Thread ini adalah thread reborn dari thread lama yang tenggelam di old kaskus. Seperti thread MBT, thread ini juga sudah disetujui momod danube. Thank's alot mod
Welcome to the World of Aircaft Carriers,
Admiral!
Desain kapal induk AS sejak 1950an diarahkan untuk menjauhi penggunaan senjata berkaliber besar, seperti yang diterapkan pada kelas Forrestal, dan focus pada pertahanan misil. Lebih jauh, pertahanan kapal induk sebagian besar diserahkan pada air wing atau kapal lain dari CSG. Kapal induk saat ini normalnya diterjunkan dengan pengiring antara tiga hingga sepuluh kapal tempur, yang terdiri dari frigate, destroyer, cruiser dan kapal selam bertenaga nuklir.
Kapal induk memiliki kemampuan pertahanan diri yang sangat terbatas terhadap ancaman udara dan bawah laut. Ketika diresmikan pada 1975, USS Nimitz,
Dwight D. Eisenhower dan Carl Vinson masing-masing membawa tiga Basic Point-Defense Missile Systems (BPDMS). Desain aslinya adalah dua sistem misil RIM-24 Tartar untuk pertahanan diri. Sistem misil ini kemudian digantikan dengan meriam kebar 3in/50cal, yang dikendalikan oleh tiga pengarah kontrol-penembakan Mk 56, yang pada gilirannya digantikan oleh tiga meriam anti-pesawat twin quad 40mm Bofors, dan pada akhirnya digantikan oleh BPDMS. BPDMS menggunakan peluncur Mk 25 dan delapan misil sirip-terlipat RIM-7E-5 Sea Sparrow, sebuah turunan dari misil AU AIM-7E. Kontrol penembakannya menggunakan illuminator Mk 115 yang dapat dilatih secara manual.
Pertahanan udara dikembangkan pada awal 1980an, termasuk penggantian sistem kontrol penembakan manual dengan sistem Mk 91 otomatis (memakai radar X-band Mk 95) dengan penambahan radar Mk 23 Mod 3 Target Acquisition System (TAS). TAS/Mk 23 adalah radar L-band dua-dimensi (2-D) yang bekerja dengan baik terhadap target kecepatan-tinggi, terbang-rendah dan sudut-tinggi. TAS/Mk 23 memiliki jarak jangkau lebih dari 20 mil laut (37km) dan dapat melacak 54 target secara bersamaan. Sistem peluncur BPDMS juga diupgrade dengan peluncur Mk 29 dan misil RIM-7M yang lebih mampu. Sistem Mk 29, disebut sebagai Improved Point Defense Missile System (IPDMS) atau nama NATO: Sea Sparrow, awalnya dipasang pada USS Theodore Roosevelt dan kemudian diretrofit pada kapal induk kelas Nimitz yang sebelumnya pada saat periode perawatan.
Misil yang saat ini digunakan adalah RIM-9P. Dimulai dengan USS Dwight D. Eisenhower pada 2001, TAS/Mk 23 digantikan dengan radar pulsa-Doppler, narrow-beam, X-band multimode Northrop Grumman SPQ-9B untuk meningkatkan efisiensi terhadap misil sea-skimming di horizon. Saat ini, SPQ-9B telah dipasang pada Carl Vinson, Harry S. Truman, Ronald Reagan, dan George H.W. Bush.
Pada 1980an juga dilakukan pemasangan Mk 15 Phalanx Close-InWeapon System (CIWS, dibaca see-whiz). CIWS adalah sebuah pedestal-mounted Mk 61A1 20mm Gatling gun dengan sebuah radar self-contained search-and-track yang terletak di dome putih di atas senapan. Setiap unit senapan memiliki magasin drum berisi 1.000 peluru dan dapat menembakkan 3.000 peluru per menit. Setiap peluru terlacak-radar, membuat CIWS dapat melakukan pengaturan jika diperlukan. Phalanx kemudian diretrofit pada kapal induk kelas Nimitz sebelumnya. Nimitz dan Dwight D. Eisenhower dipasangi dengan tiga, sementara kapal induk setelahnya dipasangi dengan empat.
