- Beranda
- Stories from the Heart
Accidentally In Love [True Story]
...
TS
robotpintar
Accidentally In Love [True Story]
![Accidentally In Love [True Story]](https://s.kaskus.id/images/2014/02/14/6448808_20140214023854.png)
Spoiler for Cover:
![Accidentally In Love [True Story]](https://s.kaskus.id/images/2014/02/14/6448808_20140214024411.png)
So she said what's the problem baby
What's the problem I don't know
Well maybe I'm in love (love)
Think about it every time
I think about it
Can't stop thinking 'bout it
How much longer will it take to cure this
Just to cure it cause I can't ignore it if it's love (love)
Makes me wanna turn around and face me but I don't know nothing 'bout love
Come on, come on
Turn a little faster
Come on, come on
The world will follow after
Come on, come on
Cause everybody's after love
So I said I'm a snowball running
Running down into the spring that's coming all this love
Melting under blue skies
Belting out sunlight
Shimmering love
Well baby I surrender
To the strawberry ice cream
Never ever end of all this love
Well I didn't mean to do it
But there's no escaping your love
These lines of lightning
Mean we're never alone,
Never alone, no, no
We're accidentally in love
Accidentally in love [x7]
Accidentally I'm In Love
Spoiler for Bagian 1:
#1
Quote:
“Gila lu Bon, roti segitu banyak sayang-sayang bakal empan ikan semua!”
“Emang ngapa? Ikan jaman sekarang mah ogah makan cacing, Meng”
Gua jawab aja sekena-nya, memang niatnya gua bawa roti dari rumah buat bekal pas mancing tapi, gara-gara umpan cacing gua dari tadi nggak disentuh ikan terpaksa gua ganti dengan roti. Siapa tau mujarab.
Nggak seberapa berselang, tali pancing gua bergetar, refleks gua tarik joran sekuatnya dan mendarat dengan mulus seekor ikan yang kurang lebih seukuran telapak tangan.
“Anjritt.. dari tadi dapet sapu-sapu mulu gua!”
Sambil melepas mata kail dari mulut ikan sapu-sapu yang barusan gua angkat dan langsung gua lempar lagi kedalam kali.
Tidak berapa lama, melantun lagu “Time Like This”-nya Foo Fighter dari ponsel gua. Tertera tulisan “Rumah” dilayarnya.
“Kenapa mak?”
Karena memang cuma nyokap gua aja yang selalu telpon melalui telepon rumah. Bokap dan adik gua selalu menggunakan ponsel-nya masing-masing jika ada keperluan.
“Assalamualaikum , Mancing kagak rapi-rapi luh, nih ada kiriman surat buat elu”
“Dari siapa?”
“Kagak tau, bahasanya emak nggak ngerti”
“Simpenin dulu, nih aye udah mau pulang”
“Yaudah buruan, jangan maghriban dijalan, pamali. Assalamualaikum”
“Waalaikumsalam”
Gua kantongin lagi ponsel k-ekantong celana pendek yang sekarang udah kotor campur lumpur, sambil berteriak ke temen gua; Komeng, yang lagi berkutat dengan tali pancingnya yang kusut.
“Meng, ayo balik.. udah sore”
“Belon juga dapet sekilo, udah mau balik aje”
“Yauda elu terusin dah, gua balik duluan”
Komeng menjawab dengan sedikit gumam di bibirnya terdengar seperti “Yaelah..” sambil berjalan gontai menyusul gua.
------
Itu kejadian beberapa tahun yang lalu, dimana gua dan Komeng masih biasa mencari cacing buat umpan ikan di kebun singkong belakang rumahnya Haji Salim dan kemudian pergi memancing disepanjang pinggiran sungai Pesanggrahan, Jakarta.
Sekarang, gua sedang duduk sambil bersandar di sebuah kursi lipat di pinggir danau di daerah Leeds, Inggris. Menghabiskan hari libur akhir musim gugur dengan memancing sambil bernostalgia, mencoba membangkitkan memori tentang memancing, tentang si Komeng, tentang Jakarta, tentang rumah.
Setelah berjam-jam memancing, menghabiskan berkaleng-kaleng ‘Diet Coke’ akhirnya gua memutuskan untuk menyudahi kegiatan sialan ini. Pulang dengan membawa 6 Ekor ikan Yelowtail (di Indonesia disebut ikan patin) dan sedikit kenangan tentang ‘rumah’, gua berjalan gontai menuju tempat dimana sepeda kesayangan gua diparkir, sempat kebingungan awalnya karena sekarang ada banyak sepeda yang diparkir, padahal tadi pagi baru sepeda gua aja yang nongkrong disini, setelah celingak-celinguk akhirnya ketemu juga dan gua mulai mengayuh.
Jarak dari tempat gua biasa mancing ke tempat dimana gua tinggal di Moorland Ave, Leeds kurang lebih 3,5 mil atau kalau dalam satuan Kilometer sekitar 5,5 Km. Jarak segitu kalo disini, di Inggris bisa dibilang ‘deket’, kalau naik sepeda bisa cuma 30 menit.
Oiya, nama gua Boni. Gua lahir dan dibesarkan di Jakarta. Saat ini gua kerja dan tinggal di Leeds, Inggris sekitar 2-3 jam dari London (dengan kereta). Gua kerja sebagai Sound Designer disalah satu Agensi perfilman dan periklanan di Leeds yang juga punya kantor di London. Sudah hampir 4 tahun gua kerja dan tinggal disini, ditempat dimana nggak ada sungai dengan air berwarna cokelat keruh yang banyak ikan sapu-sapunya dan nggak ada teman yang suka menggerutu “Yaelah”.
