- Beranda
- Stories from the Heart
Accidentally In Love [True Story]
...
TS
robotpintar
Accidentally In Love [True Story]
![Accidentally In Love [True Story]](https://s.kaskus.id/images/2014/02/14/6448808_20140214023854.png)
Spoiler for Cover:
![Accidentally In Love [True Story]](https://s.kaskus.id/images/2014/02/14/6448808_20140214024411.png)
So she said what's the problem baby
What's the problem I don't know
Well maybe I'm in love (love)
Think about it every time
I think about it
Can't stop thinking 'bout it
How much longer will it take to cure this
Just to cure it cause I can't ignore it if it's love (love)
Makes me wanna turn around and face me but I don't know nothing 'bout love
Come on, come on
Turn a little faster
Come on, come on
The world will follow after
Come on, come on
Cause everybody's after love
So I said I'm a snowball running
Running down into the spring that's coming all this love
Melting under blue skies
Belting out sunlight
Shimmering love
Well baby I surrender
To the strawberry ice cream
Never ever end of all this love
Well I didn't mean to do it
But there's no escaping your love
These lines of lightning
Mean we're never alone,
Never alone, no, no
We're accidentally in love
Accidentally in love [x7]
Accidentally I'm In Love
Spoiler for Bagian 1:
#1
Quote:
“Gila lu Bon, roti segitu banyak sayang-sayang bakal empan ikan semua!”
“Emang ngapa? Ikan jaman sekarang mah ogah makan cacing, Meng”
Gua jawab aja sekena-nya, memang niatnya gua bawa roti dari rumah buat bekal pas mancing tapi, gara-gara umpan cacing gua dari tadi nggak disentuh ikan terpaksa gua ganti dengan roti. Siapa tau mujarab.
Nggak seberapa berselang, tali pancing gua bergetar, refleks gua tarik joran sekuatnya dan mendarat dengan mulus seekor ikan yang kurang lebih seukuran telapak tangan.
“Anjritt.. dari tadi dapet sapu-sapu mulu gua!”
Sambil melepas mata kail dari mulut ikan sapu-sapu yang barusan gua angkat dan langsung gua lempar lagi kedalam kali.
Tidak berapa lama, melantun lagu “Time Like This”-nya Foo Fighter dari ponsel gua. Tertera tulisan “Rumah” dilayarnya.
“Kenapa mak?”
Karena memang cuma nyokap gua aja yang selalu telpon melalui telepon rumah. Bokap dan adik gua selalu menggunakan ponsel-nya masing-masing jika ada keperluan.
“Assalamualaikum , Mancing kagak rapi-rapi luh, nih ada kiriman surat buat elu”
“Dari siapa?”
“Kagak tau, bahasanya emak nggak ngerti”
“Simpenin dulu, nih aye udah mau pulang”
“Yaudah buruan, jangan maghriban dijalan, pamali. Assalamualaikum”
“Waalaikumsalam”
Gua kantongin lagi ponsel k-ekantong celana pendek yang sekarang udah kotor campur lumpur, sambil berteriak ke temen gua; Komeng, yang lagi berkutat dengan tali pancingnya yang kusut.
“Meng, ayo balik.. udah sore”
“Belon juga dapet sekilo, udah mau balik aje”
“Yauda elu terusin dah, gua balik duluan”
Komeng menjawab dengan sedikit gumam di bibirnya terdengar seperti “Yaelah..” sambil berjalan gontai menyusul gua.
------
Itu kejadian beberapa tahun yang lalu, dimana gua dan Komeng masih biasa mencari cacing buat umpan ikan di kebun singkong belakang rumahnya Haji Salim dan kemudian pergi memancing disepanjang pinggiran sungai Pesanggrahan, Jakarta.
Sekarang, gua sedang duduk sambil bersandar di sebuah kursi lipat di pinggir danau di daerah Leeds, Inggris. Menghabiskan hari libur akhir musim gugur dengan memancing sambil bernostalgia, mencoba membangkitkan memori tentang memancing, tentang si Komeng, tentang Jakarta, tentang rumah.
Setelah berjam-jam memancing, menghabiskan berkaleng-kaleng ‘Diet Coke’ akhirnya gua memutuskan untuk menyudahi kegiatan sialan ini. Pulang dengan membawa 6 Ekor ikan Yelowtail (di Indonesia disebut ikan patin) dan sedikit kenangan tentang ‘rumah’, gua berjalan gontai menuju tempat dimana sepeda kesayangan gua diparkir, sempat kebingungan awalnya karena sekarang ada banyak sepeda yang diparkir, padahal tadi pagi baru sepeda gua aja yang nongkrong disini, setelah celingak-celinguk akhirnya ketemu juga dan gua mulai mengayuh.
Jarak dari tempat gua biasa mancing ke tempat dimana gua tinggal di Moorland Ave, Leeds kurang lebih 3,5 mil atau kalau dalam satuan Kilometer sekitar 5,5 Km. Jarak segitu kalo disini, di Inggris bisa dibilang ‘deket’, kalau naik sepeda bisa cuma 30 menit.
Oiya, nama gua Boni. Gua lahir dan dibesarkan di Jakarta. Saat ini gua kerja dan tinggal di Leeds, Inggris sekitar 2-3 jam dari London (dengan kereta). Gua kerja sebagai Sound Designer disalah satu Agensi perfilman dan periklanan di Leeds yang juga punya kantor di London. Sudah hampir 4 tahun gua kerja dan tinggal disini, ditempat dimana nggak ada sungai dengan air berwarna cokelat keruh yang banyak ikan sapu-sapunya dan nggak ada teman yang suka menggerutu “Yaelah”.
