- Beranda
- Stories from the Heart
Accidentally In Love [True Story]
...
TS
robotpintar
Accidentally In Love [True Story]
![Accidentally In Love [True Story]](https://s.kaskus.id/images/2014/02/14/6448808_20140214023854.png)
Spoiler for Cover:
![Accidentally In Love [True Story]](https://s.kaskus.id/images/2014/02/14/6448808_20140214024411.png)
So she said what's the problem baby
What's the problem I don't know
Well maybe I'm in love (love)
Think about it every time
I think about it
Can't stop thinking 'bout it
How much longer will it take to cure this
Just to cure it cause I can't ignore it if it's love (love)
Makes me wanna turn around and face me but I don't know nothing 'bout love
Come on, come on
Turn a little faster
Come on, come on
The world will follow after
Come on, come on
Cause everybody's after love
So I said I'm a snowball running
Running down into the spring that's coming all this love
Melting under blue skies
Belting out sunlight
Shimmering love
Well baby I surrender
To the strawberry ice cream
Never ever end of all this love
Well I didn't mean to do it
But there's no escaping your love
These lines of lightning
Mean we're never alone,
Never alone, no, no
We're accidentally in love
Accidentally in love [x7]
Accidentally I'm In Love
Spoiler for Bagian 1:
#1
Quote:
“Gila lu Bon, roti segitu banyak sayang-sayang bakal empan ikan semua!”
“Emang ngapa? Ikan jaman sekarang mah ogah makan cacing, Meng”
Gua jawab aja sekena-nya, memang niatnya gua bawa roti dari rumah buat bekal pas mancing tapi, gara-gara umpan cacing gua dari tadi nggak disentuh ikan terpaksa gua ganti dengan roti. Siapa tau mujarab.
Nggak seberapa berselang, tali pancing gua bergetar, refleks gua tarik joran sekuatnya dan mendarat dengan mulus seekor ikan yang kurang lebih seukuran telapak tangan.
“Anjritt.. dari tadi dapet sapu-sapu mulu gua!”
Sambil melepas mata kail dari mulut ikan sapu-sapu yang barusan gua angkat dan langsung gua lempar lagi kedalam kali.
Tidak berapa lama, melantun lagu “Time Like This”-nya Foo Fighter dari ponsel gua. Tertera tulisan “Rumah” dilayarnya.
“Kenapa mak?”
Karena memang cuma nyokap gua aja yang selalu telpon melalui telepon rumah. Bokap dan adik gua selalu menggunakan ponsel-nya masing-masing jika ada keperluan.
“Assalamualaikum , Mancing kagak rapi-rapi luh, nih ada kiriman surat buat elu”
“Dari siapa?”
“Kagak tau, bahasanya emak nggak ngerti”
“Simpenin dulu, nih aye udah mau pulang”
“Yaudah buruan, jangan maghriban dijalan, pamali. Assalamualaikum”
“Waalaikumsalam”
Gua kantongin lagi ponsel k-ekantong celana pendek yang sekarang udah kotor campur lumpur, sambil berteriak ke temen gua; Komeng, yang lagi berkutat dengan tali pancingnya yang kusut.
“Meng, ayo balik.. udah sore”
“Belon juga dapet sekilo, udah mau balik aje”
“Yauda elu terusin dah, gua balik duluan”
Komeng menjawab dengan sedikit gumam di bibirnya terdengar seperti “Yaelah..” sambil berjalan gontai menyusul gua.
------
Itu kejadian beberapa tahun yang lalu, dimana gua dan Komeng masih biasa mencari cacing buat umpan ikan di kebun singkong belakang rumahnya Haji Salim dan kemudian pergi memancing disepanjang pinggiran sungai Pesanggrahan, Jakarta.
Sekarang, gua sedang duduk sambil bersandar di sebuah kursi lipat di pinggir danau di daerah Leeds, Inggris. Menghabiskan hari libur akhir musim gugur dengan memancing sambil bernostalgia, mencoba membangkitkan memori tentang memancing, tentang si Komeng, tentang Jakarta, tentang rumah.
Setelah berjam-jam memancing, menghabiskan berkaleng-kaleng ‘Diet Coke’ akhirnya gua memutuskan untuk menyudahi kegiatan sialan ini. Pulang dengan membawa 6 Ekor ikan Yelowtail (di Indonesia disebut ikan patin) dan sedikit kenangan tentang ‘rumah’, gua berjalan gontai menuju tempat dimana sepeda kesayangan gua diparkir, sempat kebingungan awalnya karena sekarang ada banyak sepeda yang diparkir, padahal tadi pagi baru sepeda gua aja yang nongkrong disini, setelah celingak-celinguk akhirnya ketemu juga dan gua mulai mengayuh.
Jarak dari tempat gua biasa mancing ke tempat dimana gua tinggal di Moorland Ave, Leeds kurang lebih 3,5 mil atau kalau dalam satuan Kilometer sekitar 5,5 Km. Jarak segitu kalo disini, di Inggris bisa dibilang ‘deket’, kalau naik sepeda bisa cuma 30 menit.
Oiya, nama gua Boni. Gua lahir dan dibesarkan di Jakarta. Saat ini gua kerja dan tinggal di Leeds, Inggris sekitar 2-3 jam dari London (dengan kereta). Gua kerja sebagai Sound Designer disalah satu Agensi perfilman dan periklanan di Leeds yang juga punya kantor di London. Sudah hampir 4 tahun gua kerja dan tinggal disini, ditempat dimana nggak ada sungai dengan air berwarna cokelat keruh yang banyak ikan sapu-sapunya dan nggak ada teman yang suka menggerutu “Yaelah”.
Sambil mendengarkan “Heaven” nya Lost Lonely Boys lewat headset, gua mengayuh sepeda menuju ke rumah, pulang. Melewati jalan berpasir yang dipenuhi pohon-pohon maple di kedua sisinya menuju jalan utama. Jalan yang sangat sepi dan hening, jam menunjukkan angka 4 sore, menandakan waktu shalat maghrib, di sabtu sore seperti sekarang ini memang didaerah sini sangat sepi, kebanyakan penduduk sekitar sedang ke stadion atau pub-pub untuk menyaksikan Leeds United bertanding. Ingin buru-buru sampai di rumah, karena perut udah mulai keroncongan, gua kayuh sepeda lebih cepat. Sampai kemudian terdengar sayup-sayup suara musik yang makin lama makin nyaring, suara musik RnB yang sepertinya diputar dari dalam mobil dengan volume maksimal. Suara tersebut datang dari arah belakang dan kemudian menyusul gua, sebuah BMW silver yang melaju cepat bahkan boleh dibilang sangat cepat, sambil meninggalkan debu persis seperti mobil yang sedang Rally Dakkar.
