mewah plat merah dengan perut maju hampir menyentuh stir yang sama sekali seolah tidak memandang pengemis lumpuh itu.
Aku membatin, apakah dunia ini begitu tidak adil? Bahkan untuk diriku sendiri yang mencoba untuk melakukan kebaikan tapi terhalang oleh logika bertahan hidup.
Tidakkah kalian kasihan melihatnya? Seorang tua yang mungkin usianya hampir kepala enam, merangkak seperti binatang berkaki empat, memohon belas kasihan dan sedikit makanan dari kalian para manusia.
Tatapan mata penuh harap itu...
Sialan.
Aku menatap lurus, entah sampai kapan aku bisa mempertahankan emosi ini, yang aku takutkan hanya suatu saat nanti aku kebas akan hal-hal seperti ini. Berubah menjadi manusia normal yang hidup hanya untuk menjalani kehidupannya.
Simfoni cumiakan telinga tadi tiba-tiba menjadi indah.
Sekali ini saja.
Sekali ini saja, maafkan aku untuk jadi orang jahat lagi.
Kupenuhi pikiranku oleh polusi-polusi suara jalanan siang itu.
Apakah dia buta? Klakson hanya akan menambah kebisingan.
Aku menghela nafas dan melirik mobil Honda Jazz disamping kananku yang juga berhenti. Hanya satu orang disana, hanya pengemudi, dan dia menikmati sejuknya AC sementara kendaraannya memakan jatah untuk dua motor, aku hanya bisa mendesis kesal.
Apakah dia egois? Dia hanya sendiri dan mengendarai mobil, penyebab macet adalah orang-orang seperti ini.
Aku mungkin iri, karena aku bukanlah salah satu dari mereka yang beruntung memiliki orang tua yang kelewat mampu untuk memberikan seorang anak SMA mobil Honda Jazz dan Smartphone keluaran terbaru yang hanya digunakan untuk bermain flappy bird dan upload foto ke instagram.
Hell, aku mengendarai Supra X keluaran tahun 2000 bekas ayahku dan handphone nokia Asha 300 yang sudah sompel disana-sini.
Antrian kemacetan bergerak sedikit, aku pun memajukan si Supra agar orang dibelakangku bisa sedikit lega juga dan berhenti mengklakson.
Kombinasi cuaca terik di tambah suara klakson dan knalpot bajaj dari motor anak-anak alay bukan simfoni yang ingin kau dengar. Percayalah.
Aku kembali mendesis kesal, apakah remaja sekarang begitu bodoh? Mereka bermimpi jadi pembalap dengan suara knalpot secempreng itu?
Mataku menyapu jalan dan kawasan minimarket, mencoba mencari pengalih kekesalan.
Sesuatu bergerak diantara orang-orang yang berjalan di trotoar, beberapa dari mereka adalah pengendara motor sepertiku yang turun untuk membeli minuman di pedagang kaki lima. Bedanya hanya mereka punya uang dan aku tidak. Lagipula orang-orang seperti itu hanya menambah kemacetan.
Makhluk itu bergerak merangkak mengadahkan tangannya ke kerumunan, dia berhenti di pinggir trotoar, rambutnya pendek dan kusam, kulitnya hitam karena sengatan sinar matahari.
Antrian kembali berjalan dan kini aku berada di sampingnya. Pengemis lumpuh yang memasang sandal di lututnya, matanya menatap kosong ke bawah sementara tangannya mengadahkan sebuah mangkuk plastik kecil berisi recehan dan beberapa lembar uang ribuan.
Aku melihat kakinya, terlalu kecil untuk berjalan dan salah satu kakinya bengkok ke dalam.
Aku diam, mengalihkan pandanganku mencoba untuk tidak merasa iba. Tapi entahlah, pertobatan itu sesuatu yang bisa mengubah hati seseorang.
Tanpa sadar aku merogoh kantong belakangku mencari dompet, dan tersadar bahwa uangku sudah habis untuk mengisi bahan bakar.
Aku melirik lagi sekilas dan bertemu mata dengan si pengemis yang kini menatapku dengan binar pengharapan. Merogoh saku celana tidak membantu, karena tidak ada lagi uang sepeserpun yang ada di tubuhku.
Antrian kembali bergerak, terbesit pikiran untuk pergi ke ATM di salah satu minimarket untuk menarik setengah saldoku yang menjadi biaya hidup perkuliahanku sampai akhir bulan ini. Tapi aku mengenyahkan pikiran itu, aku membuang muka dan kembali menatap barisan kendaraan disekitarku.
Aku marah kali ini kepada diriku sendiri, aku bisa berbuat sesuatu tapi aku tidak melakukannya. Selalu saja aku tidak mampu melakukan apapun jika itu sudah menyangkut soal uang, karena aku sendiri pun kekurangan.
Tapi terlebih dari semua itu aku kesal kepada manusia disekitarku, mereka yang mampu membeli minuman dingin di trotoar dan mengunyah roti diatas motor, para remaja dengan jajan berpuluh ribu yang dibuang untuk memodifikasi motor, dan mereka yang bermobil mewah plat merah dengan perut maju hampir menyentuh stir yang sama sekali seolah tidak memandang pengemis lumpuh itu.
Aku membatin, apakah dunia ini begitu tidak adil? Bahkan untuk diriku sendiri yang mencoba untuk melakukan kebaikan tapi terhalang oleh logika bertahan hidup.
Tidakkah kalian kasihan melihatnya? Seorang tua yang mungkin usianya hampir kepala enam, merangkak seperti binatang berkaki empat, memohon belas kasihan dan sedikit makanan dari kalian para manusia.
Tatapan mata penuh harap itu...
Sialan.
Aku menatap lurus, entah sampai kapan aku bisa mempertahankan emosi ini, yang aku takutkan hanya suatu saat nanti aku kebas akan hal-hal seperti ini. Berubah menjadi manusia normal yang hidup hanya untuk menjalani kehidupannya.
Simfoni cumiakan telinga tadi tiba-tiba menjadi indah.
Sekali ini saja.
Sekali ini saja, maafkan aku untuk jadi orang jahat lagi.
Kupenuhi pikiranku oleh polusi-polusi suara jalanan siang itu.
0