- Beranda
- Stories from the Heart
Accidentally In Love [True Story]
...
TS
robotpintar
Accidentally In Love [True Story]
![Accidentally In Love [True Story]](https://s.kaskus.id/images/2014/02/14/6448808_20140214023854.png)
Spoiler for Cover:
![Accidentally In Love [True Story]](https://s.kaskus.id/images/2014/02/14/6448808_20140214024411.png)
So she said what's the problem baby
What's the problem I don't know
Well maybe I'm in love (love)
Think about it every time
I think about it
Can't stop thinking 'bout it
How much longer will it take to cure this
Just to cure it cause I can't ignore it if it's love (love)
Makes me wanna turn around and face me but I don't know nothing 'bout love
Come on, come on
Turn a little faster
Come on, come on
The world will follow after
Come on, come on
Cause everybody's after love
So I said I'm a snowball running
Running down into the spring that's coming all this love
Melting under blue skies
Belting out sunlight
Shimmering love
Well baby I surrender
To the strawberry ice cream
Never ever end of all this love
Well I didn't mean to do it
But there's no escaping your love
These lines of lightning
Mean we're never alone,
Never alone, no, no
We're accidentally in love
Accidentally in love [x7]
Accidentally I'm In Love
Spoiler for Bagian 1:
#1
Quote:
“Gila lu Bon, roti segitu banyak sayang-sayang bakal empan ikan semua!”
“Emang ngapa? Ikan jaman sekarang mah ogah makan cacing, Meng”
Gua jawab aja sekena-nya, memang niatnya gua bawa roti dari rumah buat bekal pas mancing tapi, gara-gara umpan cacing gua dari tadi nggak disentuh ikan terpaksa gua ganti dengan roti. Siapa tau mujarab.
Nggak seberapa berselang, tali pancing gua bergetar, refleks gua tarik joran sekuatnya dan mendarat dengan mulus seekor ikan yang kurang lebih seukuran telapak tangan.
“Anjritt.. dari tadi dapet sapu-sapu mulu gua!”
Sambil melepas mata kail dari mulut ikan sapu-sapu yang barusan gua angkat dan langsung gua lempar lagi kedalam kali.
Tidak berapa lama, melantun lagu “Time Like This”-nya Foo Fighter dari ponsel gua. Tertera tulisan “Rumah” dilayarnya.
“Kenapa mak?”
Karena memang cuma nyokap gua aja yang selalu telpon melalui telepon rumah. Bokap dan adik gua selalu menggunakan ponsel-nya masing-masing jika ada keperluan.
“Assalamualaikum , Mancing kagak rapi-rapi luh, nih ada kiriman surat buat elu”
“Dari siapa?”
“Kagak tau, bahasanya emak nggak ngerti”
“Simpenin dulu, nih aye udah mau pulang”
“Yaudah buruan, jangan maghriban dijalan, pamali. Assalamualaikum”
“Waalaikumsalam”
Gua kantongin lagi ponsel k-ekantong celana pendek yang sekarang udah kotor campur lumpur, sambil berteriak ke temen gua; Komeng, yang lagi berkutat dengan tali pancingnya yang kusut.
“Meng, ayo balik.. udah sore”
“Belon juga dapet sekilo, udah mau balik aje”
“Yauda elu terusin dah, gua balik duluan”
Komeng menjawab dengan sedikit gumam di bibirnya terdengar seperti “Yaelah..” sambil berjalan gontai menyusul gua.
------
Itu kejadian beberapa tahun yang lalu, dimana gua dan Komeng masih biasa mencari cacing buat umpan ikan di kebun singkong belakang rumahnya Haji Salim dan kemudian pergi memancing disepanjang pinggiran sungai Pesanggrahan, Jakarta.
Sekarang, gua sedang duduk sambil bersandar di sebuah kursi lipat di pinggir danau di daerah Leeds, Inggris. Menghabiskan hari libur akhir musim gugur dengan memancing sambil bernostalgia, mencoba membangkitkan memori tentang memancing, tentang si Komeng, tentang Jakarta, tentang rumah.
Setelah berjam-jam memancing, menghabiskan berkaleng-kaleng ‘Diet Coke’ akhirnya gua memutuskan untuk menyudahi kegiatan sialan ini. Pulang dengan membawa 6 Ekor ikan Yelowtail (di Indonesia disebut ikan patin) dan sedikit kenangan tentang ‘rumah’, gua berjalan gontai menuju tempat dimana sepeda kesayangan gua diparkir, sempat kebingungan awalnya karena sekarang ada banyak sepeda yang diparkir, padahal tadi pagi baru sepeda gua aja yang nongkrong disini, setelah celingak-celinguk akhirnya ketemu juga dan gua mulai mengayuh.
Jarak dari tempat gua biasa mancing ke tempat dimana gua tinggal di Moorland Ave, Leeds kurang lebih 3,5 mil atau kalau dalam satuan Kilometer sekitar 5,5 Km. Jarak segitu kalo disini, di Inggris bisa dibilang ‘deket’, kalau naik sepeda bisa cuma 30 menit.
Oiya, nama gua Boni. Gua lahir dan dibesarkan di Jakarta. Saat ini gua kerja dan tinggal di Leeds, Inggris sekitar 2-3 jam dari London (dengan kereta). Gua kerja sebagai Sound Designer disalah satu Agensi perfilman dan periklanan di Leeds yang juga punya kantor di London. Sudah hampir 4 tahun gua kerja dan tinggal disini, ditempat dimana nggak ada sungai dengan air berwarna cokelat keruh yang banyak ikan sapu-sapunya dan nggak ada teman yang suka menggerutu “Yaelah”.
Sambil mendengarkan “Heaven” nya Lost Lonely Boys lewat headset, gua mengayuh sepeda menuju ke rumah, pulang. Melewati jalan berpasir yang dipenuhi pohon-pohon maple di kedua sisinya menuju jalan utama. Jalan yang sangat sepi dan hening, jam menunjukkan angka 4 sore, menandakan waktu shalat maghrib, di sabtu sore seperti sekarang ini memang didaerah sini sangat sepi, kebanyakan penduduk sekitar sedang ke stadion atau pub-pub untuk menyaksikan Leeds United bertanding. Ingin buru-buru sampai di rumah, karena perut udah mulai keroncongan, gua kayuh sepeda lebih cepat. Sampai kemudian terdengar sayup-sayup suara musik yang makin lama makin nyaring, suara musik RnB yang sepertinya diputar dari dalam mobil dengan volume maksimal. Suara tersebut datang dari arah belakang dan kemudian menyusul gua, sebuah BMW silver yang melaju cepat bahkan boleh dibilang sangat cepat, sambil meninggalkan debu persis seperti mobil yang sedang Rally Dakkar.
“Orang Gila!!” gua mengumpat, masih sambil dengerin coda lagu “Heaven” nya Lost Lonely Boys. Sampai gua melihat beberapa detik kemudian lampu rem BMW tersebut menyala dan kemudian berhenti.
Deg!, “Wuanjrit, sakti juga tuh orang bisa denger suara gua” sambil berhenti dan melepas headset dari telinga. Yang ternyata setelah gua sadar, suara gua nggak sepelan pas pakai headset tadi. Gua nunggu sambil dag dig dug, kalau dia ngerti ucapan gua, dia pasti orang Indonesia dan kalo ternyata bukan gua bakal siap-siap kabur.
Pintu penumpang pun terbuka, terbuka secara paksa tepatnya, sedetik kemudian keluar seseorang dari kursi penumpang, terhuyung dan kemudian terjatuh, terdengar makian dari dalam BMW tersebut mungkin seperti “bitch” atau semacamnya dan sesaat kemudian BMW tersebut pergi, mengasapi orang yang tersungkur itu dengan debu jalanan.
Nggak mau terlalu ambil pusing, sambil bernafas lega dan bilang dalam hati; “untung bukan gua”, gua meneruskan mengayuh sepeda.
“Get up Bro, life is brutal”
gua berkata ke orang itu sambil melewatinya tetap melanjutkan mengayuh. Dan beberapa meter kemudian gua mendengar sebuah teriakan, teriakan yang (pada akhirnya) bakal merubah hidup gua.
“Woii.. Help me!, you’re Indonesian, right?”
