- Beranda
- Stories from the Heart
Seru Juga Jadi Pengagum Rahasia
...
TS
songotku
Seru Juga Jadi Pengagum Rahasia
Quote:
Capek juga ya nulisnya

Baca
2 Lanjutan
3 Traktir Adi
4 Telpon dari Nida
5 Hari H 1
6 Hari H 2

7 aku ingat Hari H lagi
8 masuk sekolah
9 Sudah lama tapi masih terasa
10 Harapan kecil
11 bandung aku datang
12 ending 1
13 SELESAI
Agar Lebih mendramatisir bolehlah pada akhir part mendpadengarkan atau ngeliat lyrik ini ya
Quote:
Diubah oleh songotku 08-03-2014 05:53
anasabila memberi reputasi
1
9.7K
89
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
songotku
#69
BANDUNG AKU DATANG
BANDUNG AKU DATANG
Rasanya aku masih kurang percaya dengan hal yang kulakukan ini. Ke Bandung sendirian? Ini pengalaman pertamaku ke luar kota sendirian. Seingatku aku pernah ke Bandung ketika study tour SMP dulu. Itu pun lumayan kabur karena sepanjang perjalanan aku tersiksa mual. Entah bisikan macam apa yang menguatkan tekadku untuk sampai sejauh ini. Disini sekarang aku sedang duduk di kereta api malam sembari mendengarkan lagu-lagu dari handphone guna mengisi kebosanan. Beruntung kalau nanti aku bisa tertidur, dengar-dengar perjalanannya akan sekitar tujuh sampai delapan jam. Perjalanan yang pastinya akan melelahkan.
Di luar dugaan, aku mendapatkan ijin yang lumayan mudah dari orang tuaku. Ketika kubilang aku ingin melihat-lihat universitas di Bandung, mereka langsung dengan senang hati mengijinkan. Bahkan ayahku menawarkan diri untuk mengantarkan, yang tentu saja langsung kutolak. Aku tidak sepenuhnya berbohong, aku memang berpikir untuk melanjutkan kuliah di Bandung, separuhnya karena di satu sudut hatiku aku masih penasaran dengan Nida dan separuhnya karena aku ingin mencoba hidup mandiri. Jadi cepat atau lambat aku memang akan kesana, hanya sekarang waktunya dipercepat. Aku memang merasa bersalah tapi aku tidak punya pilihan, semoga aku diampuni untuk ini.
Adi dengan senang hati mengantarkan kepergianku, dia menemaniku sampai keretaku beranjak dari stasiun. Meski menyebalkan, dia tetap teman yang baik. Dia juga mengenalkanku kepada temannya disana, jadi setidaknya aku tidak perlu kebingungan mencari tempat menginap dan bertanya. Aku sangat berterima kasih untuk ini. Dengan berbekal alamat sekolah Nida dan uang saku secukupnya, akhirnya aku berangkat ke Bandung. Semoga keberuntungan menyertaiku disana.
***
Pukul enam pagi, akhirnya aku sampai juga di Bandung. Sepanjang perjalanan aku nyaris tidak bisa tidur meski ingin. Rasa was-was mengalahkan kantuk yang menyerang, aku takut kalau-kalau nanti ternyata stasiun tujuanku terlewatkan, tentu aku juga khawatir bagaimana nanti perjalananku mencari Nida, lebih-lebih aku cemas kalau nanti akhirnya aku bisa menemukannya, apa yang akan kulakukan nanti. Pada akhirnya aku melewatkan sepanjang perjalanan dengan mata terbuka, sesekali terkantuk-kantuk, sialnya karena ini perjalanan malam, aku nyaris tak bisa menikmati pemandangan di luar sana, mengenaskan sekali.
Turun dari kereta, aku segera mencari-cari orang berbaju hijau dan bercelana jins biru. Dia orang yang menjemputku dan orang yang akan kurepotkan nantinya. Tak lama tiba-tiba pundakku ditepuk dari belakang.
“Daris ya?” tanya orang itu sambil mengulurkan tangan.
“Iya, Rama ya?” tanyaku balik.
“Yap,” angguknya mantap.
“Kok bisa langsung tahu kalau aku Daris?” tanyaku heran.
“Jaket hitam, celana hitam, topi biru donker, sesuai yang kamu deskripsikan di sms, ditambah lagi kamu celingukan kesana kemari seperti orang bingung, mana menghadap di tempat yang salah pula,” terangnya panjang sambil tersenyum geli.
“Oh, maaf, habis aku memang nggak tahu sih,” jawabku malu.
“Hahahaha, nggak apa-apa, ayo berangkat, sini kubawakan tasmu,” ajaknya sembari mengambil tasku.
Aku langsung mengikuti langkahnya menuju keluar stasiun. Sepertinya dia orang yang baik, cocok jadi temannya Adi.