Sambil mendengarkan “Heaven” nya Lost Lonely Boys lewat headset, gua mengayuh sepeda menuju ke rumah, pulang. Melewati jalan berpasir yang dipenuhi pohon-pohon maple di kedua sisinya menuju jalan utama. Jalan yang sangat sepi dan hening, jam menunjukkan angka 4 sore, menandakan waktu shalat maghrib, di sabtu sore seperti sekarang ini memang didaerah sini sangat sepi, kebanyakan penduduk sekitar sedang ke stadion atau pub-pub untuk menyaksikan Leeds United bertanding. Ingin buru-buru sampai di rumah, karena perut udah mulai keroncongan, gua kayuh sepeda lebih cepat. Sampai kemudian terdengar sayup-sayup suara musik yang makin lama makin nyaring, suara musik RnB yang sepertinya diputar dari dalam mobil dengan volume maksimal. Suara tersebut datang dari arah belakang dan kemudian menyusul gua, sebuah BMW silver yang melaju cepat bahkan boleh dibilang sangat cepat, sambil meninggalkan debu persis seperti mobil yang sedang Rally Dakkar.
“Orang Gila!!” gua mengumpat, masih sambil dengerin coda lagu “Heaven” nya Lost Lonely Boys. Sampai gua melihat beberapa detik kemudian lampu rem BMW tersebut menyala dan kemudian berhenti.
Deg!, “Wuanjrit, sakti juga tuh orang bisa denger suara gua” sambil berhenti dan melepas headset dari telinga. Yang ternyata setelah gua sadar, suara gua nggak sepelan pas pakai headset tadi. Gua nunggu sambil dag dig dug, kalau dia ngerti ucapan gua, dia pasti orang Indonesia dan kalo ternyata bukan gua bakal siap-siap kabur.
Pintu penumpang pun terbuka, terbuka secara paksa tepatnya, sedetik kemudian keluar seseorang dari kursi penumpang, terhuyung dan kemudian terjatuh, terdengar makian dari dalam BMW tersebut mungkin seperti “bitch” atau semacamnya dan sesaat kemudian BMW tersebut pergi, mengasapi orang yang tersungkur itu dengan debu jalanan.
Nggak mau terlalu ambil pusing, sambil bernafas lega dan bilang dalam hati; “untung bukan gua”, gua meneruskan mengayuh sepeda.
“Get up Bro, life is brutal”
gua berkata ke orang itu sambil melewatinya tetap melanjutkan mengayuh. Dan beberapa meter kemudian gua mendengar sebuah teriakan, teriakan yang (pada akhirnya) bakal merubah hidup gua.
“Woii.. Help me!, you’re Indonesian, right?”
“Tolongin gue dong…”
Gua berhenti mengayuh, turun dan bengong. Sudah hampir setahun gua nggak denger secara langsung orang bicara ke gua dengan bahasa Indonesia dan suara perempuan pula.. Lima, ah mungkin sepuluh detik kemudian baru gua memalingkan muka tapi masih tetap bengong.
“Woii..”
Akhirnya gua turun dari sepeda, kemudian menghampiri orang itu. Terduduk di depan gua sosok perempuan, hitam manis dengan kepala tertutup hood jaket hitam, celana jeans dan sepatu model boots sebetis berwarna cokelat.
“Elu nggak apa-apa?”
“Menurut Lo? Kalo gue gak apa-apa, ngapain gua teriak minta tolong elu!!”
Gua nggak menjawab, berusaha membantu dia berdiri sambil bertanya lagi bagaimana keadaannya. Sekali lagi dia mengumpat;
“Gila!, nggak punya hati banget sih lu!, ya jelas lah gue kenapa-kenapa.. nih liat!”
Sambil memperlihatkan telapak tangan dan siku-nya yang luka dan kemudian menyibak celana jeans-nya yang kotor terkena debu dan sobek di beberapa bagian akibat terlempar dari mobil tadi. Sesaat baru dia sadar kalau lutut kanannya juga luka sambil meringis kesakitan dia mencoba membersihkan luka tersebut dengan air liurnya. Sangat Indonesia sekali.
“Gua pikir tadi orang mabok yang lagi berantem, disini mah biasa begitu,mbak!”
Kemudia gua kasih satu-satunya ‘Diet Coke’ sisa memancing tadi, harusnya sih air putih tapi Cuma itu yang gua punya sekarang. Sambil menggerutu karena dikasih ‘Diet Coke’ daripada air putih, diminum juga tuh minuman soda. Kemudian gua menawarkan diri buat mengantar dia ke sebuah toko kecil di ujung jalan ini, untuk membeli plester untuk membalut luka-nya.
“Jauh nggak?”
Dia bertanya sambil menurunkan hood jaketnya dan menyibak rambutnya yang pendek seleher. Kemudian terlihat jelas sebuah luka lebam di sudut mata sebelah kiri-nya, tidak, bukan cuma satu, setidaknya ada 3 luka lebam, selain disudut matanya, satu lagi di dahi sebelah kiri dan satu lagi di sudut bibir sebelah kanan, yang terakhir tampak seperti luka yang baru karena masih meninggalkan sisa bekas darah yang membeku.
Gua nggak berani bertanya, gua hindari menatap kewajahnya sambil menjawab pertanyaa-nya bahwa tokonya nggak begitu jauh dari sini, sambil menunjuk ke arah jalan utama.
