- Beranda
- Stories from the Heart
BUNGA "PERTAMA" DAN "TERAKHIR"
...
TS
javiee
BUNGA "PERTAMA" DAN "TERAKHIR"

Spoiler for RULES:
INTRO
Perkenalkan, nama gw Raden Fajar Putro Mangkudiningrat Laksana...Bohong deng, kepanjangan...sebut aja gw Fajar. Tinggi 175 cm berat 58kg. bisa disebut kurus karena tinggi dan berat badan gw ga proposional.
. Gw ROCKER...!! Pastinya Rocker Kelaparan.Gw terlahir dari keluarga biasa saja yang serba "Cukup". dalam arti "cukup" buat beli rumah gedongan, "cukup" buat beli mobil Mewah sekelas Mercy. (ini jelas jelas bohong). yang pasti gw bersyukur dilahirkan dari keluarga ini.
Gw Anak pertama dari 3 bersaudara. Adik adik gw semuanya perempuan. Gw keturunan Janda alias Jawa Sunda. Bokap asli dari Jepara bumi Kartini. Tempatnya para pengrajin kayu yang terkenal di Nusantara bahkan diakui oleh Dunia. Tapi bokap gw bukan pengusaha mebel seperti kebanyakan orang Jepara. Nyokap gw asli Sumedang Kota yang terkenal dengan TAHU nya. Tapi wajahnya sama sekali nggak mirip tahu ya. Sunda tulen nan cantik jelita. Beliau bidadari gw nomer "1" di dunia ini.
Spoiler for INDEKS:
Spoiler for INDEKSII:
Diubah oleh javiee 06-04-2015 23:49
manusia.baperan dan 4 lainnya memberi reputasi
3
729.4K
2.9K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
javiee
#1104
PART 52
"Teeeeeeet"
Bel telah berbunyi pertanda waktu istirahat sudah tiba. Para cucunguk langsung berhamburan keluar kelas menuju pangkalannya masing masing. Sedangkan gw masih diam di tempat duduk sambil menunggu kelas benar benar kosong sebab saat itu gw memang mau berdiam diri di kelas sambil menyantap makanan yang dibawakan oleh Bunga. Sebenernya agak tengsin apabila ada kawanan cucunguk melihat gw membawa bekel, bisa bisa gw malah jadi bahan cengan. Masa iya anak ES-TE-EM bawa bekel? Udah gitu kotak makannya gambar Garfield. Abis lah gw...
"Kantin ga Jar?" Tanya teman gw. Arba namanya.
"Duluan dah. Gw di kelas aja" Jawab gw.
Tanpa bicara lagi dia langsung pergi begitu saja keluar kelas. Gw tak menghiraukannya alias masa bodoh. Lalu tangan gw merogoh tas ransel yang tersimpan di kolong meja, dan mengambil sekotak makanan pemberian dari Bunga. Gw sudah penasaran kira kira makanan apa yang diberikan Bunga tadi pagi. Gw pun segera membuka kotak itu. Bibir gw tersenyum melebar setelah melihat satu porsi Nasi Goreng dihiasi dengan nugget 'So Go*d' berbentuk Alfabet yang tersusun rapi, lengkap dengan sausnya. Sontak gw keluarkan jimbot dari dalam saku celana, lalu gw ketik sebuah sms yang ditujukan untuk Bunga.
"Hey Jembung, makasih ya bekel Nasi Gorengnya" Sent To Bunga.
Cukup lama gw menunggu balasan darinya karena mungkin dia masih ada jam pelajaran dan belum sempat membalasnya. Lantas gw langsung memulai acara makan pagi itu. Ketika sedang asyik makan, tiba tiba ada sebuah potongan kapur tulis mendarat tepat di kepala gw. "Haram Jadah!!" Umpat gw.
Gw tengok ke arah pintu kelas, dan gw melihat seekor anak simpanze cengar cengir memasang tampang tak berdosa. Tak lama kemudian, dia berjalan menghampiri gw.
"Woi Jar...Tumben bawa makanan." Sapa dia lalu mengambil satu nugget huruf 'A'.
"Anjirr nggak sekolah ape mulut lu dateng dateng maen cagas aja..."
