- Beranda
- Stories from the Heart
Gue membunuh seorang marinir
...
TS
arieflatu
Gue membunuh seorang marinir
Hai sesepuh STFH. Gue numpang nulis cerita ya. Silahkan nilai sendiri apakah ini true story atau bukan 

Quote:
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 19 suara
True story atau bukan hayo?
True story pakai bumbu
42%
Bukan
58%
Diubah oleh arieflatu 03-06-2014 16:28
anasabila memberi reputasi
1
10K
68
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•54.1KAnggota
Tampilkan semua post
TS
arieflatu
#2
Chapter 1b
Hari berikutnya gue jalani masa orientasi gue tanpa bantuan Adi. Dia lagi ke Jakarta menghibur sobat karibnya yang sedang berduka. Denger-denger sih katanya bokap temennya itu kecelakaan ketabrak bus yang lagi kebut-kebutan. Gila ya Jakarta, kalau ga macet, ya kebut-kebutan kayanya yang sering gue denger dari berita di TV.
“Nah ini nih anaknya yang Senen kemaren malah ngumpet ngobrol sama senior” tiba-tiba udah ada Yudha di depan gue sama temen-temennya.
“Dit, gue pinjem anak lo ya” kata Yudha lagi meminta ijin ke Pandit, taplok gue.
“Ok Yud, tapi jangan lo apa-apain. Gue yang tanggung jawab nih” jawab Pandit berusaha tidak melepas tanggung jawab.
“Oke, gue cuma mau ngasih pengenalan kampus yang lebih, karena dia kemaren ga ikutan” jawab Yudha sambil mengacungkan jempol kanannya ke atas.
Mampus gue! bakalan dikerjain abis-abisan ini sih.
“Sini lo, gabung sama yang lain” kata Yudha sambil menunjuk ke barisan berisi kira-kira 11 atau 12 orang. Ternyata mereka semua yang kemarin bolos ikut orientasi.
“Lo pimpin temen-temen lo ini keliling kampus sambil nyanyi lagu Mentari” perintah Yudha sambil nunjuk gue.
Dahi gue berkernyit. Lagu apa itu?
“Lo ga tau lagu mentari?!” bentak Yudha seolah dia tau apa yang gue pikirin. Gue pun menggeleng lesu.
“May, tolong ajarin dulu nih lagu mentari”. Kak Maya memang penanggung jawab untuk lagu-lagu kampus. Kemarin sepintas gue ngeliat dia nyanyi lagu mars Kampus.
Untungnya Maya orangnya baik banget. Sabar ngajarin gue dan temen-temen yang ga tau lirik dan lagunya. Ga kerasa dua puluh menit sudah gue habiskan untuk ngapalin nih lagu sampai akhirnya gue ngeliat Yudha.
“Siap kak” tegas gue tanpa perlu gue tunggu perintah dia lagi.
Gue pun mulai berkeliling kampus. Setengah jam gue habiskan mulai dari gerbang depan, menyisiri aula barat, teknik sipil, SBM, tambang, arsi, aula timur dan kembali ke gerbang depan.
Mentari menyala disini
Disini di dalam hatiku
Gemuruhnya sampai disini
Disini di urat darahku
Meskipun tembok yang tinggi mengurungku
Berlapis pagar duri sekitarku
Tak satupun yang mampu menghalangiku
Menyala di dalam hatiku
Hari ini hari milikku
Juga esok masih terbentang
Dan mentari kan tetap menyala
Disini di urat darahku
Gue rebahkan badan gue di kasur begitu gue sampai di kosan. Hari ini capek banget. Keliling kampus sambil nyanyi-nyanyi keras, kalau ga mau dibilang teriak ya. Tapi gue akui tadi itu cukup fun. Gue bisa menikmati keindahan seluruh kampus sambil ditemani tatapan-tatapan aneh dari senior –senior yang kebetulan ada di kampus.
Tiga hari berikutnya gue laluin dengan aktivitas yang hampir sama. Ocehan dan omelan, yang sebetulnya ga pernah gue denger, dengan rajinnya mampir ke telinga gue setiap hari.
Hari Sabtu adalah hari yang gue tunggu-tunggu. Hari ini ada pameran unit, atau biasanya disebut OHU, Open House Unit, tempatnya seluruh unit-unit kegiatan kampus pasang stand unjuk gigi.
Dengan berbekal plastik berisi lumpia basah yang gue beli di depan Mesjid Salman, gue mulai menyusuri stand-stand yang ada di kampus. Lucu dan kreatifnya senior-senior gue dalam menarik minat juniornya agar tertarik masuk unit mereka, sangat berbanding terbalik dengan hari-hari sebelumnya. Ada yang mukanya di kasih bedak lebih tebel dari Syahrini, ada juga yang memakai jubah panjang kaya di komik-komik.
Tiba-tiba mata gue tertuju ke satu stand dengan warna kotak-kotak hitam putih. Di situ ada Lena, temen kosan gue sedang pakai baju benteng. Ya, itu adalah stand Percama, persatuan catur mahasiswa. Gue emang suka banget sama catur dan gue ga nyangka ternyata Lena anak unit catur. Ini anak tampangnya cantik, bersih, seksi, kalau ga mau dibilang nakal. Sama sekali ga ada tampang pemikir seperti senior-senior lain yang ada di stand itu.
