- Beranda
- Stories from the Heart
Accidentally In Love [True Story]
...
TS
robotpintar
Accidentally In Love [True Story]
![Accidentally In Love [True Story]](https://s.kaskus.id/images/2014/02/14/6448808_20140214023854.png)
Spoiler for Cover:
![Accidentally In Love [True Story]](https://s.kaskus.id/images/2014/02/14/6448808_20140214024411.png)
So she said what's the problem baby
What's the problem I don't know
Well maybe I'm in love (love)
Think about it every time
I think about it
Can't stop thinking 'bout it
How much longer will it take to cure this
Just to cure it cause I can't ignore it if it's love (love)
Makes me wanna turn around and face me but I don't know nothing 'bout love
Come on, come on
Turn a little faster
Come on, come on
The world will follow after
Come on, come on
Cause everybody's after love
So I said I'm a snowball running
Running down into the spring that's coming all this love
Melting under blue skies
Belting out sunlight
Shimmering love
Well baby I surrender
To the strawberry ice cream
Never ever end of all this love
Well I didn't mean to do it
But there's no escaping your love
These lines of lightning
Mean we're never alone,
Never alone, no, no
We're accidentally in love
Accidentally in love [x7]
Accidentally I'm In Love
Spoiler for Bagian 1:
#1
Quote:
“Gila lu Bon, roti segitu banyak sayang-sayang bakal empan ikan semua!”
“Emang ngapa? Ikan jaman sekarang mah ogah makan cacing, Meng”
Gua jawab aja sekena-nya, memang niatnya gua bawa roti dari rumah buat bekal pas mancing tapi, gara-gara umpan cacing gua dari tadi nggak disentuh ikan terpaksa gua ganti dengan roti. Siapa tau mujarab.
Nggak seberapa berselang, tali pancing gua bergetar, refleks gua tarik joran sekuatnya dan mendarat dengan mulus seekor ikan yang kurang lebih seukuran telapak tangan.
“Anjritt.. dari tadi dapet sapu-sapu mulu gua!”
Sambil melepas mata kail dari mulut ikan sapu-sapu yang barusan gua angkat dan langsung gua lempar lagi kedalam kali.
Tidak berapa lama, melantun lagu “Time Like This”-nya Foo Fighter dari ponsel gua. Tertera tulisan “Rumah” dilayarnya.
“Kenapa mak?”
Karena memang cuma nyokap gua aja yang selalu telpon melalui telepon rumah. Bokap dan adik gua selalu menggunakan ponsel-nya masing-masing jika ada keperluan.
“Assalamualaikum , Mancing kagak rapi-rapi luh, nih ada kiriman surat buat elu”
“Dari siapa?”
“Kagak tau, bahasanya emak nggak ngerti”
“Simpenin dulu, nih aye udah mau pulang”
“Yaudah buruan, jangan maghriban dijalan, pamali. Assalamualaikum”
“Waalaikumsalam”
Gua kantongin lagi ponsel k-ekantong celana pendek yang sekarang udah kotor campur lumpur, sambil berteriak ke temen gua; Komeng, yang lagi berkutat dengan tali pancingnya yang kusut.
“Meng, ayo balik.. udah sore”
“Belon juga dapet sekilo, udah mau balik aje”
“Yauda elu terusin dah, gua balik duluan”
Komeng menjawab dengan sedikit gumam di bibirnya terdengar seperti “Yaelah..” sambil berjalan gontai menyusul gua.
------
Itu kejadian beberapa tahun yang lalu, dimana gua dan Komeng masih biasa mencari cacing buat umpan ikan di kebun singkong belakang rumahnya Haji Salim dan kemudian pergi memancing disepanjang pinggiran sungai Pesanggrahan, Jakarta.
Sekarang, gua sedang duduk sambil bersandar di sebuah kursi lipat di pinggir danau di daerah Leeds, Inggris. Menghabiskan hari libur akhir musim gugur dengan memancing sambil bernostalgia, mencoba membangkitkan memori tentang memancing, tentang si Komeng, tentang Jakarta, tentang rumah.
Setelah berjam-jam memancing, menghabiskan berkaleng-kaleng ‘Diet Coke’ akhirnya gua memutuskan untuk menyudahi kegiatan sialan ini. Pulang dengan membawa 6 Ekor ikan Yelowtail (di Indonesia disebut ikan patin) dan sedikit kenangan tentang ‘rumah’, gua berjalan gontai menuju tempat dimana sepeda kesayangan gua diparkir, sempat kebingungan awalnya karena sekarang ada banyak sepeda yang diparkir, padahal tadi pagi baru sepeda gua aja yang nongkrong disini, setelah celingak-celinguk akhirnya ketemu juga dan gua mulai mengayuh.
Jarak dari tempat gua biasa mancing ke tempat dimana gua tinggal di Moorland Ave, Leeds kurang lebih 3,5 mil atau kalau dalam satuan Kilometer sekitar 5,5 Km. Jarak segitu kalo disini, di Inggris bisa dibilang ‘deket’, kalau naik sepeda bisa cuma 30 menit.
Oiya, nama gua Boni. Gua lahir dan dibesarkan di Jakarta. Saat ini gua kerja dan tinggal di Leeds, Inggris sekitar 2-3 jam dari London (dengan kereta). Gua kerja sebagai Sound Designer disalah satu Agensi perfilman dan periklanan di Leeds yang juga punya kantor di London. Sudah hampir 4 tahun gua kerja dan tinggal disini, ditempat dimana nggak ada sungai dengan air berwarna cokelat keruh yang banyak ikan sapu-sapunya dan nggak ada teman yang suka menggerutu “Yaelah”.
Sambil mendengarkan “Heaven” nya Lost Lonely Boys lewat headset, gua mengayuh sepeda menuju ke rumah, pulang. Melewati jalan berpasir yang dipenuhi pohon-pohon maple di kedua sisinya menuju jalan utama. Jalan yang sangat sepi dan hening, jam menunjukkan angka 4 sore, menandakan waktu shalat maghrib, di sabtu sore seperti sekarang ini memang didaerah sini sangat sepi, kebanyakan penduduk sekitar sedang ke stadion atau pub-pub untuk menyaksikan Leeds United bertanding. Ingin buru-buru sampai di rumah, karena perut udah mulai keroncongan, gua kayuh sepeda lebih cepat. Sampai kemudian terdengar sayup-sayup suara musik yang makin lama makin nyaring, suara musik RnB yang sepertinya diputar dari dalam mobil dengan volume maksimal. Suara tersebut datang dari arah belakang dan kemudian menyusul gua, sebuah BMW silver yang melaju cepat bahkan boleh dibilang sangat cepat, sambil meninggalkan debu persis seperti mobil yang sedang Rally Dakkar.
