- Beranda
- Stories from the Heart
Accidentally In Love [True Story]
...
TS
robotpintar
Accidentally In Love [True Story]
![Accidentally In Love [True Story]](https://s.kaskus.id/images/2014/02/14/6448808_20140214023854.png)
Spoiler for Cover:
![Accidentally In Love [True Story]](https://s.kaskus.id/images/2014/02/14/6448808_20140214024411.png)
So she said what's the problem baby
What's the problem I don't know
Well maybe I'm in love (love)
Think about it every time
I think about it
Can't stop thinking 'bout it
How much longer will it take to cure this
Just to cure it cause I can't ignore it if it's love (love)
Makes me wanna turn around and face me but I don't know nothing 'bout love
Come on, come on
Turn a little faster
Come on, come on
The world will follow after
Come on, come on
Cause everybody's after love
So I said I'm a snowball running
Running down into the spring that's coming all this love
Melting under blue skies
Belting out sunlight
Shimmering love
Well baby I surrender
To the strawberry ice cream
Never ever end of all this love
Well I didn't mean to do it
But there's no escaping your love
These lines of lightning
Mean we're never alone,
Never alone, no, no
We're accidentally in love
Accidentally in love [x7]
Accidentally I'm In Love
Spoiler for Bagian 1:
#1
Quote:
“Gila lu Bon, roti segitu banyak sayang-sayang bakal empan ikan semua!”
“Emang ngapa? Ikan jaman sekarang mah ogah makan cacing, Meng”
Gua jawab aja sekena-nya, memang niatnya gua bawa roti dari rumah buat bekal pas mancing tapi, gara-gara umpan cacing gua dari tadi nggak disentuh ikan terpaksa gua ganti dengan roti. Siapa tau mujarab.
Nggak seberapa berselang, tali pancing gua bergetar, refleks gua tarik joran sekuatnya dan mendarat dengan mulus seekor ikan yang kurang lebih seukuran telapak tangan.
“Anjritt.. dari tadi dapet sapu-sapu mulu gua!”
Sambil melepas mata kail dari mulut ikan sapu-sapu yang barusan gua angkat dan langsung gua lempar lagi kedalam kali.
Tidak berapa lama, melantun lagu “Time Like This”-nya Foo Fighter dari ponsel gua. Tertera tulisan “Rumah” dilayarnya.
“Kenapa mak?”
Karena memang cuma nyokap gua aja yang selalu telpon melalui telepon rumah. Bokap dan adik gua selalu menggunakan ponsel-nya masing-masing jika ada keperluan.
“Assalamualaikum , Mancing kagak rapi-rapi luh, nih ada kiriman surat buat elu”
“Dari siapa?”
“Kagak tau, bahasanya emak nggak ngerti”
“Simpenin dulu, nih aye udah mau pulang”
“Yaudah buruan, jangan maghriban dijalan, pamali. Assalamualaikum”
“Waalaikumsalam”
Gua kantongin lagi ponsel k-ekantong celana pendek yang sekarang udah kotor campur lumpur, sambil berteriak ke temen gua; Komeng, yang lagi berkutat dengan tali pancingnya yang kusut.
“Meng, ayo balik.. udah sore”
“Belon juga dapet sekilo, udah mau balik aje”
“Yauda elu terusin dah, gua balik duluan”
Komeng menjawab dengan sedikit gumam di bibirnya terdengar seperti “Yaelah..” sambil berjalan gontai menyusul gua.
------
Itu kejadian beberapa tahun yang lalu, dimana gua dan Komeng masih biasa mencari cacing buat umpan ikan di kebun singkong belakang rumahnya Haji Salim dan kemudian pergi memancing disepanjang pinggiran sungai Pesanggrahan, Jakarta.
Sekarang, gua sedang duduk sambil bersandar di sebuah kursi lipat di pinggir danau di daerah Leeds, Inggris. Menghabiskan hari libur akhir musim gugur dengan memancing sambil bernostalgia, mencoba membangkitkan memori tentang memancing, tentang si Komeng, tentang Jakarta, tentang rumah.
Setelah berjam-jam memancing, menghabiskan berkaleng-kaleng ‘Diet Coke’ akhirnya gua memutuskan untuk menyudahi kegiatan sialan ini. Pulang dengan membawa 6 Ekor ikan Yelowtail (di Indonesia disebut ikan patin) dan sedikit kenangan tentang ‘rumah’, gua berjalan gontai menuju tempat dimana sepeda kesayangan gua diparkir, sempat kebingungan awalnya karena sekarang ada banyak sepeda yang diparkir, padahal tadi pagi baru sepeda gua aja yang nongkrong disini, setelah celingak-celinguk akhirnya ketemu juga dan gua mulai mengayuh.
Jarak dari tempat gua biasa mancing ke tempat dimana gua tinggal di Moorland Ave, Leeds kurang lebih 3,5 mil atau kalau dalam satuan Kilometer sekitar 5,5 Km. Jarak segitu kalo disini, di Inggris bisa dibilang ‘deket’, kalau naik sepeda bisa cuma 30 menit.
Oiya, nama gua Boni. Gua lahir dan dibesarkan di Jakarta. Saat ini gua kerja dan tinggal di Leeds, Inggris sekitar 2-3 jam dari London (dengan kereta). Gua kerja sebagai Sound Designer disalah satu Agensi perfilman dan periklanan di Leeds yang juga punya kantor di London. Sudah hampir 4 tahun gua kerja dan tinggal disini, ditempat dimana nggak ada sungai dengan air berwarna cokelat keruh yang banyak ikan sapu-sapunya dan nggak ada teman yang suka menggerutu “Yaelah”.
Sambil mendengarkan “Heaven” nya Lost Lonely Boys lewat headset, gua mengayuh sepeda menuju ke rumah, pulang. Melewati jalan berpasir yang dipenuhi pohon-pohon maple di kedua sisinya menuju jalan utama. Jalan yang sangat sepi dan hening, jam menunjukkan angka 4 sore, menandakan waktu shalat maghrib, di sabtu sore seperti sekarang ini memang didaerah sini sangat sepi, kebanyakan penduduk sekitar sedang ke stadion atau pub-pub untuk menyaksikan Leeds United bertanding. Ingin buru-buru sampai di rumah, karena perut udah mulai keroncongan, gua kayuh sepeda lebih cepat. Sampai kemudian terdengar sayup-sayup suara musik yang makin lama makin nyaring, suara musik RnB yang sepertinya diputar dari dalam mobil dengan volume maksimal. Suara tersebut datang dari arah belakang dan kemudian menyusul gua, sebuah BMW silver yang melaju cepat bahkan boleh dibilang sangat cepat, sambil meninggalkan debu persis seperti mobil yang sedang Rally Dakkar.
“Orang Gila!!” gua mengumpat, masih sambil dengerin coda lagu “Heaven” nya Lost Lonely Boys. Sampai gua melihat beberapa detik kemudian lampu rem BMW tersebut menyala dan kemudian berhenti.
Deg!, “Wuanjrit, sakti juga tuh orang bisa denger suara gua” sambil berhenti dan melepas headset dari telinga. Yang ternyata setelah gua sadar, suara gua nggak sepelan pas pakai headset tadi. Gua nunggu sambil dag dig dug, kalau dia ngerti ucapan gua, dia pasti orang Indonesia dan kalo ternyata bukan gua bakal siap-siap kabur.