“Tolongin gue dong…”
Gua berhenti mengayuh, turun dan bengong. Sudah hampir setahun gua nggak denger secara langsung orang bicara ke gua dengan bahasa Indonesia dan suara perempuan pula.. Lima, ah mungkin sepuluh detik kemudian baru gua memalingkan muka tapi masih tetap bengong.
“Woii..”
Akhirnya gua turun dari sepeda, kemudian menghampiri orang itu. Terduduk di depan gua sosok perempuan, hitam manis dengan kepala tertutup hood jaket hitam, celana jeans dan sepatu model boots sebetis berwarna cokelat.
“Elu nggak apa-apa?”
“Menurut Lo? Kalo gue gak apa-apa, ngapain gua teriak minta tolong elu!!”
Gua nggak menjawab, berusaha membantu dia berdiri sambil bertanya lagi bagaimana keadaannya. Sekali lagi dia mengumpat;
“Gila!, nggak punya hati banget sih lu!, ya jelas lah gue kenapa-kenapa.. nih liat!”
Sambil memperlihatkan telapak tangan dan siku-nya yang luka dan kemudian menyibak celana jeans-nya yang kotor terkena debu dan sobek di beberapa bagian akibat terlempar dari mobil tadi. Sesaat baru dia sadar kalau lutut kanannya juga luka sambil meringis kesakitan dia mencoba membersihkan luka tersebut dengan air liurnya. Sangat Indonesia sekali.
“Gua pikir tadi orang mabok yang lagi berantem, disini mah biasa begitu,mbak!”
Kemudia gua kasih satu-satunya ‘Diet Coke’ sisa memancing tadi, harusnya sih air putih tapi Cuma itu yang gua punya sekarang. Sambil menggerutu karena dikasih ‘Diet Coke’ daripada air putih, diminum juga tuh minuman soda. Kemudian gua menawarkan diri buat mengantar dia ke sebuah toko kecil di ujung jalan ini, untuk membeli plester untuk membalut luka-nya.
“Jauh nggak?”
Dia bertanya sambil menurunkan hood jaketnya dan menyibak rambutnya yang pendek seleher. Kemudian terlihat jelas sebuah luka lebam di sudut mata sebelah kiri-nya, tidak, bukan cuma satu, setidaknya ada 3 luka lebam, selain disudut matanya, satu lagi di dahi sebelah kiri dan satu lagi di sudut bibir sebelah kanan, yang terakhir tampak seperti luka yang baru karena masih meninggalkan sisa bekas darah yang membeku.
Gua nggak berani bertanya, gua hindari menatap kewajahnya sambil menjawab pertanyaa-nya bahwa tokonya nggak begitu jauh dari sini, sambil menunjuk ke arah jalan utama.
---
“Emang ngapa? Ikan jaman sekarang mah ogah makan cacing, Meng”
Gua jawab aja sekena-nya, memang niatnya gua bawa roti dari rumah buat bekal pas mancing tapi, gara-gara umpan cacing gua dari tadi nggak disentuh ikan terpaksa gua ganti dengan roti. Siapa tau mujarab.
Nggak seberapa berselang, tali pancing gua bergetar, refleks gua tarik joran sekuatnya dan mendarat dengan mulus seekor ikan yang kurang lebih seukuran telapak tangan.
“Anjritt.. dari tadi dapet sapu-sapu mulu gua!”
Sambil melepas mata kail dari mulut ikan sapu-sapu yang barusan gua angkat dan langsung gua lempar lagi kedalam kali.
Tidak berapa lama, melantun lagu “Time Like This”-nya Foo Fighter dari ponsel gua. Tertera tulisan “Rumah” dilayarnya.
“Kenapa mak?”
Karena memang cuma nyokap gua aja yang selalu telpon melalui telepon rumah. Bokap dan adik gua selalu menggunakan ponsel-nya masing-masing jika ada keperluan.
“Assalamualaikum , Mancing kagak rapi-rapi luh, nih ada kiriman surat buat elu”
“Dari siapa?”
“Kagak tau, bahasanya emak nggak ngerti”
“Simpenin dulu, nih aye udah mau pulang”
“Yaudah buruan, jangan maghriban dijalan, pamali. Assalamualaikum”
“Waalaikumsalam”
Gua kantongin lagi ponsel k-ekantong celana pendek yang sekarang udah kotor campur lumpur, sambil berteriak ke temen gua; Komeng, yang lagi berkutat dengan tali pancingnya yang kusut.
“Meng, ayo balik.. udah sore”
“Belon juga dapet sekilo, udah mau balik aje”
“Yauda elu terusin dah, gua balik duluan”
Komeng menjawab dengan sedikit gumam di bibirnya terdengar seperti “Yaelah..” sambil berjalan gontai menyusul gua.
------
Itu kejadian beberapa tahun yang lalu, dimana gua dan Komeng masih biasa mencari cacing buat umpan ikan di kebun singkong belakang rumahnya Haji Salim dan kemudian pergi memancing disepanjang pinggiran sungai Pesanggrahan, Jakarta.
Sekarang, gua sedang duduk sambil bersandar di sebuah kursi lipat di pinggir danau di daerah Leeds, Inggris. Menghabiskan hari libur akhir musim gugur dengan memancing sambil bernostalgia, mencoba membangkitkan memori tentang memancing, tentang si Komeng, tentang Jakarta, tentang rumah.
Setelah berjam-jam memancing, menghabiskan berkaleng-kaleng ‘Diet Coke’ akhirnya gua memutuskan untuk menyudahi kegiatan sialan ini. Pulang dengan membawa 6 Ekor ikan Yelowtail (di Indonesia disebut ikan patin) dan sedikit kenangan tentang ‘rumah’, gua berjalan gontai menuju tempat dimana sepeda kesayangan gua diparkir, sempat kebingungan awalnya karena sekarang ada banyak sepeda yang diparkir, padahal tadi pagi baru sepeda gua aja yang nongkrong disini, setelah celingak-celinguk akhirnya ketemu juga dan gua mulai mengayuh.
Jarak dari tempat gua biasa mancing ke tempat dimana gua tinggal di Moorland Ave, Leeds kurang lebih 3,5 mil atau kalau dalam satuan Kilometer sekitar 5,5 Km. Jarak segitu kalo disini, di Inggris bisa dibilang ‘deket’, kalau naik sepeda bisa cuma 30 menit.
Oiya, nama gua Boni. Gua lahir dan dibesarkan di Jakarta. Saat ini gua kerja dan tinggal di Leeds, Inggris sekitar 2-3 jam dari London (dengan kereta). Gua kerja sebagai Sound Designer disalah satu Agensi perfilman dan periklanan di Leeds yang juga punya kantor di London. Sudah hampir 4 tahun gua kerja dan tinggal disini, ditempat dimana nggak ada sungai dengan air berwarna cokelat keruh yang banyak ikan sapu-sapunya dan nggak ada teman yang suka menggerutu “Yaelah”.
Sambil mendengarkan “Heaven” nya Lost Lonely Boys lewat headset, gua mengayuh sepeda menuju ke rumah, pulang. Melewati jalan berpasir yang dipenuhi pohon-pohon maple di kedua sisinya menuju jalan utama. Jalan yang sangat sepi dan hening, jam menunjukkan angka 4 sore, menandakan waktu shalat maghrib, di sabtu sore seperti sekarang ini memang didaerah sini sangat sepi, kebanyakan penduduk sekitar sedang ke stadion atau pub-pub untuk menyaksikan Leeds United bertanding. Ingin buru-buru sampai di rumah, karena perut udah mulai keroncongan, gua kayuh sepeda lebih cepat. Sampai kemudian terdengar sayup-sayup suara musik yang makin lama makin nyaring, suara musik RnB yang sepertinya diputar dari dalam mobil dengan volume maksimal. Suara tersebut datang dari arah belakang dan kemudian menyusul gua, sebuah BMW silver yang melaju cepat bahkan boleh dibilang sangat cepat, sambil meninggalkan debu persis seperti mobil yang sedang Rally Dakkar.
“Orang Gila!!” gua mengumpat, masih sambil dengerin coda lagu “Heaven” nya Lost Lonely Boys. Sampai gua melihat beberapa detik kemudian lampu rem BMW tersebut menyala dan kemudian berhenti.