"Bagi lah satu. Merki amat sama gw."Ujarnya.
"Haha. Tumben lu mau negor gw." Sindir gw.
"Jiaah...Lu kali yang ga mau negor gw." Jawab Dedi.
"Bolak balikin pakta lu nyet!! Udah puas mukul gw maen kabur aje lu!! Kampret" Gerutu gw
"Haha...Gimana sekarang udah kelar urusan lu?" Tanya dia.
"Udah Ded..." Jawab gw singkat.
"Jar, sori masalah kemaren ya. Gw dah terlalu jauh nyemplung ke masalah lu. Sampe lu kena jotos gara gara gw emosi. Gw bukanya sok jagoan ato jadi pahlawan kesiangan. Tapi gw nggak mau aja temen gw bego gara2 cewe. Terus gw juga kasian sama Bunga...Udah jauh jauh nyamperin lu malah diusir..." Ujarnya panjang lebar.
"Oh..." Gumam gw.
"Sori juga Jar, gw diemin lu kemaren Bukan maksud buat musuhin lu."
"Ya, gw ngerti Ded."
Kemudian tak ada lagi percakapan diantara kami berdua. Gw sibuk makan, sementara Dedi sibuk memainkan HP nukiyeu miliknya. Namun ada satu pertanyaan yang belum gw tanyakan pada Dedi. Perihal sesuatu yang sampai saat itu masih mengganjal di hati gw.
"Oya, masalah omongan lu waktu itu apa bener Ded?"
"Omongan yang mana?" Dia balik bertanya.
"Yah...pura pura bego lagi.."
"Lah gw ga ngerti Jar. Emangnya gw ngomong apaan?" Tanya dia lagi.
"Lu suka Bunga?" Gw balik bertanya.
Gw lihat raut wajah Dedi langsung berubah. Kini tampangnya terlihat lebih serius menanggapi satu pertanyaan yang terlontar dari mulut gw.
"Ya nggak lah Jar. Kan dia udah sama lu." Ujarnya.
"Tapi Ded, maksud lu apa ngomong begitu?" Tanya gw lagi.
"Yah...Ga ada maksud apa apa. Namanya juga lagi emosi." Jawab dia.
"Ded....kadang yang namanya orang emosi, omongan apa aja bisa reflek keluar dari mulut. Termasuk rahasia yang ada di dalem hati lu sendiri..."
".........." Dedi diam saja.
Segera gw buru buru merapihkan kotak nasi bekas makan, dan gw masukkan ke dalam tas. Lalu gw bangkit dari tempat duduk gw meninggalkan Dedi yang lagi bengong.
"Mau kemana lu Jar??" Teriak dia tiba tiba.
"Ke belakang. Mau ngerokok gw..."
"Tunggu Jar bareng." Teriak Dedi.
Setengah berlari dia menyusul gw dan kami pun berjalan beriringan menuju kantin belakang. Seperti biasa, gw langsung menuju pojokan kantin tempat gw biasa nongkrong sambil merokok. Banyak yang kami bicarakan saat itu, tetapi gw tidak lagi membahas masalah ucapan Dedi kalau dia menyukai Bunga. Gw menganggap itu bukan sebuah masalah yang serius, sebab gw tau Dedi bukan tipe orang yang suka maen tusuk dari belakang. (Waduh!!)
Tak terasa, hari sudah siang, matahari sudah agak melenceng dari atas kepala. Kurang lebih 6 jam sudah gw menghabiskan waktu di sekolah dan kini waktunya untuk pulang. Gw tidak langsung pulang ke rumah lantas nongkrong di studio photo depan sekolah Bunga sekalian menunggunya pulang. Sebenarnya bisa saja gw pulang ke rumah dulu, lalu kembali kesini lagi saat jam pulang sekolahnya. Tapi karena berat di bensin, gw memilih stand bye disini saja. Maklum, uang jajan gw waktu itu cuma dua lembar Imam Bonjol.
"Rokok nih Jar...." Tawar seorang pemuda.
Dia adalah Ocol, karyawan yang bekerja di studio photo itu. Gw sudah cukup lama kenal dengan dia sebab tempat tinggalnya masih dekat dengan rumah gw. Sebenarnya 'Ocol' itu bukan nama asli dia, bahkan gw sama sekali tidak tahu nama asli dia itu siapa.
