- Beranda
- Stories from the Heart
Accidentally In Love [True Story]
...
TS
robotpintar
Accidentally In Love [True Story]
![Accidentally In Love [True Story]](https://s.kaskus.id/images/2014/02/14/6448808_20140214023854.png)
Spoiler for Cover:
![Accidentally In Love [True Story]](https://s.kaskus.id/images/2014/02/14/6448808_20140214024411.png)
So she said what's the problem baby
What's the problem I don't know
Well maybe I'm in love (love)
Think about it every time
I think about it
Can't stop thinking 'bout it
How much longer will it take to cure this
Just to cure it cause I can't ignore it if it's love (love)
Makes me wanna turn around and face me but I don't know nothing 'bout love
Come on, come on
Turn a little faster
Come on, come on
The world will follow after
Come on, come on
Cause everybody's after love
So I said I'm a snowball running
Running down into the spring that's coming all this love
Melting under blue skies
Belting out sunlight
Shimmering love
Well baby I surrender
To the strawberry ice cream
Never ever end of all this love
Well I didn't mean to do it
But there's no escaping your love
These lines of lightning
Mean we're never alone,
Never alone, no, no
We're accidentally in love
Accidentally in love [x7]
Accidentally I'm In Love
Spoiler for Bagian 1:
#1
Quote:
“Gila lu Bon, roti segitu banyak sayang-sayang bakal empan ikan semua!”
“Emang ngapa? Ikan jaman sekarang mah ogah makan cacing, Meng”
Gua jawab aja sekena-nya, memang niatnya gua bawa roti dari rumah buat bekal pas mancing tapi, gara-gara umpan cacing gua dari tadi nggak disentuh ikan terpaksa gua ganti dengan roti. Siapa tau mujarab.
Nggak seberapa berselang, tali pancing gua bergetar, refleks gua tarik joran sekuatnya dan mendarat dengan mulus seekor ikan yang kurang lebih seukuran telapak tangan.
“Anjritt.. dari tadi dapet sapu-sapu mulu gua!”
Sambil melepas mata kail dari mulut ikan sapu-sapu yang barusan gua angkat dan langsung gua lempar lagi kedalam kali.
Tidak berapa lama, melantun lagu “Time Like This”-nya Foo Fighter dari ponsel gua. Tertera tulisan “Rumah” dilayarnya.
“Kenapa mak?”
Karena memang cuma nyokap gua aja yang selalu telpon melalui telepon rumah. Bokap dan adik gua selalu menggunakan ponsel-nya masing-masing jika ada keperluan.
“Assalamualaikum , Mancing kagak rapi-rapi luh, nih ada kiriman surat buat elu”
“Dari siapa?”
“Kagak tau, bahasanya emak nggak ngerti”
“Simpenin dulu, nih aye udah mau pulang”
“Yaudah buruan, jangan maghriban dijalan, pamali. Assalamualaikum”
“Waalaikumsalam”
Gua kantongin lagi ponsel k-ekantong celana pendek yang sekarang udah kotor campur lumpur, sambil berteriak ke temen gua; Komeng, yang lagi berkutat dengan tali pancingnya yang kusut.
“Meng, ayo balik.. udah sore”
“Belon juga dapet sekilo, udah mau balik aje”
“Yauda elu terusin dah, gua balik duluan”
Komeng menjawab dengan sedikit gumam di bibirnya terdengar seperti “Yaelah..” sambil berjalan gontai menyusul gua.
------
Itu kejadian beberapa tahun yang lalu, dimana gua dan Komeng masih biasa mencari cacing buat umpan ikan di kebun singkong belakang rumahnya Haji Salim dan kemudian pergi memancing disepanjang pinggiran sungai Pesanggrahan, Jakarta.
Sekarang, gua sedang duduk sambil bersandar di sebuah kursi lipat di pinggir danau di daerah Leeds, Inggris. Menghabiskan hari libur akhir musim gugur dengan memancing sambil bernostalgia, mencoba membangkitkan memori tentang memancing, tentang si Komeng, tentang Jakarta, tentang rumah.
Setelah berjam-jam memancing, menghabiskan berkaleng-kaleng ‘Diet Coke’ akhirnya gua memutuskan untuk menyudahi kegiatan sialan ini. Pulang dengan membawa 6 Ekor ikan Yelowtail (di Indonesia disebut ikan patin) dan sedikit kenangan tentang ‘rumah’, gua berjalan gontai menuju tempat dimana sepeda kesayangan gua diparkir, sempat kebingungan awalnya karena sekarang ada banyak sepeda yang diparkir, padahal tadi pagi baru sepeda gua aja yang nongkrong disini, setelah celingak-celinguk akhirnya ketemu juga dan gua mulai mengayuh.
Jarak dari tempat gua biasa mancing ke tempat dimana gua tinggal di Moorland Ave, Leeds kurang lebih 3,5 mil atau kalau dalam satuan Kilometer sekitar 5,5 Km. Jarak segitu kalo disini, di Inggris bisa dibilang ‘deket’, kalau naik sepeda bisa cuma 30 menit.
Oiya, nama gua Boni. Gua lahir dan dibesarkan di Jakarta. Saat ini gua kerja dan tinggal di Leeds, Inggris sekitar 2-3 jam dari London (dengan kereta). Gua kerja sebagai Sound Designer disalah satu Agensi perfilman dan periklanan di Leeds yang juga punya kantor di London. Sudah hampir 4 tahun gua kerja dan tinggal disini, ditempat dimana nggak ada sungai dengan air berwarna cokelat keruh yang banyak ikan sapu-sapunya dan nggak ada teman yang suka menggerutu “Yaelah”.
Sambil mendengarkan “Heaven” nya Lost Lonely Boys lewat headset, gua mengayuh sepeda menuju ke rumah, pulang. Melewati jalan berpasir yang dipenuhi pohon-pohon maple di kedua sisinya menuju jalan utama. Jalan yang sangat sepi dan hening, jam menunjukkan angka 4 sore, menandakan waktu shalat maghrib, di sabtu sore seperti sekarang ini memang didaerah sini sangat sepi, kebanyakan penduduk sekitar sedang ke stadion atau pub-pub untuk menyaksikan Leeds United bertanding. Ingin buru-buru sampai di rumah, karena perut udah mulai keroncongan, gua kayuh sepeda lebih cepat. Sampai kemudian terdengar sayup-sayup suara musik yang makin lama makin nyaring, suara musik RnB yang sepertinya diputar dari dalam mobil dengan volume maksimal. Suara tersebut datang dari arah belakang dan kemudian menyusul gua, sebuah BMW silver yang melaju cepat bahkan boleh dibilang sangat cepat, sambil meninggalkan debu persis seperti mobil yang sedang Rally Dakkar.
“Orang Gila!!” gua mengumpat, masih sambil dengerin coda lagu “Heaven” nya Lost Lonely Boys. Sampai gua melihat beberapa detik kemudian lampu rem BMW tersebut menyala dan kemudian berhenti.
Deg!, “Wuanjrit, sakti juga tuh orang bisa denger suara gua” sambil berhenti dan melepas headset dari telinga. Yang ternyata setelah gua sadar, suara gua nggak sepelan pas pakai headset tadi. Gua nunggu sambil dag dig dug, kalau dia ngerti ucapan gua, dia pasti orang Indonesia dan kalo ternyata bukan gua bakal siap-siap kabur.
Pintu penumpang pun terbuka, terbuka secara paksa tepatnya, sedetik kemudian keluar seseorang dari kursi penumpang, terhuyung dan kemudian terjatuh, terdengar makian dari dalam BMW tersebut mungkin seperti “bitch” atau semacamnya dan sesaat kemudian BMW tersebut pergi, mengasapi orang yang tersungkur itu dengan debu jalanan.
Nggak mau terlalu ambil pusing, sambil bernafas lega dan bilang dalam hati; “untung bukan gua”, gua meneruskan mengayuh sepeda.