Deg!, “Wuanjrit, sakti juga tuh orang bisa denger suara gua” sambil berhenti dan melepas headset dari telinga. Yang ternyata setelah gua sadar, suara gua nggak sepelan pas pakai headset tadi. Gua nunggu sambil dag dig dug, kalau dia ngerti ucapan gua, dia pasti orang Indonesia dan kalo ternyata bukan gua bakal siap-siap kabur.
Pintu penumpang pun terbuka, terbuka secara paksa tepatnya, sedetik kemudian keluar seseorang dari kursi penumpang, terhuyung dan kemudian terjatuh, terdengar makian dari dalam BMW tersebut mungkin seperti “bitch” atau semacamnya dan sesaat kemudian BMW tersebut pergi, mengasapi orang yang tersungkur itu dengan debu jalanan.
Nggak mau terlalu ambil pusing, sambil bernafas lega dan bilang dalam hati; “untung bukan gua”, gua meneruskan mengayuh sepeda.
“Get up Bro, life is brutal”
gua berkata ke orang itu sambil melewatinya tetap melanjutkan mengayuh. Dan beberapa meter kemudian gua mendengar sebuah teriakan, teriakan yang (pada akhirnya) bakal merubah hidup gua.
“Woii.. Help me!, you’re Indonesian, right?”
“Tolongin gue dong…”
Gua berhenti mengayuh, turun dan bengong. Sudah hampir setahun gua nggak denger secara langsung orang bicara ke gua dengan bahasa Indonesia dan suara perempuan pula.. Lima, ah mungkin sepuluh detik kemudian baru gua memalingkan muka tapi masih tetap bengong.
“Woii..”
Akhirnya gua turun dari sepeda, kemudian menghampiri orang itu. Terduduk di depan gua sosok perempuan, hitam manis dengan kepala tertutup hood jaket hitam, celana jeans dan sepatu model boots sebetis berwarna cokelat.
“Elu nggak apa-apa?”
“Menurut Lo? Kalo gue gak apa-apa, ngapain gua teriak minta tolong elu!!”
Gua nggak menjawab, berusaha membantu dia berdiri sambil bertanya lagi bagaimana keadaannya. Sekali lagi dia mengumpat;
“Gila!, nggak punya hati banget sih lu!, ya jelas lah gue kenapa-kenapa.. nih liat!”
Sambil memperlihatkan telapak tangan dan siku-nya yang luka dan kemudian menyibak celana jeans-nya yang kotor terkena debu dan sobek di beberapa bagian akibat terlempar dari mobil tadi. Sesaat baru dia sadar kalau lutut kanannya juga luka sambil meringis kesakitan dia mencoba membersihkan luka tersebut dengan air liurnya. Sangat Indonesia sekali.
“Gua pikir tadi orang mabok yang lagi berantem, disini mah biasa begitu,mbak!”
Kemudia gua kasih satu-satunya ‘Diet Coke’ sisa memancing tadi, harusnya sih air putih tapi Cuma itu yang gua punya sekarang. Sambil menggerutu karena dikasih ‘Diet Coke’ daripada air putih, diminum juga tuh minuman soda. Kemudian gua menawarkan diri buat mengantar dia ke sebuah toko kecil di ujung jalan ini, untuk membeli plester untuk membalut luka-nya.
“Jauh nggak?”
Dia bertanya sambil menurunkan hood jaketnya dan menyibak rambutnya yang pendek seleher. Kemudian terlihat jelas sebuah luka lebam di sudut mata sebelah kiri-nya, tidak, bukan cuma satu, setidaknya ada 3 luka lebam, selain disudut matanya, satu lagi di dahi sebelah kiri dan satu lagi di sudut bibir sebelah kanan, yang terakhir tampak seperti luka yang baru karena masih meninggalkan sisa bekas darah yang membeku.
Gua nggak berani bertanya, gua hindari menatap kewajahnya sambil menjawab pertanyaa-nya bahwa tokonya nggak begitu jauh dari sini, sambil menunjuk ke arah jalan utama.
---
DAFTAR ISI
Quote:
CHAPTER 1
#1 The Beginning
#2 Truly Gentlemen
#3 Place Called Home
#4 The Morning Fever
#5 A Miserable Story
#6 Night Rain
#7 Inside My Head
#8 That Day
#9 Be Tough
#10 Mukena
#1 The Beginning
#2 Truly Gentlemen
#3 Place Called Home
#4 The Morning Fever
#5 A Miserable Story
#6 Night Rain
#7 Inside My Head
#8 That Day
#9 Be Tough
#10 Mukena
Quote:
CHAPTER 2
#11-A Trip To Manchester
#11-B The Swiss Army
#12 Here's and Back Again
#13 I Miss You So Bad
#14 Going Mad
#15 Promise
#16 You’ll Be The Only Light I See
#17 The Winter Tears
#18 She's Gone
#19 That Memories
#11-A Trip To Manchester
#11-B The Swiss Army
#12 Here's and Back Again
#13 I Miss You So Bad
#14 Going Mad
#15 Promise
#16 You’ll Be The Only Light I See
#17 The Winter Tears
#18 She's Gone
#19 That Memories
Quote:
CHAPTER 3
[URL="http://www.kaskus.co.id/show_post/530ff7e41acb17030d8b48f1/479/- "]#19-A The Hood[/URL]
#19-B Heres And Back Again II
#19-C Weak
#19-D Surrender
#19-E The Choice
#19-F Anything For You
#19-G Chelsea Number 8
#19-H Its not always about gold and glory
#19-I Aku
#19-J The Words
#19-K The Persian Cat
#19-L You Really The Only Light I See
#19-M So Be It
#19-N Less Than Perfect
#20 That Day II
[URL="http://www.kaskus.co.id/show_post/530ff7e41acb17030d8b48f1/479/- "]#19-A The Hood[/URL]
#19-B Heres And Back Again II
#19-C Weak
#19-D Surrender
#19-E The Choice
#19-F Anything For You
#19-G Chelsea Number 8
#19-H Its not always about gold and glory
#19-I Aku
#19-J The Words
#19-K The Persian Cat
#19-L You Really The Only Light I See
#19-M So Be It
#19-N Less Than Perfect
#20 That Day II
Quote:
CHAPTER 4 The Prekuel
#21 The Prologue
#22 My Precious
#23 Ticket to Ride
#24 Singapore
#25 Dreams
#26 The Awkward Moment
#27 Logic
#28 Driver In Life
#29 The Risk Taker
#30 Sorry
#31 Rise Again
#32 Goodbye
#21 The Prologue
#22 My Precious
#23 Ticket to Ride
#24 Singapore
#25 Dreams
#26 The Awkward Moment
#27 Logic
#28 Driver In Life
#29 The Risk Taker
#30 Sorry
#31 Rise Again
#32 Goodbye
Quote:
CHAPTER 5!!
#33 London
#34 Unwell
#35 I Was Here
#36 Leeds
#37 New Home, New Life
#38 Alone
#39 Intermezo
#40 Goin' Trough
#41 At Glance
#42 The Past of The Future
#33 London
#34 Unwell
#35 I Was Here
#36 Leeds
#37 New Home, New Life
#38 Alone
#39 Intermezo
#40 Goin' Trough
#41 At Glance
#42 The Past of The Future
Quote:
CHAPTER 6
#43 My First ...
#44 If Lovin' You ...
#45 Goin' Back
#46 Leeds II
#47 I Love You (Jealousy)
#48 After All
#49 Hell Yeah
#50 Conflict
#51 Liar-Liar
#52 Memories
#43 My First ...
#44 If Lovin' You ...
#45 Goin' Back
#46 Leeds II
#47 I Love You (Jealousy)
#48 After All
#49 Hell Yeah
#50 Conflict
#51 Liar-Liar
#52 Memories
Quote:
Quote:
Diubah oleh robotpintar 10-04-2014 08:46
carangkasampah dan 121 lainnya memberi reputasi
120
1.3M
Kutip
2.3K
Balasan
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
robotpintar
#237
Spoiler for Bagian ke Empatbelas:
#14 Going Sad
Quote:
Gua menggenggam cangkir kopi ditangan kanan dan sebatang rokok dengan tangan kiri, layar tivi yang menyiarkan siaran ulang pertandingan tenis menyinari seisi ruang tamu yang sejak tadi lampunya gua matikan. Mungkin gara-gara tidur seharian, tengah malem begini mata gua jadi seger banget, nggak ada ngantuk-ngantuknya sama sekali, ditambah kepikiran masalah Ines.
