- Beranda
- Stories from the Heart
Accidentally In Love [True Story]
...
TS
robotpintar
Accidentally In Love [True Story]
![Accidentally In Love [True Story]](https://s.kaskus.id/images/2014/02/14/6448808_20140214023854.png)
Spoiler for Cover:
![Accidentally In Love [True Story]](https://s.kaskus.id/images/2014/02/14/6448808_20140214024411.png)
So she said what's the problem baby
What's the problem I don't know
Well maybe I'm in love (love)
Think about it every time
I think about it
Can't stop thinking 'bout it
How much longer will it take to cure this
Just to cure it cause I can't ignore it if it's love (love)
Makes me wanna turn around and face me but I don't know nothing 'bout love
Come on, come on
Turn a little faster
Come on, come on
The world will follow after
Come on, come on
Cause everybody's after love
So I said I'm a snowball running
Running down into the spring that's coming all this love
Melting under blue skies
Belting out sunlight
Shimmering love
Well baby I surrender
To the strawberry ice cream
Never ever end of all this love
Well I didn't mean to do it
But there's no escaping your love
These lines of lightning
Mean we're never alone,
Never alone, no, no
We're accidentally in love
Accidentally in love [x7]
Accidentally I'm In Love
Spoiler for Bagian 1:
#1
Quote:
“Gila lu Bon, roti segitu banyak sayang-sayang bakal empan ikan semua!”
“Emang ngapa? Ikan jaman sekarang mah ogah makan cacing, Meng”
Gua jawab aja sekena-nya, memang niatnya gua bawa roti dari rumah buat bekal pas mancing tapi, gara-gara umpan cacing gua dari tadi nggak disentuh ikan terpaksa gua ganti dengan roti. Siapa tau mujarab.
Nggak seberapa berselang, tali pancing gua bergetar, refleks gua tarik joran sekuatnya dan mendarat dengan mulus seekor ikan yang kurang lebih seukuran telapak tangan.
“Anjritt.. dari tadi dapet sapu-sapu mulu gua!”
Sambil melepas mata kail dari mulut ikan sapu-sapu yang barusan gua angkat dan langsung gua lempar lagi kedalam kali.
Tidak berapa lama, melantun lagu “Time Like This”-nya Foo Fighter dari ponsel gua. Tertera tulisan “Rumah” dilayarnya.
“Kenapa mak?”
Karena memang cuma nyokap gua aja yang selalu telpon melalui telepon rumah. Bokap dan adik gua selalu menggunakan ponsel-nya masing-masing jika ada keperluan.
“Assalamualaikum , Mancing kagak rapi-rapi luh, nih ada kiriman surat buat elu”
“Dari siapa?”
“Kagak tau, bahasanya emak nggak ngerti”
“Simpenin dulu, nih aye udah mau pulang”
“Yaudah buruan, jangan maghriban dijalan, pamali. Assalamualaikum”
“Waalaikumsalam”
Gua kantongin lagi ponsel k-ekantong celana pendek yang sekarang udah kotor campur lumpur, sambil berteriak ke temen gua; Komeng, yang lagi berkutat dengan tali pancingnya yang kusut.
“Meng, ayo balik.. udah sore”
“Belon juga dapet sekilo, udah mau balik aje”
“Yauda elu terusin dah, gua balik duluan”
Komeng menjawab dengan sedikit gumam di bibirnya terdengar seperti “Yaelah..” sambil berjalan gontai menyusul gua.
------
Itu kejadian beberapa tahun yang lalu, dimana gua dan Komeng masih biasa mencari cacing buat umpan ikan di kebun singkong belakang rumahnya Haji Salim dan kemudian pergi memancing disepanjang pinggiran sungai Pesanggrahan, Jakarta.
Sekarang, gua sedang duduk sambil bersandar di sebuah kursi lipat di pinggir danau di daerah Leeds, Inggris. Menghabiskan hari libur akhir musim gugur dengan memancing sambil bernostalgia, mencoba membangkitkan memori tentang memancing, tentang si Komeng, tentang Jakarta, tentang rumah.
Setelah berjam-jam memancing, menghabiskan berkaleng-kaleng ‘Diet Coke’ akhirnya gua memutuskan untuk menyudahi kegiatan sialan ini. Pulang dengan membawa 6 Ekor ikan Yelowtail (di Indonesia disebut ikan patin) dan sedikit kenangan tentang ‘rumah’, gua berjalan gontai menuju tempat dimana sepeda kesayangan gua diparkir, sempat kebingungan awalnya karena sekarang ada banyak sepeda yang diparkir, padahal tadi pagi baru sepeda gua aja yang nongkrong disini, setelah celingak-celinguk akhirnya ketemu juga dan gua mulai mengayuh.
Jarak dari tempat gua biasa mancing ke tempat dimana gua tinggal di Moorland Ave, Leeds kurang lebih 3,5 mil atau kalau dalam satuan Kilometer sekitar 5,5 Km. Jarak segitu kalo disini, di Inggris bisa dibilang ‘deket’, kalau naik sepeda bisa cuma 30 menit.
Oiya, nama gua Boni. Gua lahir dan dibesarkan di Jakarta. Saat ini gua kerja dan tinggal di Leeds, Inggris sekitar 2-3 jam dari London (dengan kereta). Gua kerja sebagai Sound Designer disalah satu Agensi perfilman dan periklanan di Leeds yang juga punya kantor di London. Sudah hampir 4 tahun gua kerja dan tinggal disini, ditempat dimana nggak ada sungai dengan air berwarna cokelat keruh yang banyak ikan sapu-sapunya dan nggak ada teman yang suka menggerutu “Yaelah”.
Sambil mendengarkan “Heaven” nya Lost Lonely Boys lewat headset, gua mengayuh sepeda menuju ke rumah, pulang. Melewati jalan berpasir yang dipenuhi pohon-pohon maple di kedua sisinya menuju jalan utama. Jalan yang sangat sepi dan hening, jam menunjukkan angka 4 sore, menandakan waktu shalat maghrib, di sabtu sore seperti sekarang ini memang didaerah sini sangat sepi, kebanyakan penduduk sekitar sedang ke stadion atau pub-pub untuk menyaksikan Leeds United bertanding. Ingin buru-buru sampai di rumah, karena perut udah mulai keroncongan, gua kayuh sepeda lebih cepat. Sampai kemudian terdengar sayup-sayup suara musik yang makin lama makin nyaring, suara musik RnB yang sepertinya diputar dari dalam mobil dengan volume maksimal. Suara tersebut datang dari arah belakang dan kemudian menyusul gua, sebuah BMW silver yang melaju cepat bahkan boleh dibilang sangat cepat, sambil meninggalkan debu persis seperti mobil yang sedang Rally Dakkar.
“Orang Gila!!” gua mengumpat, masih sambil dengerin coda lagu “Heaven” nya Lost Lonely Boys. Sampai gua melihat beberapa detik kemudian lampu rem BMW tersebut menyala dan kemudian berhenti.
Deg!, “Wuanjrit, sakti juga tuh orang bisa denger suara gua” sambil berhenti dan melepas headset dari telinga. Yang ternyata setelah gua sadar, suara gua nggak sepelan pas pakai headset tadi. Gua nunggu sambil dag dig dug, kalau dia ngerti ucapan gua, dia pasti orang Indonesia dan kalo ternyata bukan gua bakal siap-siap kabur.
