- Beranda
- Stories from the Heart
Accidentally In Love [True Story]
...
TS
robotpintar
Accidentally In Love [True Story]
![Accidentally In Love [True Story]](https://s.kaskus.id/images/2014/02/14/6448808_20140214023854.png)
Spoiler for Cover:
![Accidentally In Love [True Story]](https://s.kaskus.id/images/2014/02/14/6448808_20140214024411.png)
So she said what's the problem baby
What's the problem I don't know
Well maybe I'm in love (love)
Think about it every time
I think about it
Can't stop thinking 'bout it
How much longer will it take to cure this
Just to cure it cause I can't ignore it if it's love (love)
Makes me wanna turn around and face me but I don't know nothing 'bout love
Come on, come on
Turn a little faster
Come on, come on
The world will follow after
Come on, come on
Cause everybody's after love
So I said I'm a snowball running
Running down into the spring that's coming all this love
Melting under blue skies
Belting out sunlight
Shimmering love
Well baby I surrender
To the strawberry ice cream
Never ever end of all this love
Well I didn't mean to do it
But there's no escaping your love
These lines of lightning
Mean we're never alone,
Never alone, no, no
We're accidentally in love
Accidentally in love [x7]
Accidentally I'm In Love
Spoiler for Bagian 1:
#1
Quote:
“Gila lu Bon, roti segitu banyak sayang-sayang bakal empan ikan semua!”
“Emang ngapa? Ikan jaman sekarang mah ogah makan cacing, Meng”
Gua jawab aja sekena-nya, memang niatnya gua bawa roti dari rumah buat bekal pas mancing tapi, gara-gara umpan cacing gua dari tadi nggak disentuh ikan terpaksa gua ganti dengan roti. Siapa tau mujarab.
Nggak seberapa berselang, tali pancing gua bergetar, refleks gua tarik joran sekuatnya dan mendarat dengan mulus seekor ikan yang kurang lebih seukuran telapak tangan.
“Anjritt.. dari tadi dapet sapu-sapu mulu gua!”
Sambil melepas mata kail dari mulut ikan sapu-sapu yang barusan gua angkat dan langsung gua lempar lagi kedalam kali.
Tidak berapa lama, melantun lagu “Time Like This”-nya Foo Fighter dari ponsel gua. Tertera tulisan “Rumah” dilayarnya.
“Kenapa mak?”
Karena memang cuma nyokap gua aja yang selalu telpon melalui telepon rumah. Bokap dan adik gua selalu menggunakan ponsel-nya masing-masing jika ada keperluan.
“Assalamualaikum , Mancing kagak rapi-rapi luh, nih ada kiriman surat buat elu”
“Dari siapa?”
“Kagak tau, bahasanya emak nggak ngerti”
“Simpenin dulu, nih aye udah mau pulang”
“Yaudah buruan, jangan maghriban dijalan, pamali. Assalamualaikum”
“Waalaikumsalam”
Gua kantongin lagi ponsel k-ekantong celana pendek yang sekarang udah kotor campur lumpur, sambil berteriak ke temen gua; Komeng, yang lagi berkutat dengan tali pancingnya yang kusut.
“Meng, ayo balik.. udah sore”
“Belon juga dapet sekilo, udah mau balik aje”
“Yauda elu terusin dah, gua balik duluan”
Komeng menjawab dengan sedikit gumam di bibirnya terdengar seperti “Yaelah..” sambil berjalan gontai menyusul gua.
------
Itu kejadian beberapa tahun yang lalu, dimana gua dan Komeng masih biasa mencari cacing buat umpan ikan di kebun singkong belakang rumahnya Haji Salim dan kemudian pergi memancing disepanjang pinggiran sungai Pesanggrahan, Jakarta.
Sekarang, gua sedang duduk sambil bersandar di sebuah kursi lipat di pinggir danau di daerah Leeds, Inggris. Menghabiskan hari libur akhir musim gugur dengan memancing sambil bernostalgia, mencoba membangkitkan memori tentang memancing, tentang si Komeng, tentang Jakarta, tentang rumah.
Setelah berjam-jam memancing, menghabiskan berkaleng-kaleng ‘Diet Coke’ akhirnya gua memutuskan untuk menyudahi kegiatan sialan ini. Pulang dengan membawa 6 Ekor ikan Yelowtail (di Indonesia disebut ikan patin) dan sedikit kenangan tentang ‘rumah’, gua berjalan gontai menuju tempat dimana sepeda kesayangan gua diparkir, sempat kebingungan awalnya karena sekarang ada banyak sepeda yang diparkir, padahal tadi pagi baru sepeda gua aja yang nongkrong disini, setelah celingak-celinguk akhirnya ketemu juga dan gua mulai mengayuh.
Jarak dari tempat gua biasa mancing ke tempat dimana gua tinggal di Moorland Ave, Leeds kurang lebih 3,5 mil atau kalau dalam satuan Kilometer sekitar 5,5 Km. Jarak segitu kalo disini, di Inggris bisa dibilang ‘deket’, kalau naik sepeda bisa cuma 30 menit.
Oiya, nama gua Boni. Gua lahir dan dibesarkan di Jakarta. Saat ini gua kerja dan tinggal di Leeds, Inggris sekitar 2-3 jam dari London (dengan kereta). Gua kerja sebagai Sound Designer disalah satu Agensi perfilman dan periklanan di Leeds yang juga punya kantor di London. Sudah hampir 4 tahun gua kerja dan tinggal disini, ditempat dimana nggak ada sungai dengan air berwarna cokelat keruh yang banyak ikan sapu-sapunya dan nggak ada teman yang suka menggerutu “Yaelah”.
Sambil mendengarkan “Heaven” nya Lost Lonely Boys lewat headset, gua mengayuh sepeda menuju ke rumah, pulang. Melewati jalan berpasir yang dipenuhi pohon-pohon maple di kedua sisinya menuju jalan utama. Jalan yang sangat sepi dan hening, jam menunjukkan angka 4 sore, menandakan waktu shalat maghrib, di sabtu sore seperti sekarang ini memang didaerah sini sangat sepi, kebanyakan penduduk sekitar sedang ke stadion atau pub-pub untuk menyaksikan Leeds United bertanding. Ingin buru-buru sampai di rumah, karena perut udah mulai keroncongan, gua kayuh sepeda lebih cepat. Sampai kemudian terdengar sayup-sayup suara musik yang makin lama makin nyaring, suara musik RnB yang sepertinya diputar dari dalam mobil dengan volume maksimal. Suara tersebut datang dari arah belakang dan kemudian menyusul gua, sebuah BMW silver yang melaju cepat bahkan boleh dibilang sangat cepat, sambil meninggalkan debu persis seperti mobil yang sedang Rally Dakkar.