“Orang Gila!!” gua mengumpat, masih sambil dengerin coda lagu “Heaven” nya Lost Lonely Boys. Sampai gua melihat beberapa detik kemudian lampu rem BMW tersebut menyala dan kemudian berhenti.
Deg!, “Wuanjrit, sakti juga tuh orang bisa denger suara gua” sambil berhenti dan melepas headset dari telinga. Yang ternyata setelah gua sadar, suara gua nggak sepelan pas pakai headset tadi. Gua nunggu sambil dag dig dug, kalau dia ngerti ucapan gua, dia pasti orang Indonesia dan kalo ternyata bukan gua bakal siap-siap kabur.
Pintu penumpang pun terbuka, terbuka secara paksa tepatnya, sedetik kemudian keluar seseorang dari kursi penumpang, terhuyung dan kemudian terjatuh, terdengar makian dari dalam BMW tersebut mungkin seperti “bitch” atau semacamnya dan sesaat kemudian BMW tersebut pergi, mengasapi orang yang tersungkur itu dengan debu jalanan.
Nggak mau terlalu ambil pusing, sambil bernafas lega dan bilang dalam hati; “untung bukan gua”, gua meneruskan mengayuh sepeda.
“Get up Bro, life is brutal”
gua berkata ke orang itu sambil melewatinya tetap melanjutkan mengayuh. Dan beberapa meter kemudian gua mendengar sebuah teriakan, teriakan yang (pada akhirnya) bakal merubah hidup gua.
“Woii.. Help me!, you’re Indonesian, right?”
“Tolongin gue dong…”
Gua berhenti mengayuh, turun dan bengong. Sudah hampir setahun gua nggak denger secara langsung orang bicara ke gua dengan bahasa Indonesia dan suara perempuan pula.. Lima, ah mungkin sepuluh detik kemudian baru gua memalingkan muka tapi masih tetap bengong.
“Woii..”
Akhirnya gua turun dari sepeda, kemudian menghampiri orang itu. Terduduk di depan gua sosok perempuan, hitam manis dengan kepala tertutup hood jaket hitam, celana jeans dan sepatu model boots sebetis berwarna cokelat.
“Elu nggak apa-apa?”
“Menurut Lo? Kalo gue gak apa-apa, ngapain gua teriak minta tolong elu!!”
Gua nggak menjawab, berusaha membantu dia berdiri sambil bertanya lagi bagaimana keadaannya. Sekali lagi dia mengumpat;
“Gila!, nggak punya hati banget sih lu!, ya jelas lah gue kenapa-kenapa.. nih liat!”
Sambil memperlihatkan telapak tangan dan siku-nya yang luka dan kemudian menyibak celana jeans-nya yang kotor terkena debu dan sobek di beberapa bagian akibat terlempar dari mobil tadi. Sesaat baru dia sadar kalau lutut kanannya juga luka sambil meringis kesakitan dia mencoba membersihkan luka tersebut dengan air liurnya. Sangat Indonesia sekali.
“Gua pikir tadi orang mabok yang lagi berantem, disini mah biasa begitu,mbak!”
Kemudia gua kasih satu-satunya ‘Diet Coke’ sisa memancing tadi, harusnya sih air putih tapi Cuma itu yang gua punya sekarang. Sambil menggerutu karena dikasih ‘Diet Coke’ daripada air putih, diminum juga tuh minuman soda. Kemudian gua menawarkan diri buat mengantar dia ke sebuah toko kecil di ujung jalan ini, untuk membeli plester untuk membalut luka-nya.
“Jauh nggak?”
Dia bertanya sambil menurunkan hood jaketnya dan menyibak rambutnya yang pendek seleher. Kemudian terlihat jelas sebuah luka lebam di sudut mata sebelah kiri-nya, tidak, bukan cuma satu, setidaknya ada 3 luka lebam, selain disudut matanya, satu lagi di dahi sebelah kiri dan satu lagi di sudut bibir sebelah kanan, yang terakhir tampak seperti luka yang baru karena masih meninggalkan sisa bekas darah yang membeku.
Gua nggak berani bertanya, gua hindari menatap kewajahnya sambil menjawab pertanyaa-nya bahwa tokonya nggak begitu jauh dari sini, sambil menunjuk ke arah jalan utama.
---
“Emang ngapa? Ikan jaman sekarang mah ogah makan cacing, Meng”
Gua jawab aja sekena-nya, memang niatnya gua bawa roti dari rumah buat bekal pas mancing tapi, gara-gara umpan cacing gua dari tadi nggak disentuh ikan terpaksa gua ganti dengan roti. Siapa tau mujarab.
Nggak seberapa berselang, tali pancing gua bergetar, refleks gua tarik joran sekuatnya dan mendarat dengan mulus seekor ikan yang kurang lebih seukuran telapak tangan.
“Anjritt.. dari tadi dapet sapu-sapu mulu gua!”
Sambil melepas mata kail dari mulut ikan sapu-sapu yang barusan gua angkat dan langsung gua lempar lagi kedalam kali.
Tidak berapa lama, melantun lagu “Time Like This”-nya Foo Fighter dari ponsel gua. Tertera tulisan “Rumah” dilayarnya.
“Kenapa mak?”
Karena memang cuma nyokap gua aja yang selalu telpon melalui telepon rumah. Bokap dan adik gua selalu menggunakan ponsel-nya masing-masing jika ada keperluan.
“Assalamualaikum , Mancing kagak rapi-rapi luh, nih ada kiriman surat buat elu”
“Dari siapa?”
“Kagak tau, bahasanya emak nggak ngerti”
“Simpenin dulu, nih aye udah mau pulang”
“Yaudah buruan, jangan maghriban dijalan, pamali. Assalamualaikum”
“Waalaikumsalam”
Gua kantongin lagi ponsel k-ekantong celana pendek yang sekarang udah kotor campur lumpur, sambil berteriak ke temen gua; Komeng, yang lagi berkutat dengan tali pancingnya yang kusut.
