- Beranda
- Stories from the Heart
Accidentally In Love [True Story]
...
TS
robotpintar
Accidentally In Love [True Story]
![Accidentally In Love [True Story]](https://s.kaskus.id/images/2014/02/14/6448808_20140214023854.png)
Spoiler for Cover:
![Accidentally In Love [True Story]](https://s.kaskus.id/images/2014/02/14/6448808_20140214024411.png)
So she said what's the problem baby
What's the problem I don't know
Well maybe I'm in love (love)
Think about it every time
I think about it
Can't stop thinking 'bout it
How much longer will it take to cure this
Just to cure it cause I can't ignore it if it's love (love)
Makes me wanna turn around and face me but I don't know nothing 'bout love
Come on, come on
Turn a little faster
Come on, come on
The world will follow after
Come on, come on
Cause everybody's after love
So I said I'm a snowball running
Running down into the spring that's coming all this love
Melting under blue skies
Belting out sunlight
Shimmering love
Well baby I surrender
To the strawberry ice cream
Never ever end of all this love
Well I didn't mean to do it
But there's no escaping your love
These lines of lightning
Mean we're never alone,
Never alone, no, no
We're accidentally in love
Accidentally in love [x7]
Accidentally I'm In Love
Spoiler for Bagian 1:
#1
Quote:
“Gila lu Bon, roti segitu banyak sayang-sayang bakal empan ikan semua!”
“Emang ngapa? Ikan jaman sekarang mah ogah makan cacing, Meng”
Gua jawab aja sekena-nya, memang niatnya gua bawa roti dari rumah buat bekal pas mancing tapi, gara-gara umpan cacing gua dari tadi nggak disentuh ikan terpaksa gua ganti dengan roti. Siapa tau mujarab.
Nggak seberapa berselang, tali pancing gua bergetar, refleks gua tarik joran sekuatnya dan mendarat dengan mulus seekor ikan yang kurang lebih seukuran telapak tangan.
“Anjritt.. dari tadi dapet sapu-sapu mulu gua!”
Sambil melepas mata kail dari mulut ikan sapu-sapu yang barusan gua angkat dan langsung gua lempar lagi kedalam kali.
Tidak berapa lama, melantun lagu “Time Like This”-nya Foo Fighter dari ponsel gua. Tertera tulisan “Rumah” dilayarnya.
“Kenapa mak?”
Karena memang cuma nyokap gua aja yang selalu telpon melalui telepon rumah. Bokap dan adik gua selalu menggunakan ponsel-nya masing-masing jika ada keperluan.
“Assalamualaikum , Mancing kagak rapi-rapi luh, nih ada kiriman surat buat elu”
“Dari siapa?”
“Kagak tau, bahasanya emak nggak ngerti”
“Simpenin dulu, nih aye udah mau pulang”
“Yaudah buruan, jangan maghriban dijalan, pamali. Assalamualaikum”
“Waalaikumsalam”
Gua kantongin lagi ponsel k-ekantong celana pendek yang sekarang udah kotor campur lumpur, sambil berteriak ke temen gua; Komeng, yang lagi berkutat dengan tali pancingnya yang kusut.
“Meng, ayo balik.. udah sore”
“Belon juga dapet sekilo, udah mau balik aje”
“Yauda elu terusin dah, gua balik duluan”
Komeng menjawab dengan sedikit gumam di bibirnya terdengar seperti “Yaelah..” sambil berjalan gontai menyusul gua.
------
Itu kejadian beberapa tahun yang lalu, dimana gua dan Komeng masih biasa mencari cacing buat umpan ikan di kebun singkong belakang rumahnya Haji Salim dan kemudian pergi memancing disepanjang pinggiran sungai Pesanggrahan, Jakarta.
Sekarang, gua sedang duduk sambil bersandar di sebuah kursi lipat di pinggir danau di daerah Leeds, Inggris. Menghabiskan hari libur akhir musim gugur dengan memancing sambil bernostalgia, mencoba membangkitkan memori tentang memancing, tentang si Komeng, tentang Jakarta, tentang rumah.