Entahlah...nggak terlalu penting.
"Tengkyu Col, masih ada nih gw." Tolak gw halus.
"Kalo mau mesen kopi, pesen aja Jar di warteg sebelah." Tawar dia lagi.
"Nah kalo itu boleh dah..." Ujar gw.
"Yaudah pesen dua. Nih duitny." Ujarnya seraya memberi uang 5 ribuan.
Segelas kopi dan beberapa batang rokok menemani penantian gw siang itu. Hingga tak terasa waktu menunjukkan pukul 3 sore dan hampir 2 jam gw menunggu Bunga. Akhirnya gadis yang gw tunggu tunggu muncul juga dibalik pintu gerbang sekolahnya. Dia melambaikan tangan lalu menyebrang jalan menghampiri gw yang masih berada di dalam studio foto.
"Udah lama yank?" Tanya dia.
"Baru kok...belum lama. Hehe" Jawab gw.
Gw sedikit berbohong terhadapnya. Padahal gw sudah berada disini dua jam yang lalu. Sampai sampai kopi yang gw minum hanya tinggal ampas kering saja.
"Aku beliin ini buat kamu..." Ujarnya sembari merogoh isi tasnya lalu mengeluarkan sekotak kue risol kesukaan gw.
"Hee...makasih Jembung!! Aku dibeliin makanan terus nih. Hehe..." Ucaap gw.
"Iya...biar kamu gemuk. Hahaha" Dia tertawa kecil.
"Waduh, emang aku kurus ya?" Tanya gw.
"Iyaa..." Jawabnya.
"Masa sih? Tapi nggak kurus kurus amat kali yank..." Ujar gw."
"Nggak kurus apa...itu pipinya kempot begitu." Ledek dia.
"Eeee...Sembarangan!! Tapi tetep ganteng kan akunya?" Ujar gw sambil nyengir.
"Hahaha...Iya deh iyaa ganteng" Dia tertawa.
Kemudian Bunga beranjak dari tempat duduknya menuju meja si Ocol. Sepertinya dia mau mencetak beberapa foto lagi. Dia memang hobi mengoleksi beberapa foto dirinya bersama salah satu anggota keluarganya. Entah Ayahnya, Bundanya, Kakaknya, dan Adiknya. Tapi ada juga beberapa foto bersama gw yang sudah dicetaknya.
"Yank..." Panggil dia.
"Hemmm..." Sahut gw.
"Aku ke Om dulu ya mau ngeprint tugas aku. Takutnya lupa soalnya printer di rumah rusak. Besok mau dikumpulin." Ucapnya.
"Oh yaudah. Aku nunggu sini aja ya."
Tak dijawabnya kata kata gw lantas dia langsung berjalan menuju rental komputer. Tidak jauh memang, hanya beberapa meter saja dari sini.
Kali ini gw kembali menunggunya sambil memakan beberapa kue risol yang dia berikan tadi. Sekitar 10 menitan gw menunggu, Bunga pun sudah kembali kesini lagi. Tapi gw kaget sekaget kagetnya karena dia kembali dalam keadaan menangis. Dia langsung duduk disebelah gw sambil terisak. Gw yang tak tau menau sebab dia menangis hanya bisa bertanya 'kenapa?' kepadanya.
"Kamu kenapa?" Tanya gw.
"Aku takut..." Jawabnya.
"Takut kenapa? Takut sama siapa??" Tanya gw lagi.
"Aku kan mau numpang pipis ke toilet, terus ada anak STM lagi pada maen PS. Pas aku di toilet, aku dikunciin dari luar...terus lampunya dimatiin." Ujarnya sambil sesenggukan...
"Haaah???"
"Aku takuut...gelap banget!! Aku takut gelap!! Pas aku keluar anak STM itu malah ngeledek aku, ngatain aku juga. Aku takut!!..Hikss..."
"Bangs****t nih anak Kam**k beraninya ama cewe...!!!" Umpat gw dalam hati.
"Terus Orangnya yang mana?? Ciri cirinya??" Tanya gw lagi.
