- Beranda
- Stories from the Heart
Accidentally In Love [True Story]
...
TS
robotpintar
Accidentally In Love [True Story]
![Accidentally In Love [True Story]](https://s.kaskus.id/images/2014/02/14/6448808_20140214023854.png)
Spoiler for Cover:
![Accidentally In Love [True Story]](https://s.kaskus.id/images/2014/02/14/6448808_20140214024411.png)
So she said what's the problem baby
What's the problem I don't know
Well maybe I'm in love (love)
Think about it every time
I think about it
Can't stop thinking 'bout it
How much longer will it take to cure this
Just to cure it cause I can't ignore it if it's love (love)
Makes me wanna turn around and face me but I don't know nothing 'bout love
Come on, come on
Turn a little faster
Come on, come on
The world will follow after
Come on, come on
Cause everybody's after love
So I said I'm a snowball running
Running down into the spring that's coming all this love
Melting under blue skies
Belting out sunlight
Shimmering love
Well baby I surrender
To the strawberry ice cream
Never ever end of all this love
Well I didn't mean to do it
But there's no escaping your love
These lines of lightning
Mean we're never alone,
Never alone, no, no
We're accidentally in love
Accidentally in love [x7]
Accidentally I'm In Love
Spoiler for Bagian 1:
#1
Quote:
“Gila lu Bon, roti segitu banyak sayang-sayang bakal empan ikan semua!”
“Emang ngapa? Ikan jaman sekarang mah ogah makan cacing, Meng”
Gua jawab aja sekena-nya, memang niatnya gua bawa roti dari rumah buat bekal pas mancing tapi, gara-gara umpan cacing gua dari tadi nggak disentuh ikan terpaksa gua ganti dengan roti. Siapa tau mujarab.
Nggak seberapa berselang, tali pancing gua bergetar, refleks gua tarik joran sekuatnya dan mendarat dengan mulus seekor ikan yang kurang lebih seukuran telapak tangan.
“Anjritt.. dari tadi dapet sapu-sapu mulu gua!”
Sambil melepas mata kail dari mulut ikan sapu-sapu yang barusan gua angkat dan langsung gua lempar lagi kedalam kali.
Tidak berapa lama, melantun lagu “Time Like This”-nya Foo Fighter dari ponsel gua. Tertera tulisan “Rumah” dilayarnya.
“Kenapa mak?”
Karena memang cuma nyokap gua aja yang selalu telpon melalui telepon rumah. Bokap dan adik gua selalu menggunakan ponsel-nya masing-masing jika ada keperluan.
“Assalamualaikum , Mancing kagak rapi-rapi luh, nih ada kiriman surat buat elu”
“Dari siapa?”
“Kagak tau, bahasanya emak nggak ngerti”
“Simpenin dulu, nih aye udah mau pulang”
“Yaudah buruan, jangan maghriban dijalan, pamali. Assalamualaikum”
“Waalaikumsalam”
Gua kantongin lagi ponsel k-ekantong celana pendek yang sekarang udah kotor campur lumpur, sambil berteriak ke temen gua; Komeng, yang lagi berkutat dengan tali pancingnya yang kusut.
“Meng, ayo balik.. udah sore”
“Belon juga dapet sekilo, udah mau balik aje”
“Yauda elu terusin dah, gua balik duluan”
Komeng menjawab dengan sedikit gumam di bibirnya terdengar seperti “Yaelah..” sambil berjalan gontai menyusul gua.
------
Itu kejadian beberapa tahun yang lalu, dimana gua dan Komeng masih biasa mencari cacing buat umpan ikan di kebun singkong belakang rumahnya Haji Salim dan kemudian pergi memancing disepanjang pinggiran sungai Pesanggrahan, Jakarta.
Sekarang, gua sedang duduk sambil bersandar di sebuah kursi lipat di pinggir danau di daerah Leeds, Inggris. Menghabiskan hari libur akhir musim gugur dengan memancing sambil bernostalgia, mencoba membangkitkan memori tentang memancing, tentang si Komeng, tentang Jakarta, tentang rumah.
Setelah berjam-jam memancing, menghabiskan berkaleng-kaleng ‘Diet Coke’ akhirnya gua memutuskan untuk menyudahi kegiatan sialan ini. Pulang dengan membawa 6 Ekor ikan Yelowtail (di Indonesia disebut ikan patin) dan sedikit kenangan tentang ‘rumah’, gua berjalan gontai menuju tempat dimana sepeda kesayangan gua diparkir, sempat kebingungan awalnya karena sekarang ada banyak sepeda yang diparkir, padahal tadi pagi baru sepeda gua aja yang nongkrong disini, setelah celingak-celinguk akhirnya ketemu juga dan gua mulai mengayuh.
Jarak dari tempat gua biasa mancing ke tempat dimana gua tinggal di Moorland Ave, Leeds kurang lebih 3,5 mil atau kalau dalam satuan Kilometer sekitar 5,5 Km. Jarak segitu kalo disini, di Inggris bisa dibilang ‘deket’, kalau naik sepeda bisa cuma 30 menit.
Oiya, nama gua Boni. Gua lahir dan dibesarkan di Jakarta. Saat ini gua kerja dan tinggal di Leeds, Inggris sekitar 2-3 jam dari London (dengan kereta). Gua kerja sebagai Sound Designer disalah satu Agensi perfilman dan periklanan di Leeds yang juga punya kantor di London. Sudah hampir 4 tahun gua kerja dan tinggal disini, ditempat dimana nggak ada sungai dengan air berwarna cokelat keruh yang banyak ikan sapu-sapunya dan nggak ada teman yang suka menggerutu “Yaelah”.
Sambil mendengarkan “Heaven” nya Lost Lonely Boys lewat headset, gua mengayuh sepeda menuju ke rumah, pulang. Melewati jalan berpasir yang dipenuhi pohon-pohon maple di kedua sisinya menuju jalan utama. Jalan yang sangat sepi dan hening, jam menunjukkan angka 4 sore, menandakan waktu shalat maghrib, di sabtu sore seperti sekarang ini memang didaerah sini sangat sepi, kebanyakan penduduk sekitar sedang ke stadion atau pub-pub untuk menyaksikan Leeds United bertanding. Ingin buru-buru sampai di rumah, karena perut udah mulai keroncongan, gua kayuh sepeda lebih cepat. Sampai kemudian terdengar sayup-sayup suara musik yang makin lama makin nyaring, suara musik RnB yang sepertinya diputar dari dalam mobil dengan volume maksimal. Suara tersebut datang dari arah belakang dan kemudian menyusul gua, sebuah BMW silver yang melaju cepat bahkan boleh dibilang sangat cepat, sambil meninggalkan debu persis seperti mobil yang sedang Rally Dakkar.
“Orang Gila!!” gua mengumpat, masih sambil dengerin coda lagu “Heaven” nya Lost Lonely Boys. Sampai gua melihat beberapa detik kemudian lampu rem BMW tersebut menyala dan kemudian berhenti.