“Orang Gila!!” gua mengumpat, masih sambil dengerin coda lagu “Heaven” nya Lost Lonely Boys. Sampai gua melihat beberapa detik kemudian lampu rem BMW tersebut menyala dan kemudian berhenti.
Deg!, “Wuanjrit, sakti juga tuh orang bisa denger suara gua” sambil berhenti dan melepas headset dari telinga. Yang ternyata setelah gua sadar, suara gua nggak sepelan pas pakai headset tadi. Gua nunggu sambil dag dig dug, kalau dia ngerti ucapan gua, dia pasti orang Indonesia dan kalo ternyata bukan gua bakal siap-siap kabur.
Pintu penumpang pun terbuka, terbuka secara paksa tepatnya, sedetik kemudian keluar seseorang dari kursi penumpang, terhuyung dan kemudian terjatuh, terdengar makian dari dalam BMW tersebut mungkin seperti “bitch” atau semacamnya dan sesaat kemudian BMW tersebut pergi, mengasapi orang yang tersungkur itu dengan debu jalanan.
Nggak mau terlalu ambil pusing, sambil bernafas lega dan bilang dalam hati; “untung bukan gua”, gua meneruskan mengayuh sepeda.
“Get up Bro, life is brutal”
gua berkata ke orang itu sambil melewatinya tetap melanjutkan mengayuh. Dan beberapa meter kemudian gua mendengar sebuah teriakan, teriakan yang (pada akhirnya) bakal merubah hidup gua.
“Woii.. Help me!, you’re Indonesian, right?”
“Tolongin gue dong…”
Gua berhenti mengayuh, turun dan bengong. Sudah hampir setahun gua nggak denger secara langsung orang bicara ke gua dengan bahasa Indonesia dan suara perempuan pula.. Lima, ah mungkin sepuluh detik kemudian baru gua memalingkan muka tapi masih tetap bengong.
“Woii..”
Akhirnya gua turun dari sepeda, kemudian menghampiri orang itu. Terduduk di depan gua sosok perempuan, hitam manis dengan kepala tertutup hood jaket hitam, celana jeans dan sepatu model boots sebetis berwarna cokelat.
“Elu nggak apa-apa?”
“Menurut Lo? Kalo gue gak apa-apa, ngapain gua teriak minta tolong elu!!”
Gua nggak menjawab, berusaha membantu dia berdiri sambil bertanya lagi bagaimana keadaannya. Sekali lagi dia mengumpat;
“Gila!, nggak punya hati banget sih lu!, ya jelas lah gue kenapa-kenapa.. nih liat!”
Sambil memperlihatkan telapak tangan dan siku-nya yang luka dan kemudian menyibak celana jeans-nya yang kotor terkena debu dan sobek di beberapa bagian akibat terlempar dari mobil tadi. Sesaat baru dia sadar kalau lutut kanannya juga luka sambil meringis kesakitan dia mencoba membersihkan luka tersebut dengan air liurnya. Sangat Indonesia sekali.
“Gua pikir tadi orang mabok yang lagi berantem, disini mah biasa begitu,mbak!”
Kemudia gua kasih satu-satunya ‘Diet Coke’ sisa memancing tadi, harusnya sih air putih tapi Cuma itu yang gua punya sekarang. Sambil menggerutu karena dikasih ‘Diet Coke’ daripada air putih, diminum juga tuh minuman soda. Kemudian gua menawarkan diri buat mengantar dia ke sebuah toko kecil di ujung jalan ini, untuk membeli plester untuk membalut luka-nya.
“Jauh nggak?”
Dia bertanya sambil menurunkan hood jaketnya dan menyibak rambutnya yang pendek seleher. Kemudian terlihat jelas sebuah luka lebam di sudut mata sebelah kiri-nya, tidak, bukan cuma satu, setidaknya ada 3 luka lebam, selain disudut matanya, satu lagi di dahi sebelah kiri dan satu lagi di sudut bibir sebelah kanan, yang terakhir tampak seperti luka yang baru karena masih meninggalkan sisa bekas darah yang membeku.
Gua nggak berani bertanya, gua hindari menatap kewajahnya sambil menjawab pertanyaa-nya bahwa tokonya nggak begitu jauh dari sini, sambil menunjuk ke arah jalan utama.
---
“Emang ngapa? Ikan jaman sekarang mah ogah makan cacing, Meng”
Gua jawab aja sekena-nya, memang niatnya gua bawa roti dari rumah buat bekal pas mancing tapi, gara-gara umpan cacing gua dari tadi nggak disentuh ikan terpaksa gua ganti dengan roti. Siapa tau mujarab.
Nggak seberapa berselang, tali pancing gua bergetar, refleks gua tarik joran sekuatnya dan mendarat dengan mulus seekor ikan yang kurang lebih seukuran telapak tangan.
“Anjritt.. dari tadi dapet sapu-sapu mulu gua!”
Sambil melepas mata kail dari mulut ikan sapu-sapu yang barusan gua angkat dan langsung gua lempar lagi kedalam kali.
Tidak berapa lama, melantun lagu “Time Like This”-nya Foo Fighter dari ponsel gua. Tertera tulisan “Rumah” dilayarnya.
“Kenapa mak?”
Karena memang cuma nyokap gua aja yang selalu telpon melalui telepon rumah. Bokap dan adik gua selalu menggunakan ponsel-nya masing-masing jika ada keperluan.
“Assalamualaikum , Mancing kagak rapi-rapi luh, nih ada kiriman surat buat elu”
“Dari siapa?”
“Kagak tau, bahasanya emak nggak ngerti”
“Simpenin dulu, nih aye udah mau pulang”
“Yaudah buruan, jangan maghriban dijalan, pamali. Assalamualaikum”
“Waalaikumsalam”
Gua kantongin lagi ponsel k-ekantong celana pendek yang sekarang udah kotor campur lumpur, sambil berteriak ke temen gua; Komeng, yang lagi berkutat dengan tali pancingnya yang kusut.
“Meng, ayo balik.. udah sore”
“Belon juga dapet sekilo, udah mau balik aje”
“Yauda elu terusin dah, gua balik duluan”
Komeng menjawab dengan sedikit gumam di bibirnya terdengar seperti “Yaelah..” sambil berjalan gontai menyusul gua.