"Orangnya tinggi terus item." Jawabnya.
"Ada berapa orang disitu?" Tanya gw lagi.
"Banyak yaank...aku takut!!"
"Udah Jar hantem ajee...gw bantuin!!" Ujar si Ocol tiba tiba. Dia malah ngomporin gw.
"Kamu tunggu sini ya...Aku liat kesana dulu. Col....gw titip Bunga dulu!!" Lanjut gw pada Ocol.
Gw keluar dari studio foto dibarengi dengan emosi yang benar benar di ujung kepala. "Bajingan!!!" Umpat gw dalam hati. Gw nggak habis fikir, kenapa beraninya dia orang gangguin Bunga sampai sampai dia nangis. Gw sebagai laki laki yang pernah membuat dia menangis sangat merasa bersalah dan berdosa. Tapi dia orang malah ketawa ketawi setelah berbuat seenaknya terhadap Bunga.
Gw segera keluar dari studio foto, dan menuju rental komputer dimana anak anak Monyet itu sedang asyik bermain PS.
Namun gw langsung sadar...
Disini daerahnya mereka, daerah sekolah mereka. Kalau gw maen hantem aja yang ada gw malah dihantem balik sama monyet satu sekolahan. You know Lah, anak STM model dia orang beraninya cuma maen keroyokan. Lantas gw berfikir sejenak...Bagaimana caranya ngasih pelajaran nih manusia setengah monyet.
Lalu gw keluarkan Jimbot, dan gw menelfon Dedi.
"Tuuuuuut...."
"Ngapa Jar?" Ucap Dedi dari seberang sana.
"Ded, dimana Lu? kesini lu cepetan sekarang!! depan sekolahnya Bunga!!" Ujar gw.
"Weeh...ada apaan nih??" Tanya dia.
"Udah cepetan lu kesini...Ada yang ngajakin perang!!"
"Ohh...Oke!!"
"Nggak pake lama!!" Ucap gw.
Tak sampai 5 menit Dedi pun sampai dengan motor Kirananya. Lalu dia setengah berlari menghampiri gw yang masih diam di depan rental itu.
"Siapa Jar yang ngajak perang?" Tanya Dedi.
"Tuh...anak Kam**k bajingan!! Gangguin Bunga sampe nangis dia." Jawab gw.
"Waduuh...!! mana orangnya Jar?"
"Di dalem sini...Orangnya tinggi-item. ayo masuk lu sama gw."
Lalu gw dan Dedi segera masuk ke dalam. Sempat juga gw dihalau oleh penjaga rental untuk mencegah gw masuk membuat keributan. Tapi dia akhirnya diam saja tak berkata apapun setelah gw menggertaknya.
Ternyata benar kalau disini banyak para monyet yang laagi main PS. Gw memperhatikan satu satu dari mereka. Mata gw mulai mencari satu monyet dengan ciri ciri tinggi-item, dan gw menemukannya. Dia tengah asyik merokok di sudut ruangan. Gw melepas jaket gw dan terlihatlah seragam gw yang khas berwarna biru muda.
Lalu tanpa Ba-Bi-Bu lagi gw langsung samperin tuh monyet dan bogem mentah gw berikan.
"Bangs***t Lu!!" Umpat gw.
Rokok yang terselip di bibirnya terpental. Namun gw kurang beruntung sebab bogem gw berikan tidak tepat mengenai rahangnya karena dia sempat menghindar, Tiba tiba.....
"Duag!!! Bak Bik Buk!!"
Dengan sigap Dedi langsung meluncurkan tendangan karatenya dan pukulan membabi buta. Hal itu membuat si monyet tersungkur sampai sampai poster tim sepakbola amatiran yang gw ketahui bernama Molen berjatuhan ke lantai.
"Anj****nk Luu!!!"
"Mony***t Lu!!
"Lu apain dia Anj****nk!!!" Umpat Dedi berkali kali sambil terus menghakumi itu monyet.
Entah sudah berapa puluh pukulan yang mendarat ke seluruh badan monyet betina itu. Yang gw heran kenapa kawanan monyet yang lain malah diam saja tidak membantu temannya yang lagi dihakimi? Untuk mencegah Dedi bertindak pun tidak, apalagi menolong temannya. Bahkan mereka terlihat ketakutan.