“Get up Bro, life is brutal”
gua berkata ke orang itu sambil melewatinya tetap melanjutkan mengayuh. Dan beberapa meter kemudian gua mendengar sebuah teriakan, teriakan yang (pada akhirnya) bakal merubah hidup gua.
“Woii.. Help me!, you’re Indonesian, right?”
“Tolongin gue dong…”
Gua berhenti mengayuh, turun dan bengong. Sudah hampir setahun gua nggak denger secara langsung orang bicara ke gua dengan bahasa Indonesia dan suara perempuan pula.. Lima, ah mungkin sepuluh detik kemudian baru gua memalingkan muka tapi masih tetap bengong.
“Woii..”
Akhirnya gua turun dari sepeda, kemudian menghampiri orang itu. Terduduk di depan gua sosok perempuan, hitam manis dengan kepala tertutup hood jaket hitam, celana jeans dan sepatu model boots sebetis berwarna cokelat.
“Elu nggak apa-apa?”
“Menurut Lo? Kalo gue gak apa-apa, ngapain gua teriak minta tolong elu!!”
Gua nggak menjawab, berusaha membantu dia berdiri sambil bertanya lagi bagaimana keadaannya. Sekali lagi dia mengumpat;
“Gila!, nggak punya hati banget sih lu!, ya jelas lah gue kenapa-kenapa.. nih liat!”
Sambil memperlihatkan telapak tangan dan siku-nya yang luka dan kemudian menyibak celana jeans-nya yang kotor terkena debu dan sobek di beberapa bagian akibat terlempar dari mobil tadi. Sesaat baru dia sadar kalau lutut kanannya juga luka sambil meringis kesakitan dia mencoba membersihkan luka tersebut dengan air liurnya. Sangat Indonesia sekali.
“Gua pikir tadi orang mabok yang lagi berantem, disini mah biasa begitu,mbak!”
Kemudia gua kasih satu-satunya ‘Diet Coke’ sisa memancing tadi, harusnya sih air putih tapi Cuma itu yang gua punya sekarang. Sambil menggerutu karena dikasih ‘Diet Coke’ daripada air putih, diminum juga tuh minuman soda. Kemudian gua menawarkan diri buat mengantar dia ke sebuah toko kecil di ujung jalan ini, untuk membeli plester untuk membalut luka-nya.
“Jauh nggak?”
Dia bertanya sambil menurunkan hood jaketnya dan menyibak rambutnya yang pendek seleher. Kemudian terlihat jelas sebuah luka lebam di sudut mata sebelah kiri-nya, tidak, bukan cuma satu, setidaknya ada 3 luka lebam, selain disudut matanya, satu lagi di dahi sebelah kiri dan satu lagi di sudut bibir sebelah kanan, yang terakhir tampak seperti luka yang baru karena masih meninggalkan sisa bekas darah yang membeku.
Gua nggak berani bertanya, gua hindari menatap kewajahnya sambil menjawab pertanyaa-nya bahwa tokonya nggak begitu jauh dari sini, sambil menunjuk ke arah jalan utama.
---
“Emang ngapa? Ikan jaman sekarang mah ogah makan cacing, Meng”
Gua jawab aja sekena-nya, memang niatnya gua bawa roti dari rumah buat bekal pas mancing tapi, gara-gara umpan cacing gua dari tadi nggak disentuh ikan terpaksa gua ganti dengan roti. Siapa tau mujarab.
Nggak seberapa berselang, tali pancing gua bergetar, refleks gua tarik joran sekuatnya dan mendarat dengan mulus seekor ikan yang kurang lebih seukuran telapak tangan.
“Anjritt.. dari tadi dapet sapu-sapu mulu gua!”
Sambil melepas mata kail dari mulut ikan sapu-sapu yang barusan gua angkat dan langsung gua lempar lagi kedalam kali.
Tidak berapa lama, melantun lagu “Time Like This”-nya Foo Fighter dari ponsel gua. Tertera tulisan “Rumah” dilayarnya.
“Kenapa mak?”
Karena memang cuma nyokap gua aja yang selalu telpon melalui telepon rumah. Bokap dan adik gua selalu menggunakan ponsel-nya masing-masing jika ada keperluan.
“Assalamualaikum , Mancing kagak rapi-rapi luh, nih ada kiriman surat buat elu”
“Dari siapa?”
“Kagak tau, bahasanya emak nggak ngerti”
“Simpenin dulu, nih aye udah mau pulang”
“Yaudah buruan, jangan maghriban dijalan, pamali. Assalamualaikum”
“Waalaikumsalam”
Gua kantongin lagi ponsel k-ekantong celana pendek yang sekarang udah kotor campur lumpur, sambil berteriak ke temen gua; Komeng, yang lagi berkutat dengan tali pancingnya yang kusut.
“Meng, ayo balik.. udah sore”
“Belon juga dapet sekilo, udah mau balik aje”
“Yauda elu terusin dah, gua balik duluan”
Komeng menjawab dengan sedikit gumam di bibirnya terdengar seperti “Yaelah..” sambil berjalan gontai menyusul gua.
------
Itu kejadian beberapa tahun yang lalu, dimana gua dan Komeng masih biasa mencari cacing buat umpan ikan di kebun singkong belakang rumahnya Haji Salim dan kemudian pergi memancing disepanjang pinggiran sungai Pesanggrahan, Jakarta.
Sekarang, gua sedang duduk sambil bersandar di sebuah kursi lipat di pinggir danau di daerah Leeds, Inggris. Menghabiskan hari libur akhir musim gugur dengan memancing sambil bernostalgia, mencoba membangkitkan memori tentang memancing, tentang si Komeng, tentang Jakarta, tentang rumah.
Setelah berjam-jam memancing, menghabiskan berkaleng-kaleng ‘Diet Coke’ akhirnya gua memutuskan untuk menyudahi kegiatan sialan ini. Pulang dengan membawa 6 Ekor ikan Yelowtail (di Indonesia disebut ikan patin) dan sedikit kenangan tentang ‘rumah’, gua berjalan gontai menuju tempat dimana sepeda kesayangan gua diparkir, sempat kebingungan awalnya karena sekarang ada banyak sepeda yang diparkir, padahal tadi pagi baru sepeda gua aja yang nongkrong disini, setelah celingak-celinguk akhirnya ketemu juga dan gua mulai mengayuh.
Jarak dari tempat gua biasa mancing ke tempat dimana gua tinggal di Moorland Ave, Leeds kurang lebih 3,5 mil atau kalau dalam satuan Kilometer sekitar 5,5 Km. Jarak segitu kalo disini, di Inggris bisa dibilang ‘deket’, kalau naik sepeda bisa cuma 30 menit.
Oiya, nama gua Boni. Gua lahir dan dibesarkan di Jakarta. Saat ini gua kerja dan tinggal di Leeds, Inggris sekitar 2-3 jam dari London (dengan kereta). Gua kerja sebagai Sound Designer disalah satu Agensi perfilman dan periklanan di Leeds yang juga punya kantor di London. Sudah hampir 4 tahun gua kerja dan tinggal disini, ditempat dimana nggak ada sungai dengan air berwarna cokelat keruh yang banyak ikan sapu-sapunya dan nggak ada teman yang suka menggerutu “Yaelah”.
Sambil mendengarkan “Heaven” nya Lost Lonely Boys lewat headset, gua mengayuh sepeda menuju ke rumah, pulang. Melewati jalan berpasir yang dipenuhi pohon-pohon maple di kedua sisinya menuju jalan utama. Jalan yang sangat sepi dan hening, jam menunjukkan angka 4 sore, menandakan waktu shalat maghrib, di sabtu sore seperti sekarang ini memang didaerah sini sangat sepi, kebanyakan penduduk sekitar sedang ke stadion atau pub-pub untuk menyaksikan Leeds United bertanding. Ingin buru-buru sampai di rumah, karena perut udah mulai keroncongan, gua kayuh sepeda lebih cepat. Sampai kemudian terdengar sayup-sayup suara musik yang makin lama makin nyaring, suara musik RnB yang sepertinya diputar dari dalam mobil dengan volume maksimal. Suara tersebut datang dari arah belakang dan kemudian menyusul gua, sebuah BMW silver yang melaju cepat bahkan boleh dibilang sangat cepat, sambil meninggalkan debu persis seperti mobil yang sedang Rally Dakkar.
