Kaskus

Story

javieeAvatar border
TS
javiee
BUNGA "PERTAMA" DAN "TERAKHIR"
BUNGA "PERTAMA" DAN "TERAKHIR"


Spoiler for RULES:


BUNGA "PERTAMA" DAN "TERAKHIR"


INTRO

Perkenalkan, nama gw Raden Fajar Putro Mangkudiningrat Laksana...Bohong deng, kepanjangan...sebut aja gw Fajar. Tinggi 175 cm berat 58kg. bisa disebut kurus karena tinggi dan berat badan gw ga proposional. emoticon-Frown. Gw ROCKER...!! Pastinya Rocker Kelaparan.
Gw terlahir dari keluarga biasa saja yang serba "Cukup". dalam arti "cukup" buat beli rumah gedongan, "cukup" buat beli mobil Mewah sekelas Mercy. (ini jelas jelas bohong). yang pasti gw bersyukur dilahirkan dari keluarga ini.

Gw Anak pertama dari 3 bersaudara. Adik adik gw semuanya perempuan. Gw keturunan Janda alias Jawa Sunda. Bokap asli dari Jepara bumi Kartini. Tempatnya para pengrajin kayu yang terkenal di Nusantara bahkan diakui oleh Dunia. Tapi bokap gw bukan pengusaha mebel seperti kebanyakan orang Jepara. Nyokap gw asli Sumedang Kota yang terkenal dengan TAHU nya. Tapi wajahnya sama sekali nggak mirip tahu ya. Sunda tulen nan cantik jelita. Beliau bidadari gw nomer "1" di dunia ini.

Spoiler for INDEKS:


Spoiler for INDEKSII:
Diubah oleh javiee 06-04-2015 23:49
anasabilaAvatar border
nona212Avatar border
manusia.baperanAvatar border
manusia.baperan dan 4 lainnya memberi reputasi
3
729K
2.9K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.8KAnggota
Tampilkan semua post
javieeAvatar border
TS
javiee
#911
PART 49.A - NOVEMBER RAIN
20 NOVEMBER 2007

Hari ini cuaca sangat tak bersahabat. Semenjak Fajar menyingsing, langit sudah menurunkan jutaan kubik air hujan. Namun hal itu tidak meruntuhkan semangat gw untuk berangkat ke sekolah. Pada hari ini juga, gw akan segera meluruskan sekelumit benang permasalahan yang terlihat sangat kusut. Bukan dengan cara direbonding atau dismoothing untuk meluruskannya melainkan dengan cara memilih.
Ya, sebuah pilihan, dan sebuah keputusan. Walaupun sangat sulit, semuanya sudah gw persiapkan matang matang. Gw telah mempertimbangkan semuanya, termasuk baik dan buruknya, untung dan ruginya, lalu benar atau salahnya. Gw hanya bisa berdoa dan berharap keputusan gw ini adalah keputusan yang tepat!

Dingin sekali pagi itu sampai sampai tubuh ini dibalut jaket dobel dua. Tapi tetap saja dingin itu gw rasakan menembus sampai ke pori pori kulit. Sebelum berangkat, tak lupa gw berpamitan pada kedua orang tua gw meminta doa restu dari mereka. Jupi lah alat transportasi gw menuju sekolah. Gw mengendarainya dengan sangat hati hati sebab sisa sisa gerimis masih terus mengguyur tanah ini. Pelan tapi pasti puluhan genangan air sudah gw lewati. Tak jarang gw menginjak lubang di jalanan yang tertutup genangan air. Mulut ini hanya bisa mengumpat 'Ahh!!' ketika tumbukkan itu terjadi. Pada akhirnya gw dan Jupi berhasil selamat sampai ke Sekolah.

Jam pelajaran pertama gw lalui dengan tidur di sudut kelas. Sebab saat itu gurunya tidak hadir lantaran rumahnya kebanjiran. Sudah tak heran lagi karena ketinggian air sungai Ciliwung naik beberapa meter hingga merendam rumah warga di sekitarnya, termasuk rumah guru gw itu. Jadi, jangan berfikir Ciliwung hanya memberikan bencana pada Ibu Kota saja, di Bogor pun juga terkena dampaknya. Walaupun tidak banyak orang yang terkena dampak tersebut. Hanya sebagian orang saja yang tempat tinggalnya tepat berada di pinggir Ciliwung.
Kenapa jadi ngomongin Ciliwung?
Back to story...