“Orang Gila!!” gua mengumpat, masih sambil dengerin coda lagu “Heaven” nya Lost Lonely Boys. Sampai gua melihat beberapa detik kemudian lampu rem BMW tersebut menyala dan kemudian berhenti.
Deg!, “Wuanjrit, sakti juga tuh orang bisa denger suara gua” sambil berhenti dan melepas headset dari telinga. Yang ternyata setelah gua sadar, suara gua nggak sepelan pas pakai headset tadi. Gua nunggu sambil dag dig dug, kalau dia ngerti ucapan gua, dia pasti orang Indonesia dan kalo ternyata bukan gua bakal siap-siap kabur.
Pintu penumpang pun terbuka, terbuka secara paksa tepatnya, sedetik kemudian keluar seseorang dari kursi penumpang, terhuyung dan kemudian terjatuh, terdengar makian dari dalam BMW tersebut mungkin seperti “bitch” atau semacamnya dan sesaat kemudian BMW tersebut pergi, mengasapi orang yang tersungkur itu dengan debu jalanan.
Nggak mau terlalu ambil pusing, sambil bernafas lega dan bilang dalam hati; “untung bukan gua”, gua meneruskan mengayuh sepeda.
“Get up Bro, life is brutal”
gua berkata ke orang itu sambil melewatinya tetap melanjutkan mengayuh. Dan beberapa meter kemudian gua mendengar sebuah teriakan, teriakan yang (pada akhirnya) bakal merubah hidup gua.
“Woii.. Help me!, you’re Indonesian, right?”
“Tolongin gue dong…”
Gua berhenti mengayuh, turun dan bengong. Sudah hampir setahun gua nggak denger secara langsung orang bicara ke gua dengan bahasa Indonesia dan suara perempuan pula.. Lima, ah mungkin sepuluh detik kemudian baru gua memalingkan muka tapi masih tetap bengong.
“Woii..”
Akhirnya gua turun dari sepeda, kemudian menghampiri orang itu. Terduduk di depan gua sosok perempuan, hitam manis dengan kepala tertutup hood jaket hitam, celana jeans dan sepatu model boots sebetis berwarna cokelat.
“Elu nggak apa-apa?”
“Menurut Lo? Kalo gue gak apa-apa, ngapain gua teriak minta tolong elu!!”
Gua nggak menjawab, berusaha membantu dia berdiri sambil bertanya lagi bagaimana keadaannya. Sekali lagi dia mengumpat;
“Gila!, nggak punya hati banget sih lu!, ya jelas lah gue kenapa-kenapa.. nih liat!”
Sambil memperlihatkan telapak tangan dan siku-nya yang luka dan kemudian menyibak celana jeans-nya yang kotor terkena debu dan sobek di beberapa bagian akibat terlempar dari mobil tadi. Sesaat baru dia sadar kalau lutut kanannya juga luka sambil meringis kesakitan dia mencoba membersihkan luka tersebut dengan air liurnya. Sangat Indonesia sekali.
“Gua pikir tadi orang mabok yang lagi berantem, disini mah biasa begitu,mbak!”
Kemudia gua kasih satu-satunya ‘Diet Coke’ sisa memancing tadi, harusnya sih air putih tapi Cuma itu yang gua punya sekarang. Sambil menggerutu karena dikasih ‘Diet Coke’ daripada air putih, diminum juga tuh minuman soda. Kemudian gua menawarkan diri buat mengantar dia ke sebuah toko kecil di ujung jalan ini, untuk membeli plester untuk membalut luka-nya.
“Jauh nggak?”
Dia bertanya sambil menurunkan hood jaketnya dan menyibak rambutnya yang pendek seleher. Kemudian terlihat jelas sebuah luka lebam di sudut mata sebelah kiri-nya, tidak, bukan cuma satu, setidaknya ada 3 luka lebam, selain disudut matanya, satu lagi di dahi sebelah kiri dan satu lagi di sudut bibir sebelah kanan, yang terakhir tampak seperti luka yang baru karena masih meninggalkan sisa bekas darah yang membeku.
Gua nggak berani bertanya, gua hindari menatap kewajahnya sambil menjawab pertanyaa-nya bahwa tokonya nggak begitu jauh dari sini, sambil menunjuk ke arah jalan utama.
---
“Emang ngapa? Ikan jaman sekarang mah ogah makan cacing, Meng”
Gua jawab aja sekena-nya, memang niatnya gua bawa roti dari rumah buat bekal pas mancing tapi, gara-gara umpan cacing gua dari tadi nggak disentuh ikan terpaksa gua ganti dengan roti. Siapa tau mujarab.
Nggak seberapa berselang, tali pancing gua bergetar, refleks gua tarik joran sekuatnya dan mendarat dengan mulus seekor ikan yang kurang lebih seukuran telapak tangan.
“Anjritt.. dari tadi dapet sapu-sapu mulu gua!”
Sambil melepas mata kail dari mulut ikan sapu-sapu yang barusan gua angkat dan langsung gua lempar lagi kedalam kali.
Tidak berapa lama, melantun lagu “Time Like This”-nya Foo Fighter dari ponsel gua. Tertera tulisan “Rumah” dilayarnya.
“Kenapa mak?”
Karena memang cuma nyokap gua aja yang selalu telpon melalui telepon rumah. Bokap dan adik gua selalu menggunakan ponsel-nya masing-masing jika ada keperluan.
“Assalamualaikum , Mancing kagak rapi-rapi luh, nih ada kiriman surat buat elu”
“Dari siapa?”
“Kagak tau, bahasanya emak nggak ngerti”
“Simpenin dulu, nih aye udah mau pulang”
“Yaudah buruan, jangan maghriban dijalan, pamali. Assalamualaikum”
“Waalaikumsalam”
Gua kantongin lagi ponsel k-ekantong celana pendek yang sekarang udah kotor campur lumpur, sambil berteriak ke temen gua; Komeng, yang lagi berkutat dengan tali pancingnya yang kusut.
“Meng, ayo balik.. udah sore”
“Belon juga dapet sekilo, udah mau balik aje”
“Yauda elu terusin dah, gua balik duluan”
Komeng menjawab dengan sedikit gumam di bibirnya terdengar seperti “Yaelah..” sambil berjalan gontai menyusul gua.
------
Itu kejadian beberapa tahun yang lalu, dimana gua dan Komeng masih biasa mencari cacing buat umpan ikan di kebun singkong belakang rumahnya Haji Salim dan kemudian pergi memancing disepanjang pinggiran sungai Pesanggrahan, Jakarta.