Pintu penumpang pun terbuka, terbuka secara paksa tepatnya, sedetik kemudian keluar seseorang dari kursi penumpang, terhuyung dan kemudian terjatuh, terdengar makian dari dalam BMW tersebut mungkin seperti “bitch” atau semacamnya dan sesaat kemudian BMW tersebut pergi, mengasapi orang yang tersungkur itu dengan debu jalanan.
Nggak mau terlalu ambil pusing, sambil bernafas lega dan bilang dalam hati; “untung bukan gua”, gua meneruskan mengayuh sepeda.
“Get up Bro, life is brutal”
gua berkata ke orang itu sambil melewatinya tetap melanjutkan mengayuh. Dan beberapa meter kemudian gua mendengar sebuah teriakan, teriakan yang (pada akhirnya) bakal merubah hidup gua.
“Woii.. Help me!, you’re Indonesian, right?”
“Tolongin gue dong…”
Gua berhenti mengayuh, turun dan bengong. Sudah hampir setahun gua nggak denger secara langsung orang bicara ke gua dengan bahasa Indonesia dan suara perempuan pula.. Lima, ah mungkin sepuluh detik kemudian baru gua memalingkan muka tapi masih tetap bengong.
“Woii..”
Akhirnya gua turun dari sepeda, kemudian menghampiri orang itu. Terduduk di depan gua sosok perempuan, hitam manis dengan kepala tertutup hood jaket hitam, celana jeans dan sepatu model boots sebetis berwarna cokelat.
“Elu nggak apa-apa?”
“Menurut Lo? Kalo gue gak apa-apa, ngapain gua teriak minta tolong elu!!”
Gua nggak menjawab, berusaha membantu dia berdiri sambil bertanya lagi bagaimana keadaannya. Sekali lagi dia mengumpat;
“Gila!, nggak punya hati banget sih lu!, ya jelas lah gue kenapa-kenapa.. nih liat!”
Sambil memperlihatkan telapak tangan dan siku-nya yang luka dan kemudian menyibak celana jeans-nya yang kotor terkena debu dan sobek di beberapa bagian akibat terlempar dari mobil tadi. Sesaat baru dia sadar kalau lutut kanannya juga luka sambil meringis kesakitan dia mencoba membersihkan luka tersebut dengan air liurnya. Sangat Indonesia sekali.
“Gua pikir tadi orang mabok yang lagi berantem, disini mah biasa begitu,mbak!”
Kemudia gua kasih satu-satunya ‘Diet Coke’ sisa memancing tadi, harusnya sih air putih tapi Cuma itu yang gua punya sekarang. Sambil menggerutu karena dikasih ‘Diet Coke’ daripada air putih, diminum juga tuh minuman soda. Kemudian gua menawarkan diri buat mengantar dia ke sebuah toko kecil di ujung jalan ini, untuk membeli plester untuk membalut luka-nya.
“Jauh nggak?”
Dia bertanya sambil menurunkan hood jaketnya dan menyibak rambutnya yang pendek seleher. Kemudian terlihat jelas sebuah luka lebam di sudut mata sebelah kiri-nya, tidak, bukan cuma satu, setidaknya ada 3 luka lebam, selain disudut matanya, satu lagi di dahi sebelah kiri dan satu lagi di sudut bibir sebelah kanan, yang terakhir tampak seperti luka yang baru karena masih meninggalkan sisa bekas darah yang membeku.
Gua nggak berani bertanya, gua hindari menatap kewajahnya sambil menjawab pertanyaa-nya bahwa tokonya nggak begitu jauh dari sini, sambil menunjuk ke arah jalan utama.
---
“Emang ngapa? Ikan jaman sekarang mah ogah makan cacing, Meng”
Gua jawab aja sekena-nya, memang niatnya gua bawa roti dari rumah buat bekal pas mancing tapi, gara-gara umpan cacing gua dari tadi nggak disentuh ikan terpaksa gua ganti dengan roti. Siapa tau mujarab.
Nggak seberapa berselang, tali pancing gua bergetar, refleks gua tarik joran sekuatnya dan mendarat dengan mulus seekor ikan yang kurang lebih seukuran telapak tangan.
“Anjritt.. dari tadi dapet sapu-sapu mulu gua!”
Sambil melepas mata kail dari mulut ikan sapu-sapu yang barusan gua angkat dan langsung gua lempar lagi kedalam kali.
Tidak berapa lama, melantun lagu “Time Like This”-nya Foo Fighter dari ponsel gua. Tertera tulisan “Rumah” dilayarnya.
“Kenapa mak?”
Karena memang cuma nyokap gua aja yang selalu telpon melalui telepon rumah. Bokap dan adik gua selalu menggunakan ponsel-nya masing-masing jika ada keperluan.
“Assalamualaikum , Mancing kagak rapi-rapi luh, nih ada kiriman surat buat elu”
“Dari siapa?”
“Kagak tau, bahasanya emak nggak ngerti”
“Simpenin dulu, nih aye udah mau pulang”
“Yaudah buruan, jangan maghriban dijalan, pamali. Assalamualaikum”
“Waalaikumsalam”
Gua kantongin lagi ponsel k-ekantong celana pendek yang sekarang udah kotor campur lumpur, sambil berteriak ke temen gua; Komeng, yang lagi berkutat dengan tali pancingnya yang kusut.
“Meng, ayo balik.. udah sore”
“Belon juga dapet sekilo, udah mau balik aje”
“Yauda elu terusin dah, gua balik duluan”
Komeng menjawab dengan sedikit gumam di bibirnya terdengar seperti “Yaelah..” sambil berjalan gontai menyusul gua.
------
Itu kejadian beberapa tahun yang lalu, dimana gua dan Komeng masih biasa mencari cacing buat umpan ikan di kebun singkong belakang rumahnya Haji Salim dan kemudian pergi memancing disepanjang pinggiran sungai Pesanggrahan, Jakarta.
Sekarang, gua sedang duduk sambil bersandar di sebuah kursi lipat di pinggir danau di daerah Leeds, Inggris. Menghabiskan hari libur akhir musim gugur dengan memancing sambil bernostalgia, mencoba membangkitkan memori tentang memancing, tentang si Komeng, tentang Jakarta, tentang rumah.
Setelah berjam-jam memancing, menghabiskan berkaleng-kaleng ‘Diet Coke’ akhirnya gua memutuskan untuk menyudahi kegiatan sialan ini. Pulang dengan membawa 6 Ekor ikan Yelowtail (di Indonesia disebut ikan patin) dan sedikit kenangan tentang ‘rumah’, gua berjalan gontai menuju tempat dimana sepeda kesayangan gua diparkir, sempat kebingungan awalnya karena sekarang ada banyak sepeda yang diparkir, padahal tadi pagi baru sepeda gua aja yang nongkrong disini, setelah celingak-celinguk akhirnya ketemu juga dan gua mulai mengayuh.