Entahlah...Mungkin nyalinya tak sebesar upil gorilla.
Tapi satu hal yang paling gw heran saat itu...
Satu hal yang justru membuat gw berdiri dalam diam penuh tanda tanya.
Ada apa dengan Dedi...?
Kenapa dia sampai sebegitu emosinya? Kenapa jadi dia yang ngamuk? Harusnya kan gw?
Kenapa dia merasa sangat tidak terima kalau ada orang yang menyakiti Bunga? Kenapa si Dedi ini? Apa jangan jangan Dedi itu......
……………………………………………………
……………………………………………………
"Saat ini gw nggak bisa nebak isi fikiran lu Ded, tapi sekarang gw bisa nebak isi hati lu...Gw tau itu."
Bel telah berbunyi pertanda waktu istirahat sudah tiba. Para cucunguk langsung berhamburan keluar kelas menuju pangkalannya masing masing. Sedangkan gw masih diam di tempat duduk sambil menunggu kelas benar benar kosong sebab saat itu gw memang mau berdiam diri di kelas sambil menyantap makanan yang dibawakan oleh Bunga. Sebenernya agak tengsin apabila ada kawanan cucunguk melihat gw membawa bekel, bisa bisa gw malah jadi bahan cengan. Masa iya anak ES-TE-EM bawa bekel? Udah gitu kotak makannya gambar Garfield. Abis lah gw...
"Kantin ga Jar?" Tanya teman gw. Arba namanya.
"Duluan dah. Gw di kelas aja" Jawab gw.
Tanpa bicara lagi dia langsung pergi begitu saja keluar kelas. Gw tak menghiraukannya alias masa bodoh. Lalu tangan gw merogoh tas ransel yang tersimpan di kolong meja, dan mengambil sekotak makanan pemberian dari Bunga. Gw sudah penasaran kira kira makanan apa yang diberikan Bunga tadi pagi. Gw pun segera membuka kotak itu. Bibir gw tersenyum melebar setelah melihat satu porsi Nasi Goreng dihiasi dengan nugget 'So Go*d' berbentuk Alfabet yang tersusun rapi, lengkap dengan sausnya. Sontak gw keluarkan jimbot dari dalam saku celana, lalu gw ketik sebuah sms yang ditujukan untuk Bunga.
"Hey Jembung, makasih ya bekel Nasi Gorengnya" Sent To Bunga.
Cukup lama gw menunggu balasan darinya karena mungkin dia masih ada jam pelajaran dan belum sempat membalasnya. Lantas gw langsung memulai acara makan pagi itu. Ketika sedang asyik makan, tiba tiba ada sebuah potongan kapur tulis mendarat tepat di kepala gw. "Haram Jadah!!" Umpat gw.
Gw tengok ke arah pintu kelas, dan gw melihat seekor anak simpanze cengar cengir memasang tampang tak berdosa. Tak lama kemudian, dia berjalan menghampiri gw.
"Woi Jar...Tumben bawa makanan." Sapa dia lalu mengambil satu nugget huruf 'A'.
"Anjirr nggak sekolah ape mulut lu dateng dateng maen cagas aja..."
"Bagi lah satu. Merki amat sama gw."Ujarnya.
"Haha. Tumben lu mau negor gw." Sindir gw.
"Jiaah...Lu kali yang ga mau negor gw." Jawab Dedi.
"Bolak balikin pakta lu nyet!! Udah puas mukul gw maen kabur aje lu!! Kampret" Gerutu gw
"Haha...Gimana sekarang udah kelar urusan lu?" Tanya dia.
"Udah Ded..." Jawab gw singkat.
"Jar, sori masalah kemaren ya. Gw dah terlalu jauh nyemplung ke masalah lu. Sampe lu kena jotos gara gara gw emosi. Gw bukanya sok jagoan ato jadi pahlawan kesiangan. Tapi gw nggak mau aja temen gw bego gara2 cewe. Terus gw juga kasian sama Bunga...Udah jauh jauh nyamperin lu malah diusir..." Ujarnya panjang lebar.
"Oh..." Gumam gw.
