- Beranda
- Stories from the Heart
BUNGA "PERTAMA" DAN "TERAKHIR"
...
TS
javiee
BUNGA "PERTAMA" DAN "TERAKHIR"

Spoiler for RULES:
INTRO
Perkenalkan, nama gw Raden Fajar Putro Mangkudiningrat Laksana...Bohong deng, kepanjangan...sebut aja gw Fajar. Tinggi 175 cm berat 58kg. bisa disebut kurus karena tinggi dan berat badan gw ga proposional.
. Gw ROCKER...!! Pastinya Rocker Kelaparan.Gw terlahir dari keluarga biasa saja yang serba "Cukup". dalam arti "cukup" buat beli rumah gedongan, "cukup" buat beli mobil Mewah sekelas Mercy. (ini jelas jelas bohong). yang pasti gw bersyukur dilahirkan dari keluarga ini.
Gw Anak pertama dari 3 bersaudara. Adik adik gw semuanya perempuan. Gw keturunan Janda alias Jawa Sunda. Bokap asli dari Jepara bumi Kartini. Tempatnya para pengrajin kayu yang terkenal di Nusantara bahkan diakui oleh Dunia. Tapi bokap gw bukan pengusaha mebel seperti kebanyakan orang Jepara. Nyokap gw asli Sumedang Kota yang terkenal dengan TAHU nya. Tapi wajahnya sama sekali nggak mirip tahu ya. Sunda tulen nan cantik jelita. Beliau bidadari gw nomer "1" di dunia ini.
Spoiler for INDEKS:
Spoiler for INDEKSII:
Diubah oleh javiee 06-04-2015 23:49
manusia.baperan dan 4 lainnya memberi reputasi
3
729K
2.9K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
javiee
#1008
PART 50
Juniarti Larasati...
Dia...Cinta pertama gw yang kembali datang disaat yang salah. Setelah melalui penantian yang cukup lama, dan setelah melewati puluhan bahkan ratusan proses yang rumit, akhirnya gw bisa jujur menyatakan perasaan gw. Begitupun juga dengannya yang sudah cukup lama menyimpan perasaan terhadap gw. Tapi sayang, semuanya terucap ketika keadaan sudah jauh berbeda.
Hanya sejuta maaf terucap di akhir cerita. Memang hanya itu yang bisa gw ucapkan, dan memang seharusnya seperti itu.
Umumnya pernyataan sayang itu hasilnya berbuah manis. Yang bisa menyatukan dua insan berbeda kedalam sebuah ikatan. Tapi tidak untuk gw. Ironisnya hal itu semua malah menyisakan sebuah luka lama yang kembali menganga, lantas memisahkan kami berdua.
Terkadang tak selamanya gula terasa manis...Tak selamanya pula empedu terasa pahit...
Tak mudah buat gw meninggalkan dia begitu saja. Senyumnya, suaranya, cara dia bicara, cara dia tertawa, semunya sudah terbungkus dalam satu paket yang bernama kenangan. Dan segala kenangan yang pernah dia buat untuk gw tak akan pernah hilang disini. Di dalam otak gw...
Namun ada satu pesan darinya sebelum gw pergi sore itu...
"Jar...Jangan Tawuran lagi ya...!!"
……………………………………………………
................…………………………………..
"Tuuuuut.....tuuut..."
Entah sudah berapa kali gw mencoba menghubungi Bunga sedari tadi pagi. Tapi apa yang gw dapati tak sesuai dengan harapan. Sms gw tidak dibalas olehnya, semua telefon dari gw sama sekali tidak diangkat. Gw mulai merasa khawatir dengannya. Sebab kurang lebih selama satu Minggu, gw belum menghubunginya lagi. Akhirnya gw putuskan untuk langsung menemui dia, datang langsung ke rumahnya sekarang juga di Minggu siang nan mendung.
Gw segera bersiap siap lekas mandi dan berpakaian rapi layaknya ingin bertemu presiden. Tapi gw kebingungan ketika mencari jaket adidas yang biasa gw pakai. Gw cari di gantungan baju belakang pintu kamar, nggak ada. Di keranjang tempat baju kotor juga nggak ada. Gw tanya bidadari No.1 beliau bilangnya 'nggak tau'.
Lalu gw ingat ingat lagi dimana jaket kesayangan gw itu.