------
Itu kejadian beberapa tahun yang lalu, dimana gua dan Komeng masih biasa mencari cacing buat umpan ikan di kebun singkong belakang rumahnya Haji Salim dan kemudian pergi memancing disepanjang pinggiran sungai Pesanggrahan, Jakarta.
Sekarang, gua sedang duduk sambil bersandar di sebuah kursi lipat di pinggir danau di daerah Leeds, Inggris. Menghabiskan hari libur akhir musim gugur dengan memancing sambil bernostalgia, mencoba membangkitkan memori tentang memancing, tentang si Komeng, tentang Jakarta, tentang rumah.
Setelah berjam-jam memancing, menghabiskan berkaleng-kaleng ‘Diet Coke’ akhirnya gua memutuskan untuk menyudahi kegiatan sialan ini. Pulang dengan membawa 6 Ekor ikan Yelowtail (di Indonesia disebut ikan patin) dan sedikit kenangan tentang ‘rumah’, gua berjalan gontai menuju tempat dimana sepeda kesayangan gua diparkir, sempat kebingungan awalnya karena sekarang ada banyak sepeda yang diparkir, padahal tadi pagi baru sepeda gua aja yang nongkrong disini, setelah celingak-celinguk akhirnya ketemu juga dan gua mulai mengayuh.
Jarak dari tempat gua biasa mancing ke tempat dimana gua tinggal di Moorland Ave, Leeds kurang lebih 3,5 mil atau kalau dalam satuan Kilometer sekitar 5,5 Km. Jarak segitu kalo disini, di Inggris bisa dibilang ‘deket’, kalau naik sepeda bisa cuma 30 menit.
Oiya, nama gua Boni. Gua lahir dan dibesarkan di Jakarta. Saat ini gua kerja dan tinggal di Leeds, Inggris sekitar 2-3 jam dari London (dengan kereta). Gua kerja sebagai Sound Designer disalah satu Agensi perfilman dan periklanan di Leeds yang juga punya kantor di London. Sudah hampir 4 tahun gua kerja dan tinggal disini, ditempat dimana nggak ada sungai dengan air berwarna cokelat keruh yang banyak ikan sapu-sapunya dan nggak ada teman yang suka menggerutu “Yaelah”.
Sambil mendengarkan “Heaven” nya Lost Lonely Boys lewat headset, gua mengayuh sepeda menuju ke rumah, pulang. Melewati jalan berpasir yang dipenuhi pohon-pohon maple di kedua sisinya menuju jalan utama. Jalan yang sangat sepi dan hening, jam menunjukkan angka 4 sore, menandakan waktu shalat maghrib, di sabtu sore seperti sekarang ini memang didaerah sini sangat sepi, kebanyakan penduduk sekitar sedang ke stadion atau pub-pub untuk menyaksikan Leeds United bertanding. Ingin buru-buru sampai di rumah, karena perut udah mulai keroncongan, gua kayuh sepeda lebih cepat. Sampai kemudian terdengar sayup-sayup suara musik yang makin lama makin nyaring, suara musik RnB yang sepertinya diputar dari dalam mobil dengan volume maksimal. Suara tersebut datang dari arah belakang dan kemudian menyusul gua, sebuah BMW silver yang melaju cepat bahkan boleh dibilang sangat cepat, sambil meninggalkan debu persis seperti mobil yang sedang Rally Dakkar.
“Orang Gila!!” gua mengumpat, masih sambil dengerin coda lagu “Heaven” nya Lost Lonely Boys. Sampai gua melihat beberapa detik kemudian lampu rem BMW tersebut menyala dan kemudian berhenti.
Deg!, “Wuanjrit, sakti juga tuh orang bisa denger suara gua” sambil berhenti dan melepas headset dari telinga. Yang ternyata setelah gua sadar, suara gua nggak sepelan pas pakai headset tadi. Gua nunggu sambil dag dig dug, kalau dia ngerti ucapan gua, dia pasti orang Indonesia dan kalo ternyata bukan gua bakal siap-siap kabur.
Pintu penumpang pun terbuka, terbuka secara paksa tepatnya, sedetik kemudian keluar seseorang dari kursi penumpang, terhuyung dan kemudian terjatuh, terdengar makian dari dalam BMW tersebut mungkin seperti “bitch” atau semacamnya dan sesaat kemudian BMW tersebut pergi, mengasapi orang yang tersungkur itu dengan debu jalanan.
Nggak mau terlalu ambil pusing, sambil bernafas lega dan bilang dalam hati; “untung bukan gua”, gua meneruskan mengayuh sepeda.
“Get up Bro, life is brutal”
gua berkata ke orang itu sambil melewatinya tetap melanjutkan mengayuh. Dan beberapa meter kemudian gua mendengar sebuah teriakan, teriakan yang (pada akhirnya) bakal merubah hidup gua.
“Woii.. Help me!, you’re Indonesian, right?”
“Tolongin gue dong…”
Gua berhenti mengayuh, turun dan bengong. Sudah hampir setahun gua nggak denger secara langsung orang bicara ke gua dengan bahasa Indonesia dan suara perempuan pula.. Lima, ah mungkin sepuluh detik kemudian baru gua memalingkan muka tapi masih tetap bengong.
“Woii..”
Akhirnya gua turun dari sepeda, kemudian menghampiri orang itu. Terduduk di depan gua sosok perempuan, hitam manis dengan kepala tertutup hood jaket hitam, celana jeans dan sepatu model boots sebetis berwarna cokelat.
“Elu nggak apa-apa?”
“Menurut Lo? Kalo gue gak apa-apa, ngapain gua teriak minta tolong elu!!”
Gua nggak menjawab, berusaha membantu dia berdiri sambil bertanya lagi bagaimana keadaannya. Sekali lagi dia mengumpat;
“Gila!, nggak punya hati banget sih lu!, ya jelas lah gue kenapa-kenapa.. nih liat!”
Sambil memperlihatkan telapak tangan dan siku-nya yang luka dan kemudian menyibak celana jeans-nya yang kotor terkena debu dan sobek di beberapa bagian akibat terlempar dari mobil tadi. Sesaat baru dia sadar kalau lutut kanannya juga luka sambil meringis kesakitan dia mencoba membersihkan luka tersebut dengan air liurnya. Sangat Indonesia sekali.
“Gua pikir tadi orang mabok yang lagi berantem, disini mah biasa begitu,mbak!”
