- Beranda
- Stories from the Heart
BUNGA "PERTAMA" DAN "TERAKHIR"
...
TS
javiee
BUNGA "PERTAMA" DAN "TERAKHIR"

Spoiler for RULES:
INTRO
Perkenalkan, nama gw Raden Fajar Putro Mangkudiningrat Laksana...Bohong deng, kepanjangan...sebut aja gw Fajar. Tinggi 175 cm berat 58kg. bisa disebut kurus karena tinggi dan berat badan gw ga proposional.
. Gw ROCKER...!! Pastinya Rocker Kelaparan.Gw terlahir dari keluarga biasa saja yang serba "Cukup". dalam arti "cukup" buat beli rumah gedongan, "cukup" buat beli mobil Mewah sekelas Mercy. (ini jelas jelas bohong). yang pasti gw bersyukur dilahirkan dari keluarga ini.
Gw Anak pertama dari 3 bersaudara. Adik adik gw semuanya perempuan. Gw keturunan Janda alias Jawa Sunda. Bokap asli dari Jepara bumi Kartini. Tempatnya para pengrajin kayu yang terkenal di Nusantara bahkan diakui oleh Dunia. Tapi bokap gw bukan pengusaha mebel seperti kebanyakan orang Jepara. Nyokap gw asli Sumedang Kota yang terkenal dengan TAHU nya. Tapi wajahnya sama sekali nggak mirip tahu ya. Sunda tulen nan cantik jelita. Beliau bidadari gw nomer "1" di dunia ini.
Spoiler for INDEKS:
Spoiler for INDEKSII:
Diubah oleh javiee 06-04-2015 23:49
manusia.baperan dan 4 lainnya memberi reputasi
3
728.9K
2.9K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
javiee
#802
PART 46
30 Menit kemudian...
Gw menoleh ke arah kanan jalan. Mata gw tak lepas memandang sosok lelaki berseragam SMA muncul dari sudut gang besar. Dia lelaki yang tadi membonceng Niar dengan motor Tig*rnya. Tapi kali ini dia sendiri. Lelaki itu pun menjalankan motornya perlahan menuju ke arah gw yang sedang duduk manis menikmati rokok. Gw sedikit kaget dan gw benar benar terkejut sebab dia menepikan motornya berhenti di hadapan gw. Sontak beberapa pertanyaan pun muncul di dalam kepala gw.
Mau ngapain nih si monyet? Ada apa ini??
Lelaki itupun turun dari motornya dan berjalan ke arah Dedi. Gw pun bingung, mau di apain nih si Dedi.
"Sori Bro...lu yang namanya Fajar ya?" Tanya lelaki itu ke Dedi.
"Hah??" Dedi pun kaget.
"Bukan gw bos....tuh!!" Lantas dia menunjuk ke arah gw.
"Eh sori gw kira elu." Ucap lelaki itu.
Dia pun beranjak lalu menghampiri gw. Gw yang kebingungan malah jadi planga plongo sendiri. Mau ngapain nih monyet nyariin gw? Apa ini monyet mau ngajak ribut? Kalu benar ngajak ribut, gw siap. Biar kata tuh monyet badannya lebih gede dari gw, gw sama sekali ga takut.
"Elu Fajar ya? Kenalin gw Aldi Bro..." Tanya dia lalu menjulurkan tangannya mengajak salaman.
Set dah! Dateng dateng 'Bera -Bero' aje ni monyet asal british. Gw tidak menghiraukan uluran tangannya, lantas gw menatap wajahnya dengan tatapan yang sinis. Lalu gw hisap rokok pada hisapan terakhir dan membuang puntung itu beriringan dengan berpalingnya wajah gw untuk tidak lagi menatapnya. Terlihat raut wajah lelaki yang gw ketahui bernama Aldi itu menjadi muram sebab gw enggan bersalaman dengannya. Masa Bodoh fikir gw.
"Hemm...ada apa nih?" Gw balik bertanya.
"Beruntung ya jadi elu...haha" Ujarnya sambil tertawa kecil.
"Maksud lu apaan?" Tanya gw.
"Sabar dulu bro...ini masalah Juni."
"Juni siapa?? Salah orang kali lu!!" Gw mulai terpancing.
"Lu tadi liat kan gw ngebonceng siapa?" Tanya dia.
"Iya liat."
"Iya. itu Juni. Lu kenal kan?" Tanya dia lagi.
"He.. iya.."