“Orang Gila!!” gua mengumpat, masih sambil dengerin coda lagu “Heaven” nya Lost Lonely Boys. Sampai gua melihat beberapa detik kemudian lampu rem BMW tersebut menyala dan kemudian berhenti.
Deg!, “Wuanjrit, sakti juga tuh orang bisa denger suara gua” sambil berhenti dan melepas headset dari telinga. Yang ternyata setelah gua sadar, suara gua nggak sepelan pas pakai headset tadi. Gua nunggu sambil dag dig dug, kalau dia ngerti ucapan gua, dia pasti orang Indonesia dan kalo ternyata bukan gua bakal siap-siap kabur.
Pintu penumpang pun terbuka, terbuka secara paksa tepatnya, sedetik kemudian keluar seseorang dari kursi penumpang, terhuyung dan kemudian terjatuh, terdengar makian dari dalam BMW tersebut mungkin seperti “bitch” atau semacamnya dan sesaat kemudian BMW tersebut pergi, mengasapi orang yang tersungkur itu dengan debu jalanan.
Nggak mau terlalu ambil pusing, sambil bernafas lega dan bilang dalam hati; “untung bukan gua”, gua meneruskan mengayuh sepeda.
“Get up Bro, life is brutal”
gua berkata ke orang itu sambil melewatinya tetap melanjutkan mengayuh. Dan beberapa meter kemudian gua mendengar sebuah teriakan, teriakan yang (pada akhirnya) bakal merubah hidup gua.
“Woii.. Help me!, you’re Indonesian, right?”
“Tolongin gue dong…”
Gua berhenti mengayuh, turun dan bengong. Sudah hampir setahun gua nggak denger secara langsung orang bicara ke gua dengan bahasa Indonesia dan suara perempuan pula.. Lima, ah mungkin sepuluh detik kemudian baru gua memalingkan muka tapi masih tetap bengong.
“Woii..”
Akhirnya gua turun dari sepeda, kemudian menghampiri orang itu. Terduduk di depan gua sosok perempuan, hitam manis dengan kepala tertutup hood jaket hitam, celana jeans dan sepatu model boots sebetis berwarna cokelat.
“Elu nggak apa-apa?”
“Menurut Lo? Kalo gue gak apa-apa, ngapain gua teriak minta tolong elu!!”
Gua nggak menjawab, berusaha membantu dia berdiri sambil bertanya lagi bagaimana keadaannya. Sekali lagi dia mengumpat;
“Gila!, nggak punya hati banget sih lu!, ya jelas lah gue kenapa-kenapa.. nih liat!”
Sambil memperlihatkan telapak tangan dan siku-nya yang luka dan kemudian menyibak celana jeans-nya yang kotor terkena debu dan sobek di beberapa bagian akibat terlempar dari mobil tadi. Sesaat baru dia sadar kalau lutut kanannya juga luka sambil meringis kesakitan dia mencoba membersihkan luka tersebut dengan air liurnya. Sangat Indonesia sekali.
“Gua pikir tadi orang mabok yang lagi berantem, disini mah biasa begitu,mbak!”
Kemudia gua kasih satu-satunya ‘Diet Coke’ sisa memancing tadi, harusnya sih air putih tapi Cuma itu yang gua punya sekarang. Sambil menggerutu karena dikasih ‘Diet Coke’ daripada air putih, diminum juga tuh minuman soda. Kemudian gua menawarkan diri buat mengantar dia ke sebuah toko kecil di ujung jalan ini, untuk membeli plester untuk membalut luka-nya.
“Jauh nggak?”
Dia bertanya sambil menurunkan hood jaketnya dan menyibak rambutnya yang pendek seleher. Kemudian terlihat jelas sebuah luka lebam di sudut mata sebelah kiri-nya, tidak, bukan cuma satu, setidaknya ada 3 luka lebam, selain disudut matanya, satu lagi di dahi sebelah kiri dan satu lagi di sudut bibir sebelah kanan, yang terakhir tampak seperti luka yang baru karena masih meninggalkan sisa bekas darah yang membeku.
Gua nggak berani bertanya, gua hindari menatap kewajahnya sambil menjawab pertanyaa-nya bahwa tokonya nggak begitu jauh dari sini, sambil menunjuk ke arah jalan utama.
---
DAFTAR ISI
Quote:
CHAPTER 1
#1 The Beginning
#2 Truly Gentlemen
#3 Place Called Home
#4 The Morning Fever
#5 A Miserable Story
#6 Night Rain
#7 Inside My Head
#8 That Day
#9 Be Tough
#10 Mukena
#1 The Beginning
#2 Truly Gentlemen
#3 Place Called Home
#4 The Morning Fever
#5 A Miserable Story
#6 Night Rain
#7 Inside My Head
#8 That Day
#9 Be Tough
#10 Mukena
Quote:
CHAPTER 2
#11-A Trip To Manchester
#11-B The Swiss Army
#12 Here's and Back Again
#13 I Miss You So Bad
#14 Going Mad
#15 Promise
#16 You’ll Be The Only Light I See
#17 The Winter Tears
#18 She's Gone
#19 That Memories
#11-A Trip To Manchester
#11-B The Swiss Army
#12 Here's and Back Again
#13 I Miss You So Bad
#14 Going Mad
#15 Promise
#16 You’ll Be The Only Light I See
#17 The Winter Tears
#18 She's Gone
#19 That Memories
Quote:
CHAPTER 3
[URL="http://www.kaskus.co.id/show_post/530ff7e41acb17030d8b48f1/479/- "]#19-A The Hood[/URL]
#19-B Heres And Back Again II
#19-C Weak
#19-D Surrender
#19-E The Choice
#19-F Anything For You
#19-G Chelsea Number 8
#19-H Its not always about gold and glory
#19-I Aku
#19-J The Words
#19-K The Persian Cat
#19-L You Really The Only Light I See
#19-M So Be It
#19-N Less Than Perfect
#20 That Day II
[URL="http://www.kaskus.co.id/show_post/530ff7e41acb17030d8b48f1/479/- "]#19-A The Hood[/URL]
#19-B Heres And Back Again II
#19-C Weak
#19-D Surrender
#19-E The Choice
#19-F Anything For You
#19-G Chelsea Number 8
#19-H Its not always about gold and glory
#19-I Aku
#19-J The Words
#19-K The Persian Cat
#19-L You Really The Only Light I See
#19-M So Be It
#19-N Less Than Perfect
#20 That Day II
Quote:
CHAPTER 4 The Prekuel
#21 The Prologue
#22 My Precious
#23 Ticket to Ride
#24 Singapore
#25 Dreams
#26 The Awkward Moment
#27 Logic
#28 Driver In Life
#29 The Risk Taker
#30 Sorry
#31 Rise Again
#32 Goodbye
#21 The Prologue
#22 My Precious
#23 Ticket to Ride
#24 Singapore
#25 Dreams
#26 The Awkward Moment
#27 Logic
#28 Driver In Life
#29 The Risk Taker
#30 Sorry
#31 Rise Again
#32 Goodbye
Quote:
CHAPTER 5!!
#33 London
#34 Unwell
#35 I Was Here
#36 Leeds
#37 New Home, New Life
#38 Alone
#39 Intermezo
#40 Goin' Trough
#41 At Glance
#42 The Past of The Future
#33 London
#34 Unwell
#35 I Was Here
#36 Leeds
#37 New Home, New Life
#38 Alone
#39 Intermezo
#40 Goin' Trough
#41 At Glance
#42 The Past of The Future
Quote:
CHAPTER 6
#43 My First ...
