- Beranda
- Stories from the Heart
BUNGA "PERTAMA" DAN "TERAKHIR"
...
TS
javiee
BUNGA "PERTAMA" DAN "TERAKHIR"

Spoiler for RULES:
INTRO
Perkenalkan, nama gw Raden Fajar Putro Mangkudiningrat Laksana...Bohong deng, kepanjangan...sebut aja gw Fajar. Tinggi 175 cm berat 58kg. bisa disebut kurus karena tinggi dan berat badan gw ga proposional.
. Gw ROCKER...!! Pastinya Rocker Kelaparan.Gw terlahir dari keluarga biasa saja yang serba "Cukup". dalam arti "cukup" buat beli rumah gedongan, "cukup" buat beli mobil Mewah sekelas Mercy. (ini jelas jelas bohong). yang pasti gw bersyukur dilahirkan dari keluarga ini.
Gw Anak pertama dari 3 bersaudara. Adik adik gw semuanya perempuan. Gw keturunan Janda alias Jawa Sunda. Bokap asli dari Jepara bumi Kartini. Tempatnya para pengrajin kayu yang terkenal di Nusantara bahkan diakui oleh Dunia. Tapi bokap gw bukan pengusaha mebel seperti kebanyakan orang Jepara. Nyokap gw asli Sumedang Kota yang terkenal dengan TAHU nya. Tapi wajahnya sama sekali nggak mirip tahu ya. Sunda tulen nan cantik jelita. Beliau bidadari gw nomer "1" di dunia ini.
Spoiler for INDEKS:
Spoiler for INDEKSII:
Diubah oleh javiee 06-04-2015 23:49
manusia.baperan dan 4 lainnya memberi reputasi
3
730K
2.9K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33KThread•54.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
javiee
#694
PART 41
Sabtu pagi yang sepi. Hanya ada gw dan adik gw nomor 2 di rumah. Bidadari no.1 gw pergi menghadiri arisan di rumah tetangga gw bersama adik gw nomor 3. Sedangkan bapak gw kalau tidak salah pergi ke Jakarta. Tentu saja beliau menggunakan jasa KRL karena Jupi sudah tak layak pakai lagi...Sedih rasanya melihat motor kesayangan hancur berantakan tak berbentuk.
Kondisi gw hari itu sudah mulai membaik. Rasa ngilu dan perih di sekujur anggota badan gw sudah mulai reda. Luka luka kecil pun terlihat mulai mengering. Namun luka jahitan gw masih ditutupi perban dan terkadang terasa ngilu apabila tersentuh.
Perlahan gw berjalan keluar kamar menuju meja komputer. Komputer jadul...Bukan core i7 maupun AMD Phenom, melainkan hanya Intel pentium generasi ke-4. Lagipula tahun 2007 core i7 maupun phenom belum ada. Tapi lumayan lah itu komputer untuk sekedar memutar lagu via winamp.
Lalu Musik pun di putar...
Volume di speaker aktif gw naikkan sampai jarum jam angka 3. Mendadak rumah gw menjadi berisik ibarat ada sebuah konser band ROCK dunia yang terasa menggelegar suara distorsinya. Segala macam perabotan di rumah seketika bergetar, hingga jendela rumah pun turut bergetar.
"Masa bodoh!!" Gumam gw dalam hati.
Kapan lagi gw bisa semena mena kaya gini di rumah...Mumpung di rumah nggak ada orang kecuali gw dan adik gw yang sesekali menggerutu. Mungkin telinga dia merasa tidak nyaman mendengar musik seperti ini.
Musik rock sendiri sudah gw sukai semenjak gw kecil. Saat itu bapak gw sering memutar lagu lagu macam Dedy dorres, GONG 2000, God Bless, Scorpions, GnR, hingga Metallica. Ya...Bapak gw memang penggemar musik keras. Maka dari itu wataknya juga keras..
......................
......................
"Halo...kamu lagi dimana sih? berisik banget!!"
"Aku di rumah...hehe iya aku lagi denger lagu." Jawab gw.
"Ya ampuun...pantesan aja ada orang ngucap salam nggak denger ya..."
"Loh...emangnya kamu dimana?" Tanya gw.
"Aku di depan rumah kamuuu!!"
"Hah yang bener??"
"Iyaa...Aku panggilin juga daritadi..."
"Ooh...iya tunggu sebentar."