“Meng, ayo balik.. udah sore”
“Belon juga dapet sekilo, udah mau balik aje”
“Yauda elu terusin dah, gua balik duluan”
Komeng menjawab dengan sedikit gumam di bibirnya terdengar seperti “Yaelah..” sambil berjalan gontai menyusul gua.
------
Itu kejadian beberapa tahun yang lalu, dimana gua dan Komeng masih biasa mencari cacing buat umpan ikan di kebun singkong belakang rumahnya Haji Salim dan kemudian pergi memancing disepanjang pinggiran sungai Pesanggrahan, Jakarta.
Sekarang, gua sedang duduk sambil bersandar di sebuah kursi lipat di pinggir danau di daerah Leeds, Inggris. Menghabiskan hari libur akhir musim gugur dengan memancing sambil bernostalgia, mencoba membangkitkan memori tentang memancing, tentang si Komeng, tentang Jakarta, tentang rumah.
Setelah berjam-jam memancing, menghabiskan berkaleng-kaleng ‘Diet Coke’ akhirnya gua memutuskan untuk menyudahi kegiatan sialan ini. Pulang dengan membawa 6 Ekor ikan Yelowtail (di Indonesia disebut ikan patin) dan sedikit kenangan tentang ‘rumah’, gua berjalan gontai menuju tempat dimana sepeda kesayangan gua diparkir, sempat kebingungan awalnya karena sekarang ada banyak sepeda yang diparkir, padahal tadi pagi baru sepeda gua aja yang nongkrong disini, setelah celingak-celinguk akhirnya ketemu juga dan gua mulai mengayuh.
Jarak dari tempat gua biasa mancing ke tempat dimana gua tinggal di Moorland Ave, Leeds kurang lebih 3,5 mil atau kalau dalam satuan Kilometer sekitar 5,5 Km. Jarak segitu kalo disini, di Inggris bisa dibilang ‘deket’, kalau naik sepeda bisa cuma 30 menit.
Oiya, nama gua Boni. Gua lahir dan dibesarkan di Jakarta. Saat ini gua kerja dan tinggal di Leeds, Inggris sekitar 2-3 jam dari London (dengan kereta). Gua kerja sebagai Sound Designer disalah satu Agensi perfilman dan periklanan di Leeds yang juga punya kantor di London. Sudah hampir 4 tahun gua kerja dan tinggal disini, ditempat dimana nggak ada sungai dengan air berwarna cokelat keruh yang banyak ikan sapu-sapunya dan nggak ada teman yang suka menggerutu “Yaelah”.
Sambil mendengarkan “Heaven” nya Lost Lonely Boys lewat headset, gua mengayuh sepeda menuju ke rumah, pulang. Melewati jalan berpasir yang dipenuhi pohon-pohon maple di kedua sisinya menuju jalan utama. Jalan yang sangat sepi dan hening, jam menunjukkan angka 4 sore, menandakan waktu shalat maghrib, di sabtu sore seperti sekarang ini memang didaerah sini sangat sepi, kebanyakan penduduk sekitar sedang ke stadion atau pub-pub untuk menyaksikan Leeds United bertanding. Ingin buru-buru sampai di rumah, karena perut udah mulai keroncongan, gua kayuh sepeda lebih cepat. Sampai kemudian terdengar sayup-sayup suara musik yang makin lama makin nyaring, suara musik RnB yang sepertinya diputar dari dalam mobil dengan volume maksimal. Suara tersebut datang dari arah belakang dan kemudian menyusul gua, sebuah BMW silver yang melaju cepat bahkan boleh dibilang sangat cepat, sambil meninggalkan debu persis seperti mobil yang sedang Rally Dakkar.
“Orang Gila!!” gua mengumpat, masih sambil dengerin coda lagu “Heaven” nya Lost Lonely Boys. Sampai gua melihat beberapa detik kemudian lampu rem BMW tersebut menyala dan kemudian berhenti.
Deg!, “Wuanjrit, sakti juga tuh orang bisa denger suara gua” sambil berhenti dan melepas headset dari telinga. Yang ternyata setelah gua sadar, suara gua nggak sepelan pas pakai headset tadi. Gua nunggu sambil dag dig dug, kalau dia ngerti ucapan gua, dia pasti orang Indonesia dan kalo ternyata bukan gua bakal siap-siap kabur.
Pintu penumpang pun terbuka, terbuka secara paksa tepatnya, sedetik kemudian keluar seseorang dari kursi penumpang, terhuyung dan kemudian terjatuh, terdengar makian dari dalam BMW tersebut mungkin seperti “bitch” atau semacamnya dan sesaat kemudian BMW tersebut pergi, mengasapi orang yang tersungkur itu dengan debu jalanan.
Nggak mau terlalu ambil pusing, sambil bernafas lega dan bilang dalam hati; “untung bukan gua”, gua meneruskan mengayuh sepeda.
“Get up Bro, life is brutal”
gua berkata ke orang itu sambil melewatinya tetap melanjutkan mengayuh. Dan beberapa meter kemudian gua mendengar sebuah teriakan, teriakan yang (pada akhirnya) bakal merubah hidup gua.
“Woii.. Help me!, you’re Indonesian, right?”
“Tolongin gue dong…”
Gua berhenti mengayuh, turun dan bengong. Sudah hampir setahun gua nggak denger secara langsung orang bicara ke gua dengan bahasa Indonesia dan suara perempuan pula.. Lima, ah mungkin sepuluh detik kemudian baru gua memalingkan muka tapi masih tetap bengong.
“Woii..”
Akhirnya gua turun dari sepeda, kemudian menghampiri orang itu. Terduduk di depan gua sosok perempuan, hitam manis dengan kepala tertutup hood jaket hitam, celana jeans dan sepatu model boots sebetis berwarna cokelat.
“Elu nggak apa-apa?”
“Menurut Lo? Kalo gue gak apa-apa, ngapain gua teriak minta tolong elu!!”
Gua nggak menjawab, berusaha membantu dia berdiri sambil bertanya lagi bagaimana keadaannya. Sekali lagi dia mengumpat;
“Gila!, nggak punya hati banget sih lu!, ya jelas lah gue kenapa-kenapa.. nih liat!”