Pintu penumpang pun terbuka, terbuka secara paksa tepatnya, sedetik kemudian keluar seseorang dari kursi penumpang, terhuyung dan kemudian terjatuh, terdengar makian dari dalam BMW tersebut mungkin seperti “bitch” atau semacamnya dan sesaat kemudian BMW tersebut pergi, mengasapi orang yang tersungkur itu dengan debu jalanan.
Nggak mau terlalu ambil pusing, sambil bernafas lega dan bilang dalam hati; “untung bukan gua”, gua meneruskan mengayuh sepeda.
“Get up Bro, life is brutal”
gua berkata ke orang itu sambil melewatinya tetap melanjutkan mengayuh. Dan beberapa meter kemudian gua mendengar sebuah teriakan, teriakan yang (pada akhirnya) bakal merubah hidup gua.
“Woii.. Help me!, you’re Indonesian, right?”
“Tolongin gue dong…”
Gua berhenti mengayuh, turun dan bengong. Sudah hampir setahun gua nggak denger secara langsung orang bicara ke gua dengan bahasa Indonesia dan suara perempuan pula.. Lima, ah mungkin sepuluh detik kemudian baru gua memalingkan muka tapi masih tetap bengong.
“Woii..”
Akhirnya gua turun dari sepeda, kemudian menghampiri orang itu. Terduduk di depan gua sosok perempuan, hitam manis dengan kepala tertutup hood jaket hitam, celana jeans dan sepatu model boots sebetis berwarna cokelat.
“Elu nggak apa-apa?”
“Menurut Lo? Kalo gue gak apa-apa, ngapain gua teriak minta tolong elu!!”
Gua nggak menjawab, berusaha membantu dia berdiri sambil bertanya lagi bagaimana keadaannya. Sekali lagi dia mengumpat;
“Gila!, nggak punya hati banget sih lu!, ya jelas lah gue kenapa-kenapa.. nih liat!”
Sambil memperlihatkan telapak tangan dan siku-nya yang luka dan kemudian menyibak celana jeans-nya yang kotor terkena debu dan sobek di beberapa bagian akibat terlempar dari mobil tadi. Sesaat baru dia sadar kalau lutut kanannya juga luka sambil meringis kesakitan dia mencoba membersihkan luka tersebut dengan air liurnya. Sangat Indonesia sekali.
“Gua pikir tadi orang mabok yang lagi berantem, disini mah biasa begitu,mbak!”
Kemudia gua kasih satu-satunya ‘Diet Coke’ sisa memancing tadi, harusnya sih air putih tapi Cuma itu yang gua punya sekarang. Sambil menggerutu karena dikasih ‘Diet Coke’ daripada air putih, diminum juga tuh minuman soda. Kemudian gua menawarkan diri buat mengantar dia ke sebuah toko kecil di ujung jalan ini, untuk membeli plester untuk membalut luka-nya.
“Jauh nggak?”
Dia bertanya sambil menurunkan hood jaketnya dan menyibak rambutnya yang pendek seleher. Kemudian terlihat jelas sebuah luka lebam di sudut mata sebelah kiri-nya, tidak, bukan cuma satu, setidaknya ada 3 luka lebam, selain disudut matanya, satu lagi di dahi sebelah kiri dan satu lagi di sudut bibir sebelah kanan, yang terakhir tampak seperti luka yang baru karena masih meninggalkan sisa bekas darah yang membeku.
Gua nggak berani bertanya, gua hindari menatap kewajahnya sambil menjawab pertanyaa-nya bahwa tokonya nggak begitu jauh dari sini, sambil menunjuk ke arah jalan utama.
---
“Emang ngapa? Ikan jaman sekarang mah ogah makan cacing, Meng”
Gua jawab aja sekena-nya, memang niatnya gua bawa roti dari rumah buat bekal pas mancing tapi, gara-gara umpan cacing gua dari tadi nggak disentuh ikan terpaksa gua ganti dengan roti. Siapa tau mujarab.
Nggak seberapa berselang, tali pancing gua bergetar, refleks gua tarik joran sekuatnya dan mendarat dengan mulus seekor ikan yang kurang lebih seukuran telapak tangan.
“Anjritt.. dari tadi dapet sapu-sapu mulu gua!”
Sambil melepas mata kail dari mulut ikan sapu-sapu yang barusan gua angkat dan langsung gua lempar lagi kedalam kali.
Tidak berapa lama, melantun lagu “Time Like This”-nya Foo Fighter dari ponsel gua. Tertera tulisan “Rumah” dilayarnya.
“Kenapa mak?”
Karena memang cuma nyokap gua aja yang selalu telpon melalui telepon rumah. Bokap dan adik gua selalu menggunakan ponsel-nya masing-masing jika ada keperluan.
“Assalamualaikum , Mancing kagak rapi-rapi luh, nih ada kiriman surat buat elu”
“Dari siapa?”
“Kagak tau, bahasanya emak nggak ngerti”
“Simpenin dulu, nih aye udah mau pulang”
“Yaudah buruan, jangan maghriban dijalan, pamali. Assalamualaikum”
“Waalaikumsalam”
Gua kantongin lagi ponsel k-ekantong celana pendek yang sekarang udah kotor campur lumpur, sambil berteriak ke temen gua; Komeng, yang lagi berkutat dengan tali pancingnya yang kusut.
“Meng, ayo balik.. udah sore”
“Belon juga dapet sekilo, udah mau balik aje”
“Yauda elu terusin dah, gua balik duluan”
Komeng menjawab dengan sedikit gumam di bibirnya terdengar seperti “Yaelah..” sambil berjalan gontai menyusul gua.
------
Itu kejadian beberapa tahun yang lalu, dimana gua dan Komeng masih biasa mencari cacing buat umpan ikan di kebun singkong belakang rumahnya Haji Salim dan kemudian pergi memancing disepanjang pinggiran sungai Pesanggrahan, Jakarta.
Sekarang, gua sedang duduk sambil bersandar di sebuah kursi lipat di pinggir danau di daerah Leeds, Inggris. Menghabiskan hari libur akhir musim gugur dengan memancing sambil bernostalgia, mencoba membangkitkan memori tentang memancing, tentang si Komeng, tentang Jakarta, tentang rumah.
Setelah berjam-jam memancing, menghabiskan berkaleng-kaleng ‘Diet Coke’ akhirnya gua memutuskan untuk menyudahi kegiatan sialan ini. Pulang dengan membawa 6 Ekor ikan Yelowtail (di Indonesia disebut ikan patin) dan sedikit kenangan tentang ‘rumah’, gua berjalan gontai menuju tempat dimana sepeda kesayangan gua diparkir, sempat kebingungan awalnya karena sekarang ada banyak sepeda yang diparkir, padahal tadi pagi baru sepeda gua aja yang nongkrong disini, setelah celingak-celinguk akhirnya ketemu juga dan gua mulai mengayuh.
Jarak dari tempat gua biasa mancing ke tempat dimana gua tinggal di Moorland Ave, Leeds kurang lebih 3,5 mil atau kalau dalam satuan Kilometer sekitar 5,5 Km. Jarak segitu kalo disini, di Inggris bisa dibilang ‘deket’, kalau naik sepeda bisa cuma 30 menit.
