- Beranda
- Stories from the Heart
Accidentally In Love [True Story]
...
TS
robotpintar
Accidentally In Love [True Story]
![Accidentally In Love [True Story]](https://s.kaskus.id/images/2014/02/14/6448808_20140214023854.png)
Spoiler for Cover:
![Accidentally In Love [True Story]](https://s.kaskus.id/images/2014/02/14/6448808_20140214024411.png)
So she said what's the problem baby
What's the problem I don't know
Well maybe I'm in love (love)
Think about it every time
I think about it
Can't stop thinking 'bout it
How much longer will it take to cure this
Just to cure it cause I can't ignore it if it's love (love)
Makes me wanna turn around and face me but I don't know nothing 'bout love
Come on, come on
Turn a little faster
Come on, come on
The world will follow after
Come on, come on
Cause everybody's after love
So I said I'm a snowball running
Running down into the spring that's coming all this love
Melting under blue skies
Belting out sunlight
Shimmering love
Well baby I surrender
To the strawberry ice cream
Never ever end of all this love
Well I didn't mean to do it
But there's no escaping your love
These lines of lightning
Mean we're never alone,
Never alone, no, no
We're accidentally in love
Accidentally in love [x7]
Accidentally I'm In Love
Spoiler for Bagian 1:
#1
Quote:
“Gila lu Bon, roti segitu banyak sayang-sayang bakal empan ikan semua!”
“Emang ngapa? Ikan jaman sekarang mah ogah makan cacing, Meng”
Gua jawab aja sekena-nya, memang niatnya gua bawa roti dari rumah buat bekal pas mancing tapi, gara-gara umpan cacing gua dari tadi nggak disentuh ikan terpaksa gua ganti dengan roti. Siapa tau mujarab.
Nggak seberapa berselang, tali pancing gua bergetar, refleks gua tarik joran sekuatnya dan mendarat dengan mulus seekor ikan yang kurang lebih seukuran telapak tangan.
“Anjritt.. dari tadi dapet sapu-sapu mulu gua!”
Sambil melepas mata kail dari mulut ikan sapu-sapu yang barusan gua angkat dan langsung gua lempar lagi kedalam kali.
Tidak berapa lama, melantun lagu “Time Like This”-nya Foo Fighter dari ponsel gua. Tertera tulisan “Rumah” dilayarnya.
“Kenapa mak?”
Karena memang cuma nyokap gua aja yang selalu telpon melalui telepon rumah. Bokap dan adik gua selalu menggunakan ponsel-nya masing-masing jika ada keperluan.
“Assalamualaikum , Mancing kagak rapi-rapi luh, nih ada kiriman surat buat elu”
“Dari siapa?”
“Kagak tau, bahasanya emak nggak ngerti”
“Simpenin dulu, nih aye udah mau pulang”
“Yaudah buruan, jangan maghriban dijalan, pamali. Assalamualaikum”
“Waalaikumsalam”
Gua kantongin lagi ponsel k-ekantong celana pendek yang sekarang udah kotor campur lumpur, sambil berteriak ke temen gua; Komeng, yang lagi berkutat dengan tali pancingnya yang kusut.
“Meng, ayo balik.. udah sore”
“Belon juga dapet sekilo, udah mau balik aje”
“Yauda elu terusin dah, gua balik duluan”
Komeng menjawab dengan sedikit gumam di bibirnya terdengar seperti “Yaelah..” sambil berjalan gontai menyusul gua.
------
Itu kejadian beberapa tahun yang lalu, dimana gua dan Komeng masih biasa mencari cacing buat umpan ikan di kebun singkong belakang rumahnya Haji Salim dan kemudian pergi memancing disepanjang pinggiran sungai Pesanggrahan, Jakarta.
Sekarang, gua sedang duduk sambil bersandar di sebuah kursi lipat di pinggir danau di daerah Leeds, Inggris. Menghabiskan hari libur akhir musim gugur dengan memancing sambil bernostalgia, mencoba membangkitkan memori tentang memancing, tentang si Komeng, tentang Jakarta, tentang rumah.
Setelah berjam-jam memancing, menghabiskan berkaleng-kaleng ‘Diet Coke’ akhirnya gua memutuskan untuk menyudahi kegiatan sialan ini. Pulang dengan membawa 6 Ekor ikan Yelowtail (di Indonesia disebut ikan patin) dan sedikit kenangan tentang ‘rumah’, gua berjalan gontai menuju tempat dimana sepeda kesayangan gua diparkir, sempat kebingungan awalnya karena sekarang ada banyak sepeda yang diparkir, padahal tadi pagi baru sepeda gua aja yang nongkrong disini, setelah celingak-celinguk akhirnya ketemu juga dan gua mulai mengayuh.
Jarak dari tempat gua biasa mancing ke tempat dimana gua tinggal di Moorland Ave, Leeds kurang lebih 3,5 mil atau kalau dalam satuan Kilometer sekitar 5,5 Km. Jarak segitu kalo disini, di Inggris bisa dibilang ‘deket’, kalau naik sepeda bisa cuma 30 menit.
Oiya, nama gua Boni. Gua lahir dan dibesarkan di Jakarta. Saat ini gua kerja dan tinggal di Leeds, Inggris sekitar 2-3 jam dari London (dengan kereta). Gua kerja sebagai Sound Designer disalah satu Agensi perfilman dan periklanan di Leeds yang juga punya kantor di London. Sudah hampir 4 tahun gua kerja dan tinggal disini, ditempat dimana nggak ada sungai dengan air berwarna cokelat keruh yang banyak ikan sapu-sapunya dan nggak ada teman yang suka menggerutu “Yaelah”.