#44 If Lovin' You ...
#45 Goin' Back
#46 Leeds II
#47 I Love You (Jealousy)
#48 After All
#49 Hell Yeah
#50 Conflict
#51 Liar-Liar
#52 Memories
#43 My First ...
#44 If Lovin' You ...
#45 Goin' Back
#46 Leeds II
#47 I Love You (Jealousy)
#48 After All
#49 Hell Yeah
#50 Conflict
#51 Liar-Liar
#52 Memories
Quote:
Quote:
Diubah oleh robotpintar 10-04-2014 08:46
carangkasampah dan 121 lainnya memberi reputasi
120
1.3M
Kutip
2.3K
Balasan
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
robotpintar
#331
Spoiler for Bagian ke Tujuhbelas:
#17 The Winter Tears
Quote:
Kami berdua masuk ke dalam kereta Virgin Train jurusan London, Gua sengaja nyari tiket yang sekali jalan. Males gonta-ganti kereta, sedikit mahal nggak apa-apalah.
”Bon.. gue pojok.. gue di pojok...”
Ines merangsek ke depan setelah gua menemukan kursi tempat kita duduk. Kemudian langsung menjatuhkan diri di kursi sebelah kiri dari lorong, disudut jendela. Dia mengelus –elus sandara kepala kursi disebelahnya.
”Sini.. elo disini..”
”Ya iyalah gua udah pasti duduk disini, masak gua di sono...”
Lima menit berikutnya kereta mulai bergerak. Jam 7.05 pas, sesuai jadwal yang tertera di tiket, Cuma agak kecepetan sepersekian detik aja. Gua meletakkan ransel di bawah kaki dan menyenderkan kepala ke kursi beludru berwarna merah.
”Bon..”
”Kita turunnya dimana?”
”King Cross...”
”Owh..”
”Tau..?”
”Tau.. yang di film harpot kan.. eh emang beneran ada platform 9 ½ disono?”
”9 ¾..”
Gua mengoreksi..
”Iya maksudnya itu..”
”Ada.. ”
”Beneran..?”
”Maksud gua platform itu ada, emang dibikin buat para fans Harpot aja, nggak bener-bener berfungsi sebagai platfrom..”
”Terus beneran ada di antara Platform 9 sama 10, bon?”
”Hahaha.. boro-boro.. platform 9 sama 10 bentuknya aja beda banget sama yang di film..”
”Wah ketipu dong gue..”
”Haha iya...”
”Ntar foto ya disitu...”
”Iya..”
Jam 9.45 kereta berhenti. Kami sudah tiba di King Cross Station. Ines langsung ngeloyor keluar kemudian celingak-celinguk mencari platform 9 ¾.
”Dimana, bon..”
Gua hanya tersenyum sambil menghampirinya. Kemudian berjalan ke arah berlawanan dengan Ines, dia berlali kecil menyusul gua
”Ish.. ninggalin... kebiasaaan”
Gua tersenyum kemudian berhneti dan menunjukkan sebuah arah ke Ines
”Nih, lu liat nggak ada toko buku disitu?”
”He eh..”
”Dibawah jembatan penyebrangan..”
”Iya.. iya..”
”Yaitu tempatnya..”
Ines kemudian berlari kecil, cepat seperti anak kelinci, melewati kerumunan orang, sampai kemudian dia tiba di tempat yang gua tunjukkan tadi, dia melambai-lambai sambil memanggil.
”Bon.. bon.. iya ada.. beneran.. sini.. cepet..”
Gua menepok jidat. Malu-maluin aja nih orang.
Akhirnya kami menghabiskan 15 menit untuk sekedar berfoto, Ines berpose dengan trolli yang setengahnya tertanam ke dalam tembok bata berwarna merah.
---
Kami berdua keluar dari stasiun, disambut cuaca yang dingin menusuk tulang gua bergegas menarik Ines menyebrang jalan menuju ke pemberhentian bus, melewati perempatan menyilang yang asimetris di depan King Cross St. Kemudian Ines berhenti sesaat dan menarik bagian bawah jaket gua, kemudian menunjuk sebuah rumah makan cepat saji berlogo ’M’.
”Laper..?”
”Iya..”
”Emang nggak bosen makan gituan mulu..”
”Emang ada yang lain...”
”Yang lebih mahal banyak...”
”Yee.. emang gua mo beli obat nyamuk semprot...”
”Yang lain aja, nanti.. tahan dulu..”
”Iya deh...”
Kemudian kami sudah berada di bus bernomor 30 yang menuju ke Marble Arch.
”Kok tumben kali ini nggak nanya ’nes mau naik apa bis atau trem’?”
”Kali ini kan BEDA, be e be de a da, Beda!”
Stelah kurang lebih 10 menit kami turun di pemberhentian di Pertigaan Marylebone Rd. Disambut dengan cuaca dingin (lagi) dan kerumunan orang yang juga ikut turun di pemberhentian yang sama.
Ines memandang ke seberang jalan, memicingkan mata dan menunjuk sebuah bangunan dengan kubah besar berwarna hijau muda yang terletak persis di muka pertigaan Marylebone sedangkan disebelah bangunan tersebut terdapat sebuah cafe Pizza dan Spaghetti, Allsop St berada ditengahnya membelah dua bangunan tersebut menjadi dua.
”Itu tempat apaan bon, kok rame banget orang pada ngantri...”
”Itu tempat yang bakal kita tuju..”
”Tempat apaan?”
Gua nggak menjawab kemudian mulai menggandeng tangannya dan menyebrang jalan menuju ke bangunan dengan kubah besar berwarna hijau muda, Madame Tussauds – London.
Sampai didepan tempat mengantri tiket Ines menarik-narik bagian lengan jaket gua.
”Ini tempat apaan?”
Ines berbisik.
”Lah itu baca tulisannya kan ada tuh... Madame Tussauds”
”Tempat patung-patung yang mirip orang beneran itu ya..”
”Iya...”
”Asiiikk..”
Gua kemudian mengantri, tempatnya emang belum buka tapi yang antri sudah banyak, mungkin sekitar 20-30 orang. Dan hampir rata-rata wisatawan asing, terdengar dari dialeg dan gaya bahasanya, di depan gua persis sepertinya orang India, terlihat dari gaya ngomongnya yang sambil goyang-goyang leher dan baunya itu lho, prengus.
Ines menarik-narik lengan jaket gua lagi.
”Apaan sih nes, narik-narik mulu...”
”Mau itu..”
Dia berkata sambil menunjuk ke kios Es-krim merah muda disudut pertigaan didepan Madame Tussauds yang juga nggak kalah antriannya dari tempat ini. Gua merogoh kantong jaket, mengeluarkan selembar pounds lecek dan memberikannya ke Ines sambil berkata ”Dingin-dingin makan es”. Dia Cuma tersenyum dan ngeloyor pergi.
Nggak lama dia balik lagi kemudian berjingkat, mendekatkan bibirnya ke arah telinga gua.
”Bon, kalo ’a quid’tuh berapa?”
”Satu Pound..”
Gua menjawab sambil mengangkat telunjuk, menirukan angka satu. Ines mengangguk sambil bibirnya membentuk huruf ’O’ kemudian berbalik.
Gua menatap kembali ke antrian, sudah agak maju sedikit demi sedikit tapi suhu dingin ini bener-bener bikin kaki nggak bisa diem. Gua menengok ke arah Ines, dia sedang berdiri sambil mengantri dan melambaikan tangan.
”Bon.. mau nggak?”
Ines datang sambil menjilat-jilat es krim. Gua mengeleng kemudian bergidik. Brrr kuat juga nih anak, dingin dingin makan es.
”Ini bukan es krim, cokelat...”
”Lah, kok kiosnya gambar es?”