Sambil memperlihatkan telapak tangan dan siku-nya yang luka dan kemudian menyibak celana jeans-nya yang kotor terkena debu dan sobek di beberapa bagian akibat terlempar dari mobil tadi. Sesaat baru dia sadar kalau lutut kanannya juga luka sambil meringis kesakitan dia mencoba membersihkan luka tersebut dengan air liurnya. Sangat Indonesia sekali.
“Gua pikir tadi orang mabok yang lagi berantem, disini mah biasa begitu,mbak!”
Kemudia gua kasih satu-satunya ‘Diet Coke’ sisa memancing tadi, harusnya sih air putih tapi Cuma itu yang gua punya sekarang. Sambil menggerutu karena dikasih ‘Diet Coke’ daripada air putih, diminum juga tuh minuman soda. Kemudian gua menawarkan diri buat mengantar dia ke sebuah toko kecil di ujung jalan ini, untuk membeli plester untuk membalut luka-nya.
“Jauh nggak?”
Dia bertanya sambil menurunkan hood jaketnya dan menyibak rambutnya yang pendek seleher. Kemudian terlihat jelas sebuah luka lebam di sudut mata sebelah kiri-nya, tidak, bukan cuma satu, setidaknya ada 3 luka lebam, selain disudut matanya, satu lagi di dahi sebelah kiri dan satu lagi di sudut bibir sebelah kanan, yang terakhir tampak seperti luka yang baru karena masih meninggalkan sisa bekas darah yang membeku.
Gua nggak berani bertanya, gua hindari menatap kewajahnya sambil menjawab pertanyaa-nya bahwa tokonya nggak begitu jauh dari sini, sambil menunjuk ke arah jalan utama.
---
DAFTAR ISI
Quote:
CHAPTER 1
#1 The Beginning
#2 Truly Gentlemen
#3 Place Called Home
#4 The Morning Fever
#5 A Miserable Story
#6 Night Rain
#7 Inside My Head
#8 That Day
#9 Be Tough
#10 Mukena
#1 The Beginning
#2 Truly Gentlemen
#3 Place Called Home
#4 The Morning Fever
#5 A Miserable Story
#6 Night Rain
#7 Inside My Head
#8 That Day
#9 Be Tough
#10 Mukena
Quote:
CHAPTER 2
#11-A Trip To Manchester
#11-B The Swiss Army
#12 Here's and Back Again
#13 I Miss You So Bad
#14 Going Mad
#15 Promise
#16 You’ll Be The Only Light I See
#17 The Winter Tears
#18 She's Gone
#19 That Memories
#11-A Trip To Manchester
#11-B The Swiss Army
#12 Here's and Back Again
#13 I Miss You So Bad
#14 Going Mad
#15 Promise
#16 You’ll Be The Only Light I See
#17 The Winter Tears
#18 She's Gone
#19 That Memories
Quote:
CHAPTER 3
[URL="http://www.kaskus.co.id/show_post/530ff7e41acb17030d8b48f1/479/- "]#19-A The Hood[/URL]
#19-B Heres And Back Again II
#19-C Weak
#19-D Surrender
#19-E The Choice
#19-F Anything For You
#19-G Chelsea Number 8
#19-H Its not always about gold and glory
#19-I Aku
#19-J The Words
#19-K The Persian Cat
#19-L You Really The Only Light I See
#19-M So Be It
#19-N Less Than Perfect
#20 That Day II
[URL="http://www.kaskus.co.id/show_post/530ff7e41acb17030d8b48f1/479/- "]#19-A The Hood[/URL]
#19-B Heres And Back Again II
#19-C Weak
#19-D Surrender
#19-E The Choice
#19-F Anything For You
#19-G Chelsea Number 8
#19-H Its not always about gold and glory
#19-I Aku
#19-J The Words
#19-K The Persian Cat
#19-L You Really The Only Light I See
#19-M So Be It
#19-N Less Than Perfect
#20 That Day II
Quote:
CHAPTER 4 The Prekuel
#21 The Prologue
#22 My Precious
#23 Ticket to Ride
#24 Singapore
#25 Dreams
#26 The Awkward Moment
#27 Logic
#28 Driver In Life
#29 The Risk Taker
#30 Sorry
#31 Rise Again
#32 Goodbye
#21 The Prologue
#22 My Precious
#23 Ticket to Ride
#24 Singapore
#25 Dreams
#26 The Awkward Moment
#27 Logic
#28 Driver In Life
#29 The Risk Taker
#30 Sorry
#31 Rise Again
#32 Goodbye
Quote:
CHAPTER 5!!
#33 London
#34 Unwell
#35 I Was Here
#36 Leeds
#37 New Home, New Life
#38 Alone
#39 Intermezo
#40 Goin' Trough
#41 At Glance
#42 The Past of The Future
#33 London
#34 Unwell
#35 I Was Here
#36 Leeds
#37 New Home, New Life
#38 Alone
#39 Intermezo
#40 Goin' Trough
#41 At Glance
#42 The Past of The Future
Quote:
CHAPTER 6
#43 My First ...
#44 If Lovin' You ...
#45 Goin' Back
#46 Leeds II
#47 I Love You (Jealousy)
#48 After All
#49 Hell Yeah
#50 Conflict
#51 Liar-Liar
#52 Memories
#43 My First ...
#44 If Lovin' You ...
#45 Goin' Back
#46 Leeds II
#47 I Love You (Jealousy)
#48 After All
#49 Hell Yeah
#50 Conflict
#51 Liar-Liar
#52 Memories
Quote:
Quote:
Diubah oleh robotpintar 10-04-2014 08:46
carangkasampah dan 121 lainnya memberi reputasi
120
1.3M
Kutip
2.3K
Balasan
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
robotpintar
#1516
Spoiler for Bagian ke Empat Puluh Tiga:
Quote:
Kata orang, yang namanya pernikahan itu umpama pohon cinta, yang akan terus bertumbuh dan menghasilkan buah yang manis melewati sebuah proses. Semakin kuat akarnya, maka semakin kuatlah pohon itu tegak berdiri. Dalam pernikahan akar diibaratkan sebuah komitmen yang ada pada suami maupun istri. Semakin kuat komitmen yang ada, maka semakin kuatlah biduk rumah tangga tersebut.
Sebuah perumpamaan yang gua kutip dari seorang penghulu di Kantor Urusan agama sewaktu gua dan Ines ikut yang namanya ’Penataran Pra Nikah’.
