- Beranda
- Stories from the Heart
Accidentally In Love [True Story]
...
TS
robotpintar
Accidentally In Love [True Story]
![Accidentally In Love [True Story]](https://s.kaskus.id/images/2014/02/14/6448808_20140214023854.png)
Spoiler for Cover:
![Accidentally In Love [True Story]](https://s.kaskus.id/images/2014/02/14/6448808_20140214024411.png)
So she said what's the problem baby
What's the problem I don't know
Well maybe I'm in love (love)
Think about it every time
I think about it
Can't stop thinking 'bout it
How much longer will it take to cure this
Just to cure it cause I can't ignore it if it's love (love)
Makes me wanna turn around and face me but I don't know nothing 'bout love
Come on, come on
Turn a little faster
Come on, come on
The world will follow after
Come on, come on
Cause everybody's after love
So I said I'm a snowball running
Running down into the spring that's coming all this love
Melting under blue skies
Belting out sunlight
Shimmering love
Well baby I surrender
To the strawberry ice cream
Never ever end of all this love
Well I didn't mean to do it
But there's no escaping your love
These lines of lightning
Mean we're never alone,
Never alone, no, no
We're accidentally in love
Accidentally in love [x7]
Accidentally I'm In Love
Spoiler for Bagian 1:
#1
Quote:
“Gila lu Bon, roti segitu banyak sayang-sayang bakal empan ikan semua!”
“Emang ngapa? Ikan jaman sekarang mah ogah makan cacing, Meng”
Gua jawab aja sekena-nya, memang niatnya gua bawa roti dari rumah buat bekal pas mancing tapi, gara-gara umpan cacing gua dari tadi nggak disentuh ikan terpaksa gua ganti dengan roti. Siapa tau mujarab.
Nggak seberapa berselang, tali pancing gua bergetar, refleks gua tarik joran sekuatnya dan mendarat dengan mulus seekor ikan yang kurang lebih seukuran telapak tangan.
“Anjritt.. dari tadi dapet sapu-sapu mulu gua!”
Sambil melepas mata kail dari mulut ikan sapu-sapu yang barusan gua angkat dan langsung gua lempar lagi kedalam kali.
Tidak berapa lama, melantun lagu “Time Like This”-nya Foo Fighter dari ponsel gua. Tertera tulisan “Rumah” dilayarnya.
“Kenapa mak?”
Karena memang cuma nyokap gua aja yang selalu telpon melalui telepon rumah. Bokap dan adik gua selalu menggunakan ponsel-nya masing-masing jika ada keperluan.
“Assalamualaikum , Mancing kagak rapi-rapi luh, nih ada kiriman surat buat elu”
“Dari siapa?”
“Kagak tau, bahasanya emak nggak ngerti”
“Simpenin dulu, nih aye udah mau pulang”
“Yaudah buruan, jangan maghriban dijalan, pamali. Assalamualaikum”
“Waalaikumsalam”
Gua kantongin lagi ponsel k-ekantong celana pendek yang sekarang udah kotor campur lumpur, sambil berteriak ke temen gua; Komeng, yang lagi berkutat dengan tali pancingnya yang kusut.
“Meng, ayo balik.. udah sore”
“Belon juga dapet sekilo, udah mau balik aje”
“Yauda elu terusin dah, gua balik duluan”
Komeng menjawab dengan sedikit gumam di bibirnya terdengar seperti “Yaelah..” sambil berjalan gontai menyusul gua.
------
Itu kejadian beberapa tahun yang lalu, dimana gua dan Komeng masih biasa mencari cacing buat umpan ikan di kebun singkong belakang rumahnya Haji Salim dan kemudian pergi memancing disepanjang pinggiran sungai Pesanggrahan, Jakarta.
Sekarang, gua sedang duduk sambil bersandar di sebuah kursi lipat di pinggir danau di daerah Leeds, Inggris. Menghabiskan hari libur akhir musim gugur dengan memancing sambil bernostalgia, mencoba membangkitkan memori tentang memancing, tentang si Komeng, tentang Jakarta, tentang rumah.
Setelah berjam-jam memancing, menghabiskan berkaleng-kaleng ‘Diet Coke’ akhirnya gua memutuskan untuk menyudahi kegiatan sialan ini. Pulang dengan membawa 6 Ekor ikan Yelowtail (di Indonesia disebut ikan patin) dan sedikit kenangan tentang ‘rumah’, gua berjalan gontai menuju tempat dimana sepeda kesayangan gua diparkir, sempat kebingungan awalnya karena sekarang ada banyak sepeda yang diparkir, padahal tadi pagi baru sepeda gua aja yang nongkrong disini, setelah celingak-celinguk akhirnya ketemu juga dan gua mulai mengayuh.
Jarak dari tempat gua biasa mancing ke tempat dimana gua tinggal di Moorland Ave, Leeds kurang lebih 3,5 mil atau kalau dalam satuan Kilometer sekitar 5,5 Km. Jarak segitu kalo disini, di Inggris bisa dibilang ‘deket’, kalau naik sepeda bisa cuma 30 menit.
Oiya, nama gua Boni. Gua lahir dan dibesarkan di Jakarta. Saat ini gua kerja dan tinggal di Leeds, Inggris sekitar 2-3 jam dari London (dengan kereta). Gua kerja sebagai Sound Designer disalah satu Agensi perfilman dan periklanan di Leeds yang juga punya kantor di London. Sudah hampir 4 tahun gua kerja dan tinggal disini, ditempat dimana nggak ada sungai dengan air berwarna cokelat keruh yang banyak ikan sapu-sapunya dan nggak ada teman yang suka menggerutu “Yaelah”.
Sambil mendengarkan “Heaven” nya Lost Lonely Boys lewat headset, gua mengayuh sepeda menuju ke rumah, pulang. Melewati jalan berpasir yang dipenuhi pohon-pohon maple di kedua sisinya menuju jalan utama. Jalan yang sangat sepi dan hening, jam menunjukkan angka 4 sore, menandakan waktu shalat maghrib, di sabtu sore seperti sekarang ini memang didaerah sini sangat sepi, kebanyakan penduduk sekitar sedang ke stadion atau pub-pub untuk menyaksikan Leeds United bertanding. Ingin buru-buru sampai di rumah, karena perut udah mulai keroncongan, gua kayuh sepeda lebih cepat. Sampai kemudian terdengar sayup-sayup suara musik yang makin lama makin nyaring, suara musik RnB yang sepertinya diputar dari dalam mobil dengan volume maksimal. Suara tersebut datang dari arah belakang dan kemudian menyusul gua, sebuah BMW silver yang melaju cepat bahkan boleh dibilang sangat cepat, sambil meninggalkan debu persis seperti mobil yang sedang Rally Dakkar.
