- Beranda
- Stories from the Heart
BUNGA "PERTAMA" DAN "TERAKHIR"
...
TS
javiee
BUNGA "PERTAMA" DAN "TERAKHIR"

Spoiler for RULES:
INTRO
Perkenalkan, nama gw Raden Fajar Putro Mangkudiningrat Laksana...Bohong deng, kepanjangan...sebut aja gw Fajar. Tinggi 175 cm berat 58kg. bisa disebut kurus karena tinggi dan berat badan gw ga proposional.
. Gw ROCKER...!! Pastinya Rocker Kelaparan.Gw terlahir dari keluarga biasa saja yang serba "Cukup". dalam arti "cukup" buat beli rumah gedongan, "cukup" buat beli mobil Mewah sekelas Mercy. (ini jelas jelas bohong). yang pasti gw bersyukur dilahirkan dari keluarga ini.
Gw Anak pertama dari 3 bersaudara. Adik adik gw semuanya perempuan. Gw keturunan Janda alias Jawa Sunda. Bokap asli dari Jepara bumi Kartini. Tempatnya para pengrajin kayu yang terkenal di Nusantara bahkan diakui oleh Dunia. Tapi bokap gw bukan pengusaha mebel seperti kebanyakan orang Jepara. Nyokap gw asli Sumedang Kota yang terkenal dengan TAHU nya. Tapi wajahnya sama sekali nggak mirip tahu ya. Sunda tulen nan cantik jelita. Beliau bidadari gw nomer "1" di dunia ini.
Spoiler for INDEKS:
Spoiler for INDEKSII:
Diubah oleh javiee 06-04-2015 23:49
manusia.baperan dan 4 lainnya memberi reputasi
3
729K
2.9K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
javiee
#775
PART 44
Tahun 2007 sudah mendekati akhir, sekarang telah memasuki awal November. Sudah hampir setengah tahun kebersamaan gw dengan Bunga sudah dilewati. Selama itu pula banyak hal yang gw lewati bersama dengannya. Susah, senang, tawa serta berbagai masalah dan konflik ringan mewarnai perjalanan kami berdua. Segalanya mengalir apa adanya seperti air, dan segalanya terlihat baik baik saja. Kedua orang tua gw sudah mengenal baik Bunga, begitupun juga sebaliknya. Sepertinya tidak ada masalah yang berarti dari kedua orang tua kami perihal hubungan kami berdua.
Tapi ada satu hal yang mengganjal di hati gw. Tepatnya sekitar dua minggu yang lalu di pertengahan Oktober. Saat itu adalah hari besar perayaan idul fitri. Sebagai calon menantu yang baik, gw pun mengunjungi rumah Bunga untuk bersilaturahmi di hari kemenangan itu. Hanya untuk sekedar sungkeman, dan berkumpul bersama supaya gw bisa lebih dekat dengan keluarganya. Selepas waktu Zuhur gw pun berangkat, tentunya dengan menunggangi motor kesayangan gw. Jupii.
Sesampainya disana gw langsung disambut Bunga yang memakai pakaian busana Muslimah dihiasi hijab menutupi kepalanya. Sungguh dia terlihat jauh lebih cantik dan anggun apabila berpakaiaan seperti itu. Gw pun cuma bisa diam terpesona ketika melihatnya. Sedangkan gw datang kesana dengan busana seadanya. Bukan baju baru, bukan celana baru, bukan juga sepatu baru yang umumnya dipakai orang orang pada saat hari raya. Hanya baju koko warna putih dan celana jeans hitam dipadu dengan sendal jepit C*rvil. Itu semua atribut tahun kemarin dan gw pakai lagi di tahun ini.
Lalu kami bersalaman. Ya, hanya bersalaman, nggak pake peluk pelukan cipika cipiki. Padahal gw ngarep banget tuh. Haha.
Kata maaf pun meluncur dari mulut kami berdua. Tentu maaf itu bukan hanya dimulut saja, karena maaf yang sebenarnya dan tulus itu sumbernya dari hati, bukan mulut. Mulut hanyalah sebuah media penyalur apa yang telah diucapkan terangkai oleh hati. Sesaat setelah kami bersalaman untuk mengucapkan kata maaf, gw pun mengikuti Bunga dari belakang untuk masuk ke dalam rumahnya yang besar. Gw tidak menyangka ternyata ramai sekali disini. Ada banyak sanak saudaranya yang tengah berkumpul di ruang tengah. Mulai dari Pakdenya, Budenya, Om, tante, keponakan, hingga Kakek Neneknya yang tinggal di daerah Cibinong berada disini.
