- Beranda
- Stories from the Heart
LABIRIN
...
TS
tianochosha
LABIRIN
Halo para penghuni SFTH 
Bosen di fjb, Belakangan ane sering mampir ke forum ini. Lalu hey, ane malah betah
Yaaah, asik juga ya kalo menuangkan pengalaman dalam sebuah cerita. Ane jadi inget pas masa - masa dulu. Iya pas masa dulu, duluuuuu banget pas pasar rebo namanya masih selasa
. Apaan coba?
Segitu dulu ah.
ini cerita dari ane gan. semoga berkenan
.

Bosen di fjb, Belakangan ane sering mampir ke forum ini. Lalu hey, ane malah betah

Yaaah, asik juga ya kalo menuangkan pengalaman dalam sebuah cerita. Ane jadi inget pas masa - masa dulu. Iya pas masa dulu, duluuuuu banget pas pasar rebo namanya masih selasa
. Apaan coba?
Segitu dulu ah.
ini cerita dari ane gan. semoga berkenan
.Quote:
Quote:
Diubah oleh tianochosha 18-05-2014 00:15
anasabila memberi reputasi
1
106.8K
729
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
tianochosha
#2
LABIRIN Chapter 2 : "TITIK AWAL Part II"
Chapter 2
TITIK AWAL Part II
TITIK AWAL Part II
Quote:
Pukul 12 : 00
BRAKK !!
Bunyi pintu memecah tawa penghuni ruangan. Tamu masuk tanpa diundang. Tanpa permisi sang penegak aturan memasuki tempat tersangka berada. Semua yang awalnya terasa begitu damai,kini berubah... setelah negeri api menyerang...( apaan coba ?
). Pokoknya divisi tata tertib masuk kelas gw. 
“Yang namanya gw panggil, maju ke depan!” teriak salah satu anggota divisi tata tertib. Tanpa etika masuk dan membuyarkan keceriaan kelas kami. “Yang namanya Tian.. Mariana, maju ke depan!”
lanjutnya.Sementara gw dan Mariana berdiri maju ke depan kelas, yang lain hanya bisa diam melihat apa yang sedang terjadi.
“Apa kalian liat – liat, hah? Maw dipanggil juga?” tambahnya.
entah takut atau mungkin iba, kawan yang lain menunduk mengheningkan cipta melihat gw dan Mariana yang akan dihukum kembali. Seolah takut kami melarikan diri, kami berjalan di depan pasukan tata tertib dengan arahan yang sedikit nada berbau mengancam. Ternyata “RUANG KASIH SAYANG” cowok dan cewek dipisahkan. Gw berpisah dengan Mariana. Lalu di depan gw terlihat barisan pelanggar hukum yang mengantri untuk masuk tempat eksekusi. Gw pun masuk barisan. Seperti pekerja rodi, kami disuruh berjalan jongkok dengan telapak tangan di belakang kepala. Jalan kodok. Jujur, dengan tubuh agak gemuk seperti gw, ini gerakan yang agak sulit, ditambah lagi lorong menuju ruang kasih sayang yang agak jauh untuk ditempuh dengan gerakan seperti ini.

Ditengah gw yang lagi usaha sekuatnya buat jalan jongkok, di depan gw ada seorang anggota divisi tata tertib yang angkuhnya berdiri dengan sebelah kaki dilabuhkan ke atas kursi kecil di hadapannya. Dengan berbekal gulungan karton tipis, dia berdiri seolah selangkangannya itu portal yang harus kami lewati.
“Ayo cepet jalannya! lewatin kaki gw!”
teriaknya.“Lelet lo!”
PLAK!
Gulungan karton mendarat telak di pantat mahasiswa baru depan gw. Giliran gw yang lewat, gara – gara badan gw agak gemuk, tanpa sengaja gw nyundul “biji” di tengah selangkangannya
. Kakak divisi tata tertib Cuma bisa teriak – teriak ngilu sembari pegang selangkangannya seakan masa depannya terancam. 
“Anjriiiiiit!!! Joni gw, joni gw !” teriaknya.
“Setdah, anu-nya dikasih nama.
Beeeuh gawat ini.” Bisik gw.Gw digiring masuk ke kelas di sebelah korban sundulan nyasar kebiadaban kepala gw (
) . Gw dikasih hukuman extra. Sekilas, gw lihat anggota divisi tata tertib yang lain menahan tawa melihat salah seorang temannya mengeluh ngilu gara – gara sundulan gw. Setelah puas hukum gw, gw gabung dengan yang lain. Hari itu gw di hukum macem – macem. Gw di suruh nyanyi di depan mahasiswa baru kelas lain, ngerayu pohon mangga depan masjid, ngerayu semut yang lagi asyik baris, dan banyak lagi penderitaan gw hari itu. Dan parahnya semua itu direkam untuk dokumentasi
. Saat kumandang adzan ashar terdengar, gw pun diizinkan kembali ke kelas. Lega banget gw. 
Gw kembali ke kelas dengan langkah gontai. Di kelas gw Cuma bisa duduk bersandar di dinding kelas lamunin apa yang terjadi hari ini.