“Orang Gila!!” gua mengumpat, masih sambil dengerin coda lagu “Heaven” nya Lost Lonely Boys. Sampai gua melihat beberapa detik kemudian lampu rem BMW tersebut menyala dan kemudian berhenti.
Deg!, “Wuanjrit, sakti juga tuh orang bisa denger suara gua” sambil berhenti dan melepas headset dari telinga. Yang ternyata setelah gua sadar, suara gua nggak sepelan pas pakai headset tadi. Gua nunggu sambil dag dig dug, kalau dia ngerti ucapan gua, dia pasti orang Indonesia dan kalo ternyata bukan gua bakal siap-siap kabur.
Pintu penumpang pun terbuka, terbuka secara paksa tepatnya, sedetik kemudian keluar seseorang dari kursi penumpang, terhuyung dan kemudian terjatuh, terdengar makian dari dalam BMW tersebut mungkin seperti “bitch” atau semacamnya dan sesaat kemudian BMW tersebut pergi, mengasapi orang yang tersungkur itu dengan debu jalanan.
Nggak mau terlalu ambil pusing, sambil bernafas lega dan bilang dalam hati; “untung bukan gua”, gua meneruskan mengayuh sepeda.
“Get up Bro, life is brutal”
gua berkata ke orang itu sambil melewatinya tetap melanjutkan mengayuh. Dan beberapa meter kemudian gua mendengar sebuah teriakan, teriakan yang (pada akhirnya) bakal merubah hidup gua.
“Woii.. Help me!, you’re Indonesian, right?”
“Tolongin gue dong…”
Gua berhenti mengayuh, turun dan bengong. Sudah hampir setahun gua nggak denger secara langsung orang bicara ke gua dengan bahasa Indonesia dan suara perempuan pula.. Lima, ah mungkin sepuluh detik kemudian baru gua memalingkan muka tapi masih tetap bengong.
“Woii..”
Akhirnya gua turun dari sepeda, kemudian menghampiri orang itu. Terduduk di depan gua sosok perempuan, hitam manis dengan kepala tertutup hood jaket hitam, celana jeans dan sepatu model boots sebetis berwarna cokelat.
“Elu nggak apa-apa?”
“Menurut Lo? Kalo gue gak apa-apa, ngapain gua teriak minta tolong elu!!”
Gua nggak menjawab, berusaha membantu dia berdiri sambil bertanya lagi bagaimana keadaannya. Sekali lagi dia mengumpat;
“Gila!, nggak punya hati banget sih lu!, ya jelas lah gue kenapa-kenapa.. nih liat!”
Sambil memperlihatkan telapak tangan dan siku-nya yang luka dan kemudian menyibak celana jeans-nya yang kotor terkena debu dan sobek di beberapa bagian akibat terlempar dari mobil tadi. Sesaat baru dia sadar kalau lutut kanannya juga luka sambil meringis kesakitan dia mencoba membersihkan luka tersebut dengan air liurnya. Sangat Indonesia sekali.
“Gua pikir tadi orang mabok yang lagi berantem, disini mah biasa begitu,mbak!”
Kemudia gua kasih satu-satunya ‘Diet Coke’ sisa memancing tadi, harusnya sih air putih tapi Cuma itu yang gua punya sekarang. Sambil menggerutu karena dikasih ‘Diet Coke’ daripada air putih, diminum juga tuh minuman soda. Kemudian gua menawarkan diri buat mengantar dia ke sebuah toko kecil di ujung jalan ini, untuk membeli plester untuk membalut luka-nya.
“Jauh nggak?”
Dia bertanya sambil menurunkan hood jaketnya dan menyibak rambutnya yang pendek seleher. Kemudian terlihat jelas sebuah luka lebam di sudut mata sebelah kiri-nya, tidak, bukan cuma satu, setidaknya ada 3 luka lebam, selain disudut matanya, satu lagi di dahi sebelah kiri dan satu lagi di sudut bibir sebelah kanan, yang terakhir tampak seperti luka yang baru karena masih meninggalkan sisa bekas darah yang membeku.
Gua nggak berani bertanya, gua hindari menatap kewajahnya sambil menjawab pertanyaa-nya bahwa tokonya nggak begitu jauh dari sini, sambil menunjuk ke arah jalan utama.
---
“Emang ngapa? Ikan jaman sekarang mah ogah makan cacing, Meng”
Gua jawab aja sekena-nya, memang niatnya gua bawa roti dari rumah buat bekal pas mancing tapi, gara-gara umpan cacing gua dari tadi nggak disentuh ikan terpaksa gua ganti dengan roti. Siapa tau mujarab.
Nggak seberapa berselang, tali pancing gua bergetar, refleks gua tarik joran sekuatnya dan mendarat dengan mulus seekor ikan yang kurang lebih seukuran telapak tangan.
“Anjritt.. dari tadi dapet sapu-sapu mulu gua!”
Sambil melepas mata kail dari mulut ikan sapu-sapu yang barusan gua angkat dan langsung gua lempar lagi kedalam kali.
Tidak berapa lama, melantun lagu “Time Like This”-nya Foo Fighter dari ponsel gua. Tertera tulisan “Rumah” dilayarnya.
“Kenapa mak?”
Karena memang cuma nyokap gua aja yang selalu telpon melalui telepon rumah. Bokap dan adik gua selalu menggunakan ponsel-nya masing-masing jika ada keperluan.
“Assalamualaikum , Mancing kagak rapi-rapi luh, nih ada kiriman surat buat elu”
“Dari siapa?”