Oiya, nama gua Boni. Gua lahir dan dibesarkan di Jakarta. Saat ini gua kerja dan tinggal di Leeds, Inggris sekitar 2-3 jam dari London (dengan kereta). Gua kerja sebagai Sound Designer disalah satu Agensi perfilman dan periklanan di Leeds yang juga punya kantor di London. Sudah hampir 4 tahun gua kerja dan tinggal disini, ditempat dimana nggak ada sungai dengan air berwarna cokelat keruh yang banyak ikan sapu-sapunya dan nggak ada teman yang suka menggerutu “Yaelah”.
Sambil mendengarkan “Heaven” nya Lost Lonely Boys lewat headset, gua mengayuh sepeda menuju ke rumah, pulang. Melewati jalan berpasir yang dipenuhi pohon-pohon maple di kedua sisinya menuju jalan utama. Jalan yang sangat sepi dan hening, jam menunjukkan angka 4 sore, menandakan waktu shalat maghrib, di sabtu sore seperti sekarang ini memang didaerah sini sangat sepi, kebanyakan penduduk sekitar sedang ke stadion atau pub-pub untuk menyaksikan Leeds United bertanding. Ingin buru-buru sampai di rumah, karena perut udah mulai keroncongan, gua kayuh sepeda lebih cepat. Sampai kemudian terdengar sayup-sayup suara musik yang makin lama makin nyaring, suara musik RnB yang sepertinya diputar dari dalam mobil dengan volume maksimal. Suara tersebut datang dari arah belakang dan kemudian menyusul gua, sebuah BMW silver yang melaju cepat bahkan boleh dibilang sangat cepat, sambil meninggalkan debu persis seperti mobil yang sedang Rally Dakkar.
“Orang Gila!!” gua mengumpat, masih sambil dengerin coda lagu “Heaven” nya Lost Lonely Boys. Sampai gua melihat beberapa detik kemudian lampu rem BMW tersebut menyala dan kemudian berhenti.
Deg!, “Wuanjrit, sakti juga tuh orang bisa denger suara gua” sambil berhenti dan melepas headset dari telinga. Yang ternyata setelah gua sadar, suara gua nggak sepelan pas pakai headset tadi. Gua nunggu sambil dag dig dug, kalau dia ngerti ucapan gua, dia pasti orang Indonesia dan kalo ternyata bukan gua bakal siap-siap kabur.
Pintu penumpang pun terbuka, terbuka secara paksa tepatnya, sedetik kemudian keluar seseorang dari kursi penumpang, terhuyung dan kemudian terjatuh, terdengar makian dari dalam BMW tersebut mungkin seperti “bitch” atau semacamnya dan sesaat kemudian BMW tersebut pergi, mengasapi orang yang tersungkur itu dengan debu jalanan.
Nggak mau terlalu ambil pusing, sambil bernafas lega dan bilang dalam hati; “untung bukan gua”, gua meneruskan mengayuh sepeda.
“Get up Bro, life is brutal”
gua berkata ke orang itu sambil melewatinya tetap melanjutkan mengayuh. Dan beberapa meter kemudian gua mendengar sebuah teriakan, teriakan yang (pada akhirnya) bakal merubah hidup gua.
“Woii.. Help me!, you’re Indonesian, right?”
“Tolongin gue dong…”
Gua berhenti mengayuh, turun dan bengong. Sudah hampir setahun gua nggak denger secara langsung orang bicara ke gua dengan bahasa Indonesia dan suara perempuan pula.. Lima, ah mungkin sepuluh detik kemudian baru gua memalingkan muka tapi masih tetap bengong.
“Woii..”
Akhirnya gua turun dari sepeda, kemudian menghampiri orang itu. Terduduk di depan gua sosok perempuan, hitam manis dengan kepala tertutup hood jaket hitam, celana jeans dan sepatu model boots sebetis berwarna cokelat.
“Elu nggak apa-apa?”
“Menurut Lo? Kalo gue gak apa-apa, ngapain gua teriak minta tolong elu!!”
Gua nggak menjawab, berusaha membantu dia berdiri sambil bertanya lagi bagaimana keadaannya. Sekali lagi dia mengumpat;
“Gila!, nggak punya hati banget sih lu!, ya jelas lah gue kenapa-kenapa.. nih liat!”
Sambil memperlihatkan telapak tangan dan siku-nya yang luka dan kemudian menyibak celana jeans-nya yang kotor terkena debu dan sobek di beberapa bagian akibat terlempar dari mobil tadi. Sesaat baru dia sadar kalau lutut kanannya juga luka sambil meringis kesakitan dia mencoba membersihkan luka tersebut dengan air liurnya. Sangat Indonesia sekali.
“Gua pikir tadi orang mabok yang lagi berantem, disini mah biasa begitu,mbak!”
Kemudia gua kasih satu-satunya ‘Diet Coke’ sisa memancing tadi, harusnya sih air putih tapi Cuma itu yang gua punya sekarang. Sambil menggerutu karena dikasih ‘Diet Coke’ daripada air putih, diminum juga tuh minuman soda. Kemudian gua menawarkan diri buat mengantar dia ke sebuah toko kecil di ujung jalan ini, untuk membeli plester untuk membalut luka-nya.
“Jauh nggak?”
Dia bertanya sambil menurunkan hood jaketnya dan menyibak rambutnya yang pendek seleher. Kemudian terlihat jelas sebuah luka lebam di sudut mata sebelah kiri-nya, tidak, bukan cuma satu, setidaknya ada 3 luka lebam, selain disudut matanya, satu lagi di dahi sebelah kiri dan satu lagi di sudut bibir sebelah kanan, yang terakhir tampak seperti luka yang baru karena masih meninggalkan sisa bekas darah yang membeku.
Gua nggak berani bertanya, gua hindari menatap kewajahnya sambil menjawab pertanyaa-nya bahwa tokonya nggak begitu jauh dari sini, sambil menunjuk ke arah jalan utama.
---
DAFTAR ISI
Quote:
CHAPTER 1
#1 The Beginning
#2 Truly Gentlemen
#3 Place Called Home
#4 The Morning Fever
#5 A Miserable Story
#6 Night Rain
#7 Inside My Head
#8 That Day
#9 Be Tough
#10 Mukena
#1 The Beginning
#2 Truly Gentlemen
#3 Place Called Home
#4 The Morning Fever
#5 A Miserable Story
#6 Night Rain
#7 Inside My Head
#8 That Day
#9 Be Tough
#10 Mukena
Quote:
CHAPTER 2
#11-A Trip To Manchester
#11-B The Swiss Army
#12 Here's and Back Again
#13 I Miss You So Bad
#14 Going Mad
#15 Promise
#16 You’ll Be The Only Light I See
#17 The Winter Tears
#18 She's Gone
#19 That Memories
#11-A Trip To Manchester
#11-B The Swiss Army
#12 Here's and Back Again
#13 I Miss You So Bad
#14 Going Mad
#15 Promise
#16 You’ll Be The Only Light I See
#17 The Winter Tears
#18 She's Gone
#19 That Memories
Quote:
CHAPTER 3
[URL="http://www.kaskus.co.id/show_post/530ff7e41acb17030d8b48f1/479/- "]#19-A The Hood[/URL]
#19-B Heres And Back Again II
#19-C Weak
#19-D Surrender
#19-E The Choice
#19-F Anything For You
#19-G Chelsea Number 8
#19-H Its not always about gold and glory
#19-I Aku
#19-J The Words
#19-K The Persian Cat
#19-L You Really The Only Light I See
#19-M So Be It
#19-N Less Than Perfect
#20 That Day II
[URL="http://www.kaskus.co.id/show_post/530ff7e41acb17030d8b48f1/479/- "]#19-A The Hood[/URL]
#19-B Heres And Back Again II
#19-C Weak
#19-D Surrender
#19-E The Choice
#19-F Anything For You
#19-G Chelsea Number 8
#19-H Its not always about gold and glory
#19-I Aku
#19-J The Words
#19-K The Persian Cat
#19-L You Really The Only Light I See
#19-M So Be It
#19-N Less Than Perfect
#20 That Day II
Quote:
CHAPTER 4 The Prekuel
#21 The Prologue
#22 My Precious
#23 Ticket to Ride
#24 Singapore
#25 Dreams
#26 The Awkward Moment
#27 Logic
#28 Driver In Life
#29 The Risk Taker
#30 Sorry
#31 Rise Again
#32 Goodbye
#21 The Prologue
#22 My Precious
#23 Ticket to Ride
#24 Singapore
#25 Dreams
#26 The Awkward Moment
#27 Logic
#28 Driver In Life
#29 The Risk Taker
#30 Sorry
#31 Rise Again
#32 Goodbye
Quote:
CHAPTER 5!!