---
“Emang ngapa? Ikan jaman sekarang mah ogah makan cacing, Meng”
Gua jawab aja sekena-nya, memang niatnya gua bawa roti dari rumah buat bekal pas mancing tapi, gara-gara umpan cacing gua dari tadi nggak disentuh ikan terpaksa gua ganti dengan roti. Siapa tau mujarab.
Nggak seberapa berselang, tali pancing gua bergetar, refleks gua tarik joran sekuatnya dan mendarat dengan mulus seekor ikan yang kurang lebih seukuran telapak tangan.
“Anjritt.. dari tadi dapet sapu-sapu mulu gua!”
Sambil melepas mata kail dari mulut ikan sapu-sapu yang barusan gua angkat dan langsung gua lempar lagi kedalam kali.
Tidak berapa lama, melantun lagu “Time Like This”-nya Foo Fighter dari ponsel gua. Tertera tulisan “Rumah” dilayarnya.
“Kenapa mak?”
Karena memang cuma nyokap gua aja yang selalu telpon melalui telepon rumah. Bokap dan adik gua selalu menggunakan ponsel-nya masing-masing jika ada keperluan.
“Assalamualaikum , Mancing kagak rapi-rapi luh, nih ada kiriman surat buat elu”
“Dari siapa?”
“Kagak tau, bahasanya emak nggak ngerti”
“Simpenin dulu, nih aye udah mau pulang”
“Yaudah buruan, jangan maghriban dijalan, pamali. Assalamualaikum”
“Waalaikumsalam”
Gua kantongin lagi ponsel k-ekantong celana pendek yang sekarang udah kotor campur lumpur, sambil berteriak ke temen gua; Komeng, yang lagi berkutat dengan tali pancingnya yang kusut.
“Meng, ayo balik.. udah sore”
“Belon juga dapet sekilo, udah mau balik aje”
“Yauda elu terusin dah, gua balik duluan”
Komeng menjawab dengan sedikit gumam di bibirnya terdengar seperti “Yaelah..” sambil berjalan gontai menyusul gua.
------
Itu kejadian beberapa tahun yang lalu, dimana gua dan Komeng masih biasa mencari cacing buat umpan ikan di kebun singkong belakang rumahnya Haji Salim dan kemudian pergi memancing disepanjang pinggiran sungai Pesanggrahan, Jakarta.
Sekarang, gua sedang duduk sambil bersandar di sebuah kursi lipat di pinggir danau di daerah Leeds, Inggris. Menghabiskan hari libur akhir musim gugur dengan memancing sambil bernostalgia, mencoba membangkitkan memori tentang memancing, tentang si Komeng, tentang Jakarta, tentang rumah.
Setelah berjam-jam memancing, menghabiskan berkaleng-kaleng ‘Diet Coke’ akhirnya gua memutuskan untuk menyudahi kegiatan sialan ini. Pulang dengan membawa 6 Ekor ikan Yelowtail (di Indonesia disebut ikan patin) dan sedikit kenangan tentang ‘rumah’, gua berjalan gontai menuju tempat dimana sepeda kesayangan gua diparkir, sempat kebingungan awalnya karena sekarang ada banyak sepeda yang diparkir, padahal tadi pagi baru sepeda gua aja yang nongkrong disini, setelah celingak-celinguk akhirnya ketemu juga dan gua mulai mengayuh.
Jarak dari tempat gua biasa mancing ke tempat dimana gua tinggal di Moorland Ave, Leeds kurang lebih 3,5 mil atau kalau dalam satuan Kilometer sekitar 5,5 Km. Jarak segitu kalo disini, di Inggris bisa dibilang ‘deket’, kalau naik sepeda bisa cuma 30 menit.
Oiya, nama gua Boni. Gua lahir dan dibesarkan di Jakarta. Saat ini gua kerja dan tinggal di Leeds, Inggris sekitar 2-3 jam dari London (dengan kereta). Gua kerja sebagai Sound Designer disalah satu Agensi perfilman dan periklanan di Leeds yang juga punya kantor di London. Sudah hampir 4 tahun gua kerja dan tinggal disini, ditempat dimana nggak ada sungai dengan air berwarna cokelat keruh yang banyak ikan sapu-sapunya dan nggak ada teman yang suka menggerutu “Yaelah”.
Sambil mendengarkan “Heaven” nya Lost Lonely Boys lewat headset, gua mengayuh sepeda menuju ke rumah, pulang. Melewati jalan berpasir yang dipenuhi pohon-pohon maple di kedua sisinya menuju jalan utama. Jalan yang sangat sepi dan hening, jam menunjukkan angka 4 sore, menandakan waktu shalat maghrib, di sabtu sore seperti sekarang ini memang didaerah sini sangat sepi, kebanyakan penduduk sekitar sedang ke stadion atau pub-pub untuk menyaksikan Leeds United bertanding. Ingin buru-buru sampai di rumah, karena perut udah mulai keroncongan, gua kayuh sepeda lebih cepat. Sampai kemudian terdengar sayup-sayup suara musik yang makin lama makin nyaring, suara musik RnB yang sepertinya diputar dari dalam mobil dengan volume maksimal. Suara tersebut datang dari arah belakang dan kemudian menyusul gua, sebuah BMW silver yang melaju cepat bahkan boleh dibilang sangat cepat, sambil meninggalkan debu persis seperti mobil yang sedang Rally Dakkar.
“Orang Gila!!” gua mengumpat, masih sambil dengerin coda lagu “Heaven” nya Lost Lonely Boys. Sampai gua melihat beberapa detik kemudian lampu rem BMW tersebut menyala dan kemudian berhenti.