Akhirnya gw ingat, jaket itu dipakai oleh Niar kemarin sore, dan gw lupa memintanya lagi ketika gw pulang. Dia pun juga lupa untuk mengembalikannya kepada gw.
"Yasudah lah...Kapan kapan aja kalo sempet gw ambil kesana". Fikir gw saat itu.
"Assalamualaikum..." Teriak gw ketika sampai di depan rumahnya Bunga.
"Walekumsalam...."
Aiih...kenapa harus si Jodi sih yang ngejawab? Gw mencoba mengucap salam sekali lagi berharap manusia lah yang menjawab salam gw.
"Assalamualaikum!"
Tapi lagi lagi, Jodi yang menjawab. Namun gw tak menyerah sampai disitu. Kembali gw setengah berteriak mengucap salam. Hingga akhirnya dijawablah salam gw oleh dua makhluk sekaligus. Yang satu berupa manusia, dia adalah Bundanya Bunga. Dan satu lagi berupa unggas, dia Jodi...
Ini adalah fenomena yang keren menurut gw. Karena majikan dan piaraan begitu kompaknya menjawab salam gw.
"Ooh...si Fajar." Ujar Bunda.
"Hehe...Nda, Bunga ada?" Tanya gw lalu sungkem kepadanya.
"Ada. Lagi tidur dia...Udah dua hari Bunga sakit. Katanya nggak enak badan. mau Bunda bangunin aja?" Tanya dia.
"Eeh...nggak usah Nda kalo lagi tidur mah. kali aja dia kecapean...Biar aja jangan dibangunin. Aku pulang aja deh..." Ujar gw.
Apa boleh buat...daripada gw mengganggu istirahatnya, lebih baik gw memutuskan untuk pulang saja saat itu. Padahal gw ingin sekali bertemu dengannya untuk meminta maaf atas kesalahan gw tempo hari yang lalu. Tapi, tak apalah, yang penting gw sudah tau keadaan dia sekarang. Dia sedang sakit, dan gw nggak ada disampingnya ketika dia sakit. Gw kecewa dengan diri gw sendiri sebab jangankan menjenguk, mengetahuinya pun gw tidak. Barulah setelah Bundanya bicara, gw tahu keadaan dia. Lelaki macam apa gw ini??
"Jaar..."
Reflek gw menoleh ke arah suara itu dan munculah sesosok gadis cantik dengan kondisi rambut kusut acak acakan, dibalut wajah sedikit pucat yang menggambarkan bahwa dia memang sedang kurang sehat. Gw membatalkan niat gw untuk pulang siang itu, karena bidadari no.2 gw akhirnya muncul juga.
"Loh, Mba Bunga udah bangun? Tuh Mba...dokternya datang!" Ejek Bundanya kemudian masuk ke dalam rumah.
"........." Gw nyengir.
Tertegun gw memandang wajahnya ketika sebuah senyum manis terpancar di sudut bibirnya. Dia lemparkan senyum itu ke arah gw sambil sesekali menguap. Matanya yang sayu baru bangun tidur terlihat semakin sipit. Namun, dia tetaplah cantik seperti biasanya.
Kemudian dia duduk di sebuah kursi kayu yang selalu kami duduki bersama. Gw segera menghampirinya lalu duduk tepat disampingnya.
"Bunga..."
"Hemm.." Sahut dia.
"Maafin aku ya... " Ucap gw pelan.
"Hemm..."
"Loh kok jawabnya gitu?" Tanya gw.
"iih kamu teh nyebelin! Aku tuh baru bangun tidur. Nggak liat apa aku lagi ngumpulin nyawa!" Ujarnya lalu menguap.
Akhirnya gw memilih diam membiarkan dia beberapa saat. sambil memandang wajahnya yang manis dan lucu. Apalagi pipinya yang chuby itu loh bikin gemes Asa hayang nyiwit!! Ditambah hidungnya yang mancung kaya jambu monyet membuat tangan ini nafsu ingin menariknya.
Sungguh gw sangat beruntung sekali memiliki bidadari cantik seperti dia...
"Nyawanya udah kumpul?" Tanya gw.
"Udah." Jawabnya singkat.
"Boleh aku ngomong?"
"Iya..." sahutnya.
"Aku mau minta maaf sama kamu..." Ucap gw.
"Maaf buat apa?" tanya dia.
"Maaf nggak ngabarin kamu seminggu ini, aku juga minta maaf soalnya aku sempet kasar sama kamu."