Sambil mendengarkan “Heaven” nya Lost Lonely Boys lewat headset, gua mengayuh sepeda menuju ke rumah, pulang. Melewati jalan berpasir yang dipenuhi pohon-pohon maple di kedua sisinya menuju jalan utama. Jalan yang sangat sepi dan hening, jam menunjukkan angka 4 sore, menandakan waktu shalat maghrib, di sabtu sore seperti sekarang ini memang didaerah sini sangat sepi, kebanyakan penduduk sekitar sedang ke stadion atau pub-pub untuk menyaksikan Leeds United bertanding. Ingin buru-buru sampai di rumah, karena perut udah mulai keroncongan, gua kayuh sepeda lebih cepat. Sampai kemudian terdengar sayup-sayup suara musik yang makin lama makin nyaring, suara musik RnB yang sepertinya diputar dari dalam mobil dengan volume maksimal. Suara tersebut datang dari arah belakang dan kemudian menyusul gua, sebuah BMW silver yang melaju cepat bahkan boleh dibilang sangat cepat, sambil meninggalkan debu persis seperti mobil yang sedang Rally Dakkar.
“Orang Gila!!” gua mengumpat, masih sambil dengerin coda lagu “Heaven” nya Lost Lonely Boys. Sampai gua melihat beberapa detik kemudian lampu rem BMW tersebut menyala dan kemudian berhenti.
Deg!, “Wuanjrit, sakti juga tuh orang bisa denger suara gua” sambil berhenti dan melepas headset dari telinga. Yang ternyata setelah gua sadar, suara gua nggak sepelan pas pakai headset tadi. Gua nunggu sambil dag dig dug, kalau dia ngerti ucapan gua, dia pasti orang Indonesia dan kalo ternyata bukan gua bakal siap-siap kabur.
Pintu penumpang pun terbuka, terbuka secara paksa tepatnya, sedetik kemudian keluar seseorang dari kursi penumpang, terhuyung dan kemudian terjatuh, terdengar makian dari dalam BMW tersebut mungkin seperti “bitch” atau semacamnya dan sesaat kemudian BMW tersebut pergi, mengasapi orang yang tersungkur itu dengan debu jalanan.
Nggak mau terlalu ambil pusing, sambil bernafas lega dan bilang dalam hati; “untung bukan gua”, gua meneruskan mengayuh sepeda.
“Get up Bro, life is brutal”
gua berkata ke orang itu sambil melewatinya tetap melanjutkan mengayuh. Dan beberapa meter kemudian gua mendengar sebuah teriakan, teriakan yang (pada akhirnya) bakal merubah hidup gua.
“Woii.. Help me!, you’re Indonesian, right?”
“Tolongin gue dong…”
Gua berhenti mengayuh, turun dan bengong. Sudah hampir setahun gua nggak denger secara langsung orang bicara ke gua dengan bahasa Indonesia dan suara perempuan pula.. Lima, ah mungkin sepuluh detik kemudian baru gua memalingkan muka tapi masih tetap bengong.
“Woii..”
Akhirnya gua turun dari sepeda, kemudian menghampiri orang itu. Terduduk di depan gua sosok perempuan, hitam manis dengan kepala tertutup hood jaket hitam, celana jeans dan sepatu model boots sebetis berwarna cokelat.
“Elu nggak apa-apa?”
“Menurut Lo? Kalo gue gak apa-apa, ngapain gua teriak minta tolong elu!!”
Gua nggak menjawab, berusaha membantu dia berdiri sambil bertanya lagi bagaimana keadaannya. Sekali lagi dia mengumpat;
“Gila!, nggak punya hati banget sih lu!, ya jelas lah gue kenapa-kenapa.. nih liat!”
Sambil memperlihatkan telapak tangan dan siku-nya yang luka dan kemudian menyibak celana jeans-nya yang kotor terkena debu dan sobek di beberapa bagian akibat terlempar dari mobil tadi. Sesaat baru dia sadar kalau lutut kanannya juga luka sambil meringis kesakitan dia mencoba membersihkan luka tersebut dengan air liurnya. Sangat Indonesia sekali.
“Gua pikir tadi orang mabok yang lagi berantem, disini mah biasa begitu,mbak!”
Kemudia gua kasih satu-satunya ‘Diet Coke’ sisa memancing tadi, harusnya sih air putih tapi Cuma itu yang gua punya sekarang. Sambil menggerutu karena dikasih ‘Diet Coke’ daripada air putih, diminum juga tuh minuman soda. Kemudian gua menawarkan diri buat mengantar dia ke sebuah toko kecil di ujung jalan ini, untuk membeli plester untuk membalut luka-nya.
“Jauh nggak?”
Dia bertanya sambil menurunkan hood jaketnya dan menyibak rambutnya yang pendek seleher. Kemudian terlihat jelas sebuah luka lebam di sudut mata sebelah kiri-nya, tidak, bukan cuma satu, setidaknya ada 3 luka lebam, selain disudut matanya, satu lagi di dahi sebelah kiri dan satu lagi di sudut bibir sebelah kanan, yang terakhir tampak seperti luka yang baru karena masih meninggalkan sisa bekas darah yang membeku.
Gua nggak berani bertanya, gua hindari menatap kewajahnya sambil menjawab pertanyaa-nya bahwa tokonya nggak begitu jauh dari sini, sambil menunjuk ke arah jalan utama.
---
“Emang ngapa? Ikan jaman sekarang mah ogah makan cacing, Meng”
Gua jawab aja sekena-nya, memang niatnya gua bawa roti dari rumah buat bekal pas mancing tapi, gara-gara umpan cacing gua dari tadi nggak disentuh ikan terpaksa gua ganti dengan roti. Siapa tau mujarab.
Nggak seberapa berselang, tali pancing gua bergetar, refleks gua tarik joran sekuatnya dan mendarat dengan mulus seekor ikan yang kurang lebih seukuran telapak tangan.
“Anjritt.. dari tadi dapet sapu-sapu mulu gua!”
Sambil melepas mata kail dari mulut ikan sapu-sapu yang barusan gua angkat dan langsung gua lempar lagi kedalam kali.
Tidak berapa lama, melantun lagu “Time Like This”-nya Foo Fighter dari ponsel gua. Tertera tulisan “Rumah” dilayarnya.