Setelah berjam-jam memancing, menghabiskan berkaleng-kaleng ‘Diet Coke’ akhirnya gua memutuskan untuk menyudahi kegiatan sialan ini. Pulang dengan membawa 6 Ekor ikan Yelowtail (di Indonesia disebut ikan patin) dan sedikit kenangan tentang ‘rumah’, gua berjalan gontai menuju tempat dimana sepeda kesayangan gua diparkir, sempat kebingungan awalnya karena sekarang ada banyak sepeda yang diparkir, padahal tadi pagi baru sepeda gua aja yang nongkrong disini, setelah celingak-celinguk akhirnya ketemu juga dan gua mulai mengayuh.
Jarak dari tempat gua biasa mancing ke tempat dimana gua tinggal di Moorland Ave, Leeds kurang lebih 3,5 mil atau kalau dalam satuan Kilometer sekitar 5,5 Km. Jarak segitu kalo disini, di Inggris bisa dibilang ‘deket’, kalau naik sepeda bisa cuma 30 menit.
Oiya, nama gua Boni. Gua lahir dan dibesarkan di Jakarta. Saat ini gua kerja dan tinggal di Leeds, Inggris sekitar 2-3 jam dari London (dengan kereta). Gua kerja sebagai Sound Designer disalah satu Agensi perfilman dan periklanan di Leeds yang juga punya kantor di London. Sudah hampir 4 tahun gua kerja dan tinggal disini, ditempat dimana nggak ada sungai dengan air berwarna cokelat keruh yang banyak ikan sapu-sapunya dan nggak ada teman yang suka menggerutu “Yaelah”.
Sambil mendengarkan “Heaven” nya Lost Lonely Boys lewat headset, gua mengayuh sepeda menuju ke rumah, pulang. Melewati jalan berpasir yang dipenuhi pohon-pohon maple di kedua sisinya menuju jalan utama. Jalan yang sangat sepi dan hening, jam menunjukkan angka 4 sore, menandakan waktu shalat maghrib, di sabtu sore seperti sekarang ini memang didaerah sini sangat sepi, kebanyakan penduduk sekitar sedang ke stadion atau pub-pub untuk menyaksikan Leeds United bertanding. Ingin buru-buru sampai di rumah, karena perut udah mulai keroncongan, gua kayuh sepeda lebih cepat. Sampai kemudian terdengar sayup-sayup suara musik yang makin lama makin nyaring, suara musik RnB yang sepertinya diputar dari dalam mobil dengan volume maksimal. Suara tersebut datang dari arah belakang dan kemudian menyusul gua, sebuah BMW silver yang melaju cepat bahkan boleh dibilang sangat cepat, sambil meninggalkan debu persis seperti mobil yang sedang Rally Dakkar.
“Orang Gila!!” gua mengumpat, masih sambil dengerin coda lagu “Heaven” nya Lost Lonely Boys. Sampai gua melihat beberapa detik kemudian lampu rem BMW tersebut menyala dan kemudian berhenti.
Deg!, “Wuanjrit, sakti juga tuh orang bisa denger suara gua” sambil berhenti dan melepas headset dari telinga. Yang ternyata setelah gua sadar, suara gua nggak sepelan pas pakai headset tadi. Gua nunggu sambil dag dig dug, kalau dia ngerti ucapan gua, dia pasti orang Indonesia dan kalo ternyata bukan gua bakal siap-siap kabur.
Pintu penumpang pun terbuka, terbuka secara paksa tepatnya, sedetik kemudian keluar seseorang dari kursi penumpang, terhuyung dan kemudian terjatuh, terdengar makian dari dalam BMW tersebut mungkin seperti “bitch” atau semacamnya dan sesaat kemudian BMW tersebut pergi, mengasapi orang yang tersungkur itu dengan debu jalanan.
Nggak mau terlalu ambil pusing, sambil bernafas lega dan bilang dalam hati; “untung bukan gua”, gua meneruskan mengayuh sepeda.
“Get up Bro, life is brutal”
gua berkata ke orang itu sambil melewatinya tetap melanjutkan mengayuh. Dan beberapa meter kemudian gua mendengar sebuah teriakan, teriakan yang (pada akhirnya) bakal merubah hidup gua.
“Woii.. Help me!, you’re Indonesian, right?”