"Sori juga Jar, gw diemin lu kemaren Bukan maksud buat musuhin lu."
"Ya, gw ngerti Ded."
Kemudian tak ada lagi percakapan diantara kami berdua. Gw sibuk makan, sementara Dedi sibuk memainkan HP nukiyeu miliknya. Namun ada satu pertanyaan yang belum gw tanyakan pada Dedi. Perihal sesuatu yang sampai saat itu masih mengganjal di hati gw.
"Oya, masalah omongan lu waktu itu apa bener Ded?"
"Omongan yang mana?" Dia balik bertanya.
"Yah...pura pura bego lagi.."
"Lah gw ga ngerti Jar. Emangnya gw ngomong apaan?" Tanya dia lagi.
"Lu suka Bunga?" Gw balik bertanya.
Gw lihat raut wajah Dedi langsung berubah. Kini tampangnya terlihat lebih serius menanggapi satu pertanyaan yang terlontar dari mulut gw.
"Ya nggak lah Jar. Kan dia udah sama lu." Ujarnya.
"Tapi Ded, maksud lu apa ngomong begitu?" Tanya gw lagi.
"Yah...Ga ada maksud apa apa. Namanya juga lagi emosi." Jawab dia.
"Ded....kadang yang namanya orang emosi, omongan apa aja bisa reflek keluar dari mulut. Termasuk rahasia yang ada di dalem hati lu sendiri..."
".........." Dedi diam saja.
Segera gw buru buru merapihkan kotak nasi bekas makan, dan gw masukkan ke dalam tas. Lalu gw bangkit dari tempat duduk gw meninggalkan Dedi yang lagi bengong.
"Mau kemana lu Jar??" Teriak dia tiba tiba.
"Ke belakang. Mau ngerokok gw..."
"Tunggu Jar bareng." Teriak Dedi.
Setengah berlari dia menyusul gw dan kami pun berjalan beriringan menuju kantin belakang. Seperti biasa, gw langsung menuju pojokan kantin tempat gw biasa nongkrong sambil merokok. Banyak yang kami bicarakan saat itu, tetapi gw tidak lagi membahas masalah ucapan Dedi kalau dia menyukai Bunga. Gw menganggap itu bukan sebuah masalah yang serius, sebab gw tau Dedi bukan tipe orang yang suka maen tusuk dari belakang. (Waduh!!)
Tak terasa, hari sudah siang, matahari sudah agak melenceng dari atas kepala. Kurang lebih 6 jam sudah gw menghabiskan waktu di sekolah dan kini waktunya untuk pulang. Gw tidak langsung pulang ke rumah lantas nongkrong di studio photo depan sekolah Bunga sekalian menunggunya pulang. Sebenarnya bisa saja gw pulang ke rumah dulu, lalu kembali kesini lagi saat jam pulang sekolahnya. Tapi karena berat di bensin, gw memilih stand bye disini saja. Maklum, uang jajan gw waktu itu cuma dua lembar Imam Bonjol.
"Rokok nih Jar...." Tawar seorang pemuda.
Dia adalah Ocol, karyawan yang bekerja di studio photo itu. Gw sudah cukup lama kenal dengan dia sebab tempat tinggalnya masih dekat dengan rumah gw. Sebenarnya 'Ocol' itu bukan nama asli dia, bahkan gw sama sekali tidak tahu nama asli dia itu siapa.
Entahlah...nggak terlalu penting.
"Tengkyu Col, masih ada nih gw." Tolak gw halus.
"Kalo mau mesen kopi, pesen aja Jar di warteg sebelah." Tawar dia lagi.
"Nah kalo itu boleh dah..." Ujar gw.
"Yaudah pesen dua. Nih duitny." Ujarnya seraya memberi uang 5 ribuan.
Segelas kopi dan beberapa batang rokok menemani penantian gw siang itu. Hingga tak terasa waktu menunjukkan pukul 3 sore dan hampir 2 jam gw menunggu Bunga. Akhirnya gadis yang gw tunggu tunggu muncul juga dibalik pintu gerbang sekolahnya. Dia melambaikan tangan lalu menyebrang jalan menghampiri gw yang masih berada di dalam studio foto.