Sambil mendengarkan “Heaven” nya Lost Lonely Boys lewat headset, gua mengayuh sepeda menuju ke rumah, pulang. Melewati jalan berpasir yang dipenuhi pohon-pohon maple di kedua sisinya menuju jalan utama. Jalan yang sangat sepi dan hening, jam menunjukkan angka 4 sore, menandakan waktu shalat maghrib, di sabtu sore seperti sekarang ini memang didaerah sini sangat sepi, kebanyakan penduduk sekitar sedang ke stadion atau pub-pub untuk menyaksikan Leeds United bertanding. Ingin buru-buru sampai di rumah, karena perut udah mulai keroncongan, gua kayuh sepeda lebih cepat. Sampai kemudian terdengar sayup-sayup suara musik yang makin lama makin nyaring, suara musik RnB yang sepertinya diputar dari dalam mobil dengan volume maksimal. Suara tersebut datang dari arah belakang dan kemudian menyusul gua, sebuah BMW silver yang melaju cepat bahkan boleh dibilang sangat cepat, sambil meninggalkan debu persis seperti mobil yang sedang Rally Dakkar.
“Orang Gila!!” gua mengumpat, masih sambil dengerin coda lagu “Heaven” nya Lost Lonely Boys. Sampai gua melihat beberapa detik kemudian lampu rem BMW tersebut menyala dan kemudian berhenti.
Deg!, “Wuanjrit, sakti juga tuh orang bisa denger suara gua” sambil berhenti dan melepas headset dari telinga. Yang ternyata setelah gua sadar, suara gua nggak sepelan pas pakai headset tadi. Gua nunggu sambil dag dig dug, kalau dia ngerti ucapan gua, dia pasti orang Indonesia dan kalo ternyata bukan gua bakal siap-siap kabur.
Pintu penumpang pun terbuka, terbuka secara paksa tepatnya, sedetik kemudian keluar seseorang dari kursi penumpang, terhuyung dan kemudian terjatuh, terdengar makian dari dalam BMW tersebut mungkin seperti “bitch” atau semacamnya dan sesaat kemudian BMW tersebut pergi, mengasapi orang yang tersungkur itu dengan debu jalanan.
Nggak mau terlalu ambil pusing, sambil bernafas lega dan bilang dalam hati; “untung bukan gua”, gua meneruskan mengayuh sepeda.
“Get up Bro, life is brutal”
gua berkata ke orang itu sambil melewatinya tetap melanjutkan mengayuh. Dan beberapa meter kemudian gua mendengar sebuah teriakan, teriakan yang (pada akhirnya) bakal merubah hidup gua.
“Woii.. Help me!, you’re Indonesian, right?”
“Tolongin gue dong…”
Gua berhenti mengayuh, turun dan bengong. Sudah hampir setahun gua nggak denger secara langsung orang bicara ke gua dengan bahasa Indonesia dan suara perempuan pula.. Lima, ah mungkin sepuluh detik kemudian baru gua memalingkan muka tapi masih tetap bengong.
“Woii..”
Akhirnya gua turun dari sepeda, kemudian menghampiri orang itu. Terduduk di depan gua sosok perempuan, hitam manis dengan kepala tertutup hood jaket hitam, celana jeans dan sepatu model boots sebetis berwarna cokelat.
“Elu nggak apa-apa?”
“Menurut Lo? Kalo gue gak apa-apa, ngapain gua teriak minta tolong elu!!”
Gua nggak menjawab, berusaha membantu dia berdiri sambil bertanya lagi bagaimana keadaannya. Sekali lagi dia mengumpat;
“Gila!, nggak punya hati banget sih lu!, ya jelas lah gue kenapa-kenapa.. nih liat!”
Sambil memperlihatkan telapak tangan dan siku-nya yang luka dan kemudian menyibak celana jeans-nya yang kotor terkena debu dan sobek di beberapa bagian akibat terlempar dari mobil tadi. Sesaat baru dia sadar kalau lutut kanannya juga luka sambil meringis kesakitan dia mencoba membersihkan luka tersebut dengan air liurnya. Sangat Indonesia sekali.
“Gua pikir tadi orang mabok yang lagi berantem, disini mah biasa begitu,mbak!”
Kemudia gua kasih satu-satunya ‘Diet Coke’ sisa memancing tadi, harusnya sih air putih tapi Cuma itu yang gua punya sekarang. Sambil menggerutu karena dikasih ‘Diet Coke’ daripada air putih, diminum juga tuh minuman soda. Kemudian gua menawarkan diri buat mengantar dia ke sebuah toko kecil di ujung jalan ini, untuk membeli plester untuk membalut luka-nya.
“Jauh nggak?”
Dia bertanya sambil menurunkan hood jaketnya dan menyibak rambutnya yang pendek seleher. Kemudian terlihat jelas sebuah luka lebam di sudut mata sebelah kiri-nya, tidak, bukan cuma satu, setidaknya ada 3 luka lebam, selain disudut matanya, satu lagi di dahi sebelah kiri dan satu lagi di sudut bibir sebelah kanan, yang terakhir tampak seperti luka yang baru karena masih meninggalkan sisa bekas darah yang membeku.
Gua nggak berani bertanya, gua hindari menatap kewajahnya sambil menjawab pertanyaa-nya bahwa tokonya nggak begitu jauh dari sini, sambil menunjuk ke arah jalan utama.
---
“Emang ngapa? Ikan jaman sekarang mah ogah makan cacing, Meng”
Gua jawab aja sekena-nya, memang niatnya gua bawa roti dari rumah buat bekal pas mancing tapi, gara-gara umpan cacing gua dari tadi nggak disentuh ikan terpaksa gua ganti dengan roti. Siapa tau mujarab.
Nggak seberapa berselang, tali pancing gua bergetar, refleks gua tarik joran sekuatnya dan mendarat dengan mulus seekor ikan yang kurang lebih seukuran telapak tangan.
“Anjritt.. dari tadi dapet sapu-sapu mulu gua!”
