Kaskus

Story

javieeAvatar border
TS
javiee
BUNGA "PERTAMA" DAN "TERAKHIR"
BUNGA "PERTAMA" DAN "TERAKHIR"


Spoiler for RULES:


BUNGA "PERTAMA" DAN "TERAKHIR"


INTRO

Perkenalkan, nama gw Raden Fajar Putro Mangkudiningrat Laksana...Bohong deng, kepanjangan...sebut aja gw Fajar. Tinggi 175 cm berat 58kg. bisa disebut kurus karena tinggi dan berat badan gw ga proposional. emoticon-Frown. Gw ROCKER...!! Pastinya Rocker Kelaparan.
Gw terlahir dari keluarga biasa saja yang serba "Cukup". dalam arti "cukup" buat beli rumah gedongan, "cukup" buat beli mobil Mewah sekelas Mercy. (ini jelas jelas bohong). yang pasti gw bersyukur dilahirkan dari keluarga ini.

Gw Anak pertama dari 3 bersaudara. Adik adik gw semuanya perempuan. Gw keturunan Janda alias Jawa Sunda. Bokap asli dari Jepara bumi Kartini. Tempatnya para pengrajin kayu yang terkenal di Nusantara bahkan diakui oleh Dunia. Tapi bokap gw bukan pengusaha mebel seperti kebanyakan orang Jepara. Nyokap gw asli Sumedang Kota yang terkenal dengan TAHU nya. Tapi wajahnya sama sekali nggak mirip tahu ya. Sunda tulen nan cantik jelita. Beliau bidadari gw nomer "1" di dunia ini.

Spoiler for INDEKS:


Spoiler for INDEKSII:
Diubah oleh javiee 06-04-2015 23:49
anasabilaAvatar border
nona212Avatar border
manusia.baperanAvatar border
manusia.baperan dan 4 lainnya memberi reputasi
3
728.8K
2.9K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.7KThread1Anggota
Tampilkan semua post
javieeAvatar border
TS
javiee
#716
PART 42
Esoknya
......……………
.........………..

"Bruuumm....Bruumm"

Suara motor dengan knalpot racing terdengar berisik sedikit mengganggu telinga gw. Gw mengenali suara motor itu. Lalu suara itu mendadak hilang, motorpun mati. Lantas terdengar suara seorang lelaki mengucapkan salam di depan rumah gw. Gw juga mengenali suara lelaki itu.
Ya, Dedi akhirnya datang juga menjenguk gw di Minggu pagi ini.

"Waalaikumsalam....Masuk aja Ded!" Jawab gw sedikit berteriak menyuruhnya masuk.

"Woii Jar...." Teriak dia dari luar sana.

"Udah masuk aja gw di dalem" Balas teriak gw.

"Gimana gw masuk woi. Masih digembok nih pager lu!!" Teriak dia.

Ya ampun gw lupa ternyata pintu pagar masih digembok. Pantas saja itu anak simpanze gogorowokan minta masuk. Lalu gw pun segera menghampiri dia membukakan pintu pagar, dan mengajak dia masuk ke dlam rumah.

"Gimana Jar? udah bae'an lu?" Tanya dia sesaat duduk di kursi ruang tamu.

"Ya beginilah." Jawab gw singkat

"Sori Jar gw baru jenguk lu sekarang. Ini juga gw baru sehat." Ujarnya.

"Ga apa apa Ded. Yang penting lu dateng kesini. Gw kira lu mokat kemaren"

"Sialan lu.. Mokat mah enggak cuma hampir!" Ujarnya.

"Gw nih yang hampir mokat! Lu liat muka gw!" Ujar gw sambil menunjuk wajah gw sendiri.

"Gw juga Jar...waktu setelah kejadian, gw ga bisa nafas. Sesek kaya lagi ditarik nyawa gw. Gw nggak sadar waktu itu. Tau tau udah di pos satpam perumahan." Ujarnya.

"Haahh...Sumpah gw panik banget pas lu telentang nggak gerak. Gw kira mokat lu..."

"Enggak lah. Untung ada helm lu. Bentar Jar..."

