- Beranda
- Stories from the Heart
Accidentally In Love [True Story]
...
TS
robotpintar
Accidentally In Love [True Story]
![Accidentally In Love [True Story]](https://s.kaskus.id/images/2014/02/14/6448808_20140214023854.png)
Spoiler for Cover:
![Accidentally In Love [True Story]](https://s.kaskus.id/images/2014/02/14/6448808_20140214024411.png)
So she said what's the problem baby
What's the problem I don't know
Well maybe I'm in love (love)
Think about it every time
I think about it
Can't stop thinking 'bout it
How much longer will it take to cure this
Just to cure it cause I can't ignore it if it's love (love)
Makes me wanna turn around and face me but I don't know nothing 'bout love
Come on, come on
Turn a little faster
Come on, come on
The world will follow after
Come on, come on
Cause everybody's after love
So I said I'm a snowball running
Running down into the spring that's coming all this love
Melting under blue skies
Belting out sunlight
Shimmering love
Well baby I surrender
To the strawberry ice cream
Never ever end of all this love
Well I didn't mean to do it
But there's no escaping your love
These lines of lightning
Mean we're never alone,
Never alone, no, no
We're accidentally in love
Accidentally in love [x7]
Accidentally I'm In Love
Spoiler for Bagian 1:
#1
Quote:
“Gila lu Bon, roti segitu banyak sayang-sayang bakal empan ikan semua!”
“Emang ngapa? Ikan jaman sekarang mah ogah makan cacing, Meng”
Gua jawab aja sekena-nya, memang niatnya gua bawa roti dari rumah buat bekal pas mancing tapi, gara-gara umpan cacing gua dari tadi nggak disentuh ikan terpaksa gua ganti dengan roti. Siapa tau mujarab.
Nggak seberapa berselang, tali pancing gua bergetar, refleks gua tarik joran sekuatnya dan mendarat dengan mulus seekor ikan yang kurang lebih seukuran telapak tangan.
“Anjritt.. dari tadi dapet sapu-sapu mulu gua!”
Sambil melepas mata kail dari mulut ikan sapu-sapu yang barusan gua angkat dan langsung gua lempar lagi kedalam kali.
Tidak berapa lama, melantun lagu “Time Like This”-nya Foo Fighter dari ponsel gua. Tertera tulisan “Rumah” dilayarnya.
“Kenapa mak?”
Karena memang cuma nyokap gua aja yang selalu telpon melalui telepon rumah. Bokap dan adik gua selalu menggunakan ponsel-nya masing-masing jika ada keperluan.
“Assalamualaikum , Mancing kagak rapi-rapi luh, nih ada kiriman surat buat elu”
“Dari siapa?”
“Kagak tau, bahasanya emak nggak ngerti”
“Simpenin dulu, nih aye udah mau pulang”
“Yaudah buruan, jangan maghriban dijalan, pamali. Assalamualaikum”
“Waalaikumsalam”
Gua kantongin lagi ponsel k-ekantong celana pendek yang sekarang udah kotor campur lumpur, sambil berteriak ke temen gua; Komeng, yang lagi berkutat dengan tali pancingnya yang kusut.
“Meng, ayo balik.. udah sore”
“Belon juga dapet sekilo, udah mau balik aje”
“Yauda elu terusin dah, gua balik duluan”
Komeng menjawab dengan sedikit gumam di bibirnya terdengar seperti “Yaelah..” sambil berjalan gontai menyusul gua.
------
Itu kejadian beberapa tahun yang lalu, dimana gua dan Komeng masih biasa mencari cacing buat umpan ikan di kebun singkong belakang rumahnya Haji Salim dan kemudian pergi memancing disepanjang pinggiran sungai Pesanggrahan, Jakarta.
Sekarang, gua sedang duduk sambil bersandar di sebuah kursi lipat di pinggir danau di daerah Leeds, Inggris. Menghabiskan hari libur akhir musim gugur dengan memancing sambil bernostalgia, mencoba membangkitkan memori tentang memancing, tentang si Komeng, tentang Jakarta, tentang rumah.
Setelah berjam-jam memancing, menghabiskan berkaleng-kaleng ‘Diet Coke’ akhirnya gua memutuskan untuk menyudahi kegiatan sialan ini. Pulang dengan membawa 6 Ekor ikan Yelowtail (di Indonesia disebut ikan patin) dan sedikit kenangan tentang ‘rumah’, gua berjalan gontai menuju tempat dimana sepeda kesayangan gua diparkir, sempat kebingungan awalnya karena sekarang ada banyak sepeda yang diparkir, padahal tadi pagi baru sepeda gua aja yang nongkrong disini, setelah celingak-celinguk akhirnya ketemu juga dan gua mulai mengayuh.
Jarak dari tempat gua biasa mancing ke tempat dimana gua tinggal di Moorland Ave, Leeds kurang lebih 3,5 mil atau kalau dalam satuan Kilometer sekitar 5,5 Km. Jarak segitu kalo disini, di Inggris bisa dibilang ‘deket’, kalau naik sepeda bisa cuma 30 menit.
Oiya, nama gua Boni. Gua lahir dan dibesarkan di Jakarta. Saat ini gua kerja dan tinggal di Leeds, Inggris sekitar 2-3 jam dari London (dengan kereta). Gua kerja sebagai Sound Designer disalah satu Agensi perfilman dan periklanan di Leeds yang juga punya kantor di London. Sudah hampir 4 tahun gua kerja dan tinggal disini, ditempat dimana nggak ada sungai dengan air berwarna cokelat keruh yang banyak ikan sapu-sapunya dan nggak ada teman yang suka menggerutu “Yaelah”.
Sambil mendengarkan “Heaven” nya Lost Lonely Boys lewat headset, gua mengayuh sepeda menuju ke rumah, pulang. Melewati jalan berpasir yang dipenuhi pohon-pohon maple di kedua sisinya menuju jalan utama. Jalan yang sangat sepi dan hening, jam menunjukkan angka 4 sore, menandakan waktu shalat maghrib, di sabtu sore seperti sekarang ini memang didaerah sini sangat sepi, kebanyakan penduduk sekitar sedang ke stadion atau pub-pub untuk menyaksikan Leeds United bertanding. Ingin buru-buru sampai di rumah, karena perut udah mulai keroncongan, gua kayuh sepeda lebih cepat. Sampai kemudian terdengar sayup-sayup suara musik yang makin lama makin nyaring, suara musik RnB yang sepertinya diputar dari dalam mobil dengan volume maksimal. Suara tersebut datang dari arah belakang dan kemudian menyusul gua, sebuah BMW silver yang melaju cepat bahkan boleh dibilang sangat cepat, sambil meninggalkan debu persis seperti mobil yang sedang Rally Dakkar.
“Orang Gila!!” gua mengumpat, masih sambil dengerin coda lagu “Heaven” nya Lost Lonely Boys. Sampai gua melihat beberapa detik kemudian lampu rem BMW tersebut menyala dan kemudian berhenti.