“Kagak tau, bahasanya emak nggak ngerti”
“Simpenin dulu, nih aye udah mau pulang”
“Yaudah buruan, jangan maghriban dijalan, pamali. Assalamualaikum”
“Waalaikumsalam”
Gua kantongin lagi ponsel k-ekantong celana pendek yang sekarang udah kotor campur lumpur, sambil berteriak ke temen gua; Komeng, yang lagi berkutat dengan tali pancingnya yang kusut.
“Meng, ayo balik.. udah sore”
“Belon juga dapet sekilo, udah mau balik aje”
“Yauda elu terusin dah, gua balik duluan”
Komeng menjawab dengan sedikit gumam di bibirnya terdengar seperti “Yaelah..” sambil berjalan gontai menyusul gua.
------
Itu kejadian beberapa tahun yang lalu, dimana gua dan Komeng masih biasa mencari cacing buat umpan ikan di kebun singkong belakang rumahnya Haji Salim dan kemudian pergi memancing disepanjang pinggiran sungai Pesanggrahan, Jakarta.
Sekarang, gua sedang duduk sambil bersandar di sebuah kursi lipat di pinggir danau di daerah Leeds, Inggris. Menghabiskan hari libur akhir musim gugur dengan memancing sambil bernostalgia, mencoba membangkitkan memori tentang memancing, tentang si Komeng, tentang Jakarta, tentang rumah.
Setelah berjam-jam memancing, menghabiskan berkaleng-kaleng ‘Diet Coke’ akhirnya gua memutuskan untuk menyudahi kegiatan sialan ini. Pulang dengan membawa 6 Ekor ikan Yelowtail (di Indonesia disebut ikan patin) dan sedikit kenangan tentang ‘rumah’, gua berjalan gontai menuju tempat dimana sepeda kesayangan gua diparkir, sempat kebingungan awalnya karena sekarang ada banyak sepeda yang diparkir, padahal tadi pagi baru sepeda gua aja yang nongkrong disini, setelah celingak-celinguk akhirnya ketemu juga dan gua mulai mengayuh.
Jarak dari tempat gua biasa mancing ke tempat dimana gua tinggal di Moorland Ave, Leeds kurang lebih 3,5 mil atau kalau dalam satuan Kilometer sekitar 5,5 Km. Jarak segitu kalo disini, di Inggris bisa dibilang ‘deket’, kalau naik sepeda bisa cuma 30 menit.
Oiya, nama gua Boni. Gua lahir dan dibesarkan di Jakarta. Saat ini gua kerja dan tinggal di Leeds, Inggris sekitar 2-3 jam dari London (dengan kereta). Gua kerja sebagai Sound Designer disalah satu Agensi perfilman dan periklanan di Leeds yang juga punya kantor di London. Sudah hampir 4 tahun gua kerja dan tinggal disini, ditempat dimana nggak ada sungai dengan air berwarna cokelat keruh yang banyak ikan sapu-sapunya dan nggak ada teman yang suka menggerutu “Yaelah”.
Sambil mendengarkan “Heaven” nya Lost Lonely Boys lewat headset, gua mengayuh sepeda menuju ke rumah, pulang. Melewati jalan berpasir yang dipenuhi pohon-pohon maple di kedua sisinya menuju jalan utama. Jalan yang sangat sepi dan hening, jam menunjukkan angka 4 sore, menandakan waktu shalat maghrib, di sabtu sore seperti sekarang ini memang didaerah sini sangat sepi, kebanyakan penduduk sekitar sedang ke stadion atau pub-pub untuk menyaksikan Leeds United bertanding. Ingin buru-buru sampai di rumah, karena perut udah mulai keroncongan, gua kayuh sepeda lebih cepat. Sampai kemudian terdengar sayup-sayup suara musik yang makin lama makin nyaring, suara musik RnB yang sepertinya diputar dari dalam mobil dengan volume maksimal. Suara tersebut datang dari arah belakang dan kemudian menyusul gua, sebuah BMW silver yang melaju cepat bahkan boleh dibilang sangat cepat, sambil meninggalkan debu persis seperti mobil yang sedang Rally Dakkar.
“Orang Gila!!” gua mengumpat, masih sambil dengerin coda lagu “Heaven” nya Lost Lonely Boys. Sampai gua melihat beberapa detik kemudian lampu rem BMW tersebut menyala dan kemudian berhenti.
Deg!, “Wuanjrit, sakti juga tuh orang bisa denger suara gua” sambil berhenti dan melepas headset dari telinga. Yang ternyata setelah gua sadar, suara gua nggak sepelan pas pakai headset tadi. Gua nunggu sambil dag dig dug, kalau dia ngerti ucapan gua, dia pasti orang Indonesia dan kalo ternyata bukan gua bakal siap-siap kabur.
Pintu penumpang pun terbuka, terbuka secara paksa tepatnya, sedetik kemudian keluar seseorang dari kursi penumpang, terhuyung dan kemudian terjatuh, terdengar makian dari dalam BMW tersebut mungkin seperti “bitch” atau semacamnya dan sesaat kemudian BMW tersebut pergi, mengasapi orang yang tersungkur itu dengan debu jalanan.
Nggak mau terlalu ambil pusing, sambil bernafas lega dan bilang dalam hati; “untung bukan gua”, gua meneruskan mengayuh sepeda.
“Get up Bro, life is brutal”
gua berkata ke orang itu sambil melewatinya tetap melanjutkan mengayuh. Dan beberapa meter kemudian gua mendengar sebuah teriakan, teriakan yang (pada akhirnya) bakal merubah hidup gua.
“Woii.. Help me!, you’re Indonesian, right?”
“Tolongin gue dong…”
Gua berhenti mengayuh, turun dan bengong. Sudah hampir setahun gua nggak denger secara langsung orang bicara ke gua dengan bahasa Indonesia dan suara perempuan pula.. Lima, ah mungkin sepuluh detik kemudian baru gua memalingkan muka tapi masih tetap bengong.
“Woii..”
Akhirnya gua turun dari sepeda, kemudian menghampiri orang itu. Terduduk di depan gua sosok perempuan, hitam manis dengan kepala tertutup hood jaket hitam, celana jeans dan sepatu model boots sebetis berwarna cokelat.
“Elu nggak apa-apa?”
“Menurut Lo? Kalo gue gak apa-apa, ngapain gua teriak minta tolong elu!!”