Kemudia gua kasih satu-satunya ‘Diet Coke’ sisa memancing tadi, harusnya sih air putih tapi Cuma itu yang gua punya sekarang. Sambil menggerutu karena dikasih ‘Diet Coke’ daripada air putih, diminum juga tuh minuman soda. Kemudian gua menawarkan diri buat mengantar dia ke sebuah toko kecil di ujung jalan ini, untuk membeli plester untuk membalut luka-nya.
“Jauh nggak?”
Dia bertanya sambil menurunkan hood jaketnya dan menyibak rambutnya yang pendek seleher. Kemudian terlihat jelas sebuah luka lebam di sudut mata sebelah kiri-nya, tidak, bukan cuma satu, setidaknya ada 3 luka lebam, selain disudut matanya, satu lagi di dahi sebelah kiri dan satu lagi di sudut bibir sebelah kanan, yang terakhir tampak seperti luka yang baru karena masih meninggalkan sisa bekas darah yang membeku.
Gua nggak berani bertanya, gua hindari menatap kewajahnya sambil menjawab pertanyaa-nya bahwa tokonya nggak begitu jauh dari sini, sambil menunjuk ke arah jalan utama.
---
DAFTAR ISI
Quote:
CHAPTER 1
#1 The Beginning
#2 Truly Gentlemen
#3 Place Called Home
#4 The Morning Fever
#5 A Miserable Story
#6 Night Rain
#7 Inside My Head
#8 That Day
#9 Be Tough
#10 Mukena
#1 The Beginning
#2 Truly Gentlemen
#3 Place Called Home
#4 The Morning Fever
#5 A Miserable Story
#6 Night Rain
#7 Inside My Head
#8 That Day
#9 Be Tough
#10 Mukena
Quote:
CHAPTER 2
#11-A Trip To Manchester
#11-B The Swiss Army
#12 Here's and Back Again
#13 I Miss You So Bad
#14 Going Mad
#15 Promise
#16 You’ll Be The Only Light I See
#17 The Winter Tears
#18 She's Gone
#19 That Memories
#11-A Trip To Manchester
#11-B The Swiss Army
#12 Here's and Back Again
#13 I Miss You So Bad
#14 Going Mad
#15 Promise
#16 You’ll Be The Only Light I See
#17 The Winter Tears
#18 She's Gone
#19 That Memories
Quote:
CHAPTER 3
[URL="http://www.kaskus.co.id/show_post/530ff7e41acb17030d8b48f1/479/- "]#19-A The Hood[/URL]
#19-B Heres And Back Again II
#19-C Weak
#19-D Surrender
#19-E The Choice
#19-F Anything For You
#19-G Chelsea Number 8
#19-H Its not always about gold and glory
#19-I Aku
#19-J The Words
#19-K The Persian Cat
#19-L You Really The Only Light I See
#19-M So Be It
#19-N Less Than Perfect
#20 That Day II
[URL="http://www.kaskus.co.id/show_post/530ff7e41acb17030d8b48f1/479/- "]#19-A The Hood[/URL]
#19-B Heres And Back Again II
#19-C Weak
#19-D Surrender
#19-E The Choice
#19-F Anything For You
#19-G Chelsea Number 8
#19-H Its not always about gold and glory
#19-I Aku
#19-J The Words
#19-K The Persian Cat
#19-L You Really The Only Light I See
#19-M So Be It
#19-N Less Than Perfect
#20 That Day II
Quote:
CHAPTER 4 The Prekuel
#21 The Prologue
#22 My Precious
#23 Ticket to Ride
#24 Singapore
#25 Dreams
#26 The Awkward Moment
#27 Logic
#28 Driver In Life
#29 The Risk Taker
#30 Sorry
#31 Rise Again
#32 Goodbye
#21 The Prologue
#22 My Precious
#23 Ticket to Ride
#24 Singapore
#25 Dreams
#26 The Awkward Moment
#27 Logic
#28 Driver In Life
#29 The Risk Taker
#30 Sorry
#31 Rise Again
#32 Goodbye
Quote:
CHAPTER 5!!
#33 London
#34 Unwell
#35 I Was Here
#36 Leeds
#37 New Home, New Life
#38 Alone
#39 Intermezo
#40 Goin' Trough
#41 At Glance
#42 The Past of The Future
#33 London
#34 Unwell
#35 I Was Here
#36 Leeds
#37 New Home, New Life
#38 Alone
#39 Intermezo
#40 Goin' Trough
#41 At Glance
#42 The Past of The Future
Quote:
CHAPTER 6
#43 My First ...
#44 If Lovin' You ...
#45 Goin' Back
#46 Leeds II
#47 I Love You (Jealousy)
#48 After All
#49 Hell Yeah
#50 Conflict
#51 Liar-Liar
#52 Memories
#43 My First ...
#44 If Lovin' You ...
#45 Goin' Back
#46 Leeds II
#47 I Love You (Jealousy)
#48 After All
#49 Hell Yeah
#50 Conflict
#51 Liar-Liar
#52 Memories
Quote:
Quote:
Diubah oleh robotpintar 10-04-2014 08:46
carangkasampah dan 121 lainnya memberi reputasi
120
1.3M
Kutip
2.3K
Balasan
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
robotpintar
#1479
Spoiler for Bagian Ke Empat Puluh Dua:
#42 The Past Of The Future
Quote:
Hari ketiga setelah lebaran. Gua sudah berada kembali di Leeds. Okey, walaupun hidup sendirian disini entah kenapa Leeds sukses bikin gua kangen, gua jadi merasa hidup diantara dua dunia, Indonesia dan Inggris, keduanya adalah ‘rumah’ buat gua, keduanya punya kenangan, punya memori.
---
Hampir setahun sejak kepulangan gua ke Indonesia dan sejak saat itu gua nggak pernah lagi menginjakkan kaki ke kampung halaman. Hidup gua Cuma diisi dengan Tidur, kerja, makan, kerja, tidur lagi dan begitu terus, mungkin kalau boleh mengutip istilah seorang developer software; ‘Looping’
Kata orang, hidup di luar negri dimana ketimpangan antar budaya dan latar belakang-nya besar sekali, sangat potensial untuk merubah sifat seseorang. Apalagi di Negara-negara Eropa yang notabene, segala sesuatunya benar-benar berbeda dengan Negara asal gua. Heru, waktu masih di Singapore sebelum berangkat ke Inggris pernah bilang;
“… Bon, konon katanya kalo tinggal lama diluar negeri, kita Cuma punya dua pilihan; Jadi orang yang bener-bener ‘baik’ atau jadi orang yang bener-bener ‘bobrok’, nggak ada yang ditengah tengah.. dan disana lu bakal berubah menjadi orang yang sama sekali baru…”
Awal pindah ke Inggris, gua setuju dengan opini Heru. Tapi semakin kesini, sedikit demi sedikit gua mulai bisa mementahkan opini tersebut. Dengan bangga-nya gua bisa menunjukkan ke Heru, betapa Inggris nggak bisa membuat gua bergeming dari apa yang namanya prinsip. Prinsip yang selalu gua pegang teguh dan kemudian mengakar dalam diri, prinsip untuk selalu mengedepankan logika dan nalar, bahkan tanpa takut gua mengakui bahwa gua adalah budak dari nalar dan logika tersebut.