Deg!, “Wuanjrit, sakti juga tuh orang bisa denger suara gua” sambil berhenti dan melepas headset dari telinga. Yang ternyata setelah gua sadar, suara gua nggak sepelan pas pakai headset tadi. Gua nunggu sambil dag dig dug, kalau dia ngerti ucapan gua, dia pasti orang Indonesia dan kalo ternyata bukan gua bakal siap-siap kabur.
Pintu penumpang pun terbuka, terbuka secara paksa tepatnya, sedetik kemudian keluar seseorang dari kursi penumpang, terhuyung dan kemudian terjatuh, terdengar makian dari dalam BMW tersebut mungkin seperti “bitch” atau semacamnya dan sesaat kemudian BMW tersebut pergi, mengasapi orang yang tersungkur itu dengan debu jalanan.
Nggak mau terlalu ambil pusing, sambil bernafas lega dan bilang dalam hati; “untung bukan gua”, gua meneruskan mengayuh sepeda.
“Get up Bro, life is brutal”
gua berkata ke orang itu sambil melewatinya tetap melanjutkan mengayuh. Dan beberapa meter kemudian gua mendengar sebuah teriakan, teriakan yang (pada akhirnya) bakal merubah hidup gua.
“Woii.. Help me!, you’re Indonesian, right?”
“Tolongin gue dong…”
Gua berhenti mengayuh, turun dan bengong. Sudah hampir setahun gua nggak denger secara langsung orang bicara ke gua dengan bahasa Indonesia dan suara perempuan pula.. Lima, ah mungkin sepuluh detik kemudian baru gua memalingkan muka tapi masih tetap bengong.
“Woii..”
Akhirnya gua turun dari sepeda, kemudian menghampiri orang itu. Terduduk di depan gua sosok perempuan, hitam manis dengan kepala tertutup hood jaket hitam, celana jeans dan sepatu model boots sebetis berwarna cokelat.
“Elu nggak apa-apa?”
“Menurut Lo? Kalo gue gak apa-apa, ngapain gua teriak minta tolong elu!!”
Gua nggak menjawab, berusaha membantu dia berdiri sambil bertanya lagi bagaimana keadaannya. Sekali lagi dia mengumpat;
“Gila!, nggak punya hati banget sih lu!, ya jelas lah gue kenapa-kenapa.. nih liat!”
Sambil memperlihatkan telapak tangan dan siku-nya yang luka dan kemudian menyibak celana jeans-nya yang kotor terkena debu dan sobek di beberapa bagian akibat terlempar dari mobil tadi. Sesaat baru dia sadar kalau lutut kanannya juga luka sambil meringis kesakitan dia mencoba membersihkan luka tersebut dengan air liurnya. Sangat Indonesia sekali.
“Gua pikir tadi orang mabok yang lagi berantem, disini mah biasa begitu,mbak!”
Kemudia gua kasih satu-satunya ‘Diet Coke’ sisa memancing tadi, harusnya sih air putih tapi Cuma itu yang gua punya sekarang. Sambil menggerutu karena dikasih ‘Diet Coke’ daripada air putih, diminum juga tuh minuman soda. Kemudian gua menawarkan diri buat mengantar dia ke sebuah toko kecil di ujung jalan ini, untuk membeli plester untuk membalut luka-nya.
“Jauh nggak?”
Dia bertanya sambil menurunkan hood jaketnya dan menyibak rambutnya yang pendek seleher. Kemudian terlihat jelas sebuah luka lebam di sudut mata sebelah kiri-nya, tidak, bukan cuma satu, setidaknya ada 3 luka lebam, selain disudut matanya, satu lagi di dahi sebelah kiri dan satu lagi di sudut bibir sebelah kanan, yang terakhir tampak seperti luka yang baru karena masih meninggalkan sisa bekas darah yang membeku.
Gua nggak berani bertanya, gua hindari menatap kewajahnya sambil menjawab pertanyaa-nya bahwa tokonya nggak begitu jauh dari sini, sambil menunjuk ke arah jalan utama.
---
“Emang ngapa? Ikan jaman sekarang mah ogah makan cacing, Meng”
Gua jawab aja sekena-nya, memang niatnya gua bawa roti dari rumah buat bekal pas mancing tapi, gara-gara umpan cacing gua dari tadi nggak disentuh ikan terpaksa gua ganti dengan roti. Siapa tau mujarab.
Nggak seberapa berselang, tali pancing gua bergetar, refleks gua tarik joran sekuatnya dan mendarat dengan mulus seekor ikan yang kurang lebih seukuran telapak tangan.
“Anjritt.. dari tadi dapet sapu-sapu mulu gua!”
Sambil melepas mata kail dari mulut ikan sapu-sapu yang barusan gua angkat dan langsung gua lempar lagi kedalam kali.
Tidak berapa lama, melantun lagu “Time Like This”-nya Foo Fighter dari ponsel gua. Tertera tulisan “Rumah” dilayarnya.
“Kenapa mak?”
Karena memang cuma nyokap gua aja yang selalu telpon melalui telepon rumah. Bokap dan adik gua selalu menggunakan ponsel-nya masing-masing jika ada keperluan.
“Assalamualaikum , Mancing kagak rapi-rapi luh, nih ada kiriman surat buat elu”
“Dari siapa?”
“Kagak tau, bahasanya emak nggak ngerti”
“Simpenin dulu, nih aye udah mau pulang”
“Yaudah buruan, jangan maghriban dijalan, pamali. Assalamualaikum”
“Waalaikumsalam”
Gua kantongin lagi ponsel k-ekantong celana pendek yang sekarang udah kotor campur lumpur, sambil berteriak ke temen gua; Komeng, yang lagi berkutat dengan tali pancingnya yang kusut.
“Meng, ayo balik.. udah sore”
“Belon juga dapet sekilo, udah mau balik aje”
“Yauda elu terusin dah, gua balik duluan”
Komeng menjawab dengan sedikit gumam di bibirnya terdengar seperti “Yaelah..” sambil berjalan gontai menyusul gua.
------
Itu kejadian beberapa tahun yang lalu, dimana gua dan Komeng masih biasa mencari cacing buat umpan ikan di kebun singkong belakang rumahnya Haji Salim dan kemudian pergi memancing disepanjang pinggiran sungai Pesanggrahan, Jakarta.
Sekarang, gua sedang duduk sambil bersandar di sebuah kursi lipat di pinggir danau di daerah Leeds, Inggris. Menghabiskan hari libur akhir musim gugur dengan memancing sambil bernostalgia, mencoba membangkitkan memori tentang memancing, tentang si Komeng, tentang Jakarta, tentang rumah.