Mereka semua sontak menatap gw dengan penuh tanda tanya. "Siapa nih?" mungkin itu yang ada di benak mereka.
Tatapan mereka berubah menjadi lebih tajam ketika gw perlahan mendekat ke arah mereka. Gw tak mempedulikannya, lantas gw salami mereka satu persatu mulai dari budenya dan terakhir kakeknya yang sudah terlihat sangat tua. Gw mencoba memasang senyum ketika bersalaman, namun tak satupun dari mereka membalas senyuman gw. Hanya neneknya saja yang tersenyum pada gw saat itu.
"Yank, ke belakang yuk. Bunda sama Ayah disana." Ajaknya.
"Oh iya...aku belum ketemu Ayah Bunda kamu." Ujar gw.
"Hehe iya. Sekalian, kamu mau makan?"
"Enggak deh aku baru makan di rumah"
Kemudian gw di ajak oleh Bunga ke halaman belakang dimana ayah dan bundanya sedang berada disana. Dan sungkemlah gw kepada kedua orang tuanya. Seperti biasa, mereka selalu menanyakan kabar gw, bahkan gw dipersilahkan makan ketupat. Namun gw menolaknya secara halus, karena kebetulan gw baru saja makan sebelum berangkat kesini.
Gw kembali ke ruang tengah dimana sanak saudaranya masih berkumpul disana. Ekspresi mereka tidak berubah. Terkesan dingin dengan tatapan mata yang bisa dibilang sinis. Tak ada satupun dari mereka yang menyapa gw. Jangankan menyapa, tersenyum pun tidak. Gw merasa sangat asing berada disini seperti tamu tak diundang.
Apakah salah gw berada disini berkumpul bersama mereka?
Entahlah...Yang pasti, gw tetap menjaga tingkah laku gw agar bersikap sopan sewajarnya.
Segala spekulasi pun satu persatu muncul di kepala gw. Ada satu alasan kuat mengapa mereka seperti itu. Mungkin mereka kurang menyukai gw, dan gw sadar akan hal itu.
Yaah, beginilah gw apa adanya. Kalo dilihat dari sisi tampang dan materi, keadaan gw memang jauh dari kata 'layak' untuk seorang gadis seperti Bunga. Dan gw pun tidak memaksakan agar mereka bisa menyukai gw. Adalah hak mereka untuk bersifat seperti itu.
Karena hal itu pula, munculah banyak keraguan di hati gw.
Gw bukan meragukan 'cintanya'..Bukan!!
Tapi gw ragu akan orang orang yang ada di sekitarnya. Apakah nantinya mereka bisa menerima keadaan gw yang seperti ini?
Atau mereka menolak mentah mentah keberadaan gw di sisi Bunga?
Gw tidak bisa memprediksi. Gw hanya berusaha sebisa mungkin untuk selalu bersikap baik di depan seluruh keluarganya kapanpun dan dimanapun.
Namun sungguh hal itu ibarat batu besar yang mengganjal di sudut hati gw. Dan batu itu seakan akan menghalangi jalan gw untuk terus maju mempertahankan hubungan gw dengan Bunga.
Terlalu berlebihan memang apabila disebut 'batu'. Mungkin hanya sebagian kerikil saja...
Ya...Hanya kerikil.
Dan semoga tidak tajam.
Tapi ada satu momen bahagia yang gw rasakan di bulan Oktober itu. Yaitu pada saat hari ulang tahun gw yang jatuh tepat pada tanggal 27. Seharian penuh dia menamani gw dari pagi hingga sore hari. Tak lupa dia memberikan gw sebuah kado. Kado berupa sweater keren berwarna cokelat yang gw ketahui dia membelinya di Jogja sewaktu acara study tour dari sekolahnya. Ukurannya pas sekali ketika dipakai di tubuh kurus gw ini. Dan gw hanya bisa mengucapkan "Terima Kasih" kepadanya...
...........................
...........................
10 November 2007 (Tepat pada hari Pahlawan)
Pagi itu gw berangkat ke sekolah dengan segudang rasa kantuk dan malas. Sorot cahaya mentari pagi yang menerpa wajah gw menjadikan mata ini perih. Sudah jelas ini terjadi akibat efek kurang tidur. Karena malamnya gw begadang untuk menonton pertandingan Sepak Bola. Gw lupa tim mana yang bertanding saat itu. Yang pasti partai besar dan seru. Namun gw tetap harus berangkat, karena kali ini gw sudah menginjak kelas 3, dan tak kurang dari satu bulan lagi semester pertama di kelas 3 ini segera berakhir. Tentu saja UN dan uji KOMPETENSI sudah menunggu di penghujung semester kedua. Dengan dibalut rasa kantuk yang luar biasa, gw mengendarai motor ke sekolah.