#33 London
#34 Unwell
#35 I Was Here
#36 Leeds
#37 New Home, New Life
#38 Alone
#39 Intermezo
#40 Goin' Trough
#41 At Glance
#42 The Past of The Future
#33 London
#34 Unwell
#35 I Was Here
#36 Leeds
#37 New Home, New Life
#38 Alone
#39 Intermezo
#40 Goin' Trough
#41 At Glance
#42 The Past of The Future
Quote:
CHAPTER 6
#43 My First ...
#44 If Lovin' You ...
#45 Goin' Back
#46 Leeds II
#47 I Love You (Jealousy)
#48 After All
#49 Hell Yeah
#50 Conflict
#51 Liar-Liar
#52 Memories
#43 My First ...
#44 If Lovin' You ...
#45 Goin' Back
#46 Leeds II
#47 I Love You (Jealousy)
#48 After All
#49 Hell Yeah
#50 Conflict
#51 Liar-Liar
#52 Memories
Quote:
Quote:
Diubah oleh robotpintar 10-04-2014 08:46
carangkasampah dan 121 lainnya memberi reputasi
120
1.3M
Kutip
2.3K
Balasan
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
robotpintar
#1618
Spoiler for Bagian ke empat puluh enam:
#46 Leeds II
Quote:
Jam menunjukkan pukul 9 pagi saat kami tiba di Heathrow, London. Setelah melalui proses imigrasi yang lumayan lama, mungkin karena kali ini visa yang gua bawa adalah visa turis, bukan visa kerja seperti saat pertama kali datang kesini. Gua berdiri di depan toilet wanita, menunggu Ines yang sepertinya jet-lag sampai muntah-muntah. Keluar dari toilet gua melihat raut wajahnya yang pucat dan rambut pendeknya yang kusut. Gua merangkulnya kemudian memakaikan kupluk dan syal dilehernya, kemudian bergegas keluar dari bandara.
Udara dingin bulan desember berhembus menyisir rambut dan tengkuk gua, Ines memeluk erat gua, tubuhnya sedikit bergetar. Gua mengajak dia berjalan masuk kembali kedalam lobi bandara yang sedikit hangat, kemudian keluar lagi dan gua lakukan hal tersebut beberapa kali sampai tubuh Ines mampu beradaptasi. Setelah mondar-mandir beberapa kali, dan dia sudah mulai menyesuaikan diri, tubuhnya sudah tak lagi bergetar, hanya sesekali menggosokkan telapak tangannya.
”Naik taksi aja ya..”
Gua menawarkan ke ines untuk naik taksi. Tapi dia menggeleng.
”Nggak ah, jangan.. mahal..”
”Daripada kamu kedinginan begitu, ntar mimisan lagi..”
”Nggak mau.. naik bis aja..”
Akhirnya kami memilih naik bis, menuju ke statsiun Kingg Cross.
Cuma dalam hitungan menit, kami sudah tiba di stasiun kereta api King Cross, Ines bertanya kenapa kita harus kesini, kenapa gua nggak bergegas mencari hotel. Gua hanya tersenyum nggak menjawab pertanyaannya. Setelah membeli tiket virgin Train, gua menyerahkan tiket tersebut kepada Ines, tertera disana tujuan ’asli’ dari bulan madu kami, Leeds.
Ines tersenyum, dia berjinjit, meraih tengkuk gua dan mencium kening gua.
Didalam kereta tak henti-hentinya Ines, bernyanyi. Ingatan gua seketika melayang ke masa beberapa tahun yang lalu, saat dalam perjalanan pertama kali gua dan Ines dengan kereta yang sama, waktu itu gua mengajak dia untuk nonton United di Old Trafford. Perempuan yang waktu itu juga bernyanyi –nyanyi didalam kereta hingga ditegur oleh penumpang lain itu kini telah menjadi istri gua.
Dua jam berikutnya kami sudah tiba di Leeds station. Suasana disini sedikit ramai, apalagi ditambah dekorasi natal disana-sini. Ada beberapa struktur bangunan gedung stasiun yang sedikit berubah, gua memandang sekeliling mencoba membangkitkan lagi kenangan akan stasiun ini. Setelah sebentar bernostalgia dengan isi stasiun gua menggandeng Ines sambil menyeret koper keluar dari stasiun, gua celingak celinguk mencari taksi. Ines menarik tangan gua;
”Jalan aja yuk..”
Gua tersenyum dan mulai melangkah bersama Ines.
”Kamu nggak dingin emang, kok ngajakin jalan?”
Gua berjalan disisi Ines sambil tetap menggandeng tangannya.
”Nggak, aku malah pengen jalan, sekalian nostalgia..”
”Emang tau kita mau nginep dimana?”
Ines menggeleng.
”Emang mau nginep dimana?”
”Aku juga belon tau..”
”Ish kamu maaah...”
”Udah ikut aja..”
”Boon, tapi nanti mampir ke tempat Darcy ya..”
”Iyaaa...”
Dua puluh menit berikutnya kami sudah tiba di Moorland Rd, berjalan di trotoar yang basah mungkin bekas salju yang mencair semalam. Kami melewati rumah rumah mungil dengan bentuk yang hampir sama disepanjang jalannya, sampai kami tiba di depan sebuah rumah dengan tembok dari bata merah dan pintu tua berwarna biru.
Gua mulai mulai mengetuk, sambil menunggu jawaban gua dan Ines saling pandang. Sesaat kemudian pintu terbuka, sesosok perempuan berusia lebih dari setengah baya muncul dari balik pintu, Sosok Darcy muncul, dia sedikit tercengan dan kaget melihat kehadiran gua. Darcy tersenyum kemudian memeluk gua sambil berbisik;
”Youre Back.. what a suprise..”
Dia melepaskan pelukan dan berpaling ke Ines;
”... and.. my lil girl.. wow.. you look pretty..”
Dan kemudian mereka berdua berpelukan.
