- Beranda
- Stories from the Heart
...
TS
jumpingworm





6th Story 



Spoiler for "The Menu":




5th Story : Wrap Your Heart




Spoiler for "The Menu":




4th Story : Irreplaceable 




Spoiler for The Menu:
Diubah oleh jumpingworm 16-07-2017 00:41
samsung66 dan anasabila memberi reputasi
2
102.7K
1.3K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
jumpingworm
#1227
23. No Reason to Stay
Aku menggenggam tiket maskapai penerbangan Lufthansa di tanganku,
Sambil melirik jam yang melingkar di tangan kiriku, aku menghela nafas pendek.
Dari kejauhan, kulihat Pak Grandy sedang berjalan ke arahku membawakan dua gelas Americano.
Sesungguhnya, ngopi sebelum naik pesawat bukanlah ide yang baik
Terutama untuk perutku yang mudah mabuk kendaraan.
Tapi semalaman tidak bisa tidur memikirkan berbagai hal di sini membuat otot-ototku tidak kooperatif.
Sepertinya pengecualian untuk kali ini, aku butuh suntikan kafein.
"Everything's ready?" Pak Grandy bersandar di teralis aluminium di sebelahku.
"Fisik atau mental nih, Pak?" aku bertanya sambil bergurau.
"Kalau kamu enggak mau pindah ke Singapura... saya masih bisa batalin surat kepindahan kamu kok."
Nada suara Pak Grandy yang perlahan namun menenangkan membuatku tersenyum.
Ini bukan saatnya untuk cengeng atau ragu-ragu.
Lagipula, alasan kepindahanku terutama adalah memulai lembaran baru.
Semuanya.
"Enggak kok Pak. Udah bulet keputusan saya." aku meyakinkan diriku sendiri. "Di Singapura, saya pingin mulai segalanya dari
nol."
"Tapi di sana nggak ada atasan seperti saya lho. Yakin nggak nyesel?"
Aku memanyunkan bibir.
"Makanya Pak... mumpung udah kelar urus perceraian dengan Lita, cari yang baru aja di sana bareng saya yuk!" aku mengajak
penuh semangat.
"Yang baru? Ehmm...No thanks, for now..." Pak Grandy mengangkat kedua tangannya ke udara sambil memasang pose menyerah.
"Lagipula, nggak menjamin bahwa wanita Singapura akan lebih baik daripada wanita Indonesia."
Aku menepuk bahu Pak Grandy pelan.
"Inget lho Pak,... Tuna kalengan aja expirednya cuma 3 tahun. Bapak jangan kelamaan jomblo juga... nanti ikutan expired."
Pak Grandy tertawa terbahak-bahak kemudian mengacak-acak rambutku.
"Ohhh,...mentang-mentang udah mau pindah, berani ledekin saya?"
Aku yang awalnya tertawa terkekeh-kekeh kemudian terdiam.
Apa lagi penyebabnya jika bukan teringat deja-vu barusan.
Satu-satunya orang yang selalu membalas gurauanku dengan mengacak rambut, atau menjawil pipiku.
Orang yang kucoret dengan spidol hitam tebal dari daftar bawaanku ke Singapura.
"Cher,...sepertinya pesawat kamu udah dipanggil untuk boarding tuh..." Pak Grandy menunjuk papan pengumuman yang berkedip
menunjukkan status penerbangan yang kutunggu.
Sambil mengangguk penuh hormat dan rasa terima kasih, aku mengucapkan salam kepada Pak Grandy.
Baru sekitar beberapa detik aku membungkuk, Pak Grandy menarik kedua bahuku dan memelukku.
"..pak?!" aku terkesiap tapi tidak sempat mengelak.
Di sinilah aku, menghirup wangi parfum Hugo Boss yang menempel di kemeja Pak Grandy.
Telingaku menempel di dada kirinya, dan dapat terdengar jelas dentuman jantungnya di telingaku.
Jujur, demi apapun juga aku sungguh-sungguh shock plus meleleh Pak Grandy mendadak memelukku erat.
Ditambah, beliau sepertinya tidak menyadari seluruh pembuluh darah yang sudah berdesir ke wajahku ini.
"Do you really have to leave?" Pak Grandy bertanya sepelan mungkin tepat di samping bahuku.
"I don't have any reason to stay."
Pak Grandy menjauhkan tubuhnya dariku perlahan, kemudian menatap mataku lurus.
Beliau seperti akan mengatakan sesuatu, ketika bibirnya terkatup lagi.
Setelah menarik nafas panjang, Pak Grandy melepaskan pegangannya dari bahuku dan memasukkan kedua tangannya ke saku celana.
"But you'll visit, right?"
Aku masih salah tingkah, kemudian mengangguk dan melambaikan tangan.
Aku berbalik badan menuju hanggar dan masuk ke dalam pesawat.
Meletakkan diriku di kursi, dan menyamankan posisiku sebaik mungkin.
Entah apa maksudnya barusan perlakuan Pak Grandy terhadapku, tapi baru kusadari sesuatu.
Sekelibat alam bawah sadarku berharap yang ada di sana tadi,
Yang memintaku untuk tinggal,
Adalah Sammy.