Deg!, “Wuanjrit, sakti juga tuh orang bisa denger suara gua” sambil berhenti dan melepas headset dari telinga. Yang ternyata setelah gua sadar, suara gua nggak sepelan pas pakai headset tadi. Gua nunggu sambil dag dig dug, kalau dia ngerti ucapan gua, dia pasti orang Indonesia dan kalo ternyata bukan gua bakal siap-siap kabur.
Pintu penumpang pun terbuka, terbuka secara paksa tepatnya, sedetik kemudian keluar seseorang dari kursi penumpang, terhuyung dan kemudian terjatuh, terdengar makian dari dalam BMW tersebut mungkin seperti “bitch” atau semacamnya dan sesaat kemudian BMW tersebut pergi, mengasapi orang yang tersungkur itu dengan debu jalanan.
Nggak mau terlalu ambil pusing, sambil bernafas lega dan bilang dalam hati; “untung bukan gua”, gua meneruskan mengayuh sepeda.
“Get up Bro, life is brutal”
gua berkata ke orang itu sambil melewatinya tetap melanjutkan mengayuh. Dan beberapa meter kemudian gua mendengar sebuah teriakan, teriakan yang (pada akhirnya) bakal merubah hidup gua.
“Woii.. Help me!, you’re Indonesian, right?”
“Tolongin gue dong…”
Gua berhenti mengayuh, turun dan bengong. Sudah hampir setahun gua nggak denger secara langsung orang bicara ke gua dengan bahasa Indonesia dan suara perempuan pula.. Lima, ah mungkin sepuluh detik kemudian baru gua memalingkan muka tapi masih tetap bengong.
“Woii..”
Akhirnya gua turun dari sepeda, kemudian menghampiri orang itu. Terduduk di depan gua sosok perempuan, hitam manis dengan kepala tertutup hood jaket hitam, celana jeans dan sepatu model boots sebetis berwarna cokelat.
“Elu nggak apa-apa?”
“Menurut Lo? Kalo gue gak apa-apa, ngapain gua teriak minta tolong elu!!”
Gua nggak menjawab, berusaha membantu dia berdiri sambil bertanya lagi bagaimana keadaannya. Sekali lagi dia mengumpat;
“Gila!, nggak punya hati banget sih lu!, ya jelas lah gue kenapa-kenapa.. nih liat!”
Sambil memperlihatkan telapak tangan dan siku-nya yang luka dan kemudian menyibak celana jeans-nya yang kotor terkena debu dan sobek di beberapa bagian akibat terlempar dari mobil tadi. Sesaat baru dia sadar kalau lutut kanannya juga luka sambil meringis kesakitan dia mencoba membersihkan luka tersebut dengan air liurnya. Sangat Indonesia sekali.
“Gua pikir tadi orang mabok yang lagi berantem, disini mah biasa begitu,mbak!”
Kemudia gua kasih satu-satunya ‘Diet Coke’ sisa memancing tadi, harusnya sih air putih tapi Cuma itu yang gua punya sekarang. Sambil menggerutu karena dikasih ‘Diet Coke’ daripada air putih, diminum juga tuh minuman soda. Kemudian gua menawarkan diri buat mengantar dia ke sebuah toko kecil di ujung jalan ini, untuk membeli plester untuk membalut luka-nya.
“Jauh nggak?”
Dia bertanya sambil menurunkan hood jaketnya dan menyibak rambutnya yang pendek seleher. Kemudian terlihat jelas sebuah luka lebam di sudut mata sebelah kiri-nya, tidak, bukan cuma satu, setidaknya ada 3 luka lebam, selain disudut matanya, satu lagi di dahi sebelah kiri dan satu lagi di sudut bibir sebelah kanan, yang terakhir tampak seperti luka yang baru karena masih meninggalkan sisa bekas darah yang membeku.
Gua nggak berani bertanya, gua hindari menatap kewajahnya sambil menjawab pertanyaa-nya bahwa tokonya nggak begitu jauh dari sini, sambil menunjuk ke arah jalan utama.
---
DAFTAR ISI
Quote:
CHAPTER 1
#1 The Beginning
#2 Truly Gentlemen
#3 Place Called Home
#4 The Morning Fever
#5 A Miserable Story
#6 Night Rain
#7 Inside My Head
#8 That Day
#9 Be Tough
#10 Mukena
#1 The Beginning
#2 Truly Gentlemen
#3 Place Called Home
#4 The Morning Fever
#5 A Miserable Story
#6 Night Rain
#7 Inside My Head
#8 That Day
#9 Be Tough
#10 Mukena
Quote:
CHAPTER 2
#11-A Trip To Manchester
#11-B The Swiss Army
#12 Here's and Back Again
#13 I Miss You So Bad
#14 Going Mad
#15 Promise
#16 You’ll Be The Only Light I See
#17 The Winter Tears
#18 She's Gone
#19 That Memories
#11-A Trip To Manchester
#11-B The Swiss Army
#12 Here's and Back Again
#13 I Miss You So Bad
#14 Going Mad
#15 Promise
#16 You’ll Be The Only Light I See
#17 The Winter Tears
#18 She's Gone
#19 That Memories
Quote:
CHAPTER 3
[URL="http://www.kaskus.co.id/show_post/530ff7e41acb17030d8b48f1/479/- "]#19-A The Hood[/URL]
#19-B Heres And Back Again II
#19-C Weak
#19-D Surrender
#19-E The Choice
#19-F Anything For You
#19-G Chelsea Number 8
#19-H Its not always about gold and glory
#19-I Aku
#19-J The Words
#19-K The Persian Cat
#19-L You Really The Only Light I See
#19-M So Be It
#19-N Less Than Perfect
#20 That Day II
[URL="http://www.kaskus.co.id/show_post/530ff7e41acb17030d8b48f1/479/- "]#19-A The Hood[/URL]
#19-B Heres And Back Again II
#19-C Weak
#19-D Surrender
#19-E The Choice
#19-F Anything For You
#19-G Chelsea Number 8
#19-H Its not always about gold and glory
#19-I Aku
#19-J The Words
#19-K The Persian Cat
#19-L You Really The Only Light I See
#19-M So Be It
#19-N Less Than Perfect
#20 That Day II
Quote:
CHAPTER 4 The Prekuel
#21 The Prologue
#22 My Precious
#23 Ticket to Ride
#24 Singapore
#25 Dreams
#26 The Awkward Moment
#27 Logic
#28 Driver In Life
#29 The Risk Taker
#30 Sorry
#31 Rise Again
#32 Goodbye
#21 The Prologue
#22 My Precious
#23 Ticket to Ride
#24 Singapore
#25 Dreams
#26 The Awkward Moment
#27 Logic
#28 Driver In Life
#29 The Risk Taker
#30 Sorry
#31 Rise Again
#32 Goodbye
Quote:
CHAPTER 5!!