“Hey Tian! Di hukum apa aja lo?” tanya Mariana setengah teriak buyarkan lamunan gw.
“Gila lah! Gw push up, jalan jongkok, macem – macemlah, gw rasa nih berat badan gw turun 1 gram hari ini. Yang lebih gilanya gw disuruh ngerayu pohon segala mana pake ciuman sgala ma pohon depan masjid.”
“Hahaha parah..parah !” Mariana puas ngetawain gw, temen yang lain pun sama ngetawain apa yang udah menimpa gw hari ini.
“Apalagi pas ngerayu semut, gw disuruh ciuman ma semut. Dicium kagak, malah kemakan tuh semut.”
Tawa riuh semakin menjadi. Sekitar jam 5, akhirnya kami diizinkan pulang. Penderitaan hari itu ditutup dengan gw yang keliling nyari perlengkapan buat OSPEK hari kedua. Akhirnya gw bisa balik ke rumah dan tidur kebo ngumpulin tenaga buat penderitaan gw besoknya. Gw ga tau apalagi yang bakal nunggu gw besok.
Tapi alhamdulillah OSPEK hari kedua ga ada hal tragis yang menimpa gw. Semua berjalan lancar seperti seharusnya. Kaga ada hukuman yang menimpa gw. Bahkan disela – sela istirahat gw menyempatkan pup dengan leganya. MERDEKAAAA!

Lalu OSPEK hari ketiga yang berarti hari terakhir, ditutup dengan dikumpulkannya seluruh umat mahasiswa baru dalam sebuah gedung serba guna. Dimana Florent sang ketua divisi tata tertib memerintahkan kami para budak berbaris rapi, lalu setelah itu dari barisan yang rapi itu kami harus membentuk kepulauan sehingga kami terpecah pecah menjadi beberapa barisan dengan nama pulau yang berbeda – beda. Lalu Florent berteriak seraya menunjuk ke sebuah barisan, “kalian pulau apaaaaa???”. Lalu berturut – turut tiap kelompok menjawab, “kami pulau sumatera, kami jawa, kalimantan, sulawesi......”
Namun na’as, itu hanya jebakan betmen. Setelah itu Florent berteriak dengan lantang berapi – api seperti pahlawan kemerdekaan yang kesurupan arwah bung tomo, “kalian bodooooh!! Tolooool !! kenapa kalian mau dipecah belah? Seharusnya kalian bersatu!! Satu kesatuan, Indonesiaaa!!!”

Dan kami satu angkatan pun sukses kena hukum push up berantai secara berjama’ah. Tau push up berantai? Itu adalah push up yang menguntungkan bagi orang yang berdiri di baris paling depan. Dimana semua orang mengambil posisi push up, lalu orang paling depan menaruh kakinya pada punggung orang kedua, orang kedua menaruh kakinya pada punggung orang ketiga dan seterusnya. Dan gw orang paling belakang, gw harus menaruh kaki gw di punggung siapa? Ya di punggung lantaiiiii ! siaaaaal.
Sori gw kebawa suasana.OSPEK diakhiri dengan pemutaran video selama OSPEK. Disana terekam aksi hina para terdakwa yang terkena hukuman pas OSPEk. Salah satunya gw pas lagi ngerayu pohon, dan dengan mesranya ciuman dengan pohon depan masjid. Sungguh tidak senonoh
. Dan gw merasa hina sekali
. Lalu OSPEK pun ditutup. MERDEKAAAA!!! 
Acara usai sekitar setengah satu malam. Gw bingung maw balik pake apa. Maw ga maw gw harus bermalam di kampus. Temen – temen SMA gw yang sama – sama masuk kampus ini entah dimana. Gw pun akhirnya duduk menunggu datangnya pagi sendirian saja. Gw coba buat tidur, tapi makin gw memejamkan mata, makin hilang kantuk gw. Gw jadi kangen kamar gw. Tempat berantakan yang paling nyaman buat gw.