Gua nggak menjawab, berusaha membantu dia berdiri sambil bertanya lagi bagaimana keadaannya. Sekali lagi dia mengumpat;
“Gila!, nggak punya hati banget sih lu!, ya jelas lah gue kenapa-kenapa.. nih liat!”
Sambil memperlihatkan telapak tangan dan siku-nya yang luka dan kemudian menyibak celana jeans-nya yang kotor terkena debu dan sobek di beberapa bagian akibat terlempar dari mobil tadi. Sesaat baru dia sadar kalau lutut kanannya juga luka sambil meringis kesakitan dia mencoba membersihkan luka tersebut dengan air liurnya. Sangat Indonesia sekali.
“Gua pikir tadi orang mabok yang lagi berantem, disini mah biasa begitu,mbak!”
Kemudia gua kasih satu-satunya ‘Diet Coke’ sisa memancing tadi, harusnya sih air putih tapi Cuma itu yang gua punya sekarang. Sambil menggerutu karena dikasih ‘Diet Coke’ daripada air putih, diminum juga tuh minuman soda. Kemudian gua menawarkan diri buat mengantar dia ke sebuah toko kecil di ujung jalan ini, untuk membeli plester untuk membalut luka-nya.
“Jauh nggak?”
Dia bertanya sambil menurunkan hood jaketnya dan menyibak rambutnya yang pendek seleher. Kemudian terlihat jelas sebuah luka lebam di sudut mata sebelah kiri-nya, tidak, bukan cuma satu, setidaknya ada 3 luka lebam, selain disudut matanya, satu lagi di dahi sebelah kiri dan satu lagi di sudut bibir sebelah kanan, yang terakhir tampak seperti luka yang baru karena masih meninggalkan sisa bekas darah yang membeku.
Gua nggak berani bertanya, gua hindari menatap kewajahnya sambil menjawab pertanyaa-nya bahwa tokonya nggak begitu jauh dari sini, sambil menunjuk ke arah jalan utama.
---
DAFTAR ISI
Quote:
CHAPTER 1
#1 The Beginning
#2 Truly Gentlemen
#3 Place Called Home
#4 The Morning Fever
#5 A Miserable Story
#6 Night Rain
#7 Inside My Head
#8 That Day
#9 Be Tough
#10 Mukena
#1 The Beginning
#2 Truly Gentlemen
#3 Place Called Home
#4 The Morning Fever
#5 A Miserable Story
#6 Night Rain
#7 Inside My Head
#8 That Day
#9 Be Tough
#10 Mukena
Quote:
CHAPTER 2
#11-A Trip To Manchester
#11-B The Swiss Army
#12 Here's and Back Again
#13 I Miss You So Bad
#14 Going Mad
#15 Promise
#16 You’ll Be The Only Light I See
#17 The Winter Tears
#18 She's Gone
#19 That Memories
#11-A Trip To Manchester
#11-B The Swiss Army
#12 Here's and Back Again
#13 I Miss You So Bad
#14 Going Mad
#15 Promise
#16 You’ll Be The Only Light I See
#17 The Winter Tears
#18 She's Gone
#19 That Memories
Quote:
CHAPTER 3
[URL="http://www.kaskus.co.id/show_post/530ff7e41acb17030d8b48f1/479/- "]#19-A The Hood[/URL]
#19-B Heres And Back Again II
#19-C Weak
#19-D Surrender
#19-E The Choice
#19-F Anything For You
#19-G Chelsea Number 8
#19-H Its not always about gold and glory
#19-I Aku
#19-J The Words
#19-K The Persian Cat
#19-L You Really The Only Light I See
#19-M So Be It
#19-N Less Than Perfect
#20 That Day II
[URL="http://www.kaskus.co.id/show_post/530ff7e41acb17030d8b48f1/479/- "]#19-A The Hood[/URL]
#19-B Heres And Back Again II
#19-C Weak
#19-D Surrender
#19-E The Choice
#19-F Anything For You
#19-G Chelsea Number 8
#19-H Its not always about gold and glory
#19-I Aku
#19-J The Words
#19-K The Persian Cat
#19-L You Really The Only Light I See
#19-M So Be It
#19-N Less Than Perfect
#20 That Day II
Quote:
CHAPTER 4 The Prekuel
#21 The Prologue
#22 My Precious
#23 Ticket to Ride
#24 Singapore
#25 Dreams
#26 The Awkward Moment
#27 Logic
#28 Driver In Life
#29 The Risk Taker
#30 Sorry
#31 Rise Again
#32 Goodbye
#21 The Prologue
#22 My Precious
#23 Ticket to Ride
#24 Singapore
#25 Dreams
#26 The Awkward Moment
#27 Logic
#28 Driver In Life
#29 The Risk Taker
#30 Sorry
#31 Rise Again
#32 Goodbye
Quote:
CHAPTER 5!!
#33 London
#34 Unwell
#35 I Was Here
#36 Leeds
#37 New Home, New Life
#38 Alone
#39 Intermezo
#40 Goin' Trough
#41 At Glance
#42 The Past of The Future
#33 London
#34 Unwell
#35 I Was Here
#36 Leeds
#37 New Home, New Life
#38 Alone
#39 Intermezo
#40 Goin' Trough
#41 At Glance
#42 The Past of The Future
Quote:
CHAPTER 6
#43 My First ...
#44 If Lovin' You ...
#45 Goin' Back
#46 Leeds II
#47 I Love You (Jealousy)
#48 After All
#49 Hell Yeah
#50 Conflict
#51 Liar-Liar
#52 Memories
#43 My First ...
#44 If Lovin' You ...
#45 Goin' Back
#46 Leeds II
#47 I Love You (Jealousy)
#48 After All
#49 Hell Yeah
#50 Conflict
#51 Liar-Liar
#52 Memories
Quote:
Quote:
Diubah oleh robotpintar 10-04-2014 08:46
carangkasampah dan 121 lainnya memberi reputasi
120
1.3M
Kutip
2.3K
Balasan
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
robotpintar
#828
Spoiler for Bagian ke sembilan belas N:
#19-NLess Than Perfect
Quote:
Gua duduk diruang tamu rumah, sambil menikmati kuaci yang barusan dibeli Ika, kembalian tadi beli rokok. Nyokap sedang mendikte Ika, menyebut beberapa nama sayuran, buah dan bahan-bahan lain untuk selametan dalam rangka pernikahan gua. Ines duduk disebelah gua, memainkan ponsel miliknya sambil menutup hidung dan mulutnya dengan menggunakan jaket.