"Teeeeet..."

Bel istirahat telah berbunyi. Gw lihat para cucunguk mulai berhamburan keluar kelas. Ada yang nongkrong di depan kelas, ada yang ke kantin, ada yang ke bengkel, dan ada juga yang tidur. Ya, sudah bisa ditebak bahwa gw lah salah satu cucunguk yang tidur di kelas. Tapi lama kelamaan mulut terasa hambar seperti ingin mencicipi sebatang racun nan nikmat, lantas gw berjalan keluar menuju kantin belakang tempat gw biasa merokok. Sesampainya disana gw melihat Dedi sedang asyik ngebul bersama penghuni pojokan yang lain. Gw diam saja tidak berniat menghampiri dia. Semenjak kejadian itu, sifatnya berubah menjadi sangat dingin kepada gw. Jangankan mengobrol, sekalipun menyapa tidak pernah ia lakukan. Sepertinya dia enggan untuk bercengkrama lagi bersama gw. Ingin rasanya meminta maaf pada sobat gw itu, tapi sifat dia yang dingin itu justru membuat gw jadi males.

Tiba tiba dia bangkit dari duduknya, dan perlahan berjalan ke arah gw.
"Puk..."
Dia melewati gw begitu saja lantas menepuk pundak gw tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Gw agak sedikit bingung dengan tingkahnya dia, namun gw sadar, tindakan dia itu hanya ingin memberikan support terhadap gw walau tak bicara sedikitpun. Gw mengerti akan hal itu. Dan gw juga sadar, ternyata dia masih menyisihkan rasa kepeduliannya terhadap gw.

Gw membakar sebatang rokok. Dan lagi lagi gw berfikir. Kenapa Dedi menjadi seperti itu? Apa sebegitu fatalkah kesalahan gw tempo hari? Gw mengaku salah, dan gw memang bersalah. Gw tak mampu menahan emosi gw yang meledak ledak saat itu. Gw pun mengakui, pukulan keras yang dia berikan itu adalahh sebuah peringatan yang dia berikan. Dari pukulan itu juga, gw akhirnya sadar. Sadar dengan apa yang telah gw lakukan terhadap orang di sekeliling gw.

Kembali gw menghisap racun nikmat ini, kepulan asap segera memenuhi rongga mulut dan gw hembuskan pelan. Otak gw mulai berfikir kembali. Memikirkan mereka yang tulus menyayangi gw. Tapi dalam beberapa jam kedepan lagi salah satu dari mereka harus gw tinggalkan. Karena gw harus memilih...dan pilihan itu sudah tertanam di dalam hati gw. Semoga saja tidak ada hal buruk nantinya...


………………………………………
………………………………………


Tak terasa waktu pulang sekolah sudah tiba. Hujan masih terus turun dengan malu malu. Terkadang gerimis, terkadang berhenti. Tidak deras memang. Tapi cukup membuat tubuh ini menggelinjang kedinginan.
Sebelum mengambil jupi di parkiran motor, gw membuka jimbot, lalu sambungan telefon terhubung.

"Halo Assalamualaikum. Kamu udah pulang?" Ucap gw.

"Belum sebentar lagi kok. Kamu jadi jemput aku?" Tanya dia.

"Iya Jadi..." Jawab gw.

"Tapi hujan...nggak apa apa?" Tanya dia lagi.

"Gerimis doang sih...Paling basah dikit akunya. Hehe" Ujar gw.

"Ohh..Yaudah kamu hati hati. Aku tunggu ya."

"Siaap...!!" Tutur gw singkat.

Gw menutup telefon darinya dan segera gw langkahkan kaki menuju parkiran motor. Pandangan gw terkunci ketika melihat Dedi juga berada di parkiran. Dia tengah memanaskan motornya, lalu perlahan mulai berjalan melewati gw. Tak ada satupun kata terucap dari mulutnya. Lantas dia berlalu pergi meninggalkan gw begitu saja. Dia masih belum mau menegur gw.
Ya sudahlah...Mungkin dia perlu waktu untuk bisa bercengkrama lagi dengan gw.