"Udah lama yank?" Tanya dia.
"Baru kok...belum lama. Hehe" Jawab gw.
Gw sedikit berbohong terhadapnya. Padahal gw sudah berada disini dua jam yang lalu. Sampai sampai kopi yang gw minum hanya tinggal ampas kering saja.
"Aku beliin ini buat kamu..." Ujarnya sembari merogoh isi tasnya lalu mengeluarkan sekotak kue risol kesukaan gw.
"Hee...makasih Jembung!! Aku dibeliin makanan terus nih. Hehe..." Ucaap gw.
"Iya...biar kamu gemuk. Hahaha" Dia tertawa kecil.
"Waduh, emang aku kurus ya?" Tanya gw.
"Iyaa..." Jawabnya.
"Masa sih? Tapi nggak kurus kurus amat kali yank..." Ujar gw."
"Nggak kurus apa...itu pipinya kempot begitu." Ledek dia.
"Eeee...Sembarangan!! Tapi tetep ganteng kan akunya?" Ujar gw sambil nyengir.
"Hahaha...Iya deh iyaa ganteng" Dia tertawa.
Kemudian Bunga beranjak dari tempat duduknya menuju meja si Ocol. Sepertinya dia mau mencetak beberapa foto lagi. Dia memang hobi mengoleksi beberapa foto dirinya bersama salah satu anggota keluarganya. Entah Ayahnya, Bundanya, Kakaknya, dan Adiknya. Tapi ada juga beberapa foto bersama gw yang sudah dicetaknya.
"Yank..." Panggil dia.
"Hemmm..." Sahut gw.
"Aku ke Om dulu ya mau ngeprint tugas aku. Takutnya lupa soalnya printer di rumah rusak. Besok mau dikumpulin." Ucapnya.
"Oh yaudah. Aku nunggu sini aja ya."
Tak dijawabnya kata kata gw lantas dia langsung berjalan menuju rental komputer. Tidak jauh memang, hanya beberapa meter saja dari sini.
Kali ini gw kembali menunggunya sambil memakan beberapa kue risol yang dia berikan tadi. Sekitar 10 menitan gw menunggu, Bunga pun sudah kembali kesini lagi. Tapi gw kaget sekaget kagetnya karena dia kembali dalam keadaan menangis. Dia langsung duduk disebelah gw sambil terisak. Gw yang tak tau menau sebab dia menangis hanya bisa bertanya 'kenapa?' kepadanya.
"Kamu kenapa?" Tanya gw.
"Aku takut..." Jawabnya.
"Takut kenapa? Takut sama siapa??" Tanya gw lagi.
"Aku kan mau numpang pipis ke toilet, terus ada anak STM lagi pada maen PS. Pas aku di toilet, aku dikunciin dari luar...terus lampunya dimatiin." Ujarnya sambil sesenggukan...
"Haaah???"
"Aku takuut...gelap banget!! Aku takut gelap!! Pas aku keluar anak STM itu malah ngeledek aku, ngatain aku juga. Aku takut!!..Hikss..."
"Bangs****t nih anak Kam**k beraninya ama cewe...!!!" Umpat gw dalam hati.
"Terus Orangnya yang mana?? Ciri cirinya??" Tanya gw lagi.
"Orangnya tinggi terus item." Jawabnya.
"Ada berapa orang disitu?" Tanya gw lagi.
"Banyak yaank...aku takut!!"
"Udah Jar hantem ajee...gw bantuin!!" Ujar si Ocol tiba tiba. Dia malah ngomporin gw.
"Kamu tunggu sini ya...Aku liat kesana dulu. Col....gw titip Bunga dulu!!" Lanjut gw pada Ocol.
Gw keluar dari studio foto dibarengi dengan emosi yang benar benar di ujung kepala. "Bajingan!!!" Umpat gw dalam hati. Gw nggak habis fikir, kenapa beraninya dia orang gangguin Bunga sampai sampai dia nangis. Gw sebagai laki laki yang pernah membuat dia menangis sangat merasa bersalah dan berdosa. Tapi dia orang malah ketawa ketawi setelah berbuat seenaknya terhadap Bunga.