“Rokoknya matiin kek..”
“Dikit lagi, tanggung..”
Kemudian gua menghisap dalam-dalam rokok gua dan melemparkan puntungnya lewat pintu rumah yang terbuka lebar.
Sebenarnya jadwal hari ini adalah fitting untuk pakaian pengantin. Gegara kesibukan kerja, jadi tinggal gua dan Ines aja yang belum di-fitting sedangkan Bokap, nyokap, Ika dan Mas Herman sudah lebih dulu di Fitting hari kamis kemarin. Sudah lebih dari setengah jam kami duduk di ruang tamu rumah gua, udah rapi-jali, tinggal berangkat tapi apa daya motor ika yang ingin gua pinjam, sedang digunakan bokap untuk ke rumah temannya; ‘ngambil burung’.
“Mak, baba ngambil burung dimana si lama banget dah..?”
Gua bertanya ke nyokap.
“Lah au.. katanya mah tadi bentaran doang, palingan ke tempatnya si Imron.., uda tu lu pake vespa aje ngapa?”
“Ya kalo bisa nyala mah, baba juga pake vespa tadi..”
Gua menjawab berjongkok di depan motor vespa lawas milik bokap yang katanya udah tiga hari nggak mau menyala.
Ines menyusul gua menuju ke teras dan kemudian duduk di kursi depan teras,. Kali ini dia sudah tidak menutup hidung dan mulutnya menggunakan jaket, tapi tetap sibuk dengan ponsel-nya. Gua memandangnya sekilas, dia terlihat berbeda hari ini, sedikit berbeda; dengan polesan perona merah di kedua pipinya dan bibirnya yang sepertinya dilapis dengan lipstick, rambutnya yang kini mulai panjang diikat ke atas membentuk seperti sanggul. Gua duduk diatas motor vespa bokap dan masih memandangnya. Ines melirik dengan sudut matanya, sementara tangannya masih sibuk menekan tuts ponsel.
“Kenapa, kok ngeliatin?”
“Gapapa.. lu cantik deh nes..”
“Oh terima kasih…kemana aja bang selama ini?”
“Hahaha.. nggak kemana-mana, gua sadar kalo lu cantik dari pertama ketemu tapi hari ini elu terlihat lebih.. gimana gitu..”
“Hehehe.. “
Ines tertawa sambil mengedip-kedip kan kedua matanya.
Gua melihat jam, kemudian masuk kedalam rumah mengambil kunci mobil;
“Naek mobil aja yuk nes..”
“Ah males, Cuma deket doang.. maceeet”
“Yaah.. kelamaan nih baba..”
Nggak lama berselang terdengar deru motor matik milik Ika mendekat ke rumah, kemudian muncul sosok bokap yang menggendong sangkar burung berukuran besar yang ditutupi dengan semacam kain bergambar perkutut.
Gua membuka pagar, sambil memberikan isyarat agar motornya tidak perlu dimasukkan kedalam.
“Udah sini aja, ba.. mau oni pake..”
“Lah elu nungguin baba daritadi?”
“Iya..”
“Ngapa kagak ngebel (Baca:nelpon)?”
“Yee emang baba bawa hape?”
“Oiya.. kagak”
“STNK-nya mane?”
Bokap kemudian membuka dompet-nya, mengeluarkan STNK dan menyerahkannya ke gua.
Lima menit berikutnya gua sudah berada di jalan Ciledug Raya sambil membonceng Ines. Dan lima belas menit berikutnya kami sudah berada di sebuah rumah di daerah Kebayoran Lama, tempat gua dan Ines bakal fitting pakaian.
Gua menunggu di teras depan rumah tersebut sambil menghisap rokok, giliran gua fitting baju sudah selesai, sekarang giliran Ines. Nggak seberapa lama, seorang perempuan muda mendatangi gua;
“Mas, dipanggil ibu kedalam..”
Gua membuang punting rokok, dan mengikuti perempuan itu kemudian masuk kedalam sebuah ruangan tempat gua badan gua diukur, disekeliling ruangan terdapat etalase-etalase yang sangat besar yang didalamnya digantung bermacam-macam gaun pengantin beraneka warna. Apa yang gua lihat berikutnya benar-benar bikin gua merinding, lutut gua lemas dan telapak tangan gua mulai basah.
Ines sedang berdiri menghadap ke cermin besar dengan menggunakan sebuah kebaya berwarna putih dan bawahan batik berwarna cokelat muda. Seorang Ibu yang tadi juga mengukur badan gua sedang membetulkan beberapa lipatan di kebaya yang dipakai Ines. Ines memandang gua lewat cermin dihadapannya;
“Bagus nggak bon..?
“…..”
“Boniiii.. bagus nggaaaak?”
“Eh.. bagus……….. banget..”
“Pake yang ini aja ya, nggak usah bikin baru.. gimana?”
“….”
“Boniii?”
“Iya nes, whatever…”
Gua benar-benar takjub dengan apa yang gua lihat sekarang. Perempuan ngeselin ini kok bisa-bisanya tampil se-anggun sekarang. Gua kemudian duduk di sebuah kursi plastik, masih tetap memandang Ines sambil bergumam;
“Oh.. thank God”
---
Setelah selesai dengan perkara fitting baju,walaupun akhirnya Cuma gua doang yang di fitting karena Ines akhirnya memutuskan untuk tidak membuat gaun untuknya dan lebih memilih gaun kebaya yang tadi dia coba dan ternyata pas.
Gua mengendarai motor menembus gang-gang kecil dari arah kebayoran lama menuju ke arah tanah kusir. Gua sengaja menghindari jalan utama setelah melihat macetnya jalan Ciledug raya dan lebih memilih untuk lewat yang biasa orang sebut ‘jalan tikus’.
“Bon.. lapeer..”
“Mau makan apa?”
“Apa aja..”
“Yaudah mangap aja, makan angin…”
“Ish…”
Ines mencubit lengan gua yang masih mengendari sepeda motor.
“Soto mau?”
“Soto apa?”