Tepat pukul 07.00 gw telah sampai di sekolah. Lantas gw menaruh tas di kolong meja, lalu bergegas ke kantin belakang. Otak gw menebak nebak pasti si Dedi sudah stand bye di kantin. Sesampainya disana benar saja dia sudah ada di pojokan sambil menghisap rokok ditemani segelas kopi. Dia memang anak yang rajin, jarang sekali dia datang di atas jam 7, apalagi terlambat.
"Tumben lu biasanya jam setengah 8 baru nyampe? Haha" Ujar Dedi.
"Gw belom tidur ini. Makannya berangkat pagi." Jawab gw.
"Buseehh ngapain aja lu? Nonton bola?"
"Yoi..." jawab gw singkat.
"Ngopi Jar...biar ga ngantuk!"
"Boleh dah...pesenin gih!"
"Males lu berurat!! Timbang pesen kopi doang...eet dah!" Ujarnya.
Gw diam sejenak. Kaki ini terasa berat sekali untuk berjalan memesan kopi, tingkat kemalasan gw saat itu sudah mencapai 100%.
Akhirnya gw hanya berteriak ke arah si Gandi (Salah satu pedagang di kantin) untuk membuatkan gw segelas kopi.
"Ooii Gandi...!! Kopi hideungna hiji!! Ulah K*pal api nya, kopi LIONG" Teriak gw.
"Sabaraha??" Balas teriak dia.
"Hiji wae...anteurkeun kadieu!! Aing hoream leumpang!!"
Tanpa menunggu lama kopi pun datang dan siap dihidangkan. Tentunya ngopi yang sempurna itu di barengi dengan menghisap sebatang rokok. Sungguh hal itu adalah sebuah kenikmatan. Kenikmatan yang murah meriah...
Bel pertanda masuk pun telah berbunyi. Kopi sudah habis, dan rokok juga habis. Tapi entah mengapa rasa kantuk belum pergi juga, justru malah semakin tak tertahankan rasa kantuk ini menggelayuti kedua mata gw.
"Jar, masuk yuu..." Ajak Dedi.
"Duluan dah...gw mau molor aja disini. Ga kuat mata gw."
"Eeehh ga masuk pelajaran pertama lu?" Tanya Dedi.
"Nggak"
"Yaudah lah...Gw duluan."
"Sip"
Dedi berlalu meninggalkan gw yang masih duduk terdiam di sudut kantin. Lalu gw bersiap untuk tidur. Gw ambil papan besar yang bersandar si sudut ruangan, gw bersihkan sedikit debu yang menempel, lalu dihamparkanlah papan itu, dan gw pun teritidur di pojokan kantin.
Entah berapa lama gw tertidur akhirnya gw terbangun. Suara bising para cucunguk sukses membangunkan gw yang tengah terlelap. Jam istirahat sudah tiba.
Gw bangkit dan lekas cuci muka untuk menghilangkan sisa kantuk lalu kembali ke kelas. Dan pelajaran dimulai kembali seperti biasanya....
Bersambung....
Tapi ada satu hal yang mengganjal di hati gw. Tepatnya sekitar dua minggu yang lalu di pertengahan Oktober. Saat itu adalah hari besar perayaan idul fitri. Sebagai calon menantu yang baik, gw pun mengunjungi rumah Bunga untuk bersilaturahmi di hari kemenangan itu. Hanya untuk sekedar sungkeman, dan berkumpul bersama supaya gw bisa lebih dekat dengan keluarganya. Selepas waktu Zuhur gw pun berangkat, tentunya dengan menunggangi motor kesayangan gw. Jupii.
Sesampainya disana gw langsung disambut Bunga yang memakai pakaian busana Muslimah dihiasi hijab menutupi kepalanya. Sungguh dia terlihat jauh lebih cantik dan anggun apabila berpakaiaan seperti itu. Gw pun cuma bisa diam terpesona ketika melihatnya. Sedangkan gw datang kesana dengan busana seadanya. Bukan baju baru, bukan celana baru, bukan juga sepatu baru yang umumnya dipakai orang orang pada saat hari raya. Hanya baju koko warna putih dan celana jeans hitam dipadu dengan sendal jepit C*rvil. Itu semua atribut tahun kemarin dan gw pakai lagi di tahun ini.