Setelah berjam-jam memancing, menghabiskan berkaleng-kaleng ‘Diet Coke’ akhirnya gua memutuskan untuk menyudahi kegiatan sialan ini. Pulang dengan membawa 6 Ekor ikan Yelowtail (di Indonesia disebut ikan patin) dan sedikit kenangan tentang ‘rumah’, gua berjalan gontai menuju tempat dimana sepeda kesayangan gua diparkir, sempat kebingungan awalnya karena sekarang ada banyak sepeda yang diparkir, padahal tadi pagi baru sepeda gua aja yang nongkrong disini, setelah celingak-celinguk akhirnya ketemu juga dan gua mulai mengayuh.
Jarak dari tempat gua biasa mancing ke tempat dimana gua tinggal di Moorland Ave, Leeds kurang lebih 3,5 mil atau kalau dalam satuan Kilometer sekitar 5,5 Km. Jarak segitu kalo disini, di Inggris bisa dibilang ‘deket’, kalau naik sepeda bisa cuma 30 menit.
Oiya, nama gua Boni. Gua lahir dan dibesarkan di Jakarta. Saat ini gua kerja dan tinggal di Leeds, Inggris sekitar 2-3 jam dari London (dengan kereta). Gua kerja sebagai Sound Designer disalah satu Agensi perfilman dan periklanan di Leeds yang juga punya kantor di London. Sudah hampir 4 tahun gua kerja dan tinggal disini, ditempat dimana nggak ada sungai dengan air berwarna cokelat keruh yang banyak ikan sapu-sapunya dan nggak ada teman yang suka menggerutu “Yaelah”.
Sambil mendengarkan “Heaven” nya Lost Lonely Boys lewat headset, gua mengayuh sepeda menuju ke rumah, pulang. Melewati jalan berpasir yang dipenuhi pohon-pohon maple di kedua sisinya menuju jalan utama. Jalan yang sangat sepi dan hening, jam menunjukkan angka 4 sore, menandakan waktu shalat maghrib, di sabtu sore seperti sekarang ini memang didaerah sini sangat sepi, kebanyakan penduduk sekitar sedang ke stadion atau pub-pub untuk menyaksikan Leeds United bertanding. Ingin buru-buru sampai di rumah, karena perut udah mulai keroncongan, gua kayuh sepeda lebih cepat. Sampai kemudian terdengar sayup-sayup suara musik yang makin lama makin nyaring, suara musik RnB yang sepertinya diputar dari dalam mobil dengan volume maksimal. Suara tersebut datang dari arah belakang dan kemudian menyusul gua, sebuah BMW silver yang melaju cepat bahkan boleh dibilang sangat cepat, sambil meninggalkan debu persis seperti mobil yang sedang Rally Dakkar.
“Orang Gila!!” gua mengumpat, masih sambil dengerin coda lagu “Heaven” nya Lost Lonely Boys. Sampai gua melihat beberapa detik kemudian lampu rem BMW tersebut menyala dan kemudian berhenti.
Deg!, “Wuanjrit, sakti juga tuh orang bisa denger suara gua” sambil berhenti dan melepas headset dari telinga. Yang ternyata setelah gua sadar, suara gua nggak sepelan pas pakai headset tadi. Gua nunggu sambil dag dig dug, kalau dia ngerti ucapan gua, dia pasti orang Indonesia dan kalo ternyata bukan gua bakal siap-siap kabur.
Pintu penumpang pun terbuka, terbuka secara paksa tepatnya, sedetik kemudian keluar seseorang dari kursi penumpang, terhuyung dan kemudian terjatuh, terdengar makian dari dalam BMW tersebut mungkin seperti “bitch” atau semacamnya dan sesaat kemudian BMW tersebut pergi, mengasapi orang yang tersungkur itu dengan debu jalanan.
Nggak mau terlalu ambil pusing, sambil bernafas lega dan bilang dalam hati; “untung bukan gua”, gua meneruskan mengayuh sepeda.
“Get up Bro, life is brutal”
gua berkata ke orang itu sambil melewatinya tetap melanjutkan mengayuh. Dan beberapa meter kemudian gua mendengar sebuah teriakan, teriakan yang (pada akhirnya) bakal merubah hidup gua.
“Woii.. Help me!, you’re Indonesian, right?”
“Tolongin gue dong…”
Gua berhenti mengayuh, turun dan bengong. Sudah hampir setahun gua nggak denger secara langsung orang bicara ke gua dengan bahasa Indonesia dan suara perempuan pula.. Lima, ah mungkin sepuluh detik kemudian baru gua memalingkan muka tapi masih tetap bengong.
“Woii..”
Akhirnya gua turun dari sepeda, kemudian menghampiri orang itu. Terduduk di depan gua sosok perempuan, hitam manis dengan kepala tertutup hood jaket hitam, celana jeans dan sepatu model boots sebetis berwarna cokelat.
“Elu nggak apa-apa?”
“Menurut Lo? Kalo gue gak apa-apa, ngapain gua teriak minta tolong elu!!”
Gua nggak menjawab, berusaha membantu dia berdiri sambil bertanya lagi bagaimana keadaannya. Sekali lagi dia mengumpat;
“Gila!, nggak punya hati banget sih lu!, ya jelas lah gue kenapa-kenapa.. nih liat!”
Sambil memperlihatkan telapak tangan dan siku-nya yang luka dan kemudian menyibak celana jeans-nya yang kotor terkena debu dan sobek di beberapa bagian akibat terlempar dari mobil tadi. Sesaat baru dia sadar kalau lutut kanannya juga luka sambil meringis kesakitan dia mencoba membersihkan luka tersebut dengan air liurnya. Sangat Indonesia sekali.
“Gua pikir tadi orang mabok yang lagi berantem, disini mah biasa begitu,mbak!”
Kemudia gua kasih satu-satunya ‘Diet Coke’ sisa memancing tadi, harusnya sih air putih tapi Cuma itu yang gua punya sekarang. Sambil menggerutu karena dikasih ‘Diet Coke’ daripada air putih, diminum juga tuh minuman soda. Kemudian gua menawarkan diri buat mengantar dia ke sebuah toko kecil di ujung jalan ini, untuk membeli plester untuk membalut luka-nya.
“Jauh nggak?”
Dia bertanya sambil menurunkan hood jaketnya dan menyibak rambutnya yang pendek seleher. Kemudian terlihat jelas sebuah luka lebam di sudut mata sebelah kiri-nya, tidak, bukan cuma satu, setidaknya ada 3 luka lebam, selain disudut matanya, satu lagi di dahi sebelah kiri dan satu lagi di sudut bibir sebelah kanan, yang terakhir tampak seperti luka yang baru karena masih meninggalkan sisa bekas darah yang membeku.
Gua nggak berani bertanya, gua hindari menatap kewajahnya sambil menjawab pertanyaa-nya bahwa tokonya nggak begitu jauh dari sini, sambil menunjuk ke arah jalan utama.