Sekarang, gua sedang duduk sambil bersandar di sebuah kursi lipat di pinggir danau di daerah Leeds, Inggris. Menghabiskan hari libur akhir musim gugur dengan memancing sambil bernostalgia, mencoba membangkitkan memori tentang memancing, tentang si Komeng, tentang Jakarta, tentang rumah.
Setelah berjam-jam memancing, menghabiskan berkaleng-kaleng ‘Diet Coke’ akhirnya gua memutuskan untuk menyudahi kegiatan sialan ini. Pulang dengan membawa 6 Ekor ikan Yelowtail (di Indonesia disebut ikan patin) dan sedikit kenangan tentang ‘rumah’, gua berjalan gontai menuju tempat dimana sepeda kesayangan gua diparkir, sempat kebingungan awalnya karena sekarang ada banyak sepeda yang diparkir, padahal tadi pagi baru sepeda gua aja yang nongkrong disini, setelah celingak-celinguk akhirnya ketemu juga dan gua mulai mengayuh.
Jarak dari tempat gua biasa mancing ke tempat dimana gua tinggal di Moorland Ave, Leeds kurang lebih 3,5 mil atau kalau dalam satuan Kilometer sekitar 5,5 Km. Jarak segitu kalo disini, di Inggris bisa dibilang ‘deket’, kalau naik sepeda bisa cuma 30 menit.
Oiya, nama gua Boni. Gua lahir dan dibesarkan di Jakarta. Saat ini gua kerja dan tinggal di Leeds, Inggris sekitar 2-3 jam dari London (dengan kereta). Gua kerja sebagai Sound Designer disalah satu Agensi perfilman dan periklanan di Leeds yang juga punya kantor di London. Sudah hampir 4 tahun gua kerja dan tinggal disini, ditempat dimana nggak ada sungai dengan air berwarna cokelat keruh yang banyak ikan sapu-sapunya dan nggak ada teman yang suka menggerutu “Yaelah”.
Sambil mendengarkan “Heaven” nya Lost Lonely Boys lewat headset, gua mengayuh sepeda menuju ke rumah, pulang. Melewati jalan berpasir yang dipenuhi pohon-pohon maple di kedua sisinya menuju jalan utama. Jalan yang sangat sepi dan hening, jam menunjukkan angka 4 sore, menandakan waktu shalat maghrib, di sabtu sore seperti sekarang ini memang didaerah sini sangat sepi, kebanyakan penduduk sekitar sedang ke stadion atau pub-pub untuk menyaksikan Leeds United bertanding. Ingin buru-buru sampai di rumah, karena perut udah mulai keroncongan, gua kayuh sepeda lebih cepat. Sampai kemudian terdengar sayup-sayup suara musik yang makin lama makin nyaring, suara musik RnB yang sepertinya diputar dari dalam mobil dengan volume maksimal. Suara tersebut datang dari arah belakang dan kemudian menyusul gua, sebuah BMW silver yang melaju cepat bahkan boleh dibilang sangat cepat, sambil meninggalkan debu persis seperti mobil yang sedang Rally Dakkar.
“Orang Gila!!” gua mengumpat, masih sambil dengerin coda lagu “Heaven” nya Lost Lonely Boys. Sampai gua melihat beberapa detik kemudian lampu rem BMW tersebut menyala dan kemudian berhenti.
Deg!, “Wuanjrit, sakti juga tuh orang bisa denger suara gua” sambil berhenti dan melepas headset dari telinga. Yang ternyata setelah gua sadar, suara gua nggak sepelan pas pakai headset tadi. Gua nunggu sambil dag dig dug, kalau dia ngerti ucapan gua, dia pasti orang Indonesia dan kalo ternyata bukan gua bakal siap-siap kabur.
Pintu penumpang pun terbuka, terbuka secara paksa tepatnya, sedetik kemudian keluar seseorang dari kursi penumpang, terhuyung dan kemudian terjatuh, terdengar makian dari dalam BMW tersebut mungkin seperti “bitch” atau semacamnya dan sesaat kemudian BMW tersebut pergi, mengasapi orang yang tersungkur itu dengan debu jalanan.
Nggak mau terlalu ambil pusing, sambil bernafas lega dan bilang dalam hati; “untung bukan gua”, gua meneruskan mengayuh sepeda.
“Get up Bro, life is brutal”
gua berkata ke orang itu sambil melewatinya tetap melanjutkan mengayuh. Dan beberapa meter kemudian gua mendengar sebuah teriakan, teriakan yang (pada akhirnya) bakal merubah hidup gua.
“Woii.. Help me!, you’re Indonesian, right?”
“Tolongin gue dong…”
Gua berhenti mengayuh, turun dan bengong. Sudah hampir setahun gua nggak denger secara langsung orang bicara ke gua dengan bahasa Indonesia dan suara perempuan pula.. Lima, ah mungkin sepuluh detik kemudian baru gua memalingkan muka tapi masih tetap bengong.
“Woii..”
Akhirnya gua turun dari sepeda, kemudian menghampiri orang itu. Terduduk di depan gua sosok perempuan, hitam manis dengan kepala tertutup hood jaket hitam, celana jeans dan sepatu model boots sebetis berwarna cokelat.
“Elu nggak apa-apa?”
“Menurut Lo? Kalo gue gak apa-apa, ngapain gua teriak minta tolong elu!!”
Gua nggak menjawab, berusaha membantu dia berdiri sambil bertanya lagi bagaimana keadaannya. Sekali lagi dia mengumpat;
“Gila!, nggak punya hati banget sih lu!, ya jelas lah gue kenapa-kenapa.. nih liat!”
Sambil memperlihatkan telapak tangan dan siku-nya yang luka dan kemudian menyibak celana jeans-nya yang kotor terkena debu dan sobek di beberapa bagian akibat terlempar dari mobil tadi. Sesaat baru dia sadar kalau lutut kanannya juga luka sambil meringis kesakitan dia mencoba membersihkan luka tersebut dengan air liurnya. Sangat Indonesia sekali.
“Gua pikir tadi orang mabok yang lagi berantem, disini mah biasa begitu,mbak!”
Kemudia gua kasih satu-satunya ‘Diet Coke’ sisa memancing tadi, harusnya sih air putih tapi Cuma itu yang gua punya sekarang. Sambil menggerutu karena dikasih ‘Diet Coke’ daripada air putih, diminum juga tuh minuman soda. Kemudian gua menawarkan diri buat mengantar dia ke sebuah toko kecil di ujung jalan ini, untuk membeli plester untuk membalut luka-nya.
“Jauh nggak?”