“Kenapa mak?”
Karena memang cuma nyokap gua aja yang selalu telpon melalui telepon rumah. Bokap dan adik gua selalu menggunakan ponsel-nya masing-masing jika ada keperluan.
“Assalamualaikum , Mancing kagak rapi-rapi luh, nih ada kiriman surat buat elu”
“Dari siapa?”
“Kagak tau, bahasanya emak nggak ngerti”
“Simpenin dulu, nih aye udah mau pulang”
“Yaudah buruan, jangan maghriban dijalan, pamali. Assalamualaikum”
“Waalaikumsalam”
Gua kantongin lagi ponsel k-ekantong celana pendek yang sekarang udah kotor campur lumpur, sambil berteriak ke temen gua; Komeng, yang lagi berkutat dengan tali pancingnya yang kusut.
“Meng, ayo balik.. udah sore”
“Belon juga dapet sekilo, udah mau balik aje”
“Yauda elu terusin dah, gua balik duluan”
Komeng menjawab dengan sedikit gumam di bibirnya terdengar seperti “Yaelah..” sambil berjalan gontai menyusul gua.
------
Itu kejadian beberapa tahun yang lalu, dimana gua dan Komeng masih biasa mencari cacing buat umpan ikan di kebun singkong belakang rumahnya Haji Salim dan kemudian pergi memancing disepanjang pinggiran sungai Pesanggrahan, Jakarta.
Sekarang, gua sedang duduk sambil bersandar di sebuah kursi lipat di pinggir danau di daerah Leeds, Inggris. Menghabiskan hari libur akhir musim gugur dengan memancing sambil bernostalgia, mencoba membangkitkan memori tentang memancing, tentang si Komeng, tentang Jakarta, tentang rumah.
Setelah berjam-jam memancing, menghabiskan berkaleng-kaleng ‘Diet Coke’ akhirnya gua memutuskan untuk menyudahi kegiatan sialan ini. Pulang dengan membawa 6 Ekor ikan Yelowtail (di Indonesia disebut ikan patin) dan sedikit kenangan tentang ‘rumah’, gua berjalan gontai menuju tempat dimana sepeda kesayangan gua diparkir, sempat kebingungan awalnya karena sekarang ada banyak sepeda yang diparkir, padahal tadi pagi baru sepeda gua aja yang nongkrong disini, setelah celingak-celinguk akhirnya ketemu juga dan gua mulai mengayuh.
Jarak dari tempat gua biasa mancing ke tempat dimana gua tinggal di Moorland Ave, Leeds kurang lebih 3,5 mil atau kalau dalam satuan Kilometer sekitar 5,5 Km. Jarak segitu kalo disini, di Inggris bisa dibilang ‘deket’, kalau naik sepeda bisa cuma 30 menit.
Oiya, nama gua Boni. Gua lahir dan dibesarkan di Jakarta. Saat ini gua kerja dan tinggal di Leeds, Inggris sekitar 2-3 jam dari London (dengan kereta). Gua kerja sebagai Sound Designer disalah satu Agensi perfilman dan periklanan di Leeds yang juga punya kantor di London. Sudah hampir 4 tahun gua kerja dan tinggal disini, ditempat dimana nggak ada sungai dengan air berwarna cokelat keruh yang banyak ikan sapu-sapunya dan nggak ada teman yang suka menggerutu “Yaelah”.
Sambil mendengarkan “Heaven” nya Lost Lonely Boys lewat headset, gua mengayuh sepeda menuju ke rumah, pulang. Melewati jalan berpasir yang dipenuhi pohon-pohon maple di kedua sisinya menuju jalan utama. Jalan yang sangat sepi dan hening, jam menunjukkan angka 4 sore, menandakan waktu shalat maghrib, di sabtu sore seperti sekarang ini memang didaerah sini sangat sepi, kebanyakan penduduk sekitar sedang ke stadion atau pub-pub untuk menyaksikan Leeds United bertanding. Ingin buru-buru sampai di rumah, karena perut udah mulai keroncongan, gua kayuh sepeda lebih cepat. Sampai kemudian terdengar sayup-sayup suara musik yang makin lama makin nyaring, suara musik RnB yang sepertinya diputar dari dalam mobil dengan volume maksimal. Suara tersebut datang dari arah belakang dan kemudian menyusul gua, sebuah BMW silver yang melaju cepat bahkan boleh dibilang sangat cepat, sambil meninggalkan debu persis seperti mobil yang sedang Rally Dakkar.
“Orang Gila!!” gua mengumpat, masih sambil dengerin coda lagu “Heaven” nya Lost Lonely Boys. Sampai gua melihat beberapa detik kemudian lampu rem BMW tersebut menyala dan kemudian berhenti.
Deg!, “Wuanjrit, sakti juga tuh orang bisa denger suara gua” sambil berhenti dan melepas headset dari telinga. Yang ternyata setelah gua sadar, suara gua nggak sepelan pas pakai headset tadi. Gua nunggu sambil dag dig dug, kalau dia ngerti ucapan gua, dia pasti orang Indonesia dan kalo ternyata bukan gua bakal siap-siap kabur.
Pintu penumpang pun terbuka, terbuka secara paksa tepatnya, sedetik kemudian keluar seseorang dari kursi penumpang, terhuyung dan kemudian terjatuh, terdengar makian dari dalam BMW tersebut mungkin seperti “bitch” atau semacamnya dan sesaat kemudian BMW tersebut pergi, mengasapi orang yang tersungkur itu dengan debu jalanan.
Nggak mau terlalu ambil pusing, sambil bernafas lega dan bilang dalam hati; “untung bukan gua”, gua meneruskan mengayuh sepeda.
“Get up Bro, life is brutal”
gua berkata ke orang itu sambil melewatinya tetap melanjutkan mengayuh. Dan beberapa meter kemudian gua mendengar sebuah teriakan, teriakan yang (pada akhirnya) bakal merubah hidup gua.