”Nggak tau..”
Setengah jam kemudian gua sudah berada di dalam Museum Madame Tussauds, jadi tukang fotonya Ines, yang sibuk kesana kemari, bergerak dari satu patung ke patung yang lain, sambil setengah berteriak; ”Bon.. foto dong”, ”Lagi bon..lagi”, ”Sekali lagi bon, tadi jelek posenya”, ”Bon.. bon.. yang ini..”
Hampir dua jam gua berada di dalam museum ini, betis udah mulai panas, tapi anehnya, ni perempuan masih kuat aja jalan mondar mandir kesana kemari.
”Bon, yang sama Sharuk Khan udah belom sih?”
”Udah tadi..”
”Coba mana liat?”
Dia menghampiri gua dan mengambil kamera poket digital dari tangan gua.
”Yah, jelek... ulang deh..”
”Mau sampe berapa kali?”
”Ya tadi kan jelek, ada bayangan orang lewat..”
”Yaudah..”
Gua melihat jam saat berjalan keluar dari museum, nggak terasa udah dua setengah jam kita di dalam. Waktu kesini pertama kali, sendirian, gua Cuma di dalem nggak sampe lima belas menit. Gua kemudian menggandeng tangan Ines.
”Mau pizza?”
”Mau mau mau...”
Kemudian kami menyebrangi jalan Allsop St menuju ke restaurant pizza yang letaknya bersebrangan dengan Madame Tussauds, sebuah bangunan tujuh lantai, dimana bagian bawahnya dibuat menjadi Restaurant Pizza dan kopi. Disebelahnya, di jalan Marylebone Rd, masih terletak di samping Restaurant Pizza terdapat banyak toko-toko souvenir, retaurant, kafe, pub dan toko-toko pakaian.
Kami duduk di dalam. Ines memesan seloyang pizza ukuran medium, gua memesan secangkir kopi.
”Kok nggak makan...”
”Nggak ah, minta elo aja ntar...”
”Ish.. ogah..”
”Dikiiitt.. aja..”
”Pesen sendiri dong...”
”Nggak ah, mau gangguin elu aja..”
”Diiih..”
Gua tersenyum sambil menatap matanya, Ines melepas kupluknya, tercium wangi rambut yang bikin lutut gua lemes.
”Abis ini kita kemana?”
”Someplace...”
”Ke...”
”Lu suka Sherlock Holmes nggak?”
”Tau siih, tapi nggak banyak...detektif kan?”
”Iya betul...”
”Elu tau nggak nes, kalo konon katanya Si Sherlock ini bisa memilih hal yang mau diingatnya atau nggak, jadi dia bisa milih hal-hal penting untuk diingat sedangkan hal yang nggak penting ya dilupakan”
”Lah, bukannya mekanisme ingatan manusia emang begitu ya bon?”
”Nggak juga, sekarang gua tanya ke elo deh.. berapa jumlah planet di tata surya kita”
”Sembilan.. kan?”
”Apa aja?”
” Merkurius, Venus, Bumi, Mars, Yupiter, Saturnus, Uranus, Neptunus dan Pluto.. eh pluto masih masuk nggak ya..”
”Kok elu hapal?”
”Yeee.. kan itu mah diajarin kali di SD..”
”Tapi masih inget sampe sekarang?”
”Masih...”
”Guna-nya buat apa, dalam kehidupan lu?”
”Buat apa ya...bentar.. bentar..”
Gua menyeruput kopi sambil menunggu jawaban dari Ines.
”Nggak ada sih...”
”Menurut Sherlock, yang nggak perlu inget ya nggak usahdiinget...”
”Hahahaha.. kalo gue, perlu di inget nggak sama lo?”
”Perlu,................ banget”
”Serius...?”
”Iya..”
”Terus hubungannya pertanyaan gua tentang kita mau kemana abis ini, dengan sherlock apa?”
”Abis ini kita ke Baker Street, nggak jauh dari sini, tempat dimana ada museum Sherlock Holmes..”
”Oke deh, trus dinnernya dimana?”
”Ya disitu juga”
Ines melongo, masih sambil mengunyah Pizza pesanannya yang baru saja datang.
---
Gua menggandeng tangan Ines melewati trotoar dengan toko-toko souvenir di sebelah kanan-nya, dia berjalan sambil menyumbat telinganya dengan headset dan mendendangkan sebuah lagu. Gua mencabut haedset sebelah kiri dan mendengarkannya, kami berjalan bergandengan tangan menuju ke 221B, Baker St sambil mendendangkan sebuah lagu; Accidentally in Love.
Gua menatap Ines yang tersenyum lebar, hampir seperti menyeringai, gua menarik kepalanya dengan lengan kedalam pelukan gua. Kemudian gua membisikan sesuatu ke telinga-nya.
”Seneng nggak?”
”Seneng... banget.. makasih ya..bon”
”Nes... elo tau nggak sebelumnya gua ketemu elu, hidup gua biasa-biasa aja..”
”Oya...terus setelah ketemu gue?”
”Tambah biasa-biasa aja..”
”Hahahaha.... gak ngaruh dong”
”Nggak kok yang tadi becanda... serius, pas abis ketemu elu, hidup gua kayak lebih cerah, kan udah pernag gua bilang; You’ll be the only light i see...”
Ines tersenyum dan memandang gua.
”Kenapa ya, ada orang kayak elo bon?”
”Maksudnya? Ganteng kayak gua?”
”Whattt??”
”Terus kayak apa?”
”Ya orang yang mau ngorbanin segalanya buat orang yang bahkan belom ada sebulan lu kenal..”
”Nes, kadang kan emang orang bisa melakukan sesuatu hal tanpa ada alasan yang jelas, tanpa harus ada A sebelum B, dan itu yang gua lakukan ke elu..”
”...”
Nggak terasa kami sudah berada di depan Sherlock Holmes museum, sebuah rumah mungil yang sekarang di cat dengan nuansa hijau tua. Setelah membeli tiket seharga £5 per orang, gua dan Ines segera masuk ke dalam. Rumah mungil ini terdiri dari 4 lantai, dilantai pertama kita udah disambut sama pemandu wisata, yang memperkenalkan diri sebagai Mrs.Hudson. Ines yang terlihat percaya diri membalas perkenalan diri Mrs.Hudson.
”Hii.. mrs.hudson, my name is Ines..”
”Alright Ines, here we go...”
Gua mengikuti Ines dan si pemandu dari belakang, kemudian membisiki Ines.
”Nes, elu tau siapa Mrs.Hudson itu?”
”Nggak, kenapa?”
”Di dalam cerita, dia itu Landlord-nya si Sherlock...”
”Ah elo jangan nakut-nakutin deh..”
”Yee gua bukan nakut-nakutin.. gua Cuma mau ngasih tau kalo yang didepan lu itu Mrs.Hudson palsu, ngapain elu pake kenalan segala...”
”Hahahahahahahaha.. nggak tau gue...sial ditipu dong kita?”
”Hah, elu doang si yang ketipu..”
Ines mencubit lenga gua sambil menjulurkan lidah.
Setelah lelah hilir mudik di Museum Sherlock, gua mengajak Ines turun dari lantai tiga dimana banyak patung lilin dari tokoh tokoh fiksi yang ada di Novel dan Film-film Sherlock Holmes, dia masih (tetep) berfoto ria dengan patung-patung tersebut. Sampai-sampai gua harus menakut-nakuti dia dengan bilang kalau malem patung-patung ini pada bergerak, sekonyong-konyong Ines langsung berlari turun dan keluar, gua yang turun belakangan dapat teguran dari penjaga museum, yang kurang lebih inti-nya : ”Jangan membuat gaduh”, gua tersenyum sambil mengangguk kepada si petugas dan keluar, Ines berdiri di tepi trotoar sambil berkata ”Kasian deh diomelin...”