Tanpa tertahankan, air mata menggenang di pelupuk mataku dan mengalir dengan deras.
Goodbye Sammy...
My Unrequited love towards you, has made me stronger than ever.
And every memory that's been carved in my mind, I would treasure them more than ever.
Sambil melirik jam yang melingkar di tangan kiriku, aku menghela nafas pendek.
Dari kejauhan, kulihat Pak Grandy sedang berjalan ke arahku membawakan dua gelas Americano.
Sesungguhnya, ngopi sebelum naik pesawat bukanlah ide yang baik
Terutama untuk perutku yang mudah mabuk kendaraan.
Tapi semalaman tidak bisa tidur memikirkan berbagai hal di sini membuat otot-ototku tidak kooperatif.
Sepertinya pengecualian untuk kali ini, aku butuh suntikan kafein.
"Everything's ready?" Pak Grandy bersandar di teralis aluminium di sebelahku.
"Fisik atau mental nih, Pak?" aku bertanya sambil bergurau.
"Kalau kamu enggak mau pindah ke Singapura... saya masih bisa batalin surat kepindahan kamu kok."
Nada suara Pak Grandy yang perlahan namun menenangkan membuatku tersenyum.
Ini bukan saatnya untuk cengeng atau ragu-ragu.
Lagipula, alasan kepindahanku terutama adalah memulai lembaran baru.
Semuanya.
"Enggak kok Pak. Udah bulet keputusan saya." aku meyakinkan diriku sendiri. "Di Singapura, saya pingin mulai segalanya dari
nol."
"Tapi di sana nggak ada atasan seperti saya lho. Yakin nggak nyesel?"
Aku memanyunkan bibir.
"Makanya Pak... mumpung udah kelar urus perceraian dengan Lita, cari yang baru aja di sana bareng saya yuk!" aku mengajak
penuh semangat.
"Yang baru? Ehmm...No thanks, for now..." Pak Grandy mengangkat kedua tangannya ke udara sambil memasang pose menyerah.
"Lagipula, nggak menjamin bahwa wanita Singapura akan lebih baik daripada wanita Indonesia."
Aku menepuk bahu Pak Grandy pelan.
"Inget lho Pak,... Tuna kalengan aja expirednya cuma 3 tahun. Bapak jangan kelamaan jomblo juga... nanti ikutan expired."
Pak Grandy tertawa terbahak-bahak kemudian mengacak-acak rambutku.
"Ohhh,...mentang-mentang udah mau pindah, berani ledekin saya?"
Aku yang awalnya tertawa terkekeh-kekeh kemudian terdiam.
Apa lagi penyebabnya jika bukan teringat deja-vu barusan.
Satu-satunya orang yang selalu membalas gurauanku dengan mengacak rambut, atau menjawil pipiku.
Orang yang kucoret dengan spidol hitam tebal dari daftar bawaanku ke Singapura.
"Cher,...sepertinya pesawat kamu udah dipanggil untuk boarding tuh..." Pak Grandy menunjuk papan pengumuman yang berkedip
menunjukkan status penerbangan yang kutunggu.
Sambil mengangguk penuh hormat dan rasa terima kasih, aku mengucapkan salam kepada Pak Grandy.
Baru sekitar beberapa detik aku membungkuk, Pak Grandy menarik kedua bahuku dan memelukku.
"..pak?!" aku terkesiap tapi tidak sempat mengelak.
Di sinilah aku, menghirup wangi parfum Hugo Boss yang menempel di kemeja Pak Grandy.
Telingaku menempel di dada kirinya, dan dapat terdengar jelas dentuman jantungnya di telingaku.
Jujur, demi apapun juga aku sungguh-sungguh shock plus meleleh Pak Grandy mendadak memelukku erat.
Ditambah, beliau sepertinya tidak menyadari seluruh pembuluh darah yang sudah berdesir ke wajahku ini.
"Do you really have to leave?" Pak Grandy bertanya sepelan mungkin tepat di samping bahuku.
"I don't have any reason to stay."
Pak Grandy menjauhkan tubuhnya dariku perlahan, kemudian menatap mataku lurus.
Beliau seperti akan mengatakan sesuatu, ketika bibirnya terkatup lagi.
Setelah menarik nafas panjang, Pak Grandy melepaskan pegangannya dari bahuku dan memasukkan kedua tangannya ke saku celana.
"But you'll visit, right?"
Aku masih salah tingkah, kemudian mengangguk dan melambaikan tangan.
Aku berbalik badan menuju hanggar dan masuk ke dalam pesawat.
Meletakkan diriku di kursi, dan menyamankan posisiku sebaik mungkin.
Entah apa maksudnya barusan perlakuan Pak Grandy terhadapku, tapi baru kusadari sesuatu.
Sekelibat alam bawah sadarku berharap yang ada di sana tadi,
Yang memintaku untuk tinggal,
Adalah Sammy.
Tanpa tertahankan, air mata menggenang di pelupuk mataku dan mengalir dengan deras.
Goodbye Sammy...
My Unrequited love towards you, has made me stronger than ever.
And every memory that's been carved in my mind, I would treasure them more than ever.
0