Sambil melepas mata kail dari mulut ikan sapu-sapu yang barusan gua angkat dan langsung gua lempar lagi kedalam kali.
Tidak berapa lama, melantun lagu “Time Like This”-nya Foo Fighter dari ponsel gua. Tertera tulisan “Rumah” dilayarnya.
“Kenapa mak?”
Karena memang cuma nyokap gua aja yang selalu telpon melalui telepon rumah. Bokap dan adik gua selalu menggunakan ponsel-nya masing-masing jika ada keperluan.
“Assalamualaikum , Mancing kagak rapi-rapi luh, nih ada kiriman surat buat elu”
“Dari siapa?”
“Kagak tau, bahasanya emak nggak ngerti”
“Simpenin dulu, nih aye udah mau pulang”
“Yaudah buruan, jangan maghriban dijalan, pamali. Assalamualaikum”
“Waalaikumsalam”
Gua kantongin lagi ponsel k-ekantong celana pendek yang sekarang udah kotor campur lumpur, sambil berteriak ke temen gua; Komeng, yang lagi berkutat dengan tali pancingnya yang kusut.
“Meng, ayo balik.. udah sore”
“Belon juga dapet sekilo, udah mau balik aje”
“Yauda elu terusin dah, gua balik duluan”
Komeng menjawab dengan sedikit gumam di bibirnya terdengar seperti “Yaelah..” sambil berjalan gontai menyusul gua.
------
Itu kejadian beberapa tahun yang lalu, dimana gua dan Komeng masih biasa mencari cacing buat umpan ikan di kebun singkong belakang rumahnya Haji Salim dan kemudian pergi memancing disepanjang pinggiran sungai Pesanggrahan, Jakarta.
Sekarang, gua sedang duduk sambil bersandar di sebuah kursi lipat di pinggir danau di daerah Leeds, Inggris. Menghabiskan hari libur akhir musim gugur dengan memancing sambil bernostalgia, mencoba membangkitkan memori tentang memancing, tentang si Komeng, tentang Jakarta, tentang rumah.
Setelah berjam-jam memancing, menghabiskan berkaleng-kaleng ‘Diet Coke’ akhirnya gua memutuskan untuk menyudahi kegiatan sialan ini. Pulang dengan membawa 6 Ekor ikan Yelowtail (di Indonesia disebut ikan patin) dan sedikit kenangan tentang ‘rumah’, gua berjalan gontai menuju tempat dimana sepeda kesayangan gua diparkir, sempat kebingungan awalnya karena sekarang ada banyak sepeda yang diparkir, padahal tadi pagi baru sepeda gua aja yang nongkrong disini, setelah celingak-celinguk akhirnya ketemu juga dan gua mulai mengayuh.
Jarak dari tempat gua biasa mancing ke tempat dimana gua tinggal di Moorland Ave, Leeds kurang lebih 3,5 mil atau kalau dalam satuan Kilometer sekitar 5,5 Km. Jarak segitu kalo disini, di Inggris bisa dibilang ‘deket’, kalau naik sepeda bisa cuma 30 menit.
Oiya, nama gua Boni. Gua lahir dan dibesarkan di Jakarta. Saat ini gua kerja dan tinggal di Leeds, Inggris sekitar 2-3 jam dari London (dengan kereta). Gua kerja sebagai Sound Designer disalah satu Agensi perfilman dan periklanan di Leeds yang juga punya kantor di London. Sudah hampir 4 tahun gua kerja dan tinggal disini, ditempat dimana nggak ada sungai dengan air berwarna cokelat keruh yang banyak ikan sapu-sapunya dan nggak ada teman yang suka menggerutu “Yaelah”.
Sambil mendengarkan “Heaven” nya Lost Lonely Boys lewat headset, gua mengayuh sepeda menuju ke rumah, pulang. Melewati jalan berpasir yang dipenuhi pohon-pohon maple di kedua sisinya menuju jalan utama. Jalan yang sangat sepi dan hening, jam menunjukkan angka 4 sore, menandakan waktu shalat maghrib, di sabtu sore seperti sekarang ini memang didaerah sini sangat sepi, kebanyakan penduduk sekitar sedang ke stadion atau pub-pub untuk menyaksikan Leeds United bertanding. Ingin buru-buru sampai di rumah, karena perut udah mulai keroncongan, gua kayuh sepeda lebih cepat. Sampai kemudian terdengar sayup-sayup suara musik yang makin lama makin nyaring, suara musik RnB yang sepertinya diputar dari dalam mobil dengan volume maksimal. Suara tersebut datang dari arah belakang dan kemudian menyusul gua, sebuah BMW silver yang melaju cepat bahkan boleh dibilang sangat cepat, sambil meninggalkan debu persis seperti mobil yang sedang Rally Dakkar.
“Orang Gila!!” gua mengumpat, masih sambil dengerin coda lagu “Heaven” nya Lost Lonely Boys. Sampai gua melihat beberapa detik kemudian lampu rem BMW tersebut menyala dan kemudian berhenti.
Deg!, “Wuanjrit, sakti juga tuh orang bisa denger suara gua” sambil berhenti dan melepas headset dari telinga. Yang ternyata setelah gua sadar, suara gua nggak sepelan pas pakai headset tadi. Gua nunggu sambil dag dig dug, kalau dia ngerti ucapan gua, dia pasti orang Indonesia dan kalo ternyata bukan gua bakal siap-siap kabur.
Pintu penumpang pun terbuka, terbuka secara paksa tepatnya, sedetik kemudian keluar seseorang dari kursi penumpang, terhuyung dan kemudian terjatuh, terdengar makian dari dalam BMW tersebut mungkin seperti “bitch” atau semacamnya dan sesaat kemudian BMW tersebut pergi, mengasapi orang yang tersungkur itu dengan debu jalanan.