Gw baru sadar akan nama "Juni" Saat itu. Dan gw juga baru ingat kalau itu adalah nama depannya.
"Jadi gini...Dari dulu gw udah deket sama Juni" Ujarnya.
"Lah...Terus apa urusannya sama gw nyet!!" Hardik gw.
"Lu bisa ga sih sabar dikit?? Gw dateng kesini baik baik bro!!"
"Weess...Lagian siapa juga yang nyuruh lu dateng kesini nyet???" Gw membalasnya.
"Iya, emang ga ada yang nyuruh gw...Tapi coba dengerin gw dulu." Ujarnya dengan nada yang lebih tinggi.
"Banyak bacot lu nyet!! Ngomong tinggal ngomong!" Kembali gw berkata kasar.
"Heran ya gw...Bisa bisanya Juni suka sama cowo model kaya lu!!" Ujarnya sambil menggelengkan kepalanya.
"Hah....?" Gw terkejut.
Sebenarnya ada apa ini?? Maksudnya apa??
Gw semakin tidak mengerti dengan maksud kedatangan orang ini lantas secara tiba tiba membahas tentang Niar.
Bukankah ini orang 'Cowonya' Niar?
Bukankah dia orang yang bersama dengan Niar sewaktu gw melihat mereka di depan rumahnya hampir setahun yang lalu?
Pertanyaan itu terus berputar putar di dalam kepala gw. Dan sepertinya ini akan menjadi rumit....
"Jar gw kesitu dulu." Ujar Dedi tiba tiba.
"Kemana lu?"
Dedi tidak menjawab gw lalu dia bangkit dari tempat duduknya dan gw lihat Dedi menjauh dari kami berdua. Mungkin dia tidak ingin 'menguping' apalagi ikut campur tentang masalah ini.
Kali ini gw pun diam dan mencoba mendengarkan apa yang dibicarakan si Aldi anak monyet ini. Emosi gw saat itu perlahan lahan mulai teredam.
"Jadi gini bro...Gw udah lama deket sama Juni, dan gw udah dua kali nembak dia. Tapi, dia ga pernah jawab gw." Ujarnya.
"Terus?"
"Gw ga tau kenapa Juni begitu, akhirnya gw tanya dia alasannya apa. Gw paksa dia buat ngomong, akhirnya dia ngomong juga...Alasan dia itu karena ELU!!" Lanjut dia.
1 Rahasia pun terbongkar....
"Hah? Kenapa gw? Apa apaan nih?" Gw bingung tak mengerti.
"Gw nyerah bro. Gw ga bisa maksa dia terus terusan. Dia tetep anggep gw cuma temen doang. Awalnya gw nggak terima, tapi lama kelamaan gw bisa terima juga. Dia nyeritain semuanya tentang 'Elu' ke gw. Sampe gw bener bener penasaran yang namanya Fajar itu yang mana."
"Terus?"
"Ya akhirnya gw nanya ke dia, Fajar tuh kaya gimana orangnya gw pengen liat. Dan kebetulan gw tadi nganter dia pulang. Kebetulan juga gw ambil jalan sini lewatin sekolah lu. Soalnya jalan depan lagi di pelur. Yang paling kebetulan, lu ada disini." Ujarnya.
"Oh...tadi lu nunjuk nunjuk gw berarti.....?"
"Iya....dia ngasih tau ke gw kalo elu ada disini. Tadinya gw mau berhenti, tapi dia nyuruh gw buat jalan terus..."
Gw bengong...Dada gw menjadi sesak. Kepala gw mendadak pusing. Hati gw? TUMBANG!!
"Dia sayang sama lu Bro!"
"Terus?"
"Dia nungguin lu bro..!"
"Apa gw harus percaya sama lu?" Tanya gw.
"Terserah lu mau percaya apa nggak. Yang pasti gw ngomong begini karena gw kasian ama Juni..."
"........" Gw diam.
"Mending lu pertimbangin baik baik bro apa yang baru gw omongin. Gw nggak bisa lama lama. Gw balik dulu Bro!" Ujarnya lalu bangkit dan menepuk pundak gw.
"Makasih Dii..." Ujar gw.
Dia pun menaiki motornya lalu pergi dari tempat ini.
Gw masih terdiam mematung. Mata ini menatap kosong lurus ke depan. Sekelumit peristiwa ini tak pernah disangka sangka sebelumnya. Lantas perasaan gw menjadi sangat tidak karuan. Kaget, terkejut, percaya tidak percaya, semuanya berkecamuk menjadi satu.