Dari kecil gua selalu memperdebatkan perkataan nyokap perihal yang namanya ‘pamali’, tahayul dan apalah sebutannya. Bukannya nggak percaya, tapi selama hal tersebut bisa dijelaskan secara nalar dan ilmiah maka tanpa ragu gua pun menurutinya, tapi kalau sama sekali nggak bisa dijelaskan secara nalar, atau ada penjelasan ilmiahnya namun logika gua nggak menerimanya, maka jangan harap gua mau menerimanya.
‘Jangan nyapu malem-malem.. pamali..’
Yang jelas bukan karena ‘pamali’, kurang kerjaan banget tu orang nyapu malem-malem, malam hari itu waktunya istirahat lagian juga gelap-gelap kok nyapu.
‘Jangan duduk didepan pintu.. pamali..’
Pamali dari mana? Dari hongkong? Nggak usah disangkut-sangkutin dengan ‘pamali’-pun yang namanya duduk apalagi tidur didepan pintu itu menghalangi jalan orang lewat.
‘Anak perawan jangan makan sepet (sayap) ayam, ntar dibawa pergi jauh sama suaminya..’
Ya selama yang bawa pergi suaminya yang sah, dimana masalahnya? Kecuali yang bawa pergi kang abu gosok.
Dan banyak hal-hal lain yang masih dianggap tabu, pamali, tahayul oleh nyokap yang selalu gua perdebatkan, dan biasanya bokap yang selalu menengahi sambil berkata ke gua; “Udah turutin aja, kalo nggak ngerugiin elu mah..”
Gua tipe orang yang nggak bakal menelan mentah-mentah apa yang disodorkan ke gua tanpa tau asal-usul, sebab, apa, kenapa dan dimana. Pada akhirnya hal itulah yang membentuk gua yang sekarang, gua yang men-dewa-kan nalar dan logika.
Disatu sisi, di dunia kerja yang sekarang, jelas prinsip men-dewa-kan logika gua ini sangat berguna, bahkan boleh dibilang semua keputusan, ide bahkan sebuah ‘klik’ pada komputer diproses oleh logika dan nalar gua. Dalam dunia desain banyak yang bilang kalau ‘perasaan’ dan ‘feeling’ lebih mendominasi dalam berkreasi, nggak sepenuhnya salah dan buat gua sama sekali nggak benar. Kalau ada orang yang setuju dengan statement ‘perasaan’ dan ‘feeling’ lebih mendominasi dalam berkreasi, maka gua akan menyerahkan sebuah pensil serta selembar kertas ke orang tersebut kemudian menyuruhnya untuk menggambar, atau men-sketsa atau mendesain atau membuat kaligrafi atau berkreasi tanpa harus befikir, ingat! Jangan berfikir. Bisa? Nggak mungkin.
Nalar akan berusaha mengambil memori-memori dalam otak, memprosesnya kemudian member isyarat ke tangan untuk mulai menggerakan pensil membentuk sesuatu yang paling sering dibayangkan, kemudian logika akan membantu menyatukan guratan-guratan pensil menjadi bentuk yang lebih presisi.
Dan prinsip itu pula yang pada akhirnya membawa dan menemani gua berpetualang ke negri-nya Ratu Elizabeth ini, dan pada akhirnya prinsip tersebut runtuh seruntuh-runtuhnya, amburadul, pecah nggak keruan, berbalik menyerang diri gua sendiri saat gua memasuki akhir tahun ke-empat gua berada di sini, di Leeds.
Kalau kata orang betawi ‘ketula’ yang bisa diartikan ‘kemakan omongan sendiri’.
Gua yang selalu men-dewa-kan nalar dan logika akhirnya harus bertekuk lutut, menyerah dihadapan seorang wanita asing yang baru gua kenal.
Berawal dari kejenuhan gua saat memasuki weekend di akhir musim gugur. Pagi itu cuaca sedikit mendung dan berangin. Gua terjaga akibat pemanas ruangan yang sejak semalam mati. Tidur dengan menggunakan sweater dan kaos kaki membuat gua nggak nyaman dan beberapa kali terbangun. Jam menunjukkan pukul 5 dini hari saat gua duduk dikursi dapur sambil menikmati sebatang rokok dan secangkir kopi hitam yang uapnya masih mengepul, dengan kedua kaki ‘nangkring’ diatas kursi gua melihat-lihat catatan yang selama ini gua tulis dalam PDA, sambil menghapus beberapa reminder yang sudah nggak lagi berguna gua menyadari kalau sudah hampir sebulan ini gua nggak pergi memancing. Gua bangkit, kemudian menuju ke kamar mandi untuk sekedar cuci muka dan sikat gigi lalu bergegas menuju ke tempat Darcy untuk complain perihal pemanas ruangan yang rusak sebelum berangkat memancing.
Satu jam berikutnya gua duduk di kursi lusuh yang terletak di lantai bawah yang digunakan Darcy sebagai gudang. Darcy dan seorang pria teknisi gas dan pemanas ruangan langganan-nya tengah berdebat mengenai spare-part yang harus diganti, setelah melalui perdebatan panjang, dengan wajah sedikit ‘lecek’ teknisi tersebut melanjutkan memperbaiki salah satu pipa pemanas sambil menggumam nggak jelas. Kemudian teknisi tersebut meminta gua ke atas, ke kamar gua untuk mencoba menyalakan pemanas, gua bergegas naik ke atas dan menyalakan pemanas, sedikit berdengung di awal kemudian perlahan-lahan suhu ruangan berubah hangat. Gua turun kebawah, menghampiri Darcy yang tengah berdiri disamping teknisi tersebut sambil berkata “it works”. Sambil sedikti berbasa-basi gua menenteng sepeda menuruni tangga kemudian berlalu, meninggalkan Darcy dan si teknisi yang sepertinya masih melanjutka perdebatan mengenai sparepart pemanas yang sudah harus diganti.