“Tolongin gue dong…”
Gua berhenti mengayuh, turun dan bengong. Sudah hampir setahun gua nggak denger secara langsung orang bicara ke gua dengan bahasa Indonesia dan suara perempuan pula.. Lima, ah mungkin sepuluh detik kemudian baru gua memalingkan muka tapi masih tetap bengong.
“Woii..”
Akhirnya gua turun dari sepeda, kemudian menghampiri orang itu. Terduduk di depan gua sosok perempuan, hitam manis dengan kepala tertutup hood jaket hitam, celana jeans dan sepatu model boots sebetis berwarna cokelat.
“Elu nggak apa-apa?”
“Menurut Lo? Kalo gue gak apa-apa, ngapain gua teriak minta tolong elu!!”
Gua nggak menjawab, berusaha membantu dia berdiri sambil bertanya lagi bagaimana keadaannya. Sekali lagi dia mengumpat;
“Gila!, nggak punya hati banget sih lu!, ya jelas lah gue kenapa-kenapa.. nih liat!”
Sambil memperlihatkan telapak tangan dan siku-nya yang luka dan kemudian menyibak celana jeans-nya yang kotor terkena debu dan sobek di beberapa bagian akibat terlempar dari mobil tadi. Sesaat baru dia sadar kalau lutut kanannya juga luka sambil meringis kesakitan dia mencoba membersihkan luka tersebut dengan air liurnya. Sangat Indonesia sekali.
“Gua pikir tadi orang mabok yang lagi berantem, disini mah biasa begitu,mbak!”
Kemudia gua kasih satu-satunya ‘Diet Coke’ sisa memancing tadi, harusnya sih air putih tapi Cuma itu yang gua punya sekarang. Sambil menggerutu karena dikasih ‘Diet Coke’ daripada air putih, diminum juga tuh minuman soda. Kemudian gua menawarkan diri buat mengantar dia ke sebuah toko kecil di ujung jalan ini, untuk membeli plester untuk membalut luka-nya.
“Jauh nggak?”
Dia bertanya sambil menurunkan hood jaketnya dan menyibak rambutnya yang pendek seleher. Kemudian terlihat jelas sebuah luka lebam di sudut mata sebelah kiri-nya, tidak, bukan cuma satu, setidaknya ada 3 luka lebam, selain disudut matanya, satu lagi di dahi sebelah kiri dan satu lagi di sudut bibir sebelah kanan, yang terakhir tampak seperti luka yang baru karena masih meninggalkan sisa bekas darah yang membeku.
Gua nggak berani bertanya, gua hindari menatap kewajahnya sambil menjawab pertanyaa-nya bahwa tokonya nggak begitu jauh dari sini, sambil menunjuk ke arah jalan utama.
---
“Emang ngapa? Ikan jaman sekarang mah ogah makan cacing, Meng”
Gua jawab aja sekena-nya, memang niatnya gua bawa roti dari rumah buat bekal pas mancing tapi, gara-gara umpan cacing gua dari tadi nggak disentuh ikan terpaksa gua ganti dengan roti. Siapa tau mujarab.
Nggak seberapa berselang, tali pancing gua bergetar, refleks gua tarik joran sekuatnya dan mendarat dengan mulus seekor ikan yang kurang lebih seukuran telapak tangan.
“Anjritt.. dari tadi dapet sapu-sapu mulu gua!”
Sambil melepas mata kail dari mulut ikan sapu-sapu yang barusan gua angkat dan langsung gua lempar lagi kedalam kali.
Tidak berapa lama, melantun lagu “Time Like This”-nya Foo Fighter dari ponsel gua. Tertera tulisan “Rumah” dilayarnya.
“Kenapa mak?”
Karena memang cuma nyokap gua aja yang selalu telpon melalui telepon rumah. Bokap dan adik gua selalu menggunakan ponsel-nya masing-masing jika ada keperluan.
“Assalamualaikum , Mancing kagak rapi-rapi luh, nih ada kiriman surat buat elu”
“Dari siapa?”
“Kagak tau, bahasanya emak nggak ngerti”
“Simpenin dulu, nih aye udah mau pulang”
“Yaudah buruan, jangan maghriban dijalan, pamali. Assalamualaikum”
“Waalaikumsalam”
Gua kantongin lagi ponsel k-ekantong celana pendek yang sekarang udah kotor campur lumpur, sambil berteriak ke temen gua; Komeng, yang lagi berkutat dengan tali pancingnya yang kusut.