Saat itu sebulan sebelum melangsungkan pernikahan, pasangan calon pengantin diwajibkan untuk mengikuti yang namanya ’Penataran Pra Nikah’ yang isinya Cuma sekedar omong kosong nggak karuan tentang bagaimana menjalani kehidupan berumah tangga yang baik, benar dan sesuai dengan syariat. Parahnya penataran ini dilaksanakan pada jam dan hari kerja. Waktu itu gua dan Ines sampe bela-bela-in ’bolos’ kerja demi mengikuti yang namanya penataran ini. Awalnya gua sedikit penasaran dengan apa aja sih konten yang bakal disajikan saat penataran dan berbekal rasa penasaran itulah yang akhirnya membawa gua ke KUA didaerah kebayoran baru jakarta selatan.
Jam sepuluh pagi gua dan Ines sudah tiba di KUA, setelah bertanya ke bapak petugas yang sedang merokok di depan pintu masuk gedung (sangat tipikal orang Indonesia sekali si bapak ini, jam kerja, malah ’ngudut’ didepan kantor).
”Misi pak, kalo mau penataran disebelah mana ya?”
”Oh mau penataran?”
”Kebetulan iya pak..”
”Terlambat kamu.. udah buruan masuk, naik ke lantai dua..”
”Ok, makasih ya pak..”
Gua kemudian menarik lengan Ines yang malah asik moto-in bunga yang terdapat di pot-pot berjejer di depan gedung KUA.
”..Eh.. mas..mas..”
Terdengar panggilan dari si Bapak petugas yang tadi, setelah menghisap dalam-dalam rokok-nya dia meletakkannya di tanah, menginjaknya kemudian menghampiri kami yang baru saja hendak masuk ke dalam.
”...Daftar dulu.. sini..”
Si Bapak petugas tadi bergerak menuju ke sebuah meja yang bentuk dan warnanya mirip dengan meja guru di sekolah-sekolah negeri ditambah sebuah taplak segi empat berwarna merah dengan motif bunga-bunga, diatasnya terbuka sebuah buku dengan ukuran besar. Si Bapak petugas tadi menyodorkan sebuah spidol dan memberikan isyarat ke gua untuk mengisi buku yang seperti buku tamu sambil berkata;
”Biayanya 30 ribu ya per orang...”
”Oh.. kirain gratis pak..”
Gua bertanya sambil mengisi nama, alamat dan nomor telepon.
”Di Jakarta mana ada yang gratis mas...”
”Oh gitu pak.. nih pak..”
Gua mengeluarkan uang 60 ribu dan menyodorkannya ke Bapak petugas tadi.
”Minta kuitansinya dong pak..”
Si Bapak petugas tersebut seketika terbelalak, sambil mengambil mengantungi uang yang tadi gua berikan dia menaikkan kaki kirinya diatas pangkuan.
”..Kamu ini.. uang 60 rebu aja pake minta kuitansi..”
”Bapak keberatan?”
”Ya jelas..”
”Lho, kalo emang sesuai prosedur kenapa bapak keberatan? Saya kan Cuma minta kuitansi..”
Gua masih tetep keukueh ingin minta kuitansi. Pengen tau aja sejauh mana kejujuran dalam birokrasi di KUA ini bisa dijalankan.
Ines menarik lengan gua;
”Udah ah..”
Kemudian dia tersenyum ke arah Bapak petugas tersebut dan mengatakan;
”Nggak usah pake kuitansi pak.. maap ya..”
Dia menarik tangan gua dan berjalan ke arah tangga, menuju ke atas, sambil ngedumel nggak jelas. Beberapa saat kemudian kami sudah duduk pada barisan paling belakang di sebuah ruangan yang menyerupai aula. Di bagian depan seorang pria berkopiah putih dengan seragam berwarna hijau tengah berbicara. Gua mendengar selentingan tentang pesan-pesan pernikahan, tentang tips-tips dalam berumah tangga bahkan tutorial dalam menghadapi pasangan yang bermasalah. Pria berkopiah tersebut kemudian memberikan kesempatan bertanya kepada para peserta penataran, beberapa tangan mengacung ke atas, disusul pertanyaan-pertanyaan ’konyol’ yang bikin sisa peserta terbahak-bahak mendengarnya
”Ada lagi yang mau bertanya?”
Pria berkopiah tersebut memberi kesempatan lagi kepada peserta untuk mengajukan pertanyaan dan dari gesturnya sepertinya ini merupakan kesempatan terakhir.
Gua mengangkat tangan kemudian berdiri;
”Maaf pak, penatarann ini selesainya jam berapa ya?”
Si Pria berkopiah berdehem sebentar kemudian menjawab sambil memandang ke arah gua, tajam;
”Setelah sesi saya selesai, akan ada orang lain yang meneruskannya, mungkin baru selesai nanti sore. Ada masalah? Kalau anda ada keperluan lain boleh kok keluar, tapi ingat.. nanti anda nggak bakal dapet sertifikat..”
Gua Cuma memainkan alis mata sambil mengangkat bahu, terasa tangan dingin Ines menggenggam telapak tangan gua. Gua menatapnya, dia tersenyum kecil sambil berbisik;
”Sabar ya sayang.. sabar..”
Gua tersenyum;
”Iya..”
Jam menunjukkan pukul dua siang saat penataran selesai, gua dan Ines duduk di sebuah bangku panjang. Nggak seberapa lama, nama gua dan Ines dipanggil, seorang petugas wanita berkerudung menyerahkan dua buah map berwarna biru tua, bertuliskan masing-masing nama gua dan Ines pada bagian depannya. Gua membuka map tersebut dan terlihatlah sebuah kertas murahan dengan judul ’Sertifikat Pra-Nikah’ bertuliskan nama gua di bagian tengah yang sepertinya di print dengan printer yang tinta-nya sudah hampir habis. Gua berjalan keluar dari KUA menuju ke tempat parkir motor sambil ’ngedumel’ disusul Ines yang tergopoh-gopoh menyusul gua.
”Kenapa si kamu, bon? Daritadi kok bawaannya sewot melulu..”
”Nggak papa..”
”Nggak papa apanya, Kenapa sih?”
”Gua Cuma nggak abis pikir aja, ngapain coba kita buang-buang waktu hampir seharian Cuma buat sampah kayak gini..”
Gua berbicara sambil melambai-lambaikan sertifikat yang diprint pada selembar kertas ArtCarton 260gram berukuran A4.
