- Beranda
- Stories from the Heart
Accidentally In Love [True Story]
...
TS
robotpintar
Accidentally In Love [True Story]
![Accidentally In Love [True Story]](https://s.kaskus.id/images/2014/02/14/6448808_20140214023854.png)
Spoiler for Cover:
![Accidentally In Love [True Story]](https://s.kaskus.id/images/2014/02/14/6448808_20140214024411.png)
So she said what's the problem baby
What's the problem I don't know
Well maybe I'm in love (love)
Think about it every time
I think about it
Can't stop thinking 'bout it
How much longer will it take to cure this
Just to cure it cause I can't ignore it if it's love (love)
Makes me wanna turn around and face me but I don't know nothing 'bout love
Come on, come on
Turn a little faster
Come on, come on
The world will follow after
Come on, come on
Cause everybody's after love
So I said I'm a snowball running
Running down into the spring that's coming all this love
Melting under blue skies
Belting out sunlight
Shimmering love
Well baby I surrender
To the strawberry ice cream
Never ever end of all this love
Well I didn't mean to do it
But there's no escaping your love
These lines of lightning
Mean we're never alone,
Never alone, no, no
We're accidentally in love
Accidentally in love [x7]
Accidentally I'm In Love
Spoiler for Bagian 1:
#1
Quote:
“Gila lu Bon, roti segitu banyak sayang-sayang bakal empan ikan semua!”
“Emang ngapa? Ikan jaman sekarang mah ogah makan cacing, Meng”
Gua jawab aja sekena-nya, memang niatnya gua bawa roti dari rumah buat bekal pas mancing tapi, gara-gara umpan cacing gua dari tadi nggak disentuh ikan terpaksa gua ganti dengan roti. Siapa tau mujarab.
Nggak seberapa berselang, tali pancing gua bergetar, refleks gua tarik joran sekuatnya dan mendarat dengan mulus seekor ikan yang kurang lebih seukuran telapak tangan.
“Anjritt.. dari tadi dapet sapu-sapu mulu gua!”
Sambil melepas mata kail dari mulut ikan sapu-sapu yang barusan gua angkat dan langsung gua lempar lagi kedalam kali.
Tidak berapa lama, melantun lagu “Time Like This”-nya Foo Fighter dari ponsel gua. Tertera tulisan “Rumah” dilayarnya.
“Kenapa mak?”
Karena memang cuma nyokap gua aja yang selalu telpon melalui telepon rumah. Bokap dan adik gua selalu menggunakan ponsel-nya masing-masing jika ada keperluan.
“Assalamualaikum , Mancing kagak rapi-rapi luh, nih ada kiriman surat buat elu”
“Dari siapa?”
“Kagak tau, bahasanya emak nggak ngerti”
“Simpenin dulu, nih aye udah mau pulang”
“Yaudah buruan, jangan maghriban dijalan, pamali. Assalamualaikum”
“Waalaikumsalam”
Gua kantongin lagi ponsel k-ekantong celana pendek yang sekarang udah kotor campur lumpur, sambil berteriak ke temen gua; Komeng, yang lagi berkutat dengan tali pancingnya yang kusut.
“Meng, ayo balik.. udah sore”
“Belon juga dapet sekilo, udah mau balik aje”
“Yauda elu terusin dah, gua balik duluan”
Komeng menjawab dengan sedikit gumam di bibirnya terdengar seperti “Yaelah..” sambil berjalan gontai menyusul gua.
------
Itu kejadian beberapa tahun yang lalu, dimana gua dan Komeng masih biasa mencari cacing buat umpan ikan di kebun singkong belakang rumahnya Haji Salim dan kemudian pergi memancing disepanjang pinggiran sungai Pesanggrahan, Jakarta.
Sekarang, gua sedang duduk sambil bersandar di sebuah kursi lipat di pinggir danau di daerah Leeds, Inggris. Menghabiskan hari libur akhir musim gugur dengan memancing sambil bernostalgia, mencoba membangkitkan memori tentang memancing, tentang si Komeng, tentang Jakarta, tentang rumah.
Setelah berjam-jam memancing, menghabiskan berkaleng-kaleng ‘Diet Coke’ akhirnya gua memutuskan untuk menyudahi kegiatan sialan ini. Pulang dengan membawa 6 Ekor ikan Yelowtail (di Indonesia disebut ikan patin) dan sedikit kenangan tentang ‘rumah’, gua berjalan gontai menuju tempat dimana sepeda kesayangan gua diparkir, sempat kebingungan awalnya karena sekarang ada banyak sepeda yang diparkir, padahal tadi pagi baru sepeda gua aja yang nongkrong disini, setelah celingak-celinguk akhirnya ketemu juga dan gua mulai mengayuh.
Jarak dari tempat gua biasa mancing ke tempat dimana gua tinggal di Moorland Ave, Leeds kurang lebih 3,5 mil atau kalau dalam satuan Kilometer sekitar 5,5 Km. Jarak segitu kalo disini, di Inggris bisa dibilang ‘deket’, kalau naik sepeda bisa cuma 30 menit.
Oiya, nama gua Boni. Gua lahir dan dibesarkan di Jakarta. Saat ini gua kerja dan tinggal di Leeds, Inggris sekitar 2-3 jam dari London (dengan kereta). Gua kerja sebagai Sound Designer disalah satu Agensi perfilman dan periklanan di Leeds yang juga punya kantor di London. Sudah hampir 4 tahun gua kerja dan tinggal disini, ditempat dimana nggak ada sungai dengan air berwarna cokelat keruh yang banyak ikan sapu-sapunya dan nggak ada teman yang suka menggerutu “Yaelah”.
Sambil mendengarkan “Heaven” nya Lost Lonely Boys lewat headset, gua mengayuh sepeda menuju ke rumah, pulang. Melewati jalan berpasir yang dipenuhi pohon-pohon maple di kedua sisinya menuju jalan utama. Jalan yang sangat sepi dan hening, jam menunjukkan angka 4 sore, menandakan waktu shalat maghrib, di sabtu sore seperti sekarang ini memang didaerah sini sangat sepi, kebanyakan penduduk sekitar sedang ke stadion atau pub-pub untuk menyaksikan Leeds United bertanding. Ingin buru-buru sampai di rumah, karena perut udah mulai keroncongan, gua kayuh sepeda lebih cepat. Sampai kemudian terdengar sayup-sayup suara musik yang makin lama makin nyaring, suara musik RnB yang sepertinya diputar dari dalam mobil dengan volume maksimal. Suara tersebut datang dari arah belakang dan kemudian menyusul gua, sebuah BMW silver yang melaju cepat bahkan boleh dibilang sangat cepat, sambil meninggalkan debu persis seperti mobil yang sedang Rally Dakkar.
“Orang Gila!!” gua mengumpat, masih sambil dengerin coda lagu “Heaven” nya Lost Lonely Boys. Sampai gua melihat beberapa detik kemudian lampu rem BMW tersebut menyala dan kemudian berhenti.
Deg!, “Wuanjrit, sakti juga tuh orang bisa denger suara gua” sambil berhenti dan melepas headset dari telinga. Yang ternyata setelah gua sadar, suara gua nggak sepelan pas pakai headset tadi. Gua nunggu sambil dag dig dug, kalau dia ngerti ucapan gua, dia pasti orang Indonesia dan kalo ternyata bukan gua bakal siap-siap kabur.