***
“Santai dulu aja ris, tidur-tidur dulu sana, aku yakin kamu pasti nggak bisa tidur di kereta,” ujarnya begitu kita sampai di kost-nya. Kamarnya cukup luas, sekitar 3x4 dan tertata rapi, berbeda dari bayanganku. Kupikir yang namanya cowok kamarnya pasti amburadul.
“Iya, aku kayaknya emang mau tidur dulu, perjalanannya benar-benar bikin capek,” jawabku.
“Anggap aja rumah sendiri, habis ini kutinggal bentar ke kampus, kalau butuh apa-apa hubungi aja aku, nanti sore kuantar liat-liat kampus,” tawarnya sambil menyuguhkan teh ke aku. Agaknya Adi tidak menceritakan perihal tujuan utamaku ke Rama.
“Iya, sekali lagi makasih lho ya, udah ngerepotin,” ujarku sungkan.
“Yaudah kutinggal dulu ya, nyantai aja dulu, kalau nanti lapar, itu di depan banyak yang jual makanan,”
Aku mengangguk ringan.
“Oke, aku duluan ya,” ujarnya sambil beranjak pergi.
Ah, akhirnya aku bisa istirahat juga. Nanti sore rencananya aku ingin minta antar Rama ke ITB sekaligus sekolah Nida. Pencarianku sendiri baru kumulai besok. Sekarang aku ingin melepas penat dulu. Perjalanan jauh itu menyengsarakan.
bersambung... untuk part yang terakhir
Rasanya aku masih kurang percaya dengan hal yang kulakukan ini. Ke Bandung sendirian? Ini pengalaman pertamaku ke luar kota sendirian. Seingatku aku pernah ke Bandung ketika study tour SMP dulu. Itu pun lumayan kabur karena sepanjang perjalanan aku tersiksa mual. Entah bisikan macam apa yang menguatkan tekadku untuk sampai sejauh ini. Disini sekarang aku sedang duduk di kereta api malam sembari mendengarkan lagu-lagu dari handphone guna mengisi kebosanan. Beruntung kalau nanti aku bisa tertidur, dengar-dengar perjalanannya akan sekitar tujuh sampai delapan jam. Perjalanan yang pastinya akan melelahkan.
Di luar dugaan, aku mendapatkan ijin yang lumayan mudah dari orang tuaku. Ketika kubilang aku ingin melihat-lihat universitas di Bandung, mereka langsung dengan senang hati mengijinkan. Bahkan ayahku menawarkan diri untuk mengantarkan, yang tentu saja langsung kutolak. Aku tidak sepenuhnya berbohong, aku memang berpikir untuk melanjutkan kuliah di Bandung, separuhnya karena di satu sudut hatiku aku masih penasaran dengan Nida dan separuhnya karena aku ingin mencoba hidup mandiri. Jadi cepat atau lambat aku memang akan kesana, hanya sekarang waktunya dipercepat. Aku memang merasa bersalah tapi aku tidak punya pilihan, semoga aku diampuni untuk ini.
Adi dengan senang hati mengantarkan kepergianku, dia menemaniku sampai keretaku beranjak dari stasiun. Meski menyebalkan, dia tetap teman yang baik. Dia juga mengenalkanku kepada temannya disana, jadi setidaknya aku tidak perlu kebingungan mencari tempat menginap dan bertanya. Aku sangat berterima kasih untuk ini. Dengan berbekal alamat sekolah Nida dan uang saku secukupnya, akhirnya aku berangkat ke Bandung. Semoga keberuntungan menyertaiku disana.
***
Pukul enam pagi, akhirnya aku sampai juga di Bandung. Sepanjang perjalanan aku nyaris tidak bisa tidur meski ingin. Rasa was-was mengalahkan kantuk yang menyerang, aku takut kalau-kalau nanti ternyata stasiun tujuanku terlewatkan, tentu aku juga khawatir bagaimana nanti perjalananku mencari Nida, lebih-lebih aku cemas kalau nanti akhirnya aku bisa menemukannya, apa yang akan kulakukan nanti. Pada akhirnya aku melewatkan sepanjang perjalanan dengan mata terbuka, sesekali terkantuk-kantuk, sialnya karena ini perjalanan malam, aku nyaris tak bisa menikmati pemandangan di luar sana, mengenaskan sekali.
Turun dari kereta, aku segera mencari-cari orang berbaju hijau dan bercelana jins biru. Dia orang yang menjemputku dan orang yang akan kurepotkan nantinya. Tak lama tiba-tiba pundakku ditepuk dari belakang.
“Daris ya?” tanya orang itu sambil mengulurkan tangan.
“Iya, Rama ya?” tanyaku balik.
“Yap,” angguknya mantap.
“Kok bisa langsung tahu kalau aku Daris?” tanyaku heran.
“Jaket hitam, celana hitam, topi biru donker, sesuai yang kamu deskripsikan di sms, ditambah lagi kamu celingukan kesana kemari seperti orang bingung, mana menghadap di tempat yang salah pula,” terangnya panjang sambil tersenyum geli.