Ya Tuhaaan? Skenario macam apalagi ini? Padahal gw berharap itu hanya masa lalu saja. Tapi kenapa baru sekarang gw mengetahuinya? Kenapa baru sekarang kotak rahasia itu terbuka?
Kenapa dan Mengapa....Dua pertanyaan singkat namun kritis akan maknanya.
Sungguh peristiwa ini seperti sinetron murahan yang di sutradarai oleh sutradara gadungan. Namun gw tidak tahu siapakah pemeran utamanya, pemeran antagonis, dan pemeran figuran.
Gw menepuk pipi gw...apa ini mimpi?
Sayangnya ini bukan mimpi...ini nyata, ini benar terjadi, dan baru saja terjadi. Lagi lagi gw membakar sebatang rokok hanya untuk menenangkan fikiran gw yang tak karuan. Dan ini rokok terakhir yang tersisa.
Langit berubah menjadi hitam, tiba tiba mendung, angin dingin Kota Bogor berdesir kencang yang membuat tubuh ini sedikit menggelinjang karenanya. Suara petir bergemuruh diselingi kilat di ujung langit menyala terang berupa akar serabut. Hal itu menandakan tak lama lagi hujan akan segera turun. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah 3 sore. Dan gw mempunyai sebuah janji untuk menjemput Bunga di sekolahnya. Dengan langkah yang berat ditambah perasaan tak karuan, gw pun bersiap untuk berangkat. Lalu gw panggil Dedi yang masih duduk di bawah pohon agak jauh dari warung. Kamipun menaiki Jupi, kemudian perlahan meninggalkan warung si Aa.
Motor berjalan dengan kecepatan rendah. Tak sampai 40 km/jam kecepatannya. Sambil mengendarai motor, fikiran gw melayang jauh tak fokus terhadap kondisi jalan. Ya, kembali gw memikirkan sebuah peristiwa yang baru gw alami, dan otak gw juga berfikir keras tentang 'kotak rahasia' yang baru terungkap setelah hampir satu tahun lamanya.
Niar...Dia menyayangi gw? Apa benar?
Dia menunggu gw? Hampir satu tahun dia menunggu gw?? Apa benar?? Kenapa gw tidak mengetahui ini dari awal? kenapa???
Sekarang disaat gw tengah bersama Bunga, gw baru mengetahuinya...Arrghh!!!!!
Hati gw meracau seperti ada yang ingin dikatakannya, hati ini melolong namun artikulasinya tidak jelas. Hingga sampailah kami di lampu merah Jalan K.H. Soleh Iskandar atau biasa disebut 'Jalan Baru'. Entah setan darimana, Entah iblis turun dari neraka mana, kemudian mereka dengan teganya menggoyahkan hati dan pendirian gw dengan traktor dan sekumpulan alat berat. Para dedemit itu sepertinya telah mencabut paksa nama 'Bunga' yang sudah tumbuh tangkainya lalu menjejalkan secara paksa nama 'Niar'.
Hati gw pun terbalik...Mata gw terbuka lebar, serta otak gw dipenuhi 'Niar...Niar...dan Niar...'
"Tiiiiin.....tiiinn!!!" Suara klakson.
"Jar jalan Jar!! Lampu ijo tuh!! di belakang udah klakson terus daritadi.!! Lu kenapa sih??" Ujar Dedi tiba tiba membuyarkan lamunan gw.
Gw segera tancap gas lagi agar manusia 'kebelet pipis' itu tak lagi membunyikan klaksonnya. Kembali gw jalankan motor ini pelan. Masih sama seperti tadi, gw mengendarai motor dengan fikiran tak karuan. Bahkan semakin tidak karuan.
Tiba tiba Gw seperti mendengar sebuah bisikan halus menggetarkan telinga gw. Bisikan itu menyuruh gw untuk berhenti....
Awalnya gw tidak menghiraukannya, tapi lama kelamaan bisikan itu berubah menjadi sebuah teriakkan. Dan pada akhirnya gw menurunkan kecepatan motor lalu berhenti. Lantas janji gw untuk menjemput Bunga? Gw tidak memikirkannya...masa bodoh!!
"Kenapa berhenti Jar??" Tanya Dedi.
"Ded. Lu balik duluan ya.!" Ujar gw.
"Lah emangnya lu mau kemana?"
"Gw mau ketemu dia Ded...sekarang."