Dia bertanya sambil menurunkan hood jaketnya dan menyibak rambutnya yang pendek seleher. Kemudian terlihat jelas sebuah luka lebam di sudut mata sebelah kiri-nya, tidak, bukan cuma satu, setidaknya ada 3 luka lebam, selain disudut matanya, satu lagi di dahi sebelah kiri dan satu lagi di sudut bibir sebelah kanan, yang terakhir tampak seperti luka yang baru karena masih meninggalkan sisa bekas darah yang membeku.
Gua nggak berani bertanya, gua hindari menatap kewajahnya sambil menjawab pertanyaa-nya bahwa tokonya nggak begitu jauh dari sini, sambil menunjuk ke arah jalan utama.
---
DAFTAR ISI
Quote:
CHAPTER 1
#1 The Beginning
#2 Truly Gentlemen
#3 Place Called Home
#4 The Morning Fever
#5 A Miserable Story
#6 Night Rain
#7 Inside My Head
#8 That Day
#9 Be Tough
#10 Mukena
#1 The Beginning
#2 Truly Gentlemen
#3 Place Called Home
#4 The Morning Fever
#5 A Miserable Story
#6 Night Rain
#7 Inside My Head
#8 That Day
#9 Be Tough
#10 Mukena
Quote:
CHAPTER 2
#11-A Trip To Manchester
#11-B The Swiss Army
#12 Here's and Back Again
#13 I Miss You So Bad
#14 Going Mad
#15 Promise
#16 You’ll Be The Only Light I See
#17 The Winter Tears
#18 She's Gone
#19 That Memories
#11-A Trip To Manchester
#11-B The Swiss Army
#12 Here's and Back Again
#13 I Miss You So Bad
#14 Going Mad
#15 Promise
#16 You’ll Be The Only Light I See
#17 The Winter Tears
#18 She's Gone
#19 That Memories
Quote:
CHAPTER 3
[URL="http://www.kaskus.co.id/show_post/530ff7e41acb17030d8b48f1/479/- "]#19-A The Hood[/URL]
#19-B Heres And Back Again II
#19-C Weak
#19-D Surrender
#19-E The Choice
#19-F Anything For You
#19-G Chelsea Number 8
#19-H Its not always about gold and glory
#19-I Aku
#19-J The Words
#19-K The Persian Cat
#19-L You Really The Only Light I See
#19-M So Be It
#19-N Less Than Perfect
#20 That Day II
[URL="http://www.kaskus.co.id/show_post/530ff7e41acb17030d8b48f1/479/- "]#19-A The Hood[/URL]
#19-B Heres And Back Again II
#19-C Weak
#19-D Surrender
#19-E The Choice
#19-F Anything For You
#19-G Chelsea Number 8
#19-H Its not always about gold and glory
#19-I Aku
#19-J The Words
#19-K The Persian Cat
#19-L You Really The Only Light I See
#19-M So Be It
#19-N Less Than Perfect
#20 That Day II
Quote:
CHAPTER 4 The Prekuel
#21 The Prologue
#22 My Precious
#23 Ticket to Ride
#24 Singapore
#25 Dreams
#26 The Awkward Moment
#27 Logic
#28 Driver In Life
#29 The Risk Taker
#30 Sorry
#31 Rise Again
#32 Goodbye
#21 The Prologue
#22 My Precious
#23 Ticket to Ride
#24 Singapore
#25 Dreams
#26 The Awkward Moment
#27 Logic
#28 Driver In Life
#29 The Risk Taker
#30 Sorry
#31 Rise Again
#32 Goodbye
Quote:
CHAPTER 5!!
#33 London
#34 Unwell
#35 I Was Here
#36 Leeds
#37 New Home, New Life
#38 Alone
#39 Intermezo
#40 Goin' Trough
#41 At Glance
#42 The Past of The Future
#33 London
#34 Unwell
#35 I Was Here
#36 Leeds
#37 New Home, New Life
#38 Alone
#39 Intermezo
#40 Goin' Trough
#41 At Glance
#42 The Past of The Future
Quote:
CHAPTER 6
#43 My First ...
#44 If Lovin' You ...
#45 Goin' Back
#46 Leeds II
#47 I Love You (Jealousy)
#48 After All
#49 Hell Yeah
#50 Conflict
#51 Liar-Liar
#52 Memories
#43 My First ...
#44 If Lovin' You ...
#45 Goin' Back
#46 Leeds II
#47 I Love You (Jealousy)
#48 After All
#49 Hell Yeah
#50 Conflict
#51 Liar-Liar
#52 Memories
Quote:
Quote:
Diubah oleh robotpintar 10-04-2014 08:46
carangkasampah dan 121 lainnya memberi reputasi
120
1.3M
Kutip
2.3K
Balasan
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
robotpintar
#1329
Spoiler for Bagian ke Tiga Puluh Lima:
#35 I Was Here
Quote:
Bulan Pertama Di Negeri Orang.
Nggak terasa, hari ini tepat satu bulan gua tinggal dan kerja di London. Mungkin kalau ada orang yang sudah kenal lama kemudian bertemu dengan gua sekarang bakal bilang ’Lu kurusan deh’ dan mungkin bakal ada sedikit yang bilang ’Lu gantengan deh’ (kaca.. mana kaca).
Ada sedikiti progres positif pada pekerjaan gua, sekarang gua sudah mulai beradaptasi dengan cara kerja orang-orang ’bule’ disini, kedisiplinan dan ke-profesionalitas-an mereka. Progres negatif justru ada pada kehidupan pribadi gua, tanpa heru, tanpa komeng, tanpa resti, kehidupan sosial gua serasa terpenjara. Bergaul dengan Clark yang notabene nggak punya agama (serius, dia bener-bener nggak punya agama) benar-benar memanjakan nalar gua. Dua ’tumbuhan’ yang namanya nalar dan logika dalam diri gua bagaikan mendapatkan siraman air dan pupuk yang tumbuh makin subur.
Betapa Clark selalu mengeluarkan statement berdasa fakta dengan ideologi-ideologi tanpa tuhan-nya. Clark adalah satu dari sekian banyak orang ’bule’ yang bertuhankan statistik dan ilmu pengetahuan, hidupnya penuh dengan perhitungan matang, ’numbers dont lie’ ucapnya memprediksi hasil pertandingan sepak bola liga inggris. Angka-angka dan statistik adalah kitab sucinya, dia tidak mempercayai ada kehidupan setelah kehidupan, Heaven even doesnt exist. Hebatnya, sejak gua tiba disini dan bertemu dengannya, dia tidak pernah mempertanyakan dan menyinggung keimanan gua.
Gua sedang meng-compile beberapa nada yang barusan dibuat Clark melalui keyboardnya, saat sebuah pop-up yahoo mesengasr muncul di sudut kanan bawah laptop gua. Sebuah pesan dari Resti;
”Hi There.. apa kabarmu disana?”