“Gue ikutan ya Len. Gimana cara daftarnya?” gue pun tanpa perlu pikir panjang lagi mengajukan diri untuk ikut unit ini.
“Ga ribet, tulis aja nama sama jurusan lo disitu” jawab Lena sambil tangannya menunjuk ke kertas pendaftaran.
“Silvia Simanjuntak, STEI”. Gue pun resmi menyudahi orientasi hari ini dengan terdaftar di unit catur.
“Nah ini nih anaknya yang Senen kemaren malah ngumpet ngobrol sama senior” tiba-tiba udah ada Yudha di depan gue sama temen-temennya.
“Dit, gue pinjem anak lo ya” kata Yudha lagi meminta ijin ke Pandit, taplok gue.
“Ok Yud, tapi jangan lo apa-apain. Gue yang tanggung jawab nih” jawab Pandit berusaha tidak melepas tanggung jawab.
“Oke, gue cuma mau ngasih pengenalan kampus yang lebih, karena dia kemaren ga ikutan” jawab Yudha sambil mengacungkan jempol kanannya ke atas.
Mampus gue! bakalan dikerjain abis-abisan ini sih.
“Sini lo, gabung sama yang lain” kata Yudha sambil menunjuk ke barisan berisi kira-kira 11 atau 12 orang. Ternyata mereka semua yang kemarin bolos ikut orientasi.
“Lo pimpin temen-temen lo ini keliling kampus sambil nyanyi lagu Mentari” perintah Yudha sambil nunjuk gue.
Dahi gue berkernyit. Lagu apa itu?
“Lo ga tau lagu mentari?!” bentak Yudha seolah dia tau apa yang gue pikirin. Gue pun menggeleng lesu.
“May, tolong ajarin dulu nih lagu mentari”. Kak Maya memang penanggung jawab untuk lagu-lagu kampus. Kemarin sepintas gue ngeliat dia nyanyi lagu mars Kampus.
Untungnya Maya orangnya baik banget. Sabar ngajarin gue dan temen-temen yang ga tau lirik dan lagunya. Ga kerasa dua puluh menit sudah gue habiskan untuk ngapalin nih lagu sampai akhirnya gue ngeliat Yudha.
“Siap kak” tegas gue tanpa perlu gue tunggu perintah dia lagi.
Gue pun mulai berkeliling kampus. Setengah jam gue habiskan mulai dari gerbang depan, menyisiri aula barat, teknik sipil, SBM, tambang, arsi, aula timur dan kembali ke gerbang depan.
Mentari menyala disini
Disini di dalam hatiku
Gemuruhnya sampai disini
Disini di urat darahku
Meskipun tembok yang tinggi mengurungku
Berlapis pagar duri sekitarku
Tak satupun yang mampu menghalangiku
Menyala di dalam hatiku
Hari ini hari milikku
Juga esok masih terbentang
Dan mentari kan tetap menyala
Disini di urat darahku
Gue rebahkan badan gue di kasur begitu gue sampai di kosan. Hari ini capek banget. Keliling kampus sambil nyanyi-nyanyi keras, kalau ga mau dibilang teriak ya. Tapi gue akui tadi itu cukup fun. Gue bisa menikmati keindahan seluruh kampus sambil ditemani tatapan-tatapan aneh dari senior –senior yang kebetulan ada di kampus.
Tiga hari berikutnya gue laluin dengan aktivitas yang hampir sama. Ocehan dan omelan, yang sebetulnya ga pernah gue denger, dengan rajinnya mampir ke telinga gue setiap hari.
Hari Sabtu adalah hari yang gue tunggu-tunggu. Hari ini ada pameran unit, atau biasanya disebut OHU, Open House Unit, tempatnya seluruh unit-unit kegiatan kampus pasang stand unjuk gigi.
Dengan berbekal plastik berisi lumpia basah yang gue beli di depan Mesjid Salman, gue mulai menyusuri stand-stand yang ada di kampus. Lucu dan kreatifnya senior-senior gue dalam menarik minat juniornya agar tertarik masuk unit mereka, sangat berbanding terbalik dengan hari-hari sebelumnya. Ada yang mukanya di kasih bedak lebih tebel dari Syahrini, ada juga yang memakai jubah panjang kaya di komik-komik.
Tiba-tiba mata gue tertuju ke satu stand dengan warna kotak-kotak hitam putih. Di situ ada Lena, temen kosan gue sedang pakai baju benteng. Ya, itu adalah stand Percama, persatuan catur mahasiswa. Gue emang suka banget sama catur dan gue ga nyangka ternyata Lena anak unit catur. Ini anak tampangnya cantik, bersih, seksi, kalau ga mau dibilang nakal. Sama sekali ga ada tampang pemikir seperti senior-senior lain yang ada di stand itu.
“Gue ikutan ya Len. Gimana cara daftarnya?” gue pun tanpa perlu pikir panjang lagi mengajukan diri untuk ikut unit ini.
“Ga ribet, tulis aja nama sama jurusan lo disitu” jawab Lena sambil tangannya menunjuk ke kertas pendaftaran.
“Silvia Simanjuntak, STEI”. Gue pun resmi menyudahi orientasi hari ini dengan terdaftar di unit catur.
Diubah oleh arieflatu 25-02-2014 17:19
0