CIWS digantikan dengan sistem Raytheon Mk 51 Rolling Airframe Missile (RAM) yang lebih mampu. Mk 51 RAM menembakkan misil RIM-116, yang mengkombinasikan seeker-head yang dimodifikasi dari surface-to-air missile (SAM) Stinger (FIM-92) portable dengan proven AIM-9 Sidewinder air-to-air missile (AAM). Misilnya berada di peluncur berputar berisi 21 misil. Mk 51 sangat efektif menghadapi ancaman sea-skimming kecepatan-tinggi modern. Pertama kali dipasang di atas Ronald Reagan dan George H.W. Bush, RAM diretrofit pada kapal induk sebelumnya selama periode perawatan. Nimitz dan Dwight D. Eisenhower yang memiliki tiga Mk 15 Phalanx dan satu peluncur NATO Sea Sparrow digantikan oleh dua sistem Mk 51. George Washington, Carl Vinson, dan Harry S. Truman masing-masing satu CIWS dan NATO Sea Sparrow digantikan oleh Mk 51.
Kapal AL AS menggunakan misil RIM-116B Block I, yang merupakan versi yang lebih canggih, memiliki kemampuan pemandu baik inframerah maupun pasif.
Perlindungan terhadap ancaman bawah air dilakukan oleh sistem countermeasure torpedo SLQ-25A “Nixie” kembar yang terletak di buritan kapal induk. Diperkenalkan tahun 1987 pada Carl Vinson dan Theodore Roosevelt, “Nixie” adalah sebuah alat noisemaker yang ditarik di belakang kapal induk, ketika terdapat ancaman dari torpedo yang dating, “Nixie” mengganggu torpedo dan menariknya menjauhi kapal induk menggunakan fiber-optic tow cable. SLQ-25B menambahkan alat deteksi torpedo dan sebuah SLX-1 Multi-Sensor Torpedo Recognition and Alertment Processor (MSTRAP), dan Launched Expendable Acoustic Decoy (LEAD). LEAD diluncurkan dari sistem decoy Mk 36, peluncur Mk 137. Sebuah sistem countermeasure torpedo eksperimental diujicobakan di Nimitz dari 1995 hingga 2000, sengan sedikit kesuksesan. Selama waktu tersebut, kapal induk dipasangi dengan sensor deteksi torpedo linear pasif SLR-24 yang ditarik di belakang kapal induk sebagai bagian dari purwarupa sistem SCT-1.
Perlindungan misil tambahan dilakukan oleh empat sistem countermeasure decoy Mk 36 Super Rapid Blooming Off-board Countermeasures (RBOC). Mk 36 merupakan sebuah mortar-tube launched decoy yang terdidi dari enam tabung fix 130mm yang dipasang secara parallel dua baris. Tabung peluncuran (diberi nama Mk 137) bersudut p45 derajat (empat tabung) dan 60 derajat (dua tabung) untuk mendapatkan penyerbaran optimum. Setiap RBOC Super dapat meluncurkan salah satu dari tiga tope decoy: SRBOC, yang menggunakan chaff untuk mengalahkan misil dan radar yang memancarkan RF; NATO Sea Gnat, yang mirip dengan SRBOC tetapi dengan jarak yang lebih jauh dan dengan payload yang lebih besar; dan TORCH, yang mengalahkan misil pencari-panas. Isi ulang manual terletak di dekat Mk 5 Ready Service Stations. Peluncur Mk 36 ditembakkan dari stasiun EW di bridge.
Electronic jamming dilakukan oleh SLQ-32(V)4 arrays, terletak di sisi kiri dan kanan, yang mendeteksi dan aktif meng-kounter ancaman dari misil yang dating. SLQ-32(V)4 juga dapat memicu modul chaff, memberikan respon Electronic Counter Measure (ECM) komprehensif. Kapal induk kelas Nimitz awal menggunakan SLQ-17, yang menggunakan pengecoh elektronik dan memproyeksikan citra “hantu” kea rah misil yang datang.