Gua mengapit tangannya dan kemudian berjalan ke arah kiri dari muka museum Sherlok Holmes, kurang lebih tiga bangunan dari situ terdapat sebuah Kafe dengan nuansa Hijau yang bernama; The Volunteer. Dikala musim panas kafe ini biasanya menggelar kursi dan meja tambahan seperti yang ada di seberang Museum Madame Tussauds tadi. Gua melangkahkan kaki kesana, dan masuk kedalam.
Seorang pelayan mengarahkan gua ke sebuah meja dengan sepasang kursi yang dekat dengan jendela samping, kemudian dia bertanya.
”This is a look comfort for you?”
”This is great..”
Kemudian dia menyerahkan sebuah menu, menunjukkan menu andalan disini dan meninggalkan kami untuk memilih menu-nya
Ines memilih Tenderloin steak sebagai menu utamanya dan Cokelat Jahe sebagai menu penutupnya, gua Cuma mengamini doang, idem. Lima belas menit kemudian manu utama sudah terhidang, si pelayan menawarkan apakah gua mau anggur, kemudian gua menatap Ines, kami saling menatap sampai akhirnya gua menggeleng dan berkata tidak.
”Nes... sorry ya gua nggak bisa ngajak lu makan di tempat yang lebih keren, nggak bisa ngajak lu candle light dinner..”
”Bon.. elu tau nggak, selama ini, cowok ngajak gua jalan, kencan, ngedate apapun sebutannya, paling-paling nonton, gitu-gitu aja... belom pernah gua seumur umur diajak dating nonton bola di stadion dan menurut gua ini adalah dating gua yang paling perfect...”
Gua kemudian mengeluarkan amplop cokelat dari dalam ransel dan memberikannya ke Ines.
”Apaan nih?”
”Buka aja?”
Ines membuka amplop dan mengeluarkan isinya. Sesaat dia diam, kemudian menutup mulutnya, air mata keluar dari kedua sudut matanya. Dia meletakkan amplop tersebut dimeja dan melanjutkan makan, diam dan terisak, makin lama makin keras. Gua Cuma bisa diam, menyandarkan kepala kekursi dan menyimpukan tangan di dagu, memandang Ines yang saat ini mengunyah makanan sambil berlinang air mata. Dia tetap diam, tidak berkata apa-apa.
Dia menyelesaikan makannya, membalik pisau dan garpu, meletakkannya di sebelah piring. Dia menyeka air mata yang tak henti-hentinya mengalir, membasahi kedua pipinya.
”Gue tau kok, kalo saat ini bakalan datang.. gue tau.. Tapi, gue nggak nyangka aja kalo.. bakal secepat ini.”
”Bon.. gue pojok.. gue di pojok...”
Ines merangsek ke depan setelah gua menemukan kursi tempat kita duduk. Kemudian langsung menjatuhkan diri di kursi sebelah kiri dari lorong, disudut jendela. Dia mengelus –elus sandara kepala kursi disebelahnya.
”Sini.. elo disini..”
”Ya iyalah gua udah pasti duduk disini, masak gua di sono...”
Lima menit berikutnya kereta mulai bergerak. Jam 7.05 pas, sesuai jadwal yang tertera di tiket, Cuma agak kecepetan sepersekian detik aja. Gua meletakkan ransel di bawah kaki dan menyenderkan kepala ke kursi beludru berwarna merah.
”Bon..”
”Kita turunnya dimana?”
”King Cross...”
”Owh..”
”Tau..?”
”Tau.. yang di film harpot kan.. eh emang beneran ada platform 9 ½ disono?”
”9 ¾..”
Gua mengoreksi..
”Iya maksudnya itu..”
”Ada.. ”
”Beneran..?”
”Maksud gua platform itu ada, emang dibikin buat para fans Harpot aja, nggak bener-bener berfungsi sebagai platfrom..”
”Terus beneran ada di antara Platform 9 sama 10, bon?”
”Hahaha.. boro-boro.. platform 9 sama 10 bentuknya aja beda banget sama yang di film..”
”Wah ketipu dong gue..”
”Haha iya...”
”Ntar foto ya disitu...”
”Iya..”
Jam 9.45 kereta berhenti. Kami sudah tiba di King Cross Station. Ines langsung ngeloyor keluar kemudian celingak-celinguk mencari platform 9 ¾.
”Dimana, bon..”
Gua hanya tersenyum sambil menghampirinya. Kemudian berjalan ke arah berlawanan dengan Ines, dia berlali kecil menyusul gua
”Ish.. ninggalin... kebiasaaan”
Gua tersenyum kemudian berhneti dan menunjukkan sebuah arah ke Ines
”Nih, lu liat nggak ada toko buku disitu?”
”He eh..”
”Dibawah jembatan penyebrangan..”
”Iya.. iya..”
”Yaitu tempatnya..”
Ines kemudian berlari kecil, cepat seperti anak kelinci, melewati kerumunan orang, sampai kemudian dia tiba di tempat yang gua tunjukkan tadi, dia melambai-lambai sambil memanggil.
”Bon.. bon.. iya ada.. beneran.. sini.. cepet..”
Gua menepok jidat. Malu-maluin aja nih orang.
Akhirnya kami menghabiskan 15 menit untuk sekedar berfoto, Ines berpose dengan trolli yang setengahnya tertanam ke dalam tembok bata berwarna merah.
---
Kami berdua keluar dari stasiun, disambut cuaca yang dingin menusuk tulang gua bergegas menarik Ines menyebrang jalan menuju ke pemberhentian bus, melewati perempatan menyilang yang asimetris di depan King Cross St. Kemudian Ines berhenti sesaat dan menarik bagian bawah jaket gua, kemudian menunjuk sebuah rumah makan cepat saji berlogo ’M’.
”Laper..?”
”Iya..”
”Emang nggak bosen makan gituan mulu..”
”Emang ada yang lain...”
”Yang lebih mahal banyak...”
”Yee.. emang gua mo beli obat nyamuk semprot...”
”Yang lain aja, nanti.. tahan dulu..”
”Iya deh...”
Kemudian kami sudah berada di bus bernomor 30 yang menuju ke Marble Arch.
”Kok tumben kali ini nggak nanya ’nes mau naik apa bis atau trem’?”
”Kali ini kan BEDA, be e be de a da, Beda!”
Stelah kurang lebih 10 menit kami turun di pemberhentian di Pertigaan Marylebone Rd. Disambut dengan cuaca dingin (lagi) dan kerumunan orang yang juga ikut turun di pemberhentian yang sama.
Ines memandang ke seberang jalan, memicingkan mata dan menunjuk sebuah bangunan dengan kubah besar berwarna hijau muda yang terletak persis di muka pertigaan Marylebone sedangkan disebelah bangunan tersebut terdapat sebuah cafe Pizza dan Spaghetti, Allsop St berada ditengahnya membelah dua bangunan tersebut menjadi dua.
”Itu tempat apaan bon, kok rame banget orang pada ngantri...”
”Itu tempat yang bakal kita tuju..”
”Tempat apaan?”
Gua nggak menjawab kemudian mulai menggandeng tangannya dan menyebrang jalan menuju ke bangunan dengan kubah besar berwarna hijau muda, Madame Tussauds – London.
Sampai didepan tempat mengantri tiket Ines menarik-narik bagian lengan jaket gua.
”Ini tempat apaan?”
Ines berbisik.
”Lah itu baca tulisannya kan ada tuh... Madame Tussauds”
”Tempat patung-patung yang mirip orang beneran itu ya..”
”Iya...”
”Asiiikk..”
Gua kemudian mengantri, tempatnya emang belum buka tapi yang antri sudah banyak, mungkin sekitar 20-30 orang. Dan hampir rata-rata wisatawan asing, terdengar dari dialeg dan gaya bahasanya, di depan gua persis sepertinya orang India, terlihat dari gaya ngomongnya yang sambil goyang-goyang leher dan baunya itu lho, prengus.