Deg!, “Wuanjrit, sakti juga tuh orang bisa denger suara gua” sambil berhenti dan melepas headset dari telinga. Yang ternyata setelah gua sadar, suara gua nggak sepelan pas pakai headset tadi. Gua nunggu sambil dag dig dug, kalau dia ngerti ucapan gua, dia pasti orang Indonesia dan kalo ternyata bukan gua bakal siap-siap kabur.
Pintu penumpang pun terbuka, terbuka secara paksa tepatnya, sedetik kemudian keluar seseorang dari kursi penumpang, terhuyung dan kemudian terjatuh, terdengar makian dari dalam BMW tersebut mungkin seperti “bitch” atau semacamnya dan sesaat kemudian BMW tersebut pergi, mengasapi orang yang tersungkur itu dengan debu jalanan.
Nggak mau terlalu ambil pusing, sambil bernafas lega dan bilang dalam hati; “untung bukan gua”, gua meneruskan mengayuh sepeda.
“Get up Bro, life is brutal”
gua berkata ke orang itu sambil melewatinya tetap melanjutkan mengayuh. Dan beberapa meter kemudian gua mendengar sebuah teriakan, teriakan yang (pada akhirnya) bakal merubah hidup gua.
“Woii.. Help me!, you’re Indonesian, right?”
“Tolongin gue dong…”
Gua berhenti mengayuh, turun dan bengong. Sudah hampir setahun gua nggak denger secara langsung orang bicara ke gua dengan bahasa Indonesia dan suara perempuan pula.. Lima, ah mungkin sepuluh detik kemudian baru gua memalingkan muka tapi masih tetap bengong.
“Woii..”
Akhirnya gua turun dari sepeda, kemudian menghampiri orang itu. Terduduk di depan gua sosok perempuan, hitam manis dengan kepala tertutup hood jaket hitam, celana jeans dan sepatu model boots sebetis berwarna cokelat.
“Elu nggak apa-apa?”
“Menurut Lo? Kalo gue gak apa-apa, ngapain gua teriak minta tolong elu!!”
Gua nggak menjawab, berusaha membantu dia berdiri sambil bertanya lagi bagaimana keadaannya. Sekali lagi dia mengumpat;
“Gila!, nggak punya hati banget sih lu!, ya jelas lah gue kenapa-kenapa.. nih liat!”
Sambil memperlihatkan telapak tangan dan siku-nya yang luka dan kemudian menyibak celana jeans-nya yang kotor terkena debu dan sobek di beberapa bagian akibat terlempar dari mobil tadi. Sesaat baru dia sadar kalau lutut kanannya juga luka sambil meringis kesakitan dia mencoba membersihkan luka tersebut dengan air liurnya. Sangat Indonesia sekali.
“Gua pikir tadi orang mabok yang lagi berantem, disini mah biasa begitu,mbak!”
Kemudia gua kasih satu-satunya ‘Diet Coke’ sisa memancing tadi, harusnya sih air putih tapi Cuma itu yang gua punya sekarang. Sambil menggerutu karena dikasih ‘Diet Coke’ daripada air putih, diminum juga tuh minuman soda. Kemudian gua menawarkan diri buat mengantar dia ke sebuah toko kecil di ujung jalan ini, untuk membeli plester untuk membalut luka-nya.
“Jauh nggak?”
Dia bertanya sambil menurunkan hood jaketnya dan menyibak rambutnya yang pendek seleher. Kemudian terlihat jelas sebuah luka lebam di sudut mata sebelah kiri-nya, tidak, bukan cuma satu, setidaknya ada 3 luka lebam, selain disudut matanya, satu lagi di dahi sebelah kiri dan satu lagi di sudut bibir sebelah kanan, yang terakhir tampak seperti luka yang baru karena masih meninggalkan sisa bekas darah yang membeku.
Gua nggak berani bertanya, gua hindari menatap kewajahnya sambil menjawab pertanyaa-nya bahwa tokonya nggak begitu jauh dari sini, sambil menunjuk ke arah jalan utama.
---
“Emang ngapa? Ikan jaman sekarang mah ogah makan cacing, Meng”
Gua jawab aja sekena-nya, memang niatnya gua bawa roti dari rumah buat bekal pas mancing tapi, gara-gara umpan cacing gua dari tadi nggak disentuh ikan terpaksa gua ganti dengan roti. Siapa tau mujarab.
Nggak seberapa berselang, tali pancing gua bergetar, refleks gua tarik joran sekuatnya dan mendarat dengan mulus seekor ikan yang kurang lebih seukuran telapak tangan.
“Anjritt.. dari tadi dapet sapu-sapu mulu gua!”
Sambil melepas mata kail dari mulut ikan sapu-sapu yang barusan gua angkat dan langsung gua lempar lagi kedalam kali.
Tidak berapa lama, melantun lagu “Time Like This”-nya Foo Fighter dari ponsel gua. Tertera tulisan “Rumah” dilayarnya.
“Kenapa mak?”
Karena memang cuma nyokap gua aja yang selalu telpon melalui telepon rumah. Bokap dan adik gua selalu menggunakan ponsel-nya masing-masing jika ada keperluan.
“Assalamualaikum , Mancing kagak rapi-rapi luh, nih ada kiriman surat buat elu”
“Dari siapa?”
“Kagak tau, bahasanya emak nggak ngerti”
“Simpenin dulu, nih aye udah mau pulang”
“Yaudah buruan, jangan maghriban dijalan, pamali. Assalamualaikum”
“Waalaikumsalam”
Gua kantongin lagi ponsel k-ekantong celana pendek yang sekarang udah kotor campur lumpur, sambil berteriak ke temen gua; Komeng, yang lagi berkutat dengan tali pancingnya yang kusut.
“Meng, ayo balik.. udah sore”
“Belon juga dapet sekilo, udah mau balik aje”
“Yauda elu terusin dah, gua balik duluan”
Komeng menjawab dengan sedikit gumam di bibirnya terdengar seperti “Yaelah..” sambil berjalan gontai menyusul gua.
------
Itu kejadian beberapa tahun yang lalu, dimana gua dan Komeng masih biasa mencari cacing buat umpan ikan di kebun singkong belakang rumahnya Haji Salim dan kemudian pergi memancing disepanjang pinggiran sungai Pesanggrahan, Jakarta.
Sekarang, gua sedang duduk sambil bersandar di sebuah kursi lipat di pinggir danau di daerah Leeds, Inggris. Menghabiskan hari libur akhir musim gugur dengan memancing sambil bernostalgia, mencoba membangkitkan memori tentang memancing, tentang si Komeng, tentang Jakarta, tentang rumah.