Masih terngiang omongan Komeng, kemaren malam saat kami ngobrol diteras rumah gua.
”Buruan nyatakan, ntar kalo udah mabur aja, mewek dah..”
Gua masih bingung dengan apa yang gua rasakan saat ini. Apakah ini Cuma sebuah rasa iba dan kasihan dengan keadaannya, atau .. kayak gini namanya jatuh cinta. Kalau memang bener gua jatuh cinta, apa iya si Ines juga merasakan hal yang sama ke gua? Atau dia Cuma merasa nggak enak karena gua udah menolong dia dan begini cara dia membalas kebaikan gua, dengan sebuah perhatian yang lebih. Dan apakah gua harus nyatakan? Tapi nanti kalau ternyata ditolak?
Gua kemudian melepas jam tangan pemberian dari Ines, meletakkannya di meja dan kemudian memandanginya. Kemudian gua menyentuh-nyentuh jam tersebut, layaknya seseorang yang baru menemukan benda hidup yang sudah lama tak bergerak.
”Heh.. elu tulus nggak?”
”Woi.. jam! Elu dibeli dengan cinta nggak?”
Kemudian gua menggeleng, Anjrit. Gua gila beneran nih kayaknya, masa ngajak ngomong jam tangan.
Gua merebahkan diri di sofa, mencoba memejamkan mata. Tapi pikiran ini tetap melayang, memikirkan Ines. Sepintas benak gua membayangkan; apa semua cowok yang jatuh cinta itu gelisah sampai susah tidur seperti gua sekarang ini? Ah, gua Cuma tidur siang kelamaan aja. Kemudian gua mencoba memejamkan mata lagi, kali ini dengan usaha dua kali lebih keras. Tapi, yang muncul malah pikiran; Ines tau nggak ya kalau tadi gua cium keningnya? Argghhh.. God damn it. Gua kembali duduk, menyulut sebatang rokok dan mematikan tivi.
Tik tok tik tok tik tok, suara detik jam terdengar saru mengiringi gerimis diluar sana. Gua mematikan rokok, menuju ke kamar mandi, mengambil wudhu dan kemudian menunaikan solat Isya, sedari tadi siang gua nggak solat. Astagfirullah!
---
Tangan dingin menyentuh pipi gua. Kaget, sontak gua terbangun. Ines duduk disebelah gua. Gua mengucek mata dan memandang Ines, sosoknya kali ini sedikit berbeda, ada sentuhan sedikit make-up di wajahnya pun dengan bibirnya yang dipoles dengan perona bibir.
”Jam berapa?”
”Jam 6, bangun gih solat subuh..”
”Wah, kesiangan nih..”
Gua kemudian beranjak dari sofa hendak ke kamar mandi.
”Eh.. elu menor banget mau kemana?”
”Masa sih? Ketebelan ya?”
Ines bangkit, masuk ke kamar dan memandang ke arah cermin.
”Nggak sih, Cuma beda aja, biasanya kan nggak pake gitu-gituan... dapet darimana tuh make-up?”
”Hehehe, tempo hari gue belanja sama Darcy sama Sharon?”
”Ah, lu kenal sama Sharon?”
”Dikenalin sama Darcy..”
Sharon adalah seorang gadis, keponakan Darcy, usianya baru 16 tahun. Dulu sebelum pindah ke London, Sharon sering bermain dirumah Darcy.
”Terus lu mo kemana, make-up gitu?”
”Hahaha,.. Cuma ngetes doang, lo kerja nggak?”
”Kerja...”
Gua berteriak dari dalam kamar mandi.
Terdengar suara ”Yaaah” dari luar.
Selesai mandi gua bersiap-siap untuk berangkat ke tempat kerja.
”Emang ga cuti dulu sehari..”
”Nggak, udah ada schedule..”
Gua memandang sekilas ke Ines, dia sedang duduk di meja makan, menatap kosong dua mangkuk oatmeal dihadapannya.
”Lah, kok diapus make-upnya?”
”Kirain elo mau ngelibur sehari lagi..”
”Emang kalo gua libur, lu mau ngajak gua kemana ampe dandan segala?”
Gua menarik kursi dan duduk dihadapan Ines, kemudian mengambil semangkuk oatmeal dengan porsi yang lebih banyak.
”Ini buat gua kan?”
”Iya”
”Kok diem aja ditanyain..”
”Kemana kek gitu, nggak perlu yang jauh-jauh dan mahal-mahal.. tapi yaudahlah, elo-nya kan juga harus kerja”
Gua menghabiskan sarapan gua, Ines berdiri dan menuju ke sofa, duduk kemudian menyetel tivi.
”Lah ini nggak dimakan sarapannya?”
”Nanti aja, belom laper..”
”Yaudah.. gua makan boleh?”
”Makan aja..”
Gua kemudian menyambar mangkuk yang masih penuh terisi oatmeal, porsinya sih lebih sedikit dari yang baru gua abisin. Tapi, gak apa-apa lah buat tambahan energi.
”Elo mau ngikut gua kerja?”
Gua bertanya ke Ines dengan mulut masih dipenuhi Oatmeal.
Ines diam saja, kemudian berbaring di sofa. Gua berdiri, menuju ke tempat cucian piring dan mulai mencuci piring.
”Mau nggak??”
”Mau..”
”Yaudah sono dandan lagi...”
”Asyiik...”
Ines kemudian ngeloyor menuju ke kamar.
Lima belas menit kemudian Ines sudah berdiri didepan kamar dengan menggunakan jaket kulit warna hitam, jeans biru tua, syal dan kupluk United warna merah dan boot selutut berwarna cokelat.
”Begini aja nggak apa-apa?”
”Iya nggak apa-apa, jangan terlalu cantik dandan-nya ntar orang pada naksir..”
”Bagus dong...”
”Iye.. elu seneng,.. gua apa kabar?”
”Ya elo harus seneng juga dong.. kan lo bawa cewek cantik..”
Nggak lam, kami berdua sudah berada di Moorland rd menuju ke tempat kerja gua di Aire St, West Yorkshire. Kalau naik sepeda biasanya gua Cuma menghabiskan waktu sekitar 10-15 menit, kali ini dengan berjalan kaki, kira-kira bisa 25-30 menitan. Sisa-sisa hujan semalam masih meninggalkan beberapa genangan air di jalanan, gua menarik Ines ke sisi sebelah dalam trotoar agar terhindar dari cipratan air yang ditimbulkan kendaraan yang lewat.
Gua memilih untuk lewat di depan Leeds University, disini banyak mahasiswa yang lalu lalang untuk menuju ke kampus, gua sedikit familiar dengan beberapa diantara mereka, sebagian yang gua kenal adalah mahasiswa Indonesia yang kuliah disini.
Kami melintasi sebuah pertigaan jalan yang ramai saat titik-titik putih turun dari langit, Salju.
”Bon.. Ini apaan ya..?”
”Salju..”
”Hah salju?, salju? Salju beneran, bon?”
”Bukan!.. imitasi..”
”Ish, serius...?”
”Coba aja jilat..”
Nggak disangka Ines bener-bener menjilat salju yang menempel disarung tangannya.
”Apa rasanya?”
”Nggak ada..”
”Berarti salju beneran...”
”Ish....emang kalo ada rasanya, imitasi?”
”Bukan, kalo asin berarti upil”
”Jorok...”
Ines membentangkan tangannya tinggi-tinggi ke udara berharap bisa menangkap salju sebanyak-banyaknya. Gua kemudian mencoba menurunkan tangannya.
”Norak ah..”
”Biarin, gua kan jarang-jarang bisa megang salju”
Gua melepas sarung tangan kulit gua.
”Lepas tuh sarung tangan lu?”
”Kenapa?”
”Nih pake yang ini, kulit, lebih anget..”
Gua menyodorkan sarung tangan gua ke Ines, sambil membantu melepas sarung tangan miliknya.
”Kegedean...”
Ines mengangkat kelima jarinya yang tersembunyi dibalik sarung tangan kulit milik gua didepan wajahnya sambil nyengir kuda.
”Gapapa, kegedean dikit yang penting anget.. tuh kuping tutupin”
”Trus lo pake apa? Punya gua pasti nggak muat di tangan lo?”
Ines menurunkan kupluk hingga menutupi telinga-nya.
”Gua nggak usah..”