”Ya kan tapi kita dapet ilmu juga, boni..”
”Udah ah, yuk.. gua anter pulang..”
”Pulang?”
”Iyak, emang mau nginep?”
”Kamu mau kerja?”
”Iya..”
”Yaah...”
Ines meraih helm yang gua sodorkan, diwajah tersirat kekecewaan dan seperti biasa gua selalu ’bertekuk lutut’ kalau dia sudah pasang tampang seperti itu.
”Emang lu mau kemana?”
”Nggak.. udah ayuk pulang..”
”Laah.. kok pasang tampang begitu?”
”Kirain kamu mau libur, kita jalan dulu kek kemana gitu..”
”...”
Gua menyalakan mesin motor dan kemudian melaju menuju padatnya jalan ibukota.
Selama perjalanan Ines Cuma diam saja, nggak seperti biasanya yang bawel dan nggak henti-hentinya ngomong dan bercerita. Gua menoleh kebelakang;
”Nes..”
”Hmm..”
”Diem aja..”
”Ga papa..”
Gua sadar dibalik kata-katanya yang ’Ga papa’ punya arti yang kurang lebih begini; ’Heloo.. ya jelas lah gua apa-apa’. Hidup disisi Ines selama ini benar-benar melatih kepekaan gua terhadap dirinya, terhadap wanita. Makhluk dengan gender ini memang sungguh misterius, sulit dimengerti dan nggak mengenal yang namanya logika, segala sesuatu-nya harus lah berdasarkan ’feeling’ dan perasaan. Gua dan (mungkin) para laki-laki didunia ini harus hidup dengan sebuah cobaan berat; ’Mencoba mengerti dan memahami perasaan wanita’.
Jikalau ada masalah atau sesuatu yang mengganjal, Ines nggak pernah mau mengatakannya langsung, dia lebih memilih diam sambil pasang wajah murung, kecewa kadang-kadang memelas. Gua dipaksa untuk mencoba menerka-nerka masalah apa yang ada dibenaknya. Kalau diabaikan maka akan keluar kata-kata seperti; ”Nggak Peka..”, ”Kurang Sensitif..” bahkan ”Nggak punya hati..”, disisi lain gua sama sekali nggak tau apa yang dia mau. Cmon..gals.. kalau kalian, para wanita nggak mau mengungkapkan, gimana kami, para pria bisa tau apa yang kalian mau.
Gua membelokkan motor ke sebuah mall yang terletak di Pondok Indah, Ines yang sejak tadi terdiam tiba-tiba bergerak, gua melirik Ines dari kaca spion motor, dia sedang celingak celinguk, bingung;
”Kita mau kemana?”
”...”
Gua Cuma diam.
Setelah memarkir sepeda motor, gua menggandeng Ines, berjalan menuju ke lobi mall, masuk dan menuju ke lantai tiga mall tersebut.
”Bon, kita mau ngapain kesini?”
”...”
Ines melepas genggaman tangan gua, kemudia berdiri dalam diam. Gua ikutan berhenti dan menoleh kebelakang.
”Kasih tau kek..”
Gua tersenyum kemudian berkata;
”Nonton..”
”Asiiiik...”
Ines berlari kecil kemudian kembali meraih genggaman tangan gua, kali ini lebih erat.
Ines masih nggak melepas genggaman tangannya saat memilih tempat duduk didepan monitor disebuah meja yang berbentuk seperti meja resepsionis. Wanita penjual tiket menyebutkan sebuah nominal yang harus dibayar untuk dua tiket, gua agak kesulitan mengeluarkan uang dari dalam dompet karena Ines tetap (masih) nggak mau melepaskan genggamannya. Entah kenapa, sepertinya kali ini wajahnya terlihat berbinar-binar, terlihat senang bukan main. Mungkin karena gua mau berubah pikiran untuk akhirnya nggak kerja dan mengajak dia jalan atau mungkin karena ini adalah kali pertama kami nonton di bioskop.
Setelah menunggu sekitar lima belas menit, terdengar suara perempuan yang renyah dan teduh, menginformasikan bahwa teater tempat film yang gua dan Ines bakalan nonton sudah dibuka dan para penonton dipersilahkan untuk masuk.
Gua dan Ines duduk berdampingan dikursi lembut dengan nuansa warna merah.Lampu-lampu bioskop mulai meredup dan film tentang raja yang gagap pun dimulai, menonton film ini sedikit banyak membangkitkan memori gua tentang Leeds, apalagi aksennya. Mungkin Begitu juga dengan Ines.
Sekitar hampir dua puluh menit film berlangsung, Ines yang sejak tadi masih menggenggam tangan gua, sekarang melepasnya. Kali ini di memindahkan tangan kiri gua, melewati belakang kepalanya dan meletakkan dibahu kirinya. Kepalanya disandarkan di dada gua, harum rambut dan parfum beraroma permen –nya menyeruak memenuhi hidung gua. Dan dalam sesaat gua kehilangan konsentrasi dalam menonton.
Ines mendongak, menatap ke arah gua penuh arti. Gua balas menatapnya sekilas, kemudian buru-buru mengambil ’coke’ ukuran medium dan menyeruputnya sambil menghela nafas panjang, salah tingkah. Ines tersenyum, menyentuh dagu gua dan memejamkan mata. Oh God.. Gua sedikit menundukkan kepala...
Sebuah perumpamaan yang gua kutip dari seorang penghulu di Kantor Urusan agama sewaktu gua dan Ines ikut yang namanya ’Penataran Pra Nikah’.
Saat itu sebulan sebelum melangsungkan pernikahan, pasangan calon pengantin diwajibkan untuk mengikuti yang namanya ’Penataran Pra Nikah’ yang isinya Cuma sekedar omong kosong nggak karuan tentang bagaimana menjalani kehidupan berumah tangga yang baik, benar dan sesuai dengan syariat. Parahnya penataran ini dilaksanakan pada jam dan hari kerja. Waktu itu gua dan Ines sampe bela-bela-in ’bolos’ kerja demi mengikuti yang namanya penataran ini. Awalnya gua sedikit penasaran dengan apa aja sih konten yang bakal disajikan saat penataran dan berbekal rasa penasaran itulah yang akhirnya membawa gua ke KUA didaerah kebayoran baru jakarta selatan.