#33 London
#34 Unwell
#35 I Was Here
#36 Leeds
#37 New Home, New Life
#38 Alone
#39 Intermezo
#40 Goin' Trough
#41 At Glance
#42 The Past of The Future
#33 London
#34 Unwell
#35 I Was Here
#36 Leeds
#37 New Home, New Life
#38 Alone
#39 Intermezo
#40 Goin' Trough
#41 At Glance
#42 The Past of The Future
Quote:
CHAPTER 6
#43 My First ...
#44 If Lovin' You ...
#45 Goin' Back
#46 Leeds II
#47 I Love You (Jealousy)
#48 After All
#49 Hell Yeah
#50 Conflict
#51 Liar-Liar
#52 Memories
#43 My First ...
#44 If Lovin' You ...
#45 Goin' Back
#46 Leeds II
#47 I Love You (Jealousy)
#48 After All
#49 Hell Yeah
#50 Conflict
#51 Liar-Liar
#52 Memories
Quote:
Quote:
Diubah oleh robotpintar 10-04-2014 08:46
carangkasampah dan 121 lainnya memberi reputasi
120
1.3M
Kutip
2.3K
Balasan
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
robotpintar
#507
Spoiler for Bagian sembilan belas C:
#19-C Weak
Quote:
Jam sembilan malam, seminggu setelah gua balik lagi kesini, Gua berdiri menatap sebuah laptop yang dipajang di etalase didepan toko elektronik yang berjajar disepanjang jalan Boar Lane, nggak begitu jauh dari tempat kerjaan gua di Aire St. Sebuah laptop berwarna putih-silver dengan lambang buah yang tergigit setengah. Niatnya sih pengen ganti laptop gua yang terasa sudah jadul dan semakin sering bermasalah dan sempat terbesit juga buat beliin Ines laptop, biar bisa komunikasi via skype. Jadi modal sedikit tapi bisa save buat selanjutnya dan komunikasi lancar jaya.
Agak gemes juga sebenarnya melihat harga yang di display disitu; £823. Lumayan buat biaya hidup sebulan. Tapi setelah menimbang-nimbang akhirnya gua putuskan untuk nggak membelinya, gua meneruskan berjalan di sepanjang trotoar Boar Lane sambil memandangi dan mengaggumi Laptop tersebut lewat selembar brosur yang tadi gua ambil di depan toko.
Gua berbelok ke kiri di perempatan Perempatan Princess Square, melintasi gerbang depan Stasiun Leeds dan menuju ke kantor untuk mengambil sepeda kemudian pulang. Sesaat kemudian ponsel gua berbunyi, mendengdangkan lagu ’Time Like This’-nya foo Fighter, gua mengangkat posnel sambil berjalan;
”Boon..”
Terdengar suara Ines diujung telepon sana, tengah terisak.
”Halo, ya.. kenapa, nes?”
”...”
”Halo.. nes.. kenapa?”
Gua mengulang pertanyaan
”Johan, bon.. ada johan dirumah..”
Ines berbicara terbata-bata, gua masih mencerna, mencoba mengurai ingatan tentang nama Johan, sampai akhirnya gua inget kalo johan adalah nama mantan tunangannya Ines.
”Johan, tunangan lu?”
”Mantan!”
Ines meralat.
”Ngapain dia?”
”Nggak tau tuh, gue lagi abis beres-beres rumah, tiba-tiba dia dateng kesini..”
”Trus sekarang lu lagi ngapain?”
”Gua dikamar, dia duduk diluar... gue takut, bon”
Gua menghentikan langkah. Kemudian mulai berlari kecil menuju ke kantor yang sudah mulai terlihat. Dalam hati gua berfikir, nggak ada gunanya juga gua buru-buru.
”Yaudah lu dikamar aja dulu..”
”Iya..”
”Jangan nangis.. pintunya kunci..”
”Gue TAKUT Tau..”
”Yaudah, gua mikir dulu bentar, ntar gua telepon lagi.. jangan dibuka pintunya...