Lalu Dedi berjalan keluar ke arah motornya yang diparkir. Tak lama dia segera kembali. Terlihat dia menenteng helm gw yang dipakainya saat kejadian.

"Lu liat Jar...."

Dia menunjukkan helm itu. Betapa kagetnya gw melihat kondisi helm yang tanpa kaca pecah hampir terbelah dua.

"Helm full face begini sampe hancur Jar...Kalo nggak ada ini, mungkin kepala gw yang hancur!! Kalo nggak ada ini juga, mungkin di rumah gw sekarang lagi Yasinan kali Jar." Lanjutnya

"Haha.!! Yaudah lah yang penting kita masih dikasih selamet." Ujar gw.

"Gw jadi ga enak sama lu Jar. Apalagi sama babe lu."

"Ga enak gimana?" Tanya gw.

"Iya, gara gara gw meleng lu jadi begini. Terus motor ringsek."

"Yaah, namanya juga musibah. Siapa juga yang mau kaya gini."

"Gw nggak tau nih bisa benerin motor lu apa nggak. Soalnya parah banget hancurnya"

"Dah itu mah tenang aja. Gw ngerti kok keadaan lu sama keluarga lu. Kita sama sama orang susah Ded. Dikasih musibah begini cuma bisa pasrah aja. Gw juga nggak tau kapan ni motor dibenerin." Ujar gw.

"Tapi nanti gw bakal bantu sebisa gw Jar buat benerin motor lu. Walaupun ga semuanya."

"Makasih Ded."

Ditengah obrolan gw dan Dedi, Bapak gw tiba tiba muncul ke ruang tamu dimana kami berada saat itu. Dedi bangkit dari tempat duduknya lalu bersalaman dengan beliau. Mereka berdua tampak sedang berbicara. Beliau juga sempat menanyakan keadaan Dedi pasca kecelakaan.

Usut demi usut, pembicaraan mereka kali ini membahas masalah motor yang rusak berat akibat kecelakaan kemarin. Bapak gw tidak menuntut Dedi untuk bisa memperbaiki motor yang hampir tak berbentuk itu. Dengan bijaksana beliau hanya mengatakan, apabila Dedi membantu untuk memperbaiki motor ya syukur, kalaupun tidak juga tak apa. Beliau tidak memaksa karena beliau pun mengetahui keadaan Dedi dan keluarganya seperti apa.

Gw berjalan menuju kamar meninggalkan mereka yang tengah mengobrol. Gw ambil jimbot kesayangan gw, lalu tangan ini reflek memencet tombol ‘menu’ dan ‘bintang’ untuk membuka kunci tombol. Gw lihat layar jimbot...

1 new message from Bunga

“Aku nggak jadi pergi sama Ayah...sebel padahal dia udah janji mau ngajak jalan. Aku ke rumah kamu aja ya...boleh?”

“Oh gitu. Yaudah kamu kesini aja. Ada Dedi juga kok disini.” Balas gw.

“Hah. Serius kamu? Yaudah aku kesana sekarang. Bilangin jangan pulang dulu gitu si Dedi. Mau aku cakar dia...”

“Hahaha...nggak boleh gitu sayank. Yaudah kamu hati hati.”

Senyum pun terpampang di wajah gw sesaat setelah membalas sms darinya. Gw senang, karena dia akan datang. Sudah dipastikan hari ini gw kembali ditemani oleh seorang bidadari. Gw segera keluar kamar menuju ruang tamu dengan wajah yang berseri seri. Tapi ekspresi gw yang seperti itu sama sekali tak terlihat. Jelas saja, karena wajah gw penuh dengan balutan perban.

“Ngomong apa aja Ded ama babeh gw?” Tanya gw.

“Ya, gitulah Jar. Masalah motor.Kata babeh lu terserah gw mau bantuin berapa aja semampu gw/” Jawab Dedi.

“Oh...yaudah lah gampang itumah. Kapan kapan aja kalo lu ada rejeki ya. Hehe. Bukan maksud gw buat ngebebanin lu Ded. Kalo motor gw sendiri sih gw nggak masalah. Tapi tu motor kan buat inventaris babeh gw juga..”