Spoiler for Sistem Elektronik dan Radar:
Sistem Elektronik dan Radar
Kapal induk kelas Nimitz tergantung pada banyaknya peralatan radar dan sensor elektronik selama operasi normal dan masa perang. Dari navigasi dan komunikasi instan ke pemandu senjata, kapal induk kelas Nimitz dipenuhi oleh berbagai radom, antenna dan radar, sebagian besar darinya berada di sekitar struktur island. Beberapa, seperti antena cambuk VHF/UHF besar 35kaki (10,6m) berada di ujung dek. Antena-antena ini disimpan dalam posisi horizontal selama operasi penerbangan dan dinaikan jika dibutuhkan. Antena-antena ini dalam proses untuk dihilangkan ketika kapal induk akan mulai RCOH. Sebagian besar sistem signifikan yang digunakan untuk pencarian permukaan dan udara, navigasi, pendaratan pesawat dan komunikasi dijelaskan sebagai berikut:
Pencarian Udara
Kapal Induk Theodore Roosevelt hingga Harry S. Truman membawa radar pencari udara 2-D SPS-49(V)5 yang menawarkan jarak dan informasi hubungan. Nimitz, Dwight D. Eisenhower, Carl Vinson, dan Ronald Reagan masing masing membawa SPS-49A(V)1 yang lebih baru. Roosevelt akan menerima varian ini ketika selesai RCOH. Radar pencari udara tiga-dimensi (3D)-nya adalah SPS-48C pada semua kapal induk kecuali George Washington dan John C. Stennis (CVN 74), yang menggunakan radar SPS-48E. SPS-48 memberikan deteksi jarak jauh lebih dari 200 mil laut (370km) dan menampilkan jarak, azimut, dan elevasi target, memberikan citra 3D.
Pencarian Permukaan
Pencarian permukaan ditangani oleh SPS-67(V)1 (porsi spektrum elektromagnetik antara 500 hingga 1000 MHz), sebuah versi modular padat dari SPS-10 klasik. Semua kapal induk kelas Nimitz selain Theodore Roosevelt, yang memiliki sebuah Sperry Raster, menggunakan radar navigasi Furuno 904. SPS-67 menggantikan SPS-53 yang penggunaannya terbatas dan SPS-10, yang merupakan radar pencari permukaan standar ketika Nimitz diresmikan pada 1975. SPS-67 adalah radar pencari dan navigasi permukaan jarak-menengah yang beroperasi pada C-band. Performa SPS-67 disempurnakan melalui pengunaan sebuah mode pulsa 0,1-microdetik sempit yang menghasilkan resolusi dan deteksi yang lebih baik. Pulsa yang lebih besar digunakan untuk navigasi laut-terbuka. Navigasi juga disempurnakan oleh radar komersial LN-66, BridgeMaster E (BME), dan Furuno 904.
Komunikasi
Disamping antenna cambuk VHF/UHF yang disebutkan sebelumnya, kapal induk kelas Nimitz memiliki set komunikasi canggih jarak-lebar yang sanat tergantung pada Satellite Communications (SATCOM). Kapal induk kelas Nimitz sekarang memiliki: WSC-3 (UHF); WSC-6 (SHF) untuk Defense Satellite Communications System (DSCS); WRN-6 Satellite Signals Navigation Set (GPS); dan USC-38 (EHF) untuk komunikasi aman tahan jamming dan mempunyai kemungkinan kecil untuk diintersep/disadap. Mereka juga menggunakan SSQ-82; antena siaran armada SSR-1 FM; penerima WRN-6 GPS; SRN-9 dan penerima SRN-19 Navy Navigation Satellite System (NAVSAT); dan penerima SMQ-11 untuk satelit ramalan cuaca lautan TIROS-N. Kebanyakan penerima satelit berada di dome perlindungan tertutup, dimana mereka dapat dikontrol secara environmental untuk perform optimal.