Pintu penumpang pun terbuka, terbuka secara paksa tepatnya, sedetik kemudian keluar seseorang dari kursi penumpang, terhuyung dan kemudian terjatuh, terdengar makian dari dalam BMW tersebut mungkin seperti “bitch” atau semacamnya dan sesaat kemudian BMW tersebut pergi, mengasapi orang yang tersungkur itu dengan debu jalanan.
Nggak mau terlalu ambil pusing, sambil bernafas lega dan bilang dalam hati; “untung bukan gua”, gua meneruskan mengayuh sepeda.
“Get up Bro, life is brutal”
gua berkata ke orang itu sambil melewatinya tetap melanjutkan mengayuh. Dan beberapa meter kemudian gua mendengar sebuah teriakan, teriakan yang (pada akhirnya) bakal merubah hidup gua.
“Woii.. Help me!, you’re Indonesian, right?”
“Tolongin gue dong…”
Gua berhenti mengayuh, turun dan bengong. Sudah hampir setahun gua nggak denger secara langsung orang bicara ke gua dengan bahasa Indonesia dan suara perempuan pula.. Lima, ah mungkin sepuluh detik kemudian baru gua memalingkan muka tapi masih tetap bengong.
“Woii..”
Akhirnya gua turun dari sepeda, kemudian menghampiri orang itu. Terduduk di depan gua sosok perempuan, hitam manis dengan kepala tertutup hood jaket hitam, celana jeans dan sepatu model boots sebetis berwarna cokelat.
“Elu nggak apa-apa?”
“Menurut Lo? Kalo gue gak apa-apa, ngapain gua teriak minta tolong elu!!”
Gua nggak menjawab, berusaha membantu dia berdiri sambil bertanya lagi bagaimana keadaannya. Sekali lagi dia mengumpat;
“Gila!, nggak punya hati banget sih lu!, ya jelas lah gue kenapa-kenapa.. nih liat!”
Sambil memperlihatkan telapak tangan dan siku-nya yang luka dan kemudian menyibak celana jeans-nya yang kotor terkena debu dan sobek di beberapa bagian akibat terlempar dari mobil tadi. Sesaat baru dia sadar kalau lutut kanannya juga luka sambil meringis kesakitan dia mencoba membersihkan luka tersebut dengan air liurnya. Sangat Indonesia sekali.
“Gua pikir tadi orang mabok yang lagi berantem, disini mah biasa begitu,mbak!”
Kemudia gua kasih satu-satunya ‘Diet Coke’ sisa memancing tadi, harusnya sih air putih tapi Cuma itu yang gua punya sekarang. Sambil menggerutu karena dikasih ‘Diet Coke’ daripada air putih, diminum juga tuh minuman soda. Kemudian gua menawarkan diri buat mengantar dia ke sebuah toko kecil di ujung jalan ini, untuk membeli plester untuk membalut luka-nya.
“Jauh nggak?”
Dia bertanya sambil menurunkan hood jaketnya dan menyibak rambutnya yang pendek seleher. Kemudian terlihat jelas sebuah luka lebam di sudut mata sebelah kiri-nya, tidak, bukan cuma satu, setidaknya ada 3 luka lebam, selain disudut matanya, satu lagi di dahi sebelah kiri dan satu lagi di sudut bibir sebelah kanan, yang terakhir tampak seperti luka yang baru karena masih meninggalkan sisa bekas darah yang membeku.
Gua nggak berani bertanya, gua hindari menatap kewajahnya sambil menjawab pertanyaa-nya bahwa tokonya nggak begitu jauh dari sini, sambil menunjuk ke arah jalan utama.
---
“Emang ngapa? Ikan jaman sekarang mah ogah makan cacing, Meng”
Gua jawab aja sekena-nya, memang niatnya gua bawa roti dari rumah buat bekal pas mancing tapi, gara-gara umpan cacing gua dari tadi nggak disentuh ikan terpaksa gua ganti dengan roti. Siapa tau mujarab.
Nggak seberapa berselang, tali pancing gua bergetar, refleks gua tarik joran sekuatnya dan mendarat dengan mulus seekor ikan yang kurang lebih seukuran telapak tangan.
“Anjritt.. dari tadi dapet sapu-sapu mulu gua!”
Sambil melepas mata kail dari mulut ikan sapu-sapu yang barusan gua angkat dan langsung gua lempar lagi kedalam kali.
Tidak berapa lama, melantun lagu “Time Like This”-nya Foo Fighter dari ponsel gua. Tertera tulisan “Rumah” dilayarnya.
“Kenapa mak?”
Karena memang cuma nyokap gua aja yang selalu telpon melalui telepon rumah. Bokap dan adik gua selalu menggunakan ponsel-nya masing-masing jika ada keperluan.
“Assalamualaikum , Mancing kagak rapi-rapi luh, nih ada kiriman surat buat elu”
“Dari siapa?”
“Kagak tau, bahasanya emak nggak ngerti”
“Simpenin dulu, nih aye udah mau pulang”
“Yaudah buruan, jangan maghriban dijalan, pamali. Assalamualaikum”
“Waalaikumsalam”
Gua kantongin lagi ponsel k-ekantong celana pendek yang sekarang udah kotor campur lumpur, sambil berteriak ke temen gua; Komeng, yang lagi berkutat dengan tali pancingnya yang kusut.
“Meng, ayo balik.. udah sore”
“Belon juga dapet sekilo, udah mau balik aje”
“Yauda elu terusin dah, gua balik duluan”
Komeng menjawab dengan sedikit gumam di bibirnya terdengar seperti “Yaelah..” sambil berjalan gontai menyusul gua.
------
Itu kejadian beberapa tahun yang lalu, dimana gua dan Komeng masih biasa mencari cacing buat umpan ikan di kebun singkong belakang rumahnya Haji Salim dan kemudian pergi memancing disepanjang pinggiran sungai Pesanggrahan, Jakarta.
Sekarang, gua sedang duduk sambil bersandar di sebuah kursi lipat di pinggir danau di daerah Leeds, Inggris. Menghabiskan hari libur akhir musim gugur dengan memancing sambil bernostalgia, mencoba membangkitkan memori tentang memancing, tentang si Komeng, tentang Jakarta, tentang rumah.
Setelah berjam-jam memancing, menghabiskan berkaleng-kaleng ‘Diet Coke’ akhirnya gua memutuskan untuk menyudahi kegiatan sialan ini. Pulang dengan membawa 6 Ekor ikan Yelowtail (di Indonesia disebut ikan patin) dan sedikit kenangan tentang ‘rumah’, gua berjalan gontai menuju tempat dimana sepeda kesayangan gua diparkir, sempat kebingungan awalnya karena sekarang ada banyak sepeda yang diparkir, padahal tadi pagi baru sepeda gua aja yang nongkrong disini, setelah celingak-celinguk akhirnya ketemu juga dan gua mulai mengayuh.
Jarak dari tempat gua biasa mancing ke tempat dimana gua tinggal di Moorland Ave, Leeds kurang lebih 3,5 mil atau kalau dalam satuan Kilometer sekitar 5,5 Km. Jarak segitu kalo disini, di Inggris bisa dibilang ‘deket’, kalau naik sepeda bisa cuma 30 menit.