“Iya Jar, gw ngerti.” Ucapnya singkat.

“Okelah...Mau ngopi?” Tawar gw.

“Boleh Jar. Kopi hideung ya.”

“Sipp...”

Gw berjalan menuju dapur untuk membuat segelas kopi. Setelah itu gw kembali ke ruang tamu memberikan kopi itu untuk Dedi
Obrolan pun dimulai kembali. Entah saat itu topik pembicaraan apa yang kita bicarakan, gw lupa.Hingga akhirnya Bidadari yang ditunggu tunggu itu pun datang juga. Bunga sudah sampai di depan rumah gw. Dia mengucapkan salam agak keras hingga terdengar oleh kami berdua yang tengah mengobrol.

“Jar, ada yang assalamualaikum tuh di luar.” Ujar Dedi.

“Waah....Dokter gw dataang!!” Sahut gw girang.

“Hah?? Dokter?” Tanya Dedi bingung.

Gw tidak menjawabnya. Segera gw keluar menghampiri Bidadari No.2 gw yang sudah menunggu di depan. Perlahan gw geser pintu pagar rumah yang setinggi hampir 2 meter.
Sosoknya pun mulai terlihat ketika pagar dibuka.
Dia, Cantik...Cantik sekali.

Mendadak gw menjadi bengong, mata ini tak henti hentinya menatap dia dari atas sampai bawah.Namun gw segera tersadar ketika suaranya yang agak cempreng memanggil gw.

“Yaank...” Panggil dia.

“Iya” sahut gw.

“Ngapain kok ngeliatin aku sampe segitunya??” Tanya dia

“Eh... Kamu ke rumah aku aja kok dandanannya rapih banget sih yank?”

“Hehe.kenapa? Cantik ya akunya?” Tanya dia.

“Nggak ah biasa aja...” Ucap gw dengan tampang datar.

“Tuh kan kamu mah nyebelin!!” Dia menggerutu.

“Hee...cantik kok. Kelewat cantik malahan.”

“Makasiiihh...” Sahutnya.

“Tapi kamu kok tumben pake baju kaya gitu kaya mau ke ondangan aja.” Ujar gw.

“Iya ini gara gara ayah. Dia emang ngajak aku ke ondangan. Pas aku udah rapih begini, ga taunya nggak jadi berangkat. Nyebelin banget!! Daripada aku ganti baju lagi, terus lama, mending langsung ke rumah kamu.” Ujarnya.

“Oh..pantesan aja. Aku sampe pangling ngeliat kamu. Aku kira bidadari turun dari genteng. Hahaha” Gw tertawa.

“Aaaa jahat banget sih kamu.” Ujarnya manyun.

“Hahahaha...”

“Tuh kan ketawa lagi...Akunya ga diajak masuk nih?” Ujarnya.

“Ya ampun aku lupa...hehe yuk masuk.” Ajak gw.

Kemudian kami berdua pun masuk ke rumah disambut bidadari nomor 1 gw yang tengah mengasuh adik gw di teras rumah. Seperti biasa Bunga pun langsung menghampiri beliau kemudian sungkem mencium tangan beliau.
Adik gw yang paling kecil sepertinya sudah mengenali Bunga. Si kecil terdengar beberapa kali memanggilnya..
“Kak Ungaa”
Bunga pun justru malah mengajak ngomong adik kecil gw itu. Gw hanya tersenyum melihat pemandangan seperti ini. Betapa senangnya gw karena dengan cepat Bunga bisa sangat akrab dengan anggota keluarga gw.
Gw bergegas masuk meninggalkan mereka di teras yang sedang mengobrol.

“Siapa Jar?? Bunga?” Tanya Dedi.

“Iya...” Jawab gw.

“Gw kirain siapa.”

Tak lama Bunga akhirnya masuk ke dalam rumah menyusul gw. Dia melihat Dedi sesaat memasuki ruang tamu, tatapannya berubah menjadi sinis terhadapnya. Gw berharap mudah mudahan si Dedi nggak jadi dicakar sama Bunga.
Dan kejadian seperti itu akhirnya tidak terjadi. Justru Bunga malah menyapa Dedi dengan ramah seakan kemarahan dia tempo hari sudah terlupakan.