Gua mengantongi sarung tangan wol milik Ines.
”Yaah ntar lo masuk angin..”
”Nggak, angin mah nggak masuk dari tangan,, lagian juga make gituan bikin susah ngupil”
”Ish..”
Gua baru inget kalo sekarang bulan november. Nggak biasa-biasanya salju turun di bulan-bulan begini. Disini, di Leeds, salju jarang banget turun. Kalaupun turun paling intensitasnya sedikit, paling lama Cuma sekitar dua mingguan. Itu pun biasanya terjadi di pertengahan bulan November sampai awal desember. Jadi, jangan harap bisa merasakan White Christmas di Leeds. Mungkin bakal beda cerita kalo di daerah Inggris utara, disana Intensitas salju boleh dibilang tinggi, walaupun gua juga belum pernah kesana.
Ines mengusap-usapkan kedua tangannya, sambil sesekali menghembuskan nafas dari mulutnya. Kedinginan.
”Lu pake daleman berapa?”
”Satu..”
”Kaos doang?”
”Iya...”
”Yah, harusnya dobel nes, pake sweater dulu - baru jaket..”
Kemudian gua melepas jaket dan sweater gua dan menyerahkannya ke Ines, sebenernya nggak bisa dibilang Sweater juga sih, Cuma semacam kaos berbahan katun berlengan panjang, biasanya di cuaca macem sekarang, gua memakai pakaian rangkap tiga, rangkap empat kalau kaos singlet merk ’swan’ gua ikut dihitung.
”Nggak..nggak, nggak usah.. ntar malah elo yang dingin..”
”Ga papa, gua kan udah biasa..”
”Yaaah.. ogah ah..”
”Yauda, gua buang nih baju..”
”Sini.. sini..”
Ines membuka jaket, memakai baju panjang gua dan kembali memakai jaketnya.
Kemudian kami meneruskan berjalan di sepanjang trotoar di Willow Terace Rd, kemudian menyebrang, melewati jembatan dimana jalan tol tepat dibawahnya, mobil-mobil berseliweran menerjang salju. Salju turun semakin lebat saat kami baru tiba di Calverley St.
”Bon,..”
”Kenapa?”
Ines memegang hidungnya, terlihat darah segar keluar dari kedua lubang hidungnya. Ines mencoba menahannya dengan mendongak ke atas.
”Yaah...”
Gua mengambil syal-nya dan menyumbat kedua lubang hidungnya dengan ujung syal.
”Balik aja ya...”
Ines menggeleng.
”Gak kok, kue ka papa..nyuma mimisan hoang”
Ines menjawab masih, sambil mendongak ke atas dengan hidung tersumpal ujung syal.
”Gapapa gimana?”
Gua kemudian mengajaknya duduk disebuah kursi dibawah sebuah pohon di dekat Millenium Square, di tempat ini kalo lagi nggak musim dingin begini, banyak muda-mudi yang ’nongkrong’ menghabiskan waktu, ada yang main skate, ada yang ’break-dance’ atau ada yang hanya sekedar duduk-duduk.
Gua membuka kupluk dan sarung tangannya, melihat sekilas ke telinganya, apakah mengeluarkan darah juga dan kemudian melihat kuku-kuku tangannya yang sudah memerah.
”Balik aja deh ya...”
Gua kembali menyarankan agar kita pulang aja.
”Soalnya elu kedinginan ini, bentar lagi bisa-bisa kuping lu keluar darah juga”
Ines melotot ke gua, masih setengah mendongak dan dengan hidung tersumpal syal.
”Serius,, gua dulu waktu pertama kali disini, pas musim dingin juga begitu...balik ya?”
Gua mencoba meyakinkan Ines sekali lagi. Dia menggeleng. Batu amat nih anak. Kemudian gua celingukan mencari taksi. Tiga menit kemudian kami sudah berada di dalam taksi, melintasi jalan licin yang basah di Kings St kemudian berbelok kiri ke Wllington St. Gua melihat ke luar jendela, banyak orang yang berjalan cepat untuk sampai ke tujuan menghindari salju, disaat kayak gini supir taksi bisa jadi panen keuntungan karena emang orang-orang Leeds, most of people here, hate snow. Tapi, orang-orang disini sangat mencintai hujan.
Taksi kemudian berhenti di depan sebuah klinik, masih di Wellington St. Letak jalan ini Cuma bersebrangan dengan Aire St, tempat kerja gua. Gua membayar taksi dan masuk ke dalam klinik. Didalam sudah ada dua orang dalam antrian, gua mengambil nomor dan mengisi data. Sedikit berbeda dengan rumah sakit, kalau di klinik, siapa pun kita, punya kartu sosial atau tidak, tetap harus bayar, kecuali si empunya klinik-nya Om atau Tante elu.
Kemudian gua membiarkan Ines duduk, masih tetap mendongak-kan kepalanya ke atas dan hidung tersumpal syal, gua tersenyum melihat dia bernafas melalui hidung. Kemudian Ines melepaskan sarung tangan dan mencubit tangan gua.
”Owang hakit, mawah kewawa..”
Gua tersenyum semakin lebar, sambil mengusap-usap bekas cubitan-nya.
”Nosebleeding, huh?”
Tanya seorang ibu disebelah gua, yang sedang duduk bersama (mungkin) anaknya yang sedang di kompres dahi-nya.
”Oh.. yes ma’am”
”You should reduce your heater temperature at home, young man”
”I don’t get it, ma’am”
”Your wife isnt fully comfortable with this current weather, isn’t? So try to make your home temperature, little bit icy, transition theory..”
Si wanita itu berkomentar
”Oh.. yeah i think you’re lil bit right, cause I don’t wants she’s got ’icy’ when inside and more ’icy’ outside, so i keep the heater on and on, with high temperature,, yeah.. my bad..”
Kemudian wanita itu menepuk bahu gua sambil berdiri menuntun anaknya, namanya sudah dipanggil.
”Ohh.. my turn.., c’mon son, get-up..”
Dia berdiri dan menggandeng anaknya.
”Thanks for your suggestion, ma’am”
Gua mengucapkan terima kasih atas sarannya. Dia menengok dan tersenyum.
Kemudian memandang ke Ines. Dia masih mendongak dan tetap dengan syal menutup hidungnya. Dia melirik dengan sudut matanya. Kemudian tanganya meraih tangan gua.
”Bon, ni nuntik nga?”
”Iye,, disuntik, pake jarum.. nih yang segede gini..”
Gua melebarkan jari telunjuk dan jempol. Membentuk ukuran kira-kira sejengkal.
”Nyaaah..”
Nggak seberapa lama, seorang petugas memanggil Ines.
”Ms. Imanes..”
Ines terbengong-bengong, kemudian memandang curiga ke gua. Gua membantunya berdiri dan menuju ke ruang dokter yang ditunjukkan oleh si petugas, melewati lorong dengan banyak sertifikat sertifikat yang dibingkai emas pada dindingnya. Kemudian Ines berbisik.
”ngok ia nau nyama manjang hue yaah?”
Gua mengankat bahu sambil tersenyum. Ines mencubit lengan gua lagi.
Kemudian kami sudah berada didalam ruang dokter, ruang berukuran 3 x 3 bernuansa cokelat muda dan berbau alkohol (Bukan alkohol minuman ya). Si dokter yang masih agak muda, wanita berusia kira-kira 40 tahun-an, memeriksa hidung Ines. Kemudian dia ngomel-ngomel sebentar, tentang kenapa hidung pasien harus disumpal dengan syal? Apakah gua bisa menjamin kalo syal tersebut steril?. Gua Cuma diam melongo aja.
Setelah melakukan pemeriksaan, ngomel dan sedikit konsultasi, si bu dokter menyarankan agar Ines, setelah dari sini istirahat di ruangan yang suhu-nya tidak terlalu dingin dan jangan pula terlalu hangat. Jangan melakukan pekerjaan berat diluar ruang tanpa penutup telinga dan sarung tangan dan jangan dulu berhubungan intim.
”What??,, mmm doc.. i think we got some missunderstanding here...”
Gua memotong omongan si dokter. Si dokter kemudian melotot, mengabaikan gua sambil menulis resep di secarik kertas dan memberikannya ke gua. Sebaris tulisan mirip aksara jawa.