Gua tersenyum kecil saat membaca-nya.
Sejak gua memutuskan untuk berpaling darinya malam disaat sebelum berangkat ke London, gua merasa kalau kita nggak sejalan, perasaan yang gua rasakan ke Resti nggak lain Cuma sebatas ’suka’, suka dengan caranya memperlakukan gua dan suka dengan cara dia menerima perlakuan dari gua. Dan nggak ingin membuat dia merasa kalau gua memberikan harapan (lagi) kepadanya. Gua yakin se yakin-yakinnya kalau perasaan yang pernah hadir itu bukan ’cinta’, ah tau apa gua tentang cinta. Saat ini sepertinya bukan waktu yang tepat untuk sekedar suka-sukaan apalagi cinta-cintaan, sekarang waktunya gua untuk mencari uang sebanyak-banyaknya dan membahagiakan keluarga. Gua mengarahkan kursor kemudian meng-klik tanda ’x’ disudut atas jendela pop-up tersebut.
Sorry res.
Clark berdiri dibelakang gua, memperhatikan layar laptop dihadapan gua dan sedikit memberikan koreksi disana-sini. Buat Clark, nggak ada yang namanya ’lumayan’ dan gua suka itu. Saat mengomentari atau menilai sesuatu, misalnya hasil pekerjaan gua atau teman-teman yang lain, dia bakal bilang ”Good” atau ”Bad” kemudian menjelaskan alasan-nya atau memberi koreksi, nggak ada istilah seperti ’not good enough’ atau ’not bad enough’, nggak ada abu-abu, hanya hitam dan putih.
Setelah selesai mengoreksi pekerjaan gua, dia duduk kemudian berkata kalau nanti sore gua yang harus mempresentasikan project ini. Dengan sedikit kaget dan terbengong-bengong gua bertanya;
”why me?”
”I don’t know, just you..”
Clark kemudian berdiri, membuka pintu dan keluar dari ruangan.
Sementara gua memandang ke arah layar laptop, menatap layer demi layer yang sudah terisi beat dari susunan nada yang mengisi sound sebuah iklan asuransi dari salah satu perusahaan ternama di Inggris. Memakai headphone, memutarnya kembali berulang-ulang, memastikan tidak ada kecacatan suara dari project ini.
Gua mengambil secarik kertas dan mulai menulis kata demi kata sambil berfikir keras; kira-kira apa kalimat yang tepat untuk menggambarkan dan menjelaskan kenapa Gua dan Clark memutuskan untuk menggunakan Backsound dan tata suara ini. Clark memasuki ruangan sambil menggenggam cangkir kopi dari karton, gua menoleh kearahnya sambil bertanya;
”Um, Clark.. can you give me a reason why you.. err we choose this sound pack for this act?”
”Haha.. no no, i dont know, you’d tell me..”
”...”
”Preparin’ for presentation?”
”Yeah..”
”Don't think, don't try to analyze that, just go and let it flow..”
”Mmm.. i just, ... mmm not ready for...”
”When you ready, someone elses will do that fuck*n presentation for me..what you say?”
”Oke then..”
”What you say?”
”Oke, ill do that..”
Gua menghela nafas.
Sore harinya gua sudah berada di tengah-tengah pria-pria bule yang duduk mengelilingi meja setengah lingkaran, menghadapi sebuah papan besar yang disorot oleh sebuah projector digital. Beberapa orang yang baru datang memandang aneh ke arah gua, mungkin sebagian dari mereka merasa janggal dengan kehadiran gua disini, ’apa perlunya nih orang asia duduk disini, pegawai magang pula’. Nggak seberapa lama, Mr.Kane masuk kedalam dan berdiri disudut belakang ruangan, tempat yang aneh untuk seorang pimpinan dalam sebuah acara presentasi. Mr.Kane mengangguk pelan, lampu ruangan mulai meredup disusul dengan muncul warna biru di papan dan sebuah iklan, iklan yang sudah hampir seminggu ini gua dan Clark kerjakan.
Iklan dengan durasi dua menit tersebut selesai, lampu ruangan kembali menyala. Mr.Kane masih berdiri ditempatnya, dia menunjuk salah seorang pria yang kemudian berdiri; mulai menjelaskan bagian per bagian dari detail iklan tersebut dari mulai Ide sampai tata cahaya, efek, penggunaan properti dan yang terakhir tata suara. Pria tersebut duduk lalu disusul dengan pria lain yang berdiri dan mulai menjelaskan perihal pencahayaan, dan terus begitu sampai saat semua yang ada diruangan tersebut diam dan memandang ke arah Clark.
Clark menoleh dan mengerling ke arah gua, dan gua paham apa arti kerlingan tersebut. Gua berdiri, mulai menyapa semua orang yang duduk disitu dan gua satu-satunya orang yang melakukan hal tersebut. Setelahnya gua mulai menjelaskan tentang tata suara yang sudah gua kerjakan bersama Clark, tentang pemilihan backsound dan sound efek sambil memutar ulang iklan tersebut, sesekali gua melihat ke arah Mr.Kane yang Cuma memandang dalam diam dan melihat ke arah Clark yang Cuma manggut-manggut. Sepuluh menit kemudian, setelah selesai dengan penjelasan tentang tata suara, gua sedikit berkata; ”we should be able to have a better idea for this adv..”
Nggak disangka, nggak dinyana, omongan pelan gua yang Cuma sekedar asal bunyi malah membuat riuh seisi ruangan. Mr.Kane kemudian bergerak dari tempatnya berdiri dan duduk di sebuah kursi di ujung meja dan semua orang pun diam, hening, sebagian mereka saling memandang, sebagian lainnya menatap gua.
”Well, Mr.Boni.. you’ll have 3 days to prepare ’the better’ idea..”
Kemudian Mr.Kane berdiri dan berjalan meninggalkan ruangan. Disusul para peserta pertemuan yang semakin riuh sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, salah satu dari mereka melewati gua sambil berkata;
”You better have a real better idea young man..”
Gua berdiri, menggelengkan kepala dan sungguh, kali ini gua menyesali perkataan gua barusan. Clark menepuk bahu gua,
”Well done.. this is what I want to see from you, well done...”
”...”
Gua Cuma menjawab dengan senyum, sebuah senyuman kecut.
Setelah kembali ke ruangan, gua duduk sambil menatap ke layar laptop. Clark mengambil selembar kertas dan meletakkannya dihadapan gua;
”Write it down..”
Gua menatap wajahnya kemudian kembali memalingkan wajah ke kertas kosong tersebut, gua tau maksud si Clark, dan ini bakalan jadi sebuah pekerjaan yang sulit, mungkin bakal terasa gampang kalau nggak dalam posisi dalam tekanan seperti yang sekarang gua rasakan.