---
DAFTAR ISI
Quote:
CHAPTER 1
#1 The Beginning
#2 Truly Gentlemen
#3 Place Called Home
#4 The Morning Fever
#5 A Miserable Story
#6 Night Rain
#7 Inside My Head
#8 That Day
#9 Be Tough
#10 Mukena
#1 The Beginning
#2 Truly Gentlemen
#3 Place Called Home
#4 The Morning Fever
#5 A Miserable Story
#6 Night Rain
#7 Inside My Head
#8 That Day
#9 Be Tough
#10 Mukena
Quote:
CHAPTER 2
#11-A Trip To Manchester
#11-B The Swiss Army
#12 Here's and Back Again
#13 I Miss You So Bad
#14 Going Mad
#15 Promise
#16 You’ll Be The Only Light I See
#17 The Winter Tears
#18 She's Gone
#19 That Memories
#11-A Trip To Manchester
#11-B The Swiss Army
#12 Here's and Back Again
#13 I Miss You So Bad
#14 Going Mad
#15 Promise
#16 You’ll Be The Only Light I See
#17 The Winter Tears
#18 She's Gone
#19 That Memories
Quote:
CHAPTER 3
[URL="http://www.kaskus.co.id/show_post/530ff7e41acb17030d8b48f1/479/- "]#19-A The Hood[/URL]
#19-B Heres And Back Again II
#19-C Weak
#19-D Surrender
#19-E The Choice
#19-F Anything For You
#19-G Chelsea Number 8
#19-H Its not always about gold and glory
#19-I Aku
#19-J The Words
#19-K The Persian Cat
#19-L You Really The Only Light I See
#19-M So Be It
#19-N Less Than Perfect
#20 That Day II
[URL="http://www.kaskus.co.id/show_post/530ff7e41acb17030d8b48f1/479/- "]#19-A The Hood[/URL]
#19-B Heres And Back Again II
#19-C Weak
#19-D Surrender
#19-E The Choice
#19-F Anything For You
#19-G Chelsea Number 8
#19-H Its not always about gold and glory
#19-I Aku
#19-J The Words
#19-K The Persian Cat
#19-L You Really The Only Light I See
#19-M So Be It
#19-N Less Than Perfect
#20 That Day II
Quote:
CHAPTER 4 The Prekuel
#21 The Prologue
#22 My Precious
#23 Ticket to Ride
#24 Singapore
#25 Dreams
#26 The Awkward Moment
#27 Logic
#28 Driver In Life
#29 The Risk Taker
#30 Sorry
#31 Rise Again
#32 Goodbye
#21 The Prologue
#22 My Precious
#23 Ticket to Ride
#24 Singapore
#25 Dreams
#26 The Awkward Moment
#27 Logic
#28 Driver In Life
#29 The Risk Taker
#30 Sorry
#31 Rise Again
#32 Goodbye
Quote:
CHAPTER 5!!
#33 London
#34 Unwell
#35 I Was Here
#36 Leeds
#37 New Home, New Life
#38 Alone
#39 Intermezo
#40 Goin' Trough
#41 At Glance
#42 The Past of The Future
#33 London
#34 Unwell
#35 I Was Here
#36 Leeds
#37 New Home, New Life
#38 Alone
#39 Intermezo
#40 Goin' Trough
#41 At Glance
#42 The Past of The Future
Quote:
CHAPTER 6
#43 My First ...
#44 If Lovin' You ...
#45 Goin' Back
#46 Leeds II
#47 I Love You (Jealousy)
#48 After All
#49 Hell Yeah
#50 Conflict
#51 Liar-Liar
#52 Memories
#43 My First ...
#44 If Lovin' You ...
#45 Goin' Back
#46 Leeds II
#47 I Love You (Jealousy)
#48 After All
#49 Hell Yeah
#50 Conflict
#51 Liar-Liar
#52 Memories
Quote:
Quote:
Diubah oleh robotpintar 10-04-2014 08:46
carangkasampah dan 121 lainnya memberi reputasi
120
1.3M
Kutip
2.3K
Balasan
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
robotpintar
#1951
Spoiler for Bagian ke Lima Puluh Empat:
Quote:
Disaat turun gua berhadapan dengan sesosok perempuan berambut panjang yang diikat keatas dengan poni yang menutupi sebagian wajahnya. Perempuan itu berdiri disudut tangga menatap gua yang masih menggendong Fatih, kami saling menatap.
Perempuan itu menggigit bibir sambil menyibak poni rambut dengan hentakan lembut kepalanya, terlihat sepintas sebuah luka sepanjang kurang lebih tiga senti disudut dahi kanannya yang kemudian tertutup oleh rambut lagi. Gua berjalan pelan menuruni tangga, menghampiri perempuan yang masih berdiri diam menatap gua di antara belokan tangga. Seketika perempuan itu membuang pandangannya ke arah lain.
Gua mengangkat tangan, perlahan menyibak poni rambutnya kemudian menelan ludah.
Glek!
Gua menurunkan fatih dari gendongan, membiarkannya bermain dengan celana jeans dan sepatu kets gua.
”Apa kabar res?”
Gua membuka suara, memecah keheningan yang sejak tadi menghinggapi kami.
Resti tersenyum, senyuman yang penuh arti. Kemudian membuka suara;
”Gua boleh peluk lo?”
”...”
Gua menggeleng pelan.
”Gua udah punya istri dan ...”
Gua mencoba menjelaskan posisi gua saat ini kepada Resti sambil memandang ke arah Fatih yang kini tengah bermain dengan lubang fentilasi kecil yang berada di dinding tangga.
”...anak”
Resti berjongkok kemudian menggenggam tangan mungil Fatih, fatih merangsek kedalam sela-sela kaki gua, seperti biasa dia agak sedikit jadi pemalu jika ada orang yang baru ditemuinya.
”Haloo.. adeeek, adeek Fatih ya namanya?.. sini yuk sama tante esti...”
Gua tertegun, antara bingung, shock dan sedikit penasaran.
”Kok lu bisa tau nama anak gua?”
Gua bertanya penasaran.
Resti bangkit berdiri, membersihkan lututnya kemudian menepuk-nepukan tangan. Dia memandang gua tajam, kemudian berbalik dan berjalan turun meninggalkan gua dan Fatih. Gua bergegas menggendong fatih dan berjalan cepat menyusulnya.
”Gimana kabar bini lo?”
Resti bertanya ke gua sambil melangkah pelan menyusuri koridor kampus yang sepi.
”Alhamdulillah.. baik, lo gimana? Udah merit? Punya anak berapa? Eh kok lu bisa tau nama anak gua sih res..?”
Gua memberondong pertanyaan kepadanya, dia menoleh ke arah gua kemudian mengambil sesuatu dari dalam tas nya, sebuah dompet. Dia membuka dompetnya dan menunjukkan sebuah foto usang, sebuah foto yang menampilkan dua orang muda mudi tengah berpose, dua orang yang tengah tersenyum; foto usang hasil jepretan sebuah photobox yang menampilkan; gua dan resti. Gua menghentikan langkah, terpana dan terdiam.