"Aku ngerti kamu lagi ada masalah. Tapi tolong jangan bentak aku kaya kemarin. Ayah-Bunda aku aja nggak pernah ngebentak aku..." Ujarnya.
"Iya...aku salah. Maaf ya."
"Terus juga kamu jangan diemin aku. Terbuka lah sama aku, cerita sama aku masalahnya apa. Buat apa ada aku kalo kamu juga nggak mau terbuka bicara jujur sama aku." Ujarnya.
"Iya maaf..." Ucap gw.
"Tuh kan nyebelin daritadi ngomongnya maaf terus! Huhh.." Gerutu dia.
"Hehe iya iya...intinya aku dimaafin nggak?" Tanya gw.
"Iyaa dimaafin. Tapi jangan gitu lagi."
"siap!! Yaudah kita damai yaa...."
Lalu gw menjulurkan kelingking ke arahnya. Gw berharap jari ini disambut olehnya sebagai pertanda kalau kita kembali berdamai. Tapi, dia diam saja tidak menanggapinya justru memasang raut wajah cuek dan bete.
"Damai ya..ya..." Gw kembali merayunya.
"Nggak mau...." Ujarnya.
"Haa...kok gitu? Katanya udah dimaafin. Tapi di ajak damai kok ga mau?" Tanya gw.
"Aku mau kamu cerita, masalah kamu apa sebenernya?"
Deggg!!!
Gw terperanjat atas pertanyaan dia yang ingin tahu masalah gw yang sebenarnya. Gw bingung harus jawab apa. Apakah gw harus Jujur, atau gw tetap menyembunyikannya?
"Masalah aku...emmm..." Ujar gw gagap.
"Apa.?"
"Emmm...itu...Anu..."
Seketika mulut gw menjadi kaku. Gw nggak bisa ngomong apa apa saat itu. Bukannya gw nggak mau bicara jujur, tapi gw lebih menjaga perasaannya saat itu. Bayangkan bagaimana perasaannya kalau saja dia mengetahui tentang Niar? Melihat isi sms yang tersimpan di jimbot gw waktu dulu saja dia menangis, bagaimana kalau dia sampai tahu sejauh apa hubungan gw dengan Niar? Entahlah...
Ditengah kebisuan gw yang tak bisa menjawab, Bunga sedikit menggeser posisi duduknya lebih dekat dengan gw.
"Jar..."
"Iya..."
"Sini liat aku.."
Gw mulai menatapnya...
menatap matanya yang sayu agak menyipit.
Lalu dia melingkarkan kedua tangannya dileher gw. Dag dig dug!! Jantung gw mendadak berdetak kencang, nafas gw menjadi tidak beraturan...
Help!! Mau diapain nih gw?
"Aku nggak perlu tau masalah kamu apa. Yang penting sekarang kamu ada disini, kamu masih ada disamping aku. Aku kangen sama kamu..."
Lalu dia memeluk gw. Erat sekali. Disandarkannya Kepala itu dengan nyaman tenggelam di bahu gw. Sampai sampai (maaf) tonjolan itu menempel di badan gw. Mendadak gw bengong kaya patung, disertai keringet dingin yang mengucur di sekujur muka gw. Wajar saja karena baru kali ini dia memeluk gw sampai nempel seperti ini.
Pelukan itu menandakan bahwa dia sangat tidak ingin kehilangan gw. Gw pun mengerti, dan gw berjanji pada diri gw sendiri untuk tidak lagi meninggalkannya, serta selalu ada disisinya dalam keadaan apapun.
Sedikit lega perasaan gw karena dia tidak memaksa gw untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Padahal gw udah bener bener panik, apalagi tatapan matanya itu sangat serius membuat gw gelagapan. Syukurlah dia tak mau membahasnya. Justru sebuah pelukan hangatlah yang gw dapatkan.
"Yank udah..." Bisik gw.
"Nggak mau..."
"Nanti diliat Bunda ga enak"
"Sebentar lagi..." Dia malah mempererat pelukannya.
Gw sih nggak masalah kalo dia meluk gw lama lama juga. Nggak munafik dong gw kalo itu emang maunya gw. Siapa sih yang nggak mau dipeluk sama bidadari? haha.
Tak lama kemudian, akhirnya dia melepaskan pelukannya. Lalu dia tersenyum kepada gw. Gw pun membalas senyumnya itu.
"Damai??" Tanya gw lalu menjulurkan kelingking.