Sebuah program untuk penggunaan sistem SATCOM komersial C-Band diujicobakan di George Washington pada 1993 dan setelah itu diadopsi pada kapal induk lain. Dikenal sebagai Challenge Athena (WSC-8), sistem ini mentransmisikan data intelijen, citra dan komunikasi personel kapal, seperti hubungan telepon Continental US (CONUS), telekonferensi video, email dan akses langsung ke stasiun televisi komersial. Sebuah versi baru berkecepatan tinggi, dikenal sebagai Challenge Athena III, sedang dalam tahap integrasi.
Carrier Controlled Approach (CCA)
Kapal induk juga tergantung pada sebuah sistem radar untuk mengendalikan Automated Carrier Landing System (ACLS) dan untuk memonitor dan membantu pesawat pada saat pendaratan (pendekatan akhir). Kapal induk kelas Nimitz sebelumnya menggunakan kombinasi dari SPN-35A (X-band carrier-control approach), -41 (gelombang mikro yang menyediakan data jalur penerbangan), -42 (radar ACLS Ka-band dengan X-band beacon receiver untuk kontrol marshaling dan presisi), dan -44 (gelombang mikro, digunakan oleh LSO); SPN-43A/B mulai menggantikan SPN-35 pada 1996. SPS-46 menggantikan -42, dimulai pada Theodore Roosevelt. Sistem radar ini memiliki sepasang antena yang mengarah ke buritan untuk membantu pesawat pada pendekatan akhir pendaratan pendek. Semua kapal induk kelas Nimitz tergantung pada sinyal suar pelacak URN-25 TACtical Air Navigation (TACAN) untuk membantu pesawat menemukan lokasi kapal induk.
Spoiler for Pertahanan Udara Terintegrasi:
Pertahanan Udara Terintegrasi
Percobaan terkini telah dilakukan untuk menambahkan sistem radar pertahanan udara terintegrasi untuk membantu perlindungan kapal induk dari ancaman yang dating. Dibangun oleh Raytheon, Ship Self-Defense System (SSDS) bersama sensor yang sudah ada seperti radar SPS-49 dan SPS-67, SLQ-32, dan sistem peluncuran suar Mk 36, dengan sistem persenjataan seperti Phalanx, BPDMS, dan Mk 51 RAM, untuk membentuk suatu sistem pertahanan udara organic.
Dwight D. Eisenhower menerima versi pertama dari SSDS, dikenal sebagai Advanced Combat Defense System (ACDS), pada 1998. Nimitz menerima pemasangan SSDS Mk 2 Mod 1 selama 2001. Sistem yang sama juga ditemukan pada Ronald Reagan. Sebuah sistem pertahanan udara terintegrasi yang lebih canggih direncanakan untuk digunakan pada Ronald Reagan dan George H.W. Bush di bawah julukan Project Akcita, yang menggabungkan elemen dari radar multi-fungsi, Evolved Sea Sparrow Missile (ESSM), dan Advanced Integrated Electronic Warfare System (AIEWS). Radar A D-band, Project Akcita akan menggunakan teknologi circuit-terintegrasi monolitik dan akan mampu melacak lebih dari 1,000 target hingga jarak 245 mil (400km). Sistem ini akan digabungkan dan menggantikan SSDS. Sebagai tambahan, sistem terintegrasi baru dan komprehensif, dikenal sebagai USG-2 Cooperative Engagement Capability (CEC), dipasang pada kapal induk kelas Nimitz awal, yang mengkoordinasikan sistem sensor dan persenjataan dari seluruh CSG, termasuk pesawat yang berpangkalan di kapal induk, P-3 Orions yang berpangkalan di darat dan P-8A Poseidons, kapal yang dilengkapi-Aegis dan kapal perang amfibi utama. Dwight D. Eisenhower menjalani ujicoba dengan CEC versi USG-1 pada akhir 1994 dan versi USG-2 dipasang selama 2000-2002. Interaksi CEC adalah penting untuk platform E-2D Advanced Hawkeye yang dilengkapi dengan versi USG-3, bergabung dengan armada pada 2013.