Kemudian kami keluar dari riang dokter, melewati lorong dengan sertifikat-sertifikat lagi dan gua menyuruh Ines duduk untuk menunggu, sementara gua menyelesaikan urusan administrasi dan menebus resep obat.
Biaya dokter umum disini bisa terbilang murah. Kalau menggunakan perbandingan ’berobat’ vs ’nonton bola di stadion’ bisa jadi 10 kali berobat sama dengan satu kali nonton bola di stadion. Obat-obatannya pun juga termasuk murah, apalagi dokter-dokter disini bisa dibilang sangat ’pelit’ resep, misalnya; sekali berobat dengan keluhan ’Flu’ atau ’Nosebleeding’ seperti kasusnya Ines ini, disini gua Cuma dikasih resep satu jenis obat. Total biaya dokter dengan obat nggak sampai £10. Coba bandingkan dengan dokter-dokter di Indonesia, bokap gua korengan aja suruh nebus obat-nya bisa 10 macem, totalnya bisa 250rb.
Setelah selesai, gua menghampiri Ines yang sedang senyam-senyum. Sekarang pendarahannya sudah berhenti, ngomongnya juga sudah kembali normal.
”Hehehehe... jangan ’berhubungan’ dulu ya..”
Ines meledek.
Gua nggak bisa menahan tawa kalo inget omongan dokter tadi. What! Having sex? Kemudian gua menyerahkan obat yang baru gua tebus ke Ines.
”Nih, minumnya sehari tiga kali, abis makan..”
”Minum sekarang boleh?”
”Emang lu udah makan?”
”Belum”
”Kenapa?”
”Kan tadi jatah gue , elo yang makan..”
”Oiya.. yaudah nanti beli roti di jalan..”
”Asik.. hodtgog ya..”
”Nggak ada tukang hotdog disini...”
”Masa?.. adanya apa?”
”Bajigur sama kue putu...”
Kemudian gua membuka pintu geser kelinik dan bergegas keluar. Diluar salju semakin parah, gua menutup pintu dan kembali masuk kedalam. Terdengar suara petugas dari balik meja counter; ”Getting worst outside, huh?”, gua mengangguk kemudian memandang ke Ines.
”Lu pake jaket gua deh...”
Gua melepas jaket gua, menyisakan kemeja hitam bergaris putih.
”Nah elo pake apa? Gua kan udah pake jaket...”
”Gua pake sweater gua yang tadi aja, mana lepas...”
Ines membuka jaketnya dan melepas sweater gua yang tadi dijalan baru dipakainya. Kemudian gua menyerahkan jaket gua ke Ines.
”Masa gua dobel dua gini jaketnya...”
”Udah diem, nggak usah bawel..”
Gua membantu Ines mengenakan jaket. Kemudian gua memakai sweater, melapisi kemeja hitam bergaris putih.
Kami berdua berjalan menembus salju,menyebrang Wellington St, memotong di Princes Squaredi. Ines mencoba mengimbangi langkah gua yang berjalan lebih cepat karena kedinginan, dia menyusul disamping dan menggenggam tangan gua.
”Dingin ya, bon..”
”Haha.. begini mah cemen..., gua pernah sampe ingus gua beku..”
Sebenernya itu Cuma penghiburan aja, ingus gua nggak pernah beku, dan selama gua disini, gua nggak pernah merasa sedingin ini.
---
Masih terngiang omongan Komeng, kemaren malam saat kami ngobrol diteras rumah gua.
”Buruan nyatakan, ntar kalo udah mabur aja, mewek dah..”
Gua masih bingung dengan apa yang gua rasakan saat ini. Apakah ini Cuma sebuah rasa iba dan kasihan dengan keadaannya, atau .. kayak gini namanya jatuh cinta. Kalau memang bener gua jatuh cinta, apa iya si Ines juga merasakan hal yang sama ke gua? Atau dia Cuma merasa nggak enak karena gua udah menolong dia dan begini cara dia membalas kebaikan gua, dengan sebuah perhatian yang lebih. Dan apakah gua harus nyatakan? Tapi nanti kalau ternyata ditolak?
Gua kemudian melepas jam tangan pemberian dari Ines, meletakkannya di meja dan kemudian memandanginya. Kemudian gua menyentuh-nyentuh jam tersebut, layaknya seseorang yang baru menemukan benda hidup yang sudah lama tak bergerak.
”Heh.. elu tulus nggak?”
”Woi.. jam! Elu dibeli dengan cinta nggak?”
Kemudian gua menggeleng, Anjrit. Gua gila beneran nih kayaknya, masa ngajak ngomong jam tangan.
Gua merebahkan diri di sofa, mencoba memejamkan mata. Tapi pikiran ini tetap melayang, memikirkan Ines. Sepintas benak gua membayangkan; apa semua cowok yang jatuh cinta itu gelisah sampai susah tidur seperti gua sekarang ini? Ah, gua Cuma tidur siang kelamaan aja. Kemudian gua mencoba memejamkan mata lagi, kali ini dengan usaha dua kali lebih keras. Tapi, yang muncul malah pikiran; Ines tau nggak ya kalau tadi gua cium keningnya? Argghhh.. God damn it. Gua kembali duduk, menyulut sebatang rokok dan mematikan tivi.
Tik tok tik tok tik tok, suara detik jam terdengar saru mengiringi gerimis diluar sana. Gua mematikan rokok, menuju ke kamar mandi, mengambil wudhu dan kemudian menunaikan solat Isya, sedari tadi siang gua nggak solat. Astagfirullah!
---
Tangan dingin menyentuh pipi gua. Kaget, sontak gua terbangun. Ines duduk disebelah gua. Gua mengucek mata dan memandang Ines, sosoknya kali ini sedikit berbeda, ada sentuhan sedikit make-up di wajahnya pun dengan bibirnya yang dipoles dengan perona bibir.
”Jam berapa?”
”Jam 6, bangun gih solat subuh..”
”Wah, kesiangan nih..”
Gua kemudian beranjak dari sofa hendak ke kamar mandi.
”Eh.. elu menor banget mau kemana?”
”Masa sih? Ketebelan ya?”
Ines bangkit, masuk ke kamar dan memandang ke arah cermin.
”Nggak sih, Cuma beda aja, biasanya kan nggak pake gitu-gituan... dapet darimana tuh make-up?”
”Hehehe, tempo hari gue belanja sama Darcy sama Sharon?”
”Ah, lu kenal sama Sharon?”
”Dikenalin sama Darcy..”
Sharon adalah seorang gadis, keponakan Darcy, usianya baru 16 tahun. Dulu sebelum pindah ke London, Sharon sering bermain dirumah Darcy.
”Terus lu mo kemana, make-up gitu?”
”Hahaha,.. Cuma ngetes doang, lo kerja nggak?”
”Kerja...”
Gua berteriak dari dalam kamar mandi.
Terdengar suara ”Yaaah” dari luar.
Selesai mandi gua bersiap-siap untuk berangkat ke tempat kerja.
”Emang ga cuti dulu sehari..”
”Nggak, udah ada schedule..”
Gua memandang sekilas ke Ines, dia sedang duduk di meja makan, menatap kosong dua mangkuk oatmeal dihadapannya.
”Lah, kok diapus make-upnya?”
”Kirain elo mau ngelibur sehari lagi..”
”Emang kalo gua libur, lu mau ngajak gua kemana ampe dandan segala?”
Gua menarik kursi dan duduk dihadapan Ines, kemudian mengambil semangkuk oatmeal dengan porsi yang lebih banyak.
”Ini buat gua kan?”
”Iya”
”Kok diem aja ditanyain..”
”Kemana kek gitu, nggak perlu yang jauh-jauh dan mahal-mahal.. tapi yaudahlah, elo-nya kan juga harus kerja”
Gua menghabiskan sarapan gua, Ines berdiri dan menuju ke sofa, duduk kemudian menyetel tivi.
”Lah ini nggak dimakan sarapannya?”
”Nanti aja, belom laper..”
”Yaudah.. gua makan boleh?”
”Makan aja..”
Gua kemudian menyambar mangkuk yang masih penuh terisi oatmeal, porsinya sih lebih sedikit dari yang baru gua abisin. Tapi, gak apa-apa lah buat tambahan energi.
”Elo mau ngikut gua kerja?”
Gua bertanya ke Ines dengan mulut masih dipenuhi Oatmeal.