"Iya sayaank..." Ujarnya.
'Klik'...Akhirnya jari kelingking gw disambut juga olehnya. Perasaan gw begitu lega ketika segala permasalahan ini bisa terselesaikan. Dan gw tetap merahasiakan permasalahan ini kepada Bunga.
"Sekali lagi maaf ya." Ucap gw.
"Iya..." Sahutnya.
"Yank,kata Bunda kamu sakit ya? Kamu sakit apa?" Tanya gw.
"Ga tau nih...kayanya Magh aku kambuh. Udah dari kemaren kerasa ga enak banget peyut aku."
"Maka dari itu jangan telat makan dong."
"Abisnya.gara gara mikirin kamu nggak ada kabarnya jadi lupa makan aku..."
"Hehe segitunya. Sekarang kamu udah sehat kan?"
"Udah mendingan...tapi masih sakit dikit" Jawabnya.
"Mau aku jampe jampe? biar cepet sembuh..."
"Gimana caranya?" Tanya dia heran.
"Sini...."
Kali ini posisi gw berubah menghadapnya, kemudian dengan perlahan gw sentuh bagian perutnya dengan telapak tangan gw. Baru juga mulut ini terbuka ingin mengucapkan jampe jampe tiba tiba...
"Plaaaakk!!!"
"Hayoo...kamu mau ngapain??" Ujarnya melotot.
"Yah...kan mau jampe jampe, kok malah digampar akunya..."
"Mau jampe apa mesum? Kamu tuh ya!!" Ujarnya dengan suara agak cempreng.
"Ya ngejampe lah yank...Peyutnya kan yang sakit? Makannya aku jampe peyutnya"
"Jangan macem macem ya awas!!" Ancam dia.
"Iya nggak...mana coba sini..."
"Sini kemana?"
"Ya aku jampe jampe lagi..."
Setelah gw bujuk akhirnya dia pun mau juga. Asalkan dengan syarat gw nggak macem macem.
'Wah kesempatan Nih!!' Fikir gw saat itu. Lalu dengan cepat gw kembali meletakkan tangan kanan gw di perutnya. Dan jampe jampe ala dukun cabul pun gw ucapkan..
"Jampe Jampe Harupat, geura gede geura lumpat!! Jampe Jampe Kararas, geura gede geura waras!! FUUUHHH!! FUHHH!! FUUUHH!!"
"Udah??" Tanya Bunga.
"Iya udah sayank..." Jawab gw.
Lalu....
"Huahahahahaha......." Bunga ngakak sejadi jadinya.
"Kamu tuh...Huahahaha...Lucu ya!! Kaya dukun beneran!! Huahahaha"
Apanya yang lucu?
Gw diam saja membiarkan dia tertawa terbahak bahak sambil memasang tampang idiot. Tak lepas kedua mata ini menatapnya. Bahagia dan senang gw rasakan ketika melihat orang yang gw sayangi bisa tertawa seperti itu.
"Udah yank ketawanya?" Tanya gw datar.
"Hahaha...Kamu lucu banget sih! haha" Ujarnya masih sedikit terpingkal.
"Biasa aja kali...Tapi jampe aku ampuh kan? Kayanya kamu udah sehat, tuh buktinya udah bisa ketawa" Ujar gw.
"Hehe...Iya sehat...Kamu tuh kapan sih nggak buat aku ketawa? Selalu aja kalo sama kamu tuh ketawa terus."
"........." Gw hanya tersenyum.
Lalu Bunga melingkarkan kedua tangannya ke tangan gw, dan menyandarkan kepalanya di bahu gw.
"Yank, jampe jampe kamu itu artinya apa?" Tanya dia.
"Emmm...Rahasia Negara atuh!"
"Huuh...pelit ah nggak mau ngasih tau"
"Kamu ngga perlu tau artinya, yang pasti kalo kamu sakit terus aku jampe jampe kamu langsung sembuh...hehe"
Tiba tiba dia melepaskan lingkaran tangannya di tangan gw, lalu lingkaran itu kini berpindah di leher gw. Otomatis jarak wajah gw dan dia sangat dekat sekali, sampai sampai hembusan nafasnya terasa hangat di wajah gw.
"Yaank" Panggil dia.
"Hemmm" Sahut gw.
"Makasih yaa.."
"Iya..."