Spoiler for Carrier Air Wing (CVW):
Carrier Air Wing (CVW)
Sejak dimulainya aviasi kapal induk, kekuatan ofensif kapal induk dating dari air wing mereka. Carrier AirWing (CVW) terdiri dari campuran pesawat yang didesain untuk menyediakan kemampuan ofensif bagi kapal induk, ditambah kemampuan pertahanan untuk melindungi CSG, sejumlah pesawat pendukung dengan peran khusus. Ketika Nimitz mulai bertugas, setiap kapal induk memiliki dua skuadron pesawat fighter, pertama F-4 Phantoms dan selanjutnya F-14 Tomcats, dan tiga skuadron pesawat serang –dua skuadron serang-ringan dengan pesawat A-7 Corsair II dan satu skuadron serang-menengah dengan pesawat A-6E Intruder. Skuadron Intruder juga melaksanakan layanan pengisian bahan bakar di udara organic melalui “buddy stores” mereka – aerial refueling systems (ARS) – dan dengan empat pesawat tanker KA-6D (Intruder dipensiunkan pada 1996, bersama dengan misi serang segala-cuaca). Bersama-sama, skuadron ini membentuk inti dari kekuatan serang ofensif kapal induk. Tomcats, dengan misil jarak jauh mereka, AIM-54 Phoenix dan radar AWG-9, juga menyediakan pertahanan armada terhadap serangan misil dari bomber Soviet jarak jauh.
Pesawat lainnya beroperasi dengan peran pendukung, menyediakan peringatan dini udara dan jamming taktis udara, serta dukungan anti-kapal selam. E-2 Hawkeye, yang mulai beroperasi pada 1965, berperan sebagai “mata di langit” bagi armada, dengan radom berputarnya memberikan komandan battlegroup sebuah citra udara penuh ratusan mil di sekitar kapal induk. EA-6B Prowlers mendampingi pasukan serang, menawarkan jamming elektrik dan lokalisasi pemancar dari radar musuh dan lokasi SAM. Sejak 1984, Prowlers kadang membawa misil anti-radiasi AGM-88 HARM untuk menghancurkan radar musuh. Dukungan ASW dilakukan oleh helikopter dan setelah 1975, Lockheed S-3 Viking, yang diterjunkan dalam skuadron Air ASW (VS). Asset ASW menggunakan sebuah kombinasi dari sensor termasuk sonobuoys, radar pencari permukaan dan sebuah Magnetic Anomaly Detector (MAD), untuk mendeteksi, melokalisasi dan mengklasifikasi kapal induk, dan melaksanakan penyerangan menggunakan torpedo dan bom laut.
Komposisi airwing telah berubah secara signifikan sejak pelayaran pertama Nimitz pada 1975. Pada pelayaran tersebut, yang berlangsung dari 16 Juli hingga 24 September, Nimitz diterjunkan dengan Carrier Air Wing Eight (CVW 8), yang terdiri dari skuadron fighter VF-31 dan VMFA-333 (F-4J Phantom II), skuadron serang-ringan VA-82 dan -86 (A-7E Corsair II), skuadron serang-menengah VA-35 (A-6E Intruder; tanker KA-6D), sebuah skuadron peringatan dini VAW-116 (E-2B Hawkeye), dan sebuah skuadron electronic warfare, VAQ-130 (EA-6B Prowler). ASW disediakan oleh HS-15’s SH-3D Sea Kings.Pesawat intai (RF-4C atau RA-5C Vigilante) dan pesawat survei elektronik (EA-3B Skywarriors atau Whales). Misi intai-foto kemudian dilaksanakan oleh satu atau dua skuadron Tomcats menggunakan Tactical Reconnaissance Pod System (TARPS).