“Eh..ada Melly” Ucap Bunga.

“Haha...Melly jadi jadian tuh yank..” Ujar gw.

“Kampret, Akal akalan lu tuh Jar...Lu yang nyuruh gw” Ujar Dedi menggerutu.

“Iya kalian berdua itu emang paling jago kalo sandiwara. Kenapa nggak ikutan maen sinetron aja sana!!” Ujar Bunga.

“Ogaaaahhh!!!” Sahut gw dan Dedi berbarengan.

Kami bertiga pun larut dalam obrolan dan tawa yang hangat. Kehadiran mereka seketika menjadi penghilang rasa sakit atas apa yang gw derita.
Walaupun kondisi gw babak belur tidak karuan, gw merasa bahagia sekali saat itu...
Bahagia karena adanya seorang sahabat, yang dalam keadaan apapun dia selalu berada di sisi gw.
Kebahagiaan gw terasa lebih lengkap karena adanya Bunga...
Dia, gadis yang tulus menyayangi gw, setia menemani gw disaat kondisi gw seperti ini. Terlebih orang tua gw merasa sangat senang dengan kehadirannya.
Ya, orang tua gw menyukai Bunga...
Gw tersenyum tenang menikmati di setiap detik dan menit momen seperti ini. Momen yang mungkin jarang terjadi di lain waktu. Momen yang tidak akan terlupa oleh gw.
Dan itu semua...’Sempurna...’

Hingga tak terasa adzan zuhur telah berkumandang menandakan hari Minggu yang cerah ini sudah berlangsung 12 jam. Dedi yang sudah berada di rumah gw sejak tadi pagi pun akhirnya pamit pulang. Setelah dia berpamitan dengan kedua orang tua gw, lantas gw mengantarnya sampai depan rumah.

“Oke Jar...Gw langsung balik aja ya.” Ucap Dedi sembari memakai helm cetoknya.

“Sipp Ded. Makasih nih dah nengokin gw.”

“Iya Jar gw juga makasih banget sama lu. Cepet sembuh dah lu. Kangen gw nongkrong bareng lagi.” Ujar Dedi.

“haha...Doain aja Ded. Hati hati lu jangan ngebut! Nubruk orang lagi berabe dah..” Ujar gw.

“Iya, ini juga gw masih trauma bawa motor. Yaudah gw cabut dulu Jar.”

“Haha...Oke Ded hati hati.”

“Eh Jar...Jagain tuh si cantik” Pesan dia sebelum berangkat.

“Sip” Sahut gw.

Perlahan Dedi menjalankan motornya. Sosoknya pun lama kelamaan kian menghilang dibalik tikungan. Kemudian gw kembali menuju ke dalam rumah, karena Bunga masih berada disini.
Sekembalinya dari depan, gw melihat Bunga sedang bengong dengan tatapan yang kosong. Gw biarkan saja dia seperti itu, mungkin sedang melamun. Lantas gw tinggalkan dia ke WC karena gw kebelet pipis. Setelah itu gw menghampirinya, duduk di sebelahnya.

Dia masih diam seperti tadi. Posisinya juga tetap sama tidak berubah.
Ada apa ini?? Satu pertanyaan tiba tiba muncul di dalam otalk gw.
Gw kaget sekaget kagetnya ternyata dia bengong sambil menggenggam jimbot gw. Gw menjadi semakin penasaran, ada apa sebenarnya.
Ada apa dengan dia dan jimbot gw?
Lalu dengan suara pelan gw bertanya pada Bunga.

“Kamu kenapa? Kok bengong gitu?” Tanya gw.

“.....” Dia tidak menjawab. Hanya menggeleng pelan.

“Ada apa yank?” Gw bertanya sekali lagi.

Dia masih tetap diam tidak sekalipun menjawab pertanyaan gw. Terlihat air mata mulai keluar mengalir membasahi pipinya.
Kenapa?? Baru saja kami bercengkrama tertawa bersama tadi. Sekarang mengapa harus ada air mata??
Kenapa? Ada apa ini...? Gw bingung sebingung bingungnya. Gw nggak tau harus berbuat apa saat itu.