Lalu kami bersalaman. Ya, hanya bersalaman, nggak pake peluk pelukan cipika cipiki. Padahal gw ngarep banget tuh. Haha.
Kata maaf pun meluncur dari mulut kami berdua. Tentu maaf itu bukan hanya dimulut saja, karena maaf yang sebenarnya dan tulus itu sumbernya dari hati, bukan mulut. Mulut hanyalah sebuah media penyalur apa yang telah diucapkan terangkai oleh hati. Sesaat setelah kami bersalaman untuk mengucapkan kata maaf, gw pun mengikuti Bunga dari belakang untuk masuk ke dalam rumahnya yang besar. Gw tidak menyangka ternyata ramai sekali disini. Ada banyak sanak saudaranya yang tengah berkumpul di ruang tengah. Mulai dari Pakdenya, Budenya, Om, tante, keponakan, hingga Kakek Neneknya yang tinggal di daerah Cibinong berada disini.
Mereka semua sontak menatap gw dengan penuh tanda tanya. "Siapa nih?" mungkin itu yang ada di benak mereka.
Tatapan mereka berubah menjadi lebih tajam ketika gw perlahan mendekat ke arah mereka. Gw tak mempedulikannya, lantas gw salami mereka satu persatu mulai dari budenya dan terakhir kakeknya yang sudah terlihat sangat tua. Gw mencoba memasang senyum ketika bersalaman, namun tak satupun dari mereka membalas senyuman gw. Hanya neneknya saja yang tersenyum pada gw saat itu.
"Yank, ke belakang yuk. Bunda sama Ayah disana." Ajaknya.
"Oh iya...aku belum ketemu Ayah Bunda kamu." Ujar gw.
"Hehe iya. Sekalian, kamu mau makan?"
"Enggak deh aku baru makan di rumah"
Kemudian gw di ajak oleh Bunga ke halaman belakang dimana ayah dan bundanya sedang berada disana. Dan sungkemlah gw kepada kedua orang tuanya. Seperti biasa, mereka selalu menanyakan kabar gw, bahkan gw dipersilahkan makan ketupat. Namun gw menolaknya secara halus, karena kebetulan gw baru saja makan sebelum berangkat kesini.
Gw kembali ke ruang tengah dimana sanak saudaranya masih berkumpul disana. Ekspresi mereka tidak berubah. Terkesan dingin dengan tatapan mata yang bisa dibilang sinis. Tak ada satupun dari mereka yang menyapa gw. Jangankan menyapa, tersenyum pun tidak. Gw merasa sangat asing berada disini seperti tamu tak diundang.
Apakah salah gw berada disini berkumpul bersama mereka?
Entahlah...Yang pasti, gw tetap menjaga tingkah laku gw agar bersikap sopan sewajarnya.
Segala spekulasi pun satu persatu muncul di kepala gw. Ada satu alasan kuat mengapa mereka seperti itu. Mungkin mereka kurang menyukai gw, dan gw sadar akan hal itu.
Yaah, beginilah gw apa adanya. Kalo dilihat dari sisi tampang dan materi, keadaan gw memang jauh dari kata 'layak' untuk seorang gadis seperti Bunga. Dan gw pun tidak memaksakan agar mereka bisa menyukai gw. Adalah hak mereka untuk bersifat seperti itu.
Karena hal itu pula, munculah banyak keraguan di hati gw.
Gw bukan meragukan 'cintanya'..Bukan!!
Tapi gw ragu akan orang orang yang ada di sekitarnya. Apakah nantinya mereka bisa menerima keadaan gw yang seperti ini?
Atau mereka menolak mentah mentah keberadaan gw di sisi Bunga?
Gw tidak bisa memprediksi. Gw hanya berusaha sebisa mungkin untuk selalu bersikap baik di depan seluruh keluarganya kapanpun dan dimanapun.
Namun sungguh hal itu ibarat batu besar yang mengganjal di sudut hati gw. Dan batu itu seakan akan menghalangi jalan gw untuk terus maju mempertahankan hubungan gw dengan Bunga.
Terlalu berlebihan memang apabila disebut 'batu'. Mungkin hanya sebagian kerikil saja...
Ya...Hanya kerikil.
Dan semoga tidak tajam.