Ines diam saja, kemudian berbaring di sofa. Gua berdiri, menuju ke tempat cucian piring dan mulai mencuci piring.
”Mau nggak??”
”Mau..”
”Yaudah sono dandan lagi...”
”Asyiik...”
Ines kemudian ngeloyor menuju ke kamar.
Lima belas menit kemudian Ines sudah berdiri didepan kamar dengan menggunakan jaket kulit warna hitam, jeans biru tua, syal dan kupluk United warna merah dan boot selutut berwarna cokelat.
”Begini aja nggak apa-apa?”
”Iya nggak apa-apa, jangan terlalu cantik dandan-nya ntar orang pada naksir..”
”Bagus dong...”
”Iye.. elu seneng,.. gua apa kabar?”
”Ya elo harus seneng juga dong.. kan lo bawa cewek cantik..”
Nggak lam, kami berdua sudah berada di Moorland rd menuju ke tempat kerja gua di Aire St, West Yorkshire. Kalau naik sepeda biasanya gua Cuma menghabiskan waktu sekitar 10-15 menit, kali ini dengan berjalan kaki, kira-kira bisa 25-30 menitan. Sisa-sisa hujan semalam masih meninggalkan beberapa genangan air di jalanan, gua menarik Ines ke sisi sebelah dalam trotoar agar terhindar dari cipratan air yang ditimbulkan kendaraan yang lewat.
Gua memilih untuk lewat di depan Leeds University, disini banyak mahasiswa yang lalu lalang untuk menuju ke kampus, gua sedikit familiar dengan beberapa diantara mereka, sebagian yang gua kenal adalah mahasiswa Indonesia yang kuliah disini.
Kami melintasi sebuah pertigaan jalan yang ramai saat titik-titik putih turun dari langit, Salju.
”Bon.. Ini apaan ya..?”
”Salju..”
”Hah salju?, salju? Salju beneran, bon?”
”Bukan!.. imitasi..”
”Ish, serius...?”
”Coba aja jilat..”
Nggak disangka Ines bener-bener menjilat salju yang menempel disarung tangannya.
”Apa rasanya?”
”Nggak ada..”
”Berarti salju beneran...”
”Ish....emang kalo ada rasanya, imitasi?”
”Bukan, kalo asin berarti upil”
”Jorok...”
Ines membentangkan tangannya tinggi-tinggi ke udara berharap bisa menangkap salju sebanyak-banyaknya. Gua kemudian mencoba menurunkan tangannya.
”Norak ah..”
”Biarin, gua kan jarang-jarang bisa megang salju”
Gua melepas sarung tangan kulit gua.
”Lepas tuh sarung tangan lu?”
”Kenapa?”
”Nih pake yang ini, kulit, lebih anget..”
Gua menyodorkan sarung tangan gua ke Ines, sambil membantu melepas sarung tangan miliknya.
”Kegedean...”
Ines mengangkat kelima jarinya yang tersembunyi dibalik sarung tangan kulit milik gua didepan wajahnya sambil nyengir kuda.
”Gapapa, kegedean dikit yang penting anget.. tuh kuping tutupin”
”Trus lo pake apa? Punya gua pasti nggak muat di tangan lo?”
Ines menurunkan kupluk hingga menutupi telinga-nya.
”Gua nggak usah..”
Gua mengantongi sarung tangan wol milik Ines.
”Yaah ntar lo masuk angin..”
”Nggak, angin mah nggak masuk dari tangan,, lagian juga make gituan bikin susah ngupil”
”Ish..”
Gua baru inget kalo sekarang bulan november. Nggak biasa-biasanya salju turun di bulan-bulan begini. Disini, di Leeds, salju jarang banget turun. Kalaupun turun paling intensitasnya sedikit, paling lama Cuma sekitar dua mingguan. Itu pun biasanya terjadi di pertengahan bulan November sampai awal desember. Jadi, jangan harap bisa merasakan White Christmas di Leeds. Mungkin bakal beda cerita kalo di daerah Inggris utara, disana Intensitas salju boleh dibilang tinggi, walaupun gua juga belum pernah kesana.
Ines mengusap-usapkan kedua tangannya, sambil sesekali menghembuskan nafas dari mulutnya. Kedinginan.
”Lu pake daleman berapa?”
”Satu..”
”Kaos doang?”
”Iya...”
”Yah, harusnya dobel nes, pake sweater dulu - baru jaket..”
Kemudian gua melepas jaket dan sweater gua dan menyerahkannya ke Ines, sebenernya nggak bisa dibilang Sweater juga sih, Cuma semacam kaos berbahan katun berlengan panjang, biasanya di cuaca macem sekarang, gua memakai pakaian rangkap tiga, rangkap empat kalau kaos singlet merk ’swan’ gua ikut dihitung.
”Nggak..nggak, nggak usah.. ntar malah elo yang dingin..”
”Ga papa, gua kan udah biasa..”
”Yaaah.. ogah ah..”
”Yauda, gua buang nih baju..”
”Sini.. sini..”
Ines membuka jaket, memakai baju panjang gua dan kembali memakai jaketnya.
Kemudian kami meneruskan berjalan di sepanjang trotoar di Willow Terace Rd, kemudian menyebrang, melewati jembatan dimana jalan tol tepat dibawahnya, mobil-mobil berseliweran menerjang salju. Salju turun semakin lebat saat kami baru tiba di Calverley St.
”Bon,..”
”Kenapa?”
Ines memegang hidungnya, terlihat darah segar keluar dari kedua lubang hidungnya. Ines mencoba menahannya dengan mendongak ke atas.
”Yaah...”
Gua mengambil syal-nya dan menyumbat kedua lubang hidungnya dengan ujung syal.
”Balik aja ya...”
Ines menggeleng.
”Gak kok, kue ka papa..nyuma mimisan hoang”
Ines menjawab masih, sambil mendongak ke atas dengan hidung tersumpal ujung syal.
”Gapapa gimana?”
Gua kemudian mengajaknya duduk disebuah kursi dibawah sebuah pohon di dekat Millenium Square, di tempat ini kalo lagi nggak musim dingin begini, banyak muda-mudi yang ’nongkrong’ menghabiskan waktu, ada yang main skate, ada yang ’break-dance’ atau ada yang hanya sekedar duduk-duduk.
Gua membuka kupluk dan sarung tangannya, melihat sekilas ke telinganya, apakah mengeluarkan darah juga dan kemudian melihat kuku-kuku tangannya yang sudah memerah.
”Balik aja deh ya...”
Gua kembali menyarankan agar kita pulang aja.
”Soalnya elu kedinginan ini, bentar lagi bisa-bisa kuping lu keluar darah juga”
Ines melotot ke gua, masih setengah mendongak dan dengan hidung tersumpal syal.
”Serius,, gua dulu waktu pertama kali disini, pas musim dingin juga begitu...balik ya?”
Gua mencoba meyakinkan Ines sekali lagi. Dia menggeleng. Batu amat nih anak. Kemudian gua celingukan mencari taksi. Tiga menit kemudian kami sudah berada di dalam taksi, melintasi jalan licin yang basah di Kings St kemudian berbelok kiri ke Wllington St. Gua melihat ke luar jendela, banyak orang yang berjalan cepat untuk sampai ke tujuan menghindari salju, disaat kayak gini supir taksi bisa jadi panen keuntungan karena emang orang-orang Leeds, most of people here, hate snow. Tapi, orang-orang disini sangat mencintai hujan.
Taksi kemudian berhenti di depan sebuah klinik, masih di Wellington St. Letak jalan ini Cuma bersebrangan dengan Aire St, tempat kerja gua. Gua membayar taksi dan masuk ke dalam klinik. Didalam sudah ada dua orang dalam antrian, gua mengambil nomor dan mengisi data. Sedikit berbeda dengan rumah sakit, kalau di klinik, siapa pun kita, punya kartu sosial atau tidak, tetap harus bayar, kecuali si empunya klinik-nya Om atau Tante elu.
Kemudian gua membiarkan Ines duduk, masih tetap mendongak-kan kepalanya ke atas dan hidung tersumpal syal, gua tersenyum melihat dia bernafas melalui hidung. Kemudian Ines melepaskan sarung tangan dan mencubit tangan gua.
”Owang hakit, mawah kewawa..”
Gua tersenyum semakin lebar, sambil mengusap-usap bekas cubitan-nya.
”Nosebleeding, huh?”