Lalu gw menurunkan volume speaker hingga sayup sayup terdengar suaranya dan menuju keluar rumah untuk menemui tamu yang menggerutu tersebut.
Betapa senangnya gw pagi ini...Karena ada seorang bidadari yang datang. Dia menepati janjinya. Janji untuk menjenguk gw di rumah pagi ini.
Dia Bunga...
Kehadirannya selalu saja membuat mulut gw tersenyum melebar. Walau terasa sedikit sakit bagian mulut ini untuk tersenyum. Tentu saja karena luka jahitan di sekujur wajah gw.
"Nyebelin...!!"
"Hehe...maap atuh yank. Nggak kedengeran." Ujar gw.
"Iya jelas aja ga kedengeran orang musiknya kenceng banget! Ada kali 10 menit aku diluar. Udah gitu kamu di telfon ga di angkat angkat!" Dia menggerutu.
"Tuh kaan...pagi pagi udah cerewet?? Lagian kamu kepagian..." Ujar gw.
"Au ah...Kamu tuh lagi sakit aja nyebelin...gimana kalo sehat??"
"Kalo sehat nyenengin yaa..?" Tanya gw.
"Nggak juga....."
"Haha...Jadi ceritanya kamu ngambek?"
"Iyaa..."
"Kamu marah sama aku??"
"Iyaa..."
Seketika gw ingin tertawa melihat raut wajahnya yang justru semakin lucu apabila sedang 'ngambek'.
Lalu mata gw terus memperhatikan dia. Dia mencoba memalingkan wajahnya tak mau melihat gw. Sesekali dia melirik ke arah gw yang terus memperhatikannya. Dan pada akhirnya...
Dia nyengir...kemudian tertawa 'hahaha'.
"Aaaaaa....Aku tuh nggak bisa marah sama kamu..." Ujarnya merengek.
"Yaa kalo ngga bisa marah ngapain marah? Lucu kamu kalo marah. Haha" Ujar gw lalu tertawa menahan ngilu.
"Tuh kan malah diketawain..." Ujarnya sambil manyun.
"Heuu...heuu heuu heu..." Mungkin seperti itulah tawa gw waktu itu.
Lalu gw mengajak dia untuk masuk. Gw persilahkan dia duduk di kursi ruang tamu dengan bahasa yang lembut nan halus layaknya tamu istimewa, dan memang dia istimewa....
"Kok sepi yank? Pada kemana?" Tanya Bunga.
"Mama arisan..Bokap ga tau deh. Ke Jakarta kali...Aku berdua aja sama Dek Tria." Jawab gw.
"Oh..." Ujarnya singkat.
"Kamu bawa apaan tuh?" Tanya gw.
"Ini...buat kamu."
Dia mengeluarkan sesuatu dari kantong plastik yang dia bawa. Ternyata dia membawakan gw 1 kilogram buah apel merah.
"Wah...makasih ya."
"Iya sama sama."
"Kamu naek apa tadi kesini yank?" Tanya gw.
"Dianter mas Udin..."
"Oh...Aku kira naek ojeg...Ntar kamu di culik lagi. Haha" Canda gw.
"Nggak 'atuh' yaank..Ngaco aja kamu mah."
"Ya siapa tau...Kan abang ojek deket komplek kamu serem serem..." Ujar gw.
"Hayoo ga boleh suuzon...!!"
"Hehe..iya becanda kok." Ujar gw.
"Oya, mau dimakan apelnya? Biar aku kupasin kulitnya." Ucap dia.
"Boleh...aku mau. Sebentar aku ambil pisau dulu."
"Jangan pake pisau...kan ada tuh alatnya khusus.." Ujarnya.
"Nggak ada yank...adanya pisau doang. Ga apa apa ya?" Ujar gw.
Kemudian gw menuju dapur mengambil sebilah pisau. Tak lupa gw menyuruh adik gw untuk membuatkan segelas teh manis hangat untuk tamu istimewa gw. Dengan sedikit memaksa gw menyuruhnya saat itu. Pada akhirnya dia mau menuruti perintah gw walaupun sembari ngomel menggerutu.
Ya, adik gw yang satu ini memang begitu. Selalu saja membantah perintah gw.
Hap....
Sepotong buah apel mendarat mulus ke dalam mulut gw. Manis rasanya...