Gw jalankan jupi dengan kecepatan rendah. Rintikan air hujan perlahan lahan membasahi kaca helm lantas mengganggu pendangan gw. Sesekali tangan kiri gw mengusap cucuran air yang mengganggu itu. Setelah menempuh perjalanan yang singkat, gw pun sampai di depan sekolahnya.

Sepi...Hanya terdengar samar hiruk pikuk suara siswa bergemuruh di dalam sekolah. Gw memilih berteduh di bawah pohon depan sekolahnya lalu membakar sebatang rokok untuk mengusir dingin di dalam tubuh. Entah mengapa hujan di bulan November tahun ini terasa jauh lebih dingin dibandingkan tahun lalu. Kemudian gw lirik jimbot gw, waktu sudah menunjukkan hampir pukul 13.00 siang. Gerimis masih setia mengguyur kota ini, langit masih tetap berwarna keabu abuan pertanda cuaca tidak akan berubah cerah.

"Ffuuuuhhh"

Sebatang rokok telah habis gw hisap berbarengan dengan suara bel di sekolah. Suaranya lumayan keras, bahkan terdengar sampai di telinga gw. Tanpa menunggu lama, satu persatu para siswa mulai berhamburan keluar dari gerbang sekolah. Ada yang memakai payung, ada yang menutupi kepalanya dengan tas, dan ada juga yang setia berteduh di pos satpam menunggu hujan berhenti.
Hingga sosok yang gw tunggu tunggu muncul dari balik gerbang.

Terlihat wajahnya menengok ke arah kanan dan kiri seperti orang kebingungan. Gw faham atas tingkahnya dia yang tengah mencari keberadaan gw. Lantas gw melambaikan tangan ke arahnya. Hingga dia pun melihat gw dan satu senyuman khas terpampang jelas di sudut bibirnya. Tak ada yang berubah darinya. Dia tetap terlihat cantik ketika tersenyum yang membuat gw begitu terpesona. Setengah berlari dia pun menghampiri gw tak jauh dari pintu gerbang sekolah.

"Hossh...hosh...Capek!!"

"Jiah..baru lari segitu aja masa udah capek? Payah!! Haha" Sindir gw.

"Hehe...aku kan jarang olahraga. Makannya ngos ngosan" Ucapnya dengan nafas tersenggal.

"Lagian kamu ngapain pake lari? Jalan aja kan bisa." Ujar gw.

"Hujan tau...Nanti aku basah kuyup gimana?" Gerutu dia.

"Orang cuma gerimis gini doang sih...Manja!!" Ujar gw.

"Hehe...Oya, kamu teh mau ngomong apa?" Tanya dia.

"Ada deh...Tapi nggak disini." Jawab gw datar.

"Oh...ke rumah aku aja yuuk." Ajak dia.

"Boleh! Tapi masih gerimis...Mau langsung jalan apa nunggu hujan berhenti dulu?" Tanya gw.

"Langsung jalan aja deh..." Jawab dia.

"Yakin nih mau ujan ujanan? Kalo aku sih ayo aja. Udah biasa..." Ujar gw.

"Emmm...Ayo kita ujan ujanan. Kayanya seru juga tuh...Hehe" Dia tersenyum.

"Yakin nih?? Ga takut sakit?" Gw meyakinkan dia.

".........." Dia menggeleng.

"Okee...Yuuk!!"

Pada akhirnya kami pulang di tengah gerimis nan dingin di siang itu. Tanpa disuruh, dia pun melingkarkan tangannya di pinggang gw yang ramping ini. Sesekali gw menatap wajahnya yang tenang melalui kaca sepion...Gw tersenyum melihatnya, namun sekaligus teriris hati ini...
Hanya satu kata yang terucap di lubuk hati gw yang paling dalam...
"MAAF"



……………………………
.......…………………….


*****

If we could take the time To lay it on the line
Andai kita bisa memanfaatkan waktu Untuk berkata jujur

I could rest my head Just knowin' that you were mine...
Aku bisa merasa tenang Karna tahu bahwa kau adalah milikku

All mine.....
Benar-benar milikku.....

So if you want to love me Then darlin' don't refrain
Jadi jika kau ingin mencintaiku Maka Sayang jangan kau tahan

Or I'll just end up walkin' In the cold November rain...
Atau akhirnya aku kan berlalu Di musim hujan bulan November yang dingin...

*****


efti108
Darpox
Darpox dan efti108 memberi reputasi
2
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.