"Buat apalagi Jar? Terus gw balik gimana nih?"
Gw membuka dompet mengeluarkan satu satunya uang gw yang tersisa. Ya, lima ribu rupiah. Lalu gw berikan uang itu kepada Dedi.
"Nih....Kalo lu nggak punya ongkos, lu pake duit gw!" Ucap gw lalu memberikan uang itu pada Dedi.
"Gw udah duga, lu pasti bakalan kaya gini! Lu kenapa sih? Udah lah nggak usah nyamperin dia. Buat apa lagi?"
"Nggak Ded...gw harus ketemu dia."
Lalu gw nyalakan kembali Jupii dengan cara di engkol. Gw pun siap berangkat dan ambil ancang ancang untuk berputar balik.
"Lu yakin Jar mau ketemu dia?" Tanya Dedi sekali lagi.
"Iya....!! Karena gw....masih punya hutang sama dia....."
Gw menoleh ke arah kanan jalan. Mata gw tak lepas memandang sosok lelaki berseragam SMA muncul dari sudut gang besar. Dia lelaki yang tadi membonceng Niar dengan motor Tig*rnya. Tapi kali ini dia sendiri. Lelaki itu pun menjalankan motornya perlahan menuju ke arah gw yang sedang duduk manis menikmati rokok. Gw sedikit kaget dan gw benar benar terkejut sebab dia menepikan motornya berhenti di hadapan gw. Sontak beberapa pertanyaan pun muncul di dalam kepala gw.
Mau ngapain nih si monyet? Ada apa ini??
Lelaki itupun turun dari motornya dan berjalan ke arah Dedi. Gw pun bingung, mau di apain nih si Dedi.
"Sori Bro...lu yang namanya Fajar ya?" Tanya lelaki itu ke Dedi.
"Hah??" Dedi pun kaget.
"Bukan gw bos....tuh!!" Lantas dia menunjuk ke arah gw.
"Eh sori gw kira elu." Ucap lelaki itu.
Dia pun beranjak lalu menghampiri gw. Gw yang kebingungan malah jadi planga plongo sendiri. Mau ngapain nih monyet nyariin gw? Apa ini monyet mau ngajak ribut? Kalu benar ngajak ribut, gw siap. Biar kata tuh monyet badannya lebih gede dari gw, gw sama sekali ga takut.
"Elu Fajar ya? Kenalin gw Aldi Bro..." Tanya dia lalu menjulurkan tangannya mengajak salaman.
Set dah! Dateng dateng 'Bera -Bero' aje ni monyet asal british. Gw tidak menghiraukan uluran tangannya, lantas gw menatap wajahnya dengan tatapan yang sinis. Lalu gw hisap rokok pada hisapan terakhir dan membuang puntung itu beriringan dengan berpalingnya wajah gw untuk tidak lagi menatapnya. Terlihat raut wajah lelaki yang gw ketahui bernama Aldi itu menjadi muram sebab gw enggan bersalaman dengannya. Masa Bodoh fikir gw.
"Hemm...ada apa nih?" Gw balik bertanya.
"Beruntung ya jadi elu...haha" Ujarnya sambil tertawa kecil.
"Maksud lu apaan?" Tanya gw.
"Sabar dulu bro...ini masalah Juni."
"Juni siapa?? Salah orang kali lu!!" Gw mulai terpancing.
"Lu tadi liat kan gw ngebonceng siapa?" Tanya dia.
"Iya liat."
"Iya. itu Juni. Lu kenal kan?" Tanya dia lagi.
"He.. iya.."
Gw baru sadar akan nama "Juni" Saat itu. Dan gw juga baru ingat kalau itu adalah nama depannya.
"Jadi gini...Dari dulu gw udah deket sama Juni" Ujarnya.
"Lah...Terus apa urusannya sama gw nyet!!" Hardik gw.
"Lu bisa ga sih sabar dikit?? Gw dateng kesini baik baik bro!!"
"Weess...Lagian siapa juga yang nyuruh lu dateng kesini nyet???" Gw membalasnya.
"Iya, emang ga ada yang nyuruh gw...Tapi coba dengerin gw dulu." Ujarnya dengan nada yang lebih tinggi.
"Banyak bacot lu nyet!! Ngomong tinggal ngomong!" Kembali gw berkata kasar.
"Heran ya gw...Bisa bisanya Juni suka sama cowo model kaya lu!!" Ujarnya sambil menggelengkan kepalanya.
"Hah....?" Gw terkejut.