“Meng, ayo balik.. udah sore”
“Belon juga dapet sekilo, udah mau balik aje”
“Yauda elu terusin dah, gua balik duluan”
Komeng menjawab dengan sedikit gumam di bibirnya terdengar seperti “Yaelah..” sambil berjalan gontai menyusul gua.
------
Itu kejadian beberapa tahun yang lalu, dimana gua dan Komeng masih biasa mencari cacing buat umpan ikan di kebun singkong belakang rumahnya Haji Salim dan kemudian pergi memancing disepanjang pinggiran sungai Pesanggrahan, Jakarta.
Sekarang, gua sedang duduk sambil bersandar di sebuah kursi lipat di pinggir danau di daerah Leeds, Inggris. Menghabiskan hari libur akhir musim gugur dengan memancing sambil bernostalgia, mencoba membangkitkan memori tentang memancing, tentang si Komeng, tentang Jakarta, tentang rumah.
Setelah berjam-jam memancing, menghabiskan berkaleng-kaleng ‘Diet Coke’ akhirnya gua memutuskan untuk menyudahi kegiatan sialan ini. Pulang dengan membawa 6 Ekor ikan Yelowtail (di Indonesia disebut ikan patin) dan sedikit kenangan tentang ‘rumah’, gua berjalan gontai menuju tempat dimana sepeda kesayangan gua diparkir, sempat kebingungan awalnya karena sekarang ada banyak sepeda yang diparkir, padahal tadi pagi baru sepeda gua aja yang nongkrong disini, setelah celingak-celinguk akhirnya ketemu juga dan gua mulai mengayuh.
Jarak dari tempat gua biasa mancing ke tempat dimana gua tinggal di Moorland Ave, Leeds kurang lebih 3,5 mil atau kalau dalam satuan Kilometer sekitar 5,5 Km. Jarak segitu kalo disini, di Inggris bisa dibilang ‘deket’, kalau naik sepeda bisa cuma 30 menit.
Oiya, nama gua Boni. Gua lahir dan dibesarkan di Jakarta. Saat ini gua kerja dan tinggal di Leeds, Inggris sekitar 2-3 jam dari London (dengan kereta). Gua kerja sebagai Sound Designer disalah satu Agensi perfilman dan periklanan di Leeds yang juga punya kantor di London. Sudah hampir 4 tahun gua kerja dan tinggal disini, ditempat dimana nggak ada sungai dengan air berwarna cokelat keruh yang banyak ikan sapu-sapunya dan nggak ada teman yang suka menggerutu “Yaelah”.
Sambil mendengarkan “Heaven” nya Lost Lonely Boys lewat headset, gua mengayuh sepeda menuju ke rumah, pulang. Melewati jalan berpasir yang dipenuhi pohon-pohon maple di kedua sisinya menuju jalan utama. Jalan yang sangat sepi dan hening, jam menunjukkan angka 4 sore, menandakan waktu shalat maghrib, di sabtu sore seperti sekarang ini memang didaerah sini sangat sepi, kebanyakan penduduk sekitar sedang ke stadion atau pub-pub untuk menyaksikan Leeds United bertanding. Ingin buru-buru sampai di rumah, karena perut udah mulai keroncongan, gua kayuh sepeda lebih cepat. Sampai kemudian terdengar sayup-sayup suara musik yang makin lama makin nyaring, suara musik RnB yang sepertinya diputar dari dalam mobil dengan volume maksimal. Suara tersebut datang dari arah belakang dan kemudian menyusul gua, sebuah BMW silver yang melaju cepat bahkan boleh dibilang sangat cepat, sambil meninggalkan debu persis seperti mobil yang sedang Rally Dakkar.
“Orang Gila!!” gua mengumpat, masih sambil dengerin coda lagu “Heaven” nya Lost Lonely Boys. Sampai gua melihat beberapa detik kemudian lampu rem BMW tersebut menyala dan kemudian berhenti.
Deg!, “Wuanjrit, sakti juga tuh orang bisa denger suara gua” sambil berhenti dan melepas headset dari telinga. Yang ternyata setelah gua sadar, suara gua nggak sepelan pas pakai headset tadi. Gua nunggu sambil dag dig dug, kalau dia ngerti ucapan gua, dia pasti orang Indonesia dan kalo ternyata bukan gua bakal siap-siap kabur.