Sebelum berbelok ke jalan berpasir menuju ke danau, gua mampir ke sebuah toko kelontong, Le Grocery. Pak tua si penjaga toko tersenyum saat gua memasuki toko-nya, setelah mengambil beberapa kaleng ‘Diet coke’ dan membayarnya;
“Gone fishing huh..?”
“Yeah.. see ya..”
“Have a nice day..”
Gua keluar toko setelah sedikit berbasa-basi dengan pak tua pemilik toko, kemudian memasang headset ke telinga dan mulai mengayuh sepeda menuju ke jalan berpasir kearah danau.
Setibanya di danau, gua memarkirkan sepeda didepan sebuah rumah yang mirip bungalow. Didepan bungalow tersebut berdiri sebuah papan usang, sama usangnya dengan bungalaw teserbut bertuliskan; “Observatorium”. Sejak setahun belakangan, saat danau mulai ramai oleh orang-orang yang ingin memancing atau hanya sekedar ber-piknik, bungalow tersebut dialihkan fungsinya sebagai lahan parkir. Pagi itu belum ada satupun sepeda yang terparkir disana, setelah menggembok sepeda menggunakan rantai, gua berjalan gontai menuju ke danau melalui jalan setapak sambil menggendong ‘joran’ pancing dipundak, menenteng plastik berisi ‘diet coke’ ditangan kanan dan kursi lipat kecil ditangan kiri.
Gua membuka lipatan kursi mini yang terdiri dari rangkaian besi-besi dan engsel yang memungkinkan untuk dilipat menjadi sangat kecil kemudian duduk diatasnya. Setelah memasang umpan, gua melempar kail sejauh mungkin.
Semilir angin bertiup, menerpa wajah dan menyisir rambut gua. Sambil memandangi tali pancing yang kadang bergoyang-goyan diterpa riak air akibat hembusan angin, ingatan gua akan kampung halaman kembali berpendar.
Gua duduk ditepi danau di pinggiran kota Leeds sambil bernostalgia, mencoba membangkitkan memori tentang memancing, tentang si Komeng, tentang Jakarta, tentang rumah.
Setelah berjam-jam memancing, menghabiskan berkaleng-kaleng ‘Diet Coke’ akhirnya gua memutuskan untuk menyudahi kegiatan ini. Pulang dengan membawa 6 Ekor ikan Yelowtail (di Indonesia disebut ikan patin) dan sedikit kenangan tentang ‘rumah’, gua berjalan gontai menuju tempat dimana sepeda kesayangan gua diparkir, sempat kebingungan awalnya karena sekarang ada banyak sepeda yang diparkir dan gua mulai mengayuh.
Sambil mendengarkan “Heaven” nya Lost Lonely Boys lewat headset, gua mengayuh sepeda menuju ke rumah, pulang. Melewati jalan berpasir yang dipenuhi pohon-pohon maple di kedua sisinya menuju jalan utama. Jalan yang sangat sepi dan hening, jam menunjukkan angka 4 sore, di sabtu sore seperti sekarang ini memang didaerah sini sangat sepi, kebanyakan penduduk sekitar sedang ke stadion atau pub-pub untuk menyaksikan Leeds United bertanding. Ingin buru-buru sampai di rumah, karena perut udah mulai keroncongan, gua kayuh sepeda lebih cepat. Sampai kemudian terdengar sayup-sayup suara musik yang makin lama makin nyaring, suara musik RnB yang sepertinya diputar dari dalam mobil dengan volume maksimal. Suara tersebut datang dari arah belakang dan kemudian menyusul gua, sebuah BMW silver yang melaju cepat bahkan boleh dibilang sangat cepat, sambil meninggalkan debu persis seperti mobil yang sedang Rally Dakkar.
“Orang Gila!!” gua mengumpat, masih sambil dengerin coda lagu “Heaven” nya Lost Lonely Boys. Sampai gua melihat beberapa detik kemudian lampu rem BMW tersebut menyala dan kemudian berhenti.
Deg!, “Wuanjrit, sakti juga tuh orang bisa denger suara gua” sambil berhenti dan melepas headset dari telinga. Yang ternyata setelah gua sadar, suara gua nggak sepelan pas pakai headset tadi. Gua nunggu sambil dag dig dug, kalau dia ngerti ucapan gua, dia pasti orang Indonesia dan kalo ternyata bukan gua bakal siap-siap kabur.
Pintu penumpang pun terbuka, terbuka secara paksa tepatnya, sedetik kemudian keluar seseorang dari kursi penumpang, terhuyung dan kemudian terjatuh, terdengar makian dari dalam BMW tersebut mungkin seperti “bitch” atau semacamnya dan sesaat kemudian BMW tersebut pergi, mengasapi orang yang tersungkur itu dengan debu jalanan.
Sesosok perempuan yang awalnya gua kira adalah laki-laki, terduduk dengan kepala menunduk ke tanah. Perempuan yang pada akhirnya meruntuhkan semua prinsip gua tentang Logika dan nalar yang terlanjur meng-akar dalam diri gua, perempuan hitam manis dengan rambut pendeknya, perempuan yang mengubah hidup gua.
Namanya; Ines.
---
Hampir setahun sejak kepulangan gua ke Indonesia dan sejak saat itu gua nggak pernah lagi menginjakkan kaki ke kampung halaman. Hidup gua Cuma diisi dengan Tidur, kerja, makan, kerja, tidur lagi dan begitu terus, mungkin kalau boleh mengutip istilah seorang developer software; ‘Looping’
Kata orang, hidup di luar negri dimana ketimpangan antar budaya dan latar belakang-nya besar sekali, sangat potensial untuk merubah sifat seseorang. Apalagi di Negara-negara Eropa yang notabene, segala sesuatunya benar-benar berbeda dengan Negara asal gua. Heru, waktu masih di Singapore sebelum berangkat ke Inggris pernah bilang;
“… Bon, konon katanya kalo tinggal lama diluar negeri, kita Cuma punya dua pilihan; Jadi orang yang bener-bener ‘baik’ atau jadi orang yang bener-bener ‘bobrok’, nggak ada yang ditengah tengah.. dan disana lu bakal berubah menjadi orang yang sama sekali baru…”
Awal pindah ke Inggris, gua setuju dengan opini Heru. Tapi semakin kesini, sedikit demi sedikit gua mulai bisa mementahkan opini tersebut. Dengan bangga-nya gua bisa menunjukkan ke Heru, betapa Inggris nggak bisa membuat gua bergeming dari apa yang namanya prinsip. Prinsip yang selalu gua pegang teguh dan kemudian mengakar dalam diri, prinsip untuk selalu mengedepankan logika dan nalar, bahkan tanpa takut gua mengakui bahwa gua adalah budak dari nalar dan logika tersebut.