Setelah berjam-jam memancing, menghabiskan berkaleng-kaleng ‘Diet Coke’ akhirnya gua memutuskan untuk menyudahi kegiatan sialan ini. Pulang dengan membawa 6 Ekor ikan Yelowtail (di Indonesia disebut ikan patin) dan sedikit kenangan tentang ‘rumah’, gua berjalan gontai menuju tempat dimana sepeda kesayangan gua diparkir, sempat kebingungan awalnya karena sekarang ada banyak sepeda yang diparkir, padahal tadi pagi baru sepeda gua aja yang nongkrong disini, setelah celingak-celinguk akhirnya ketemu juga dan gua mulai mengayuh.
Jarak dari tempat gua biasa mancing ke tempat dimana gua tinggal di Moorland Ave, Leeds kurang lebih 3,5 mil atau kalau dalam satuan Kilometer sekitar 5,5 Km. Jarak segitu kalo disini, di Inggris bisa dibilang ‘deket’, kalau naik sepeda bisa cuma 30 menit.
Oiya, nama gua Boni. Gua lahir dan dibesarkan di Jakarta. Saat ini gua kerja dan tinggal di Leeds, Inggris sekitar 2-3 jam dari London (dengan kereta). Gua kerja sebagai Sound Designer disalah satu Agensi perfilman dan periklanan di Leeds yang juga punya kantor di London. Sudah hampir 4 tahun gua kerja dan tinggal disini, ditempat dimana nggak ada sungai dengan air berwarna cokelat keruh yang banyak ikan sapu-sapunya dan nggak ada teman yang suka menggerutu “Yaelah”.
Sambil mendengarkan “Heaven” nya Lost Lonely Boys lewat headset, gua mengayuh sepeda menuju ke rumah, pulang. Melewati jalan berpasir yang dipenuhi pohon-pohon maple di kedua sisinya menuju jalan utama. Jalan yang sangat sepi dan hening, jam menunjukkan angka 4 sore, menandakan waktu shalat maghrib, di sabtu sore seperti sekarang ini memang didaerah sini sangat sepi, kebanyakan penduduk sekitar sedang ke stadion atau pub-pub untuk menyaksikan Leeds United bertanding. Ingin buru-buru sampai di rumah, karena perut udah mulai keroncongan, gua kayuh sepeda lebih cepat. Sampai kemudian terdengar sayup-sayup suara musik yang makin lama makin nyaring, suara musik RnB yang sepertinya diputar dari dalam mobil dengan volume maksimal. Suara tersebut datang dari arah belakang dan kemudian menyusul gua, sebuah BMW silver yang melaju cepat bahkan boleh dibilang sangat cepat, sambil meninggalkan debu persis seperti mobil yang sedang Rally Dakkar.
“Orang Gila!!” gua mengumpat, masih sambil dengerin coda lagu “Heaven” nya Lost Lonely Boys. Sampai gua melihat beberapa detik kemudian lampu rem BMW tersebut menyala dan kemudian berhenti.
Deg!, “Wuanjrit, sakti juga tuh orang bisa denger suara gua” sambil berhenti dan melepas headset dari telinga. Yang ternyata setelah gua sadar, suara gua nggak sepelan pas pakai headset tadi. Gua nunggu sambil dag dig dug, kalau dia ngerti ucapan gua, dia pasti orang Indonesia dan kalo ternyata bukan gua bakal siap-siap kabur.
Pintu penumpang pun terbuka, terbuka secara paksa tepatnya, sedetik kemudian keluar seseorang dari kursi penumpang, terhuyung dan kemudian terjatuh, terdengar makian dari dalam BMW tersebut mungkin seperti “bitch” atau semacamnya dan sesaat kemudian BMW tersebut pergi, mengasapi orang yang tersungkur itu dengan debu jalanan.
Nggak mau terlalu ambil pusing, sambil bernafas lega dan bilang dalam hati; “untung bukan gua”, gua meneruskan mengayuh sepeda.
“Get up Bro, life is brutal”
gua berkata ke orang itu sambil melewatinya tetap melanjutkan mengayuh. Dan beberapa meter kemudian gua mendengar sebuah teriakan, teriakan yang (pada akhirnya) bakal merubah hidup gua.
“Woii.. Help me!, you’re Indonesian, right?”
“Tolongin gue dong…”
Gua berhenti mengayuh, turun dan bengong. Sudah hampir setahun gua nggak denger secara langsung orang bicara ke gua dengan bahasa Indonesia dan suara perempuan pula.. Lima, ah mungkin sepuluh detik kemudian baru gua memalingkan muka tapi masih tetap bengong.
“Woii..”
Akhirnya gua turun dari sepeda, kemudian menghampiri orang itu. Terduduk di depan gua sosok perempuan, hitam manis dengan kepala tertutup hood jaket hitam, celana jeans dan sepatu model boots sebetis berwarna cokelat.
“Elu nggak apa-apa?”
“Menurut Lo? Kalo gue gak apa-apa, ngapain gua teriak minta tolong elu!!”
Gua nggak menjawab, berusaha membantu dia berdiri sambil bertanya lagi bagaimana keadaannya. Sekali lagi dia mengumpat;
“Gila!, nggak punya hati banget sih lu!, ya jelas lah gue kenapa-kenapa.. nih liat!”
Sambil memperlihatkan telapak tangan dan siku-nya yang luka dan kemudian menyibak celana jeans-nya yang kotor terkena debu dan sobek di beberapa bagian akibat terlempar dari mobil tadi. Sesaat baru dia sadar kalau lutut kanannya juga luka sambil meringis kesakitan dia mencoba membersihkan luka tersebut dengan air liurnya. Sangat Indonesia sekali.
“Gua pikir tadi orang mabok yang lagi berantem, disini mah biasa begitu,mbak!”
Kemudia gua kasih satu-satunya ‘Diet Coke’ sisa memancing tadi, harusnya sih air putih tapi Cuma itu yang gua punya sekarang. Sambil menggerutu karena dikasih ‘Diet Coke’ daripada air putih, diminum juga tuh minuman soda. Kemudian gua menawarkan diri buat mengantar dia ke sebuah toko kecil di ujung jalan ini, untuk membeli plester untuk membalut luka-nya.
“Jauh nggak?”
Dia bertanya sambil menurunkan hood jaketnya dan menyibak rambutnya yang pendek seleher. Kemudian terlihat jelas sebuah luka lebam di sudut mata sebelah kiri-nya, tidak, bukan cuma satu, setidaknya ada 3 luka lebam, selain disudut matanya, satu lagi di dahi sebelah kiri dan satu lagi di sudut bibir sebelah kanan, yang terakhir tampak seperti luka yang baru karena masih meninggalkan sisa bekas darah yang membeku.
Gua nggak berani bertanya, gua hindari menatap kewajahnya sambil menjawab pertanyaa-nya bahwa tokonya nggak begitu jauh dari sini, sambil menunjuk ke arah jalan utama.