Jarak dari tempat gua biasa mancing ke tempat dimana gua tinggal di Moorland Ave, Leeds kurang lebih 3,5 mil atau kalau dalam satuan Kilometer sekitar 5,5 Km. Jarak segitu kalo disini, di Inggris bisa dibilang ‘deket’, kalau naik sepeda bisa cuma 30 menit.
Oiya, nama gua Boni. Gua lahir dan dibesarkan di Jakarta. Saat ini gua kerja dan tinggal di Leeds, Inggris sekitar 2-3 jam dari London (dengan kereta). Gua kerja sebagai Sound Designer disalah satu Agensi perfilman dan periklanan di Leeds yang juga punya kantor di London. Sudah hampir 4 tahun gua kerja dan tinggal disini, ditempat dimana nggak ada sungai dengan air berwarna cokelat keruh yang banyak ikan sapu-sapunya dan nggak ada teman yang suka menggerutu “Yaelah”.
Sambil mendengarkan “Heaven” nya Lost Lonely Boys lewat headset, gua mengayuh sepeda menuju ke rumah, pulang. Melewati jalan berpasir yang dipenuhi pohon-pohon maple di kedua sisinya menuju jalan utama. Jalan yang sangat sepi dan hening, jam menunjukkan angka 4 sore, menandakan waktu shalat maghrib, di sabtu sore seperti sekarang ini memang didaerah sini sangat sepi, kebanyakan penduduk sekitar sedang ke stadion atau pub-pub untuk menyaksikan Leeds United bertanding. Ingin buru-buru sampai di rumah, karena perut udah mulai keroncongan, gua kayuh sepeda lebih cepat. Sampai kemudian terdengar sayup-sayup suara musik yang makin lama makin nyaring, suara musik RnB yang sepertinya diputar dari dalam mobil dengan volume maksimal. Suara tersebut datang dari arah belakang dan kemudian menyusul gua, sebuah BMW silver yang melaju cepat bahkan boleh dibilang sangat cepat, sambil meninggalkan debu persis seperti mobil yang sedang Rally Dakkar.
“Orang Gila!!” gua mengumpat, masih sambil dengerin coda lagu “Heaven” nya Lost Lonely Boys. Sampai gua melihat beberapa detik kemudian lampu rem BMW tersebut menyala dan kemudian berhenti.
Deg!, “Wuanjrit, sakti juga tuh orang bisa denger suara gua” sambil berhenti dan melepas headset dari telinga. Yang ternyata setelah gua sadar, suara gua nggak sepelan pas pakai headset tadi. Gua nunggu sambil dag dig dug, kalau dia ngerti ucapan gua, dia pasti orang Indonesia dan kalo ternyata bukan gua bakal siap-siap kabur.
Pintu penumpang pun terbuka, terbuka secara paksa tepatnya, sedetik kemudian keluar seseorang dari kursi penumpang, terhuyung dan kemudian terjatuh, terdengar makian dari dalam BMW tersebut mungkin seperti “bitch” atau semacamnya dan sesaat kemudian BMW tersebut pergi, mengasapi orang yang tersungkur itu dengan debu jalanan.
Nggak mau terlalu ambil pusing, sambil bernafas lega dan bilang dalam hati; “untung bukan gua”, gua meneruskan mengayuh sepeda.
“Get up Bro, life is brutal”
gua berkata ke orang itu sambil melewatinya tetap melanjutkan mengayuh. Dan beberapa meter kemudian gua mendengar sebuah teriakan, teriakan yang (pada akhirnya) bakal merubah hidup gua.
“Woii.. Help me!, you’re Indonesian, right?”
“Tolongin gue dong…”
Gua berhenti mengayuh, turun dan bengong. Sudah hampir setahun gua nggak denger secara langsung orang bicara ke gua dengan bahasa Indonesia dan suara perempuan pula.. Lima, ah mungkin sepuluh detik kemudian baru gua memalingkan muka tapi masih tetap bengong.
“Woii..”
Akhirnya gua turun dari sepeda, kemudian menghampiri orang itu. Terduduk di depan gua sosok perempuan, hitam manis dengan kepala tertutup hood jaket hitam, celana jeans dan sepatu model boots sebetis berwarna cokelat.
“Elu nggak apa-apa?”
“Menurut Lo? Kalo gue gak apa-apa, ngapain gua teriak minta tolong elu!!”
Gua nggak menjawab, berusaha membantu dia berdiri sambil bertanya lagi bagaimana keadaannya. Sekali lagi dia mengumpat;
“Gila!, nggak punya hati banget sih lu!, ya jelas lah gue kenapa-kenapa.. nih liat!”
Sambil memperlihatkan telapak tangan dan siku-nya yang luka dan kemudian menyibak celana jeans-nya yang kotor terkena debu dan sobek di beberapa bagian akibat terlempar dari mobil tadi. Sesaat baru dia sadar kalau lutut kanannya juga luka sambil meringis kesakitan dia mencoba membersihkan luka tersebut dengan air liurnya. Sangat Indonesia sekali.
“Gua pikir tadi orang mabok yang lagi berantem, disini mah biasa begitu,mbak!”
Kemudia gua kasih satu-satunya ‘Diet Coke’ sisa memancing tadi, harusnya sih air putih tapi Cuma itu yang gua punya sekarang. Sambil menggerutu karena dikasih ‘Diet Coke’ daripada air putih, diminum juga tuh minuman soda. Kemudian gua menawarkan diri buat mengantar dia ke sebuah toko kecil di ujung jalan ini, untuk membeli plester untuk membalut luka-nya.
“Jauh nggak?”
Dia bertanya sambil menurunkan hood jaketnya dan menyibak rambutnya yang pendek seleher. Kemudian terlihat jelas sebuah luka lebam di sudut mata sebelah kiri-nya, tidak, bukan cuma satu, setidaknya ada 3 luka lebam, selain disudut matanya, satu lagi di dahi sebelah kiri dan satu lagi di sudut bibir sebelah kanan, yang terakhir tampak seperti luka yang baru karena masih meninggalkan sisa bekas darah yang membeku.
Gua nggak berani bertanya, gua hindari menatap kewajahnya sambil menjawab pertanyaa-nya bahwa tokonya nggak begitu jauh dari sini, sambil menunjuk ke arah jalan utama.