Darcy mempersilahkan gua dan Ines masuk, dia menyediakan teh hangat untuk Ines dan secangkir kopi untuk gua. Setelah bercakap-cakap sebentar, gua bertanya ke Darcy tentang tempat menginap yang bagus disekitar sini, Darcy Cuma menggeleng, kemudian dia berdiri, berjalan menuju ke kamarnya, sesaat kemudian dia kembali sambil menenteng anak kunci, dan tentu saja gua sangat mengenali anak kunci tersebut. Dia menyerahkannya ke gua;
” I clean it every day...”
Darcy berkata sambil kembali duduk di kursinya.
”... I leave it unoccupied, since you been gone..”
”Why...”
”Sharon will use it.. next year, when she has graduated...”
”Owh..”
”How long you will stay?”
”Four days.. for honeymoon”
”Whaat..??”
Darcy terperanjat, shock.
Kemudian dia berdiri mencak-mencak, ngedumel, dan ngomel, tantang kenapa kami menikah tanpa memberitahunya.
”Okey, that will be my wedding gifts..”
Darcy yang sudah mulai tenang, duduk kembali dan menunjuk ke arah ank kunci yang kini gua pegang. Kemudian disusul Darcy yang memeluk Ines sambil menggoyang-goyangkan tubuh mereka, jadi mirip seperti orang berdansa.
Setelah satu jam lamanya kami ngobrol sambil peluk-pelukan, akhirnya Darcy berdiri dan mengantar kami ke rumah sebelah. Tempat dimana dulu, selama 5 tahun gua tinggal. Dia meninggalkan kami berdiri didepan sebuah pintu dengan anak kunci ditangan gua. Gua memasukkan anak kunci dan mulai memutarnya;
Cklek, Cklek... disusul bunyi berdecit kreeek...
Pintu terbuka. Gua dan Ines saling pandang dan bersama-sama membuang pandangan ke dalam.
Gua melangkahkan kaki masuk kedalam, membelai meja dan kursi dapur kemudian bergerak menuju ke kamar, gua membuka pintu, menghela nafas panjang, kali ini Darcy mengganti seprainya, warna seprainya kali ini hitam tidak lagi ungu seperti warna yang dulu. Gua melongok keluar, Ines sedang bersandar pada bingkai pintu, menangis sesenggukan.
”Ya ampun ni anak cengeng-nya bukan maen dah ah..”
Gua menghampirinya, memapahnya masuk dan mendudukkannya ke sofa.
”Kamu kenapa?”
”Nggak tau.. kok pas ngeliat ruangan ini, ditambah kamu didalemnya.. aku jadi melow gitu..”
”Halah.. kirain kenapa.. udah sana ganti baju.. aku mau beli makan dulu ya..”
”Aaaah jangan ditinggalin... aku ikuuuttt..”
”Nggak usah lah, istirahat aja.. nanti kecapean..”
”Yaah..”
Kemudian gua bergegas keluar, meninggalkan Ines sendiri didalam ruangan tersebut, ruangan yang saat ini sudah tidak bisa lagi gua sebut rumah.
Dan sisa hari itu gua habiskan dengan bercengkrama dengan Ines dalam hangat-nya kamar.
---
Pagi di Hari kedua berada Leeds, kami habiskan dengan berjalan kaki mengunjungi LeGrocery, sekedar duduk-duduk di tangga beranda tempat dulu Ines duduk menunggu gua membeli air. Kemudian berlanjut ke jalan ’berpasir’ yang kali ini karena musim dingin jadi berlumpur;
”Booon.. kok lumpur gitu sih jalannya...?”
”Ya namanya juga pasir kena aer.. mau ikut nggak?”
”Mau.. tapi gendoong...”
”Udah copot aja sepatunya...”
”Nggak mau... aku maunya digendoong..”
”Yaelah...”
Gua ngedumel sambil membungkuk didepan Ines yang tengah melepas sepatu converse kulit kesayangannya-nya kemudian dia naik kepunggung, tanganya menyilang didada gua. Gua berjalan pelan melalui jalan penuh lumpur yang mengarah ke danau, sesekali hampir terpeleset saat menginjak sisi tanah yang licin. Gua berhenti di bagian jalan yang dibagian sisinya terdapat batu yang cukup besar, setelah menurunkan Ines diatas batu tersebut gua menunjuk ke tengah jalan berlumpur;
”Tuh.. disitu tuh, tempat kamu dulu dilempar...”
Gua menunjuk sebuah titik di jalan sambil ngos-ngosan setelah menggendong Ines.
”Terus aku ketemu kamu deeeh....”
Ines berdiri diatas batu, merentangkan kedua tangannya ke arah gua;
”Peyuuuuukkk.....”
Kemudian dia menerjang memeluk gua, mengangkat kakinya dan menyilangkannya ke pinggul gua.
”Susah lah nes kalo nggendongnya begini.. nggak ngeliat aku-nya..”
Kemudian Ines kembali berdiri diatas batu, memutar posisi tubuh gua dan kembali menaiki punggung.
Kami pun bergerak pulang. Sepanjang perjalanan Ines tetap keukeuh nggak mau diturunkan dari gendongan. Sesekali dia bercerita sambil menyanyi kecil;
”Kadang aku suka ngebayangin deh, bon... kalo misalnya dulu aku dilempar dari mobil terus nggak ketemu kamu, gimana ya..”
Gua nggak menjawab, Cuma mengangkat kedua bahu.
”... Kalo aku nggak ketemu kamu pada hari itu, mungkin aku udah diselametin sama pangeran dari Dubai kali yaa, trus sekarang aku mungkin lagi liburan di Hawaii menikmati hangatnya mentari...”
”Keep dreamin’... kalo nggak ketemu aku, paling kamu dimakan srigala..”
”Ah boong.. emang ada srigala disini?”
”Kalo srigala beneran sih nggak ada, tapi kalo srigala jejadian...ada..”
Gua memelankan nada suara gua, membuat seolah seperti narasi reality show horor. Ines yang sepertinya percaya dengan gurauan gua tentang ’srigala’ jadi-jadian itu mulai panik dan mendekap leher gua erat.
”Bo ong aaahhh...”
”Serius.. kalo nggak percaya, kamu aku tinggal ya disini...”
”Nggak Mau!!..”
Ines mencubit lengan gua.
”Eh nes.. ntar sore Heru mau kesini, aku jemput ke stasiun ya...”
”Ikuuut..”
”Ngapain siy, orang Cuma jemput heru doang.. ntar kamu masak aja dirumah..”
”Yaaah, yaudah..”
Sesampainya dirumah, gua meninggalkan Ines yang tengah menyiapkan masakan. Tinggal disini (lagi) buat gua dan Ines sama sekali nggak membuat canggung, Ines bahkan tau dimana letak perabotan-perabotan memasak. Setelah pamit dengan Ines gua bergegas keluar, cuaca diluar gerimis disertai sedikit butiran salju halus, gua mempercepat langkah dan menaikkan hood jaket.
Baru berjalan beberapa puluh meter, ponsel gua berbunyi, dilayarnya tertera nama ’Heru’;
”Halo..”
”Dimana lu, gua udah sampe nih..”
”Yaudah tunggu, bentar lagi nyampe..”
Tut tut tut tut.
Bener-bener nggak punya manner nih anak.
Gua semakin mempercepat langkah, takut Heru kelamaan nunggu.
Nggak sampai lima belas menit kemudian gua sudah berada di Leeds Station, setelah celingak-celinguk sebentar, terlihat sosok Heru sedang melambai-lambaikan tangannya memanggil-manggil gua. Gua tersenyum, membalas lambaiannya, dia menghampiri.