Kemudian gua menutup ponsel. Gua duduk di sofa loby kantor, mencoba mengatur nafas yang masih tersengal-sengal. Antara bingung, panik dan jujur, gua takut campur aduk jadi satu ditambah perasaan kesal. Disaat Ines butuh gua, gua nggak ada disana, nggak bisa berbuat apa-apa. Gimana kalo sampe si Johan itu nekat, dan gua yakin dia bakal nekat. Di negri orang aja dia bisa bikin Ines terlantar, apalagi di Indonesia. Gua masih memikirkan cara-nya sambil mengucek-ngucek rambut.
Kemudian terbesit dipikiran gua, sepupu gua yang tinggal di Depok juga, si Akbar. Tapi, gua nggak punya nomor teleponnya. Akhirnya terpikir sebuah nama; ’Komeng’, setelah mencari di kontak list ponsel, gua mulai menghubunginya.
Beberapa kali nada sambung terdengar dan belum ada jawaban, gua mencoba sekali lagi, kali ini dia langsung menjawab.
”Hallo...”
”Halo meng, lu dimana?”
”Di Kerjaan, ngapa?”
”Kerjaan lu dimana?”
”Pejaten, kenapa sih lu?”
”Oke deket tuh, kalo dari pejaten ke Depok, berapa lama?”
”Depok nya mane?”
”Beji..”
”Kalo jam-jam segini mah bisa sejam kali..”
”Yaudah, lu langsung cabut ke Beji sekarang, ntar alamatnya gua sms..”
”Lah apa-apaan lu, gua belon keluar kantor, mo ngapain si emang?..”
Kemudian gua menjelaskan duduk perkaranya ke Komeng, dia mendengarkan sambil bilang ”terus..”, ”terus..”. Akhirnya Komeng setuju, dan gua menjelaskan sedikit tentang arah patokan komplek rumahnya Ines.
”Yaudah.. lu tetep kirim aja alamatnya via sms.. gua jalan sekarang nih..”
”Oke thanks ya meng.. oiya ntar kalo dia udah sama elu, sms gua ya..”
”Iya.. ”
Gua menutup ponsel, meletakkannya di sofa. Gua mondar mandir nggak menentu kayak suami yang sedang menunggu istrinya melahirkan. Gua ke toilet, dan sampai disana gua nggak tau mau ngapain, gua kembali ke loby dan tetap mondar-mandir kayak setrikaan wireless. Sebentar-sebentar gua menatap ke layar ponsel yang masih tergeletak di sofa, kalo memang terjadi apa-apa sama Ines, gua nggak bakal bisa memaafkan diri gua sendiri.
”Amit-amit jabang bayi” Gua bergumam sambil mengetuk-ngetukan tangan ke meja.
Kemudian gua mengangkat telepon dan mencoba menghubuni Ines, berharap dia masih baik-baik aja.
”Hallo, bon... gimana nih, gua takut.. dia ngetok-ngetok terus.”
”Sabar nes, ntar ada temen gua kesitu, namanya wahyu.. orangnya tinggi, brewokan..”
Komeng itu memang nama aslinya Wahyu.
”Ish.. cepet..”
”Iya, udah gua suru cepet..”
”Aduuuhh.. mana pengen pipis lagi..”
”Yauda pipis aja, kan Johannya diluar, nggak bisa masuk..”
”Iya.. deh, elu jangan tutup dulu teleponnya..”
Entah panik atau kenapa, gua malah menutup telepon. Akhirnya gua naik ke atas dan mencoba menghubungi Ines lagi lewat telepon kantor.
”Hallo, nes..”
”Ish.. dia mah.. dibilang jangan dimatiin..”
”Sorry, kepencet... udah pipisnya?”
”Udah,... bon...? gua harus gimana niih...?”
”Yaudah tunggu aja sebentar lagi, sabar, udah ah jangan nagis mulu..”
”Gue takut Boniiii.. tuh diianya ngetok-ngetok mulu..”
”Nes..”
”Sebutin nama buah-buahan dalam 5 detik?”
”Ish apaan sih, nggak lucu..”
”Ya coba jawab aja...”
”...”
”Nes, jawab..”
”Apel, jeruk,... mangga.. mmm..”
”Abis waktunya...”
”Ya nggak bisa lah, Cuma lima detik..”
”Gua bisa..”
”Coba...”
”Rujak!”
”Ish.. curang..”
Gua terus menerus membuat Ines sibuk entah dengan tebak-tebakkan atau cerita-cerita lucu. Biarin dah kena charge pemakaian telepon kantor,tapi paling nggak gua bisa memantau kondisi Ines terus.
Nggak selang beberapa lama, Ines bilang kalo temen gua yang namanya Wahyu udah datang. Entah bagaimana caranya si Komeng bisa bikin Johan pergi darisana dan sampai sekarang masih menjadi misteri. Ines menyerahkan ponselnya ke komeng.
”Bon, udah gua usir..”
”Gimana?”
”Apanya?”
”Elu ngusirnya gimana meeeng?”
”Owh.. gancil itu mah, orangnya culun gitu”
”Oke makasih dah meng”
Gua terduduk, menarik nafas lega.
”Trus gua sekarang kudu ngapain inih, balik..”
”Nggak, nggak jangan.. lu ajak Ines ke rumah nyokap deh..”
”Yaudah elu yang ngomong nih ke orangnya..”
”Halo.. ya..”
”Nes, lu ngikut temen gua tuh, kerumah nyokap. Bawa aja baju lu beberapa, nginep disana dulu..”
”Eh.. iya, tapi...”
”Udah nggak usah pake tapi-tapian, ntar gua telponin nyokap..”
”Iyadeh.. eh bon.. tapi gua malu sama nyokap..”
”Yaelah... udah buruan sana..”