Sebenarnya ada apa ini?? Maksudnya apa??
Gw semakin tidak mengerti dengan maksud kedatangan orang ini lantas secara tiba tiba membahas tentang Niar.
Bukankah ini orang 'Cowonya' Niar?
Bukankah dia orang yang bersama dengan Niar sewaktu gw melihat mereka di depan rumahnya hampir setahun yang lalu?
Pertanyaan itu terus berputar putar di dalam kepala gw. Dan sepertinya ini akan menjadi rumit....
"Jar gw kesitu dulu." Ujar Dedi tiba tiba.
"Kemana lu?"
Dedi tidak menjawab gw lalu dia bangkit dari tempat duduknya dan gw lihat Dedi menjauh dari kami berdua. Mungkin dia tidak ingin 'menguping' apalagi ikut campur tentang masalah ini.
Kali ini gw pun diam dan mencoba mendengarkan apa yang dibicarakan si Aldi anak monyet ini. Emosi gw saat itu perlahan lahan mulai teredam.
"Jadi gini bro...Gw udah lama deket sama Juni, dan gw udah dua kali nembak dia. Tapi, dia ga pernah jawab gw." Ujarnya.
"Terus?"
"Gw ga tau kenapa Juni begitu, akhirnya gw tanya dia alasannya apa. Gw paksa dia buat ngomong, akhirnya dia ngomong juga...Alasan dia itu karena ELU!!" Lanjut dia.
1 Rahasia pun terbongkar....
"Hah? Kenapa gw? Apa apaan nih?" Gw bingung tak mengerti.
"Gw nyerah bro. Gw ga bisa maksa dia terus terusan. Dia tetep anggep gw cuma temen doang. Awalnya gw nggak terima, tapi lama kelamaan gw bisa terima juga. Dia nyeritain semuanya tentang 'Elu' ke gw. Sampe gw bener bener penasaran yang namanya Fajar itu yang mana."
"Terus?"
"Ya akhirnya gw nanya ke dia, Fajar tuh kaya gimana orangnya gw pengen liat. Dan kebetulan gw tadi nganter dia pulang. Kebetulan juga gw ambil jalan sini lewatin sekolah lu. Soalnya jalan depan lagi di pelur. Yang paling kebetulan, lu ada disini." Ujarnya.
"Oh...tadi lu nunjuk nunjuk gw berarti.....?"
"Iya....dia ngasih tau ke gw kalo elu ada disini. Tadinya gw mau berhenti, tapi dia nyuruh gw buat jalan terus..."
Gw bengong...Dada gw menjadi sesak. Kepala gw mendadak pusing. Hati gw? TUMBANG!!
"Dia sayang sama lu Bro!"
"Terus?"
"Dia nungguin lu bro..!"
"Apa gw harus percaya sama lu?" Tanya gw.
"Terserah lu mau percaya apa nggak. Yang pasti gw ngomong begini karena gw kasian ama Juni..."
"........" Gw diam.
"Mending lu pertimbangin baik baik bro apa yang baru gw omongin. Gw nggak bisa lama lama. Gw balik dulu Bro!" Ujarnya lalu bangkit dan menepuk pundak gw.
"Makasih Dii..." Ujar gw.
Dia pun menaiki motornya lalu pergi dari tempat ini.
Gw masih terdiam mematung. Mata ini menatap kosong lurus ke depan. Sekelumit peristiwa ini tak pernah disangka sangka sebelumnya. Lantas perasaan gw menjadi sangat tidak karuan. Kaget, terkejut, percaya tidak percaya, semuanya berkecamuk menjadi satu.
Ya Tuhaaan? Skenario macam apalagi ini? Padahal gw berharap itu hanya masa lalu saja. Tapi kenapa baru sekarang gw mengetahuinya? Kenapa baru sekarang kotak rahasia itu terbuka?
Kenapa dan Mengapa....Dua pertanyaan singkat namun kritis akan maknanya.
Sungguh peristiwa ini seperti sinetron murahan yang di sutradarai oleh sutradara gadungan. Namun gw tidak tahu siapakah pemeran utamanya, pemeran antagonis, dan pemeran figuran.
Gw menepuk pipi gw...apa ini mimpi?
Sayangnya ini bukan mimpi...ini nyata, ini benar terjadi, dan baru saja terjadi. Lagi lagi gw membakar sebatang rokok hanya untuk menenangkan fikiran gw yang tak karuan. Dan ini rokok terakhir yang tersisa.