”Apa kabar bro?”
Heru menyalami gua.
”Hahaha.. baik bro.. lu kayak-nya keliatan bersihan ruk..”
”Bisa aja lu, mandi susu gua..”
”Yuk..”
”Jauh nggak?”
”Kagak.. ”
Kemudian kami berdua berjalan menembus hujan.
”Gimana bini lu? Udah bunting?”
Heru membuka pembicaraan dengan bertanya tentang Ines.
”Belon nih ruk..”
”Wah, berenti ngerokok luh.. ”
”Mana bisa...”
”Mau punya anak kagak?”
”Ah elu juga klepas-klepus...”
”Ya ntar kalo merit gua berenti..”
”Eh ruk, kalo didepan Ines, jangan nanya-nanya masalah ’hamil’”
”Oh.. oke deh.. oiya lu kemari dalam rangka liburan kan? Bukan kerja..”
”Iya, sebenernya sih bulan madu.. ”
”Buseet.. telaaaat banget lu bulan madunya”
”Iya kan belon sempet dulu..”
Nggak terasa kami sudah memasuki jalan Moorland Rd dan beberapa saat kemudian gua dan Heru pun sudah berada didalam. Seteleh menggantung jaket dan mantel yang basah, gua mempersilahkan heru duduk, Ines keluar dari kamar kemudian menyalami Heru, berbasa-basi sedikit kemudian ikutan duduk tapi karena sofanya nggak cukup untuk tiga orang, akhirnya Ines mengalah, dia beringsut menuju ke meja dapur.
”Heru mau kopi?”
Ines menawarkan kopi kepada heru.
”Boleh..boleh..”
”Manis apa nggak?”
”Sendoknya kayak apa?”
”Kayak begini..”
Ines mengangkat sendok yang bakal dipakai menyendok kopi dan gula.
”Oh.. kopinya tiga sendok, gulanya satu..”
Heru mengangkat telunjuk tangannya.
”Aku juga mau dong nes..”
Gua ikut-ikutan minta dibuatkan kopi.
”Nggak, kamu udah ngopi tadi.. sehari jatahnya secangkir..”
”Yaah..”
Sore itu kami bertiga larut dalam obrolan, obrolan tentang masa di singapore dulu, tentang bagaimana waktu gua baru pindah ke Leeds dari London, Heru pun nggak ketinggalan, dia bercerita tentang betapa asiknya tinggal di Great Manchester dan tentunya, sisa dari ceritanya sudah pasti tentang United. Ines mendengarkan sambil sesekali bertanya ; ”Emang iya?”, ”Ooh..”, ”Ish..”
Setelah lama berbincang, Ines membubarkan obrolan dengan mengangkat semua gelas minuman yang ada di meja, kemudian menghidangkan ayam mentega panggang dan mashed potatoes. Heru berdecak kagum, menggeleng-geleng kepala;
”Jago masak rupanya si nyonya ini..”
”Hahaha bisa aja heru.. gampang lagi masak ayam begini mah..”
”Gimana cara-nya nes, bosen nih gua makan ayam goreng mulu tiap hari..”
”Emang heru masak sendiri?”
”Iya.. kalo nggak masak sendiri, bisa tongpes gua hidup di manchester..”
”Udah ntar bongkar resepnya, makan dulu..”
Gua memotong pembicaraan mereka sambil memotong ayam panggang yang dibuat Ines.
Kami pun makan malam bersama dengan gaya orang-orang inggris, benar-benar tipikal hidup sosial ala orang inggris. Menikmati Teh disore hari dan disusul makan malam, tapi tentu saja setelah makan malam nggak ada yang namanya minum anggur.
”Eh.. resti apa kabar bon, di indo nggak ketemu lu?”
Heru bertanya sambil tersenyum penuh arti kepada gua
Mampus dah gua!
Udara dingin bulan desember berhembus menyisir rambut dan tengkuk gua, Ines memeluk erat gua, tubuhnya sedikit bergetar. Gua mengajak dia berjalan masuk kembali kedalam lobi bandara yang sedikit hangat, kemudian keluar lagi dan gua lakukan hal tersebut beberapa kali sampai tubuh Ines mampu beradaptasi. Setelah mondar-mandir beberapa kali, dan dia sudah mulai menyesuaikan diri, tubuhnya sudah tak lagi bergetar, hanya sesekali menggosokkan telapak tangannya.
”Naik taksi aja ya..”
Gua menawarkan ke ines untuk naik taksi. Tapi dia menggeleng.
”Nggak ah, jangan.. mahal..”
”Daripada kamu kedinginan begitu, ntar mimisan lagi..”
”Nggak mau.. naik bis aja..”
Akhirnya kami memilih naik bis, menuju ke statsiun Kingg Cross.
Cuma dalam hitungan menit, kami sudah tiba di stasiun kereta api King Cross, Ines bertanya kenapa kita harus kesini, kenapa gua nggak bergegas mencari hotel. Gua hanya tersenyum nggak menjawab pertanyaannya. Setelah membeli tiket virgin Train, gua menyerahkan tiket tersebut kepada Ines, tertera disana tujuan ’asli’ dari bulan madu kami, Leeds.
Ines tersenyum, dia berjinjit, meraih tengkuk gua dan mencium kening gua.
Didalam kereta tak henti-hentinya Ines, bernyanyi. Ingatan gua seketika melayang ke masa beberapa tahun yang lalu, saat dalam perjalanan pertama kali gua dan Ines dengan kereta yang sama, waktu itu gua mengajak dia untuk nonton United di Old Trafford. Perempuan yang waktu itu juga bernyanyi –nyanyi didalam kereta hingga ditegur oleh penumpang lain itu kini telah menjadi istri gua.
Dua jam berikutnya kami sudah tiba di Leeds station. Suasana disini sedikit ramai, apalagi ditambah dekorasi natal disana-sini. Ada beberapa struktur bangunan gedung stasiun yang sedikit berubah, gua memandang sekeliling mencoba membangkitkan lagi kenangan akan stasiun ini. Setelah sebentar bernostalgia dengan isi stasiun gua menggandeng Ines sambil menyeret koper keluar dari stasiun, gua celingak celinguk mencari taksi. Ines menarik tangan gua;
”Jalan aja yuk..”
Gua tersenyum dan mulai melangkah bersama Ines.
”Kamu nggak dingin emang, kok ngajakin jalan?”
Gua berjalan disisi Ines sambil tetap menggandeng tangannya.
”Nggak, aku malah pengen jalan, sekalian nostalgia..”
”Emang tau kita mau nginep dimana?”
Ines menggeleng.
”Emang mau nginep dimana?”
”Aku juga belon tau..”
”Ish kamu maaah...”
”Udah ikut aja..”
”Boon, tapi nanti mampir ke tempat Darcy ya..”
”Iyaaa...”
Dua puluh menit berikutnya kami sudah tiba di Moorland Rd, berjalan di trotoar yang basah mungkin bekas salju yang mencair semalam. Kami melewati rumah rumah mungil dengan bentuk yang hampir sama disepanjang jalannya, sampai kami tiba di depan sebuah rumah dengan tembok dari bata merah dan pintu tua berwarna biru.