Tapi rasa apel itu berubah jauh lebih manis dari biasanya. Terang saja, karena dari tangan Bunga lah apel itu berawal. Dari mulai mengupasnya, memotongnya menjadi beberapa bagian, hingga didaratkannya apel itu ke mulut gw.
Dia menyuapi gw...Dan hal itu adalah kenangan indah pertama gw dengannya.
"Udah yank kenyang!" Ujar gw.
"Tanggung satu lagi nih....Aaa'..."
"Kamu mah maksa mulu..."
Dengan sedikit dipaksa, suapan terakhir itu berhasil masuk ke mulut gw. Lantas tuntas sudah acara suap menyuap makan apel yang sungguh romantis dan meringis.
Kenapa meringis?? Karena apel itu bukan buah yang empuk, maka hal itu malah membuat luka luka gw kembali terasa ngilu ketika mengunyahnya. Tapi hanya sesaat...
Tidak lama kemudiam bidadari nomor 1 gw datang sembari menggendong adik gw nomor 3. Terpancar sebuah senyum dari beliau ketika melihat keberadaan Bunga yang sedang duduk disamping gw. Ada sedikit obrolan ringan antara beliau dan Bunga.
Dan lagi lagi gw melihat sebuah ekspresi yang berbeda ditunjukkan oleh beliau.
Gw tidak mengerti mengapa beliau sampai bertingkah seperti itu terhadap Bunga. Apa karena dia senang dengannya? Entahlah...
Sebelumnya rumah gw ini tak pernah dikunjungi oleh seorang gadis. Sekalipun itu teman gw. Karena memang gw tidak mempunyai teman perempuan. Dan Bunga lah gadis pertama yang datang ke rumah gw.
Mungkin karena hal itu beliau senang terhadap Bunga.... 'Mungkin....'
"Kaak...itu perbannya diganti dulu. Udah dua hari belum diganti." Ucap Bidadari No.1
"Nanti aja Ma...masih perih..."Sahut gw.
"Kamu tuh gimna sih...kalo nggak diganti nanti bisa infeksi."
"Iyaa ntar diganti kok tapi siang aja maa..." gw menolak.
"Nurut kenapa sama mama kamu...." Ujar Bunga tiba tiba.
"Tau tuh mba Bunga...emang susah dia kalo disuruh ngebantah melulu." Ucap Beliau kepada Bunga.
".........." Gw manyun.
Gw pun akhirnya menuruti beliau untuk mengganti balutan perban di wajah gw. Beliau lantas berlalu ke belakang lalu tak lama kemudian beliau menghampiri kami berdua di ruang tamu membawa seperangkat alat medis berupa pelester, perban, gunting dan lain lain.
Penyiksaan pun dimulai...
"Tante sini sama Bunga aja..." Ujar Bunga tiba tiba.
"Mba Bunga bisa?" Tanya bidadari No.1
"Iya bisa...hehe" Ujar Bunga tersenyum.
"Oh yaudah...Pelan pelan ya...dia suka teriak teriak kalo lagi diobatin" Ucap Beliau pada Bunga.
"........." Bunga hanya tersenyum membalas ucapan Beliau.
Beliau meninggalkan kami dan kembali masuk ke ruang tengah. Lalu dengan segera, Bunga mengambil peralatan medis tersebut di atas meja, kemudian dia duduk tepat berada di samping gw.
Diperhatikannya sekeliling wajah gw ini. Perlahan dia mulai menyentuh perban yang ada di dagu. Sejenak Gw pejamkan mata supaya bisa lebih rileks menahan sakit.
"Sakiit?" Tanya dia.
"Hmm...pelan pelan." jawab gw.
Perban itu mulai dibuka olehnya. Tapi dia kesulitan untuk melepas plester yang melekat cukup kuat di kulit wajah gw. Karena merasa kesulitan, dia pun menggeser posisi duduknya semakin dekat disamping gw.
Dekat sekali....
Wajah manisnya nampak jelas di depan mata gw...Hanya sekitar 20 cm jarak wajah kami berdua. Sampai sampai hembusan nafasnya menerpa wajah gw. Hangat....
Sontak jantung ini pun berpacu semakin cepat.
Dag....dig...dug....!!
Akhirnya tubuh gw 'ngadaregdeg'...
Satu persatu perban yang ada di wajah gw mulai dilepas. Dia melakukannya dengan sangat lembut dan hati hati. Gw hanya bisa merem melek menahan perih tanpa bisa bicara apapun.