Komposisi air wing “konvensional” yang disebutkan di atas digunakan antara 1970an dan 1980an, Corsair II digantikan oleh Hornet pada pertengahan akhir 1980an. Selama 1990an, Intruder digantikan oleh satu skuadron Tomcats dan tiga atau empat skuadron F/A-18 Hornets berperan ganda. Skuadron VS, yang bertugas sebagai tanker bahan bakar bagi Intruder, terus bertugas hingga 2008.
Komposisi air wing terkini biasanya terdiri dari 44 pesawat serang – dua skuadron (masing-masing 11 pesawat) F/A-18E/F Super Hornets (satu -E dan satu -F), dan dua skuadron (masing-masing 11 pesawat) F/A-18A/C Hornets (satu di antaranta kemungkinan merupakan skuadron milik Korps Marinir AS); satu skuadron berisi empat EA-6B Prowlers; satu skuadron berisi empat E-2C Hawkeyes; dan tujuh SH-60F/HH-60H Seahawks.
F-35 Lightning II Joint Strike Fighter (JSF), diharapkan akan bergabung dengan armada pada 2015, akan menggantikan F/A-18C dan menjadi pelengkap Super Hornet. Sejak 2010, EA-6B digantikan dengan EA-18G Growler, sebuah turunan dari Block II F/A-8F Super Hornet. Juga, E-2D Advanced Hawkeye akan menggantikan E-2C Hawkeye 2000, dimulai pada 2014. MH-60R/S Seahawks sudah siap menggantikan helikopter SH-60B, -F, dan HH-60H sebagai bagian dari skuadron Helicopter Sea Combat (HSC) dan Helicopter Maritime Strike (HMS) yang baru dibentuk dan melakukan penerjunan pertamanya pada Januari 2010 di atas USS John C. Stennis.
Air wing dipimpin oleh seorang kapten yang disebut Commander, Carrier Air Wing, tetapi tetap dikenal sebagai “CAG,” sejak air wing dikenal sebagai Carrier Air Groups. CAG dianggap sebagai posisi komando utama dan kemungkinan dipegang oleh seorang petugas NFO. Lamanya masa jabatan biasanya 18 bulan.
Spoiler for Propulsi dan Powerplant:
Propulsi dan Powerplant
Powerplant kapal induk kelas Nimitz berada di Fourth Deck dan di bawah pengamanan ketat. Walaupun detail powerplant mereka sangat dirahasiakan, kapal induk kelas Nimitz didukung oleh dua reaktor Westinghouse A4W, masing-masing memproduksi cukup uap untuk menghasilkan 140,000shp (104MWe). Reaktor A2W digunakan pada USS Enterprise, yang memiliki delapan, sementara A3W merupakan reaktor yang awalnya akan digunakan untuk USS John F. Kennedy. Inti reaktor untuk Nimitz dan Dwight D. Eisenhower diperkirakan memiliki masa operasional 13 tahun, sementara pada Vinson dan kapal induk kelas Nimitz lain diperkirakan 15 tahun.
Reaktor A4W memanaskan air bertekanan, yang pada gilirannya memanaskan putaran air terpisah dan mengubahnya menjadi uap bersuhu dan bertekanan tinggi. Uap ini menggerakkan empat turbin propulsi-utama dan mesin tambahan, serta menghasilkan uap untuk keempat ketapelnya. Tenaga dialirkan ke empat batang propeller 462kaki (140.8m), masing-masing beriameter 2kaki (0.6m) dengan berat lebih dari 364 ton, yang menggerakkan empat brass propeller lima-bilah berdiameter 22kaki (6.71m), yang masing-masih berbobot lebih dari 30 ton.
Kontrol navigasi dilakukan dengan dua sirip kemudi, yang masing-masing berbobot 50 ton dan berukuran 29 kaki.
Kapal induk kelas Nimitz secara resmi memiliki kecepatan maksimal 30 knots(56km/jam), tetapi kecepatan aslinya masih dirahasiakan.
Reaktor kapal induk diawasi oleh Reactor Department, yang dapat memiliki sembilan divisi, termasuk kendali kerusakan khusus, yang pada beberapa kapal induk dikenal sebagai Divisi RXDC Division.