Nggak mau terlalu ambil pusing, sambil bernafas lega dan bilang dalam hati; “untung bukan gua”, gua meneruskan mengayuh sepeda.
“Get up Bro, life is brutal”
gua berkata ke orang itu sambil melewatinya tetap melanjutkan mengayuh. Dan beberapa meter kemudian gua mendengar sebuah teriakan, teriakan yang (pada akhirnya) bakal merubah hidup gua.
“Woii.. Help me!, you’re Indonesian, right?”
“Tolongin gue dong…”
Gua berhenti mengayuh, turun dan bengong. Sudah hampir setahun gua nggak denger secara langsung orang bicara ke gua dengan bahasa Indonesia dan suara perempuan pula.. Lima, ah mungkin sepuluh detik kemudian baru gua memalingkan muka tapi masih tetap bengong.
“Woii..”
Akhirnya gua turun dari sepeda, kemudian menghampiri orang itu. Terduduk di depan gua sosok perempuan, hitam manis dengan kepala tertutup hood jaket hitam, celana jeans dan sepatu model boots sebetis berwarna cokelat.
“Elu nggak apa-apa?”
“Menurut Lo? Kalo gue gak apa-apa, ngapain gua teriak minta tolong elu!!”
Gua nggak menjawab, berusaha membantu dia berdiri sambil bertanya lagi bagaimana keadaannya. Sekali lagi dia mengumpat;
“Gila!, nggak punya hati banget sih lu!, ya jelas lah gue kenapa-kenapa.. nih liat!”
Sambil memperlihatkan telapak tangan dan siku-nya yang luka dan kemudian menyibak celana jeans-nya yang kotor terkena debu dan sobek di beberapa bagian akibat terlempar dari mobil tadi. Sesaat baru dia sadar kalau lutut kanannya juga luka sambil meringis kesakitan dia mencoba membersihkan luka tersebut dengan air liurnya. Sangat Indonesia sekali.
“Gua pikir tadi orang mabok yang lagi berantem, disini mah biasa begitu,mbak!”
Kemudia gua kasih satu-satunya ‘Diet Coke’ sisa memancing tadi, harusnya sih air putih tapi Cuma itu yang gua punya sekarang. Sambil menggerutu karena dikasih ‘Diet Coke’ daripada air putih, diminum juga tuh minuman soda. Kemudian gua menawarkan diri buat mengantar dia ke sebuah toko kecil di ujung jalan ini, untuk membeli plester untuk membalut luka-nya.
“Jauh nggak?”
Dia bertanya sambil menurunkan hood jaketnya dan menyibak rambutnya yang pendek seleher. Kemudian terlihat jelas sebuah luka lebam di sudut mata sebelah kiri-nya, tidak, bukan cuma satu, setidaknya ada 3 luka lebam, selain disudut matanya, satu lagi di dahi sebelah kiri dan satu lagi di sudut bibir sebelah kanan, yang terakhir tampak seperti luka yang baru karena masih meninggalkan sisa bekas darah yang membeku.
Gua nggak berani bertanya, gua hindari menatap kewajahnya sambil menjawab pertanyaa-nya bahwa tokonya nggak begitu jauh dari sini, sambil menunjuk ke arah jalan utama.
---
DAFTAR ISI
Quote:
CHAPTER 1
#1 The Beginning
#2 Truly Gentlemen
#3 Place Called Home
#4 The Morning Fever
#5 A Miserable Story
#6 Night Rain
#7 Inside My Head
#8 That Day
#9 Be Tough
#10 Mukena
#1 The Beginning
#2 Truly Gentlemen
#3 Place Called Home
#4 The Morning Fever
#5 A Miserable Story
#6 Night Rain
#7 Inside My Head
#8 That Day
#9 Be Tough
#10 Mukena
Quote:
CHAPTER 2
#11-A Trip To Manchester
#11-B The Swiss Army
#12 Here's and Back Again
#13 I Miss You So Bad
#14 Going Mad
#15 Promise
#16 You’ll Be The Only Light I See
#17 The Winter Tears
#18 She's Gone
#19 That Memories
#11-A Trip To Manchester
#11-B The Swiss Army
#12 Here's and Back Again
#13 I Miss You So Bad
#14 Going Mad
#15 Promise
#16 You’ll Be The Only Light I See
#17 The Winter Tears
#18 She's Gone
#19 That Memories
Quote:
CHAPTER 3
[URL="http://www.kaskus.co.id/show_post/530ff7e41acb17030d8b48f1/479/- "]#19-A The Hood[/URL]
#19-B Heres And Back Again II
#19-C Weak
#19-D Surrender
#19-E The Choice
#19-F Anything For You
#19-G Chelsea Number 8
#19-H Its not always about gold and glory
#19-I Aku
#19-J The Words
#19-K The Persian Cat
#19-L You Really The Only Light I See
#19-M So Be It
#19-N Less Than Perfect
#20 That Day II
[URL="http://www.kaskus.co.id/show_post/530ff7e41acb17030d8b48f1/479/- "]#19-A The Hood[/URL]
#19-B Heres And Back Again II
#19-C Weak
#19-D Surrender
#19-E The Choice
#19-F Anything For You
#19-G Chelsea Number 8
#19-H Its not always about gold and glory
#19-I Aku
#19-J The Words
#19-K The Persian Cat
#19-L You Really The Only Light I See
#19-M So Be It
#19-N Less Than Perfect
#20 That Day II
Quote:
CHAPTER 4 The Prekuel
#21 The Prologue
#22 My Precious
#23 Ticket to Ride
#24 Singapore
#25 Dreams
#26 The Awkward Moment
#27 Logic
#28 Driver In Life
#29 The Risk Taker
#30 Sorry
#31 Rise Again
#32 Goodbye
#21 The Prologue
#22 My Precious
#23 Ticket to Ride
#24 Singapore
#25 Dreams
#26 The Awkward Moment
#27 Logic
#28 Driver In Life
#29 The Risk Taker
#30 Sorry
#31 Rise Again
#32 Goodbye
Quote:
CHAPTER 5!!