Jam sepuluh pagi gua dan Ines sudah tiba di KUA, setelah bertanya ke bapak petugas yang sedang merokok di depan pintu masuk gedung (sangat tipikal orang Indonesia sekali si bapak ini, jam kerja, malah ’ngudut’ didepan kantor).
”Misi pak, kalo mau penataran disebelah mana ya?”
”Oh mau penataran?”
”Kebetulan iya pak..”
”Terlambat kamu.. udah buruan masuk, naik ke lantai dua..”
”Ok, makasih ya pak..”
Gua kemudian menarik lengan Ines yang malah asik moto-in bunga yang terdapat di pot-pot berjejer di depan gedung KUA.
”..Eh.. mas..mas..”
Terdengar panggilan dari si Bapak petugas yang tadi, setelah menghisap dalam-dalam rokok-nya dia meletakkannya di tanah, menginjaknya kemudian menghampiri kami yang baru saja hendak masuk ke dalam.
”...Daftar dulu.. sini..”
Si Bapak petugas tadi bergerak menuju ke sebuah meja yang bentuk dan warnanya mirip dengan meja guru di sekolah-sekolah negeri ditambah sebuah taplak segi empat berwarna merah dengan motif bunga-bunga, diatasnya terbuka sebuah buku dengan ukuran besar. Si Bapak petugas tadi menyodorkan sebuah spidol dan memberikan isyarat ke gua untuk mengisi buku yang seperti buku tamu sambil berkata;
”Biayanya 30 ribu ya per orang...”
”Oh.. kirain gratis pak..”
Gua bertanya sambil mengisi nama, alamat dan nomor telepon.
”Di Jakarta mana ada yang gratis mas...”
”Oh gitu pak.. nih pak..”
Gua mengeluarkan uang 60 ribu dan menyodorkannya ke Bapak petugas tadi.
”Minta kuitansinya dong pak..”
Si Bapak petugas tersebut seketika terbelalak, sambil mengambil mengantungi uang yang tadi gua berikan dia menaikkan kaki kirinya diatas pangkuan.
”..Kamu ini.. uang 60 rebu aja pake minta kuitansi..”
”Bapak keberatan?”
”Ya jelas..”
”Lho, kalo emang sesuai prosedur kenapa bapak keberatan? Saya kan Cuma minta kuitansi..”
Gua masih tetep keukueh ingin minta kuitansi. Pengen tau aja sejauh mana kejujuran dalam birokrasi di KUA ini bisa dijalankan.
Ines menarik lengan gua;
”Udah ah..”
Kemudian dia tersenyum ke arah Bapak petugas tersebut dan mengatakan;
”Nggak usah pake kuitansi pak.. maap ya..”
Dia menarik tangan gua dan berjalan ke arah tangga, menuju ke atas, sambil ngedumel nggak jelas. Beberapa saat kemudian kami sudah duduk pada barisan paling belakang di sebuah ruangan yang menyerupai aula. Di bagian depan seorang pria berkopiah putih dengan seragam berwarna hijau tengah berbicara. Gua mendengar selentingan tentang pesan-pesan pernikahan, tentang tips-tips dalam berumah tangga bahkan tutorial dalam menghadapi pasangan yang bermasalah. Pria berkopiah tersebut kemudian memberikan kesempatan bertanya kepada para peserta penataran, beberapa tangan mengacung ke atas, disusul pertanyaan-pertanyaan ’konyol’ yang bikin sisa peserta terbahak-bahak mendengarnya
”Ada lagi yang mau bertanya?”
Pria berkopiah tersebut memberi kesempatan lagi kepada peserta untuk mengajukan pertanyaan dan dari gesturnya sepertinya ini merupakan kesempatan terakhir.
Gua mengangkat tangan kemudian berdiri;
”Maaf pak, penatarann ini selesainya jam berapa ya?”
Si Pria berkopiah berdehem sebentar kemudian menjawab sambil memandang ke arah gua, tajam;
”Setelah sesi saya selesai, akan ada orang lain yang meneruskannya, mungkin baru selesai nanti sore. Ada masalah? Kalau anda ada keperluan lain boleh kok keluar, tapi ingat.. nanti anda nggak bakal dapet sertifikat..”
Gua Cuma memainkan alis mata sambil mengangkat bahu, terasa tangan dingin Ines menggenggam telapak tangan gua. Gua menatapnya, dia tersenyum kecil sambil berbisik;
”Sabar ya sayang.. sabar..”
Gua tersenyum;
”Iya..”
Jam menunjukkan pukul dua siang saat penataran selesai, gua dan Ines duduk di sebuah bangku panjang. Nggak seberapa lama, nama gua dan Ines dipanggil, seorang petugas wanita berkerudung menyerahkan dua buah map berwarna biru tua, bertuliskan masing-masing nama gua dan Ines pada bagian depannya. Gua membuka map tersebut dan terlihatlah sebuah kertas murahan dengan judul ’Sertifikat Pra-Nikah’ bertuliskan nama gua di bagian tengah yang sepertinya di print dengan printer yang tinta-nya sudah hampir habis. Gua berjalan keluar dari KUA menuju ke tempat parkir motor sambil ’ngedumel’ disusul Ines yang tergopoh-gopoh menyusul gua.
”Kenapa si kamu, bon? Daritadi kok bawaannya sewot melulu..”
”Nggak papa..”
”Nggak papa apanya, Kenapa sih?”
”Gua Cuma nggak abis pikir aja, ngapain coba kita buang-buang waktu hampir seharian Cuma buat sampah kayak gini..”
Gua berbicara sambil melambai-lambaikan sertifikat yang diprint pada selembar kertas ArtCarton 260gram berukuran A4.
”Ya kan tapi kita dapet ilmu juga, boni..”
”Udah ah, yuk.. gua anter pulang..”
”Pulang?”
”Iyak, emang mau nginep?”
”Kamu mau kerja?”
”Iya..”
”Yaah...”
Ines meraih helm yang gua sodorkan, diwajah tersirat kekecewaan dan seperti biasa gua selalu ’bertekuk lutut’ kalau dia sudah pasang tampang seperti itu.
”Emang lu mau kemana?”
”Nggak.. udah ayuk pulang..”
”Laah.. kok pasang tampang begitu?”
”Kirain kamu mau libur, kita jalan dulu kek kemana gitu..”
”...”
Gua menyalakan mesin motor dan kemudian melaju menuju padatnya jalan ibukota.