Gw segera keluar dari studio foto, dan menuju rental komputer dimana anak anak Monyet itu sedang asyik bermain PS.
Namun gw langsung sadar...
Disini daerahnya mereka, daerah sekolah mereka. Kalau gw maen hantem aja yang ada gw malah dihantem balik sama monyet satu sekolahan. You know Lah, anak STM model dia orang beraninya cuma maen keroyokan. Lantas gw berfikir sejenak...Bagaimana caranya ngasih pelajaran nih manusia setengah monyet.
Lalu gw keluarkan Jimbot, dan gw menelfon Dedi.
"Tuuuuuut...."
"Ngapa Jar?" Ucap Dedi dari seberang sana.
"Ded, dimana Lu? kesini lu cepetan sekarang!! depan sekolahnya Bunga!!" Ujar gw.
"Weeh...ada apaan nih??" Tanya dia.
"Udah cepetan lu kesini...Ada yang ngajakin perang!!"
"Ohh...Oke!!"
"Nggak pake lama!!" Ucap gw.
Tak sampai 5 menit Dedi pun sampai dengan motor Kirananya. Lalu dia setengah berlari menghampiri gw yang masih diam di depan rental itu.
"Siapa Jar yang ngajak perang?" Tanya Dedi.
"Tuh...anak Kam**k bajingan!! Gangguin Bunga sampe nangis dia." Jawab gw.
"Waduuh...!! mana orangnya Jar?"
"Di dalem sini...Orangnya tinggi-item. ayo masuk lu sama gw."
Lalu gw dan Dedi segera masuk ke dalam. Sempat juga gw dihalau oleh penjaga rental untuk mencegah gw masuk membuat keributan. Tapi dia akhirnya diam saja tak berkata apapun setelah gw menggertaknya.
Ternyata benar kalau disini banyak para monyet yang laagi main PS. Gw memperhatikan satu satu dari mereka. Mata gw mulai mencari satu monyet dengan ciri ciri tinggi-item, dan gw menemukannya. Dia tengah asyik merokok di sudut ruangan. Gw melepas jaket gw dan terlihatlah seragam gw yang khas berwarna biru muda.
Lalu tanpa Ba-Bi-Bu lagi gw langsung samperin tuh monyet dan bogem mentah gw berikan.
"Bangs***t Lu!!" Umpat gw.
Rokok yang terselip di bibirnya terpental. Namun gw kurang beruntung sebab bogem gw berikan tidak tepat mengenai rahangnya karena dia sempat menghindar, Tiba tiba.....
"Duag!!! Bak Bik Buk!!"
Dengan sigap Dedi langsung meluncurkan tendangan karatenya dan pukulan membabi buta. Hal itu membuat si monyet tersungkur sampai sampai poster tim sepakbola amatiran yang gw ketahui bernama Molen berjatuhan ke lantai.
"Anj****nk Luu!!!"
"Mony***t Lu!!
"Lu apain dia Anj****nk!!!" Umpat Dedi berkali kali sambil terus menghakumi itu monyet.
Entah sudah berapa puluh pukulan yang mendarat ke seluruh badan monyet betina itu. Yang gw heran kenapa kawanan monyet yang lain malah diam saja tidak membantu temannya yang lagi dihakimi? Untuk mencegah Dedi bertindak pun tidak, apalagi menolong temannya. Bahkan mereka terlihat ketakutan.
Entahlah...Mungkin nyalinya tak sebesar upil gorilla.
Tapi satu hal yang paling gw heran saat itu...
Satu hal yang justru membuat gw berdiri dalam diam penuh tanda tanya.
Ada apa dengan Dedi...?
Kenapa dia sampai sebegitu emosinya? Kenapa jadi dia yang ngamuk? Harusnya kan gw?
Kenapa dia merasa sangat tidak terima kalau ada orang yang menyakiti Bunga? Kenapa si Dedi ini? Apa jangan jangan Dedi itu......
……………………………………………………
……………………………………………………
"Saat ini gw nggak bisa nebak isi fikiran lu Ded, tapi sekarang gw bisa nebak isi hati lu...Gw tau itu."
Diubah oleh javiee 26-03-2014 01:35
Darpox dan efti108 memberi reputasi
2