#33 London
#34 Unwell
#35 I Was Here
#36 Leeds
#37 New Home, New Life
#38 Alone
#39 Intermezo
#40 Goin' Trough
#41 At Glance
#42 The Past of The Future
#33 London
#34 Unwell
#35 I Was Here
#36 Leeds
#37 New Home, New Life
#38 Alone
#39 Intermezo
#40 Goin' Trough
#41 At Glance
#42 The Past of The Future
Quote:
CHAPTER 6
#43 My First ...
#44 If Lovin' You ...
#45 Goin' Back
#46 Leeds II
#47 I Love You (Jealousy)
#48 After All
#49 Hell Yeah
#50 Conflict
#51 Liar-Liar
#52 Memories
#43 My First ...
#44 If Lovin' You ...
#45 Goin' Back
#46 Leeds II
#47 I Love You (Jealousy)
#48 After All
#49 Hell Yeah
#50 Conflict
#51 Liar-Liar
#52 Memories
Quote:
Quote:
Diubah oleh robotpintar 10-04-2014 08:46
carangkasampah dan 121 lainnya memberi reputasi
120
1.3M
Kutip
2.3K
Balasan
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
robotpintar
#533
Spoiler for Bagian ke Sembilan Belas D:
#19-D Surrender
Quote:
Setelah kejadian Ines yang disatroni Johan, mantan tunangannya. Gua duduk dikursi meja kerja gua dan mulai merenung. Kemudian gua menyalakan laptop, membuka browser dan mulai mengetik salah satu nama situs pencari kerja paling terkenal di Indonesia di kolom search google. Dan gua mulai mendaftarkan diri, membuat akun di situs tersebut, mulai mengisi kolom per kolom dalam sebuah tab yang berjudul ’Online Resume’, setelah selesai gua menyalakan sebatang rokok dan menekan tombol enter.
---
Gua melihat ke arah jam Micky Mouse yang tergantung di dinding ruang kerja gua. Jarum jam yang menyerupai tangan Micky Mouse menunjuk ke angka 2 malam, baru jam delapan malem tadi brief buat sebuah iklan layanan masyarakat tentang AIDS hadir di meja kerja gua, lusa harus sudah dipersentasikan. Gua kemudian beranjak keluar ruangan dan menuju ke pantry untuk membuat kopi. Suasana dikantor bisa dibilang cukup ramai untuk ukuran jam dua malam. Di ruang editing gua melihat beberapa karyawan yang masih berkutat di depan monitor sambil mengenakan headset, gua mengetuk kaca ruangannya sambil melambai, mengucapkan salam. Sedangkan di Pantri gua bertemu dengan Carlos, seorang dubber senior yang sedang duduk sambil menikmati secangkir kopi.
”What a surprise..., take an overtime or having problem with your girl?”
”Oh, hi carlos.. an overtime for the aids commercial..”
Gua Cuma menjawab sekena-nya, males menjelaskan sebab-musabab gua masih dikantor tengah malam begini. Lagian paling dia juga Cuma basa-basi doang. Setelah selesai membuat kopi, gua mengangkat tangan dan melambai kepada Carlos kemudian beringsut meninggalkan pantri dan kembali ke ruangan gua.
Gua sedang memeriksa lembaran-lembaran kertas berisi ’storyboard’ iklan AIDS yang sudah di corat-ceret oleh Glenn, sebagai tanda timeline-timeline yang harus diisi backsound, nada atau lagu, saat ponsel gua berbunyi menandakan ada pesan baru yang masuk. Gua mengambil ponsel dan melihatnya; dari Ines.
”Gw drmh ga ngapa2in, Ga enak nih sm nyokap”
Sesaat kemudian gua sudah berbincang dengan nyokap via telepon kantor, kayaknya akhir bulan ini gua bakal bener-bener nangis kalau melihat jumlah charge telepon interlokal yang bakal langsung dipotong dari gaji gua.
”Mak, si Ines lagi ngapain? biar nginep dulu disitu, barang dua-tiga hari ya..”
”Iya, ada nih, mau ngomong.. emang ada apaan sih? Lu nggak lagi berantem kan?”
”Kagak.. ntar oni ceritain dah kapan-kapan.. oiya tuh anak jangan ditanyain macem-macem ya mak, apalagi masalah orang tuanya, yatim-piatu soalnya..”
Gua mengingatkan nyokap agar nggak terlalu banyak mengorek keterangan dari Ines, soalnya nyokap kalo baru ketemu orang baru biasanya ditanya-tanya macem polisi lagi ngintrogasi maling. Gua jadi teringat temen-temen SMA gua dulu sewaktu baru pertama kali main kerumah, mereka ditanya bapaknya orang mana-lah, makan favoritnya apa-lah, rumahnya dimana-lah, nomor sepatunya berapa-lah dan remeh-temeh lainnya. Alhasil, temen-temen gua pada males kalau main kerumah.
”Lah buset, kesian amat yak..”
”Iya, jangan lupa dikasih makan mak..”
”Lha iyak, masa iya calon mantu kagak diempanin.. eh.. benerkan dia calon mantu..?”
”Ya Oni maunya sih gitu mak,.. tapi tau dah dianya mau apa kagak..”
”Laah, kata si Ika mah iya..”
”Reseh tuh anak.. yaudah oni tutup dulu teleponnya ya, mahal nih tagihannya..”
”Iya dah, bae-bae lu, jangan lupa solat ya.. assalamualaikum..”