Oiya, nama gua Boni. Gua lahir dan dibesarkan di Jakarta. Saat ini gua kerja dan tinggal di Leeds, Inggris sekitar 2-3 jam dari London (dengan kereta). Gua kerja sebagai Sound Designer disalah satu Agensi perfilman dan periklanan di Leeds yang juga punya kantor di London. Sudah hampir 4 tahun gua kerja dan tinggal disini, ditempat dimana nggak ada sungai dengan air berwarna cokelat keruh yang banyak ikan sapu-sapunya dan nggak ada teman yang suka menggerutu “Yaelah”.
Sambil mendengarkan “Heaven” nya Lost Lonely Boys lewat headset, gua mengayuh sepeda menuju ke rumah, pulang. Melewati jalan berpasir yang dipenuhi pohon-pohon maple di kedua sisinya menuju jalan utama. Jalan yang sangat sepi dan hening, jam menunjukkan angka 4 sore, menandakan waktu shalat maghrib, di sabtu sore seperti sekarang ini memang didaerah sini sangat sepi, kebanyakan penduduk sekitar sedang ke stadion atau pub-pub untuk menyaksikan Leeds United bertanding. Ingin buru-buru sampai di rumah, karena perut udah mulai keroncongan, gua kayuh sepeda lebih cepat. Sampai kemudian terdengar sayup-sayup suara musik yang makin lama makin nyaring, suara musik RnB yang sepertinya diputar dari dalam mobil dengan volume maksimal. Suara tersebut datang dari arah belakang dan kemudian menyusul gua, sebuah BMW silver yang melaju cepat bahkan boleh dibilang sangat cepat, sambil meninggalkan debu persis seperti mobil yang sedang Rally Dakkar.
“Orang Gila!!” gua mengumpat, masih sambil dengerin coda lagu “Heaven” nya Lost Lonely Boys. Sampai gua melihat beberapa detik kemudian lampu rem BMW tersebut menyala dan kemudian berhenti.
Deg!, “Wuanjrit, sakti juga tuh orang bisa denger suara gua” sambil berhenti dan melepas headset dari telinga. Yang ternyata setelah gua sadar, suara gua nggak sepelan pas pakai headset tadi. Gua nunggu sambil dag dig dug, kalau dia ngerti ucapan gua, dia pasti orang Indonesia dan kalo ternyata bukan gua bakal siap-siap kabur.
Pintu penumpang pun terbuka, terbuka secara paksa tepatnya, sedetik kemudian keluar seseorang dari kursi penumpang, terhuyung dan kemudian terjatuh, terdengar makian dari dalam BMW tersebut mungkin seperti “bitch” atau semacamnya dan sesaat kemudian BMW tersebut pergi, mengasapi orang yang tersungkur itu dengan debu jalanan.
Nggak mau terlalu ambil pusing, sambil bernafas lega dan bilang dalam hati; “untung bukan gua”, gua meneruskan mengayuh sepeda.
“Get up Bro, life is brutal”
gua berkata ke orang itu sambil melewatinya tetap melanjutkan mengayuh. Dan beberapa meter kemudian gua mendengar sebuah teriakan, teriakan yang (pada akhirnya) bakal merubah hidup gua.
“Woii.. Help me!, you’re Indonesian, right?”
“Tolongin gue dong…”
Gua berhenti mengayuh, turun dan bengong. Sudah hampir setahun gua nggak denger secara langsung orang bicara ke gua dengan bahasa Indonesia dan suara perempuan pula.. Lima, ah mungkin sepuluh detik kemudian baru gua memalingkan muka tapi masih tetap bengong.
“Woii..”
Akhirnya gua turun dari sepeda, kemudian menghampiri orang itu. Terduduk di depan gua sosok perempuan, hitam manis dengan kepala tertutup hood jaket hitam, celana jeans dan sepatu model boots sebetis berwarna cokelat.
“Elu nggak apa-apa?”
“Menurut Lo? Kalo gue gak apa-apa, ngapain gua teriak minta tolong elu!!”
Gua nggak menjawab, berusaha membantu dia berdiri sambil bertanya lagi bagaimana keadaannya. Sekali lagi dia mengumpat;
“Gila!, nggak punya hati banget sih lu!, ya jelas lah gue kenapa-kenapa.. nih liat!”
Sambil memperlihatkan telapak tangan dan siku-nya yang luka dan kemudian menyibak celana jeans-nya yang kotor terkena debu dan sobek di beberapa bagian akibat terlempar dari mobil tadi. Sesaat baru dia sadar kalau lutut kanannya juga luka sambil meringis kesakitan dia mencoba membersihkan luka tersebut dengan air liurnya. Sangat Indonesia sekali.
“Gua pikir tadi orang mabok yang lagi berantem, disini mah biasa begitu,mbak!”
Kemudia gua kasih satu-satunya ‘Diet Coke’ sisa memancing tadi, harusnya sih air putih tapi Cuma itu yang gua punya sekarang. Sambil menggerutu karena dikasih ‘Diet Coke’ daripada air putih, diminum juga tuh minuman soda. Kemudian gua menawarkan diri buat mengantar dia ke sebuah toko kecil di ujung jalan ini, untuk membeli plester untuk membalut luka-nya.
“Jauh nggak?”
Dia bertanya sambil menurunkan hood jaketnya dan menyibak rambutnya yang pendek seleher. Kemudian terlihat jelas sebuah luka lebam di sudut mata sebelah kiri-nya, tidak, bukan cuma satu, setidaknya ada 3 luka lebam, selain disudut matanya, satu lagi di dahi sebelah kiri dan satu lagi di sudut bibir sebelah kanan, yang terakhir tampak seperti luka yang baru karena masih meninggalkan sisa bekas darah yang membeku.
Gua nggak berani bertanya, gua hindari menatap kewajahnya sambil menjawab pertanyaa-nya bahwa tokonya nggak begitu jauh dari sini, sambil menunjuk ke arah jalan utama.
---
DAFTAR ISI
Quote:
CHAPTER 1
#1 The Beginning
#2 Truly Gentlemen
#3 Place Called Home
#4 The Morning Fever
#5 A Miserable Story
#6 Night Rain
#7 Inside My Head
#8 That Day
#9 Be Tough
#10 Mukena
#1 The Beginning
#2 Truly Gentlemen
#3 Place Called Home
#4 The Morning Fever
#5 A Miserable Story
#6 Night Rain
#7 Inside My Head
#8 That Day
#9 Be Tough
#10 Mukena
Quote:
CHAPTER 2
#11-A Trip To Manchester
#11-B The Swiss Army
#12 Here's and Back Again
#13 I Miss You So Bad
#14 Going Mad
#15 Promise
#16 You’ll Be The Only Light I See
#17 The Winter Tears
#18 She's Gone
#19 That Memories
#11-A Trip To Manchester
#11-B The Swiss Army
#12 Here's and Back Again
#13 I Miss You So Bad
#14 Going Mad
#15 Promise
#16 You’ll Be The Only Light I See
#17 The Winter Tears
#18 She's Gone
#19 That Memories
Quote:
CHAPTER 3
[URL="http://www.kaskus.co.id/show_post/530ff7e41acb17030d8b48f1/479/- "]#19-A The Hood[/URL]
#19-B Heres And Back Again II
#19-C Weak
#19-D Surrender
#19-E The Choice
#19-F Anything For You
#19-G Chelsea Number 8
#19-H Its not always about gold and glory
#19-I Aku
#19-J The Words
#19-K The Persian Cat
#19-L You Really The Only Light I See
#19-M So Be It
#19-N Less Than Perfect
#20 That Day II
[URL="http://www.kaskus.co.id/show_post/530ff7e41acb17030d8b48f1/479/- "]#19-A The Hood[/URL]
#19-B Heres And Back Again II
#19-C Weak
#19-D Surrender
#19-E The Choice
#19-F Anything For You
#19-G Chelsea Number 8
#19-H Its not always about gold and glory
#19-I Aku
#19-J The Words
#19-K The Persian Cat
#19-L You Really The Only Light I See
#19-M So Be It
#19-N Less Than Perfect
#20 That Day II
Quote:
CHAPTER 4 The Prekuel
#21 The Prologue
#22 My Precious
#23 Ticket to Ride
#24 Singapore
#25 Dreams
#26 The Awkward Moment
#27 Logic
#28 Driver In Life
#29 The Risk Taker
#30 Sorry
#31 Rise Again
#32 Goodbye
#21 The Prologue
#22 My Precious
#23 Ticket to Ride
#24 Singapore
#25 Dreams
#26 The Awkward Moment
#27 Logic
#28 Driver In Life
#29 The Risk Taker
#30 Sorry
#31 Rise Again
#32 Goodbye
Quote:
CHAPTER 5!!