Selepas shalat shubuh gw pun balik pake angkutan umum bareng ibu – ibu yang pada ke pasar.
Sampe di rumah, gw langsung menjajah tempat tidur dan ngebo alias tidur kebo. Gw bangun pukul satu siang dan balik ke kampus Cuma buat ambil jadwal kuliah, abis itu balik dan ngebo lagi. 
Dua hari itu Cuma gw isi dengan hibernasi pendek. Akumulasi lelah ospek memaksa gw buat berat melepas tempat tidur. Pagi baru gw sambut dengan mood yang fresh
. Istirahat ngebo dua hari ini cukup buat membunuh penat gw. Hari ini kuliah pertama gw. Mata kuliah yang paling kaga gw sukai, “MATEMATIKA EKONOMI”
. Mata kuliah yang sering bikin kepala gw ngebul
. Gw ga pernah akur sama yang namanya matematika. Kami tidak bisa saling memahami. Matematika ga pernah maw ngertiin gw. Begitu pun gw, ga bisa memahami matematika. Kami tidak pernah harmonis. 
Gw pergi lebih pagi dari biasanya. Hari pertama kelas dimulai jam 7 pagi. Jalanan masih syahdu karena belum ternodai macet. Gw berandai – andai siang hari pun se-syahdu itu. Tanpa macet, tanpa timbal asap knalpot, tanpa keegoisan para raja jalan yang serakah memonopoli tiap jengkal aspal jalanan. Sampai di kampus ternyata masih sepi. Gw kepagian
. Gw rasa itu lebih baik daripada kesiangan. Gw sampai kelas, baru tiga orang yang datang. Suasana canggung terlihat di mimik mereka. Duduk berjauhan sembari sibuk dengan ego aktivitasnya masing – masing. Gw ikuti skenario yang ada. Gw pun duduk di kursi paling belakang dan sibuk bercengkrama dengan benak gw sendiri. Mahasiswa baru datang mengisi kursi kelas satu per satu. Hingga dosen datang dan memulai perkuliahan.Kelas di buka dengan absensi. Sang dosen memanggil setiap nama yang tertera di buku absen, diikuti acungan tangan dari setiap pemilik nama. Lalu dosen memanggil nama yang tak asing buat telinga gw. “MARIANA”. Tanpa dipinta mata gw melihat sekeliling, mencari sosok pemilik nama Mariana. Tapi tak ada satu pun yang mengakui bernama Mariana. “Bukan dia”, pikir gw. Akhirnya pas materi kuliah sedang berjalan, terdengar ketukan pintu dari sudut kelas.
TOK! TOK! TOK!
Ketukan pintu menyela ceramah dosen. “boleh saya masuk?” tanya orang di luar sana. “silahkan!” dosen mengizinkan. Gw sedikit terkejut, karena orang itu ternyata benar – benar Mariana yang OSPEK bareng gw. dia masuk kelas. Mencari kursi kosong untuk labuhan dirinya. Matanya mencari – cari, sekitar 5 detik pandangan kami beradu. “Dia inget gw ga yah?”
bisik gw dalem hati. Dia duduk di kursi paling depan dekat pintu. Terhalang dua kursi di depan tempat duduk gw.Perkuliahan berlanjut. Ceramah dosen mengalun menina bobokan sebagian orang. Bolpoin gw menari di atas kertas putih dan menambah cerita – cerita baru di tiap lembar kertas binder gw. tepat pukul 09.30 kelas berakhir. Mahasiswa tertib keluar kelas. Terbersit di benak gw buat sapa Mariana. Tapi gw ragu, jangan – jangan dia lupa gw. yah ga ada salahnya dicoba.
“Hey apa kabar Mariana?” tanya gw ke dia yang sedang sibuk beresin alat tulisnya.
“Siapa yah?”
Gw gendok abis
. Gw meminimalisir rasa malu gw. “oh! Maaf salah orang deh kek nya, gw duluan ya!”Gw keluar kelas dengan hati yang sedikit malu
. “sialan! Dia lupa gw.”
bisik gw.“Hey tukang rayu pohon! Cie cieee diusilin dikit marah nih yeee.” Panggil Mariana ke gw sambil susul gw dari belakang.
“Beuuuuh! Becandanya ga lucu ah.”
“Hahaha abis tadi gw pas masuk kelas, gw liat elu, cuek – cuek aja, senyumin kek dikit! Kirain lupa ma gw.”
“Haaah dasar tukang telat! Kirain lu yang lupa ma gw. pake pura – pura ga kenal lagi.”
“haha haha” kami tertawa kecil.
“Maw kemana kita?” tanyanya. Gw pun mengajaknya duduk di taman samping kelas bareng dia. sambil membunuh waktu untuk kelas yang berikutnya.

Bersambung....

Quote:
-Labirin-


Lanjut ke ==> Chapter 3 : "Panggil Gw Inong"
Diubah oleh tianochosha 05-03-2014 22:30
JabLai cOY memberi reputasi
1