Ines menarik-narik lengan jaket gua lagi.
”Apaan sih nes, narik-narik mulu...”
”Mau itu..”
Dia berkata sambil menunjuk ke kios Es-krim merah muda disudut pertigaan didepan Madame Tussauds yang juga nggak kalah antriannya dari tempat ini. Gua merogoh kantong jaket, mengeluarkan selembar pounds lecek dan memberikannya ke Ines sambil berkata ”Dingin-dingin makan es”. Dia Cuma tersenyum dan ngeloyor pergi.
Nggak lama dia balik lagi kemudian berjingkat, mendekatkan bibirnya ke arah telinga gua.
”Bon, kalo ’a quid’tuh berapa?”
”Satu Pound..”
Gua menjawab sambil mengangkat telunjuk, menirukan angka satu. Ines mengangguk sambil bibirnya membentuk huruf ’O’ kemudian berbalik.
Gua menatap kembali ke antrian, sudah agak maju sedikit demi sedikit tapi suhu dingin ini bener-bener bikin kaki nggak bisa diem. Gua menengok ke arah Ines, dia sedang berdiri sambil mengantri dan melambaikan tangan.
”Bon.. mau nggak?”
Ines datang sambil menjilat-jilat es krim. Gua mengeleng kemudian bergidik. Brrr kuat juga nih anak, dingin dingin makan es.
”Ini bukan es krim, cokelat...”
”Lah, kok kiosnya gambar es?”
”Nggak tau..”
Setengah jam kemudian gua sudah berada di dalam Museum Madame Tussauds, jadi tukang fotonya Ines, yang sibuk kesana kemari, bergerak dari satu patung ke patung yang lain, sambil setengah berteriak; ”Bon.. foto dong”, ”Lagi bon..lagi”, ”Sekali lagi bon, tadi jelek posenya”, ”Bon.. bon.. yang ini..”
Hampir dua jam gua berada di dalam museum ini, betis udah mulai panas, tapi anehnya, ni perempuan masih kuat aja jalan mondar mandir kesana kemari.
”Bon, yang sama Sharuk Khan udah belom sih?”
”Udah tadi..”
”Coba mana liat?”
Dia menghampiri gua dan mengambil kamera poket digital dari tangan gua.
”Yah, jelek... ulang deh..”
”Mau sampe berapa kali?”
”Ya tadi kan jelek, ada bayangan orang lewat..”
”Yaudah..”
Gua melihat jam saat berjalan keluar dari museum, nggak terasa udah dua setengah jam kita di dalam. Waktu kesini pertama kali, sendirian, gua Cuma di dalem nggak sampe lima belas menit. Gua kemudian menggandeng tangan Ines.
”Mau pizza?”
”Mau mau mau...”
Kemudian kami menyebrangi jalan Allsop St menuju ke restaurant pizza yang letaknya bersebrangan dengan Madame Tussauds, sebuah bangunan tujuh lantai, dimana bagian bawahnya dibuat menjadi Restaurant Pizza dan kopi. Disebelahnya, di jalan Marylebone Rd, masih terletak di samping Restaurant Pizza terdapat banyak toko-toko souvenir, retaurant, kafe, pub dan toko-toko pakaian.
Kami duduk di dalam. Ines memesan seloyang pizza ukuran medium, gua memesan secangkir kopi.
”Kok nggak makan...”
”Nggak ah, minta elo aja ntar...”
”Ish.. ogah..”
”Dikiiitt.. aja..”
”Pesen sendiri dong...”
”Nggak ah, mau gangguin elu aja..”
”Diiih..”
Gua tersenyum sambil menatap matanya, Ines melepas kupluknya, tercium wangi rambut yang bikin lutut gua lemes.
”Abis ini kita kemana?”
”Someplace...”
”Ke...”
”Lu suka Sherlock Holmes nggak?”
”Tau siih, tapi nggak banyak...detektif kan?”
”Iya betul...”
”Elu tau nggak nes, kalo konon katanya Si Sherlock ini bisa memilih hal yang mau diingatnya atau nggak, jadi dia bisa milih hal-hal penting untuk diingat sedangkan hal yang nggak penting ya dilupakan”
”Lah, bukannya mekanisme ingatan manusia emang begitu ya bon?”
”Nggak juga, sekarang gua tanya ke elo deh.. berapa jumlah planet di tata surya kita”
”Sembilan.. kan?”
”Apa aja?”
” Merkurius, Venus, Bumi, Mars, Yupiter, Saturnus, Uranus, Neptunus dan Pluto.. eh pluto masih masuk nggak ya..”
”Kok elu hapal?”
”Yeee.. kan itu mah diajarin kali di SD..”
”Tapi masih inget sampe sekarang?”
”Masih...”
”Guna-nya buat apa, dalam kehidupan lu?”
”Buat apa ya...bentar.. bentar..”
Gua menyeruput kopi sambil menunggu jawaban dari Ines.
”Nggak ada sih...”
”Menurut Sherlock, yang nggak perlu inget ya nggak usahdiinget...”
”Hahahaha.. kalo gue, perlu di inget nggak sama lo?”
”Perlu,................ banget”
”Serius...?”
”Iya..”
”Terus hubungannya pertanyaan gua tentang kita mau kemana abis ini, dengan sherlock apa?”
”Abis ini kita ke Baker Street, nggak jauh dari sini, tempat dimana ada museum Sherlock Holmes..”
”Oke deh, trus dinnernya dimana?”
”Ya disitu juga”
Ines melongo, masih sambil mengunyah Pizza pesanannya yang baru saja datang.
---
Gua menggandeng tangan Ines melewati trotoar dengan toko-toko souvenir di sebelah kanan-nya, dia berjalan sambil menyumbat telinganya dengan headset dan mendendangkan sebuah lagu. Gua mencabut haedset sebelah kiri dan mendengarkannya, kami berjalan bergandengan tangan menuju ke 221B, Baker St sambil mendendangkan sebuah lagu; Accidentally in Love.
So she said what's the problem baby
What's the problem I don't know
Well maybe I'm in love (love)
Think about it every time
I think about it
Can't stop thinking 'bout it
How much longer will it take to cure this
Just to cure it cause I can't ignore it if it's love (love)
Makes me wanna turn around and face me but I don't know nothing 'bout love
Come on, come on
Turn a little faster
Come on, come on
The world will follow after
Come on, come on
Cause everybody's after love
So I said I'm a snowball running
Running down into the spring that's coming all this love
Melting under blue skies
Belting out sunlight
Shimmering love
Well baby I surrender
To the strawberry ice cream
Never ever end of all this love
Well I didn't mean to do it
But there's no escaping your love
These lines of lightning
Mean we're never alone,
Never alone, no, no
What's the problem I don't know
Well maybe I'm in love (love)
Think about it every time
I think about it
Can't stop thinking 'bout it
How much longer will it take to cure this
Just to cure it cause I can't ignore it if it's love (love)
Makes me wanna turn around and face me but I don't know nothing 'bout love
Come on, come on
Turn a little faster
Come on, come on
The world will follow after
Come on, come on
Cause everybody's after love
So I said I'm a snowball running
Running down into the spring that's coming all this love
Melting under blue skies
Belting out sunlight
Shimmering love
Well baby I surrender
To the strawberry ice cream
Never ever end of all this love
Well I didn't mean to do it
But there's no escaping your love
These lines of lightning
Mean we're never alone,
Never alone, no, no
Gua menatap Ines yang tersenyum lebar, hampir seperti menyeringai, gua menarik kepalanya dengan lengan kedalam pelukan gua. Kemudian gua membisikan sesuatu ke telinga-nya.
”Seneng nggak?”
”Seneng... banget.. makasih ya..bon”
”Nes... elo tau nggak sebelumnya gua ketemu elu, hidup gua biasa-biasa aja..”
”Oya...terus setelah ketemu gue?”
”Tambah biasa-biasa aja..”