---
DAFTAR ISI
Quote:
CHAPTER 1
#1 The Beginning
#2 Truly Gentlemen
#3 Place Called Home
#4 The Morning Fever
#5 A Miserable Story
#6 Night Rain
#7 Inside My Head
#8 That Day
#9 Be Tough
#10 Mukena
#1 The Beginning
#2 Truly Gentlemen
#3 Place Called Home
#4 The Morning Fever
#5 A Miserable Story
#6 Night Rain
#7 Inside My Head
#8 That Day
#9 Be Tough
#10 Mukena
Quote:
CHAPTER 2
#11-A Trip To Manchester
#11-B The Swiss Army
#12 Here's and Back Again
#13 I Miss You So Bad
#14 Going Mad
#15 Promise
#16 You’ll Be The Only Light I See
#17 The Winter Tears
#18 She's Gone
#19 That Memories
#11-A Trip To Manchester
#11-B The Swiss Army
#12 Here's and Back Again
#13 I Miss You So Bad
#14 Going Mad
#15 Promise
#16 You’ll Be The Only Light I See
#17 The Winter Tears
#18 She's Gone
#19 That Memories
Quote:
CHAPTER 3
[URL="http://www.kaskus.co.id/show_post/530ff7e41acb17030d8b48f1/479/- "]#19-A The Hood[/URL]
#19-B Heres And Back Again II
#19-C Weak
#19-D Surrender
#19-E The Choice
#19-F Anything For You
#19-G Chelsea Number 8
#19-H Its not always about gold and glory
#19-I Aku
#19-J The Words
#19-K The Persian Cat
#19-L You Really The Only Light I See
#19-M So Be It
#19-N Less Than Perfect
#20 That Day II
[URL="http://www.kaskus.co.id/show_post/530ff7e41acb17030d8b48f1/479/- "]#19-A The Hood[/URL]
#19-B Heres And Back Again II
#19-C Weak
#19-D Surrender
#19-E The Choice
#19-F Anything For You
#19-G Chelsea Number 8
#19-H Its not always about gold and glory
#19-I Aku
#19-J The Words
#19-K The Persian Cat
#19-L You Really The Only Light I See
#19-M So Be It
#19-N Less Than Perfect
#20 That Day II
Quote:
CHAPTER 4 The Prekuel
#21 The Prologue
#22 My Precious
#23 Ticket to Ride
#24 Singapore
#25 Dreams
#26 The Awkward Moment
#27 Logic
#28 Driver In Life
#29 The Risk Taker
#30 Sorry
#31 Rise Again
#32 Goodbye
#21 The Prologue
#22 My Precious
#23 Ticket to Ride
#24 Singapore
#25 Dreams
#26 The Awkward Moment
#27 Logic
#28 Driver In Life
#29 The Risk Taker
#30 Sorry
#31 Rise Again
#32 Goodbye
Quote:
CHAPTER 5!!
#33 London
#34 Unwell
#35 I Was Here
#36 Leeds
#37 New Home, New Life
#38 Alone
#39 Intermezo
#40 Goin' Trough
#41 At Glance
#42 The Past of The Future
#33 London
#34 Unwell
#35 I Was Here
#36 Leeds
#37 New Home, New Life
#38 Alone
#39 Intermezo
#40 Goin' Trough
#41 At Glance
#42 The Past of The Future
Quote:
CHAPTER 6
#43 My First ...
#44 If Lovin' You ...
#45 Goin' Back
#46 Leeds II
#47 I Love You (Jealousy)
#48 After All
#49 Hell Yeah
#50 Conflict
#51 Liar-Liar
#52 Memories
#43 My First ...
#44 If Lovin' You ...
#45 Goin' Back
#46 Leeds II
#47 I Love You (Jealousy)
#48 After All
#49 Hell Yeah
#50 Conflict
#51 Liar-Liar
#52 Memories
Quote:
Quote:
Diubah oleh robotpintar 10-04-2014 08:46
carangkasampah dan 121 lainnya memberi reputasi
120
1.3M
Kutip
2.3K
Balasan
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
robotpintar
#1199
Spoiler for Bagian ke tiga puluh satu:
#31 Rise Again
Quote:
Gua terbangun diatas sebuah kasur kulit berwarna hitam, rasa pusing masih menghinggapi kepala sebelah kanan gua, terasa seperti ada sesuatu yang masuk lalu keluar melalui kulit kepala, seperti sebuah benang. Seorang suster tengah membersihkan salah satu luka menganga di kaki kiri gua, menurut obrolan antara dokter yang sedang menjahit kepala gua dan suster yang sedang membersihkan luka, tulang kering kaki kiri gua mengalami keretakkan.
Gua memperhatikan sekeliling, mencoba mencari Resti. Kemudian gua mencoba bertanya kepada seorang suster yang berada disitu;
”Sus, perempuan yang sama saya tadi gimana?”
”Wah, saya kurang tau ya, soalnya mas-nya masuk kesininya Cuma sendiri aja..”
Gua mencoba bangun tapi dilarang oleh dokter yang baru saja selesai menjahit bagian kepala, kemudian beringsut ke kaki kiri gua, memberikan suntikan ’kebal’ dan mulai menjahitnya. Gua merasakan sensasi ’ngili-ngilu-perih’ saat jarum menembus kulit dan menyatukannya.
Kemudian bokap dan nyokap masuk ke dalam ruang UGD. Terlihat air mata nyokap yang masih menggenang, kemudian tak henti-hentinya menciumi gua. Bokap berusaha melarang nyokap karena takut dirasa mengganggu proses ’operasi kecil’ ini. Beberapa saat kemudian gua sudah dalam ’papahan’ komeng menuju je sebuah taksi yang sedang menunggu didepan lobi UGD salah satu rumah sakit di daerah Kreo, Ciledug.
Didalam taksi, komeng menyerahkan ponsel. Ponsel milik gua yang sedikit terkena noda darah, gua mencoba menghidupkannya tapi sepertinya rusak. Gua memandang ke arah komeng;
”Meng, bagi rokok..”
Komeng mengerluarkan bungkusan rokok filter dari dalam saku jaketnya dan menyerahkannya ke gua, disusul tepukan ke supir taksi agar membuka kaca jendela.
”Meng, gua tadi jatoh sama cewek.., lu tau nggak dia dibawa kemana?”
”Pas lu kecelakaan kebetulan si Zaenudin lewat situ, lu dibawa ke sini, temen lu gua denger-denger dibawa ke Sari As*h..”
”Bisa tolong cek ke sono?”
”Ntar baba yang kesono...”
Bokap yang duduk di kursi depan memotong pembicaraan.
”Nggak usah ba, biarin si komeng aja..”
”Iya ntar biar aye aja ncang..”
Bokap menoleh kebelakang kemudian mengangguk.
---
Sesampainya dirumah, komeng langsung bergegas menuju ke rumah sakit Sari As*h, dengan menggunakan sepeda motornya, sebelum berangkat gua sempat berpesan agar dia menghubungi gua apapun yang terjadi, seburuk apapun kabar tersebut.