“Woii.. Help me!, you’re Indonesian, right?”
“Tolongin gue dong…”
Gua berhenti mengayuh, turun dan bengong. Sudah hampir setahun gua nggak denger secara langsung orang bicara ke gua dengan bahasa Indonesia dan suara perempuan pula.. Lima, ah mungkin sepuluh detik kemudian baru gua memalingkan muka tapi masih tetap bengong.
“Woii..”
Akhirnya gua turun dari sepeda, kemudian menghampiri orang itu. Terduduk di depan gua sosok perempuan, hitam manis dengan kepala tertutup hood jaket hitam, celana jeans dan sepatu model boots sebetis berwarna cokelat.
“Elu nggak apa-apa?”
“Menurut Lo? Kalo gue gak apa-apa, ngapain gua teriak minta tolong elu!!”
Gua nggak menjawab, berusaha membantu dia berdiri sambil bertanya lagi bagaimana keadaannya. Sekali lagi dia mengumpat;
“Gila!, nggak punya hati banget sih lu!, ya jelas lah gue kenapa-kenapa.. nih liat!”
Sambil memperlihatkan telapak tangan dan siku-nya yang luka dan kemudian menyibak celana jeans-nya yang kotor terkena debu dan sobek di beberapa bagian akibat terlempar dari mobil tadi. Sesaat baru dia sadar kalau lutut kanannya juga luka sambil meringis kesakitan dia mencoba membersihkan luka tersebut dengan air liurnya. Sangat Indonesia sekali.
“Gua pikir tadi orang mabok yang lagi berantem, disini mah biasa begitu,mbak!”
Kemudia gua kasih satu-satunya ‘Diet Coke’ sisa memancing tadi, harusnya sih air putih tapi Cuma itu yang gua punya sekarang. Sambil menggerutu karena dikasih ‘Diet Coke’ daripada air putih, diminum juga tuh minuman soda. Kemudian gua menawarkan diri buat mengantar dia ke sebuah toko kecil di ujung jalan ini, untuk membeli plester untuk membalut luka-nya.
“Jauh nggak?”
Dia bertanya sambil menurunkan hood jaketnya dan menyibak rambutnya yang pendek seleher. Kemudian terlihat jelas sebuah luka lebam di sudut mata sebelah kiri-nya, tidak, bukan cuma satu, setidaknya ada 3 luka lebam, selain disudut matanya, satu lagi di dahi sebelah kiri dan satu lagi di sudut bibir sebelah kanan, yang terakhir tampak seperti luka yang baru karena masih meninggalkan sisa bekas darah yang membeku.
Gua nggak berani bertanya, gua hindari menatap kewajahnya sambil menjawab pertanyaa-nya bahwa tokonya nggak begitu jauh dari sini, sambil menunjuk ke arah jalan utama.
---
DAFTAR ISI
Quote:
CHAPTER 1
#1 The Beginning
#2 Truly Gentlemen
#3 Place Called Home
#4 The Morning Fever
#5 A Miserable Story
#6 Night Rain
#7 Inside My Head
#8 That Day
#9 Be Tough
#10 Mukena
#1 The Beginning
#2 Truly Gentlemen
#3 Place Called Home
#4 The Morning Fever
#5 A Miserable Story
#6 Night Rain
#7 Inside My Head
#8 That Day
#9 Be Tough
#10 Mukena
Quote:
CHAPTER 2
#11-A Trip To Manchester
#11-B The Swiss Army
#12 Here's and Back Again
#13 I Miss You So Bad
#14 Going Mad
#15 Promise
#16 You’ll Be The Only Light I See
#17 The Winter Tears
#18 She's Gone
#19 That Memories
#11-A Trip To Manchester
#11-B The Swiss Army
#12 Here's and Back Again
#13 I Miss You So Bad
#14 Going Mad
#15 Promise
#16 You’ll Be The Only Light I See
#17 The Winter Tears
#18 She's Gone
#19 That Memories
Quote:
CHAPTER 3
[URL="http://www.kaskus.co.id/show_post/530ff7e41acb17030d8b48f1/479/- "]#19-A The Hood[/URL]
#19-B Heres And Back Again II
#19-C Weak
#19-D Surrender
#19-E The Choice
#19-F Anything For You
#19-G Chelsea Number 8
#19-H Its not always about gold and glory
#19-I Aku
#19-J The Words
#19-K The Persian Cat
#19-L You Really The Only Light I See
#19-M So Be It
#19-N Less Than Perfect
#20 That Day II
[URL="http://www.kaskus.co.id/show_post/530ff7e41acb17030d8b48f1/479/- "]#19-A The Hood[/URL]
#19-B Heres And Back Again II
#19-C Weak
#19-D Surrender
#19-E The Choice
#19-F Anything For You
#19-G Chelsea Number 8
#19-H Its not always about gold and glory
#19-I Aku
#19-J The Words
#19-K The Persian Cat
#19-L You Really The Only Light I See
#19-M So Be It
#19-N Less Than Perfect
#20 That Day II
Quote:
CHAPTER 4 The Prekuel
#21 The Prologue
#22 My Precious
#23 Ticket to Ride
#24 Singapore
#25 Dreams
#26 The Awkward Moment
#27 Logic
#28 Driver In Life
#29 The Risk Taker
#30 Sorry
#31 Rise Again
#32 Goodbye
#21 The Prologue
#22 My Precious
#23 Ticket to Ride
#24 Singapore
#25 Dreams
#26 The Awkward Moment
#27 Logic
#28 Driver In Life
#29 The Risk Taker
#30 Sorry
#31 Rise Again
#32 Goodbye
Quote:
CHAPTER 5!!
#33 London
#34 Unwell
#35 I Was Here
#36 Leeds
#37 New Home, New Life
#38 Alone
#39 Intermezo
#40 Goin' Trough
#41 At Glance
#42 The Past of The Future
#33 London
#34 Unwell
#35 I Was Here
#36 Leeds
#37 New Home, New Life
#38 Alone
#39 Intermezo
#40 Goin' Trough
#41 At Glance
#42 The Past of The Future
Quote:
CHAPTER 6
#43 My First ...