#33 London
#34 Unwell
#35 I Was Here
#36 Leeds
#37 New Home, New Life
#38 Alone
#39 Intermezo
#40 Goin' Trough
#41 At Glance
#42 The Past of The Future
#33 London
#34 Unwell
#35 I Was Here
#36 Leeds
#37 New Home, New Life
#38 Alone
#39 Intermezo
#40 Goin' Trough
#41 At Glance
#42 The Past of The Future
Quote:
CHAPTER 6
#43 My First ...
#44 If Lovin' You ...
#45 Goin' Back
#46 Leeds II
#47 I Love You (Jealousy)
#48 After All
#49 Hell Yeah
#50 Conflict
#51 Liar-Liar
#52 Memories
#43 My First ...
#44 If Lovin' You ...
#45 Goin' Back
#46 Leeds II
#47 I Love You (Jealousy)
#48 After All
#49 Hell Yeah
#50 Conflict
#51 Liar-Liar
#52 Memories
Quote:
Quote:
Diubah oleh robotpintar 10-04-2014 08:46
carangkasampah dan 121 lainnya memberi reputasi
120
1.3M
Kutip
2.3K
Balasan
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
robotpintar
#1362
Spoiler for Bagian ke Tiga Puluh Enam:
#36 Leeds
Quote:
Gua turun dari Virgin train bersama sebuah koper dan ransel dipunggung menatap kosong ke sebuah stasiun yang ’katanya’ bernama Leeds Station. Gua duduk sebentar memandang ke sebuah kartu nama yang berisi alamat sebuah tempat yang bakal jadi kantor gua disini. Gua pernah mencoba bertanya ke Clark, kenapa kita juga punya kantor di Leeds; Clark menjelaskan bahwa kalau sebelumnya memang perusahaan ini awalnya meniti karir di Leeds, seiring berkembangnya perusahaan dan kebutuhan akan sebuah prestige maka perusahaan mendirikan kantor di London.
Gua berjalan keluar stasiun, udara dingin bulan oktober mulai menyisir dan membelai rambut, membuat gua sedikit bergidik kedinginan. Setelah mengeluarkan jaket dan memakainya gua berjalan menghampiri seorang petugas polisi yang tengah berdiri disudut jalan.
Ternyata petugas polisi disini boleh dibilang ’sedikit’ lebih ramah daripada yang di London. Gua berjalan menyusuri trotoar di sepanjang jalan Prince St kemudian berbelok ke kanan sesuai dengan petunjuk dari petugas polisi tadi, setelah melalui sebuah ’alley’ gua sedikit berbelok ke kiri dijalan Aire st, dari sana terlihat sebuah bangunan dari bata merah natural, enam lantai, sebagian terdiri dari kaca-kaca besar disalah satu bagian, terdapat tangga-tangga diujungnya dan semacam rolling door atau hampir menyerupai garasi di ujung satunya. Gua mencocokkan nomor yang terpampang di temboknya (karena gua nggak menemui adanya papan nama atau semacamnya) dengan kartu nama yang gua bawa. Setelah benar-benar yakin, gua menuju ke sebuah pintu besar yang terbuat dari kaca, membukanya dan masuk kedalam. Gua melangkah melalui ruangan Lobi besar dimana terdapat sofa-sofa berwarna merah berbahan beludru lembut dan dindingnya dihiasai berbagai macam lukisan dan poster-poster, menuju ke meja resepsionis dimana seorang wanita tengah baya dengan kacamata rendah menatap ke arah gua.
”Good Afternoon, ma’am..”
”Hmmm..”
”I’d like to meet Mr.Robinson..”
Gua menyodorkan sebuah kartu nama dan surat pengantar dari Kantor London ke wanita tersebut. Dia mengambilnya, membacanya sebentar, kemudian memandang ke arah gua dari atas sampai ke bawah dan mengangkat gagang telepon.
”Third Level...first room at the alley..”
Wanita tersebut memberitahu kemana gua harus pergi sambil menunjuk ke arah tangga spiral menuju ke atas. Gua mengucapkan terima kasih sambil melewatinya dan bergegas menuju ke tangga.
Sampai di lantai atas, tidak sulit untuk menemukan ruangan tersebut karena memang disitu tidak ada ruangan lain yang menyerupai sebuah ruangan kantor, ruangan-ruangan lain terlihat seperti sebuah studio ber-lantai kayu, dengan sebuah kaca jendela besar yang mirip showroom. Gua mengetuk pintu besar berwarna putih dan masuk, disambut oleh sosok pria ’sedikit’ tua dengan rambut yang mulai membotak dibagian belakangnya; Mr. Robinson. Ini adalah pertemuan gua yang ke tiga dengan Mr.Robinson, setelah dua kali pertemuan di kantor London. Mr.Robinson berdiri kemudian mempersilahkan gua untuk duduk.
Setelah bercakap-cakap sebentar, Mr.Robinson mengantar gua turun satu lantai dan menuju ke sebuah ruangan. Dia membuka pintu dan mempersilahkan gua untuk masuk;
”Well Boni, this is your new room..”
Gua memandang kedalam sebuah ruangan dengan ukuran sekitar 4 meter persegi, didalamnya terdapat dua buah meja dimana terdapat dua monitor besar diatasnya.
” I assumes you already have a place to stay, so you can start workin’ by this day”
Gua memandang ke arah Mr.Robinson kemudian menggeleng.
Mr.Robinson menepuk bahu gua kemudian mengajak gua kembali ke ruangannya. Sesampainya diruangannya dia membuka sebuah buku yang berisi kumpulan kartu nama dan menyerahkannya. Gua menerimanya, memandang sebentar kemudian mengangguk.