Sore berganti malam, dan gua masih memandangi kertas putih ke sepuluh atau mungkin yang ke dua belas berisi coretan-coretan skecth storyboard yang gua pandang lesu, menggulungnya menjadi gumpalan dan melemparkannya ke tempat sampah, menyusul kertas-kertas lain yang sudah lebih dulu merasakan gulungan yang sama. Gua mengusap-usap wajah, kemudian mengambil jaket dan bergegas untuk pulang.
Sesampainya diflat, setelah solat maghrib gua merebahkan diri di atas kasur yang (tetap masih) belum ada seprai-nya, memandang ke langit-langit sambil melipat lengan dan meletakannya diatas dahi. Mencoba berfikir keras mengenai apa yang telah gua lalui hari ini, kemudian mencoba mencerna perkataan Clark tadi sebelum pulang; kalau gua tadi pas presentasi Cuma diam aja mungkin project-nya mulus-mulus aja dan bakal dipublish setelah di acc oleh klien, tapi ya tetep gua nggak dapet kredit apa-apa. Sedangkan, dengan perkataan gua tadi sore, yang mengakibatkan project di pending secara tidak langsung mempertaruhkan kredibilitas gua disini, kalau lusa ide buatan gua diterima maka bakal ada kredit tersendiri buat gua, tapi sebaliknya; kalau ide gua ditolak maka sepertinya gua harus menerima ’punishment’ yang sepait-paitnya bakal bikin gua angkat koper dari sini. Gua menggeleng-gelengkan kepala, mencoba membuang jauh-jauh kemungkinan terakhir sambil mengingat-ingat hal yang membuat gua bisa sampai disini.
”Gua pasti bisa!”
Gua bangun, menyalakan kompor dan mulai membuat kopi kemudian mengambil tas. mengeluarkan tumpukan kertas kosong yang tadi gua bawa dari kantor dan mulai membuat ’skecth’ lagi.
Setelah berlembar-lembar kertas, berbatang-batang rokok, bergelas-gelas kopi dan bermacam-macam skecth gua buat, gua memandang ragu ke lembar terakhir yang berada di genggaman, gua menambahkan beberapa baris ’brief’ dan keterangan untuk storyboard tersebut, besok pagi bakal gua ajukan langsung ke Mr.Kane.
---
Seminggu kemudian gua duduk di salah satu sudut gelap didalam kamar kecil gua yang suram, memandang sebuah kartu ATM ditangan beserta sebuah IDCard yang baru gua dapatkan tadi pagi. Gua mengeluarkan isi dompet gua, memilah-milah mana saja kartu yang sekiranya tidak perlu diletakkan didompet, yang Cuma bikin dompet terlihat penuh. Setelah menyingkirkan beberapa kartu klinik, surat berobat, kertas yang berisi nomor telepon beberapa kartu timezone, gua mulai memasukkan kartu ATM baru gua, saat sebuah foto terjatuh, gua memungutnya dan memandang sebuah foto digital khas photobox, sesosok wanita berkuncir kuda tengah tersenyum sambil meletakkan kedua jarinya menyilang menyentuh pipi; Resti.
Gua tengah mengepak dan berberes ruangan saat menemukan foto resti didalam dompet, entah kapan tuh cewek meletakkan fotonya didalam dompet gua. Besok gua bakal berangkat ke Leeds, sejak ’ide’ gua sukses menggantikan ide lama tentang iklan asuransi minggu kemarin, gua nggak lagi menyandang predikat ’internship’, saat ini gua berada di level yang setingkat lebih tinggi; seorang karyawan. Dan yang harus gua tebus untuk level tersebut juga nggak ’murah’, gua malah ditugaskan untuk pindah ke kantor yang di Leeds.
Pagi itu, mungkin salah satu pagi yang paling gua ingat dalam hidup gua disini, di inggris. Gua memandang kamar ini sekali lagi sebelum meninggalkan-nya, gua meletakkan koper didepan pintu dan kembali masuk kedalam, menyusuri dengan tangan selusur-selusur wastafel terus bergerak menuju ke bingkai jendela dan berakhir di kasur tanpa seprai; entah kenapa, baru kurang lebih satu bulan disini gua seperti sudah punya ikatan dengan kamar ini. Gua mengambil anak kunci pintu kamar dari dalam saku dan mulai mengukir nama gua di bingkai jendela yang terbuat dari kayu mahoni yang sudah mulai melunak.
Gua menutup pintu, sebelum memandang ke sebuah foto gadis manis berkuncir kuda yang gua selipkan di bingkai jendela, diatas sebuah ukiran; ’Boni was here..”
Nggak terasa, hari ini tepat satu bulan gua tinggal dan kerja di London. Mungkin kalau ada orang yang sudah kenal lama kemudian bertemu dengan gua sekarang bakal bilang ’Lu kurusan deh’ dan mungkin bakal ada sedikit yang bilang ’Lu gantengan deh’ (kaca.. mana kaca).
Ada sedikiti progres positif pada pekerjaan gua, sekarang gua sudah mulai beradaptasi dengan cara kerja orang-orang ’bule’ disini, kedisiplinan dan ke-profesionalitas-an mereka. Progres negatif justru ada pada kehidupan pribadi gua, tanpa heru, tanpa komeng, tanpa resti, kehidupan sosial gua serasa terpenjara. Bergaul dengan Clark yang notabene nggak punya agama (serius, dia bener-bener nggak punya agama) benar-benar memanjakan nalar gua. Dua ’tumbuhan’ yang namanya nalar dan logika dalam diri gua bagaikan mendapatkan siraman air dan pupuk yang tumbuh makin subur.
Betapa Clark selalu mengeluarkan statement berdasa fakta dengan ideologi-ideologi tanpa tuhan-nya. Clark adalah satu dari sekian banyak orang ’bule’ yang bertuhankan statistik dan ilmu pengetahuan, hidupnya penuh dengan perhitungan matang, ’numbers dont lie’ ucapnya memprediksi hasil pertandingan sepak bola liga inggris. Angka-angka dan statistik adalah kitab sucinya, dia tidak mempercayai ada kehidupan setelah kehidupan, Heaven even doesnt exist. Hebatnya, sejak gua tiba disini dan bertemu dengannya, dia tidak pernah mempertanyakan dan menyinggung keimanan gua.
Gua sedang meng-compile beberapa nada yang barusan dibuat Clark melalui keyboardnya, saat sebuah pop-up yahoo mesengasr muncul di sudut kanan bawah laptop gua. Sebuah pesan dari Resti;
”Hi There.. apa kabarmu disana?”
Gua tersenyum kecil saat membaca-nya.