Tapi ada satu momen bahagia yang gw rasakan di bulan Oktober itu. Yaitu pada saat hari ulang tahun gw yang jatuh tepat pada tanggal 27. Seharian penuh dia menamani gw dari pagi hingga sore hari. Tak lupa dia memberikan gw sebuah kado. Kado berupa sweater keren berwarna cokelat yang gw ketahui dia membelinya di Jogja sewaktu acara study tour dari sekolahnya. Ukurannya pas sekali ketika dipakai di tubuh kurus gw ini. Dan gw hanya bisa mengucapkan "Terima Kasih" kepadanya...
...........................
...........................
10 November 2007 (Tepat pada hari Pahlawan)
Pagi itu gw berangkat ke sekolah dengan segudang rasa kantuk dan malas. Sorot cahaya mentari pagi yang menerpa wajah gw menjadikan mata ini perih. Sudah jelas ini terjadi akibat efek kurang tidur. Karena malamnya gw begadang untuk menonton pertandingan Sepak Bola. Gw lupa tim mana yang bertanding saat itu. Yang pasti partai besar dan seru. Namun gw tetap harus berangkat, karena kali ini gw sudah menginjak kelas 3, dan tak kurang dari satu bulan lagi semester pertama di kelas 3 ini segera berakhir. Tentu saja UN dan uji KOMPETENSI sudah menunggu di penghujung semester kedua. Dengan dibalut rasa kantuk yang luar biasa, gw mengendarai motor ke sekolah.
Tepat pukul 07.00 gw telah sampai di sekolah. Lantas gw menaruh tas di kolong meja, lalu bergegas ke kantin belakang. Otak gw menebak nebak pasti si Dedi sudah stand bye di kantin. Sesampainya disana benar saja dia sudah ada di pojokan sambil menghisap rokok ditemani segelas kopi. Dia memang anak yang rajin, jarang sekali dia datang di atas jam 7, apalagi terlambat.
"Tumben lu biasanya jam setengah 8 baru nyampe? Haha" Ujar Dedi.
"Gw belom tidur ini. Makannya berangkat pagi." Jawab gw.
"Buseehh ngapain aja lu? Nonton bola?"
"Yoi..." jawab gw singkat.
"Ngopi Jar...biar ga ngantuk!"
"Boleh dah...pesenin gih!"
"Males lu berurat!! Timbang pesen kopi doang...eet dah!" Ujarnya.
Gw diam sejenak. Kaki ini terasa berat sekali untuk berjalan memesan kopi, tingkat kemalasan gw saat itu sudah mencapai 100%.
Akhirnya gw hanya berteriak ke arah si Gandi (Salah satu pedagang di kantin) untuk membuatkan gw segelas kopi.
"Ooii Gandi...!! Kopi hideungna hiji!! Ulah K*pal api nya, kopi LIONG" Teriak gw.
"Sabaraha??" Balas teriak dia.
"Hiji wae...anteurkeun kadieu!! Aing hoream leumpang!!"
Tanpa menunggu lama kopi pun datang dan siap dihidangkan. Tentunya ngopi yang sempurna itu di barengi dengan menghisap sebatang rokok. Sungguh hal itu adalah sebuah kenikmatan. Kenikmatan yang murah meriah...
Bel pertanda masuk pun telah berbunyi. Kopi sudah habis, dan rokok juga habis. Tapi entah mengapa rasa kantuk belum pergi juga, justru malah semakin tak tertahankan rasa kantuk ini menggelayuti kedua mata gw.
"Jar, masuk yuu..." Ajak Dedi.
"Duluan dah...gw mau molor aja disini. Ga kuat mata gw."
"Eeehh ga masuk pelajaran pertama lu?" Tanya Dedi.
"Nggak"
"Yaudah lah...Gw duluan."
"Sip"
Dedi berlalu meninggalkan gw yang masih duduk terdiam di sudut kantin. Lalu gw bersiap untuk tidur. Gw ambil papan besar yang bersandar si sudut ruangan, gw bersihkan sedikit debu yang menempel, lalu dihamparkanlah papan itu, dan gw pun teritidur di pojokan kantin.
Entah berapa lama gw tertidur akhirnya gw terbangun. Suara bising para cucunguk sukses membangunkan gw yang tengah terlelap. Jam istirahat sudah tiba.
Gw bangkit dan lekas cuci muka untuk menghilangkan sisa kantuk lalu kembali ke kelas. Dan pelajaran dimulai kembali seperti biasanya....
Bersambung....
Darpox dan efti108 memberi reputasi
2