“Soto betawi.. “
“Mau.. mau..”
Nggak seberapa lama gua sampai disebuah jalan, dekat dengan persimpangan Jl. Bendi raya, sebelum perlintasan rel kereta api. Gua menepikan motor di sisi trotoar dimana banyak warung dengan tenda-tenda berjajar rapi. Kemudian turun dan masuk ke salah satu tenda bertuliskan ‘soto betawi’. Kami duduk dan memesan soto.
“Bon, kayaknya kamu perlu beli motor deh.. nggak enak kan kalo minjem motor ika mulu..”
“Iya nanti dipertimbangkan lagi..”
“Beli-nya yang kayak itu aja, biar aku bisa pake..”
“Yang kayak gimana?”
“Itu lho yang kayak punya Ika, yang nggak ada ceklek-ceklekannya”
Ines ngomong sambil kakinya memperagakan gerakan mengoper ‘gigi’ pada motor.
“Rem?”
Gua menebak-nebak, berlagak nggak tau, menggoda dia.
“Bukaaaan.. ish..itu lho yang disebelah kiri..”
“Kopling?”
“Iyaaa.. eh bukan.. bukan.. ish apa sih, kamu maah.. pura-pura”
“Gigi.. perseneling”
Gua yang nggak tega akhirnya memberitahukannya.
“Iya..iya.. yang nggak usah yang ada gigi-nya bon.. kan ntar aku bisa pinjem..”
“Iya.. nanti abis nikah, kita beli..”
“Yang warna ungu ya bon..ya ya?”
“Kok ungu? Lu nggak konsisten banget sama warna.. dulu beli syal minta kuning, ngeliat Chelsea minta baju biru, trus magenta, sekarang ungu…”
“Ya abisnya semua warna kan bagus.. kayaknya nggak adil aja gitu kalo nggak suka semuanya..”
“Oke.. anything dah for you..”
“Asiiik…. Bon, abisin ya.. banyak banget soto-nya”
“Yaudah taro situ dulu..”
Dan kami menghabiskan sore itu sambil menikmati soto betawi
---
Hari Rabu tanggal 1 Juni
Gua duduk diberanda depan rumah Ines, tiga hari lagi pernikahan gua akan dilangsungkan. Dan mungkin ini hari terakhir gua sebagai jejaka dan hari terakhir ines sebagai perawan (ciee perawan). Ines keluar dari dalam membawa secangkir the dan meletakkannya di meja diantara kursi. Ines duduk di sebelah gua.
“Bon.. kamu deg-deg-an nggak?”
“Nggak biasa aja”
Gua berbohong, padahal udah tiga hari gua nggak bisa tidur.
“Ih bohong, aku aja nggak bisa tidur..”
“Masa?”
“Iya, sungguh deh..”
“Nes..”
“Ya”
“Lu bener udah yakin sama gua?”
“Ya ampuun boon, kok nanya kayak gitu sih?”
“Ya nanya aja, boleh dong?”
“Ish.. males..”
Dia menyilangkan tangan di dada dan pasang tampang cemberut.
“Ya tinggal jawab aja..yakin nggak”
“Yakin”
“Nah gitu..gua kan juga enak dengernya..”
“Ish.. kalo kamu kenapa yakin sama aku? Padahal Jelas-jelas waktu ketemu pertama kesan kamu ke aku pasti jelek banget, durhaka lagi sama orang tua..”
“Hush.. lu tuh kalo ngomong…”
“Yaudah tinggal jawab aja, hayo..”
“Ya yakin aja, kan gua udah pernah bilang kalo…”
“Ah males.. itu lagi paling penjelasan yang sama.. bored”
Ines memotong omongan gua dan mulai menatap gua.
“Enak ya jadi kamu bon, masih punya keluarga lengkap yang sayang sama kamu, punya hidup yang tenang, pokoknya bener-bener menyenangkan deh… sedangkan aku… kamu tau hidup aku kayak gimana kan sebelum ketemu kamu..aku ngerasa kalo aku nggak sesempurna yang kamu mau, ngerasa kalau kamu terlalu baik buat aku”
“Nes… all your Wrong turn, Bad decisions, Mistreated, misplaced, Mistaken misunderstood, everything, you named it…. Don't you ever, ever, ever, feel like you’re less than perfect, like you’re nothing, ….because you are perfect to me”
“Boooniiii.. kamu bikin aku nangis lagi….”
Ines berdiri dan memeluk gua.
“Nes.. nes.. malu ini banyak orang lewat, lepas ah..”
“Enggak…”
“Nes.. tuh banyak orang lewat..malu tau..”
“Biarin aja ish.. “
“Nes.. suatu hari nanti.. bahkan mungkin tiga hari lagi, Insyaallah… bokap gua bakal jadi bokap lu juga.. nyokap gua bakal jadi nyokap lu juga, adik gua.. eh lu mau nggak sih punya adik kayak Ika?..”
Ines mengangguk, masih dalam pelukan gua.
“… adik gua bakal jadi adik lu juga.. dan hidup gua juga bakal jadi bagian dari hidup lu..”
“Boon..”
“Ya..”
“Aku sayaaaaang banget sama kamu”
“So do I, nes.. so do i…”
“Rokoknya matiin kek..”
“Dikit lagi, tanggung..”
Kemudian gua menghisap dalam-dalam rokok gua dan melemparkan puntungnya lewat pintu rumah yang terbuka lebar.
Sebenarnya jadwal hari ini adalah fitting untuk pakaian pengantin. Gegara kesibukan kerja, jadi tinggal gua dan Ines aja yang belum di-fitting sedangkan Bokap, nyokap, Ika dan Mas Herman sudah lebih dulu di Fitting hari kamis kemarin. Sudah lebih dari setengah jam kami duduk di ruang tamu rumah gua, udah rapi-jali, tinggal berangkat tapi apa daya motor ika yang ingin gua pinjam, sedang digunakan bokap untuk ke rumah temannya; ‘ngambil burung’.
“Mak, baba ngambil burung dimana si lama banget dah..?”
Gua bertanya ke nyokap.
“Lah au.. katanya mah tadi bentaran doang, palingan ke tempatnya si Imron.., uda tu lu pake vespa aje ngapa?”