---
DAFTAR ISI
Quote:
CHAPTER 1
#1 The Beginning
#2 Truly Gentlemen
#3 Place Called Home
#4 The Morning Fever
#5 A Miserable Story
#6 Night Rain
#7 Inside My Head
#8 That Day
#9 Be Tough
#10 Mukena
#1 The Beginning
#2 Truly Gentlemen
#3 Place Called Home
#4 The Morning Fever
#5 A Miserable Story
#6 Night Rain
#7 Inside My Head
#8 That Day
#9 Be Tough
#10 Mukena
Quote:
CHAPTER 2
#11-A Trip To Manchester
#11-B The Swiss Army
#12 Here's and Back Again
#13 I Miss You So Bad
#14 Going Mad
#15 Promise
#16 You’ll Be The Only Light I See
#17 The Winter Tears
#18 She's Gone
#19 That Memories
#11-A Trip To Manchester
#11-B The Swiss Army
#12 Here's and Back Again
#13 I Miss You So Bad
#14 Going Mad
#15 Promise
#16 You’ll Be The Only Light I See
#17 The Winter Tears
#18 She's Gone
#19 That Memories
Quote:
CHAPTER 3
[URL="http://www.kaskus.co.id/show_post/530ff7e41acb17030d8b48f1/479/- "]#19-A The Hood[/URL]
#19-B Heres And Back Again II
#19-C Weak
#19-D Surrender
#19-E The Choice
#19-F Anything For You
#19-G Chelsea Number 8
#19-H Its not always about gold and glory
#19-I Aku
#19-J The Words
#19-K The Persian Cat
#19-L You Really The Only Light I See
#19-M So Be It
#19-N Less Than Perfect
#20 That Day II
[URL="http://www.kaskus.co.id/show_post/530ff7e41acb17030d8b48f1/479/- "]#19-A The Hood[/URL]
#19-B Heres And Back Again II
#19-C Weak
#19-D Surrender
#19-E The Choice
#19-F Anything For You
#19-G Chelsea Number 8
#19-H Its not always about gold and glory
#19-I Aku
#19-J The Words
#19-K The Persian Cat
#19-L You Really The Only Light I See
#19-M So Be It
#19-N Less Than Perfect
#20 That Day II
Quote:
CHAPTER 4 The Prekuel
#21 The Prologue
#22 My Precious
#23 Ticket to Ride
#24 Singapore
#25 Dreams
#26 The Awkward Moment
#27 Logic
#28 Driver In Life
#29 The Risk Taker
#30 Sorry
#31 Rise Again
#32 Goodbye
#21 The Prologue
#22 My Precious
#23 Ticket to Ride
#24 Singapore
#25 Dreams
#26 The Awkward Moment
#27 Logic
#28 Driver In Life
#29 The Risk Taker
#30 Sorry
#31 Rise Again
#32 Goodbye
Quote:
CHAPTER 5!!
#33 London
#34 Unwell
#35 I Was Here
#36 Leeds
#37 New Home, New Life
#38 Alone
#39 Intermezo
#40 Goin' Trough
#41 At Glance
#42 The Past of The Future
#33 London
#34 Unwell
#35 I Was Here
#36 Leeds
#37 New Home, New Life
#38 Alone
#39 Intermezo
#40 Goin' Trough
#41 At Glance
#42 The Past of The Future
Quote:
CHAPTER 6
#43 My First ...
#44 If Lovin' You ...
#45 Goin' Back
#46 Leeds II
#47 I Love You (Jealousy)
#48 After All
#49 Hell Yeah
#50 Conflict
#51 Liar-Liar
#52 Memories
#43 My First ...
#44 If Lovin' You ...
#45 Goin' Back
#46 Leeds II
#47 I Love You (Jealousy)
#48 After All
#49 Hell Yeah
#50 Conflict
#51 Liar-Liar
#52 Memories
Quote:
Quote:
Diubah oleh robotpintar 10-04-2014 08:46
carangkasampah dan 121 lainnya memberi reputasi
120
1.3M
Kutip
2.3K
Balasan
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•1Anggota
Tampilkan semua post
TS
robotpintar
#1400
Spoiler for Bagian ke Tiga puluh Delapan:
#38 Alone
Quote:
”Bon, tulisan ente di Acc. Buat edisi minggu depan.
Bisa request nggak untuk next artikel jangan terlalu serius dan temanya (kalo bisa) tentang Kepo?”
Gua mengklik tombol ’reply’ kemudian mengetik ’Bisa!’ dan mengirimnya.
---
Hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Tidak terasa gua sudah memasuki bulan ke enam tinggal di Leeds. Akhir-akhir ini Sharon sudah jarang sekali menginap di tempat Darcy dan gua pun sekarang punya kesibukan baru saat weekend (kecuali saat musim dingin); memancing. Waktu itu gua iseng bersepeda pagi-pagi untuk alasan klise; berolahraga, padahal alasan aslinya adalah ’nyobain’ sepeda baru. Gua mengayuh sepeda nggak tentu arah, mengikuti kemana tangan ini mengendalikan setang sepeda, saat gua melihat dua orang pria tengah berjalan dengan menenteng joran dan semacam ’lunch box’, gua mengikutinya jauh dibelakang sampai akhirnya tiba disebuah danau kecil, yang ternyata banyak orang memancing disana, apalagi kalau saat liburan musim panas.
Dua orang pria tersebut duduk di tepi danau sambil mempersiapkan alat pancing-nya, gua menghampiri mereka. Setelah mengucapkan sedikit basa-basi gua mulai bertanya tentang jenis ikan apa saja yang ada di danau ini dan umpan apa saja yang tepat, salah seorang pria tersebut menjelaskan ke gua dengan sangat detail dan terperinci, gua Cuma ’manggut-manggut’ sambil sesekali ber-Oh ria. Setelah puas dengan penjelasan pria tersebut gua pamit dan berjalan menuntun sepeda meninggalkan mereka. Gua berhenti ditepi danau yang agak menjorok ke air, menyandarkan sepeda ke salah satu batang pohon dan berjalan ke tepi-nya.
Cuaca pagi akhir musim semi di Leeds yang begitu hangat menghembuskan angin beraroma pinus yang perlahan menyisir helai-helai rambut gua yang mulai memanjang. Air di danau yang ukurannya nggak lebih besar dari tiga kali luas lapangan sepakbola ini beriak pelan, menggerus tanah berpasir ditepi-nya, melambaikan bunga-bunga bakung yang tumbuh liar hampir diseluruh sisi danau, diseberang-nya terlihat sebuah siluet cerobong pabrik-pabrik yang tersembunyi dibalik gundukan-gundukan bukit kecil yang terasa kontras. Gua duduk disebuah batu kecil, memandangi burung-burung yang sesekali menukik pelan ke muka danau kemudian kembali terbang keatas, bergerombol mesra. Sambil bermain dengan rumput disekitar batu, gua mengeluarkan bungkusan rokok marlboro light dari saku celana training, mengularkannya sebatang. Tapi entah kenapa tangan ini enggan sekali menyulut rokok ini, gua memasukkannya kembali kedalam bungkus dan meletakkannya di tanah. Seandainya gua punya seseorang yang bisa duduk disamping gua saat ini, untuk bisa saling berbagi keindahan pemandangan ini dan berbagi ketenangan suasana-nya,.. alangkah nikmatnya. Tapi, ah.. sudahlah... Gua mengantongi bungkus rokok ke dalam saku celana dan beranjak pergi meninggalkan tempat ini.
Sebelum berbelok ke burnley rd untuk pulang kerumah, gua mampir sebentar ke sebuah toko yang menjual alat-alat memancing sesuai dengan petunjuk yang diberikan oleh dua orang pria di Danau tadi. Gua Cuma melihat-lihat sebentar kemudian bergegas keluar toko dan kembali kerumah, saat ini gua bener-bener nggak membawa uang sepeser pun, jadi mungkin minggu depan baru bisa beli tuh joran.