Pintu penumpang pun terbuka, terbuka secara paksa tepatnya, sedetik kemudian keluar seseorang dari kursi penumpang, terhuyung dan kemudian terjatuh, terdengar makian dari dalam BMW tersebut mungkin seperti “bitch” atau semacamnya dan sesaat kemudian BMW tersebut pergi, mengasapi orang yang tersungkur itu dengan debu jalanan.
Nggak mau terlalu ambil pusing, sambil bernafas lega dan bilang dalam hati; “untung bukan gua”, gua meneruskan mengayuh sepeda.
“Get up Bro, life is brutal”
gua berkata ke orang itu sambil melewatinya tetap melanjutkan mengayuh. Dan beberapa meter kemudian gua mendengar sebuah teriakan, teriakan yang (pada akhirnya) bakal merubah hidup gua.
“Woii.. Help me!, you’re Indonesian, right?”
“Tolongin gue dong…”
Gua berhenti mengayuh, turun dan bengong. Sudah hampir setahun gua nggak denger secara langsung orang bicara ke gua dengan bahasa Indonesia dan suara perempuan pula.. Lima, ah mungkin sepuluh detik kemudian baru gua memalingkan muka tapi masih tetap bengong.
“Woii..”
Akhirnya gua turun dari sepeda, kemudian menghampiri orang itu. Terduduk di depan gua sosok perempuan, hitam manis dengan kepala tertutup hood jaket hitam, celana jeans dan sepatu model boots sebetis berwarna cokelat.
“Elu nggak apa-apa?”
“Menurut Lo? Kalo gue gak apa-apa, ngapain gua teriak minta tolong elu!!”
Gua nggak menjawab, berusaha membantu dia berdiri sambil bertanya lagi bagaimana keadaannya. Sekali lagi dia mengumpat;
“Gila!, nggak punya hati banget sih lu!, ya jelas lah gue kenapa-kenapa.. nih liat!”
Sambil memperlihatkan telapak tangan dan siku-nya yang luka dan kemudian menyibak celana jeans-nya yang kotor terkena debu dan sobek di beberapa bagian akibat terlempar dari mobil tadi. Sesaat baru dia sadar kalau lutut kanannya juga luka sambil meringis kesakitan dia mencoba membersihkan luka tersebut dengan air liurnya. Sangat Indonesia sekali.
“Gua pikir tadi orang mabok yang lagi berantem, disini mah biasa begitu,mbak!”
Kemudia gua kasih satu-satunya ‘Diet Coke’ sisa memancing tadi, harusnya sih air putih tapi Cuma itu yang gua punya sekarang. Sambil menggerutu karena dikasih ‘Diet Coke’ daripada air putih, diminum juga tuh minuman soda. Kemudian gua menawarkan diri buat mengantar dia ke sebuah toko kecil di ujung jalan ini, untuk membeli plester untuk membalut luka-nya.
“Jauh nggak?”
Dia bertanya sambil menurunkan hood jaketnya dan menyibak rambutnya yang pendek seleher. Kemudian terlihat jelas sebuah luka lebam di sudut mata sebelah kiri-nya, tidak, bukan cuma satu, setidaknya ada 3 luka lebam, selain disudut matanya, satu lagi di dahi sebelah kiri dan satu lagi di sudut bibir sebelah kanan, yang terakhir tampak seperti luka yang baru karena masih meninggalkan sisa bekas darah yang membeku.
Gua nggak berani bertanya, gua hindari menatap kewajahnya sambil menjawab pertanyaa-nya bahwa tokonya nggak begitu jauh dari sini, sambil menunjuk ke arah jalan utama.