"Kamu yang sabar yaa..." Ucapnya setengah berbisik.
"hemm...." Sahut gw.
"Ini semua cobaan buat kamu..." Ujarnya setelah menempelkan salah satu sisi plester.
"Heemmmmmm....."
"Lain kali kalau naek motor hati hati....terus kamu harus pake helm..." Lanjutnya.
"........" Gw diam.
"Selesai...Hehee...." Dia tersenyum senang.
"........" Gw pun tersenyum.
"Hebat kan aku... Siapa dulu dong...Bunga..." Ujarnya setengah sombong.
"Hehee...iya. Makasih ya." Ucap gw.
"Kembali...."
"Loh, apanya yang kembali? Kembalian?" Tanya gw.
"Eee bukan...maksudnya gini, kamu kan bilang terima kasih, ya aku jawabnya kembali. Hehe" Ujarnya.
"Oh...nggak mudeng aku yank."
Karena tugasnya sudah selesai, Bunga pun membereskan peralatan medis dan menaruhnya di atas meja. Lalu munculah bidadari No.1 gw keluar dari ruang tengah.
"Udah selesai?" Tanya beliau.
"Iya tante...udah diganti semua perbannya." Jawab Bunga.
"Loh, tumben diem biasanya teriak teriak" Ujar beliau.
"Iya nih diem aja kok orangnya..." Balas Bunga.
"Tuh kan...Diobatin sama Mba Bunga diem tuh anak. Giliran sama Mamanya teriak teriak terus..." Ujar beliau.
"Masa sih tante?" Tanya Bunga.
"Iya tuh 'Bung', kalo sama Mama suka grasak grusuk. tarik sana tarik sini. Jadinya kan perih..." Ujar gw tiba tiba.
"Hahaha...." Bunga tertawa
"Yaudah...Mba Bunga saya tinggal dulu ya...mau anter Yasyfi ke Posyandu sebentar." Ucap beliau berpamitan.
"Iya tante...." Sahut Bunga.
Gw heran sama emak gw...
Kenapa pamitnya sama Bunga? Jelas jelas gw anaknya. Harusnya pamit sama gw toh yang tinggal di rumah kan gw. Bukan Bunga.
Sudahlah...
Gw beristirahat sejenak dengan cara menyandarkan kepala ini ke kursi sofa. Sambil menahan rasa ngilu, mata ini menatap lurus ke arah langit langit ruangan. Sesekali gw melirik seorang gadis tengah sibuk memainkan HP nya. Sepertinya dia main game...
Terkadang dia tersenyum, terkadang pula menggerutu. Gw tidak tahu game apa yang sedang dia mainkan. Hingga gw pun melirik ke arah layar HP nya...
Dan TETRIS...!!!!
Gw kembali menjauh darinya sesaat setelah mengetahui apa yang dia mainkan.
Lalu gw kembali memperhatikan dia...
Gw lihat sorot matanya...
Gw lihat cara dia tersenyum...
Semuanya sama persis...!!!
Gw seperti melihat sosok orang lain...Gw seperti melihatnya...Gw seperti melihat Niar...
Iya...Niar!!
Namun akhirnya gw tersadar....
Itu Bunga...!!
Bukan Niar...........
Kondisi gw hari itu sudah mulai membaik. Rasa ngilu dan perih di sekujur anggota badan gw sudah mulai reda. Luka luka kecil pun terlihat mulai mengering. Namun luka jahitan gw masih ditutupi perban dan terkadang terasa ngilu apabila tersentuh.
Perlahan gw berjalan keluar kamar menuju meja komputer. Komputer jadul...Bukan core i7 maupun AMD Phenom, melainkan hanya Intel pentium generasi ke-4. Lagipula tahun 2007 core i7 maupun phenom belum ada. Tapi lumayan lah itu komputer untuk sekedar memutar lagu via winamp.
Lalu Musik pun di putar...
Volume di speaker aktif gw naikkan sampai jarum jam angka 3. Mendadak rumah gw menjadi berisik ibarat ada sebuah konser band ROCK dunia yang terasa menggelegar suara distorsinya. Segala macam perabotan di rumah seketika bergetar, hingga jendela rumah pun turut bergetar.
"Masa bodoh!!" Gumam gw dalam hati.