---
Musim panas di Leeds sedikit berbeda dengan di Indonesia. Kalau di Indonesia musim panas itu biasanya kalau kata orang betawi mah ’penter’ banget, panasnya luar biasa. Sedangkan musim panas di Leeds, masih boleh dibilang sedikit ramah, sepanas-panasnya suhu masih berkisar diantar 25-27 derajat celcius, itupun kalau orang inggris asli udah pada megap-megap seperti lintah dikasih garam, dan disinilah keuntungan gua sebagai orang yang berasal dari negara tropis, kebal panas. 25-27 derajat celicus di Indonesia mah nggak ada apa-apanya. Tapi yang bikin adalah saat ini kali pertama gua harus berpuasa di negara orang.
Hari ini, hari ketiga gua berpuasa dan hari ketiga pula gua nggak sahur. Dan yang bikin lebih nelangsa, bulan puasa tahun ini jatuh pas dimusim panas, jadi durasi siang lebih lama daripada malam, jam 4 dinihari sudah imsak dan baru jam 8 malam maghrib tiba, kalau dihitung-hitung gua berpuasa hampir 16 jam, silahkan bayangkan sendiri bagaimana rasanya. Ditambah, si Glen; orang yang jadi partner baru gua, juga pindahan dari London yang nggak henti-hentinya ber-’aahh’-ria setelah menenggak rootbeer dingin kalengan tepat dihadapan gua, sambil menelan ludah gua Cuma bisa beristgfar.
Mungkin boleh dibilang ini adalah salah satu bulan puasa terberat dalam hidup gua; durasi-nya yang lama, sendirian dan jauh dari keluarga.
Hari ketujuh puasa gua jalani dan sepertinya gua sudah mulai terbiasa dengan bermacam-macam ’godaan’ yang datang menghampiri, entah kebiasaan Glen minum bir dingin disiang hari sampai gadis-gadis remaja yang mengenakan tank-top dan mini hotpants (udah hot pants, mini lagi) disepanjang jalan. Gua juga sudah mulai terbiasa untuk bangun jam 2 dini hari untuk sahur, walaupun menu-nya nggak pernah berubah; mie instan, terkadang gua sahur menikmati mie instan dalam gelapnya dapur sambil berlinang air mata (nggak nangis lho, Cuma berlinang) kalau teringat betapa ’nggak enak’nya hidup sendirian dan jauh dari keluarga. Tapi, ini jalan yang sudah gua putuskan untuk dijalani, go big or go home.
Sebulan berpuasa di negri orang membuat gua akhirnya betul-betul sadar akan makna dari puasa. Dulu waktu masih di Indonesia, gua nggak pernah bisa memaknai arti puasa yang sesungguhnya, arti dari menahan hawa nafsu dan bukan sekedar menahan lapar dan haus.
Gua duduk disofa hitam, menghadap ke tivi yang gua ’mute’ suaranya dan menyiarkan acara pertandingan golf. Gue menyandarkan kepala disandaran sofa, masih mengenakan kemeja panjang dan celana katun sehabis dari Makka Masjid, menunaikan sholat idul fitri. Suara takbir yang mengalun dari laptop gua terdengar samar, gua mengambil ponsel dan menghubungi nyokap, nggak sampai dua kali bunyi nada sambung, terdengar suara nyokap dari ujung sana;
”Assalamualaikum...”
Suara nyokap terdengar parau, dia pasti nangis.
”Waalaikumsalam.. mak.. mak.. maafin oni ya, nggak bisa pulang kesana, taqoballahu minna waminkum, minal aidin wal faidzin ya mak...”
”Iya ni, sama-sama.. maapin emak yak, lu udah makan ketupat apa belon ni?”
”Udah mak, tadi di masjid, tapi rasanya nggak kaya bikinan emak..”
”Iyadah, ni baba lu mau ngomong..”
”Iya..”
Hening sebentar, kemudian terdengar suara berat bokap diujung sana;
”Ni.. baba nih..”
”Iya ba, taqoballahu minna waminkum, minal aidin wal faidzin ya ba, oni banyak salah, sama baba..”
”Iya ni, baba yang tua juga banyak salah sama oni.. sama-sama dah.. sehat lu?”
”Alhamdulillah sehat ba.., baba sehat?”
”Alhamdulillah sehat..”
Kemudian terdengar teriakanIka dibalik suara bokap.
”Hallo bang... kok nggak balik?”
”... taqoballahu minna waminkum, minal aidin wal faidzin ya dek.. iya nggak bisa ijin balik nih abang...”
”Iya sama-sama bang, minal aidin yak.. maapin Ika ya..”
”Iya, eh dek.. pada sehat semua kan?”
”Iya sehat kok, Cuma emak aja nih nggak berenti-berenti nangis..”
”Nangis kenapa?”
”Nangisin elu combro..”
”Oh.. udah bilang ke emak, jangan nangis mulu, ntar gua jadi nggak doyan makan disini..”
”Iya ntar ika bilangin..”
”Yaudah abang tutup ya, jagain baba sama emak tuh, jangan kelayapan mulu..”
”Iya abaaang...”
”Assalamualaikum..”
”kumsalam..”
Tut tut tut tut.
Gua meletakkan ponsel di meja kemudian menyeka linangan air mata yang hampir menetes disudut mata gua. (Berlinang lho, bukannya nangis). Gua berdiri, masuk kekamar dan memandang keluar lewat jendela, suasana Idul Fitri disini nggak ada bedanya dengan hari-hari lainnya, nggak ada takbiran keliling malam menjelang lebaran, nggak ada suara takbir pagi sebelum solat idul fitri dan nggak ada orang-orang yang berkeliling, saling mengunjungi untuk bersilaturahmi, maaf memaafkan dan memberikan uang untuk keponakan-keponakan. Gua merebahkan diri di kasur saat terdengar ketukan di pintu depan, gua berdiri dan bergegas membuka pintu. Darcy berdiri membawa sebuah kue labu berwarna cokelat, masih menggunakan sarung tangan oven-nya. Kemudian dia melangkah masuk dan meletakkan kue tersebut diatas meja;
”Well, Happy Ied..”
Darcy menepuk pundak gua kemudian ngeloyor pergi.
Gua menyusulnya, mengucapkan terima kasih dan membukakan pintu untuknya.
Sambil menggumamkan takbir gua mulai memotong kecil-kecil kue yang tadi diantarkan Darcy, mengambilnya sepotong dan meletakkan sisa-nya kedalam kulkas. Darcy; ’orang inggris’ asli yang masih menyimpan rasa sosialisme yang tinggi ditengah-tengah modernisasi anti toleransi di Inggris.
Gua memandang ponsel dan membaca satu persatu pesan masuk yang rata-rata mengucapkan Selamat Idul Fitri, bahkan ada beberapa yang seperti menggunakan template pesan yang sama, hanya nama pengirimnya saja yang berbeda. Sambil menikmati kue dari Darcy, gua membalasnya satu persatu. Mata gua terhenti di satu salah satu pesan masuk yang belum terbuka; dari Resti.Gua membuka pesan tersebut dan membacanya;
“Halo Jagoan? Apa kbr? Selamat Lebaran ya, semoga puasa lo diterima”
Gua tersenyum kemudian membalasnya, singkat.
“Terima kasih, selamat lebaran juga”
Baru selesai gua menekan tombol ‘send’ ponsel gua berbunyi, muncul nama ‘beruk’ di layar ponsel gua.
“Hallo..”
“Hallo broo... selamat lebaran ye, minal aidin wal faidzin..”