Dia mengangkat wajahnya sedikit mendongak ke atas. Perlahan lahan matanya mulai menutup, dan bibir tipisnya sedikit terbuka. Gw dekatkan wajah gw ke arah wajahnya...
Dan....
"Cuuup..." Satu kecupan hangat mendarat di keningnya.
Dia sedikit kaget lalu membuka matanya lebar lebar penuh tanda tanya.
"Kok disini??" Tanya dia heran.
"Loh emangnya dimana?" Gw balik bertanya.
Dia diam saja tidak menjawabnya.
Lalu dengan lembut gw genggam sisi wajahnya, gw lihat matanya kembali terpejam...Dan kali ini gw memberanikan diri...
"Cuuup......"
Satu kecupan mendarat di bibirnya...Tak lama, hanya sekitar 5 detik. Rasanya hambar gimanaa gitu...Tapi cukup membuat tubuh gw 'ngadaregdeg'.
Karena itu adalah FIRST KISS gw.........
Dia...Cinta pertama gw yang kembali datang disaat yang salah. Setelah melalui penantian yang cukup lama, dan setelah melewati puluhan bahkan ratusan proses yang rumit, akhirnya gw bisa jujur menyatakan perasaan gw. Begitupun juga dengannya yang sudah cukup lama menyimpan perasaan terhadap gw. Tapi sayang, semuanya terucap ketika keadaan sudah jauh berbeda.
Hanya sejuta maaf terucap di akhir cerita. Memang hanya itu yang bisa gw ucapkan, dan memang seharusnya seperti itu.
Umumnya pernyataan sayang itu hasilnya berbuah manis. Yang bisa menyatukan dua insan berbeda kedalam sebuah ikatan. Tapi tidak untuk gw. Ironisnya hal itu semua malah menyisakan sebuah luka lama yang kembali menganga, lantas memisahkan kami berdua.
Terkadang tak selamanya gula terasa manis...Tak selamanya pula empedu terasa pahit...
Tak mudah buat gw meninggalkan dia begitu saja. Senyumnya, suaranya, cara dia bicara, cara dia tertawa, semunya sudah terbungkus dalam satu paket yang bernama kenangan. Dan segala kenangan yang pernah dia buat untuk gw tak akan pernah hilang disini. Di dalam otak gw...
Namun ada satu pesan darinya sebelum gw pergi sore itu...
"Jar...Jangan Tawuran lagi ya...!!"
……………………………………………………
................…………………………………..
"Tuuuuut.....tuuut..."
Entah sudah berapa kali gw mencoba menghubungi Bunga sedari tadi pagi. Tapi apa yang gw dapati tak sesuai dengan harapan. Sms gw tidak dibalas olehnya, semua telefon dari gw sama sekali tidak diangkat. Gw mulai merasa khawatir dengannya. Sebab kurang lebih selama satu Minggu, gw belum menghubunginya lagi. Akhirnya gw putuskan untuk langsung menemui dia, datang langsung ke rumahnya sekarang juga di Minggu siang nan mendung.
Gw segera bersiap siap lekas mandi dan berpakaian rapi layaknya ingin bertemu presiden. Tapi gw kebingungan ketika mencari jaket adidas yang biasa gw pakai. Gw cari di gantungan baju belakang pintu kamar, nggak ada. Di keranjang tempat baju kotor juga nggak ada. Gw tanya bidadari No.1 beliau bilangnya 'nggak tau'.
Lalu gw ingat ingat lagi dimana jaket kesayangan gw itu.
Akhirnya gw ingat, jaket itu dipakai oleh Niar kemarin sore, dan gw lupa memintanya lagi ketika gw pulang. Dia pun juga lupa untuk mengembalikannya kepada gw.
"Yasudah lah...Kapan kapan aja kalo sempet gw ambil kesana". Fikir gw saat itu.
"Assalamualaikum..." Teriak gw ketika sampai di depan rumahnya Bunga.
"Walekumsalam...."
Aiih...kenapa harus si Jodi sih yang ngejawab? Gw mencoba mengucap salam sekali lagi berharap manusia lah yang menjawab salam gw.
"Assalamualaikum!"
Tapi lagi lagi, Jodi yang menjawab. Namun gw tak menyerah sampai disitu. Kembali gw setengah berteriak mengucap salam. Hingga akhirnya dijawablah salam gw oleh dua makhluk sekaligus. Yang satu berupa manusia, dia adalah Bundanya Bunga. Dan satu lagi berupa unggas, dia Jodi...