”Waalaikumsalam”
Gua meletakkan gagang telepon. Dan melihat ke arah jam Micky Mouse, sekarang tangan si Micky sudah menunjukkan angka tiga kurang. Gua menarik salah satu kursi dan memindahkannya di depan kursi gua, kemudian mengangkat kaki dan meletakkannya disana, ah.. rasa ngantuk sudah benar-benar merasuk sampai ke tulang padahal kopi yang gua buat belum juga diminum. Tapi, sudahlah, buat nanti pagi juga masih enak.
---
Dua hari setelah gua memposting ’online resume’ di salah satu situs penyedia jasa lowongan pekerjaan, sudah ada beberapa email masuk yang sesuai dengan jenis pekerjaan, gaji dan tentu saja lokasi-nya yang berada di Jakarta. Gua mengecek dan menelitinya satu persatu, setelah menimbang-nimbang dan mengeliminasi-nya beberapa, gua memutuskan ada tiga perusahaan yang menurut gua paling besar kesempatan untuk gua bisa kerja disana. Gua mulai mengirimkan email ke masing-masing perusahaan tersebut yang isinya permintaan interview via skype.
Ponsel gua berdering, menandakan sebuah notifikasi pesan baru yang masuk, gua membuka pesannya, dari Ines;
”Gw balik aj ya k depok, ga enak kelamaan”
Gua membalasnya,
”Ntar dulu, jangan balik dulu”
Kemudian mengirimnya.
Sesaat kemudian masuk pesan balasan dari Ines yang isinya cukup melegakan hati; ”Ok!”
Nggak mau terlalu yakin, gua mengirimkan pesan ke Ika, bertanya tentang kabar bokap, nyokap dan Ines. Juga memberitahu Ika agar melarang Ines balik ke Depok.
Lama berselang ponsel gua kembali berbunyi, kali ini sebuah pesan dari Ika;
”Telat lo, udah balik dia”
Gua meletakkan ponsel ke meja kemudian merebahkan kepala ke sandaran kursi.
”Batu emang tuh anak..”
Gua memandang ke langit-langit sambil menghela nafas. Kemudian membayangkan, gimana kalau sampai si johan balik lagi, gimana kalo sampe si johan berbuat yang diluar batas, gimana kalo.. ah, baru kali ini sepertinya gua dibuat pusing gara-gara perempuan.
Setelah makan siang, gua menerima email dari salah satu perusahaan yang gua kirimkan permintaan interview via email tadi pagi. Isinya menyatakan kalau mereka bersedia melakukan interview via skype, besok jam 9 pagi waktu Indonesia. Yang artinya gua harus udah siap di depan laptop sekitar jam 2-3 pagi. What the hell.. Gua membalas pesan tersebut dan mengkonfirmsi waktu yang sudah mereka tentukan. Biarin dah, sepet-sepet nih mata.
Malam harinya, dini hari tepatnya, gua sudah bersiap dirumah, duduk disofa memandang kosong ke monitor laptop. Gua mengenakan kemeja yang dibalut jas hitam, bekas wisuda yang baru dipake dua kali dan tetap menggunakan celana pendek bermotif polkadot. Gua menunggu dalam ke-bengongan sekitar 15 menit sampai akhirnya muncul sebuah pop-up di sudut kanan atas monitor laptop, memunculkan notifikasi permintaan pertemanan dari seseorang dengan username; SoemarniJF. Gua meng-klik jendela pop-up tersebut dan kemudian muncul jendela chat baru di tengah layar.
SoemarniJF : Halo Pak Boni, selamat pagi..
bonyovertheocean : Halo selamat malam, dengan bapak atau ibu?
SoemarniJF : Oh maaf apa disana masih malam ya?
SoemarniJF : Dengan Ibu Soemarni..
bonyovertheocean : Disini baru jam dua pagi, bu
SoemarniJF : Waduh, maaf sekali ya, saya kemarin sama sekali lupa dengan perbedaan waktunya lho..
bonyovertheocean : Nggak apa2 bu..
SoemarniJF : Oke, bisa dimulai interview-nya?
bonyovertheocean : Silahkan..
Muncul jendela baru, sebuah permintaan ’video call” masih dari username yang sama, kemudian tampil sosok perempuan ber make-up menor dengan rentang usia kira-kira 35-45 tahun-an di layar monitor gua.
Sekitar 45 menit berikutnya diisi dengan pertanyaan-pertanyaa baku seputar pengalam kerja dan negosiasi gaji yang alot dan diakhir ’video call’ si ibu dengan make-up menor tersebut bilang kalau nanti sore waktu Indonesia, akan ada interview kedua dengan pemilik perusahaan tersebut, gua berfikir sejenak, menghitung selisih perbedaan waktu dan kemudian mengatakan ;OK!
Jam sembilan pagi, saat gua sedang menyiapkan seduhan mie instan buat sarapan, terdengar notifikasi dari laptop gua yang sedari semalam nggak gua pindahkan. Gua mengintip sebentar ke layar monitor; sebuah notifikasi dari username yang sama dengan yang dini hari tadi ber-skype-an dengan gua. Gua berlari ke kamar mengenakan jas dan buru-buru duduk di depan laptop, setelah meng-klik notifikasi tersebut, semenit berikutnya muncul sosok pria bertubuh tegap, dengan kumis tipis dan rambut yang klimis, mengenakan kaos oblong bertuliskan ’Jogjakarta’, dia mengucapkan salam dan menanyakan kabar sambil menghisap rokok kretek ditangan kirinya, memperkenalkan diri dengan nama ”Adi bla bla bla” yang mengaku sebagai owner dari perusahaan dimana gua melamar. Gua sedikit salah tingkah; yang meng-interview pake kaos yang diinterview pake jas.
Interview gua dengan pak Adi ini berlangsung lancar, malah boleh dibilang sama sekali nggak mirip dengan proses interview pada umumnya. Cuma terdengar seperti obrolan dua orang dengan profesi yang sama yang sedang mengeluhkan tingkat stress di profesi yang mereka jalani; pak Adi mengeluh tentang betapa sulitnya birokrasi advertising di Indonesia dan gua mengeluhkan tekanan kerja di Inggris.