”Elo udah merit kan, res? Masa malah majang foto gua..”
Kali ini gua bertanya dengan nada lebih serius. Resti nggak menjawab, dia Cuma menggelengkan kepalanya, sekilas terlihat air mata menggenang disudut-sudut matanya.
”Seandainya gue bisa, bon.. seandainya gue bisa ngelupain elo.. mungkin sekarang gue nggak ada disini.. mungkin minggu lalu gua nggak ngereferensiin elo untuk jadi narasumber di acara seminar ini.. dan mungkin...”
”....”
”...mungkin nggak bakal kering air mata ini Cuma untuk menangisi kepergian cowok bego yang ninggalin gue demi sebuah obsesi konyolnya...”
”Res.. seandainya bisa gua kasih semua permohonan maaf yang gua punya buat elo.. pasti gua berikan semuanya..”
”Dan gua juga bakal memberikan semua maaf yang gua punya untuk menjawabnya boon..”
”Res.. resti,... lu punya hidup yang harus lo jalanin, jangan Cuma nyia-nyiain semuanya buat cowok kayak gua ...”
Resti Cuma mengangguk sambil sesekali menyeka air matanya yang mulai menetes.
”Udah jangan nangis.. malu.. masa udah gede nangis.. tuh diketawain sama fatih..”
”Aaah, hehee...”
Resti tertawa masih sambil menyeka air matanya.
”Bon.. ”
”Ya..”
”Gue masih boleh jadi temen lo kan?”
”Hahaha masih lah.. tapi,..”
”Kenapa? Takut bini lo cemburu? Ntar gue yang ngomong deh.. mana bini lo?”
Resti berkacak pinggang, sambil memandang sekeliling. Gua tersenyum sambil memindahkan gendongan Fatih dari tangan kanan ke kiri.
”Iya, dia belom tau tentang elu.. lu mau ketemu dia? Yakin?..”
”Iya.. emang kenapa?”
Gua nggak menjawab pertanyaanya, Cuma bisa menelan ludah sambil membayangkan Ines tengah melotot ke arah gua dengan jari telunjuknya menirukan gerakan menggorok leher, kemudian gua bergidik.
”Nggak apa-apa, Cuma kayaknya sekarang waktunya nggak tepat aja..”
”Owh, okey.. maybe next time..”
Resti menjawab sambil berusaha tetap tersenyum. Gua tau ada kesedihan didalam matanya yang dia sembunyikan lewat tawa dan senyumnya.
”Alright, time to go.. ”
Resti menarik tali tas ransel-nya dan bergegas pergi. Spontan gua menarik tangannyaa.
”Eh, res.. boleh minta nomer hape lu?”
”Hah, buat apa? Empat taon yang lalu lo punya nomer hape gue and even once you texting me.. so kenapa sekarang gua harus ngasih nomor hape gue ke lo?”
”Ya sekarang beda kali...”
Gua menjawab dan nggak berani menatap ke matanya.
”Oh beda toh, apanya ya yang beda, bisa bilang ke gue? Beda karena lo sekarang udah punya istri, anak dan hidup bahagia selamanya?.. beda karena sekarang lo udah bisa menuhin semua obsesi lo? Beda karena sekarang lo udah bisa bahagiain nyokap bokap lo, beda karena lo sekarang udah nggak diperbudak logika? Beda apa nya boon?..”
”Bukan begitu res...”
”Terus apa dong kalo gitu?”
Resti bicara sambil mengangkat telapak tangannya kemudian duduk diatas sebuah meja yang sudah agak reot, yang sepertinya diletakkan begitu saja karena sudah tidak layak pakai.
”Boon..apa? kasih gue satu alasan, satuuuuu aja alasan kenapa lo nggak pernah menghubungi gue”
”Gua takut res, gua takut perasaan ini kebablasan, gua yang dulu yang selalu menuhankan nalar dan logika memaksa untuk melakukan itu semua..”
Resti menganggukan kepalanya sambil menggoyang-goyangkan kedua kakinya yang menggantung diatas lantai.
”Yah, paling enggak salah satu dari kita hidup bahagia.. ya kan?”
Dia meninju lengan gua sambil mengumbar tawa renyah-nya.
”...”
”Gue belom sempet ngucapin selamet atas pernikahan dan kelahiran anak lo..”
”...”
”..berapa umurnya sekarang si Fatih?”
”Setaun jalan lima bulan.. eh elu kan belon jawab pertanyaan gua tadi.. kok lu bisa tau nama anak gua sih?”
”Hehehe.. siapa dulu.. resti”
”Serius nih gua..”
”Sebenernya....”
Belum sempat resti menyelesaikan omongannya, ponsel gua berbunyi mengalunkan lagu Accidentally In Love-nya Counting Crows, gua melihat ke layar ponsel, nama dan foto Ines muncul disana;
”Halo..”
”Lama ish..”
”Iya sebentar lagi..”
”Masih lama nggak? Fatih-nya rewel nggak tuh?”
”Nggak, tunggu sebentar..”
”Kalo masih lama, aku beli siomay dulu ya didepan..”
”Oh yaudah, nanti aku nyusul deh...”
”Ya..jangan lama-lama..”
”Iya”
Gua mengakhiri pembicaraan kemudian memasukkan kembali ponsel kedalam saku celana gua.
”Bini lo?”
”Hehe iya..”
”Yaudah sana.. ntar ngambek aja, nggak dikasih jatah lo..”
”Tapi...”
”Udah gampang ntar gua yang hubungin lo..”
”Emang lo tau no hape gua, oiya tadi gimana lo bisa tau nama anak gua?”
”Haha.. rahasia membuat wanita menjadi wanita..”
Resti turun dari meja tempatnya duduk, dia mengelus kepala fatih yang sepertinya sudah sedikit mengantuk setengah tertidur dalam gendongan gua.
”Kayaknya kok kebetulan banget ya kita bisa ketemu disini?”
Gua bertanya kepada Resti.
”Bon, kebetulan sama takdir itu bedanya Cuma segini”
Resti menjawab sambil menjentikkan jari kelingkingnya.
”Tante pergi dulu ya dedek fatih, semoga jadi anak yang pintar dan berbakti kepada orang tua.. dan inget ya dek.. jangan jadi pengecut seperti ayahmu..”
Kemudian Resti berjalan gontai melewati gua sambil melirik, sesaat kemudian dia mendekatkan wajahnya ke telinga gua dan berbisik;
”Nggak semua Robot itu Pintar”
Kemudian dia berjalan meninggalkan gua, sempat menoleh sebentar dan mengedipkan sebelah matanya sambil tersenyum penuh teka-teki, gua hanya bisa berdiri memandang punggungnya yang perlahan menghilang ditelan ramainya mahasiswa yang lalu lalang.