#44 If Lovin' You ...
#45 Goin' Back
#46 Leeds II
#47 I Love You (Jealousy)
#48 After All
#49 Hell Yeah
#50 Conflict
#51 Liar-Liar
#52 Memories
#43 My First ...
#44 If Lovin' You ...
#45 Goin' Back
#46 Leeds II
#47 I Love You (Jealousy)
#48 After All
#49 Hell Yeah
#50 Conflict
#51 Liar-Liar
#52 Memories
Quote:
Quote:
Diubah oleh robotpintar 10-04-2014 08:46
carangkasampah dan 121 lainnya memberi reputasi
120
1.3M
Kutip
2.3K
Balasan
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
robotpintar
#1441
Spoiler for Goin' Trough:
#40 Goin' Trough
Quote:
Setelah ‘sukses’ menyaksikan secara langsung pertandingan Liga Inggris di stadion, gua masih belum bisa mendapatkan gambaran yang tepat untuk bahan tulisan gua tentang sepak bola, dan akhirnya gua memtusukan untuk nggak menulis tentang sepak bola. Buat gua essay spontan yang gua kirim ‘rarely’ ke David sepertinya sudah cukup untuk mengisi waktu luang akibat kesepian dan lumayan buat menambah uang saku.
Menjelang tahun pertama gua tinggal di Leeds, intensitas menulis gua mulai berkurang seiring kuantitas dan kualitas bekerjaan yang terus bertambah. Kesendirian dan minimnya sosialisasi sedikit banyak membuat perubahan dalam kepribadian gua, terkadang sempat terbesit pikiran untuk pulang saja ke kampung halaman dan kemudian mencari kerja disana, tapi saat ini menyerah bukanlah sebuah pilihan yang tepat. Dari waktu ke waktu, gua menjalani hari-hari gua yang sangat ‘biasa’ dan ‘standart’ tanpa adanya shock element yang berarti. Bangun pagi-pagi, buang hajat, mandi (kadang-kadang), berangkat kerja, pulang kerja, nyuci (kalau ada cucian), nerusin kerja dirumah sambil nonton tivi, terus tidur, terkadang kalau weekend atau hari libur, gua pergi memancing atau sekedar begadang terus bangun siang kemudian ‘leyeh-leyeh’ sampai malam dan detail-detail tersebut selalu berulang-ulang dari hari ke hari, bulan ke bulan bahkan tahun ke tahun.
Kehidupan sosial gua memang nggak sepenuhnya terkekang, terkadang gua masih tetap mengunjungi Darcy sekedar mengucap salam sambil berharap ditawarin makan sama doi. Tapi, ngobrol dengan Darcy benar-benar bikin kepala pusing, terkadang dia terlalu cepat mengganti topic pembicaraan, terkadang dia terlalu terjebak di topik lama yang mana lawan bicaranya sudah ngobrol masalah “Z” dia masih menganggap obrolannya ada di “A”. Sedangkan komunikasi dengan Heru, (si manusia setengah beruk) juga nggak bisa dibilang intens, selain takut disangka homo kayaknya rada jengah juga kalau keseringan ngobrol sama dia, pembahasannya terkadang nggak ada mutunya, apalagi kalau udah ngomongin Manchester United, bisa ngomong berjam-jam tanpa berhenti. Pernah suatu ketika, sore di akhir pecan, heru menelpon gua;
“Bon.. lu liat gol nya Scholes nggak tadi? Beuh keren abis tuh tendangan, itu kalo sekalipun ditangkep sama kipernya, bisa mental tuh kipper…”
“Oooh..”
“Mana assist dari Giggs juga keren abis, kok bisa-bisanya doi ngasih umpan se-ciamik gitu…”
“Hmmm…”
“Udah gitu, pas mau bubaran tadi, ada penonton yang masuk kelapangan.. telanjang… haha mabok tuh orang…”
“Ooo..”
“Eh lu nonton United kan tadi?”
“Nggak”
“Njir….ngapa diem aja lu daritadi…”
“Ya gimana gua mau ngomong, nah elu nyerocos mulu kayak petasan..”
“Eh bon… lu tau nggak kalo Gallagher bersaudara itu fans-nya City (Manchester City)?”
“Tau lah, di tivi kan sering ditayangin…”
“Minggu depan ada konsernya Oasis di London, gua udah janjian sama temen-temen anak kampus mau nonton.. lu mau ngikut nggak?”
“Boleh tuh.. bosen nih gua.. mahal nggak sih?”
“Kagak, paling Cuma £25… serius lu mau ikut?”
“Iya mau…”
“Oke deh, ntar gua mau bawa bendera sama Jersey United pas konser, pengen gua kibar-kibarin…”
“Eh.. nggak deh, nggak jadi ngikut gua.. batal.. cancel aja…”
“Lha emang ngapa?”
“Gua mau mancing…”
Tut tut tut tut
Daripada gua harus menanggung malu ikut digelandang sama heru ke kantor polisi gara-gara membuat onar di sebuah konser music lebih baik gua mancing.
Kehidupan sosial gua dikantor malah boleh dibilang yang paling ‘sosial’, ya iyalah, gimana nggak, sebagian besar, bahkan hampir 60% hidup sehari-hari gua habiskan di tempat kerja. Glenn yang masih tetap keranjingan Rokok ‘234’ yang pernah dikirim komeng kesini, dan Carlos, Mr, Robinson, Diane, Reddy, Kay dan teman-teman yang lain yang ya walaupun gua nggak begitu ‘dekat’ mengenal mereka satu persatu tapi entah kenapa, seperti ada ‘chemistry’ yang hadir saat berkumpul bersama mereka. Tapi entah apa hanya gua yang merasakan ini atau memang tipe-tipe orang-orang disini yang sangat professional saat bekerja tapi malah jadi orang ‘asing’ saat diluar lingkungan kerja. Sebagai contoh; Glenn yang notabene adalah partner kerja gua dikantor, nggak pernah ada niatan di berkunjung atau bahkan bertanya, dimana tempat gua tinggal. Sebuah kebutaan keprofesionalan.