Kapan lagi gw bisa semena mena kaya gini di rumah...Mumpung di rumah nggak ada orang kecuali gw dan adik gw yang sesekali menggerutu. Mungkin telinga dia merasa tidak nyaman mendengar musik seperti ini.
Musik rock sendiri sudah gw sukai semenjak gw kecil. Saat itu bapak gw sering memutar lagu lagu macam Dedy dorres, GONG 2000, God Bless, Scorpions, GnR, hingga Metallica. Ya...Bapak gw memang penggemar musik keras. Maka dari itu wataknya juga keras..
......................
......................
"Halo...kamu lagi dimana sih? berisik banget!!"
"Aku di rumah...hehe iya aku lagi denger lagu." Jawab gw.
"Ya ampuun...pantesan aja ada orang ngucap salam nggak denger ya..."
"Loh...emangnya kamu dimana?" Tanya gw.
"Aku di depan rumah kamuuu!!"
"Hah yang bener??"
"Iyaa...Aku panggilin juga daritadi..."
"Ooh...iya tunggu sebentar."
Lalu gw menurunkan volume speaker hingga sayup sayup terdengar suaranya dan menuju keluar rumah untuk menemui tamu yang menggerutu tersebut.
Betapa senangnya gw pagi ini...Karena ada seorang bidadari yang datang. Dia menepati janjinya. Janji untuk menjenguk gw di rumah pagi ini.
Dia Bunga...
Kehadirannya selalu saja membuat mulut gw tersenyum melebar. Walau terasa sedikit sakit bagian mulut ini untuk tersenyum. Tentu saja karena luka jahitan di sekujur wajah gw.
"Nyebelin...!!"
"Hehe...maap atuh yank. Nggak kedengeran." Ujar gw.
"Iya jelas aja ga kedengeran orang musiknya kenceng banget! Ada kali 10 menit aku diluar. Udah gitu kamu di telfon ga di angkat angkat!" Dia menggerutu.
"Tuh kaan...pagi pagi udah cerewet?? Lagian kamu kepagian..." Ujar gw.
"Au ah...Kamu tuh lagi sakit aja nyebelin...gimana kalo sehat??"
"Kalo sehat nyenengin yaa..?" Tanya gw.
"Nggak juga....."
"Haha...Jadi ceritanya kamu ngambek?"
"Iyaa..."
"Kamu marah sama aku??"
"Iyaa..."
Seketika gw ingin tertawa melihat raut wajahnya yang justru semakin lucu apabila sedang 'ngambek'.
Lalu mata gw terus memperhatikan dia. Dia mencoba memalingkan wajahnya tak mau melihat gw. Sesekali dia melirik ke arah gw yang terus memperhatikannya. Dan pada akhirnya...
Dia nyengir...kemudian tertawa 'hahaha'.
"Aaaaaa....Aku tuh nggak bisa marah sama kamu..." Ujarnya merengek.
"Yaa kalo ngga bisa marah ngapain marah? Lucu kamu kalo marah. Haha" Ujar gw lalu tertawa menahan ngilu.
"Tuh kan malah diketawain..." Ujarnya sambil manyun.
"Heuu...heuu heuu heu..." Mungkin seperti itulah tawa gw waktu itu.
Lalu gw mengajak dia untuk masuk. Gw persilahkan dia duduk di kursi ruang tamu dengan bahasa yang lembut nan halus layaknya tamu istimewa, dan memang dia istimewa....
"Kok sepi yank? Pada kemana?" Tanya Bunga.
"Mama arisan..Bokap ga tau deh. Ke Jakarta kali...Aku berdua aja sama Dek Tria." Jawab gw.
"Oh..." Ujarnya singkat.
"Kamu bawa apaan tuh?" Tanya gw.
"Ini...buat kamu."
Dia mengeluarkan sesuatu dari kantong plastik yang dia bawa. Ternyata dia membawakan gw 1 kilogram buah apel merah.
"Wah...makasih ya."
"Iya sama sama."
"Kamu naek apa tadi kesini yank?" Tanya gw.
"Dianter mas Udin..."
"Oh...Aku kira naek ojeg...Ntar kamu di culik lagi. Haha" Canda gw.
"Nggak 'atuh' yaank..Ngaco aja kamu mah."
"Ya siapa tau...Kan abang ojek deket komplek kamu serem serem..." Ujar gw.