Gua duduk di kursi ruang tamu, didampingi nyokap yang dari sejak dirumah sakit nggak sedikit pun beringsut dari sebelah gua. Gua menyentuh perban yang membungkus bagian sebelah kiri kepala gua kemudian membalik tangan dan melihat luka-luka lecet kecil di beberapa bagian. Pikiran gua masih melayang-layang, tidak tenang. Khawatir bagaimana dengan nasib Resti? Apakah dia akan baik-baik saja?mudah-mudahan tidak terjadi sesuatu yang buruk.
Lama gua memandangi pesawat telepon rumah, berharap komeng segera menghubungi dan memberikan kabar baik. Gua menunggu dan menunggu, sampai saat rasa sakit luar biasa menjalari kepala sebelah kiri gua, gua memegangi kepala sambil berusaha untuk merebahkan diri di kursi panjang ruang tamu. Nyokap memapah gua ke dalam kamar, memberikan beberapa butir obat dan beberapa saat kemudian rasa kantuk menyerang, gua pun tertidur.
---
Gua terbangun akibat suara riuh dirumah, kelihatannya banyak saudara dan kerabat yang mendengar kabar tentang gua yang baru saja mengalami kecelakaan, mereka pun berkumpul dirumah untuk segera mengetahui kondisi gua. Didalam kamar, komeng terduduk di ujung tempat tidur dia sedang membongkar ponsel gua yang dari semalam tidak bisa menyala. Gua bangun, kepala gua masih terasa sakit;
”Meng..”
”Udah bangun lho..”
”Gimana?”
”Temen lu.. Resti..”
Gua mengangguk.
”Iya gimana? Gimana?”
Gua menarik tangan komeng sambil bertanya.
”Dia nggak apa-apa, Cuma luka-luka di siku sama dengkul dan..”
”Alhamdulillah.. kenapa? Apanya?”
”Palanya bocor, sama kayak lu.. tapi dia jidat sebelah kanan..”
Gua menghembuskan nafas lega, dan bertanya sekali lagi ke komeng berusaha meyakinkan sekali lagi. Setelah mendapat jawaban yang sama gua kembali merebahkan diri, dan secara ajaib komeng berhasil membuat ponsel gua kembali menyala. Emang hebat ni bocah, nggak sia-sia titel Sarjana IT nya.
”Hebat lu meng bisa mbenerin hape..”
”Iya lah, gua cape-cape bongkar, nggak taunya Cuma batre-nya doang yang abis..”
”Laah..”
---
Hari kedua setelah kecelakaan yang melibatkan gua dan Resti, gua menghubungi komeng untukk minta di antarkan ke rumah sakit tempat Resti dirawat sebelum ke tempat daerah Pondok Indah untuk mengikuti IELTS. Tapi, menurut pengakuan komeng si Resti juga langsung pulang malam itu juga. Kemudian gua mencoba menghubungi ponselnya Resti, satu kali, dua kali, tiga kali sampai berkali-kali gua mencoba menghubunginya tapi nggak ada jawaban, gua mencoba meng-sms-nya;
”Res,sorry ya.. gmn? Ud shat blm?”
Gua menunggu dan nggak ada balasan darinya. Setelah bersiap-siap, komeng datang bersama taksi berwarna biru yang bakal mengantar gua untuk mengikuti IELTS, dengan dipapah komeng gua menaiki taksi tersebut.
Dalam perjalanan, ponsel gua berbunyi, gua memandang layarnya, sebuah nomor tidak dikenal muncul dilayarnya. Gua berharap ini adalah telepon dari Resti;
”Halo..”
”Halloo..”
Terdengar suara serak dan berat diujung sana.
”Dengan Boni?”
”I..i.iya pak.. ini dengan siapa ya?”
”Saya orang tua-nya Resti..”
”Oh.. anu pak. Iya.. sebelumnya saya minta maaf ya pak, atas kecelakaan kemarin, saya bener bener...”
”Ya, permintaan maaf saya terima, tapi ada hal lain yang mau saya sampaikan..”
”Oh iya pak.. ada apa ya pak?”
”Kalau boleh saya minta satu hal sama boni..
”Ya pak..”
”Kalau bisa Jangan temui anak saya dulu.. ”
”Tapi pak..”
”..itu termasuk telepon dan sms..”
”...”
”Oke, terima kasih atas pengertiannya..”
Tut tut tut tut tut.
Gua menggenggam ponsel, gregetan. Ada apa? Apa yang salah? Itu kan kecelakaan dan siapa juga yang mau mengalami kejadian seperti itu. Gua menghabiskan sepanjang waktu diperjalanan dengan ’ngedumel’ tentang bokapnya Resti yang kolot, super kolot.
Gua keluar dari taksi saat Heru menyambut dengan bingung;
”Hah,kenapa lu?”
”Kecelakaan gua kemaren, sama Resti..”
”Haaah.. trus resti?”
”Resti gapapa.. oiya kenalin nih temen gua ruk, komeng”
Heru dan komeng kemudian berjabat tangan sembari mengenalkan diri, setelah itu komeng-pun pamit untuk langsung berangkat kerja.
Gua dan heru duduk disebuah bangku panjang di ruang tunggu disebuah lokasi penyelenggara IELTS yang terletak di daerah Pondok Indah, Jakarta Selatan. Gua menceritakan kronologi kecelakaan yang menimpa gua dan Resti, heru mendengarkan dengan seksama, ditambah cerita tentang bokapnya Resti yang tadi menelpon dan memperingatkan gua untuk nggak menemui Resti, heru Cuma menggeleng-gelengkan kepala saat mendengar bagian yang terakhir.
Lima menit berikutnya gua sudah duduk menghadapi IELTS.
Dan dua jam berikutnya gua sudah berada di taksi menuju ke rumah, hasil tes nya bakal diumumkan kurang lebih seminggu kemudian. Kalau nilai rata-rata gua diatas 80 maka gua bakal langsung berangkat ke Singapore kemudian lanjut ke London, tapi kalau nilainya dibawah itu, maka gua harus mengulang IELTS dan bisa dipastikan kalau gua bakal kehilangan pekerjaan tersebut, karena untuk mengulang IELTS peserta harus menunggu dua bulan.
Buat yang belum tau IELTS (International English Language Testing System) adalah semacam tes bahasa yang nyaris sama seperti TOEFL atau TOEIC, bedanya kalau IELTS itu untuk penggunaan bahasa Inggris di negara negara Eropa, ya khususnya Inggris itu sendiri. Sedangkam TEOFL lebih menjurus ke bahasa Inggris Amerika atau Kanada. Biasanya IELTS ini ada dua jenis, yang gua ambil adalah IELTS umum sedangkan untuk yang mau ambil beasiswa atau meneruskan kuliah entah S1 atau S2 di Inggris dan negara negara persemakmurannya maka yang harus diambil adalah IELTS Akademik.