Langit berubah menjadi hitam, tiba tiba mendung, angin dingin Kota Bogor berdesir kencang yang membuat tubuh ini sedikit menggelinjang karenanya. Suara petir bergemuruh diselingi kilat di ujung langit menyala terang berupa akar serabut. Hal itu menandakan tak lama lagi hujan akan segera turun. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah 3 sore. Dan gw mempunyai sebuah janji untuk menjemput Bunga di sekolahnya. Dengan langkah yang berat ditambah perasaan tak karuan, gw pun bersiap untuk berangkat. Lalu gw panggil Dedi yang masih duduk di bawah pohon agak jauh dari warung. Kamipun menaiki Jupi, kemudian perlahan meninggalkan warung si Aa.
Motor berjalan dengan kecepatan rendah. Tak sampai 40 km/jam kecepatannya. Sambil mengendarai motor, fikiran gw melayang jauh tak fokus terhadap kondisi jalan. Ya, kembali gw memikirkan sebuah peristiwa yang baru gw alami, dan otak gw juga berfikir keras tentang 'kotak rahasia' yang baru terungkap setelah hampir satu tahun lamanya.
Niar...Dia menyayangi gw? Apa benar?
Dia menunggu gw? Hampir satu tahun dia menunggu gw?? Apa benar?? Kenapa gw tidak mengetahui ini dari awal? kenapa???
Sekarang disaat gw tengah bersama Bunga, gw baru mengetahuinya...Arrghh!!!!!
Hati gw meracau seperti ada yang ingin dikatakannya, hati ini melolong namun artikulasinya tidak jelas. Hingga sampailah kami di lampu merah Jalan K.H. Soleh Iskandar atau biasa disebut 'Jalan Baru'. Entah setan darimana, Entah iblis turun dari neraka mana, kemudian mereka dengan teganya menggoyahkan hati dan pendirian gw dengan traktor dan sekumpulan alat berat. Para dedemit itu sepertinya telah mencabut paksa nama 'Bunga' yang sudah tumbuh tangkainya lalu menjejalkan secara paksa nama 'Niar'.
Hati gw pun terbalik...Mata gw terbuka lebar, serta otak gw dipenuhi 'Niar...Niar...dan Niar...'
"Tiiiiin.....tiiinn!!!" Suara klakson.
"Jar jalan Jar!! Lampu ijo tuh!! di belakang udah klakson terus daritadi.!! Lu kenapa sih??" Ujar Dedi tiba tiba membuyarkan lamunan gw.
Gw segera tancap gas lagi agar manusia 'kebelet pipis' itu tak lagi membunyikan klaksonnya. Kembali gw jalankan motor ini pelan. Masih sama seperti tadi, gw mengendarai motor dengan fikiran tak karuan. Bahkan semakin tidak karuan.
Tiba tiba Gw seperti mendengar sebuah bisikan halus menggetarkan telinga gw. Bisikan itu menyuruh gw untuk berhenti....
Awalnya gw tidak menghiraukannya, tapi lama kelamaan bisikan itu berubah menjadi sebuah teriakkan. Dan pada akhirnya gw menurunkan kecepatan motor lalu berhenti. Lantas janji gw untuk menjemput Bunga? Gw tidak memikirkannya...masa bodoh!!
"Kenapa berhenti Jar??" Tanya Dedi.
"Ded. Lu balik duluan ya.!" Ujar gw.
"Lah emangnya lu mau kemana?"
"Gw mau ketemu dia Ded...sekarang."
"Buat apalagi Jar? Terus gw balik gimana nih?"
Gw membuka dompet mengeluarkan satu satunya uang gw yang tersisa. Ya, lima ribu rupiah. Lalu gw berikan uang itu kepada Dedi.
"Nih....Kalo lu nggak punya ongkos, lu pake duit gw!" Ucap gw lalu memberikan uang itu pada Dedi.
"Gw udah duga, lu pasti bakalan kaya gini! Lu kenapa sih? Udah lah nggak usah nyamperin dia. Buat apa lagi?"
"Nggak Ded...gw harus ketemu dia."
Lalu gw nyalakan kembali Jupii dengan cara di engkol. Gw pun siap berangkat dan ambil ancang ancang untuk berputar balik.
"Lu yakin Jar mau ketemu dia?" Tanya Dedi sekali lagi.
"Iya....!! Karena gw....masih punya hutang sama dia....."
efti108 memberi reputasi
1