"Hayoo ga boleh suuzon...!!"
"Hehe..iya becanda kok." Ujar gw.
"Oya, mau dimakan apelnya? Biar aku kupasin kulitnya." Ucap dia.
"Boleh...aku mau. Sebentar aku ambil pisau dulu."
"Jangan pake pisau...kan ada tuh alatnya khusus.." Ujarnya.
"Nggak ada yank...adanya pisau doang. Ga apa apa ya?" Ujar gw.
Kemudian gw menuju dapur mengambil sebilah pisau. Tak lupa gw menyuruh adik gw untuk membuatkan segelas teh manis hangat untuk tamu istimewa gw. Dengan sedikit memaksa gw menyuruhnya saat itu. Pada akhirnya dia mau menuruti perintah gw walaupun sembari ngomel menggerutu.
Ya, adik gw yang satu ini memang begitu. Selalu saja membantah perintah gw.
Hap....
Sepotong buah apel mendarat mulus ke dalam mulut gw. Manis rasanya...
Tapi rasa apel itu berubah jauh lebih manis dari biasanya. Terang saja, karena dari tangan Bunga lah apel itu berawal. Dari mulai mengupasnya, memotongnya menjadi beberapa bagian, hingga didaratkannya apel itu ke mulut gw.
Dia menyuapi gw...Dan hal itu adalah kenangan indah pertama gw dengannya.
"Udah yank kenyang!" Ujar gw.
"Tanggung satu lagi nih....Aaa'..."
"Kamu mah maksa mulu..."
Dengan sedikit dipaksa, suapan terakhir itu berhasil masuk ke mulut gw. Lantas tuntas sudah acara suap menyuap makan apel yang sungguh romantis dan meringis.
Kenapa meringis?? Karena apel itu bukan buah yang empuk, maka hal itu malah membuat luka luka gw kembali terasa ngilu ketika mengunyahnya. Tapi hanya sesaat...
Tidak lama kemudiam bidadari nomor 1 gw datang sembari menggendong adik gw nomor 3. Terpancar sebuah senyum dari beliau ketika melihat keberadaan Bunga yang sedang duduk disamping gw. Ada sedikit obrolan ringan antara beliau dan Bunga.
Dan lagi lagi gw melihat sebuah ekspresi yang berbeda ditunjukkan oleh beliau.
Gw tidak mengerti mengapa beliau sampai bertingkah seperti itu terhadap Bunga. Apa karena dia senang dengannya? Entahlah...
Sebelumnya rumah gw ini tak pernah dikunjungi oleh seorang gadis. Sekalipun itu teman gw. Karena memang gw tidak mempunyai teman perempuan. Dan Bunga lah gadis pertama yang datang ke rumah gw.
Mungkin karena hal itu beliau senang terhadap Bunga.... 'Mungkin....'
"Kaak...itu perbannya diganti dulu. Udah dua hari belum diganti." Ucap Bidadari No.1
"Nanti aja Ma...masih perih..."Sahut gw.
"Kamu tuh gimna sih...kalo nggak diganti nanti bisa infeksi."
"Iyaa ntar diganti kok tapi siang aja maa..." gw menolak.
"Nurut kenapa sama mama kamu...." Ujar Bunga tiba tiba.
"Tau tuh mba Bunga...emang susah dia kalo disuruh ngebantah melulu." Ucap Beliau kepada Bunga.
".........." Gw manyun.
Gw pun akhirnya menuruti beliau untuk mengganti balutan perban di wajah gw. Beliau lantas berlalu ke belakang lalu tak lama kemudian beliau menghampiri kami berdua di ruang tamu membawa seperangkat alat medis berupa pelester, perban, gunting dan lain lain.
Penyiksaan pun dimulai...
"Tante sini sama Bunga aja..." Ujar Bunga tiba tiba.
"Mba Bunga bisa?" Tanya bidadari No.1
"Iya bisa...hehe" Ujar Bunga tersenyum.
"Oh yaudah...Pelan pelan ya...dia suka teriak teriak kalo lagi diobatin" Ucap Beliau pada Bunga.
"........." Bunga hanya tersenyum membalas ucapan Beliau.
Beliau meninggalkan kami dan kembali masuk ke ruang tengah. Lalu dengan segera, Bunga mengambil peralatan medis tersebut di atas meja, kemudian dia duduk tepat berada di samping gw.