Sebuah lagu mengalun dalam benak gua;
Lumpuhkanlah ingatanku, hapuskan tentang dia
Ku ingin ku lupakannya
Lumpuhkanlah ingatanku, hapuskan tentang dia
Hapuskan memoriku tentang dia
Hilangkanlah ingatanku jika itu tentang dia
Ku ingin ku lupakannya
Gua berjalan menyusuri koridor yang kini ramai oleh para mahasiswa, sambil menggendong Fatih gua berusaha mencerna apa maksud kata-kata yang tadi diucapkan oleh Resti sebelum pergi. Sesaat kemudian gua berhenti; Deg!
Anjrit!
Gua tersenyum, kemudian kembali melangkah menuju ke kios kios yang terletak digang sebelah kampus.
Setelah beberapa saat mencari, akhirnya gua berhasil menemukan Ines sedang asik menikmati sepiring siomay didalam kios. Gua duduk disebelahnya.
”Bobo ya Fatih-nya..”
”Iya nih..”
”Kok lama?”
”Iya tadi ketemu sama.. anu..”
”Siapa?”
Ines mengernyitkan alisnya sambil menatap tajam kearah gua.
”Ketemu dosen.. dosen aku dulu..”
”Ooh..”
”Nggak enak, jadi ngobrol dulu sebentar..”
Gua berbohong, berusaha memasang tampang se kalem-kalemnya agar gaya bohong gua nggak tercium oleh nya. Ines melahap sendokan terakhir siomay-nya kemudian mengambil alih Fatih dari gendongan gua.
---
Malam harinya gua duduk diteras rumah nyokap, ditemani dengan sebatang rokok dan secangkir kopi panas. Memandangi langit malam yang sedikit mendung menghalangi bintang-bintang yang pasti bersinar terang dibaliknya. Ingatan gua berputar kembali dimana saat gua bertemu pertama kali dengan Ines, masa-masa dimana gua jatuh cinta dengan maminya Fatih, seketika muncul bayangan Resti bercampur dengan memori-memori gua tentangnya, gua mengusap-usap wajah, mencoba mengusir bayangan tersebut agar segera pergi menjauh. Kemudian terasa tangan dingin menyentuh tengkuk, gua menoleh menatap Ines yang berdiri sambil bersandar pada kursi dan punggung gua;
”Kok belom tidur?”
”Iya, nggak bisa tidur..”
”Kayaknya kamu belakangan ini, tidurnya telat mulu deh.. nanti sakit lho..”
”Ho-oh..”
”Ada apa sih?”
”Nggak ada apa-apa..”
”Bener?”
”Bener kok..”
”Kalo ada apa-apa cerita..”
Ines kemudian duduk dikursi sebelah gua, menaikan kedua kakinya dan duduk memeluk lututnya yang dilipat.
”Ayah..”
”Ya..”
”Aku ada disini bukan Cuma jadi istri, bukan pula Cuma jadi ibu dari anak kamu, bukan Cuma jadi pajangan saat kondangan... aku ada disini sekarang sebagai sahabat kamu, sebagai tempat kamu berbagi, berbagi kala suka, berbagi kala duka, kalo kamu ada masalah, sekecil apapun kamu bisa cerita ke aku, sukur-sukur aku bisa bantu..”
Gua memandanginya saat berbicara, bibirnya, matanya, hidungnya, rambutnya, semuanya. Semua yang ada didirinya menghipnotis gua, seolah menyeret gua kedalam tatapan matanya, membuat gua seolah-olah berada di dunia lain, membuat gua kehilangan kesadaran akan kerasnya dunia, memaksa gua merobek-robek nalar dan logika sampai keambang batas. Hal yang kemudian gua sadari, bahwa inilah ’sesuatu’ yang nggak bisa gua dapatkan dari perempuan lain manapun di dunia ini, ya even Resti sekalipun.
Ines perempuan yang bisa membuat gua terbang ribuan mil jauhnya, meninggalkan cita-cita gua hanya demi menemuinya. Hal yang nggak bisa gua lakukan demi Resti.
”Nes...”
”Ya..”
”Aku mau kasih tau kamu sesuatu..”
”Apa?”
”Tunggu sebentar..”
Gua bergegas masuk kedalam, meninggalkan Ines sendiri di teras. Gua mengambil laptop dan kembali ke luar.
Perempuan itu menggigit bibir sambil menyibak poni rambut dengan hentakan lembut kepalanya, terlihat sepintas sebuah luka sepanjang kurang lebih tiga senti disudut dahi kanannya yang kemudian tertutup oleh rambut lagi. Gua berjalan pelan menuruni tangga, menghampiri perempuan yang masih berdiri diam menatap gua di antara belokan tangga. Seketika perempuan itu membuang pandangannya ke arah lain.
Gua mengangkat tangan, perlahan menyibak poni rambutnya kemudian menelan ludah.
Glek!
Gua menurunkan fatih dari gendongan, membiarkannya bermain dengan celana jeans dan sepatu kets gua.
”Apa kabar res?”
Gua membuka suara, memecah keheningan yang sejak tadi menghinggapi kami.
Resti tersenyum, senyuman yang penuh arti. Kemudian membuka suara;
”Gua boleh peluk lo?”
”...”
Gua menggeleng pelan.
”Gua udah punya istri dan ...”
Gua mencoba menjelaskan posisi gua saat ini kepada Resti sambil memandang ke arah Fatih yang kini tengah bermain dengan lubang fentilasi kecil yang berada di dinding tangga.
”...anak”
Resti berjongkok kemudian menggenggam tangan mungil Fatih, fatih merangsek kedalam sela-sela kaki gua, seperti biasa dia agak sedikit jadi pemalu jika ada orang yang baru ditemuinya.
”Haloo.. adeeek, adeek Fatih ya namanya?.. sini yuk sama tante esti...”
Gua tertegun, antara bingung, shock dan sedikit penasaran.
”Kok lu bisa tau nama anak gua?”
Gua bertanya penasaran.
Resti bangkit berdiri, membersihkan lututnya kemudian menepuk-nepukan tangan. Dia memandang gua tajam, kemudian berbalik dan berjalan turun meninggalkan gua dan Fatih. Gua bergegas menggendong fatih dan berjalan cepat menyusulnya.
”Gimana kabar bini lo?”
Resti bertanya ke gua sambil melangkah pelan menyusuri koridor kampus yang sepi.
”Alhamdulillah.. baik, lo gimana? Udah merit? Punya anak berapa? Eh kok lu bisa tau nama anak gua sih res..?”
Gua memberondong pertanyaan kepadanya, dia menoleh ke arah gua kemudian mengambil sesuatu dari dalam tas nya, sebuah dompet. Dia membuka dompetnya dan menunjukkan sebuah foto usang, sebuah foto yang menampilkan dua orang muda mudi tengah berpose, dua orang yang tengah tersenyum; foto usang hasil jepretan sebuah photobox yang menampilkan; gua dan resti. Gua menghentikan langkah, terpana dan terdiam.