Dari kecil gua selalu memperdebatkan perkataan nyokap perihal yang namanya ‘pamali’, tahayul dan apalah sebutannya. Bukannya nggak percaya, tapi selama hal tersebut bisa dijelaskan secara nalar dan ilmiah maka tanpa ragu gua pun menurutinya, tapi kalau sama sekali nggak bisa dijelaskan secara nalar, atau ada penjelasan ilmiahnya namun logika gua nggak menerimanya, maka jangan harap gua mau menerimanya.
‘Jangan nyapu malem-malem.. pamali..’
Yang jelas bukan karena ‘pamali’, kurang kerjaan banget tu orang nyapu malem-malem, malam hari itu waktunya istirahat lagian juga gelap-gelap kok nyapu.
‘Jangan duduk didepan pintu.. pamali..’
Pamali dari mana? Dari hongkong? Nggak usah disangkut-sangkutin dengan ‘pamali’-pun yang namanya duduk apalagi tidur didepan pintu itu menghalangi jalan orang lewat.
‘Anak perawan jangan makan sepet (sayap) ayam, ntar dibawa pergi jauh sama suaminya..’
Ya selama yang bawa pergi suaminya yang sah, dimana masalahnya? Kecuali yang bawa pergi kang abu gosok.
Dan banyak hal-hal lain yang masih dianggap tabu, pamali, tahayul oleh nyokap yang selalu gua perdebatkan, dan biasanya bokap yang selalu menengahi sambil berkata ke gua; “Udah turutin aja, kalo nggak ngerugiin elu mah..”
Gua tipe orang yang nggak bakal menelan mentah-mentah apa yang disodorkan ke gua tanpa tau asal-usul, sebab, apa, kenapa dan dimana. Pada akhirnya hal itulah yang membentuk gua yang sekarang, gua yang men-dewa-kan nalar dan logika.
Disatu sisi, di dunia kerja yang sekarang, jelas prinsip men-dewa-kan logika gua ini sangat berguna, bahkan boleh dibilang semua keputusan, ide bahkan sebuah ‘klik’ pada komputer diproses oleh logika dan nalar gua. Dalam dunia desain banyak yang bilang kalau ‘perasaan’ dan ‘feeling’ lebih mendominasi dalam berkreasi, nggak sepenuhnya salah dan buat gua sama sekali nggak benar. Kalau ada orang yang setuju dengan statement ‘perasaan’ dan ‘feeling’ lebih mendominasi dalam berkreasi, maka gua akan menyerahkan sebuah pensil serta selembar kertas ke orang tersebut kemudian menyuruhnya untuk menggambar, atau men-sketsa atau mendesain atau membuat kaligrafi atau berkreasi tanpa harus befikir, ingat! Jangan berfikir. Bisa? Nggak mungkin.
Nalar akan berusaha mengambil memori-memori dalam otak, memprosesnya kemudian member isyarat ke tangan untuk mulai menggerakan pensil membentuk sesuatu yang paling sering dibayangkan, kemudian logika akan membantu menyatukan guratan-guratan pensil menjadi bentuk yang lebih presisi.
Dan prinsip itu pula yang pada akhirnya membawa dan menemani gua berpetualang ke negri-nya Ratu Elizabeth ini, dan pada akhirnya prinsip tersebut runtuh seruntuh-runtuhnya, amburadul, pecah nggak keruan, berbalik menyerang diri gua sendiri saat gua memasuki akhir tahun ke-empat gua berada di sini, di Leeds.
Kalau kata orang betawi ‘ketula’ yang bisa diartikan ‘kemakan omongan sendiri’.
Gua yang selalu men-dewa-kan nalar dan logika akhirnya harus bertekuk lutut, menyerah dihadapan seorang wanita asing yang baru gua kenal.
Berawal dari kejenuhan gua saat memasuki weekend di akhir musim gugur. Pagi itu cuaca sedikit mendung dan berangin. Gua terjaga akibat pemanas ruangan yang sejak semalam mati. Tidur dengan menggunakan sweater dan kaos kaki membuat gua nggak nyaman dan beberapa kali terbangun. Jam menunjukkan pukul 5 dini hari saat gua duduk dikursi dapur sambil menikmati sebatang rokok dan secangkir kopi hitam yang uapnya masih mengepul, dengan kedua kaki ‘nangkring’ diatas kursi gua melihat-lihat catatan yang selama ini gua tulis dalam PDA, sambil menghapus beberapa reminder yang sudah nggak lagi berguna gua menyadari kalau sudah hampir sebulan ini gua nggak pergi memancing. Gua bangkit, kemudian menuju ke kamar mandi untuk sekedar cuci muka dan sikat gigi lalu bergegas menuju ke tempat Darcy untuk complain perihal pemanas ruangan yang rusak sebelum berangkat memancing.
Satu jam berikutnya gua duduk di kursi lusuh yang terletak di lantai bawah yang digunakan Darcy sebagai gudang. Darcy dan seorang pria teknisi gas dan pemanas ruangan langganan-nya tengah berdebat mengenai spare-part yang harus diganti, setelah melalui perdebatan panjang, dengan wajah sedikit ‘lecek’ teknisi tersebut melanjutkan memperbaiki salah satu pipa pemanas sambil menggumam nggak jelas. Kemudian teknisi tersebut meminta gua ke atas, ke kamar gua untuk mencoba menyalakan pemanas, gua bergegas naik ke atas dan menyalakan pemanas, sedikit berdengung di awal kemudian perlahan-lahan suhu ruangan berubah hangat. Gua turun kebawah, menghampiri Darcy yang tengah berdiri disamping teknisi tersebut sambil berkata “it works”. Sambil sedikti berbasa-basi gua menenteng sepeda menuruni tangga kemudian berlalu, meninggalkan Darcy dan si teknisi yang sepertinya masih melanjutka perdebatan mengenai sparepart pemanas yang sudah harus diganti.
Sebelum berbelok ke jalan berpasir menuju ke danau, gua mampir ke sebuah toko kelontong, Le Grocery. Pak tua si penjaga toko tersenyum saat gua memasuki toko-nya, setelah mengambil beberapa kaleng ‘Diet coke’ dan membayarnya;
“Gone fishing huh..?”
“Yeah.. see ya..”
“Have a nice day..”