Ini adalah fenomena yang keren menurut gw. Karena majikan dan piaraan begitu kompaknya menjawab salam gw.
"Ooh...si Fajar." Ujar Bunda.
"Hehe...Nda, Bunga ada?" Tanya gw lalu sungkem kepadanya.
"Ada. Lagi tidur dia...Udah dua hari Bunga sakit. Katanya nggak enak badan. mau Bunda bangunin aja?" Tanya dia.
"Eeh...nggak usah Nda kalo lagi tidur mah. kali aja dia kecapean...Biar aja jangan dibangunin. Aku pulang aja deh..." Ujar gw.
Apa boleh buat...daripada gw mengganggu istirahatnya, lebih baik gw memutuskan untuk pulang saja saat itu. Padahal gw ingin sekali bertemu dengannya untuk meminta maaf atas kesalahan gw tempo hari yang lalu. Tapi, tak apalah, yang penting gw sudah tau keadaan dia sekarang. Dia sedang sakit, dan gw nggak ada disampingnya ketika dia sakit. Gw kecewa dengan diri gw sendiri sebab jangankan menjenguk, mengetahuinya pun gw tidak. Barulah setelah Bundanya bicara, gw tahu keadaan dia. Lelaki macam apa gw ini??
"Jaar..."
Reflek gw menoleh ke arah suara itu dan munculah sesosok gadis cantik dengan kondisi rambut kusut acak acakan, dibalut wajah sedikit pucat yang menggambarkan bahwa dia memang sedang kurang sehat. Gw membatalkan niat gw untuk pulang siang itu, karena bidadari no.2 gw akhirnya muncul juga.
"Loh, Mba Bunga udah bangun? Tuh Mba...dokternya datang!" Ejek Bundanya kemudian masuk ke dalam rumah.
"........." Gw nyengir.
Tertegun gw memandang wajahnya ketika sebuah senyum manis terpancar di sudut bibirnya. Dia lemparkan senyum itu ke arah gw sambil sesekali menguap. Matanya yang sayu baru bangun tidur terlihat semakin sipit. Namun, dia tetaplah cantik seperti biasanya.
Kemudian dia duduk di sebuah kursi kayu yang selalu kami duduki bersama. Gw segera menghampirinya lalu duduk tepat disampingnya.
"Bunga..."
"Hemm.." Sahut dia.
"Maafin aku ya... " Ucap gw pelan.
"Hemm..."
"Loh kok jawabnya gitu?" Tanya gw.
"iih kamu teh nyebelin! Aku tuh baru bangun tidur. Nggak liat apa aku lagi ngumpulin nyawa!" Ujarnya lalu menguap.
Akhirnya gw memilih diam membiarkan dia beberapa saat. sambil memandang wajahnya yang manis dan lucu. Apalagi pipinya yang chuby itu loh bikin gemes Asa hayang nyiwit!! Ditambah hidungnya yang mancung kaya jambu monyet membuat tangan ini nafsu ingin menariknya.
Sungguh gw sangat beruntung sekali memiliki bidadari cantik seperti dia...
"Nyawanya udah kumpul?" Tanya gw.
"Udah." Jawabnya singkat.
"Boleh aku ngomong?"
"Iya..." sahutnya.
"Aku mau minta maaf sama kamu..." Ucap gw.
"Maaf buat apa?" tanya dia.
"Maaf nggak ngabarin kamu seminggu ini, aku juga minta maaf soalnya aku sempet kasar sama kamu."
"Aku ngerti kamu lagi ada masalah. Tapi tolong jangan bentak aku kaya kemarin. Ayah-Bunda aku aja nggak pernah ngebentak aku..." Ujarnya.
"Iya...aku salah. Maaf ya."
"Terus juga kamu jangan diemin aku. Terbuka lah sama aku, cerita sama aku masalahnya apa. Buat apa ada aku kalo kamu juga nggak mau terbuka bicara jujur sama aku." Ujarnya.
"Iya maaf..." Ucap gw.
"Tuh kan nyebelin daritadi ngomongnya maaf terus! Huhh.." Gerutu dia.
"Hehe iya iya...intinya aku dimaafin nggak?" Tanya gw.
"Iyaa dimaafin. Tapi jangan gitu lagi."
"siap!! Yaudah kita damai yaa...."