”Elo udah merit kan, res? Masa malah majang foto gua..”
Kali ini gua bertanya dengan nada lebih serius. Resti nggak menjawab, dia Cuma menggelengkan kepalanya, sekilas terlihat air mata menggenang disudut-sudut matanya.
”Seandainya gue bisa, bon.. seandainya gue bisa ngelupain elo.. mungkin sekarang gue nggak ada disini.. mungkin minggu lalu gua nggak ngereferensiin elo untuk jadi narasumber di acara seminar ini.. dan mungkin...”
”....”
”...mungkin nggak bakal kering air mata ini Cuma untuk menangisi kepergian cowok bego yang ninggalin gue demi sebuah obsesi konyolnya...”
”Res.. seandainya bisa gua kasih semua permohonan maaf yang gua punya buat elo.. pasti gua berikan semuanya..”
”Dan gua juga bakal memberikan semua maaf yang gua punya untuk menjawabnya boon..”
”Res.. resti,... lu punya hidup yang harus lo jalanin, jangan Cuma nyia-nyiain semuanya buat cowok kayak gua ...”
Resti Cuma mengangguk sambil sesekali menyeka air matanya yang mulai menetes.
”Udah jangan nangis.. malu.. masa udah gede nangis.. tuh diketawain sama fatih..”
”Aaah, hehee...”
Resti tertawa masih sambil menyeka air matanya.
”Bon.. ”
”Ya..”
”Gue masih boleh jadi temen lo kan?”
”Hahaha masih lah.. tapi,..”
”Kenapa? Takut bini lo cemburu? Ntar gue yang ngomong deh.. mana bini lo?”
Resti berkacak pinggang, sambil memandang sekeliling. Gua tersenyum sambil memindahkan gendongan Fatih dari tangan kanan ke kiri.
”Iya, dia belom tau tentang elu.. lu mau ketemu dia? Yakin?..”
”Iya.. emang kenapa?”
Gua nggak menjawab pertanyaanya, Cuma bisa menelan ludah sambil membayangkan Ines tengah melotot ke arah gua dengan jari telunjuknya menirukan gerakan menggorok leher, kemudian gua bergidik.
”Nggak apa-apa, Cuma kayaknya sekarang waktunya nggak tepat aja..”
”Owh, okey.. maybe next time..”
Resti menjawab sambil berusaha tetap tersenyum. Gua tau ada kesedihan didalam matanya yang dia sembunyikan lewat tawa dan senyumnya.
”Alright, time to go.. ”
Resti menarik tali tas ransel-nya dan bergegas pergi. Spontan gua menarik tangannyaa.
”Eh, res.. boleh minta nomer hape lu?”
”Hah, buat apa? Empat taon yang lalu lo punya nomer hape gue and even once you texting me.. so kenapa sekarang gua harus ngasih nomor hape gue ke lo?”
”Ya sekarang beda kali...”
Gua menjawab dan nggak berani menatap ke matanya.
”Oh beda toh, apanya ya yang beda, bisa bilang ke gue? Beda karena lo sekarang udah punya istri, anak dan hidup bahagia selamanya?.. beda karena sekarang lo udah bisa menuhin semua obsesi lo? Beda karena sekarang lo udah bisa bahagiain nyokap bokap lo, beda karena lo sekarang udah nggak diperbudak logika? Beda apa nya boon?..”
”Bukan begitu res...”
”Terus apa dong kalo gitu?”
Resti bicara sambil mengangkat telapak tangannya kemudian duduk diatas sebuah meja yang sudah agak reot, yang sepertinya diletakkan begitu saja karena sudah tidak layak pakai.
”Boon..apa? kasih gue satu alasan, satuuuuu aja alasan kenapa lo nggak pernah menghubungi gue”
”Gua takut res, gua takut perasaan ini kebablasan, gua yang dulu yang selalu menuhankan nalar dan logika memaksa untuk melakukan itu semua..”
Resti menganggukan kepalanya sambil menggoyang-goyangkan kedua kakinya yang menggantung diatas lantai.
”Yah, paling enggak salah satu dari kita hidup bahagia.. ya kan?”
Dia meninju lengan gua sambil mengumbar tawa renyah-nya.
”...”
”Gue belom sempet ngucapin selamet atas pernikahan dan kelahiran anak lo..”
”...”
”..berapa umurnya sekarang si Fatih?”
”Setaun jalan lima bulan.. eh elu kan belon jawab pertanyaan gua tadi.. kok lu bisa tau nama anak gua sih?”
”Hehehe.. siapa dulu.. resti”
”Serius nih gua..”
”Sebenernya....”
Belum sempat resti menyelesaikan omongannya, ponsel gua berbunyi mengalunkan lagu Accidentally In Love-nya Counting Crows, gua melihat ke layar ponsel, nama dan foto Ines muncul disana;
”Halo..”
”Lama ish..”
”Iya sebentar lagi..”
”Masih lama nggak? Fatih-nya rewel nggak tuh?”
”Nggak, tunggu sebentar..”
”Kalo masih lama, aku beli siomay dulu ya didepan..”
”Oh yaudah, nanti aku nyusul deh...”
”Ya..jangan lama-lama..”
”Iya”
Gua mengakhiri pembicaraan kemudian memasukkan kembali ponsel kedalam saku celana gua.
”Bini lo?”
”Hehe iya..”
”Yaudah sana.. ntar ngambek aja, nggak dikasih jatah lo..”
”Tapi...”
”Udah gampang ntar gua yang hubungin lo..”
”Emang lo tau no hape gua, oiya tadi gimana lo bisa tau nama anak gua?”
”Haha.. rahasia membuat wanita menjadi wanita..”
Resti turun dari meja tempatnya duduk, dia mengelus kepala fatih yang sepertinya sudah sedikit mengantuk setengah tertidur dalam gendongan gua.
”Kayaknya kok kebetulan banget ya kita bisa ketemu disini?”
Gua bertanya kepada Resti.
”Bon, kebetulan sama takdir itu bedanya Cuma segini”
Resti menjawab sambil menjentikkan jari kelingkingnya.
”Tante pergi dulu ya dedek fatih, semoga jadi anak yang pintar dan berbakti kepada orang tua.. dan inget ya dek.. jangan jadi pengecut seperti ayahmu..”
Kemudian Resti berjalan gontai melewati gua sambil melirik, sesaat kemudian dia mendekatkan wajahnya ke telinga gua dan berbisik;
”Nggak semua Robot itu Pintar”
Kemudian dia berjalan meninggalkan gua, sempat menoleh sebentar dan mengedipkan sebelah matanya sambil tersenyum penuh teka-teki, gua hanya bisa berdiri memandang punggungnya yang perlahan menghilang ditelan ramainya mahasiswa yang lalu lalang.