---
DAFTAR ISI
Quote:
CHAPTER 1
#1 The Beginning
#2 Truly Gentlemen
#3 Place Called Home
#4 The Morning Fever
#5 A Miserable Story
#6 Night Rain
#7 Inside My Head
#8 That Day
#9 Be Tough
#10 Mukena
#1 The Beginning
#2 Truly Gentlemen
#3 Place Called Home
#4 The Morning Fever
#5 A Miserable Story
#6 Night Rain
#7 Inside My Head
#8 That Day
#9 Be Tough
#10 Mukena
Quote:
CHAPTER 2
#11-A Trip To Manchester
#11-B The Swiss Army
#12 Here's and Back Again
#13 I Miss You So Bad
#14 Going Mad
#15 Promise
#16 You’ll Be The Only Light I See
#17 The Winter Tears
#18 She's Gone
#19 That Memories
#11-A Trip To Manchester
#11-B The Swiss Army
#12 Here's and Back Again
#13 I Miss You So Bad
#14 Going Mad
#15 Promise
#16 You’ll Be The Only Light I See
#17 The Winter Tears
#18 She's Gone
#19 That Memories
Quote:
CHAPTER 3
[URL="http://www.kaskus.co.id/show_post/530ff7e41acb17030d8b48f1/479/- "]#19-A The Hood[/URL]
#19-B Heres And Back Again II
#19-C Weak
#19-D Surrender
#19-E The Choice
#19-F Anything For You
#19-G Chelsea Number 8
#19-H Its not always about gold and glory
#19-I Aku
#19-J The Words
#19-K The Persian Cat
#19-L You Really The Only Light I See
#19-M So Be It
#19-N Less Than Perfect
#20 That Day II
[URL="http://www.kaskus.co.id/show_post/530ff7e41acb17030d8b48f1/479/- "]#19-A The Hood[/URL]
#19-B Heres And Back Again II
#19-C Weak
#19-D Surrender
#19-E The Choice
#19-F Anything For You
#19-G Chelsea Number 8
#19-H Its not always about gold and glory
#19-I Aku
#19-J The Words
#19-K The Persian Cat
#19-L You Really The Only Light I See
#19-M So Be It
#19-N Less Than Perfect
#20 That Day II
Quote:
CHAPTER 4 The Prekuel
#21 The Prologue
#22 My Precious
#23 Ticket to Ride
#24 Singapore
#25 Dreams
#26 The Awkward Moment
#27 Logic
#28 Driver In Life
#29 The Risk Taker
#30 Sorry
#31 Rise Again
#32 Goodbye
#21 The Prologue
#22 My Precious
#23 Ticket to Ride
#24 Singapore
#25 Dreams
#26 The Awkward Moment
#27 Logic
#28 Driver In Life
#29 The Risk Taker
#30 Sorry
#31 Rise Again
#32 Goodbye
Quote:
CHAPTER 5!!
#33 London
#34 Unwell
#35 I Was Here
#36 Leeds
#37 New Home, New Life
#38 Alone
#39 Intermezo
#40 Goin' Trough
#41 At Glance
#42 The Past of The Future
#33 London
#34 Unwell
#35 I Was Here
#36 Leeds
#37 New Home, New Life
#38 Alone
#39 Intermezo
#40 Goin' Trough
#41 At Glance
#42 The Past of The Future
Quote:
CHAPTER 6
#43 My First ...
#44 If Lovin' You ...
#45 Goin' Back
#46 Leeds II
#47 I Love You (Jealousy)
#48 After All
#49 Hell Yeah
#50 Conflict
#51 Liar-Liar
#52 Memories
#43 My First ...
#44 If Lovin' You ...
#45 Goin' Back
#46 Leeds II
#47 I Love You (Jealousy)
#48 After All
#49 Hell Yeah
#50 Conflict
#51 Liar-Liar
#52 Memories
Quote:
Quote:
Diubah oleh robotpintar 10-04-2014 08:46
eldini dan 122 lainnya memberi reputasi
121
1.3M
Kutip
2.3K
Balasan
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33KThread•54.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
robotpintar
#191
Spoiler for Bagian ke 13:
#13 I Miss You So Bad
Quote:
Kamis malam, nyokap mengadakan pengajian dirumah. Katanya sih ’Selametan’ karena bokap udah sembuh sehabis di operasi dan katanya sekalian; ’Selametan’ karena gua pulang ke Jakarta. Gua sudah bersikeras agar kepulangan gua ini nggak usah pake diselametin segala, karena besoknya juga gua udah mau balik lagi ke rantau. Tapi, apa daya... Perlu diketahui, nyokap gua adalah salah satu sosok paling ’OldSchool’ dikampung sini.