Diperhatikannya sekeliling wajah gw ini. Perlahan dia mulai menyentuh perban yang ada di dagu. Sejenak Gw pejamkan mata supaya bisa lebih rileks menahan sakit.
"Sakiit?" Tanya dia.
"Hmm...pelan pelan." jawab gw.
Perban itu mulai dibuka olehnya. Tapi dia kesulitan untuk melepas plester yang melekat cukup kuat di kulit wajah gw. Karena merasa kesulitan, dia pun menggeser posisi duduknya semakin dekat disamping gw.
Dekat sekali....
Wajah manisnya nampak jelas di depan mata gw...Hanya sekitar 20 cm jarak wajah kami berdua. Sampai sampai hembusan nafasnya menerpa wajah gw. Hangat....
Sontak jantung ini pun berpacu semakin cepat.
Dag....dig...dug....!!
Akhirnya tubuh gw 'ngadaregdeg'...
Satu persatu perban yang ada di wajah gw mulai dilepas. Dia melakukannya dengan sangat lembut dan hati hati. Gw hanya bisa merem melek menahan perih tanpa bisa bicara apapun.
"Kamu yang sabar yaa..." Ucapnya setengah berbisik.
"hemm...." Sahut gw.
"Ini semua cobaan buat kamu..." Ujarnya setelah menempelkan salah satu sisi plester.
"Heemmmmmm....."
"Lain kali kalau naek motor hati hati....terus kamu harus pake helm..." Lanjutnya.
"........" Gw diam.
"Selesai...Hehee...." Dia tersenyum senang.
"........" Gw pun tersenyum.
"Hebat kan aku... Siapa dulu dong...Bunga..." Ujarnya setengah sombong.
"Hehee...iya. Makasih ya." Ucap gw.
"Kembali...."
"Loh, apanya yang kembali? Kembalian?" Tanya gw.
"Eee bukan...maksudnya gini, kamu kan bilang terima kasih, ya aku jawabnya kembali. Hehe" Ujarnya.
"Oh...nggak mudeng aku yank."
Karena tugasnya sudah selesai, Bunga pun membereskan peralatan medis dan menaruhnya di atas meja. Lalu munculah bidadari No.1 gw keluar dari ruang tengah.
"Udah selesai?" Tanya beliau.
"Iya tante...udah diganti semua perbannya." Jawab Bunga.
"Loh, tumben diem biasanya teriak teriak" Ujar beliau.
"Iya nih diem aja kok orangnya..." Balas Bunga.
"Tuh kan...Diobatin sama Mba Bunga diem tuh anak. Giliran sama Mamanya teriak teriak terus..." Ujar beliau.
"Masa sih tante?" Tanya Bunga.
"Iya tuh 'Bung', kalo sama Mama suka grasak grusuk. tarik sana tarik sini. Jadinya kan perih..." Ujar gw tiba tiba.
"Hahaha...." Bunga tertawa
"Yaudah...Mba Bunga saya tinggal dulu ya...mau anter Yasyfi ke Posyandu sebentar." Ucap beliau berpamitan.
"Iya tante...." Sahut Bunga.
Gw heran sama emak gw...
Kenapa pamitnya sama Bunga? Jelas jelas gw anaknya. Harusnya pamit sama gw toh yang tinggal di rumah kan gw. Bukan Bunga.
Sudahlah...
Gw beristirahat sejenak dengan cara menyandarkan kepala ini ke kursi sofa. Sambil menahan rasa ngilu, mata ini menatap lurus ke arah langit langit ruangan. Sesekali gw melirik seorang gadis tengah sibuk memainkan HP nya. Sepertinya dia main game...
Terkadang dia tersenyum, terkadang pula menggerutu. Gw tidak tahu game apa yang sedang dia mainkan. Hingga gw pun melirik ke arah layar HP nya...
Dan TETRIS...!!!!
Gw kembali menjauh darinya sesaat setelah mengetahui apa yang dia mainkan.
Lalu gw kembali memperhatikan dia...
Gw lihat sorot matanya...
Gw lihat cara dia tersenyum...
Semuanya sama persis...!!!
Gw seperti melihat sosok orang lain...Gw seperti melihatnya...Gw seperti melihat Niar...
Iya...Niar!!
Namun akhirnya gw tersadar....
Itu Bunga...!!
Bukan Niar...........
efti108 memberi reputasi
1