Gua mulai mulai mengetuk, sambil menunggu jawaban gua dan Ines saling pandang. Sesaat kemudian pintu terbuka, sesosok perempuan berusia lebih dari setengah baya muncul dari balik pintu, Sosok Darcy muncul, dia sedikit tercengan dan kaget melihat kehadiran gua. Darcy tersenyum kemudian memeluk gua sambil berbisik;
”Youre Back.. what a suprise..”
Dia melepaskan pelukan dan berpaling ke Ines;
”... and.. my lil girl.. wow.. you look pretty..”
Dan kemudian mereka berdua berpelukan.
Darcy mempersilahkan gua dan Ines masuk, dia menyediakan teh hangat untuk Ines dan secangkir kopi untuk gua. Setelah bercakap-cakap sebentar, gua bertanya ke Darcy tentang tempat menginap yang bagus disekitar sini, Darcy Cuma menggeleng, kemudian dia berdiri, berjalan menuju ke kamarnya, sesaat kemudian dia kembali sambil menenteng anak kunci, dan tentu saja gua sangat mengenali anak kunci tersebut. Dia menyerahkannya ke gua;
” I clean it every day...”
Darcy berkata sambil kembali duduk di kursinya.
”... I leave it unoccupied, since you been gone..”
”Why...”
”Sharon will use it.. next year, when she has graduated...”
”Owh..”
”How long you will stay?”
”Four days.. for honeymoon”
”Whaat..??”
Darcy terperanjat, shock.
Kemudian dia berdiri mencak-mencak, ngedumel, dan ngomel, tantang kenapa kami menikah tanpa memberitahunya.
”Okey, that will be my wedding gifts..”
Darcy yang sudah mulai tenang, duduk kembali dan menunjuk ke arah ank kunci yang kini gua pegang. Kemudian disusul Darcy yang memeluk Ines sambil menggoyang-goyangkan tubuh mereka, jadi mirip seperti orang berdansa.
Setelah satu jam lamanya kami ngobrol sambil peluk-pelukan, akhirnya Darcy berdiri dan mengantar kami ke rumah sebelah. Tempat dimana dulu, selama 5 tahun gua tinggal. Dia meninggalkan kami berdiri didepan sebuah pintu dengan anak kunci ditangan gua. Gua memasukkan anak kunci dan mulai memutarnya;
Cklek, Cklek... disusul bunyi berdecit kreeek...
Pintu terbuka. Gua dan Ines saling pandang dan bersama-sama membuang pandangan ke dalam.
Gua melangkahkan kaki masuk kedalam, membelai meja dan kursi dapur kemudian bergerak menuju ke kamar, gua membuka pintu, menghela nafas panjang, kali ini Darcy mengganti seprainya, warna seprainya kali ini hitam tidak lagi ungu seperti warna yang dulu. Gua melongok keluar, Ines sedang bersandar pada bingkai pintu, menangis sesenggukan.
”Ya ampun ni anak cengeng-nya bukan maen dah ah..”
Gua menghampirinya, memapahnya masuk dan mendudukkannya ke sofa.
”Kamu kenapa?”
”Nggak tau.. kok pas ngeliat ruangan ini, ditambah kamu didalemnya.. aku jadi melow gitu..”
”Halah.. kirain kenapa.. udah sana ganti baju.. aku mau beli makan dulu ya..”
”Aaaah jangan ditinggalin... aku ikuuuttt..”
”Nggak usah lah, istirahat aja.. nanti kecapean..”
”Yaah..”
Kemudian gua bergegas keluar, meninggalkan Ines sendiri didalam ruangan tersebut, ruangan yang saat ini sudah tidak bisa lagi gua sebut rumah.
Dan sisa hari itu gua habiskan dengan bercengkrama dengan Ines dalam hangat-nya kamar.
---
Pagi di Hari kedua berada Leeds, kami habiskan dengan berjalan kaki mengunjungi LeGrocery, sekedar duduk-duduk di tangga beranda tempat dulu Ines duduk menunggu gua membeli air. Kemudian berlanjut ke jalan ’berpasir’ yang kali ini karena musim dingin jadi berlumpur;
”Booon.. kok lumpur gitu sih jalannya...?”
”Ya namanya juga pasir kena aer.. mau ikut nggak?”
”Mau.. tapi gendoong...”
”Udah copot aja sepatunya...”
”Nggak mau... aku maunya digendoong..”
”Yaelah...”
Gua ngedumel sambil membungkuk didepan Ines yang tengah melepas sepatu converse kulit kesayangannya-nya kemudian dia naik kepunggung, tanganya menyilang didada gua. Gua berjalan pelan melalui jalan penuh lumpur yang mengarah ke danau, sesekali hampir terpeleset saat menginjak sisi tanah yang licin. Gua berhenti di bagian jalan yang dibagian sisinya terdapat batu yang cukup besar, setelah menurunkan Ines diatas batu tersebut gua menunjuk ke tengah jalan berlumpur;
”Tuh.. disitu tuh, tempat kamu dulu dilempar...”
Gua menunjuk sebuah titik di jalan sambil ngos-ngosan setelah menggendong Ines.
”Terus aku ketemu kamu deeeh....”
Ines berdiri diatas batu, merentangkan kedua tangannya ke arah gua;
”Peyuuuuukkk.....”
Kemudian dia menerjang memeluk gua, mengangkat kakinya dan menyilangkannya ke pinggul gua.
”Susah lah nes kalo nggendongnya begini.. nggak ngeliat aku-nya..”
Kemudian Ines kembali berdiri diatas batu, memutar posisi tubuh gua dan kembali menaiki punggung.
Kami pun bergerak pulang. Sepanjang perjalanan Ines tetap keukeuh nggak mau diturunkan dari gendongan. Sesekali dia bercerita sambil menyanyi kecil;
”Kadang aku suka ngebayangin deh, bon... kalo misalnya dulu aku dilempar dari mobil terus nggak ketemu kamu, gimana ya..”
Gua nggak menjawab, Cuma mengangkat kedua bahu.
”... Kalo aku nggak ketemu kamu pada hari itu, mungkin aku udah diselametin sama pangeran dari Dubai kali yaa, trus sekarang aku mungkin lagi liburan di Hawaii menikmati hangatnya mentari...”
”Keep dreamin’... kalo nggak ketemu aku, paling kamu dimakan srigala..”
”Ah boong.. emang ada srigala disini?”
”Kalo srigala beneran sih nggak ada, tapi kalo srigala jejadian...ada..”
Gua memelankan nada suara gua, membuat seolah seperti narasi reality show horor. Ines yang sepertinya percaya dengan gurauan gua tentang ’srigala’ jadi-jadian itu mulai panik dan mendekap leher gua erat.
”Bo ong aaahhh...”
”Serius.. kalo nggak percaya, kamu aku tinggal ya disini...”
”Nggak Mau!!..”
Ines mencubit lengan gua.
”Eh nes.. ntar sore Heru mau kesini, aku jemput ke stasiun ya...”
”Ikuuut..”
”Ngapain siy, orang Cuma jemput heru doang.. ntar kamu masak aja dirumah..”
”Yaaah, yaudah..”
Sesampainya dirumah, gua meninggalkan Ines yang tengah menyiapkan masakan. Tinggal disini (lagi) buat gua dan Ines sama sekali nggak membuat canggung, Ines bahkan tau dimana letak perabotan-perabotan memasak. Setelah pamit dengan Ines gua bergegas keluar, cuaca diluar gerimis disertai sedikit butiran salju halus, gua mempercepat langkah dan menaikkan hood jaket.