”Hahahaha.... gak ngaruh dong”
”Nggak kok yang tadi becanda... serius, pas abis ketemu elu, hidup gua kayak lebih cerah, kan udah pernag gua bilang; You’ll be the only light i see...”
Ines tersenyum dan memandang gua.
”Kenapa ya, ada orang kayak elo bon?”
”Maksudnya? Ganteng kayak gua?”
”Whattt??”
”Terus kayak apa?”
”Ya orang yang mau ngorbanin segalanya buat orang yang bahkan belom ada sebulan lu kenal..”
”Nes, kadang kan emang orang bisa melakukan sesuatu hal tanpa ada alasan yang jelas, tanpa harus ada A sebelum B, dan itu yang gua lakukan ke elu..”
”...”
Nggak terasa kami sudah berada di depan Sherlock Holmes museum, sebuah rumah mungil yang sekarang di cat dengan nuansa hijau tua. Setelah membeli tiket seharga £5 per orang, gua dan Ines segera masuk ke dalam. Rumah mungil ini terdiri dari 4 lantai, dilantai pertama kita udah disambut sama pemandu wisata, yang memperkenalkan diri sebagai Mrs.Hudson. Ines yang terlihat percaya diri membalas perkenalan diri Mrs.Hudson.
”Hii.. mrs.hudson, my name is Ines..”
”Alright Ines, here we go...”
Gua mengikuti Ines dan si pemandu dari belakang, kemudian membisiki Ines.
”Nes, elu tau siapa Mrs.Hudson itu?”
”Nggak, kenapa?”
”Di dalam cerita, dia itu Landlord-nya si Sherlock...”
”Ah elo jangan nakut-nakutin deh..”
”Yee gua bukan nakut-nakutin.. gua Cuma mau ngasih tau kalo yang didepan lu itu Mrs.Hudson palsu, ngapain elu pake kenalan segala...”
”Hahahahahahahaha.. nggak tau gue...sial ditipu dong kita?”
”Hah, elu doang si yang ketipu..”
Ines mencubit lenga gua sambil menjulurkan lidah.
Setelah lelah hilir mudik di Museum Sherlock, gua mengajak Ines turun dari lantai tiga dimana banyak patung lilin dari tokoh tokoh fiksi yang ada di Novel dan Film-film Sherlock Holmes, dia masih (tetep) berfoto ria dengan patung-patung tersebut. Sampai-sampai gua harus menakut-nakuti dia dengan bilang kalau malem patung-patung ini pada bergerak, sekonyong-konyong Ines langsung berlari turun dan keluar, gua yang turun belakangan dapat teguran dari penjaga museum, yang kurang lebih inti-nya : ”Jangan membuat gaduh”, gua tersenyum sambil mengangguk kepada si petugas dan keluar, Ines berdiri di tepi trotoar sambil berkata ”Kasian deh diomelin...”
Gua mengapit tangannya dan kemudian berjalan ke arah kiri dari muka museum Sherlok Holmes, kurang lebih tiga bangunan dari situ terdapat sebuah Kafe dengan nuansa Hijau yang bernama; The Volunteer. Dikala musim panas kafe ini biasanya menggelar kursi dan meja tambahan seperti yang ada di seberang Museum Madame Tussauds tadi. Gua melangkahkan kaki kesana, dan masuk kedalam.
Seorang pelayan mengarahkan gua ke sebuah meja dengan sepasang kursi yang dekat dengan jendela samping, kemudian dia bertanya.
”This is a look comfort for you?”
”This is great..”
Kemudian dia menyerahkan sebuah menu, menunjukkan menu andalan disini dan meninggalkan kami untuk memilih menu-nya
Ines memilih Tenderloin steak sebagai menu utamanya dan Cokelat Jahe sebagai menu penutupnya, gua Cuma mengamini doang, idem. Lima belas menit kemudian manu utama sudah terhidang, si pelayan menawarkan apakah gua mau anggur, kemudian gua menatap Ines, kami saling menatap sampai akhirnya gua menggeleng dan berkata tidak.
”Nes... sorry ya gua nggak bisa ngajak lu makan di tempat yang lebih keren, nggak bisa ngajak lu candle light dinner..”
”Bon.. elu tau nggak, selama ini, cowok ngajak gua jalan, kencan, ngedate apapun sebutannya, paling-paling nonton, gitu-gitu aja... belom pernah gua seumur umur diajak dating nonton bola di stadion dan menurut gua ini adalah dating gua yang paling perfect...”
Gua kemudian mengeluarkan amplop cokelat dari dalam ransel dan memberikannya ke Ines.
”Apaan nih?”
”Buka aja?”
Ines membuka amplop dan mengeluarkan isinya. Sesaat dia diam, kemudian menutup mulutnya, air mata keluar dari kedua sudut matanya. Dia meletakkan amplop tersebut dimeja dan melanjutkan makan, diam dan terisak, makin lama makin keras. Gua Cuma bisa diam, menyandarkan kepala kekursi dan menyimpukan tangan di dagu, memandang Ines yang saat ini mengunyah makanan sambil berlinang air mata. Dia tetap diam, tidak berkata apa-apa.
Dia menyelesaikan makannya, membalik pisau dan garpu, meletakkannya di sebelah piring. Dia menyeka air mata yang tak henti-hentinya mengalir, membasahi kedua pipinya.
”Gue tau kok, kalo saat ini bakalan datang.. gue tau.. Tapi, gue nggak nyangka aja kalo.. bakal secepat ini.”
Backsound Untuk #17


Cold and frosty morning - there's not a lot to say
About the things caught in my mind.
And as the day was dawning my plane flew away
With all the things caught in my mind.
And I wanna be there when you're coming down
And I wanna be there when you hit the ground
So don't go away,
Say what you say
Say that you'll stay
Forever and a day
In the time of my life
'cause I need more time,
Yes, I need more time
Just to make things right
Damn my situation and the games I have to play
With all the things caught in my mind.
Damn my education - I can't find the words to say
With all the things caught in my mind.
And I wanna be there when you're coming down
And I wanna be there when you hit the ground
So don't go away,
Say what you say
Say that you'll stay
Forever and a day
In the time of my life
'cause I need more time,
Yes, I need more time
Just to make things right
Me and you - what's going on?
All we seem to know is how to show
The feelings that are wrong.
So don't go away,
Say what you say
Say that you'll stay
Forever and a day
In the time of my life
'cause I need more time,
Yes, I need more time
Just to make things right
Yes, I need more time
Just to make things right
Yes, I need more time
Just to make things right
So don't go away.


Cold and frosty morning - there's not a lot to say
About the things caught in my mind.
And as the day was dawning my plane flew away
With all the things caught in my mind.
And I wanna be there when you're coming down
And I wanna be there when you hit the ground
So don't go away,
Say what you say
Say that you'll stay
Forever and a day
In the time of my life
'cause I need more time,
Yes, I need more time
Just to make things right
Damn my situation and the games I have to play
With all the things caught in my mind.
Damn my education - I can't find the words to say
With all the things caught in my mind.
And I wanna be there when you're coming down
And I wanna be there when you hit the ground
So don't go away,
Say what you say
Say that you'll stay
Forever and a day
In the time of my life
'cause I need more time,
Yes, I need more time
Just to make things right
Me and you - what's going on?
All we seem to know is how to show
The feelings that are wrong.
So don't go away,
Say what you say
Say that you'll stay
Forever and a day
In the time of my life
'cause I need more time,
Yes, I need more time
Just to make things right
Yes, I need more time
Just to make things right
Yes, I need more time
Just to make things right
So don't go away.
Spoiler for Klipnya:
Diubah oleh robotpintar 18-03-2014 09:56
regmekujo dan 19 lainnya memberi reputasi
20
Kutip
Balas
![Accidentally In Love [True Story]](https://s.kaskus.id/images/2014/04/07/6448808_20140407033338.jpg)