Tanya seorang ibu disebelah gua, yang sedang duduk bersama (mungkin) anaknya yang sedang di kompres dahi-nya.
”Oh.. yes ma’am”
”You should reduce your heater temperature at home, young man”
”I don’t get it, ma’am”
”Your wife isnt fully comfortable with this current weather, isn’t? So try to make your home temperature, little bit icy, transition theory..”
Si wanita itu berkomentar
”Oh.. yeah i think you’re lil bit right, cause I don’t wants she’s got ’icy’ when inside and more ’icy’ outside, so i keep the heater on and on, with high temperature,, yeah.. my bad..”
Kemudian wanita itu menepuk bahu gua sambil berdiri menuntun anaknya, namanya sudah dipanggil.
”Ohh.. my turn.., c’mon son, get-up..”
Dia berdiri dan menggandeng anaknya.
”Thanks for your suggestion, ma’am”
Gua mengucapkan terima kasih atas sarannya. Dia menengok dan tersenyum.
Kemudian memandang ke Ines. Dia masih mendongak dan tetap dengan syal menutup hidungnya. Dia melirik dengan sudut matanya. Kemudian tanganya meraih tangan gua.
”Bon, ni nuntik nga?”
”Iye,, disuntik, pake jarum.. nih yang segede gini..”
Gua melebarkan jari telunjuk dan jempol. Membentuk ukuran kira-kira sejengkal.
”Nyaaah..”
Nggak seberapa lama, seorang petugas memanggil Ines.
”Ms. Imanes..”
Ines terbengong-bengong, kemudian memandang curiga ke gua. Gua membantunya berdiri dan menuju ke ruang dokter yang ditunjukkan oleh si petugas, melewati lorong dengan banyak sertifikat sertifikat yang dibingkai emas pada dindingnya. Kemudian Ines berbisik.
”ngok ia nau nyama manjang hue yaah?”
Gua mengankat bahu sambil tersenyum. Ines mencubit lengan gua lagi.
Kemudian kami sudah berada didalam ruang dokter, ruang berukuran 3 x 3 bernuansa cokelat muda dan berbau alkohol (Bukan alkohol minuman ya). Si dokter yang masih agak muda, wanita berusia kira-kira 40 tahun-an, memeriksa hidung Ines. Kemudian dia ngomel-ngomel sebentar, tentang kenapa hidung pasien harus disumpal dengan syal? Apakah gua bisa menjamin kalo syal tersebut steril?. Gua Cuma diam melongo aja.
Setelah melakukan pemeriksaan, ngomel dan sedikit konsultasi, si bu dokter menyarankan agar Ines, setelah dari sini istirahat di ruangan yang suhu-nya tidak terlalu dingin dan jangan pula terlalu hangat. Jangan melakukan pekerjaan berat diluar ruang tanpa penutup telinga dan sarung tangan dan jangan dulu berhubungan intim.
”What??,, mmm doc.. i think we got some missunderstanding here...”
Gua memotong omongan si dokter. Si dokter kemudian melotot, mengabaikan gua sambil menulis resep di secarik kertas dan memberikannya ke gua. Sebaris tulisan mirip aksara jawa.
Kemudian kami keluar dari riang dokter, melewati lorong dengan sertifikat-sertifikat lagi dan gua menyuruh Ines duduk untuk menunggu, sementara gua menyelesaikan urusan administrasi dan menebus resep obat.
Biaya dokter umum disini bisa terbilang murah. Kalau menggunakan perbandingan ’berobat’ vs ’nonton bola di stadion’ bisa jadi 10 kali berobat sama dengan satu kali nonton bola di stadion. Obat-obatannya pun juga termasuk murah, apalagi dokter-dokter disini bisa dibilang sangat ’pelit’ resep, misalnya; sekali berobat dengan keluhan ’Flu’ atau ’Nosebleeding’ seperti kasusnya Ines ini, disini gua Cuma dikasih resep satu jenis obat. Total biaya dokter dengan obat nggak sampai £10. Coba bandingkan dengan dokter-dokter di Indonesia, bokap gua korengan aja suruh nebus obat-nya bisa 10 macem, totalnya bisa 250rb.
Setelah selesai, gua menghampiri Ines yang sedang senyam-senyum. Sekarang pendarahannya sudah berhenti, ngomongnya juga sudah kembali normal.
”Hehehehe... jangan ’berhubungan’ dulu ya..”
Ines meledek.
Gua nggak bisa menahan tawa kalo inget omongan dokter tadi. What! Having sex? Kemudian gua menyerahkan obat yang baru gua tebus ke Ines.
”Nih, minumnya sehari tiga kali, abis makan..”
”Minum sekarang boleh?”
”Emang lu udah makan?”
”Belum”
”Kenapa?”
”Kan tadi jatah gue , elo yang makan..”
”Oiya.. yaudah nanti beli roti di jalan..”
”Asik.. hodtgog ya..”
”Nggak ada tukang hotdog disini...”
”Masa?.. adanya apa?”
”Bajigur sama kue putu...”
Kemudian gua membuka pintu geser kelinik dan bergegas keluar. Diluar salju semakin parah, gua menutup pintu dan kembali masuk kedalam. Terdengar suara petugas dari balik meja counter; ”Getting worst outside, huh?”, gua mengangguk kemudian memandang ke Ines.
”Lu pake jaket gua deh...”
Gua melepas jaket gua, menyisakan kemeja hitam bergaris putih.
”Nah elo pake apa? Gua kan udah pake jaket...”
”Gua pake sweater gua yang tadi aja, mana lepas...”
Ines membuka jaketnya dan melepas sweater gua yang tadi dijalan baru dipakainya. Kemudian gua menyerahkan jaket gua ke Ines.
”Masa gua dobel dua gini jaketnya...”
”Udah diem, nggak usah bawel..”
Gua membantu Ines mengenakan jaket. Kemudian gua memakai sweater, melapisi kemeja hitam bergaris putih.
Kami berdua berjalan menembus salju,menyebrang Wellington St, memotong di Princes Squaredi. Ines mencoba mengimbangi langkah gua yang berjalan lebih cepat karena kedinginan, dia menyusul disamping dan menggenggam tangan gua.
”Dingin ya, bon..”
”Haha.. begini mah cemen..., gua pernah sampe ingus gua beku..”
Sebenernya itu Cuma penghiburan aja, ingus gua nggak pernah beku, dan selama gua disini, gua nggak pernah merasa sedingin ini.
---
Bersambung kebawah
Backsound Untuk #14


He went twenty thousand light-years from home
And agreed he'll be the next to be lowered
And though he knew that life ain't just a good start
The advance did break him
Filling textures on some tear-weathered note
And on purpose he just spelled them all wrong
And though he knew that life ain't just a good start
He didn't even count with
The wild must be drawn into paper at once
And if you got money then share it too
The race will begin when it's finished of course
And if there's some money then share it too
And if there's some money then share it too
You're the oldest star ever to fall
Yet you didn't you have failed to be sold
And though you know that life ain't just a good start
Your blues' forgotten
The wild must be drawn into paper at once
And if you got money then share it too
The race will begin when it's finished of course
And if there's some money then share it too
And if there's some money then share it too
Download Lagu 'Next To Be Lowered - Via Googledrive (3Mb)


He went twenty thousand light-years from home
And agreed he'll be the next to be lowered
And though he knew that life ain't just a good start
The advance did break him
Filling textures on some tear-weathered note
And on purpose he just spelled them all wrong
And though he knew that life ain't just a good start
He didn't even count with
The wild must be drawn into paper at once
And if you got money then share it too
The race will begin when it's finished of course
And if there's some money then share it too
And if there's some money then share it too
You're the oldest star ever to fall
Yet you didn't you have failed to be sold
And though you know that life ain't just a good start
Your blues' forgotten
The wild must be drawn into paper at once
And if you got money then share it too
The race will begin when it's finished of course
And if there's some money then share it too
And if there's some money then share it too
Download Lagu 'Next To Be Lowered - Via Googledrive (3Mb)
Spoiler for Klipnya Live:
Diubah oleh robotpintar 18-03-2014 09:45
regmekujo dan 14 lainnya memberi reputasi
15
Kutip
Balas
![Accidentally In Love [True Story]](https://s.kaskus.id/images/2014/04/07/6448808_20140407033338.jpg)