Setelah pamit dengan Mr.Robinson gua keluar dari kantor, masih dengan menarik koper cokelat gua, berjalan sepanjang Aire St menuju ke King St, sesuai dengan petunjuk dari Mr.Robinson. Nggak seberapa lama, gua berdiri disebuah bangunan tinggi di King St bernomor 85 sambil memegang kartu nama yang bertuliskan Drill Inn, gua masuk kedalam lewat pintu kayu dengan jendela kaca besar. Didalam gua disambut oleh pria tua berkacamata yang tersenyum ramah kearah gua sambil mengucapkan ’good afternoon’, gua menghampiri pria tersebut yang tengah berdiri dibalik meja resepsionis tak terawat dan bertanya tentang harga menginap disini. Setelah ’deal’ diangka £15 per malam, gua diantar oleh pria tua tersebut naik ke lantai tiga dan menuju kesebuah kamar berukuran kecil, didalamnya terdapat kasur, sebuah lemari, seperangkat meja-kursi dan satu unit televisi. Gua masuk kedalam, meletakkan koper dan ransel diatas meja dan merebahkan diri diatas kasur, gua terbangun saat ada sesuatu bergerak keluar dari dalam seprai; seekor kecoa. Kampret..
---
Setelah beberapa jam gua berburu kecoa didalam kamar, gua keluar dari motel tersebut; mencari makan. Berbekal petunjuk dari pak tua penjaga motel, gua berjalan sepanjang King St menuju ke Claverley St, sampai gua terhenti didepan sebuah restaurant yang terletak diseberang semacam lapangan besar yang terlihat seperti halaman dari sebuah gedung pemerintahan. Gua menatap sebuah plang kecil di atas restaurant tersebut; ’Akbar’s: Indonesian Cuisine’, tanpa pikir panjang, gua pun masuk kedalamnya.
Gua duduk disebuah meja, sesaat kemudian datang seorang pelayan wanita yang bertampang Indonesia menghampiri, membawa sebuah menu dan menyerahkannya ke gua;
”Orang Indonesia?”
Pelayan itu bertanya sambil menyerahkan menu.
”Iya..mbaknya orang Indo juga?”
”Hooh..”
Dia mengangguk sambil tersenyum.
”Yang punya resto juga orang Indo, mbak?”
”Nggak, bukan.. orang Amrik..”
”Ooh..”
Gua membuka-buka menu dan memilih ayam bakar kalasan.
Setelah menunggu beberapa saat, si pelayan tadi datang membawa pesanan gua dan sebotol air mineral.
”Mbak..”
”Ya mas, ada tambahan?”
”Oh, nggak.. begini, saya mau nyari tempat tinggal deket-deket sini, mbaknya mungkin punya kenalan atau tau tempat yang murah..”
Si pelayan tersebut, ’memonyongkan’ mulutnya sambil menaikkan alisnya ke atas.
”Kalo tempat sih ada, karena temen saya mau pindah katanya.. tapi nggak bisa dibilang murah mas...”
”Dimana mbak?”
”Waduh.. saya ngasih taunya susah juga ya mas, ribet.. mas-nya baru kan disini?”
”Iya mbak..”
Gua menggaruk-garuk kepala sambil memandang nyinyir ke hidangan yang terletak dihadapan gua; sepotong ayam yang katanya ayam bakar kalasan, tapi menurut gua malah mirip Ayam gosong disiram kecap.
”Gini aja deh mbak.. mbaknya bisa nganter saya nggak?”
”Wah, nggak bisa mas.. ”
”Yah, yaudah deh nggak apa apa, makasih ya mbak..”
Kemudian si pelayan tersebut pergi meninggalkan gua.
Tanpa nafsu, gua mencoba menghabiskan ayam gosong yang tersaji didepan gua sambil sesekali menenggak air mineral.
”Buset, ni ayam apa sendal.. alot banget..”
Setelah ’menikmati’ ayam bakar rasa sendal jepit, gua keluar dari restauran Indonesia abal-abal tersebut dan berbelok ke kiri, terus berjalan sepanjang Claverley St sampai akhirnya gua terhenti di persimpangan jalan besar yang ramai. Gua duduk disalah satu sudut bangku taman, dibawah sebuah pohon mapple besar. Gua menyulut sebatang rokok, menatap ke persimpangan jalan sambil bertopang dagu, berfikir ’ya ampun begini amat yak, hidup di negara orang’, sampai saat gua mendengar suara keras dibelakang, gua menoleh dan melihat seorang wanita tua sedang memukul-mukul Vending Machine dengan tas yang ditentengnya, disebelahnya berdiri seorang gadis berusia belasan tahun yang sedang cemberut. Orang-orang yang lalu lalang disana Cuma memperhatikan saja, sebagian diantaranya berlalu sambil menggeleng-gelengkan kepala, rasa kemanusiaan dan adat ketimuran gua pun muncul, gua berdiri dan menghampiri wanita tersebut;
”Sorry ma’am.. what's happened?”
Wanita tua tersebut menoleh dan bergumam;
”Mind your own bussines..”
Gua mengangkat bahu dan mencoba berpaling dan kembali ke bangku tadi, kemudian sebuah tangan meraih ujung jaket gua;
”I want that oreo...”
Gadis yang tengah cemberut tadi bertakat ke gua sambil menunjuk ke arah Vending Machine yang masih dipukuli oleh wanita tua tadi dengan tas-nya.
Gua mengambil selembar uang pecahan £1, meratakanya dengan tangan, kemudian gua menghentikan gerakan memukul wanita tua tersebut dan memasukkan selembar uang ke dalam bibir mesin. Dua bungkus Oreo keluar dari lubang yang terletak dibawah mesin, gua mengambilnya dan memberikannya ke gadis itu. Gadis itu menerimanya dan gua kembali ke bangku tempat dimana gua tadi duduk, nggak lama gadis itu mendatangi gua dan menyodorkan sekeping biskuit berwarna cokelat, gua mengambilnya, memasukkannya kemulut.
”Whats your name?”
Gadis itu duduk disebelah gua dan bertanya.
”My name is Boni, whays yours..?”
”Iam Sharon.. what you doing here? You do not seem from around here?”
”Oh, im from Indonesia.. just lookin’ for place to stay..”
”Ooowh.. Darcy rents a rooms..”
Gadis itu berkata dengan mulut penuh oreo sambil menunjuk ke wanita tua tadi.
Wanita tua itu menghampiri kami, meraih tangan gadis itu dan mengajaknya pergi. Gua berdiri dan berbicara ke wanita tersebut;
”Are you Darcy?”
Gua bertanya, wanita tua itu tak menjawab dan terus berjalan sambil menggandeng lengan gadis yang masih menoleh ke arah gua.
”Excuse me mam? Are you rent out a rooms? "
Gua bertanya sambil berusaha berada tetap disampingnya. Wanita itu kemudian berhenti;
”Room.. not rooms...”
---
Setengah jam kemudian gua sudah berada di Moorland Rd, dekat dengan Leeds University. Gua berdiri diluar sebuah rumah mungil, dua lantai dengan tembok dari bata merah dan pintu tua berwarna biru, rumah wanita tua tadi, rumah Darcy. Wanita tua dan gadis tadi masuk kedalam rumah dan memberi isyarat aga gua menunggu disini, beberapa menit kemudian Darcy, keluar dari pintu rumah disebelahnya, dia memanggil. Gua melompati semacam pagar setinggi pinggang yang terbuat dari bata merah, menuju ke pintu tempat Darcy memanggil dan masuk kedalamnya. Tempat ini persis bersebelahan dengan tempat Darcy dan Sharon masuk.
Gua masuk, sebuah tangga ke atas menyambut gua, disebelahnya terdapat pintu yang sedikit terbuka, tadinya gua hendak masuk kedalam ruangan tersebut sebelum suara Darcy memanggil gua dari atas; ”Up Here..”.