Sebuah lagu mengalun dalam benak gua;
Lumpuhkanlah ingatanku, hapuskan tentang dia
Ku ingin ku lupakannya
Lumpuhkanlah ingatanku, hapuskan tentang dia
Hapuskan memoriku tentang dia
Hilangkanlah ingatanku jika itu tentang dia
Ku ingin ku lupakannya
Gua berjalan menyusuri koridor yang kini ramai oleh para mahasiswa, sambil menggendong Fatih gua berusaha mencerna apa maksud kata-kata yang tadi diucapkan oleh Resti sebelum pergi. Sesaat kemudian gua berhenti; Deg!
Anjrit!
Gua tersenyum, kemudian kembali melangkah menuju ke kios kios yang terletak digang sebelah kampus.
Setelah beberapa saat mencari, akhirnya gua berhasil menemukan Ines sedang asik menikmati sepiring siomay didalam kios. Gua duduk disebelahnya.
”Bobo ya Fatih-nya..”
”Iya nih..”
”Kok lama?”
”Iya tadi ketemu sama.. anu..”
”Siapa?”
Ines mengernyitkan alisnya sambil menatap tajam kearah gua.
”Ketemu dosen.. dosen aku dulu..”
”Ooh..”
”Nggak enak, jadi ngobrol dulu sebentar..”
Gua berbohong, berusaha memasang tampang se kalem-kalemnya agar gaya bohong gua nggak tercium oleh nya. Ines melahap sendokan terakhir siomay-nya kemudian mengambil alih Fatih dari gendongan gua.
---
Malam harinya gua duduk diteras rumah nyokap, ditemani dengan sebatang rokok dan secangkir kopi panas. Memandangi langit malam yang sedikit mendung menghalangi bintang-bintang yang pasti bersinar terang dibaliknya. Ingatan gua berputar kembali dimana saat gua bertemu pertama kali dengan Ines, masa-masa dimana gua jatuh cinta dengan maminya Fatih, seketika muncul bayangan Resti bercampur dengan memori-memori gua tentangnya, gua mengusap-usap wajah, mencoba mengusir bayangan tersebut agar segera pergi menjauh. Kemudian terasa tangan dingin menyentuh tengkuk, gua menoleh menatap Ines yang berdiri sambil bersandar pada kursi dan punggung gua;
”Kok belom tidur?”
”Iya, nggak bisa tidur..”
”Kayaknya kamu belakangan ini, tidurnya telat mulu deh.. nanti sakit lho..”
”Ho-oh..”
”Ada apa sih?”
”Nggak ada apa-apa..”
”Bener?”
”Bener kok..”
”Kalo ada apa-apa cerita..”
Ines kemudian duduk dikursi sebelah gua, menaikan kedua kakinya dan duduk memeluk lututnya yang dilipat.
”Ayah..”
”Ya..”
”Aku ada disini bukan Cuma jadi istri, bukan pula Cuma jadi ibu dari anak kamu, bukan Cuma jadi pajangan saat kondangan... aku ada disini sekarang sebagai sahabat kamu, sebagai tempat kamu berbagi, berbagi kala suka, berbagi kala duka, kalo kamu ada masalah, sekecil apapun kamu bisa cerita ke aku, sukur-sukur aku bisa bantu..”
Gua memandanginya saat berbicara, bibirnya, matanya, hidungnya, rambutnya, semuanya. Semua yang ada didirinya menghipnotis gua, seolah menyeret gua kedalam tatapan matanya, membuat gua seolah-olah berada di dunia lain, membuat gua kehilangan kesadaran akan kerasnya dunia, memaksa gua merobek-robek nalar dan logika sampai keambang batas. Hal yang kemudian gua sadari, bahwa inilah ’sesuatu’ yang nggak bisa gua dapatkan dari perempuan lain manapun di dunia ini, ya even Resti sekalipun.
Ines perempuan yang bisa membuat gua terbang ribuan mil jauhnya, meninggalkan cita-cita gua hanya demi menemuinya. Hal yang nggak bisa gua lakukan demi Resti.
”Nes...”
”Ya..”
”Aku mau kasih tau kamu sesuatu..”
”Apa?”
”Tunggu sebentar..”
Gua bergegas masuk kedalam, meninggalkan Ines sendiri di teras. Gua mengambil laptop dan kembali ke luar.
Backsound

GEISHA
Lumpuhkanlah Ingatanku
Jangan sembunyi
Ku mohon padamu jangan sembunyi
Sembunyi dari apa yang terjadi
Tak seharusnya hatimu kau kunci
Bertanya, cobalah bertanya pada semua
Di sini ku coba untuk bertahan
Ungkapkan semua yang ku rasakan
Kau acuhkan aku, kau diamkan aku
Kau tinggalkan aku
Lumpuhkanlah ingatanku, hapuskan tentang dia
Ku ingin ku lupakannya
Jangan sembunyi
Ku mohon padamu jangan sembunyi
Sembunyi dari apa yang terjadi
Tak seharusnya hatimu kau kunci
Lumpuhkanlah ingatanku, hapuskan tentang dia
Hapuskan memoriku tentang dia
Hilangkanlah ingatanku jika itu tentang dia
Ku ingin ku lupakannya
Lumpuhkanlah ingatanku, hapuskan tentang dia
Hapuskan memoriku tentang dia
Hilangkanlah ingatanku jika itu tentang dia
Ku ingin ku lupakannya
Lumpuhkanlah ingatanku, hapuskan tentang dia
Ku ingin ku lupakannya
Kau acuhkan aku, kau diamkan aku
Kau tinggalkan aku

GEISHA
Lumpuhkanlah Ingatanku
Jangan sembunyi
Ku mohon padamu jangan sembunyi
Sembunyi dari apa yang terjadi
Tak seharusnya hatimu kau kunci
Bertanya, cobalah bertanya pada semua
Di sini ku coba untuk bertahan
Ungkapkan semua yang ku rasakan
Kau acuhkan aku, kau diamkan aku
Kau tinggalkan aku
Lumpuhkanlah ingatanku, hapuskan tentang dia
Ku ingin ku lupakannya
Jangan sembunyi
Ku mohon padamu jangan sembunyi
Sembunyi dari apa yang terjadi
Tak seharusnya hatimu kau kunci
Lumpuhkanlah ingatanku, hapuskan tentang dia
Hapuskan memoriku tentang dia
Hilangkanlah ingatanku jika itu tentang dia
Ku ingin ku lupakannya
Lumpuhkanlah ingatanku, hapuskan tentang dia
Hapuskan memoriku tentang dia
Hilangkanlah ingatanku jika itu tentang dia
Ku ingin ku lupakannya
Lumpuhkanlah ingatanku, hapuskan tentang dia
Ku ingin ku lupakannya
Kau acuhkan aku, kau diamkan aku
Kau tinggalkan aku
regmekujo dan 15 lainnya memberi reputasi
16
Kutip
Balas
![Accidentally In Love [True Story]](https://s.kaskus.id/images/2014/04/07/6448808_20140407033338.jpg)