Sejak gua memutuskan untuk berpaling darinya malam disaat sebelum berangkat ke London, gua merasa kalau kita nggak sejalan, perasaan yang gua rasakan ke Resti nggak lain Cuma sebatas ’suka’, suka dengan caranya memperlakukan gua dan suka dengan cara dia menerima perlakuan dari gua. Dan nggak ingin membuat dia merasa kalau gua memberikan harapan (lagi) kepadanya. Gua yakin se yakin-yakinnya kalau perasaan yang pernah hadir itu bukan ’cinta’, ah tau apa gua tentang cinta. Saat ini sepertinya bukan waktu yang tepat untuk sekedar suka-sukaan apalagi cinta-cintaan, sekarang waktunya gua untuk mencari uang sebanyak-banyaknya dan membahagiakan keluarga. Gua mengarahkan kursor kemudian meng-klik tanda ’x’ disudut atas jendela pop-up tersebut.
Sorry res.
Clark berdiri dibelakang gua, memperhatikan layar laptop dihadapan gua dan sedikit memberikan koreksi disana-sini. Buat Clark, nggak ada yang namanya ’lumayan’ dan gua suka itu. Saat mengomentari atau menilai sesuatu, misalnya hasil pekerjaan gua atau teman-teman yang lain, dia bakal bilang ”Good” atau ”Bad” kemudian menjelaskan alasan-nya atau memberi koreksi, nggak ada istilah seperti ’not good enough’ atau ’not bad enough’, nggak ada abu-abu, hanya hitam dan putih.
Setelah selesai mengoreksi pekerjaan gua, dia duduk kemudian berkata kalau nanti sore gua yang harus mempresentasikan project ini. Dengan sedikit kaget dan terbengong-bengong gua bertanya;
”why me?”
”I don’t know, just you..”
Clark kemudian berdiri, membuka pintu dan keluar dari ruangan.
Sementara gua memandang ke arah layar laptop, menatap layer demi layer yang sudah terisi beat dari susunan nada yang mengisi sound sebuah iklan asuransi dari salah satu perusahaan ternama di Inggris. Memakai headphone, memutarnya kembali berulang-ulang, memastikan tidak ada kecacatan suara dari project ini.
Gua mengambil secarik kertas dan mulai menulis kata demi kata sambil berfikir keras; kira-kira apa kalimat yang tepat untuk menggambarkan dan menjelaskan kenapa Gua dan Clark memutuskan untuk menggunakan Backsound dan tata suara ini. Clark memasuki ruangan sambil menggenggam cangkir kopi dari karton, gua menoleh kearahnya sambil bertanya;
”Um, Clark.. can you give me a reason why you.. err we choose this sound pack for this act?”
”Haha.. no no, i dont know, you’d tell me..”
”...”
”Preparin’ for presentation?”
”Yeah..”
”Don't think, don't try to analyze that, just go and let it flow..”
”Mmm.. i just, ... mmm not ready for...”
”When you ready, someone elses will do that fuck*n presentation for me..what you say?”
”Oke then..”
”What you say?”
”Oke, ill do that..”
Gua menghela nafas.
Sore harinya gua sudah berada di tengah-tengah pria-pria bule yang duduk mengelilingi meja setengah lingkaran, menghadapi sebuah papan besar yang disorot oleh sebuah projector digital. Beberapa orang yang baru datang memandang aneh ke arah gua, mungkin sebagian dari mereka merasa janggal dengan kehadiran gua disini, ’apa perlunya nih orang asia duduk disini, pegawai magang pula’. Nggak seberapa lama, Mr.Kane masuk kedalam dan berdiri disudut belakang ruangan, tempat yang aneh untuk seorang pimpinan dalam sebuah acara presentasi. Mr.Kane mengangguk pelan, lampu ruangan mulai meredup disusul dengan muncul warna biru di papan dan sebuah iklan, iklan yang sudah hampir seminggu ini gua dan Clark kerjakan.
Iklan dengan durasi dua menit tersebut selesai, lampu ruangan kembali menyala. Mr.Kane masih berdiri ditempatnya, dia menunjuk salah seorang pria yang kemudian berdiri; mulai menjelaskan bagian per bagian dari detail iklan tersebut dari mulai Ide sampai tata cahaya, efek, penggunaan properti dan yang terakhir tata suara. Pria tersebut duduk lalu disusul dengan pria lain yang berdiri dan mulai menjelaskan perihal pencahayaan, dan terus begitu sampai saat semua yang ada diruangan tersebut diam dan memandang ke arah Clark.
Clark menoleh dan mengerling ke arah gua, dan gua paham apa arti kerlingan tersebut. Gua berdiri, mulai menyapa semua orang yang duduk disitu dan gua satu-satunya orang yang melakukan hal tersebut. Setelahnya gua mulai menjelaskan tentang tata suara yang sudah gua kerjakan bersama Clark, tentang pemilihan backsound dan sound efek sambil memutar ulang iklan tersebut, sesekali gua melihat ke arah Mr.Kane yang Cuma memandang dalam diam dan melihat ke arah Clark yang Cuma manggut-manggut. Sepuluh menit kemudian, setelah selesai dengan penjelasan tentang tata suara, gua sedikit berkata; ”we should be able to have a better idea for this adv..”
Nggak disangka, nggak dinyana, omongan pelan gua yang Cuma sekedar asal bunyi malah membuat riuh seisi ruangan. Mr.Kane kemudian bergerak dari tempatnya berdiri dan duduk di sebuah kursi di ujung meja dan semua orang pun diam, hening, sebagian mereka saling memandang, sebagian lainnya menatap gua.
”Well, Mr.Boni.. you’ll have 3 days to prepare ’the better’ idea..”
Kemudian Mr.Kane berdiri dan berjalan meninggalkan ruangan. Disusul para peserta pertemuan yang semakin riuh sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, salah satu dari mereka melewati gua sambil berkata;
”You better have a real better idea young man..”
Gua berdiri, menggelengkan kepala dan sungguh, kali ini gua menyesali perkataan gua barusan. Clark menepuk bahu gua,
”Well done.. this is what I want to see from you, well done...”
”...”
Gua Cuma menjawab dengan senyum, sebuah senyuman kecut.
Setelah kembali ke ruangan, gua duduk sambil menatap ke layar laptop. Clark mengambil selembar kertas dan meletakkannya dihadapan gua;
”Write it down..”
Gua menatap wajahnya kemudian kembali memalingkan wajah ke kertas kosong tersebut, gua tau maksud si Clark, dan ini bakalan jadi sebuah pekerjaan yang sulit, mungkin bakal terasa gampang kalau nggak dalam posisi dalam tekanan seperti yang sekarang gua rasakan.