Lalu dia mengotak atik jimbot gw. Sambil menyeka air matanya, dia menunjukkan sesuatu kepada gw.

“Astaghfirullah!!!”

Gw kaget, jantung gw serasa ingin copot, aliran darah gw seperti terhenti, mata gw tak berkedip sedikitpun melihat sesuatu yang ada di layar jimbot gw.
Gw tidak menyangka, ternyata isi sms itu masih tersimpan di ‘draft’ pesan. Dan gw juga tidak menyangka kalau Bunga membacanya...
Isi sms itu adalah rangkaian kata kata saat gw menyatakan ‘cinta’ untuk Niar 6 bulan yang lalu. Haaaahh...!!

“kenapa sih...aku harus tau ini...” Ucap Bunga pelan.

“........” Gw diam masih belum bisa menjawabnya.

“Jar...Ini apa? Untuk siapa?” Dia kembali bertanya.

“Itu,,,,emmmm...itu...” Gw berusaha menjawab, namun gagap.

“Itu apa?”

Bibir gw terasa kaku, lidahpun terasa membeku. Gw sama sekali tidak mampu untuk menjawabnya. Gw tidak tahu bagaimana cara menjelaskan itu semua.
Gw hanya bisa menundukkan kepala gw...
Gw sama sekali tidak menyangka isi sms itu dibaca oleh Bunga. Gw merasakannya, gw merasakan betapa sakitnya Bunga mengetahui ini semua. Dan gw tahu itu, gw menyadarinya.
“Bodoh!!!”
Lantas gw menyalahkan diri gw sendiri yang benar benar bodoh...tolol, idiot.

Dia kembali menyeka air matanya. Kali ini terlihat dia ingin menyudahi tangisannya itu dan mendekatkan posisi duduknya lebih dekat disamping gw. Lalu disentuhlah sisi wajah gw, pelan nan lembut. Dia bermaksud untuk mengangkat wajah gw yang sedari tadi hanya diam dan tertunduk.

“Aku nggak peduli...” Ucapnya.

“Maaf....”

“Aku nggak peduli dan aku nggak mau tahu...”

“Maaf Bunga..”

“Aku nggak peduli masa lalu kamu gimana...dan aku juga nggak mau tahu ‘ini’ untuk siapa...Aku Cuma butuh kepastian sekarang. Aku Cuma ingin tahu, apa kamu sayang sama aku?”

“Aku sayang kamu Bunga...”

“apa ‘sayang’ itu dari sini?” Dia menyentuh dada gw.

“Iyaa...”

“Apa kamu yakin?”

“Iya....”

“Kalau begitu jangan kamu tinggalin aku seperti kamu ninggalin orang yang ada di ‘sini’...Aku sayang kamu Jar...” Ucapnya seraya menunjukkan isi sms itu.

Degg....!!
“Orang yang ada di ‘sini’..."
maksud dia itu adalah Niar. Tapi dia tidak mengetahui Niar...sama sekali tidak mengetahui. Karena dia tidak ingin tahu....

“Bunga....” Panggil gw pelan.

“Ya...” Sahut dia.

“Kenapa kamu bisa sesayang itu sama aku?” Kali ini gw yang bertanya.

“Kamu beda...Kamu bisa bikin aku ketawa terus setiap hari...Kamu tahu cara memperlakukan aku dengan baik sebagaimana mestinya..”

“Eeee...masa?” Tanya gw.

“Iya...kamu juga cowo pertama yang berani datang ke rumah terus ketemu sama orang tua aku...”

“Loh, emang begitu kan seharusnya?”

“Iya....Setiap cowo yang deket sama aku nggak ada satupun yang berani ke rumah, terus ketemu orang tua aku. Mereka pada takut...Dan Cuma kamu, yang bisa kaya gitu...”

“.......” Gw diam.

“Karena kamu.....Yang ‘Pertama’ buat aku.............”


...........................
...........................
Seekor cucunguk itu ternyata yang ‘PERTAMA’ untuk makhluk seindah Bunga.....
efti108
efti108 memberi reputasi
1
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.