Baru berjalan beberapa puluh meter, ponsel gua berbunyi, dilayarnya tertera nama ’Heru’;
”Halo..”
”Dimana lu, gua udah sampe nih..”
”Yaudah tunggu, bentar lagi nyampe..”
Tut tut tut tut.
Bener-bener nggak punya manner nih anak.
Gua semakin mempercepat langkah, takut Heru kelamaan nunggu.
Nggak sampai lima belas menit kemudian gua sudah berada di Leeds Station, setelah celingak-celinguk sebentar, terlihat sosok Heru sedang melambai-lambaikan tangannya memanggil-manggil gua. Gua tersenyum, membalas lambaiannya, dia menghampiri.
”Apa kabar bro?”
Heru menyalami gua.
”Hahaha.. baik bro.. lu kayak-nya keliatan bersihan ruk..”
”Bisa aja lu, mandi susu gua..”
”Yuk..”
”Jauh nggak?”
”Kagak.. ”
Kemudian kami berdua berjalan menembus hujan.
”Gimana bini lu? Udah bunting?”
Heru membuka pembicaraan dengan bertanya tentang Ines.
”Belon nih ruk..”
”Wah, berenti ngerokok luh.. ”
”Mana bisa...”
”Mau punya anak kagak?”
”Ah elu juga klepas-klepus...”
”Ya ntar kalo merit gua berenti..”
”Eh ruk, kalo didepan Ines, jangan nanya-nanya masalah ’hamil’”
”Oh.. oke deh.. oiya lu kemari dalam rangka liburan kan? Bukan kerja..”
”Iya, sebenernya sih bulan madu.. ”
”Buseet.. telaaaat banget lu bulan madunya”
”Iya kan belon sempet dulu..”
Nggak terasa kami sudah memasuki jalan Moorland Rd dan beberapa saat kemudian gua dan Heru pun sudah berada didalam. Seteleh menggantung jaket dan mantel yang basah, gua mempersilahkan heru duduk, Ines keluar dari kamar kemudian menyalami Heru, berbasa-basi sedikit kemudian ikutan duduk tapi karena sofanya nggak cukup untuk tiga orang, akhirnya Ines mengalah, dia beringsut menuju ke meja dapur.
”Heru mau kopi?”
Ines menawarkan kopi kepada heru.
”Boleh..boleh..”
”Manis apa nggak?”
”Sendoknya kayak apa?”
”Kayak begini..”
Ines mengangkat sendok yang bakal dipakai menyendok kopi dan gula.
”Oh.. kopinya tiga sendok, gulanya satu..”
Heru mengangkat telunjuk tangannya.
”Aku juga mau dong nes..”
Gua ikut-ikutan minta dibuatkan kopi.
”Nggak, kamu udah ngopi tadi.. sehari jatahnya secangkir..”
”Yaah..”
Sore itu kami bertiga larut dalam obrolan, obrolan tentang masa di singapore dulu, tentang bagaimana waktu gua baru pindah ke Leeds dari London, Heru pun nggak ketinggalan, dia bercerita tentang betapa asiknya tinggal di Great Manchester dan tentunya, sisa dari ceritanya sudah pasti tentang United. Ines mendengarkan sambil sesekali bertanya ; ”Emang iya?”, ”Ooh..”, ”Ish..”
Setelah lama berbincang, Ines membubarkan obrolan dengan mengangkat semua gelas minuman yang ada di meja, kemudian menghidangkan ayam mentega panggang dan mashed potatoes. Heru berdecak kagum, menggeleng-geleng kepala;
”Jago masak rupanya si nyonya ini..”
”Hahaha bisa aja heru.. gampang lagi masak ayam begini mah..”
”Gimana cara-nya nes, bosen nih gua makan ayam goreng mulu tiap hari..”
”Emang heru masak sendiri?”
”Iya.. kalo nggak masak sendiri, bisa tongpes gua hidup di manchester..”
”Udah ntar bongkar resepnya, makan dulu..”
Gua memotong pembicaraan mereka sambil memotong ayam panggang yang dibuat Ines.
Kami pun makan malam bersama dengan gaya orang-orang inggris, benar-benar tipikal hidup sosial ala orang inggris. Menikmati Teh disore hari dan disusul makan malam, tapi tentu saja setelah makan malam nggak ada yang namanya minum anggur.
”Eh.. resti apa kabar bon, di indo nggak ketemu lu?”
Heru bertanya sambil tersenyum penuh arti kepada gua
Mampus dah gua!
Backsound


I'm coming out of my cage
And I've been doing just fine
Gotta gotta be down
Because I want it all
It started out with a kiss
How did it end up like this?
It was only a kiss
It was only a kiss
Now I'm falling asleep
And she's calling a cab
While he's having a smoke
And she's taking a drag
Now they're going to bed
And my stomach is sick
And it's all in my head
But she's touching his chest now
He takes off her dress now
Let me go
And I just can't look it's killing me
And taking control
Jealousy, turning saints into the sea
Swimming through sick lullabies
Choking on your alibis
But it's just the price I pay
Destiny is calling me
Open up my eager eyes
Cause I'm Mr. Brightside
I'm coming out of my cage
And I've been doing just fine
Gotta gotta be down
Because I want it all
It started out with a kiss
How did it end up like this?
It was only a kiss
It was only a kiss
Now I'm falling asleep
And she's calling a cab
While he's having a smoke
And she's taking a drag
Now they're going to bed
And my stomach is sick
And it's all in my head
But she's touching his chest now
He takes off her dress now
Let me go
Cause I just can't look it's killing me
And taking control
Jealousy, turning saints into the sea
Swimming through sick lullabies
Choking on your alibis
But it's just the price I pay
Destiny is calling me
Open up my eager eyes
Cause I'm Mr. Brightside
I never
I never
I never
I never


I'm coming out of my cage
And I've been doing just fine
Gotta gotta be down
Because I want it all
It started out with a kiss
How did it end up like this?
It was only a kiss
It was only a kiss
Now I'm falling asleep
And she's calling a cab
While he's having a smoke
And she's taking a drag
Now they're going to bed
And my stomach is sick
And it's all in my head
But she's touching his chest now
He takes off her dress now
Let me go
And I just can't look it's killing me
And taking control
Jealousy, turning saints into the sea
Swimming through sick lullabies
Choking on your alibis
But it's just the price I pay
Destiny is calling me
Open up my eager eyes
Cause I'm Mr. Brightside
I'm coming out of my cage
And I've been doing just fine
Gotta gotta be down
Because I want it all
It started out with a kiss
How did it end up like this?
It was only a kiss
It was only a kiss
Now I'm falling asleep
And she's calling a cab
While he's having a smoke
And she's taking a drag
Now they're going to bed
And my stomach is sick
And it's all in my head
But she's touching his chest now
He takes off her dress now
Let me go
Cause I just can't look it's killing me
And taking control
Jealousy, turning saints into the sea
Swimming through sick lullabies
Choking on your alibis
But it's just the price I pay
Destiny is calling me
Open up my eager eyes
Cause I'm Mr. Brightside
I never
I never
I never
I never
Spoiler for klipnya:
Diubah oleh robotpintar 01-04-2014 09:12
regmekujo dan 15 lainnya memberi reputasi
16
Kutip
Balas
![Accidentally In Love [True Story]](https://s.kaskus.id/images/2014/04/07/6448808_20140407033338.jpg)