Dalam tes IELTS masih terdiri dari empat jenis tes lain yang berbeda, Speaking, Listening, Reading dan writing. Masing-masing memiliki poin tersendiri dan nggak ada standar khusus untuk poin overalnya. Diperusahaan yang nanti gua bakal kerja memiliki standar hasil overall IELTS untuk pegawai non-inggris minimal 80, tapi ada juga perusahaan yang menetapkan standar lebih tinggi tapi ada juga yang lebih rendah dari 80.
---
Seminggu kemudian.
Gua duduk didalam kamar, sambil memegang amplop berisi hasil tes IELTS. Sudah seminggu ini gua berharap-harap cemas dengan hasil yang ada di amplop ini. Sudah seminggu pula gua berulang-kali mencoba mengubungi dan mengirim sms ke nomor ponsel Resti, nggak ada jawaban, nggak ada balasan.
Gua membuka amplop secara perlahan dan mengeluarkan kertas yang berada didalamnya. Gua membuka lipatan kertas tersebut dan membentangkannya, memperhatikan angka-angka hasil tes yang gua lalui minggu kemarin. Mata gua tertuju pada sebuah angka yang diketik dibagian bawah tabel rincian poin masing-masing tes, tertulis disana;
Overall Score : 76 (Seventy Six/ Tujuh Puluh Enam)
Gua melipat kembali kertas tersebut dan memasukkannya kedalam amplop. Menarik nafas panjang, masih terduduk diatas kasur. Gua memegang dahi dengan tangan, bertumpu pada siku dan lutut, rasa sakit dikepala gua masih ada dan semakin terasa. Gua merebahkan diri, meletakkan lengan diatas kepala, memandang ke langit-langit kamar, terlihat samar bayangan london beserta mimpi-mimpi gua untuk menaikkan haji bokap-nyokap melayang-layang kemudian perlahan memudar dan menghilang.
Ponsel gua berdering, gua mengambilnya. Terlihat sebuah pesan dari heru;
”Ahaaaay.. gua lolos cooy! Lu gmana, bon?”
Gua meletakkan ponsel, sempat berniat untuk membalas pesan dari heru dan memberitahukan kalau score IELTS gua jeblok dan nggak memenuhi standar untuk berangkat ke London. Tapi gua mengurungkannya, ah biarlah Heru menikmati kesenangannya dulu, kalau gua kasih tau sekarang dia pasti ikutan sedih juga dan gua rasa itu bukan hal yang tepat untuk dilakukan.
Gua kemudian bangun, keluar dari kamar dan mulai berjalan keluar. Gua nggak tau ingin menuju kemana, biarlah kaki ini yang menentukan arahnya.
Berbulan-bulan gua merajut mimpi ini, berbulan-bulan pula gua larut dalam cita-cita untuk bisa bekerja diluar negeri dan bisa membahagiakan orang tua. Dan mimpi itu seperti menguap, menghilang ditelan angin hanya dalam hitungan hari.
Gua terhenti disebuah lapangan bulutangkis, ada banyak ibu-ibu yang sedang menyuapi anak-anaknya yang sedang bermain, berlarian kesana kemari. Tempat yang sama dulu saat nyokap mengajari gua naik sepeda disini, sambil menggendong Ika, nyokap yang nggak pernah lelah tergopoh-gopoh membangunkan gua yang terjatuh, yang nggak pernah berhenti untuk terus menyemangati gua agar terus mencoba, sampai bisa. Padahal saat itu gua sudah menyerah, mengendalikan sepeda yang sebentar-sebentar oleng kemudian ambruk.
Gua duduk disebuah bangku panjang, terbuat dari bambu yang terletak disisi lapangan. Mengutuki diri sendiri yang enggan dan malas untuk belajar, menyesali kepercayaan diri gua yang begitu melambung tinggi, membodohi diri sendiri yang selalu merasa superior dalam segala hal, yang pada akhirnya malah menjadi boomerang yang menyerang tuan-nya sendiri.
Gua terpuruk.
Tanpa sadar gua mengambil ponsel, mencari nama ’Resti’ di contact list dan mengirimnya sebuah pesan, pesan yang panjang, pesan yang berisi keluh kesah gua, pesan yang berisi penyesalan diri. Gua sadar kalau hal ini bakal sia-sia, gua tau kalau resti nggak mungkin membalasnya dan gua meyakinkan diri sendiri agar nggak terlalu berharap. Gua terdiam sesaat sebelum menekan tombol ’send’.
Gua memasukkan ponsel kedalam saku kemudian berdiri dan bergegas pulang. Baru beberapa langkah ponsel gua berbunyi, buru-buru gua mengeluarkannya, sebuah pesan balasan dari Resti;
”Booniiiiii... be tough.. c’mon man.. kemana boni yang gua kenal? Kejar terus mimpi lo.. masa’ cowok andalan gue yang terkenal tangguh, berhenti Cuma gara-gara IELTS.. kalo gagal, ya coba lagi.. kalo 100 kali gagal ya lo harus 100 kali bangkit dan mencobanya 101 kali.. im with you... ciayo..”
Gua membalasnya;
”Eh, dibls.. iy gw bakal coba lg..”
Masuk pesan balasan berikutnya;
”Iya nih, ngumpet2 tkut kthuan bkp.. semangat y”
Gua memasukkan ponsel ke saku, dan berjalan lebih cepat. Kali ini gua memandang tegas ke depan. Gua berkata dalam hati;
’IELTS, tunggu pembalasan gua.. dua bulan lagi, gua bantai abis-abisan lu’
---
Gua memperhatikan sekeliling, mencoba mencari Resti. Kemudian gua mencoba bertanya kepada seorang suster yang berada disitu;
”Sus, perempuan yang sama saya tadi gimana?”
”Wah, saya kurang tau ya, soalnya mas-nya masuk kesininya Cuma sendiri aja..”
Gua mencoba bangun tapi dilarang oleh dokter yang baru saja selesai menjahit bagian kepala, kemudian beringsut ke kaki kiri gua, memberikan suntikan ’kebal’ dan mulai menjahitnya. Gua merasakan sensasi ’ngili-ngilu-perih’ saat jarum menembus kulit dan menyatukannya.
Kemudian bokap dan nyokap masuk ke dalam ruang UGD. Terlihat air mata nyokap yang masih menggenang, kemudian tak henti-hentinya menciumi gua. Bokap berusaha melarang nyokap karena takut dirasa mengganggu proses ’operasi kecil’ ini. Beberapa saat kemudian gua sudah dalam ’papahan’ komeng menuju je sebuah taksi yang sedang menunggu didepan lobi UGD salah satu rumah sakit di daerah Kreo, Ciledug.