Gua menaiki anak tangga, sesampainya diatas sebuah pintu terbuka, gua masuk kedalamnya. Darcy sedang berdiri, memandang ke arah gua sambil bertolak pinggang, sedangkan Sharon berlarian kesana kemari didalam ruangan.
”Well.. its will cost £660 in first month and £560 for next month..”
Darcy berbicara.
Gua masuk kedalam, memeriksa ruangan demi ruangan sambil menggaruk-garuk kepala. Tempat nya memang cukup besar, terdapat sebuah kamar tidur, dan dapur yang jadi satu dengan ruang santai dimana sudah terdapat sofa berwarna hitam disana, kamar mandinya juga cukup besar, didapurnya pun sudah terdapat perlengkapan-perlengkapan untuk memasak, bahkan mesin cuci.
”£560 ; including electricity, water and gas”
Darcy menambahkan
Gua jadi teringat pesan si Irfan waktu itu;
”... kalo nyari tempat, cari yang udah include sama listrik, aer sama gas.. jangan mau kalo exclude.. ntar dikerjain lu sama landlord-nya, kayak gua dulu.. pas musim panas bayar Cuma £300, eh pas musim dingin bengkak jadi £800, gara-gara make pemanas terus-terusan..”
”..terus jangan lupa, kalo udah deal lu poto-in tuh satu per satu, ruangan demi ruangan, sudut demi sudut, soalnya kadang-kadang ada landlord yang minta klaim kerusakan keran lah, tembok retak lah, cat-nya kotor lah, pas lu mau pindah dari sana.. ya kalo bisa lu cari yang full Furnish, jadi nggak repot..”
Kalau dibandingkan dengan tempat gua sebelumnya di London jelas ini lebih mahal tapi lebih baik dan yang paling ’ok’ adalah, ni tempat masuk banget dengan kriteria yangdisebutin Irfan; Harganya include walau nggak ada internet-nya dan full Furnish jadi sepertinya £560 masih masuk akal buat gua.
”Okay, £560 sound good..”
”Good, so where’s your stuff?”
”Ill take it tommorow..”
---
Besok harinya sepulang bekerja, gua langsung menuju ke ’tempat ’ baru gua. Setelah menyelesaikan pembayaran pertama dengan Darcy, dia mengantar gua ke tempat tersebut dan menyerahkan sepasang anak kunci ke gua;
”No slam-bang at night, in the summer dry your clothes outside dont use machine, use heater and electrical wisely.. ”
Darcy memperingatkan sambil mengangkat telunjuknya didepan wajah. Kemudian menyerahkan paspor gua yang sudah di copy olehnya dan berlalu.
Gua duduk disofa, hitam yang empuk, terasa hangat didalam sini, sepertinya Darcy sudah menghidupkan pemanasnya sejak tadi. Kemudian gua menyeret koper kedalam kamar, membongkarnya dan memasukkan pakaian-pakaian gua kedalam lemari kecil disebelah kasur.
---

Jam menunjukkan pukul 00.15 saat gua terjaga, terbangun mendengar suara petir yang menggelegar, hujan diluar sana. Gua menutup kepala dengan bantal dan mencoba untuk tidur lagi, tapi sepertinya mata ini enggan sekali terpejam. Rasa kangen rumah menghinggapi, gua turun mengambil sebatang rokok dan menghisapnya, menyandarkan diri di pinggir kasur, duduk di lantai menghadap ke arah jendela kamar, meluruskan kaki sampai ujungnya menyentuh pintu lemari kecil tempat pakaian yang bentuknya mengikuti bentuk tangga yang menuju ke loteng, dan gua mulai memainkan pintu lemari itu dengan jempol kaki.
Emak, lekas seka air matamu
sembapmu malu dilihat tetangga
Baba, mengertilah rindu ini tak terbelenggu
Pasti kamar gua terlihat rapi
Ribut suara gua nggak ada lagi
Nggak usah emak-baba cari tiap pagi
Tapi suatu saat nanti,
buah hatimu yang sementara pergi pasti kembali,
Usahlah kau pertanyakan ke mana kaki ini akan melangkah
Kalian pasti tahu,
Pulang ke rumah..
Gua berjalan keluar stasiun, udara dingin bulan oktober mulai menyisir dan membelai rambut, membuat gua sedikit bergidik kedinginan. Setelah mengeluarkan jaket dan memakainya gua berjalan menghampiri seorang petugas polisi yang tengah berdiri disudut jalan.
Ternyata petugas polisi disini boleh dibilang ’sedikit’ lebih ramah daripada yang di London. Gua berjalan menyusuri trotoar di sepanjang jalan Prince St kemudian berbelok ke kanan sesuai dengan petunjuk dari petugas polisi tadi, setelah melalui sebuah ’alley’ gua sedikit berbelok ke kiri dijalan Aire st, dari sana terlihat sebuah bangunan dari bata merah natural, enam lantai, sebagian terdiri dari kaca-kaca besar disalah satu bagian, terdapat tangga-tangga diujungnya dan semacam rolling door atau hampir menyerupai garasi di ujung satunya. Gua mencocokkan nomor yang terpampang di temboknya (karena gua nggak menemui adanya papan nama atau semacamnya) dengan kartu nama yang gua bawa. Setelah benar-benar yakin, gua menuju ke sebuah pintu besar yang terbuat dari kaca, membukanya dan masuk kedalam. Gua melangkah melalui ruangan Lobi besar dimana terdapat sofa-sofa berwarna merah berbahan beludru lembut dan dindingnya dihiasai berbagai macam lukisan dan poster-poster, menuju ke meja resepsionis dimana seorang wanita tengah baya dengan kacamata rendah menatap ke arah gua.
”Good Afternoon, ma’am..”
”Hmmm..”
”I’d like to meet Mr.Robinson..”
Gua menyodorkan sebuah kartu nama dan surat pengantar dari Kantor London ke wanita tersebut. Dia mengambilnya, membacanya sebentar, kemudian memandang ke arah gua dari atas sampai ke bawah dan mengangkat gagang telepon.
”Third Level...first room at the alley..”
Wanita tersebut memberitahu kemana gua harus pergi sambil menunjuk ke arah tangga spiral menuju ke atas. Gua mengucapkan terima kasih sambil melewatinya dan bergegas menuju ke tangga.
Sampai di lantai atas, tidak sulit untuk menemukan ruangan tersebut karena memang disitu tidak ada ruangan lain yang menyerupai sebuah ruangan kantor, ruangan-ruangan lain terlihat seperti sebuah studio ber-lantai kayu, dengan sebuah kaca jendela besar yang mirip showroom. Gua mengetuk pintu besar berwarna putih dan masuk, disambut oleh sosok pria ’sedikit’ tua dengan rambut yang mulai membotak dibagian belakangnya; Mr. Robinson. Ini adalah pertemuan gua yang ke tiga dengan Mr.Robinson, setelah dua kali pertemuan di kantor London. Mr.Robinson berdiri kemudian mempersilahkan gua untuk duduk.
Setelah bercakap-cakap sebentar, Mr.Robinson mengantar gua turun satu lantai dan menuju ke sebuah ruangan. Dia membuka pintu dan mempersilahkan gua untuk masuk;
”Well Boni, this is your new room..”