Sedangkan komunikasi gua dengan keluarga di Indonesia, boleh dibilang yang paling ‘normal’ diantara yang lainnya, Gua punya jadwal tetap untuk menelpon, yaitu setiap sabtu siang atau sore. Jadi keluarga dirumah kalau jam-jam segitu pasti pada kumpul nunggu telepon, dan gua punya semacam catatan kecil yang gua tulis di PDA tentang apa saja yang bakal gua tanyakan dan durasi bicara masing-masing anggota keluarga. Misalnya; Yang pertama kali angkat telepon pasti adek gua; Ika dan yang pertama gua tanyakan adalah perihal Pendaftaran Haji bokap-nyokap, dan biasanya obrolan ini menggunakan bahasa inggris, biar bokap-nyokap nggak ‘mudeng’ dan “Peng-Haji-an’ ini nggak kehilangan efek surprise-nya, jatah untuk obrolan ini adalah 3-5 menit. Kemudian Ika pasti mengalihkan telepon ke nyokap, untuk nyokap biasanya dia bakal nanya-nanya masalah kesehatan diri, solat dan mengaji, jangan lupa makan dan nggak ketinggalan perihal jodoh, jatah untuk obrolan ini adalah 5-10 menit. Yang terakhir bokap, untuk bokap biasanya gua jatah 1-2 menit, bahkan kadang-kadang nggak ada satu menit, bokap paling Cuma nanya “Sehat, ni?” terus dilanjutin “Solat jangan ditinggal”, dan.. udah.. iya udah gitu doang.
Untuk komeng, biasanya kita ngobrol via skype atau terkadang sambil bernostalgia bermain Game Strategi perang online bareng-bareng, walaupun untuk melakukan hal itu terkadang si Komeng yang selalu ‘berkorban’ dengan begadang semaleman.
Sampai gua memasuki tahun ke dua gua berada di Leeds, masih belum ada shock element yang berarti dalam kehidupan gua, semua berjalan datar-datar aja, nggak naik, nggak turun, nggak minus, nggak plus, walau terkadang terjadi hal-hal kecil diluar rencana seperti; gua yang kena tipes atau laptop yang hilang digondol orang distasiun, tapi hal-hal seperti itu sama sekali nggak mempengaruhi kehidupan gua, seakan mengerti akan pola hidup gua dan kembali menjadi datar-datar saja.
Menjelang lebaran tahun ketiga, gua memutuskan untuk mengambil jatah cuti tahunan dan pulang ke Indonesia, rencana kepulangan ini sebenarnya sudah gua atur dari jauh-jauh hari tapi karena ingin memberikan kejutan ke Bokap dan Nyokap maka gua merahasiakannya dari mereka berdua, yang tau Cuma adek gua, Ika.
Hari itu, Jum’at, hari ke 25 bulan Ramadhan. Setelah selesai menunaikan sholat Jum’at di Makka Masjid, Leeds, gua bergegas menuju ke Stasiun untuk naik kereta sore yang menuju ke London. Setelah menempuh perjalanan dua jam dengan kereta, gua langsung bergerak dengan bus untuk menuju ke Bandara Heathrow. Setelah menunggu selama dua jam dimana saat itu berpuasa dan bukanlah hal yang mengasyikan, akhirnya gua sudah berada di dalam pesawat yang bakal mengantar gua pulang.
Pesawat yang gua tumpangi mendarat di Bandara Soekarno Hatta, saat jam menunjukkan pukul dua tepat. Gua bergegas menuju ke salah satu gerai donat terkenal yang berada di terminal kedatangan, rasa lapar dan lelah ini haruslah segera diisi dengan energi sebelum nantinya berpuasa kembali. Setelah memesan setengah lusin donat dengan jenis yang berbeda-beda dan dua cangkir kopi hitam, sambil menenteng baki berisi donat dan kopi gua berjalan menuju ke sebuah meja kosong yang berada disudut paling jauh, mencari tempat yang nyaman untuk merokok.
Gua tengah menyeruput kopi panas saat pandangan gua mengarah ke sesosok wanita seumuran gua, dengan rambut panjang dikuncir kuda, mengenakan jaket kulit warna hitam dan tengah menyeret koper. Sejenak gua menurunkan cangkir kopi dan meletakkannya ke atas meja kemudian berdiri. Sosok itu mungkin melihat pergerakan gua yang tiba-tiba, mungkin juga dia sadar kalau ada yang sedang memandangi-nya dan dia melihat ke arah gua, kami saling menatap, hampa…
Hampir sekitar 3 sampai 5 menit gua dan perempuan itu saling menatap dari kejauhan, tanpa berkata apa-apa, mulut gua seperti tercekat. Sampai kemudian sesosok tangan wanita tua menggenggam tangan perempuan itu dan menariknya, sambil berjalan dalam tarikan wanita tua yang mungkin adalah nyokapnya, perempuan tersebut masih memandangi gua dalam diam, lalu sesaat kemudian hilang di telan bayangan pilar-pilar.