Didalam taksi, komeng menyerahkan ponsel. Ponsel milik gua yang sedikit terkena noda darah, gua mencoba menghidupkannya tapi sepertinya rusak. Gua memandang ke arah komeng;
”Meng, bagi rokok..”
Komeng mengerluarkan bungkusan rokok filter dari dalam saku jaketnya dan menyerahkannya ke gua, disusul tepukan ke supir taksi agar membuka kaca jendela.
”Meng, gua tadi jatoh sama cewek.., lu tau nggak dia dibawa kemana?”
”Pas lu kecelakaan kebetulan si Zaenudin lewat situ, lu dibawa ke sini, temen lu gua denger-denger dibawa ke Sari As*h..”
”Bisa tolong cek ke sono?”
”Ntar baba yang kesono...”
Bokap yang duduk di kursi depan memotong pembicaraan.
”Nggak usah ba, biarin si komeng aja..”
”Iya ntar biar aye aja ncang..”
Bokap menoleh kebelakang kemudian mengangguk.
---
Sesampainya dirumah, komeng langsung bergegas menuju ke rumah sakit Sari As*h, dengan menggunakan sepeda motornya, sebelum berangkat gua sempat berpesan agar dia menghubungi gua apapun yang terjadi, seburuk apapun kabar tersebut.
Gua duduk di kursi ruang tamu, didampingi nyokap yang dari sejak dirumah sakit nggak sedikit pun beringsut dari sebelah gua. Gua menyentuh perban yang membungkus bagian sebelah kiri kepala gua kemudian membalik tangan dan melihat luka-luka lecet kecil di beberapa bagian. Pikiran gua masih melayang-layang, tidak tenang. Khawatir bagaimana dengan nasib Resti? Apakah dia akan baik-baik saja?mudah-mudahan tidak terjadi sesuatu yang buruk.
Lama gua memandangi pesawat telepon rumah, berharap komeng segera menghubungi dan memberikan kabar baik. Gua menunggu dan menunggu, sampai saat rasa sakit luar biasa menjalari kepala sebelah kiri gua, gua memegangi kepala sambil berusaha untuk merebahkan diri di kursi panjang ruang tamu. Nyokap memapah gua ke dalam kamar, memberikan beberapa butir obat dan beberapa saat kemudian rasa kantuk menyerang, gua pun tertidur.
---
Gua terbangun akibat suara riuh dirumah, kelihatannya banyak saudara dan kerabat yang mendengar kabar tentang gua yang baru saja mengalami kecelakaan, mereka pun berkumpul dirumah untuk segera mengetahui kondisi gua. Didalam kamar, komeng terduduk di ujung tempat tidur dia sedang membongkar ponsel gua yang dari semalam tidak bisa menyala. Gua bangun, kepala gua masih terasa sakit;
”Meng..”
”Udah bangun lho..”
”Gimana?”
”Temen lu.. Resti..”
Gua mengangguk.
”Iya gimana? Gimana?”
Gua menarik tangan komeng sambil bertanya.
”Dia nggak apa-apa, Cuma luka-luka di siku sama dengkul dan..”
”Alhamdulillah.. kenapa? Apanya?”
”Palanya bocor, sama kayak lu.. tapi dia jidat sebelah kanan..”
Gua menghembuskan nafas lega, dan bertanya sekali lagi ke komeng berusaha meyakinkan sekali lagi. Setelah mendapat jawaban yang sama gua kembali merebahkan diri, dan secara ajaib komeng berhasil membuat ponsel gua kembali menyala. Emang hebat ni bocah, nggak sia-sia titel Sarjana IT nya.
”Hebat lu meng bisa mbenerin hape..”
”Iya lah, gua cape-cape bongkar, nggak taunya Cuma batre-nya doang yang abis..”
”Laah..”
---
Hari kedua setelah kecelakaan yang melibatkan gua dan Resti, gua menghubungi komeng untukk minta di antarkan ke rumah sakit tempat Resti dirawat sebelum ke tempat daerah Pondok Indah untuk mengikuti IELTS. Tapi, menurut pengakuan komeng si Resti juga langsung pulang malam itu juga. Kemudian gua mencoba menghubungi ponselnya Resti, satu kali, dua kali, tiga kali sampai berkali-kali gua mencoba menghubunginya tapi nggak ada jawaban, gua mencoba meng-sms-nya;
”Res,sorry ya.. gmn? Ud shat blm?”
Gua menunggu dan nggak ada balasan darinya. Setelah bersiap-siap, komeng datang bersama taksi berwarna biru yang bakal mengantar gua untuk mengikuti IELTS, dengan dipapah komeng gua menaiki taksi tersebut.
Dalam perjalanan, ponsel gua berbunyi, gua memandang layarnya, sebuah nomor tidak dikenal muncul dilayarnya. Gua berharap ini adalah telepon dari Resti;
”Halo..”
”Halloo..”
Terdengar suara serak dan berat diujung sana.
”Dengan Boni?”
”I..i.iya pak.. ini dengan siapa ya?”
”Saya orang tua-nya Resti..”
”Oh.. anu pak. Iya.. sebelumnya saya minta maaf ya pak, atas kecelakaan kemarin, saya bener bener...”
”Ya, permintaan maaf saya terima, tapi ada hal lain yang mau saya sampaikan..”
”Oh iya pak.. ada apa ya pak?”
”Kalau boleh saya minta satu hal sama boni..
”Ya pak..”
”Kalau bisa Jangan temui anak saya dulu.. ”
”Tapi pak..”
”..itu termasuk telepon dan sms..”
”...”
”Oke, terima kasih atas pengertiannya..”
Tut tut tut tut tut.
Gua menggenggam ponsel, gregetan. Ada apa? Apa yang salah? Itu kan kecelakaan dan siapa juga yang mau mengalami kejadian seperti itu. Gua menghabiskan sepanjang waktu diperjalanan dengan ’ngedumel’ tentang bokapnya Resti yang kolot, super kolot.
Gua keluar dari taksi saat Heru menyambut dengan bingung;
”Hah,kenapa lu?”
”Kecelakaan gua kemaren, sama Resti..”
”Haaah.. trus resti?”
”Resti gapapa.. oiya kenalin nih temen gua ruk, komeng”
Heru dan komeng kemudian berjabat tangan sembari mengenalkan diri, setelah itu komeng-pun pamit untuk langsung berangkat kerja.
Gua dan heru duduk disebuah bangku panjang di ruang tunggu disebuah lokasi penyelenggara IELTS yang terletak di daerah Pondok Indah, Jakarta Selatan. Gua menceritakan kronologi kecelakaan yang menimpa gua dan Resti, heru mendengarkan dengan seksama, ditambah cerita tentang bokapnya Resti yang tadi menelpon dan memperingatkan gua untuk nggak menemui Resti, heru Cuma menggeleng-gelengkan kepala saat mendengar bagian yang terakhir.
Lima menit berikutnya gua sudah duduk menghadapi IELTS.