“Haha..iya sama-sama ruk..”
“Oiya, solat ied nggak lu tadi..?”
“Solat lah..”
“Manteb, gua malah ketiduran..hahahaha.”
“Parah..”
“Oiya, minggu depan kemari bon.. nonton united..”
“Mmmm.. liat ntar deh..”
“Ngapain si lu emang? Udah nggak usah pikir panjang.. ntar gua bay..arin”
“Oke sip, minggu depan gua bisa..”
“Njir.. cepet banget lu kalo gratisan..”
“Ya iyalah.. ongkos gua kesono aja udah mahal cooy..”
“Yaudah ntar gua kabarin lagi..”
“Oke deh..”
Gua mengakhiri panggilan dari heru dan melanjutkan menikmati kue labu buatan Darcy.
---
Seminggu kemudian.
Gua tengah berada dalam sebuah kabin kereta yang meluncur cepat menuju ke Manchester. Kayaknya memang kesempatan nonton United langsung di Old Trafford secara Gratis nggak bisa disia-siakan dan mungkin bisa jadi salah satu bahan referensi buat bahan tulisan gua tentang sepak bola.
Jam 12 tepat. Gua sudah berada di stasiun Piccadilly, Manchester. Terpajang tulisan billboard besar dengan tulisan ’Welcome to Manchester’, Gua berjalan cepat melewati kerumunan orang-orang yang sebagian besar mengenakan jersey putih, saat tiba dipintu keluar stasiun gua dikagetkan oleh tepukan tangan seseorang di pundak, gua menoleh; Ah kampret beruk bikin kaget aja.
“Welcome to Manchester..”
Heru berujar sambil membentangkan kedua tangannya.
“Hahaha.. oke apa yang bakal gua dapet disini?”
“Tour Manchester gratis bersama pemandu anda, Heru.. silahkan lewat sini tua.”
Gua dan Heru berjalan keluar dari stasiun dan langsung naik ke sebuah bus yang membawa gua ke pinggir kota Manchester.
Jam satu lebih sedikit, gua sudah berada di Sir Matt Busby Street, sebuah jalan yang dinamai dengan nama salah satu legenda Manchester United. Dari sini kemegahan Old Trafford sudah terlihat, salah satu stadion terbesar di Inggris ini terlihat begitu angker dan megah dari kejauhan;
“Wah ini toh stadion yang selalu dibangga-bangakan oleh Manchunian.”
Gua berkelakar sambil memandang jauh ke arah Stadion Old Trafford.
“Sorry bon, gua ralat... Manchunian itu bukan sebutan yang tepat untuk fans United..”
“Lho bukannya emang itu sebutannya?”
“Manchunian itu sebenarnya sebutan untuk penduduk Manchester secara keseluruhan yang artinya bisa aja fans city dan fans united...”
“Lah terus kalo fans United disebutnya apa?”
“Ada banyak sebutannya, tapi yang paling famous jelas aja Reds army.. “
“Oooh gitu..”
“Coba tadi lu dateng lebih cepet, kita bisa ngikut tur keliling stadion tuh..”
“Kesiangan gua tadi.. emang kalo sekarang nggak keburu?”
“Kagak lah, penonton udah pada masuk.. nih lu baca-baca brosurnya aja, laen waktu baru kesini lagi ikut tur..”
Gua mengambil brosur yang diserahkan heru dan mulai membacanya. Dari yang gua baca lewat brosur, sepertinya sudah cukup menggambarkan betapa megahnya Stadion ini, didalamnya terdapat lorong Munich yang dibuat untuk memperingati tragedi Munich yang menewaskan hampir seluruh tim united, ada pula mega store, tempat untuk membeli pernak-pernik sampai jersey United dan museum yang memajang trophy-trophy torehan united dan yang nggak ketinggalan adalah tur ke ruang ganti pemain;
“Ruk, ini kita tur ke ruang ganti pemain juga?”
“Iya.. tapi bukan ruang ganti yang aslinya, Cuma replikanya aja yang bakal dikunjungi..”
“Lah didalem stadion ada kantor polisi nya juga?”
Gua bertanya heran ke heru sambil menunjuk salah satu fasilitas yang terpampang di brosur; ‘Kantor polisi’ yang bagi gua terasa janggal untuk berada didalam sebuah stadion, pun untuk klub sekelas United.
“Bahkan ada sel penjaranya juga lho, bon..”
Heru menambahkan.
“Ah masa sampe ada penjaranya juga, bakal apa?”
“Bakal menjarain fans-fans nya city.. hahahahaha...”
Gua tersenyum mendengar omongan heru, dan mata gua tertuju ke bagian belakang brosur tertera disana harga tiket tour keliling stadion yang Cuma £8.
Gua melipat brosur tersebut dan memasukannya ke saku belakang celana jeans gua. Kemudian kami sampai di gate entrance untuk memasuki stadion. Suara gemuruh penonton menggema diseisi stadion, bulu kuduk gua merinding mendengar riuh rendah suara yang menggema senada dan seirama;
“Tuh Glory-glory-United udah berkumandang...”
Heru berbicara sambil setengah berteriak ditelinga gua.
Bisa request nggak untuk next artikel jangan terlalu serius dan temanya (kalo bisa) tentang Kepo?”
Gua mengklik tombol ’reply’ kemudian mengetik ’Bisa!’ dan mengirimnya.
---
Hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Tidak terasa gua sudah memasuki bulan ke enam tinggal di Leeds. Akhir-akhir ini Sharon sudah jarang sekali menginap di tempat Darcy dan gua pun sekarang punya kesibukan baru saat weekend (kecuali saat musim dingin); memancing. Waktu itu gua iseng bersepeda pagi-pagi untuk alasan klise; berolahraga, padahal alasan aslinya adalah ’nyobain’ sepeda baru. Gua mengayuh sepeda nggak tentu arah, mengikuti kemana tangan ini mengendalikan setang sepeda, saat gua melihat dua orang pria tengah berjalan dengan menenteng joran dan semacam ’lunch box’, gua mengikutinya jauh dibelakang sampai akhirnya tiba disebuah danau kecil, yang ternyata banyak orang memancing disana, apalagi kalau saat liburan musim panas.
Dua orang pria tersebut duduk di tepi danau sambil mempersiapkan alat pancing-nya, gua menghampiri mereka. Setelah mengucapkan sedikit basa-basi gua mulai bertanya tentang jenis ikan apa saja yang ada di danau ini dan umpan apa saja yang tepat, salah seorang pria tersebut menjelaskan ke gua dengan sangat detail dan terperinci, gua Cuma ’manggut-manggut’ sambil sesekali ber-Oh ria. Setelah puas dengan penjelasan pria tersebut gua pamit dan berjalan menuntun sepeda meninggalkan mereka. Gua berhenti ditepi danau yang agak menjorok ke air, menyandarkan sepeda ke salah satu batang pohon dan berjalan ke tepi-nya.