Gua keluar toko setelah sedikit berbasa-basi dengan pak tua pemilik toko, kemudian memasang headset ke telinga dan mulai mengayuh sepeda menuju ke jalan berpasir kearah danau.
Setibanya di danau, gua memarkirkan sepeda didepan sebuah rumah yang mirip bungalow. Didepan bungalow tersebut berdiri sebuah papan usang, sama usangnya dengan bungalaw teserbut bertuliskan; “Observatorium”. Sejak setahun belakangan, saat danau mulai ramai oleh orang-orang yang ingin memancing atau hanya sekedar ber-piknik, bungalow tersebut dialihkan fungsinya sebagai lahan parkir. Pagi itu belum ada satupun sepeda yang terparkir disana, setelah menggembok sepeda menggunakan rantai, gua berjalan gontai menuju ke danau melalui jalan setapak sambil menggendong ‘joran’ pancing dipundak, menenteng plastik berisi ‘diet coke’ ditangan kanan dan kursi lipat kecil ditangan kiri.
Gua membuka lipatan kursi mini yang terdiri dari rangkaian besi-besi dan engsel yang memungkinkan untuk dilipat menjadi sangat kecil kemudian duduk diatasnya. Setelah memasang umpan, gua melempar kail sejauh mungkin.
Semilir angin bertiup, menerpa wajah dan menyisir rambut gua. Sambil memandangi tali pancing yang kadang bergoyang-goyan diterpa riak air akibat hembusan angin, ingatan gua akan kampung halaman kembali berpendar.
Gua duduk ditepi danau di pinggiran kota Leeds sambil bernostalgia, mencoba membangkitkan memori tentang memancing, tentang si Komeng, tentang Jakarta, tentang rumah.
Setelah berjam-jam memancing, menghabiskan berkaleng-kaleng ‘Diet Coke’ akhirnya gua memutuskan untuk menyudahi kegiatan ini. Pulang dengan membawa 6 Ekor ikan Yelowtail (di Indonesia disebut ikan patin) dan sedikit kenangan tentang ‘rumah’, gua berjalan gontai menuju tempat dimana sepeda kesayangan gua diparkir, sempat kebingungan awalnya karena sekarang ada banyak sepeda yang diparkir dan gua mulai mengayuh.
Sambil mendengarkan “Heaven” nya Lost Lonely Boys lewat headset, gua mengayuh sepeda menuju ke rumah, pulang. Melewati jalan berpasir yang dipenuhi pohon-pohon maple di kedua sisinya menuju jalan utama. Jalan yang sangat sepi dan hening, jam menunjukkan angka 4 sore, di sabtu sore seperti sekarang ini memang didaerah sini sangat sepi, kebanyakan penduduk sekitar sedang ke stadion atau pub-pub untuk menyaksikan Leeds United bertanding. Ingin buru-buru sampai di rumah, karena perut udah mulai keroncongan, gua kayuh sepeda lebih cepat. Sampai kemudian terdengar sayup-sayup suara musik yang makin lama makin nyaring, suara musik RnB yang sepertinya diputar dari dalam mobil dengan volume maksimal. Suara tersebut datang dari arah belakang dan kemudian menyusul gua, sebuah BMW silver yang melaju cepat bahkan boleh dibilang sangat cepat, sambil meninggalkan debu persis seperti mobil yang sedang Rally Dakkar.
“Orang Gila!!” gua mengumpat, masih sambil dengerin coda lagu “Heaven” nya Lost Lonely Boys. Sampai gua melihat beberapa detik kemudian lampu rem BMW tersebut menyala dan kemudian berhenti.
Deg!, “Wuanjrit, sakti juga tuh orang bisa denger suara gua” sambil berhenti dan melepas headset dari telinga. Yang ternyata setelah gua sadar, suara gua nggak sepelan pas pakai headset tadi. Gua nunggu sambil dag dig dug, kalau dia ngerti ucapan gua, dia pasti orang Indonesia dan kalo ternyata bukan gua bakal siap-siap kabur.
Pintu penumpang pun terbuka, terbuka secara paksa tepatnya, sedetik kemudian keluar seseorang dari kursi penumpang, terhuyung dan kemudian terjatuh, terdengar makian dari dalam BMW tersebut mungkin seperti “bitch” atau semacamnya dan sesaat kemudian BMW tersebut pergi, mengasapi orang yang tersungkur itu dengan debu jalanan.
Sesosok perempuan yang awalnya gua kira adalah laki-laki, terduduk dengan kepala menunduk ke tanah. Perempuan yang pada akhirnya meruntuhkan semua prinsip gua tentang Logika dan nalar yang terlanjur meng-akar dalam diri gua, perempuan hitam manis dengan rambut pendeknya, perempuan yang mengubah hidup gua.
Namanya; Ines.
Backsound


Duhai engkau sang dewi ciptaan raja
Dari langit kau turun ke dunia
Untuk jadi milikku
Jadi pendampingku selamanya
Dengarkanlah setiap kata yang terucap
Mengertilah karena hidup takkan
Semudah kau kira
Kau harus berlari mengejarnya
Ku takkan berhenti
Beri cinta dan rinduku
Sampai kau mengerti dan pahami
Semua yang kuberikan
Jangan kau pergi dariku
Bila waktuku sedikit untukmu
Setiap hembusan nafasku
Kulakukan yang terbaik untukmu
Duhai engkau sang dewi ciptaan raja
Mengertilah karena hidup takkan
Semudah kau kira
Kau harus berlari mengejarnya
Bila ku pergi, tetaplah kau ada disini
Dan menanti.....


Duhai engkau sang dewi ciptaan raja
Dari langit kau turun ke dunia
Untuk jadi milikku
Jadi pendampingku selamanya
Dengarkanlah setiap kata yang terucap
Mengertilah karena hidup takkan
Semudah kau kira
Kau harus berlari mengejarnya
Ku takkan berhenti
Beri cinta dan rinduku
Sampai kau mengerti dan pahami
Semua yang kuberikan
Jangan kau pergi dariku
Bila waktuku sedikit untukmu
Setiap hembusan nafasku
Kulakukan yang terbaik untukmu
Duhai engkau sang dewi ciptaan raja
Mengertilah karena hidup takkan
Semudah kau kira
Kau harus berlari mengejarnya
Bila ku pergi, tetaplah kau ada disini
Dan menanti.....
Spoiler for Klipnya:
aripinastiko612 dan 15 lainnya memberi reputasi
16
Kutip
Balas
![Accidentally In Love [True Story]](https://s.kaskus.id/images/2014/04/07/6448808_20140407033338.jpg)