Lalu gw menjulurkan kelingking ke arahnya. Gw berharap jari ini disambut olehnya sebagai pertanda kalau kita kembali berdamai. Tapi, dia diam saja tidak menanggapinya justru memasang raut wajah cuek dan bete.
"Damai ya..ya..." Gw kembali merayunya.
"Nggak mau...." Ujarnya.
"Haa...kok gitu? Katanya udah dimaafin. Tapi di ajak damai kok ga mau?" Tanya gw.
"Aku mau kamu cerita, masalah kamu apa sebenernya?"
Deggg!!!
Gw terperanjat atas pertanyaan dia yang ingin tahu masalah gw yang sebenarnya. Gw bingung harus jawab apa. Apakah gw harus Jujur, atau gw tetap menyembunyikannya?
"Masalah aku...emmm..." Ujar gw gagap.
"Apa.?"
"Emmm...itu...Anu..."
Seketika mulut gw menjadi kaku. Gw nggak bisa ngomong apa apa saat itu. Bukannya gw nggak mau bicara jujur, tapi gw lebih menjaga perasaannya saat itu. Bayangkan bagaimana perasaannya kalau saja dia mengetahui tentang Niar? Melihat isi sms yang tersimpan di jimbot gw waktu dulu saja dia menangis, bagaimana kalau dia sampai tahu sejauh apa hubungan gw dengan Niar? Entahlah...
Ditengah kebisuan gw yang tak bisa menjawab, Bunga sedikit menggeser posisi duduknya lebih dekat dengan gw.
"Jar..."
"Iya..."
"Sini liat aku.."
Gw mulai menatapnya...
menatap matanya yang sayu agak menyipit.
Lalu dia melingkarkan kedua tangannya dileher gw. Dag dig dug!! Jantung gw mendadak berdetak kencang, nafas gw menjadi tidak beraturan...
Help!! Mau diapain nih gw?
"Aku nggak perlu tau masalah kamu apa. Yang penting sekarang kamu ada disini, kamu masih ada disamping aku. Aku kangen sama kamu..."
Lalu dia memeluk gw. Erat sekali. Disandarkannya Kepala itu dengan nyaman tenggelam di bahu gw. Sampai sampai (maaf) tonjolan itu menempel di badan gw. Mendadak gw bengong kaya patung, disertai keringet dingin yang mengucur di sekujur muka gw. Wajar saja karena baru kali ini dia memeluk gw sampai nempel seperti ini.
Pelukan itu menandakan bahwa dia sangat tidak ingin kehilangan gw. Gw pun mengerti, dan gw berjanji pada diri gw sendiri untuk tidak lagi meninggalkannya, serta selalu ada disisinya dalam keadaan apapun.
Sedikit lega perasaan gw karena dia tidak memaksa gw untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Padahal gw udah bener bener panik, apalagi tatapan matanya itu sangat serius membuat gw gelagapan. Syukurlah dia tak mau membahasnya. Justru sebuah pelukan hangatlah yang gw dapatkan.
"Yank udah..." Bisik gw.
"Nggak mau..."
"Nanti diliat Bunda ga enak"
"Sebentar lagi..." Dia malah mempererat pelukannya.
Gw sih nggak masalah kalo dia meluk gw lama lama juga. Nggak munafik dong gw kalo itu emang maunya gw. Siapa sih yang nggak mau dipeluk sama bidadari? haha.
Tak lama kemudian, akhirnya dia melepaskan pelukannya. Lalu dia tersenyum kepada gw. Gw pun membalas senyumnya itu.
"Damai??" Tanya gw lalu menjulurkan kelingking.
"Iya sayaank..." Ujarnya.
'Klik'...Akhirnya jari kelingking gw disambut juga olehnya. Perasaan gw begitu lega ketika segala permasalahan ini bisa terselesaikan. Dan gw tetap merahasiakan permasalahan ini kepada Bunga.
"Sekali lagi maaf ya." Ucap gw.
"Iya..." Sahutnya.
"Yank,kata Bunda kamu sakit ya? Kamu sakit apa?" Tanya gw.
"Ga tau nih...kayanya Magh aku kambuh. Udah dari kemaren kerasa ga enak banget peyut aku."
"Maka dari itu jangan telat makan dong."
"Abisnya.gara gara mikirin kamu nggak ada kabarnya jadi lupa makan aku..."
"Hehe segitunya. Sekarang kamu udah sehat kan?"
"Udah mendingan...tapi masih sakit dikit" Jawabnya.