Cuaca pagi akhir musim semi di Leeds yang begitu hangat menghembuskan angin beraroma pinus yang perlahan menyisir helai-helai rambut gua yang mulai memanjang. Air di danau yang ukurannya nggak lebih besar dari tiga kali luas lapangan sepakbola ini beriak pelan, menggerus tanah berpasir ditepi-nya, melambaikan bunga-bunga bakung yang tumbuh liar hampir diseluruh sisi danau, diseberang-nya terlihat sebuah siluet cerobong pabrik-pabrik yang tersembunyi dibalik gundukan-gundukan bukit kecil yang terasa kontras. Gua duduk disebuah batu kecil, memandangi burung-burung yang sesekali menukik pelan ke muka danau kemudian kembali terbang keatas, bergerombol mesra. Sambil bermain dengan rumput disekitar batu, gua mengeluarkan bungkusan rokok marlboro light dari saku celana training, mengularkannya sebatang. Tapi entah kenapa tangan ini enggan sekali menyulut rokok ini, gua memasukkannya kembali kedalam bungkus dan meletakkannya di tanah. Seandainya gua punya seseorang yang bisa duduk disamping gua saat ini, untuk bisa saling berbagi keindahan pemandangan ini dan berbagi ketenangan suasana-nya,.. alangkah nikmatnya. Tapi, ah.. sudahlah... Gua mengantongi bungkus rokok ke dalam saku celana dan beranjak pergi meninggalkan tempat ini.
Sebelum berbelok ke burnley rd untuk pulang kerumah, gua mampir sebentar ke sebuah toko yang menjual alat-alat memancing sesuai dengan petunjuk yang diberikan oleh dua orang pria di Danau tadi. Gua Cuma melihat-lihat sebentar kemudian bergegas keluar toko dan kembali kerumah, saat ini gua bener-bener nggak membawa uang sepeser pun, jadi mungkin minggu depan baru bisa beli tuh joran.
---
Musim panas di Leeds sedikit berbeda dengan di Indonesia. Kalau di Indonesia musim panas itu biasanya kalau kata orang betawi mah ’penter’ banget, panasnya luar biasa. Sedangkan musim panas di Leeds, masih boleh dibilang sedikit ramah, sepanas-panasnya suhu masih berkisar diantar 25-27 derajat celcius, itupun kalau orang inggris asli udah pada megap-megap seperti lintah dikasih garam, dan disinilah keuntungan gua sebagai orang yang berasal dari negara tropis, kebal panas. 25-27 derajat celicus di Indonesia mah nggak ada apa-apanya. Tapi yang bikin adalah saat ini kali pertama gua harus berpuasa di negara orang.
Hari ini, hari ketiga gua berpuasa dan hari ketiga pula gua nggak sahur. Dan yang bikin lebih nelangsa, bulan puasa tahun ini jatuh pas dimusim panas, jadi durasi siang lebih lama daripada malam, jam 4 dinihari sudah imsak dan baru jam 8 malam maghrib tiba, kalau dihitung-hitung gua berpuasa hampir 16 jam, silahkan bayangkan sendiri bagaimana rasanya. Ditambah, si Glen; orang yang jadi partner baru gua, juga pindahan dari London yang nggak henti-hentinya ber-’aahh’-ria setelah menenggak rootbeer dingin kalengan tepat dihadapan gua, sambil menelan ludah gua Cuma bisa beristgfar.
Mungkin boleh dibilang ini adalah salah satu bulan puasa terberat dalam hidup gua; durasi-nya yang lama, sendirian dan jauh dari keluarga.
Hari ketujuh puasa gua jalani dan sepertinya gua sudah mulai terbiasa dengan bermacam-macam ’godaan’ yang datang menghampiri, entah kebiasaan Glen minum bir dingin disiang hari sampai gadis-gadis remaja yang mengenakan tank-top dan mini hotpants (udah hot pants, mini lagi) disepanjang jalan. Gua juga sudah mulai terbiasa untuk bangun jam 2 dini hari untuk sahur, walaupun menu-nya nggak pernah berubah; mie instan, terkadang gua sahur menikmati mie instan dalam gelapnya dapur sambil berlinang air mata (nggak nangis lho, Cuma berlinang) kalau teringat betapa ’nggak enak’nya hidup sendirian dan jauh dari keluarga. Tapi, ini jalan yang sudah gua putuskan untuk dijalani, go big or go home.
Sebulan berpuasa di negri orang membuat gua akhirnya betul-betul sadar akan makna dari puasa. Dulu waktu masih di Indonesia, gua nggak pernah bisa memaknai arti puasa yang sesungguhnya, arti dari menahan hawa nafsu dan bukan sekedar menahan lapar dan haus.
Gua duduk disofa hitam, menghadap ke tivi yang gua ’mute’ suaranya dan menyiarkan acara pertandingan golf. Gue menyandarkan kepala disandaran sofa, masih mengenakan kemeja panjang dan celana katun sehabis dari Makka Masjid, menunaikan sholat idul fitri. Suara takbir yang mengalun dari laptop gua terdengar samar, gua mengambil ponsel dan menghubungi nyokap, nggak sampai dua kali bunyi nada sambung, terdengar suara nyokap dari ujung sana;
”Assalamualaikum...”
Suara nyokap terdengar parau, dia pasti nangis.
”Waalaikumsalam.. mak.. mak.. maafin oni ya, nggak bisa pulang kesana, taqoballahu minna waminkum, minal aidin wal faidzin ya mak...”
”Iya ni, sama-sama.. maapin emak yak, lu udah makan ketupat apa belon ni?”
”Udah mak, tadi di masjid, tapi rasanya nggak kaya bikinan emak..”
”Iyadah, ni baba lu mau ngomong..”
”Iya..”
Hening sebentar, kemudian terdengar suara berat bokap diujung sana;
”Ni.. baba nih..”
”Iya ba, taqoballahu minna waminkum, minal aidin wal faidzin ya ba, oni banyak salah, sama baba..”
”Iya ni, baba yang tua juga banyak salah sama oni.. sama-sama dah.. sehat lu?”
”Alhamdulillah sehat ba.., baba sehat?”
”Alhamdulillah sehat..”
Kemudian terdengar teriakanIka dibalik suara bokap.
”Hallo bang... kok nggak balik?”
”... taqoballahu minna waminkum, minal aidin wal faidzin ya dek.. iya nggak bisa ijin balik nih abang...”
”Iya sama-sama bang, minal aidin yak.. maapin Ika ya..”
”Iya, eh dek.. pada sehat semua kan?”
”Iya sehat kok, Cuma emak aja nih nggak berenti-berenti nangis..”
”Nangis kenapa?”
”Nangisin elu combro..”
”Oh.. udah bilang ke emak, jangan nangis mulu, ntar gua jadi nggak doyan makan disini..”
”Iya ntar ika bilangin..”
”Yaudah abang tutup ya, jagain baba sama emak tuh, jangan kelayapan mulu..”
”Iya abaaang...”
”Assalamualaikum..”
”kumsalam..”
Tut tut tut tut.