“Ya kalo bisa nyala mah, baba juga pake vespa tadi..”
Gua menjawab berjongkok di depan motor vespa lawas milik bokap yang katanya udah tiga hari nggak mau menyala.
Ines menyusul gua menuju ke teras dan kemudian duduk di kursi depan teras,. Kali ini dia sudah tidak menutup hidung dan mulutnya menggunakan jaket, tapi tetap sibuk dengan ponsel-nya. Gua memandangnya sekilas, dia terlihat berbeda hari ini, sedikit berbeda; dengan polesan perona merah di kedua pipinya dan bibirnya yang sepertinya dilapis dengan lipstick, rambutnya yang kini mulai panjang diikat ke atas membentuk seperti sanggul. Gua duduk diatas motor vespa bokap dan masih memandangnya. Ines melirik dengan sudut matanya, sementara tangannya masih sibuk menekan tuts ponsel.
“Kenapa, kok ngeliatin?”
“Gapapa.. lu cantik deh nes..”
“Oh terima kasih…kemana aja bang selama ini?”
“Hahaha.. nggak kemana-mana, gua sadar kalo lu cantik dari pertama ketemu tapi hari ini elu terlihat lebih.. gimana gitu..”
“Hehehe.. “
Ines tertawa sambil mengedip-kedip kan kedua matanya.
Gua melihat jam, kemudian masuk kedalam rumah mengambil kunci mobil;
“Naek mobil aja yuk nes..”
“Ah males, Cuma deket doang.. maceeet”
“Yaah.. kelamaan nih baba..”
Nggak lama berselang terdengar deru motor matik milik Ika mendekat ke rumah, kemudian muncul sosok bokap yang menggendong sangkar burung berukuran besar yang ditutupi dengan semacam kain bergambar perkutut.
Gua membuka pagar, sambil memberikan isyarat agar motornya tidak perlu dimasukkan kedalam.
“Udah sini aja, ba.. mau oni pake..”
“Lah elu nungguin baba daritadi?”
“Iya..”
“Ngapa kagak ngebel (Baca:nelpon)?”
“Yee emang baba bawa hape?”
“Oiya.. kagak”
“STNK-nya mane?”
Bokap kemudian membuka dompet-nya, mengeluarkan STNK dan menyerahkannya ke gua.
Lima menit berikutnya gua sudah berada di jalan Ciledug Raya sambil membonceng Ines. Dan lima belas menit berikutnya kami sudah berada di sebuah rumah di daerah Kebayoran Lama, tempat gua dan Ines bakal fitting pakaian.
Gua menunggu di teras depan rumah tersebut sambil menghisap rokok, giliran gua fitting baju sudah selesai, sekarang giliran Ines. Nggak seberapa lama, seorang perempuan muda mendatangi gua;
“Mas, dipanggil ibu kedalam..”
Gua membuang punting rokok, dan mengikuti perempuan itu kemudian masuk kedalam sebuah ruangan tempat gua badan gua diukur, disekeliling ruangan terdapat etalase-etalase yang sangat besar yang didalamnya digantung bermacam-macam gaun pengantin beraneka warna. Apa yang gua lihat berikutnya benar-benar bikin gua merinding, lutut gua lemas dan telapak tangan gua mulai basah.
Ines sedang berdiri menghadap ke cermin besar dengan menggunakan sebuah kebaya berwarna putih dan bawahan batik berwarna cokelat muda. Seorang Ibu yang tadi juga mengukur badan gua sedang membetulkan beberapa lipatan di kebaya yang dipakai Ines. Ines memandang gua lewat cermin dihadapannya;
“Bagus nggak bon..?
“…..”
“Boniiii.. bagus nggaaaak?”
“Eh.. bagus……….. banget..”
“Pake yang ini aja ya, nggak usah bikin baru.. gimana?”
“….”
“Boniii?”
“Iya nes, whatever…”
Gua benar-benar takjub dengan apa yang gua lihat sekarang. Perempuan ngeselin ini kok bisa-bisanya tampil se-anggun sekarang. Gua kemudian duduk di sebuah kursi plastik, masih tetap memandang Ines sambil bergumam;
“Oh.. thank God”
---
Setelah selesai dengan perkara fitting baju,walaupun akhirnya Cuma gua doang yang di fitting karena Ines akhirnya memutuskan untuk tidak membuat gaun untuknya dan lebih memilih gaun kebaya yang tadi dia coba dan ternyata pas.
Gua mengendarai motor menembus gang-gang kecil dari arah kebayoran lama menuju ke arah tanah kusir. Gua sengaja menghindari jalan utama setelah melihat macetnya jalan Ciledug raya dan lebih memilih untuk lewat yang biasa orang sebut ‘jalan tikus’.
“Bon.. lapeer..”
“Mau makan apa?”
“Apa aja..”
“Yaudah mangap aja, makan angin…”
“Ish…”
Ines mencubit lengan gua yang masih mengendari sepeda motor.
“Soto mau?”
“Soto apa?”
“Soto betawi.. “
“Mau.. mau..”
Nggak seberapa lama gua sampai disebuah jalan, dekat dengan persimpangan Jl. Bendi raya, sebelum perlintasan rel kereta api. Gua menepikan motor di sisi trotoar dimana banyak warung dengan tenda-tenda berjajar rapi. Kemudian turun dan masuk ke salah satu tenda bertuliskan ‘soto betawi’. Kami duduk dan memesan soto.
“Bon, kayaknya kamu perlu beli motor deh.. nggak enak kan kalo minjem motor ika mulu..”
“Iya nanti dipertimbangkan lagi..”
“Beli-nya yang kayak itu aja, biar aku bisa pake..”
“Yang kayak gimana?”
“Itu lho yang kayak punya Ika, yang nggak ada ceklek-ceklekannya”
Ines ngomong sambil kakinya memperagakan gerakan mengoper ‘gigi’ pada motor.
“Rem?”
Gua menebak-nebak, berlagak nggak tau, menggoda dia.
“Bukaaaan.. ish..itu lho yang disebelah kiri..”
“Kopling?”
“Iyaaa.. eh bukan.. bukan.. ish apa sih, kamu maah.. pura-pura”
“Gigi.. perseneling”
Gua yang nggak tega akhirnya memberitahukannya.