"Mau aku jampe jampe? biar cepet sembuh..."
"Gimana caranya?" Tanya dia heran.
"Sini...."
Kali ini posisi gw berubah menghadapnya, kemudian dengan perlahan gw sentuh bagian perutnya dengan telapak tangan gw. Baru juga mulut ini terbuka ingin mengucapkan jampe jampe tiba tiba...
"Plaaaakk!!!"
"Hayoo...kamu mau ngapain??" Ujarnya melotot.
"Yah...kan mau jampe jampe, kok malah digampar akunya..."
"Mau jampe apa mesum? Kamu tuh ya!!" Ujarnya dengan suara agak cempreng.
"Ya ngejampe lah yank...Peyutnya kan yang sakit? Makannya aku jampe peyutnya"
"Jangan macem macem ya awas!!" Ancam dia.
"Iya nggak...mana coba sini..."
"Sini kemana?"
"Ya aku jampe jampe lagi..."
Setelah gw bujuk akhirnya dia pun mau juga. Asalkan dengan syarat gw nggak macem macem.
'Wah kesempatan Nih!!' Fikir gw saat itu. Lalu dengan cepat gw kembali meletakkan tangan kanan gw di perutnya. Dan jampe jampe ala dukun cabul pun gw ucapkan..
"Jampe Jampe Harupat, geura gede geura lumpat!! Jampe Jampe Kararas, geura gede geura waras!! FUUUHHH!! FUHHH!! FUUUHH!!"
"Udah??" Tanya Bunga.
"Iya udah sayank..." Jawab gw.
Lalu....
"Huahahahahaha......." Bunga ngakak sejadi jadinya.
"Kamu tuh...Huahahaha...Lucu ya!! Kaya dukun beneran!! Huahahaha"
Apanya yang lucu?
Gw diam saja membiarkan dia tertawa terbahak bahak sambil memasang tampang idiot. Tak lepas kedua mata ini menatapnya. Bahagia dan senang gw rasakan ketika melihat orang yang gw sayangi bisa tertawa seperti itu.
"Udah yank ketawanya?" Tanya gw datar.
"Hahaha...Kamu lucu banget sih! haha" Ujarnya masih sedikit terpingkal.
"Biasa aja kali...Tapi jampe aku ampuh kan? Kayanya kamu udah sehat, tuh buktinya udah bisa ketawa" Ujar gw.
"Hehe...Iya sehat...Kamu tuh kapan sih nggak buat aku ketawa? Selalu aja kalo sama kamu tuh ketawa terus."
"........." Gw hanya tersenyum.
Lalu Bunga melingkarkan kedua tangannya ke tangan gw, dan menyandarkan kepalanya di bahu gw.
"Yank, jampe jampe kamu itu artinya apa?" Tanya dia.
"Emmm...Rahasia Negara atuh!"
"Huuh...pelit ah nggak mau ngasih tau"
"Kamu ngga perlu tau artinya, yang pasti kalo kamu sakit terus aku jampe jampe kamu langsung sembuh...hehe"
Tiba tiba dia melepaskan lingkaran tangannya di tangan gw, lalu lingkaran itu kini berpindah di leher gw. Otomatis jarak wajah gw dan dia sangat dekat sekali, sampai sampai hembusan nafasnya terasa hangat di wajah gw.
"Yaank" Panggil dia.
"Hemmm" Sahut gw.
"Makasih yaa.."
"Iya..."
Dia mengangkat wajahnya sedikit mendongak ke atas. Perlahan lahan matanya mulai menutup, dan bibir tipisnya sedikit terbuka. Gw dekatkan wajah gw ke arah wajahnya...
Dan....
"Cuuup..." Satu kecupan hangat mendarat di keningnya.
Dia sedikit kaget lalu membuka matanya lebar lebar penuh tanda tanya.
"Kok disini??" Tanya dia heran.
"Loh emangnya dimana?" Gw balik bertanya.
Dia diam saja tidak menjawabnya.
Lalu dengan lembut gw genggam sisi wajahnya, gw lihat matanya kembali terpejam...Dan kali ini gw memberanikan diri...
"Cuuup......"
Satu kecupan mendarat di bibirnya...Tak lama, hanya sekitar 5 detik. Rasanya hambar gimanaa gitu...Tapi cukup membuat tubuh gw 'ngadaregdeg'.
Karena itu adalah FIRST KISS gw.........
efti108 memberi reputasi
1