”Yauda deh..”
Gua menutup telepon dan mulai menghubungi Ika. Gua bilang ke Ika kalo Ines bakal nginep disitu satu atau dua hari.
---
Setelah itu gua duduk dikursi meja kerja gua dan mulai merenungi. Kemudian gua menyalakan laptop, membuka browser dan mulai mengetik salah satu nama situs
Agak gemes juga sebenarnya melihat harga yang di display disitu; £823. Lumayan buat biaya hidup sebulan. Tapi setelah menimbang-nimbang akhirnya gua putuskan untuk nggak membelinya, gua meneruskan berjalan di sepanjang trotoar Boar Lane sambil memandangi dan mengaggumi Laptop tersebut lewat selembar brosur yang tadi gua ambil di depan toko.
Gua berbelok ke kiri di perempatan Perempatan Princess Square, melintasi gerbang depan Stasiun Leeds dan menuju ke kantor untuk mengambil sepeda kemudian pulang. Sesaat kemudian ponsel gua berbunyi, mendengdangkan lagu ’Time Like This’-nya foo Fighter, gua mengangkat posnel sambil berjalan;
”Boon..”
Terdengar suara Ines diujung telepon sana, tengah terisak.
”Halo, ya.. kenapa, nes?”
”...”
”Halo.. nes.. kenapa?”
Gua mengulang pertanyaan
”Johan, bon.. ada johan dirumah..”
Ines berbicara terbata-bata, gua masih mencerna, mencoba mengurai ingatan tentang nama Johan, sampai akhirnya gua inget kalo johan adalah nama mantan tunangannya Ines.
”Johan, tunangan lu?”
”Mantan!”
Ines meralat.
”Ngapain dia?”
”Nggak tau tuh, gue lagi abis beres-beres rumah, tiba-tiba dia dateng kesini..”
”Trus sekarang lu lagi ngapain?”
”Gua dikamar, dia duduk diluar... gue takut, bon”
Gua menghentikan langkah. Kemudian mulai berlari kecil menuju ke kantor yang sudah mulai terlihat. Dalam hati gua berfikir, nggak ada gunanya juga gua buru-buru.
”Yaudah lu dikamar aja dulu..”
”Iya..”
”Jangan nangis.. pintunya kunci..”
”Gue TAKUT Tau..”
”Yaudah, gua mikir dulu bentar, ntar gua telepon lagi.. jangan dibuka pintunya...
Kemudian gua menutup ponsel. Gua duduk di sofa loby kantor, mencoba mengatur nafas yang masih tersengal-sengal. Antara bingung, panik dan jujur, gua takut campur aduk jadi satu ditambah perasaan kesal. Disaat Ines butuh gua, gua nggak ada disana, nggak bisa berbuat apa-apa. Gimana kalo sampe si Johan itu nekat, dan gua yakin dia bakal nekat. Di negri orang aja dia bisa bikin Ines terlantar, apalagi di Indonesia. Gua masih memikirkan cara-nya sambil mengucek-ngucek rambut.
Kemudian terbesit dipikiran gua, sepupu gua yang tinggal di Depok juga, si Akbar. Tapi, gua nggak punya nomor teleponnya. Akhirnya terpikir sebuah nama; ’Komeng’, setelah mencari di kontak list ponsel, gua mulai menghubunginya.
Beberapa kali nada sambung terdengar dan belum ada jawaban, gua mencoba sekali lagi, kali ini dia langsung menjawab.
”Hallo...”
”Halo meng, lu dimana?”
”Di Kerjaan, ngapa?”
”Kerjaan lu dimana?”
”Pejaten, kenapa sih lu?”
”Oke deket tuh, kalo dari pejaten ke Depok, berapa lama?”
”Depok nya mane?”
”Beji..”
”Kalo jam-jam segini mah bisa sejam kali..”
”Yaudah, lu langsung cabut ke Beji sekarang, ntar alamatnya gua sms..”
”Lah apa-apaan lu, gua belon keluar kantor, mo ngapain si emang?..”
Kemudian gua menjelaskan duduk perkaranya ke Komeng, dia mendengarkan sambil bilang ”terus..”, ”terus..”. Akhirnya Komeng setuju, dan gua menjelaskan sedikit tentang arah patokan komplek rumahnya Ines.
”Yaudah.. lu tetep kirim aja alamatnya via sms.. gua jalan sekarang nih..”
”Oke thanks ya meng.. oiya ntar kalo dia udah sama elu, sms gua ya..”
”Iya.. ”
Gua menutup ponsel, meletakkannya di sofa. Gua mondar mandir nggak menentu kayak suami yang sedang menunggu istrinya melahirkan. Gua ke toilet, dan sampai disana gua nggak tau mau ngapain, gua kembali ke loby dan tetap mondar-mandir kayak setrikaan wireless. Sebentar-sebentar gua menatap ke layar ponsel yang masih tergeletak di sofa, kalo memang terjadi apa-apa sama Ines, gua nggak bakal bisa memaafkan diri gua sendiri.
”Amit-amit jabang bayi” Gua bergumam sambil mengetuk-ngetukan tangan ke meja.
Kemudian gua mengangkat telepon dan mencoba menghubuni Ines, berharap dia masih baik-baik aja.
”Hallo, bon... gimana nih, gua takut.. dia ngetok-ngetok terus.”
”Sabar nes, ntar ada temen gua kesitu, namanya wahyu.. orangnya tinggi, brewokan..”
Komeng itu memang nama aslinya Wahyu.
”Ish.. cepet..”
”Iya, udah gua suru cepet..”