Kemudian interview di akhiri dengan pak Adi yang berkata;
”Okey, saya rasa cukup ya mas boni, nanti orang saya akan kirim email perihal hasil interview ini”
”Oh baik pak, oiya pak seandainya, seandainya lho pak, saya diterima, saya minta extend sekitar satu sampe dua minggu bisa pak”
”Oh ya nggak masalah...”
”Baiklah pak, selamat pagi..”
”Selamat sore mas boni”
Kemudian jendela video call di monitor laptop gua berubah gelap, tulisan ”call Ended” dengan background merah muncul setelahnya. Gua menutup laptop dan berdiri, bersiap untuk berangkat kerja. Gua bergumam; ”Tunggu abang ya neng..”
---
Gua melihat ke arah jam Micky Mouse yang tergantung di dinding ruang kerja gua. Jarum jam yang menyerupai tangan Micky Mouse menunjuk ke angka 2 malam, baru jam delapan malem tadi brief buat sebuah iklan layanan masyarakat tentang AIDS hadir di meja kerja gua, lusa harus sudah dipersentasikan. Gua kemudian beranjak keluar ruangan dan menuju ke pantry untuk membuat kopi. Suasana dikantor bisa dibilang cukup ramai untuk ukuran jam dua malam. Di ruang editing gua melihat beberapa karyawan yang masih berkutat di depan monitor sambil mengenakan headset, gua mengetuk kaca ruangannya sambil melambai, mengucapkan salam. Sedangkan di Pantri gua bertemu dengan Carlos, seorang dubber senior yang sedang duduk sambil menikmati secangkir kopi.
”What a surprise..., take an overtime or having problem with your girl?”
”Oh, hi carlos.. an overtime for the aids commercial..”
Gua Cuma menjawab sekena-nya, males menjelaskan sebab-musabab gua masih dikantor tengah malam begini. Lagian paling dia juga Cuma basa-basi doang. Setelah selesai membuat kopi, gua mengangkat tangan dan melambai kepada Carlos kemudian beringsut meninggalkan pantri dan kembali ke ruangan gua.
Gua sedang memeriksa lembaran-lembaran kertas berisi ’storyboard’ iklan AIDS yang sudah di corat-ceret oleh Glenn, sebagai tanda timeline-timeline yang harus diisi backsound, nada atau lagu, saat ponsel gua berbunyi menandakan ada pesan baru yang masuk. Gua mengambil ponsel dan melihatnya; dari Ines.
”Gw drmh ga ngapa2in, Ga enak nih sm nyokap”
Sesaat kemudian gua sudah berbincang dengan nyokap via telepon kantor, kayaknya akhir bulan ini gua bakal bener-bener nangis kalau melihat jumlah charge telepon interlokal yang bakal langsung dipotong dari gaji gua.
”Mak, si Ines lagi ngapain? biar nginep dulu disitu, barang dua-tiga hari ya..”
”Iya, ada nih, mau ngomong.. emang ada apaan sih? Lu nggak lagi berantem kan?”
”Kagak.. ntar oni ceritain dah kapan-kapan.. oiya tuh anak jangan ditanyain macem-macem ya mak, apalagi masalah orang tuanya, yatim-piatu soalnya..”
Gua mengingatkan nyokap agar nggak terlalu banyak mengorek keterangan dari Ines, soalnya nyokap kalo baru ketemu orang baru biasanya ditanya-tanya macem polisi lagi ngintrogasi maling. Gua jadi teringat temen-temen SMA gua dulu sewaktu baru pertama kali main kerumah, mereka ditanya bapaknya orang mana-lah, makan favoritnya apa-lah, rumahnya dimana-lah, nomor sepatunya berapa-lah dan remeh-temeh lainnya. Alhasil, temen-temen gua pada males kalau main kerumah.
”Lah buset, kesian amat yak..”
”Iya, jangan lupa dikasih makan mak..”
”Lha iyak, masa iya calon mantu kagak diempanin.. eh.. benerkan dia calon mantu..?”
”Ya Oni maunya sih gitu mak,.. tapi tau dah dianya mau apa kagak..”
”Laah, kata si Ika mah iya..”
”Reseh tuh anak.. yaudah oni tutup dulu teleponnya ya, mahal nih tagihannya..”
”Iya dah, bae-bae lu, jangan lupa solat ya.. assalamualaikum..”
”Waalaikumsalam”
Gua meletakkan gagang telepon. Dan melihat ke arah jam Micky Mouse, sekarang tangan si Micky sudah menunjukkan angka tiga kurang. Gua menarik salah satu kursi dan memindahkannya di depan kursi gua, kemudian mengangkat kaki dan meletakkannya disana, ah.. rasa ngantuk sudah benar-benar merasuk sampai ke tulang padahal kopi yang gua buat belum juga diminum. Tapi, sudahlah, buat nanti pagi juga masih enak.
---
Dua hari setelah gua memposting ’online resume’ di salah satu situs penyedia jasa lowongan pekerjaan, sudah ada beberapa email masuk yang sesuai dengan jenis pekerjaan, gaji dan tentu saja lokasi-nya yang berada di Jakarta. Gua mengecek dan menelitinya satu persatu, setelah menimbang-nimbang dan mengeliminasi-nya beberapa, gua memutuskan ada tiga perusahaan yang menurut gua paling besar kesempatan untuk gua bisa kerja disana. Gua mulai mengirimkan email ke masing-masing perusahaan tersebut yang isinya permintaan interview via skype.
Ponsel gua berdering, menandakan sebuah notifikasi pesan baru yang masuk, gua membuka pesannya, dari Ines;
”Gw balik aj ya k depok, ga enak kelamaan”
Gua membalasnya,
”Ntar dulu, jangan balik dulu”
Kemudian mengirimnya.