Gua masih berdiri, mencoba memaki diri sendiri, mencoba marah terhadap nalar dan logika yang memaksa untuk tetap diam, mencoba menyekat pita suara gua dan melarang untuk berteriak; “Restii…”
Menjelang tahun pertama gua tinggal di Leeds, intensitas menulis gua mulai berkurang seiring kuantitas dan kualitas bekerjaan yang terus bertambah. Kesendirian dan minimnya sosialisasi sedikit banyak membuat perubahan dalam kepribadian gua, terkadang sempat terbesit pikiran untuk pulang saja ke kampung halaman dan kemudian mencari kerja disana, tapi saat ini menyerah bukanlah sebuah pilihan yang tepat. Dari waktu ke waktu, gua menjalani hari-hari gua yang sangat ‘biasa’ dan ‘standart’ tanpa adanya shock element yang berarti. Bangun pagi-pagi, buang hajat, mandi (kadang-kadang), berangkat kerja, pulang kerja, nyuci (kalau ada cucian), nerusin kerja dirumah sambil nonton tivi, terus tidur, terkadang kalau weekend atau hari libur, gua pergi memancing atau sekedar begadang terus bangun siang kemudian ‘leyeh-leyeh’ sampai malam dan detail-detail tersebut selalu berulang-ulang dari hari ke hari, bulan ke bulan bahkan tahun ke tahun.
Kehidupan sosial gua memang nggak sepenuhnya terkekang, terkadang gua masih tetap mengunjungi Darcy sekedar mengucap salam sambil berharap ditawarin makan sama doi. Tapi, ngobrol dengan Darcy benar-benar bikin kepala pusing, terkadang dia terlalu cepat mengganti topic pembicaraan, terkadang dia terlalu terjebak di topik lama yang mana lawan bicaranya sudah ngobrol masalah “Z” dia masih menganggap obrolannya ada di “A”. Sedangkan komunikasi dengan Heru, (si manusia setengah beruk) juga nggak bisa dibilang intens, selain takut disangka homo kayaknya rada jengah juga kalau keseringan ngobrol sama dia, pembahasannya terkadang nggak ada mutunya, apalagi kalau udah ngomongin Manchester United, bisa ngomong berjam-jam tanpa berhenti. Pernah suatu ketika, sore di akhir pecan, heru menelpon gua;
“Bon.. lu liat gol nya Scholes nggak tadi? Beuh keren abis tuh tendangan, itu kalo sekalipun ditangkep sama kipernya, bisa mental tuh kipper…”
“Oooh..”
“Mana assist dari Giggs juga keren abis, kok bisa-bisanya doi ngasih umpan se-ciamik gitu…”
“Hmmm…”
“Udah gitu, pas mau bubaran tadi, ada penonton yang masuk kelapangan.. telanjang… haha mabok tuh orang…”
“Ooo..”
“Eh lu nonton United kan tadi?”
“Nggak”
“Njir….ngapa diem aja lu daritadi…”
“Ya gimana gua mau ngomong, nah elu nyerocos mulu kayak petasan..”
“Eh bon… lu tau nggak kalo Gallagher bersaudara itu fans-nya City (Manchester City)?”
“Tau lah, di tivi kan sering ditayangin…”
“Minggu depan ada konsernya Oasis di London, gua udah janjian sama temen-temen anak kampus mau nonton.. lu mau ngikut nggak?”
“Boleh tuh.. bosen nih gua.. mahal nggak sih?”
“Kagak, paling Cuma £25… serius lu mau ikut?”
“Iya mau…”
“Oke deh, ntar gua mau bawa bendera sama Jersey United pas konser, pengen gua kibar-kibarin…”
“Eh.. nggak deh, nggak jadi ngikut gua.. batal.. cancel aja…”
“Lha emang ngapa?”
“Gua mau mancing…”
Tut tut tut tut
Daripada gua harus menanggung malu ikut digelandang sama heru ke kantor polisi gara-gara membuat onar di sebuah konser music lebih baik gua mancing.
Kehidupan sosial gua dikantor malah boleh dibilang yang paling ‘sosial’, ya iyalah, gimana nggak, sebagian besar, bahkan hampir 60% hidup sehari-hari gua habiskan di tempat kerja. Glenn yang masih tetap keranjingan Rokok ‘234’ yang pernah dikirim komeng kesini, dan Carlos, Mr, Robinson, Diane, Reddy, Kay dan teman-teman yang lain yang ya walaupun gua nggak begitu ‘dekat’ mengenal mereka satu persatu tapi entah kenapa, seperti ada ‘chemistry’ yang hadir saat berkumpul bersama mereka. Tapi entah apa hanya gua yang merasakan ini atau memang tipe-tipe orang-orang disini yang sangat professional saat bekerja tapi malah jadi orang ‘asing’ saat diluar lingkungan kerja. Sebagai contoh; Glenn yang notabene adalah partner kerja gua dikantor, nggak pernah ada niatan di berkunjung atau bahkan bertanya, dimana tempat gua tinggal. Sebuah kebutaan keprofesionalan.
Sedangkan komunikasi gua dengan keluarga di Indonesia, boleh dibilang yang paling ‘normal’ diantara yang lainnya, Gua punya jadwal tetap untuk menelpon, yaitu setiap sabtu siang atau sore. Jadi keluarga dirumah kalau jam-jam segitu pasti pada kumpul nunggu telepon, dan gua punya semacam catatan kecil yang gua tulis di PDA tentang apa saja yang bakal gua tanyakan dan durasi bicara masing-masing anggota keluarga. Misalnya; Yang pertama kali angkat telepon pasti adek gua; Ika dan yang pertama gua tanyakan adalah perihal Pendaftaran Haji bokap-nyokap, dan biasanya obrolan ini menggunakan bahasa inggris, biar bokap-nyokap nggak ‘mudeng’ dan “Peng-Haji-an’ ini nggak kehilangan efek surprise-nya, jatah untuk obrolan ini adalah 3-5 menit. Kemudian Ika pasti mengalihkan telepon ke nyokap, untuk nyokap biasanya dia bakal nanya-nanya masalah kesehatan diri, solat dan mengaji, jangan lupa makan dan nggak ketinggalan perihal jodoh, jatah untuk obrolan ini adalah 5-10 menit. Yang terakhir bokap, untuk bokap biasanya gua jatah 1-2 menit, bahkan kadang-kadang nggak ada satu menit, bokap paling Cuma nanya “Sehat, ni?” terus dilanjutin “Solat jangan ditinggal”, dan.. udah.. iya udah gitu doang.