Gua memandang kedalam sebuah ruangan dengan ukuran sekitar 4 meter persegi, didalamnya terdapat dua buah meja dimana terdapat dua monitor besar diatasnya.
” I assumes you already have a place to stay, so you can start workin’ by this day”
Gua memandang ke arah Mr.Robinson kemudian menggeleng.
Mr.Robinson menepuk bahu gua kemudian mengajak gua kembali ke ruangannya. Sesampainya diruangannya dia membuka sebuah buku yang berisi kumpulan kartu nama dan menyerahkannya. Gua menerimanya, memandang sebentar kemudian mengangguk.
Setelah pamit dengan Mr.Robinson gua keluar dari kantor, masih dengan menarik koper cokelat gua, berjalan sepanjang Aire St menuju ke King St, sesuai dengan petunjuk dari Mr.Robinson. Nggak seberapa lama, gua berdiri disebuah bangunan tinggi di King St bernomor 85 sambil memegang kartu nama yang bertuliskan Drill Inn, gua masuk kedalam lewat pintu kayu dengan jendela kaca besar. Didalam gua disambut oleh pria tua berkacamata yang tersenyum ramah kearah gua sambil mengucapkan ’good afternoon’, gua menghampiri pria tersebut yang tengah berdiri dibalik meja resepsionis tak terawat dan bertanya tentang harga menginap disini. Setelah ’deal’ diangka £15 per malam, gua diantar oleh pria tua tersebut naik ke lantai tiga dan menuju kesebuah kamar berukuran kecil, didalamnya terdapat kasur, sebuah lemari, seperangkat meja-kursi dan satu unit televisi. Gua masuk kedalam, meletakkan koper dan ransel diatas meja dan merebahkan diri diatas kasur, gua terbangun saat ada sesuatu bergerak keluar dari dalam seprai; seekor kecoa. Kampret..
---
Setelah beberapa jam gua berburu kecoa didalam kamar, gua keluar dari motel tersebut; mencari makan. Berbekal petunjuk dari pak tua penjaga motel, gua berjalan sepanjang King St menuju ke Claverley St, sampai gua terhenti didepan sebuah restaurant yang terletak diseberang semacam lapangan besar yang terlihat seperti halaman dari sebuah gedung pemerintahan. Gua menatap sebuah plang kecil di atas restaurant tersebut; ’Akbar’s: Indonesian Cuisine’, tanpa pikir panjang, gua pun masuk kedalamnya.
Gua duduk disebuah meja, sesaat kemudian datang seorang pelayan wanita yang bertampang Indonesia menghampiri, membawa sebuah menu dan menyerahkannya ke gua;
”Orang Indonesia?”
Pelayan itu bertanya sambil menyerahkan menu.
”Iya..mbaknya orang Indo juga?”
”Hooh..”
Dia mengangguk sambil tersenyum.
”Yang punya resto juga orang Indo, mbak?”
”Nggak, bukan.. orang Amrik..”
”Ooh..”
Gua membuka-buka menu dan memilih ayam bakar kalasan.
Setelah menunggu beberapa saat, si pelayan tadi datang membawa pesanan gua dan sebotol air mineral.
”Mbak..”
”Ya mas, ada tambahan?”
”Oh, nggak.. begini, saya mau nyari tempat tinggal deket-deket sini, mbaknya mungkin punya kenalan atau tau tempat yang murah..”
Si pelayan tersebut, ’memonyongkan’ mulutnya sambil menaikkan alisnya ke atas.
”Kalo tempat sih ada, karena temen saya mau pindah katanya.. tapi nggak bisa dibilang murah mas...”
”Dimana mbak?”
”Waduh.. saya ngasih taunya susah juga ya mas, ribet.. mas-nya baru kan disini?”
”Iya mbak..”
Gua menggaruk-garuk kepala sambil memandang nyinyir ke hidangan yang terletak dihadapan gua; sepotong ayam yang katanya ayam bakar kalasan, tapi menurut gua malah mirip Ayam gosong disiram kecap.
”Gini aja deh mbak.. mbaknya bisa nganter saya nggak?”
”Wah, nggak bisa mas.. ”
”Yah, yaudah deh nggak apa apa, makasih ya mbak..”
Kemudian si pelayan tersebut pergi meninggalkan gua.
Tanpa nafsu, gua mencoba menghabiskan ayam gosong yang tersaji didepan gua sambil sesekali menenggak air mineral.
”Buset, ni ayam apa sendal.. alot banget..”
Setelah ’menikmati’ ayam bakar rasa sendal jepit, gua keluar dari restauran Indonesia abal-abal tersebut dan berbelok ke kiri, terus berjalan sepanjang Claverley St sampai akhirnya gua terhenti di persimpangan jalan besar yang ramai. Gua duduk disalah satu sudut bangku taman, dibawah sebuah pohon mapple besar. Gua menyulut sebatang rokok, menatap ke persimpangan jalan sambil bertopang dagu, berfikir ’ya ampun begini amat yak, hidup di negara orang’, sampai saat gua mendengar suara keras dibelakang, gua menoleh dan melihat seorang wanita tua sedang memukul-mukul Vending Machine dengan tas yang ditentengnya, disebelahnya berdiri seorang gadis berusia belasan tahun yang sedang cemberut. Orang-orang yang lalu lalang disana Cuma memperhatikan saja, sebagian diantaranya berlalu sambil menggeleng-gelengkan kepala, rasa kemanusiaan dan adat ketimuran gua pun muncul, gua berdiri dan menghampiri wanita tersebut;
”Sorry ma’am.. what's happened?”
Wanita tua tersebut menoleh dan bergumam;
”Mind your own bussines..”
Gua mengangkat bahu dan mencoba berpaling dan kembali ke bangku tadi, kemudian sebuah tangan meraih ujung jaket gua;
”I want that oreo...”
Gadis yang tengah cemberut tadi bertakat ke gua sambil menunjuk ke arah Vending Machine yang masih dipukuli oleh wanita tua tadi dengan tas-nya.
Gua mengambil selembar uang pecahan £1, meratakanya dengan tangan, kemudian gua menghentikan gerakan memukul wanita tua tersebut dan memasukkan selembar uang ke dalam bibir mesin. Dua bungkus Oreo keluar dari lubang yang terletak dibawah mesin, gua mengambilnya dan memberikannya ke gadis itu. Gadis itu menerimanya dan gua kembali ke bangku tempat dimana gua tadi duduk, nggak lama gadis itu mendatangi gua dan menyodorkan sekeping biskuit berwarna cokelat, gua mengambilnya, memasukkannya kemulut.
”Whats your name?”
Gadis itu duduk disebelah gua dan bertanya.
”My name is Boni, whays yours..?”
”Iam Sharon.. what you doing here? You do not seem from around here?”
”Oh, im from Indonesia.. just lookin’ for place to stay..”
”Ooowh.. Darcy rents a rooms..”
Gadis itu berkata dengan mulut penuh oreo sambil menunjuk ke wanita tua tadi.
Wanita tua itu menghampiri kami, meraih tangan gadis itu dan mengajaknya pergi. Gua berdiri dan berbicara ke wanita tersebut;
”Are you Darcy?”
Gua bertanya, wanita tua itu tak menjawab dan terus berjalan sambil menggandeng lengan gadis yang masih menoleh ke arah gua.