Sesaat kemudian masuk pesan balasan dari Ines yang isinya cukup melegakan hati; ”Ok!”
Nggak mau terlalu yakin, gua mengirimkan pesan ke Ika, bertanya tentang kabar bokap, nyokap dan Ines. Juga memberitahu Ika agar melarang Ines balik ke Depok.
Lama berselang ponsel gua kembali berbunyi, kali ini sebuah pesan dari Ika;
”Telat lo, udah balik dia”
Gua meletakkan ponsel ke meja kemudian merebahkan kepala ke sandaran kursi.
”Batu emang tuh anak..”
Gua memandang ke langit-langit sambil menghela nafas. Kemudian membayangkan, gimana kalau sampai si johan balik lagi, gimana kalo sampe si johan berbuat yang diluar batas, gimana kalo.. ah, baru kali ini sepertinya gua dibuat pusing gara-gara perempuan.
Setelah makan siang, gua menerima email dari salah satu perusahaan yang gua kirimkan permintaan interview via email tadi pagi. Isinya menyatakan kalau mereka bersedia melakukan interview via skype, besok jam 9 pagi waktu Indonesia. Yang artinya gua harus udah siap di depan laptop sekitar jam 2-3 pagi. What the hell.. Gua membalas pesan tersebut dan mengkonfirmsi waktu yang sudah mereka tentukan. Biarin dah, sepet-sepet nih mata.
Malam harinya, dini hari tepatnya, gua sudah bersiap dirumah, duduk disofa memandang kosong ke monitor laptop. Gua mengenakan kemeja yang dibalut jas hitam, bekas wisuda yang baru dipake dua kali dan tetap menggunakan celana pendek bermotif polkadot. Gua menunggu dalam ke-bengongan sekitar 15 menit sampai akhirnya muncul sebuah pop-up di sudut kanan atas monitor laptop, memunculkan notifikasi permintaan pertemanan dari seseorang dengan username; SoemarniJF. Gua meng-klik jendela pop-up tersebut dan kemudian muncul jendela chat baru di tengah layar.
SoemarniJF : Halo Pak Boni, selamat pagi..
bonyovertheocean : Halo selamat malam, dengan bapak atau ibu?
SoemarniJF : Oh maaf apa disana masih malam ya?
SoemarniJF : Dengan Ibu Soemarni..
bonyovertheocean : Disini baru jam dua pagi, bu
SoemarniJF : Waduh, maaf sekali ya, saya kemarin sama sekali lupa dengan perbedaan waktunya lho..
bonyovertheocean : Nggak apa2 bu..
SoemarniJF : Oke, bisa dimulai interview-nya?
bonyovertheocean : Silahkan..
Muncul jendela baru, sebuah permintaan ’video call” masih dari username yang sama, kemudian tampil sosok perempuan ber make-up menor dengan rentang usia kira-kira 35-45 tahun-an di layar monitor gua.
Sekitar 45 menit berikutnya diisi dengan pertanyaan-pertanyaa baku seputar pengalam kerja dan negosiasi gaji yang alot dan diakhir ’video call’ si ibu dengan make-up menor tersebut bilang kalau nanti sore waktu Indonesia, akan ada interview kedua dengan pemilik perusahaan tersebut, gua berfikir sejenak, menghitung selisih perbedaan waktu dan kemudian mengatakan ;OK!
Jam sembilan pagi, saat gua sedang menyiapkan seduhan mie instan buat sarapan, terdengar notifikasi dari laptop gua yang sedari semalam nggak gua pindahkan. Gua mengintip sebentar ke layar monitor; sebuah notifikasi dari username yang sama dengan yang dini hari tadi ber-skype-an dengan gua. Gua berlari ke kamar mengenakan jas dan buru-buru duduk di depan laptop, setelah meng-klik notifikasi tersebut, semenit berikutnya muncul sosok pria bertubuh tegap, dengan kumis tipis dan rambut yang klimis, mengenakan kaos oblong bertuliskan ’Jogjakarta’, dia mengucapkan salam dan menanyakan kabar sambil menghisap rokok kretek ditangan kirinya, memperkenalkan diri dengan nama ”Adi bla bla bla” yang mengaku sebagai owner dari perusahaan dimana gua melamar. Gua sedikit salah tingkah; yang meng-interview pake kaos yang diinterview pake jas.
Interview gua dengan pak Adi ini berlangsung lancar, malah boleh dibilang sama sekali nggak mirip dengan proses interview pada umumnya. Cuma terdengar seperti obrolan dua orang dengan profesi yang sama yang sedang mengeluhkan tingkat stress di profesi yang mereka jalani; pak Adi mengeluh tentang betapa sulitnya birokrasi advertising di Indonesia dan gua mengeluhkan tekanan kerja di Inggris.
Kemudian interview di akhiri dengan pak Adi yang berkata;
”Okey, saya rasa cukup ya mas boni, nanti orang saya akan kirim email perihal hasil interview ini”
”Oh baik pak, oiya pak seandainya, seandainya lho pak, saya diterima, saya minta extend sekitar satu sampe dua minggu bisa pak”
”Oh ya nggak masalah...”
”Baiklah pak, selamat pagi..”
”Selamat sore mas boni”
Kemudian jendela video call di monitor laptop gua berubah gelap, tulisan ”call Ended” dengan background merah muncul setelahnya. Gua menutup laptop dan berdiri, bersiap untuk berangkat kerja. Gua bergumam; ”Tunggu abang ya neng..”
Diubah oleh robotpintar 07-04-2014 15:00
regmekujo dan 20 lainnya memberi reputasi
21
Kutip
Balas
![Accidentally In Love [True Story]](https://s.kaskus.id/images/2014/04/07/6448808_20140407033338.jpg)