“Oh, maaf, habis aku memang nggak tahu sih,” jawabku malu.

“Hahahaha, nggak apa-apa, ayo berangkat, sini kubawakan tasmu,” ajaknya sembari mengambil tasku.
Aku langsung mengikuti langkahnya menuju keluar stasiun. Sepertinya dia orang yang baik, cocok jadi temannya Adi.
***
“Santai dulu aja ris, tidur-tidur dulu sana, aku yakin kamu pasti nggak bisa tidur di kereta,” ujarnya begitu kita sampai di kost-nya. Kamarnya cukup luas, sekitar 3x4 dan tertata rapi, berbeda dari bayanganku. Kupikir yang namanya cowok kamarnya pasti amburadul.
“Iya, aku kayaknya emang mau tidur dulu, perjalanannya benar-benar bikin capek,” jawabku.
“Anggap aja rumah sendiri, habis ini kutinggal bentar ke kampus, kalau butuh apa-apa hubungi aja aku, nanti sore kuantar liat-liat kampus,” tawarnya sambil menyuguhkan teh ke aku. Agaknya Adi tidak menceritakan perihal tujuan utamaku ke Rama.
“Iya, sekali lagi makasih lho ya, udah ngerepotin,” ujarku sungkan.
“Yaudah kutinggal dulu ya, nyantai aja dulu, kalau nanti lapar, itu di depan banyak yang jual makanan,”
Aku mengangguk ringan.
“Oke, aku duluan ya,” ujarnya sambil beranjak pergi.
Ah, akhirnya aku bisa istirahat juga. Nanti sore rencananya aku ingin minta antar Rama ke ITB sekaligus sekolah Nida. Pencarianku sendiri baru kumulai besok. Sekarang aku ingin melepas penat dulu. Perjalanan jauh itu menyengsarakan.
bersambung... untuk part yang terakhir
0
. Juga mukaku yang selalu bersemu,
kalau secara tak sengaja pandangan kami bertemu atau saat dia menyapaku sambil lalu. Jantungku juga tidak mau berkompromi, selalu berdebar keras kalau dia ada di sekitarku. Sialnya, hampir tiap hari aku bertemu dia di kelas, kecuali hari minggu. Masih beruntung aku duduk di barisan belakang, sedang dia di depan, jadi tidak terlalu banyak hal-hal yang harus kami lakukan bersama, seperti berbagi buku pelajaran atau sekedar meminjam pulpen. Posisi duduk ini juga memungkinkanku untuk mengawasinya dengan tenang, tanpa perlu takut ketahuan, kadang juga membuatku agak susah berkonsentrasi terhadap pelajaran.
yang lebih suka menghabiskan waktunya di perpustakaan, mushola atau kadang lantai teratas sekolah. Pokoknya tempat-tempat sepi yang memungkinkanku bisa membaca buku dengan tenang atau tidur siang. Nilai-nilaiku juga sebenarnya tidak begitu buruk tapi jelas tidak bisa dibandingkan dengan dia. Aku juga tidak tergabung dalam ekstrakurikuler apapun, apalagi OSIS. Singkatnya, kalau dia itu bermandikan cahaya, aku seakan ditelan bayang-bayang. Bukan berarti aku tidak puas, aku sudah cukup puas hanya dengan mengagumi dan mengawasi dia saja. Bukankah yang namanya suka itu, kadang tidak perlu diungkapkan, daripada menyakitkan.

“Hahaha, kamu aneh deh” ujarnya sambil tersenyum seraya beranjak pergi.