Untuk komeng, biasanya kita ngobrol via skype atau terkadang sambil bernostalgia bermain Game Strategi perang online bareng-bareng, walaupun untuk melakukan hal itu terkadang si Komeng yang selalu ‘berkorban’ dengan begadang semaleman.
Sampai gua memasuki tahun ke dua gua berada di Leeds, masih belum ada shock element yang berarti dalam kehidupan gua, semua berjalan datar-datar aja, nggak naik, nggak turun, nggak minus, nggak plus, walau terkadang terjadi hal-hal kecil diluar rencana seperti; gua yang kena tipes atau laptop yang hilang digondol orang distasiun, tapi hal-hal seperti itu sama sekali nggak mempengaruhi kehidupan gua, seakan mengerti akan pola hidup gua dan kembali menjadi datar-datar saja.
Menjelang lebaran tahun ketiga, gua memutuskan untuk mengambil jatah cuti tahunan dan pulang ke Indonesia, rencana kepulangan ini sebenarnya sudah gua atur dari jauh-jauh hari tapi karena ingin memberikan kejutan ke Bokap dan Nyokap maka gua merahasiakannya dari mereka berdua, yang tau Cuma adek gua, Ika.
Hari itu, Jum’at, hari ke 25 bulan Ramadhan. Setelah selesai menunaikan sholat Jum’at di Makka Masjid, Leeds, gua bergegas menuju ke Stasiun untuk naik kereta sore yang menuju ke London. Setelah menempuh perjalanan dua jam dengan kereta, gua langsung bergerak dengan bus untuk menuju ke Bandara Heathrow. Setelah menunggu selama dua jam dimana saat itu berpuasa dan bukanlah hal yang mengasyikan, akhirnya gua sudah berada di dalam pesawat yang bakal mengantar gua pulang.
Pesawat yang gua tumpangi mendarat di Bandara Soekarno Hatta, saat jam menunjukkan pukul dua tepat. Gua bergegas menuju ke salah satu gerai donat terkenal yang berada di terminal kedatangan, rasa lapar dan lelah ini haruslah segera diisi dengan energi sebelum nantinya berpuasa kembali. Setelah memesan setengah lusin donat dengan jenis yang berbeda-beda dan dua cangkir kopi hitam, sambil menenteng baki berisi donat dan kopi gua berjalan menuju ke sebuah meja kosong yang berada disudut paling jauh, mencari tempat yang nyaman untuk merokok.
Gua tengah menyeruput kopi panas saat pandangan gua mengarah ke sesosok wanita seumuran gua, dengan rambut panjang dikuncir kuda, mengenakan jaket kulit warna hitam dan tengah menyeret koper. Sejenak gua menurunkan cangkir kopi dan meletakkannya ke atas meja kemudian berdiri. Sosok itu mungkin melihat pergerakan gua yang tiba-tiba, mungkin juga dia sadar kalau ada yang sedang memandangi-nya dan dia melihat ke arah gua, kami saling menatap, hampa…
Hampir sekitar 3 sampai 5 menit gua dan perempuan itu saling menatap dari kejauhan, tanpa berkata apa-apa, mulut gua seperti tercekat. Sampai kemudian sesosok tangan wanita tua menggenggam tangan perempuan itu dan menariknya, sambil berjalan dalam tarikan wanita tua yang mungkin adalah nyokapnya, perempuan tersebut masih memandangi gua dalam diam, lalu sesaat kemudian hilang di telan bayangan pilar-pilar.
Gua masih berdiri, mencoba memaki diri sendiri, mencoba marah terhadap nalar dan logika yang memaksa untuk tetap diam, mencoba menyekat pita suara gua dan melarang untuk berteriak; “Restii…”
Backsound
Now it seems to me
That you know just what to say
But words are only words
Can you show me something else
Can you swear to me that you'll always be this way
Show me how you feel
More than ever baby
I don't wanna be lonely no more
I don't wanna have to pay for this
I don't want to know the lover at my door
Is just another heartache on my list
I don't wanna be angry no more
You know I could never stand for this
So when you tell me that you love me know for sure
I don't want to be lonely anymore
Now its hard for me with my heart still on the mend
Open up to me, like you do your girlfriends
And you sing to me and it's harmony
Girl, what you do to me is everything
Make me say anything; just to get you back again
Why can't we just try
I don't wanna be lonely no more
I don't wanna have to pay for this
I don't want to know the lover at my door
Is just another heartache on my list
I don't wanna be angry no more
You know I could never stand for this
So when you tell me that you love me know for sure
I don't want to be lonely anymore
What if I was good to you, what if you were good to me
What if I could hold you till I feel you move inside of me
What if it was paradise, what if we were symphonies
What if I gave all my life to find some way to stand beside you
Now it seems to me
That you know just what to say
But words are only words
Can you show me something else
Can you swear to me that you'll always be this way
Show me how you feel
More than ever baby
I don't wanna be lonely no more
I don't wanna have to pay for this
I don't want to know the lover at my door
Is just another heartache on my list
I don't wanna be angry no more
You know I could never stand for this
So when you tell me that you love me know for sure
I don't want to be lonely anymore
Now its hard for me with my heart still on the mend
Open up to me, like you do your girlfriends
And you sing to me and it's harmony
Girl, what you do to me is everything
Make me say anything; just to get you back again
Why can't we just try
I don't wanna be lonely no more
I don't wanna have to pay for this
I don't want to know the lover at my door
Is just another heartache on my list
I don't wanna be angry no more
You know I could never stand for this
So when you tell me that you love me know for sure
I don't want to be lonely anymore
What if I was good to you, what if you were good to me
What if I could hold you till I feel you move inside of me
What if it was paradise, what if we were symphonies
What if I gave all my life to find some way to stand beside you
Diubah oleh robotpintar 24-03-2014 16:13
regmekujo dan 17 lainnya memberi reputasi
18
Kutip
Balas
![Accidentally In Love [True Story]](https://s.kaskus.id/images/2014/04/07/6448808_20140407033338.jpg)