Sore berganti malam, dan gua masih memandangi kertas putih ke sepuluh atau mungkin yang ke dua belas berisi coretan-coretan skecth storyboard yang gua pandang lesu, menggulungnya menjadi gumpalan dan melemparkannya ke tempat sampah, menyusul kertas-kertas lain yang sudah lebih dulu merasakan gulungan yang sama. Gua mengusap-usap wajah, kemudian mengambil jaket dan bergegas untuk pulang.
Sesampainya diflat, setelah solat maghrib gua merebahkan diri di atas kasur yang (tetap masih) belum ada seprai-nya, memandang ke langit-langit sambil melipat lengan dan meletakannya diatas dahi. Mencoba berfikir keras mengenai apa yang telah gua lalui hari ini, kemudian mencoba mencerna perkataan Clark tadi sebelum pulang; kalau gua tadi pas presentasi Cuma diam aja mungkin project-nya mulus-mulus aja dan bakal dipublish setelah di acc oleh klien, tapi ya tetep gua nggak dapet kredit apa-apa. Sedangkan, dengan perkataan gua tadi sore, yang mengakibatkan project di pending secara tidak langsung mempertaruhkan kredibilitas gua disini, kalau lusa ide buatan gua diterima maka bakal ada kredit tersendiri buat gua, tapi sebaliknya; kalau ide gua ditolak maka sepertinya gua harus menerima ’punishment’ yang sepait-paitnya bakal bikin gua angkat koper dari sini. Gua menggeleng-gelengkan kepala, mencoba membuang jauh-jauh kemungkinan terakhir sambil mengingat-ingat hal yang membuat gua bisa sampai disini.
”Gua pasti bisa!”
Gua bangun, menyalakan kompor dan mulai membuat kopi kemudian mengambil tas. mengeluarkan tumpukan kertas kosong yang tadi gua bawa dari kantor dan mulai membuat ’skecth’ lagi.
Setelah berlembar-lembar kertas, berbatang-batang rokok, bergelas-gelas kopi dan bermacam-macam skecth gua buat, gua memandang ragu ke lembar terakhir yang berada di genggaman, gua menambahkan beberapa baris ’brief’ dan keterangan untuk storyboard tersebut, besok pagi bakal gua ajukan langsung ke Mr.Kane.
---
Seminggu kemudian gua duduk di salah satu sudut gelap didalam kamar kecil gua yang suram, memandang sebuah kartu ATM ditangan beserta sebuah IDCard yang baru gua dapatkan tadi pagi. Gua mengeluarkan isi dompet gua, memilah-milah mana saja kartu yang sekiranya tidak perlu diletakkan didompet, yang Cuma bikin dompet terlihat penuh. Setelah menyingkirkan beberapa kartu klinik, surat berobat, kertas yang berisi nomor telepon beberapa kartu timezone, gua mulai memasukkan kartu ATM baru gua, saat sebuah foto terjatuh, gua memungutnya dan memandang sebuah foto digital khas photobox, sesosok wanita berkuncir kuda tengah tersenyum sambil meletakkan kedua jarinya menyilang menyentuh pipi; Resti.
Gua tengah mengepak dan berberes ruangan saat menemukan foto resti didalam dompet, entah kapan tuh cewek meletakkan fotonya didalam dompet gua. Besok gua bakal berangkat ke Leeds, sejak ’ide’ gua sukses menggantikan ide lama tentang iklan asuransi minggu kemarin, gua nggak lagi menyandang predikat ’internship’, saat ini gua berada di level yang setingkat lebih tinggi; seorang karyawan. Dan yang harus gua tebus untuk level tersebut juga nggak ’murah’, gua malah ditugaskan untuk pindah ke kantor yang di Leeds.
Pagi itu, mungkin salah satu pagi yang paling gua ingat dalam hidup gua disini, di inggris. Gua memandang kamar ini sekali lagi sebelum meninggalkan-nya, gua meletakkan koper didepan pintu dan kembali masuk kedalam, menyusuri dengan tangan selusur-selusur wastafel terus bergerak menuju ke bingkai jendela dan berakhir di kasur tanpa seprai; entah kenapa, baru kurang lebih satu bulan disini gua seperti sudah punya ikatan dengan kamar ini. Gua mengambil anak kunci pintu kamar dari dalam saku dan mulai mengukir nama gua di bingkai jendela yang terbuat dari kayu mahoni yang sudah mulai melunak.
Gua menutup pintu, sebelum memandang ke sebuah foto gadis manis berkuncir kuda yang gua selipkan di bingkai jendela, diatas sebuah ukiran; ’Boni was here..”
Backsound


Sometimes I feel the fear of uncertainty stinging clear
And I cant help but ask myself how much I'll let the fear take the wheel and steer
It's driven me before, it seems to have a vague
Haunting mass appeal
Lately I'm beginning to find that I should be the one behind the wheel
Whatever tomorrow brings, I'll be there
With open arms and open eyes yeah
Whatever tomorrow brings, I'll be there, I'll be there
So if I decide to waiver my chance to be one of the hive
Will I choose water over wine and hold my own and drive, oh oh
It's driven me before, it seems to be the way
That everyone else get around
Lately, I'm beginning to find that when I drive myself, my light is found
Whatever tomorrow brings, I'll be there
With open arms and open eyes yeah
Whatever tomorrow brings, I'll be there, I'll be there
Would you choose water over wine
Hold the wheel and drive
Whatever tomorrow brings, I'll be there
With open arms and open eyes yeah
Whatever tomorrow brings, I'll be there, I'll be there


Sometimes I feel the fear of uncertainty stinging clear
And I cant help but ask myself how much I'll let the fear take the wheel and steer
It's driven me before, it seems to have a vague
Haunting mass appeal
Lately I'm beginning to find that I should be the one behind the wheel
Whatever tomorrow brings, I'll be there
With open arms and open eyes yeah
Whatever tomorrow brings, I'll be there, I'll be there
So if I decide to waiver my chance to be one of the hive
Will I choose water over wine and hold my own and drive, oh oh
It's driven me before, it seems to be the way
That everyone else get around
Lately, I'm beginning to find that when I drive myself, my light is found
Whatever tomorrow brings, I'll be there
With open arms and open eyes yeah
Whatever tomorrow brings, I'll be there, I'll be there
Would you choose water over wine
Hold the wheel and drive
Whatever tomorrow brings, I'll be there
With open arms and open eyes yeah
Whatever tomorrow brings, I'll be there, I'll be there
Spoiler for klipnya:
regmekujo dan 14 lainnya memberi reputasi
15
Kutip
Balas
![Accidentally In Love [True Story]](https://s.kaskus.id/images/2014/04/07/6448808_20140407033338.jpg)