“Iya..iya.. yang nggak usah yang ada gigi-nya bon.. kan ntar aku bisa pinjem..”
“Iya.. nanti abis nikah, kita beli..”
“Yang warna ungu ya bon..ya ya?”
“Kok ungu? Lu nggak konsisten banget sama warna.. dulu beli syal minta kuning, ngeliat Chelsea minta baju biru, trus magenta, sekarang ungu…”
“Ya abisnya semua warna kan bagus.. kayaknya nggak adil aja gitu kalo nggak suka semuanya..”
“Oke.. anything dah for you..”
“Asiiik…. Bon, abisin ya.. banyak banget soto-nya”
“Yaudah taro situ dulu..”
Dan kami menghabiskan sore itu sambil menikmati soto betawi
---
Hari Rabu tanggal 1 Juni
Gua duduk diberanda depan rumah Ines, tiga hari lagi pernikahan gua akan dilangsungkan. Dan mungkin ini hari terakhir gua sebagai jejaka dan hari terakhir ines sebagai perawan (ciee perawan). Ines keluar dari dalam membawa secangkir the dan meletakkannya di meja diantara kursi. Ines duduk di sebelah gua.
“Bon.. kamu deg-deg-an nggak?”
“Nggak biasa aja”
Gua berbohong, padahal udah tiga hari gua nggak bisa tidur.
“Ih bohong, aku aja nggak bisa tidur..”
“Masa?”
“Iya, sungguh deh..”
“Nes..”
“Ya”
“Lu bener udah yakin sama gua?”
“Ya ampuun boon, kok nanya kayak gitu sih?”
“Ya nanya aja, boleh dong?”
“Ish.. males..”
Dia menyilangkan tangan di dada dan pasang tampang cemberut.
“Ya tinggal jawab aja..yakin nggak”
“Yakin”
“Nah gitu..gua kan juga enak dengernya..”
“Ish.. kalo kamu kenapa yakin sama aku? Padahal Jelas-jelas waktu ketemu pertama kesan kamu ke aku pasti jelek banget, durhaka lagi sama orang tua..”
“Hush.. lu tuh kalo ngomong…”
“Yaudah tinggal jawab aja, hayo..”
“Ya yakin aja, kan gua udah pernah bilang kalo…”
“Ah males.. itu lagi paling penjelasan yang sama.. bored”
Ines memotong omongan gua dan mulai menatap gua.
“Enak ya jadi kamu bon, masih punya keluarga lengkap yang sayang sama kamu, punya hidup yang tenang, pokoknya bener-bener menyenangkan deh… sedangkan aku… kamu tau hidup aku kayak gimana kan sebelum ketemu kamu..aku ngerasa kalo aku nggak sesempurna yang kamu mau, ngerasa kalau kamu terlalu baik buat aku”
“Nes… all your Wrong turn, Bad decisions, Mistreated, misplaced, Mistaken misunderstood, everything, you named it…. Don't you ever, ever, ever, feel like you’re less than perfect, like you’re nothing, ….because you are perfect to me”
“Boooniiii.. kamu bikin aku nangis lagi….”
Ines berdiri dan memeluk gua.
“Nes.. nes.. malu ini banyak orang lewat, lepas ah..”
“Enggak…”
“Nes.. tuh banyak orang lewat..malu tau..”
“Biarin aja ish.. “
“Nes.. suatu hari nanti.. bahkan mungkin tiga hari lagi, Insyaallah… bokap gua bakal jadi bokap lu juga.. nyokap gua bakal jadi nyokap lu juga, adik gua.. eh lu mau nggak sih punya adik kayak Ika?..”
Ines mengangguk, masih dalam pelukan gua.
“… adik gua bakal jadi adik lu juga.. dan hidup gua juga bakal jadi bagian dari hidup lu..”
“Boon..”
“Ya..”
“Aku sayaaaaang banget sama kamu”
“So do I, nes.. so do i…”
Backsound untuk #19-N


Do you feel like a chain store?
Practically floored
One of many zeros
Kicked around bored
Your ears are full but your empty
Holding out your heart
To people who never really
Care how you are
So give me Coffee and TV
History
I've seen so much
I'm goin blind
And i'm braindead virtually
Sociability
It's hard enough for me
Take me away from this big bad world
And agree to marry me
So we can start all over again
Do you go to the country
It isn't very far
There's people there who will hurt you
Cos of who you are
Your ears are full of the language
There's wisdom there you're sure
'Til the words start slurring
And you can't find the door
So give me Coffee and TV
History
I've seen so much
I'm goin blind
And i'm braindead virtually
Sociability
It's hard enough for me
Take me away from this big bad world
And agree to marry me
So we can start all over again
So give me Coffee and TV
History
I've seen so much
I'm goin blind
And i'm braindead virtually
Sociability
It's hard enough for me
Take me away from this big bad world
And agree to marry me
So we can start all over again
Oh...we could start over again
Oh...we could start over again
Oh...we could start over again
Oh...we could start over again


Do you feel like a chain store?
Practically floored
One of many zeros
Kicked around bored
Your ears are full but your empty
Holding out your heart
To people who never really
Care how you are
So give me Coffee and TV
History
I've seen so much
I'm goin blind
And i'm braindead virtually
Sociability
It's hard enough for me
Take me away from this big bad world
And agree to marry me
So we can start all over again
Do you go to the country
It isn't very far
There's people there who will hurt you
Cos of who you are
Your ears are full of the language
There's wisdom there you're sure
'Til the words start slurring
And you can't find the door
So give me Coffee and TV
History
I've seen so much
I'm goin blind
And i'm braindead virtually
Sociability
It's hard enough for me
Take me away from this big bad world
And agree to marry me
So we can start all over again
So give me Coffee and TV
History
I've seen so much
I'm goin blind
And i'm braindead virtually
Sociability
It's hard enough for me
Take me away from this big bad world
And agree to marry me
So we can start all over again
Oh...we could start over again
Oh...we could start over again
Oh...we could start over again
Oh...we could start over again
Spoiler for klipnya:
regmekujo dan 15 lainnya memberi reputasi
16
Kutip
Balas
![Accidentally In Love [True Story]](https://s.kaskus.id/images/2014/04/07/6448808_20140407033338.jpg)