Gua meletakkan ponsel di meja kemudian menyeka linangan air mata yang hampir menetes disudut mata gua. (Berlinang lho, bukannya nangis). Gua berdiri, masuk kekamar dan memandang keluar lewat jendela, suasana Idul Fitri disini nggak ada bedanya dengan hari-hari lainnya, nggak ada takbiran keliling malam menjelang lebaran, nggak ada suara takbir pagi sebelum solat idul fitri dan nggak ada orang-orang yang berkeliling, saling mengunjungi untuk bersilaturahmi, maaf memaafkan dan memberikan uang untuk keponakan-keponakan. Gua merebahkan diri di kasur saat terdengar ketukan di pintu depan, gua berdiri dan bergegas membuka pintu. Darcy berdiri membawa sebuah kue labu berwarna cokelat, masih menggunakan sarung tangan oven-nya. Kemudian dia melangkah masuk dan meletakkan kue tersebut diatas meja;
”Well, Happy Ied..”
Darcy menepuk pundak gua kemudian ngeloyor pergi.
Gua menyusulnya, mengucapkan terima kasih dan membukakan pintu untuknya.
Sambil menggumamkan takbir gua mulai memotong kecil-kecil kue yang tadi diantarkan Darcy, mengambilnya sepotong dan meletakkan sisa-nya kedalam kulkas. Darcy; ’orang inggris’ asli yang masih menyimpan rasa sosialisme yang tinggi ditengah-tengah modernisasi anti toleransi di Inggris.
Gua memandang ponsel dan membaca satu persatu pesan masuk yang rata-rata mengucapkan Selamat Idul Fitri, bahkan ada beberapa yang seperti menggunakan template pesan yang sama, hanya nama pengirimnya saja yang berbeda. Sambil menikmati kue dari Darcy, gua membalasnya satu persatu. Mata gua terhenti di satu salah satu pesan masuk yang belum terbuka; dari Resti.Gua membuka pesan tersebut dan membacanya;
“Halo Jagoan? Apa kbr? Selamat Lebaran ya, semoga puasa lo diterima”
Gua tersenyum kemudian membalasnya, singkat.
“Terima kasih, selamat lebaran juga”
Baru selesai gua menekan tombol ‘send’ ponsel gua berbunyi, muncul nama ‘beruk’ di layar ponsel gua.
“Hallo..”
“Hallo broo... selamat lebaran ye, minal aidin wal faidzin..”
“Haha..iya sama-sama ruk..”
“Oiya, solat ied nggak lu tadi..?”
“Solat lah..”
“Manteb, gua malah ketiduran..hahahaha.”
“Parah..”
“Oiya, minggu depan kemari bon.. nonton united..”
“Mmmm.. liat ntar deh..”
“Ngapain si lu emang? Udah nggak usah pikir panjang.. ntar gua bay..arin”
“Oke sip, minggu depan gua bisa..”
“Njir.. cepet banget lu kalo gratisan..”
“Ya iyalah.. ongkos gua kesono aja udah mahal cooy..”
“Yaudah ntar gua kabarin lagi..”
“Oke deh..”
Gua mengakhiri panggilan dari heru dan melanjutkan menikmati kue labu buatan Darcy.
---
Seminggu kemudian.
Gua tengah berada dalam sebuah kabin kereta yang meluncur cepat menuju ke Manchester. Kayaknya memang kesempatan nonton United langsung di Old Trafford secara Gratis nggak bisa disia-siakan dan mungkin bisa jadi salah satu bahan referensi buat bahan tulisan gua tentang sepak bola.
Jam 12 tepat. Gua sudah berada di stasiun Piccadilly, Manchester. Terpajang tulisan billboard besar dengan tulisan ’Welcome to Manchester’, Gua berjalan cepat melewati kerumunan orang-orang yang sebagian besar mengenakan jersey putih, saat tiba dipintu keluar stasiun gua dikagetkan oleh tepukan tangan seseorang di pundak, gua menoleh; Ah kampret beruk bikin kaget aja.
“Welcome to Manchester..”
Heru berujar sambil membentangkan kedua tangannya.
“Hahaha.. oke apa yang bakal gua dapet disini?”
“Tour Manchester gratis bersama pemandu anda, Heru.. silahkan lewat sini tua.”
Gua dan Heru berjalan keluar dari stasiun dan langsung naik ke sebuah bus yang membawa gua ke pinggir kota Manchester.
Jam satu lebih sedikit, gua sudah berada di Sir Matt Busby Street, sebuah jalan yang dinamai dengan nama salah satu legenda Manchester United. Dari sini kemegahan Old Trafford sudah terlihat, salah satu stadion terbesar di Inggris ini terlihat begitu angker dan megah dari kejauhan;
“Wah ini toh stadion yang selalu dibangga-bangakan oleh Manchunian.”
Gua berkelakar sambil memandang jauh ke arah Stadion Old Trafford.
“Sorry bon, gua ralat... Manchunian itu bukan sebutan yang tepat untuk fans United..”
“Lho bukannya emang itu sebutannya?”
“Manchunian itu sebenarnya sebutan untuk penduduk Manchester secara keseluruhan yang artinya bisa aja fans city dan fans united...”
“Lah terus kalo fans United disebutnya apa?”
“Ada banyak sebutannya, tapi yang paling famous jelas aja Reds army.. “
“Oooh gitu..”
“Coba tadi lu dateng lebih cepet, kita bisa ngikut tur keliling stadion tuh..”
“Kesiangan gua tadi.. emang kalo sekarang nggak keburu?”
“Kagak lah, penonton udah pada masuk.. nih lu baca-baca brosurnya aja, laen waktu baru kesini lagi ikut tur..”
Gua mengambil brosur yang diserahkan heru dan mulai membacanya. Dari yang gua baca lewat brosur, sepertinya sudah cukup menggambarkan betapa megahnya Stadion ini, didalamnya terdapat lorong Munich yang dibuat untuk memperingati tragedi Munich yang menewaskan hampir seluruh tim united, ada pula mega store, tempat untuk membeli pernak-pernik sampai jersey United dan museum yang memajang trophy-trophy torehan united dan yang nggak ketinggalan adalah tur ke ruang ganti pemain;
“Ruk, ini kita tur ke ruang ganti pemain juga?”
“Iya.. tapi bukan ruang ganti yang aslinya, Cuma replikanya aja yang bakal dikunjungi..”
“Lah didalem stadion ada kantor polisi nya juga?”
Gua bertanya heran ke heru sambil menunjuk salah satu fasilitas yang terpampang di brosur; ‘Kantor polisi’ yang bagi gua terasa janggal untuk berada didalam sebuah stadion, pun untuk klub sekelas United.
“Bahkan ada sel penjaranya juga lho, bon..”
Heru menambahkan.
“Ah masa sampe ada penjaranya juga, bakal apa?”
“Bakal menjarain fans-fans nya city.. hahahahaha...”
Gua tersenyum mendengar omongan heru, dan mata gua tertuju ke bagian belakang brosur tertera disana harga tiket tour keliling stadion yang Cuma £8.
Gua melipat brosur tersebut dan memasukannya ke saku belakang celana jeans gua. Kemudian kami sampai di gate entrance untuk memasuki stadion. Suara gemuruh penonton menggema diseisi stadion, bulu kuduk gua merinding mendengar riuh rendah suara yang menggema senada dan seirama;
“Tuh Glory-glory-United udah berkumandang...”
Heru berbicara sambil setengah berteriak ditelinga gua.
vizardan dan 16 lainnya memberi reputasi
17
Kutip
Balas
![Accidentally In Love [True Story]](https://s.kaskus.id/images/2014/04/07/6448808_20140407033338.jpg)