Selama perjalanan Ines Cuma diam saja, nggak seperti biasanya yang bawel dan nggak henti-hentinya ngomong dan bercerita. Gua menoleh kebelakang;
”Nes..”
”Hmm..”
”Diem aja..”
”Ga papa..”
Gua sadar dibalik kata-katanya yang ’Ga papa’ punya arti yang kurang lebih begini; ’Heloo.. ya jelas lah gua apa-apa’. Hidup disisi Ines selama ini benar-benar melatih kepekaan gua terhadap dirinya, terhadap wanita. Makhluk dengan gender ini memang sungguh misterius, sulit dimengerti dan nggak mengenal yang namanya logika, segala sesuatu-nya harus lah berdasarkan ’feeling’ dan perasaan. Gua dan (mungkin) para laki-laki didunia ini harus hidup dengan sebuah cobaan berat; ’Mencoba mengerti dan memahami perasaan wanita’.
Jikalau ada masalah atau sesuatu yang mengganjal, Ines nggak pernah mau mengatakannya langsung, dia lebih memilih diam sambil pasang wajah murung, kecewa kadang-kadang memelas. Gua dipaksa untuk mencoba menerka-nerka masalah apa yang ada dibenaknya. Kalau diabaikan maka akan keluar kata-kata seperti; ”Nggak Peka..”, ”Kurang Sensitif..” bahkan ”Nggak punya hati..”, disisi lain gua sama sekali nggak tau apa yang dia mau. Cmon..gals.. kalau kalian, para wanita nggak mau mengungkapkan, gimana kami, para pria bisa tau apa yang kalian mau.
Gua membelokkan motor ke sebuah mall yang terletak di Pondok Indah, Ines yang sejak tadi terdiam tiba-tiba bergerak, gua melirik Ines dari kaca spion motor, dia sedang celingak celinguk, bingung;
”Kita mau kemana?”
”...”
Gua Cuma diam.
Setelah memarkir sepeda motor, gua menggandeng Ines, berjalan menuju ke lobi mall, masuk dan menuju ke lantai tiga mall tersebut.
”Bon, kita mau ngapain kesini?”
”...”
Ines melepas genggaman tangan gua, kemudia berdiri dalam diam. Gua ikutan berhenti dan menoleh kebelakang.
”Kasih tau kek..”
Gua tersenyum kemudian berkata;
”Nonton..”
”Asiiiik...”
Ines berlari kecil kemudian kembali meraih genggaman tangan gua, kali ini lebih erat.
Ines masih nggak melepas genggaman tangannya saat memilih tempat duduk didepan monitor disebuah meja yang berbentuk seperti meja resepsionis. Wanita penjual tiket menyebutkan sebuah nominal yang harus dibayar untuk dua tiket, gua agak kesulitan mengeluarkan uang dari dalam dompet karena Ines tetap (masih) nggak mau melepaskan genggamannya. Entah kenapa, sepertinya kali ini wajahnya terlihat berbinar-binar, terlihat senang bukan main. Mungkin karena gua mau berubah pikiran untuk akhirnya nggak kerja dan mengajak dia jalan atau mungkin karena ini adalah kali pertama kami nonton di bioskop.
Setelah menunggu sekitar lima belas menit, terdengar suara perempuan yang renyah dan teduh, menginformasikan bahwa teater tempat film yang gua dan Ines bakalan nonton sudah dibuka dan para penonton dipersilahkan untuk masuk.
Gua dan Ines duduk berdampingan dikursi lembut dengan nuansa warna merah.Lampu-lampu bioskop mulai meredup dan film tentang raja yang gagap pun dimulai, menonton film ini sedikit banyak membangkitkan memori gua tentang Leeds, apalagi aksennya. Mungkin Begitu juga dengan Ines.
Sekitar hampir dua puluh menit film berlangsung, Ines yang sejak tadi masih menggenggam tangan gua, sekarang melepasnya. Kali ini di memindahkan tangan kiri gua, melewati belakang kepalanya dan meletakkan dibahu kirinya. Kepalanya disandarkan di dada gua, harum rambut dan parfum beraroma permen –nya menyeruak memenuhi hidung gua. Dan dalam sesaat gua kehilangan konsentrasi dalam menonton.
Ines mendongak, menatap ke arah gua penuh arti. Gua balas menatapnya sekilas, kemudian buru-buru mengambil ’coke’ ukuran medium dan menyeruputnya sambil menghela nafas panjang, salah tingkah. Ines tersenyum, menyentuh dagu gua dan memejamkan mata. Oh God.. Gua sedikit menundukkan kepala...
Backsound


So you sailed away
Into a grey sky morning
Now I'm here to stay
Love can be so boring
Nothing's quite the same now
I just say your name now
But it's not so bad
You're only the best I ever had
You don't want me back
You're just the best I ever had
So you stole my world
Now I'm just a phony
Remembering the girl
Leaves me down and lonely
Send it in a letter
Make yourself feel better
But it's not so bad
You're only the best I ever had
You don't need me back
You're just the best I ever had
And it may take some time to
Patch me up inside
But I can't take it so I
Run away and hide
And I may find in time that
You were always right
You're always right
So you sailed away
Into a grey sky morning
Now I'm here to stay
Love can be so boring
What was it you wanted
Could it be I'm haunted
But it's not so bad
You're only the best I ever had
I don't want you back
You're just the best I ever had
The best I ever had
The best I ever


So you sailed away
Into a grey sky morning
Now I'm here to stay
Love can be so boring
Nothing's quite the same now
I just say your name now
But it's not so bad
You're only the best I ever had
You don't want me back
You're just the best I ever had
So you stole my world
Now I'm just a phony
Remembering the girl
Leaves me down and lonely
Send it in a letter
Make yourself feel better
But it's not so bad
You're only the best I ever had
You don't need me back
You're just the best I ever had
And it may take some time to
Patch me up inside
But I can't take it so I
Run away and hide
And I may find in time that
You were always right
You're always right
So you sailed away
Into a grey sky morning
Now I'm here to stay
Love can be so boring
What was it you wanted
Could it be I'm haunted
But it's not so bad
You're only the best I ever had
I don't want you back
You're just the best I ever had
The best I ever had
The best I ever
regmekujo dan 17 lainnya memberi reputasi
18
Kutip
Balas
![Accidentally In Love [True Story]](https://s.kaskus.id/images/2014/04/07/6448808_20140407033338.jpg)