”Aduuuhh.. mana pengen pipis lagi..”
”Yauda pipis aja, kan Johannya diluar, nggak bisa masuk..”
”Iya.. deh, elu jangan tutup dulu teleponnya..”
Entah panik atau kenapa, gua malah menutup telepon. Akhirnya gua naik ke atas dan mencoba menghubungi Ines lagi lewat telepon kantor.
”Hallo, nes..”
”Ish.. dia mah.. dibilang jangan dimatiin..”
”Sorry, kepencet... udah pipisnya?”
”Udah,... bon...? gua harus gimana niih...?”
”Yaudah tunggu aja sebentar lagi, sabar, udah ah jangan nagis mulu..”
”Gue takut Boniiii.. tuh diianya ngetok-ngetok mulu..”
”Nes..”
”Sebutin nama buah-buahan dalam 5 detik?”
”Ish apaan sih, nggak lucu..”
”Ya coba jawab aja...”
”...”
”Nes, jawab..”
”Apel, jeruk,... mangga.. mmm..”
”Abis waktunya...”
”Ya nggak bisa lah, Cuma lima detik..”
”Gua bisa..”
”Coba...”
”Rujak!”
”Ish.. curang..”
Gua terus menerus membuat Ines sibuk entah dengan tebak-tebakkan atau cerita-cerita lucu. Biarin dah kena charge pemakaian telepon kantor,tapi paling nggak gua bisa memantau kondisi Ines terus.
Nggak selang beberapa lama, Ines bilang kalo temen gua yang namanya Wahyu udah datang. Entah bagaimana caranya si Komeng bisa bikin Johan pergi darisana dan sampai sekarang masih menjadi misteri. Ines menyerahkan ponselnya ke komeng.
”Bon, udah gua usir..”
”Gimana?”
”Apanya?”
”Elu ngusirnya gimana meeeng?”
”Owh.. gancil itu mah, orangnya culun gitu”
”Oke makasih dah meng”
Gua terduduk, menarik nafas lega.
”Trus gua sekarang kudu ngapain inih, balik..”
”Nggak, nggak jangan.. lu ajak Ines ke rumah nyokap deh..”
”Yaudah elu yang ngomong nih ke orangnya..”
”Halo.. ya..”
”Nes, lu ngikut temen gua tuh, kerumah nyokap. Bawa aja baju lu beberapa, nginep disana dulu..”
”Eh.. iya, tapi...”
”Udah nggak usah pake tapi-tapian, ntar gua telponin nyokap..”
”Iyadeh.. eh bon.. tapi gua malu sama nyokap..”
”Yaelah... udah buruan sana..”
”Yauda deh..”
Gua menutup telepon dan mulai menghubungi Ika. Gua bilang ke Ika kalo Ines bakal nginep disitu satu atau dua hari.
---
Setelah itu gua duduk dikursi meja kerja gua dan mulai merenungi. Kemudian gua menyalakan laptop, membuka browser dan mulai mengetik salah satu nama situs
Backsound Untuk #19-C


Tiada kusangsi kau buah hati
Yang telah bersemi di saat ini kugenggami
Saat kita jalan tertatih seolah mengenal dunia
Tak peduli apa yang terjadi
Oh... oh... oh...
La la la la la... Oh...
Kupeluk dirimu, mengapa engkau malu
Kau belai wajahku dengan getar jarimu yang bersatu
Mari genggam erat dunia, dunia yang miliki kita
Dan semuanya hanya kita
Oh... oh... oh... Kuambil bintang untukmu...
Oh... oh... Kuberi apa yang kaupinta...
Tak harus sembunyi, di balik cinta yang misteri
Tak semuanya indah, kelak kau 'kan mengerti (kau 'kan mengerti)
Mari genggam erat dunia, dunia yang miliki kita
Dan semuanya hanya kita
Mari genggam erat dunia, dunia yang miliki kita
Dan semuanya hanya kita
Mari genggam erat dunia, dunia yang miliki kita
Dan semuanya hanya kita
Oh... oh... oh... Kuambil bintang-bintangmu... (bintangmu)
Oh... oh... oh... Kuberi apa yang kaupinta...
La la la la la...


Tiada kusangsi kau buah hati
Yang telah bersemi di saat ini kugenggami
Saat kita jalan tertatih seolah mengenal dunia
Tak peduli apa yang terjadi
Oh... oh... oh...
La la la la la... Oh...
Kupeluk dirimu, mengapa engkau malu
Kau belai wajahku dengan getar jarimu yang bersatu
Mari genggam erat dunia, dunia yang miliki kita
Dan semuanya hanya kita
Oh... oh... oh... Kuambil bintang untukmu...
Oh... oh... Kuberi apa yang kaupinta...
Tak harus sembunyi, di balik cinta yang misteri
Tak semuanya indah, kelak kau 'kan mengerti (kau 'kan mengerti)
Mari genggam erat dunia, dunia yang miliki kita
Dan semuanya hanya kita
Mari genggam erat dunia, dunia yang miliki kita
Dan semuanya hanya kita
Mari genggam erat dunia, dunia yang miliki kita
Dan semuanya hanya kita
Oh... oh... oh... Kuambil bintang-bintangmu... (bintangmu)
Oh... oh... oh... Kuberi apa yang kaupinta...
La la la la la...
Spoiler for Klipnya:
regmekujo dan 20 lainnya memberi reputasi
21
Kutip
Balas
![Accidentally In Love [True Story]](https://s.kaskus.id/images/2014/04/07/6448808_20140407033338.jpg)