”Excuse me mam? Are you rent out a rooms? "
Gua bertanya sambil berusaha berada tetap disampingnya. Wanita itu kemudian berhenti;
”Room.. not rooms...”
---
Setengah jam kemudian gua sudah berada di Moorland Rd, dekat dengan Leeds University. Gua berdiri diluar sebuah rumah mungil, dua lantai dengan tembok dari bata merah dan pintu tua berwarna biru, rumah wanita tua tadi, rumah Darcy. Wanita tua dan gadis tadi masuk kedalam rumah dan memberi isyarat aga gua menunggu disini, beberapa menit kemudian Darcy, keluar dari pintu rumah disebelahnya, dia memanggil. Gua melompati semacam pagar setinggi pinggang yang terbuat dari bata merah, menuju ke pintu tempat Darcy memanggil dan masuk kedalamnya. Tempat ini persis bersebelahan dengan tempat Darcy dan Sharon masuk.
Gua masuk, sebuah tangga ke atas menyambut gua, disebelahnya terdapat pintu yang sedikit terbuka, tadinya gua hendak masuk kedalam ruangan tersebut sebelum suara Darcy memanggil gua dari atas; ”Up Here..”.
Gua menaiki anak tangga, sesampainya diatas sebuah pintu terbuka, gua masuk kedalamnya. Darcy sedang berdiri, memandang ke arah gua sambil bertolak pinggang, sedangkan Sharon berlarian kesana kemari didalam ruangan.
”Well.. its will cost £660 in first month and £560 for next month..”
Darcy berbicara.
Gua masuk kedalam, memeriksa ruangan demi ruangan sambil menggaruk-garuk kepala. Tempat nya memang cukup besar, terdapat sebuah kamar tidur, dan dapur yang jadi satu dengan ruang santai dimana sudah terdapat sofa berwarna hitam disana, kamar mandinya juga cukup besar, didapurnya pun sudah terdapat perlengkapan-perlengkapan untuk memasak, bahkan mesin cuci.
”£560 ; including electricity, water and gas”
Darcy menambahkan
Gua jadi teringat pesan si Irfan waktu itu;
”... kalo nyari tempat, cari yang udah include sama listrik, aer sama gas.. jangan mau kalo exclude.. ntar dikerjain lu sama landlord-nya, kayak gua dulu.. pas musim panas bayar Cuma £300, eh pas musim dingin bengkak jadi £800, gara-gara make pemanas terus-terusan..”
”..terus jangan lupa, kalo udah deal lu poto-in tuh satu per satu, ruangan demi ruangan, sudut demi sudut, soalnya kadang-kadang ada landlord yang minta klaim kerusakan keran lah, tembok retak lah, cat-nya kotor lah, pas lu mau pindah dari sana.. ya kalo bisa lu cari yang full Furnish, jadi nggak repot..”
Kalau dibandingkan dengan tempat gua sebelumnya di London jelas ini lebih mahal tapi lebih baik dan yang paling ’ok’ adalah, ni tempat masuk banget dengan kriteria yangdisebutin Irfan; Harganya include walau nggak ada internet-nya dan full Furnish jadi sepertinya £560 masih masuk akal buat gua.
”Okay, £560 sound good..”
”Good, so where’s your stuff?”
”Ill take it tommorow..”
---
Besok harinya sepulang bekerja, gua langsung menuju ke ’tempat ’ baru gua. Setelah menyelesaikan pembayaran pertama dengan Darcy, dia mengantar gua ke tempat tersebut dan menyerahkan sepasang anak kunci ke gua;
”No slam-bang at night, in the summer dry your clothes outside dont use machine, use heater and electrical wisely.. ”
Darcy memperingatkan sambil mengangkat telunjuknya didepan wajah. Kemudian menyerahkan paspor gua yang sudah di copy olehnya dan berlalu.
Gua duduk disofa, hitam yang empuk, terasa hangat didalam sini, sepertinya Darcy sudah menghidupkan pemanasnya sejak tadi. Kemudian gua menyeret koper kedalam kamar, membongkarnya dan memasukkan pakaian-pakaian gua kedalam lemari kecil disebelah kasur.
---

Jam menunjukkan pukul 00.15 saat gua terjaga, terbangun mendengar suara petir yang menggelegar, hujan diluar sana. Gua menutup kepala dengan bantal dan mencoba untuk tidur lagi, tapi sepertinya mata ini enggan sekali terpejam. Rasa kangen rumah menghinggapi, gua turun mengambil sebatang rokok dan menghisapnya, menyandarkan diri di pinggir kasur, duduk di lantai menghadap ke arah jendela kamar, meluruskan kaki sampai ujungnya menyentuh pintu lemari kecil tempat pakaian yang bentuknya mengikuti bentuk tangga yang menuju ke loteng, dan gua mulai memainkan pintu lemari itu dengan jempol kaki.
Emak, lekas seka air matamu
sembapmu malu dilihat tetangga
Baba, mengertilah rindu ini tak terbelenggu
Pasti kamar gua terlihat rapi
Ribut suara gua nggak ada lagi
Nggak usah emak-baba cari tiap pagi
Tapi suatu saat nanti,
buah hatimu yang sementara pergi pasti kembali,
Usahlah kau pertanyakan ke mana kaki ini akan melangkah
Kalian pasti tahu,
Pulang ke rumah..
Backsound


Sewindu sudah lamanya waktu
Tinggalkan tanah kelahiranku
Rinduku tebal kasih yang kekal
Detik ke detik bertambah tebal
Pagi yang kutelusuri riuh tak bernyanyi
Malam yang aku jalani sepi tak berarti
Saat kereta mulai berjalan
Rinduku tebal tak tertahankan
Terlintas jelas dalam benakku
Makian bapak usirku kupergi
Hanya menangis yang emak bisa
Dengan terpaksa kutinggalkan desa
Seekor kambing kucuri
Milik tetangga tuk makan sekeluarga
Bapak tak mau mengerti
Hilang satu anak tuk harga diri
Aku pergi meninggalkan coreng hitam dimuka bapak
Yang membuat malu keluargaku
Ku ingin kembali mungkinkah mereka mau terima Rinduku
Maafkan semua kesalahanku
Kursi kereta yang pasti tahu


Sewindu sudah lamanya waktu
Tinggalkan tanah kelahiranku
Rinduku tebal kasih yang kekal
Detik ke detik bertambah tebal
Pagi yang kutelusuri riuh tak bernyanyi
Malam yang aku jalani sepi tak berarti
Saat kereta mulai berjalan
Rinduku tebal tak tertahankan
Terlintas jelas dalam benakku
Makian bapak usirku kupergi
Hanya menangis yang emak bisa
Dengan terpaksa kutinggalkan desa
Seekor kambing kucuri
Milik tetangga tuk makan sekeluarga
Bapak tak mau mengerti
Hilang satu anak tuk harga diri
Aku pergi meninggalkan coreng hitam dimuka bapak
Yang membuat malu keluargaku
Ku ingin kembali mungkinkah mereka mau terima Rinduku
Maafkan semua kesalahanku
Kursi kereta yang pasti tahu
Spoiler for Klipnya:
Diubah oleh robotpintar 21-03-2014 15:44
vizardan dan 15 lainnya memberi reputasi
16
Kutip
Balas
![Accidentally In Love [True Story]](https://s.kaskus.id/images/2014/04/07/6448808_20140407033338.jpg)