Dan dua jam berikutnya gua sudah berada di taksi menuju ke rumah, hasil tes nya bakal diumumkan kurang lebih seminggu kemudian. Kalau nilai rata-rata gua diatas 80 maka gua bakal langsung berangkat ke Singapore kemudian lanjut ke London, tapi kalau nilainya dibawah itu, maka gua harus mengulang IELTS dan bisa dipastikan kalau gua bakal kehilangan pekerjaan tersebut, karena untuk mengulang IELTS peserta harus menunggu dua bulan.
Buat yang belum tau IELTS (International English Language Testing System) adalah semacam tes bahasa yang nyaris sama seperti TOEFL atau TOEIC, bedanya kalau IELTS itu untuk penggunaan bahasa Inggris di negara negara Eropa, ya khususnya Inggris itu sendiri. Sedangkam TEOFL lebih menjurus ke bahasa Inggris Amerika atau Kanada. Biasanya IELTS ini ada dua jenis, yang gua ambil adalah IELTS umum sedangkan untuk yang mau ambil beasiswa atau meneruskan kuliah entah S1 atau S2 di Inggris dan negara negara persemakmurannya maka yang harus diambil adalah IELTS Akademik.
Dalam tes IELTS masih terdiri dari empat jenis tes lain yang berbeda, Speaking, Listening, Reading dan writing. Masing-masing memiliki poin tersendiri dan nggak ada standar khusus untuk poin overalnya. Diperusahaan yang nanti gua bakal kerja memiliki standar hasil overall IELTS untuk pegawai non-inggris minimal 80, tapi ada juga perusahaan yang menetapkan standar lebih tinggi tapi ada juga yang lebih rendah dari 80.
---
Seminggu kemudian.
Gua duduk didalam kamar, sambil memegang amplop berisi hasil tes IELTS. Sudah seminggu ini gua berharap-harap cemas dengan hasil yang ada di amplop ini. Sudah seminggu pula gua berulang-kali mencoba mengubungi dan mengirim sms ke nomor ponsel Resti, nggak ada jawaban, nggak ada balasan.
Gua membuka amplop secara perlahan dan mengeluarkan kertas yang berada didalamnya. Gua membuka lipatan kertas tersebut dan membentangkannya, memperhatikan angka-angka hasil tes yang gua lalui minggu kemarin. Mata gua tertuju pada sebuah angka yang diketik dibagian bawah tabel rincian poin masing-masing tes, tertulis disana;
Overall Score : 76 (Seventy Six/ Tujuh Puluh Enam)
Gua melipat kembali kertas tersebut dan memasukkannya kedalam amplop. Menarik nafas panjang, masih terduduk diatas kasur. Gua memegang dahi dengan tangan, bertumpu pada siku dan lutut, rasa sakit dikepala gua masih ada dan semakin terasa. Gua merebahkan diri, meletakkan lengan diatas kepala, memandang ke langit-langit kamar, terlihat samar bayangan london beserta mimpi-mimpi gua untuk menaikkan haji bokap-nyokap melayang-layang kemudian perlahan memudar dan menghilang.
Ponsel gua berdering, gua mengambilnya. Terlihat sebuah pesan dari heru;
”Ahaaaay.. gua lolos cooy! Lu gmana, bon?”
Gua meletakkan ponsel, sempat berniat untuk membalas pesan dari heru dan memberitahukan kalau score IELTS gua jeblok dan nggak memenuhi standar untuk berangkat ke London. Tapi gua mengurungkannya, ah biarlah Heru menikmati kesenangannya dulu, kalau gua kasih tau sekarang dia pasti ikutan sedih juga dan gua rasa itu bukan hal yang tepat untuk dilakukan.
Gua kemudian bangun, keluar dari kamar dan mulai berjalan keluar. Gua nggak tau ingin menuju kemana, biarlah kaki ini yang menentukan arahnya.
Berbulan-bulan gua merajut mimpi ini, berbulan-bulan pula gua larut dalam cita-cita untuk bisa bekerja diluar negeri dan bisa membahagiakan orang tua. Dan mimpi itu seperti menguap, menghilang ditelan angin hanya dalam hitungan hari.
Gua terhenti disebuah lapangan bulutangkis, ada banyak ibu-ibu yang sedang menyuapi anak-anaknya yang sedang bermain, berlarian kesana kemari. Tempat yang sama dulu saat nyokap mengajari gua naik sepeda disini, sambil menggendong Ika, nyokap yang nggak pernah lelah tergopoh-gopoh membangunkan gua yang terjatuh, yang nggak pernah berhenti untuk terus menyemangati gua agar terus mencoba, sampai bisa. Padahal saat itu gua sudah menyerah, mengendalikan sepeda yang sebentar-sebentar oleng kemudian ambruk.
Gua duduk disebuah bangku panjang, terbuat dari bambu yang terletak disisi lapangan. Mengutuki diri sendiri yang enggan dan malas untuk belajar, menyesali kepercayaan diri gua yang begitu melambung tinggi, membodohi diri sendiri yang selalu merasa superior dalam segala hal, yang pada akhirnya malah menjadi boomerang yang menyerang tuan-nya sendiri.
Gua terpuruk.
Tanpa sadar gua mengambil ponsel, mencari nama ’Resti’ di contact list dan mengirimnya sebuah pesan, pesan yang panjang, pesan yang berisi keluh kesah gua, pesan yang berisi penyesalan diri. Gua sadar kalau hal ini bakal sia-sia, gua tau kalau resti nggak mungkin membalasnya dan gua meyakinkan diri sendiri agar nggak terlalu berharap. Gua terdiam sesaat sebelum menekan tombol ’send’.
Gua memasukkan ponsel kedalam saku kemudian berdiri dan bergegas pulang. Baru beberapa langkah ponsel gua berbunyi, buru-buru gua mengeluarkannya, sebuah pesan balasan dari Resti;
”Booniiiiii... be tough.. c’mon man.. kemana boni yang gua kenal? Kejar terus mimpi lo.. masa’ cowok andalan gue yang terkenal tangguh, berhenti Cuma gara-gara IELTS.. kalo gagal, ya coba lagi.. kalo 100 kali gagal ya lo harus 100 kali bangkit dan mencobanya 101 kali.. im with you... ciayo..”
Gua membalasnya;
”Eh, dibls.. iy gw bakal coba lg..”
Masuk pesan balasan berikutnya;
”Iya nih, ngumpet2 tkut kthuan bkp.. semangat y”
Gua memasukkan ponsel ke saku, dan berjalan lebih cepat. Kali ini gua memandang tegas ke depan. Gua berkata dalam hati;
’IELTS, tunggu pembalasan gua.. dua bulan lagi, gua bantai abis-abisan lu’
---
vizardan dan 14 lainnya memberi reputasi
15
Kutip
Balas
![Accidentally In Love [True Story]](https://s.kaskus.id/images/2014/04/07/6448808_20140407033338.jpg)