”Mak, lagian ngapain oni pake diselametin segala...”
”Emang ngapa sih, ni.. kan sekalian nyelametin baba luh..”
”Yah.. mak.., lagian ngapa sih emak doyan banget selametan? Oni sama Ika naek kelas-selametan, lulus sekolah-selametan, rapot kagak ada merahnye-selametan, Ika potong rambut-selametan, oni ulang taon-selametan...”
”EH, ni.. asal lu tau, ye.. selama itu mendatangkan berkah dan ngasih rejeki ke orang laen ya kagak ngape-ngape.. ”
Kemudian Ika, adik gua datang dan langsung ikut ke dalam pembicaraan.
”Ish.. abang nggak tau sih, waktu itu malah emak mau ’selametan’ karena selametan yang pertama sukses..”
”Eh buset.. selametan di atas selametan dong?”
”Iya, ’nyelametin’ selametan...”
Gua nepok jidat, kemudian gua mengambil telapak tangan Ika, dan memperhatikannya, persis seperti tukang ramal tangan yang ada di Kota Tua.
”Ngapain bang? Ngeramal?”
”Nggak, nih telapak tangan apa kaki sih?..”
”Songong....”
”Tangan lu alus banget dek..”
”Iya dong, ..”
”Biasanya tangan model begitu kalo nyeduh kopi enak tuh...”
”Yee, bilang aja minta bikinin kopi..”
”Yaudah gidah, ntar gua upahin...”
Kemudian Ika beranjak ke dapur.
Gua merhatiin Nyokap yang dari tadi masih sibuk mengelap gelas dan memasukkannya kedalam lemari, sedangkan gua masih berbaring diruang tamu depan tivi sambil menikmati kue pisang bikinan nyokap. Selama ini nyokap emang jagonya bikin kue, apalagi kalo bikin combro sama misro, rasanya nggak ada yang ngalahin.
Gua melihat kerutan-kerutan di sudut mata dan keningnya, nyokap sudah mulai termakan usia, sedangkan cita-citanya naik haji belum terwujud, setelah kebon punya bokap dijual buat bayar kuliah gua dulu.
Sebenernya gua udah bikin ’Tabungan Haji’ buat bokap sama nyokap, duitnya dari hasil patungan gua sama Ika. Dan sampai saat ini mereka belom tahu kalo udah didaftarin naik haji untuk keberangkatan dua tahun lagi. Gua melarang Ika buat ngasih tau ke mereka sampai tinggal setahun dari tanggal keberangkatan, biar surprise gitu. Tiba-tiba nyokap membuka suara, mengeluarkan pertanyaan sakti yang bikin gua pengen berlari masuk kekamar, mengunci pintu dan merebahkan diri dikasur seperti adegan-adegan yang ada di sinetron khas Indonesia.
”Ni..”
”Hmm..”
”Ni..”
”Iye mak..”
”Elu kapan mau kaw-in?”
” ...”
”...”
”...”
”Yah mak, gak ada pertanyaan laen apa?”
”Ni, emak Cuma mau ngeliat lu seneng, kayak anak orang-orang laen noh, udah pada mbawain duit *orang”
*mbawain duit itu dalam istilah betawi artinya ’ngelamar’
”Ya oni juga maunya begitu mak.. tapi yang mau dibawain duitnya engka’ (Langka, nggak ada)..”
”Ya lu cari dong, masa bertaon-taon diluar negri kagak kecantol bule barang atu..”
”Emang emak mau punya mantu bule?”
”Ya mau.. asal seiman mah...”
Ika datang membawa segelas kopi hitam, kemudian duduk disebelah gua yang masih rebahan didepan tivi ruang tamu.
”Yah mak, abang kan nggak pernah pacaran.. boro-boro bule, yang lokal juga nggak dapet-dapet..”
”Reseh lu, beli rokok gih.. nih..”
Gua menoyor kepala ika, kemudian mengambil selembar 20 ribuan dari kantong dan menyerahkannya ke Ika.
Ingin rasanya gua bercerita tentang Ines ke nyokap gua. Tapi setelah menimbang-nimbang gua urungkan niat tersebut. Apa kata nyokap gua nanti, gua ngerantau di negri orang, jauh dari orang tua, eh kumpul kebo sama cewek, brrrr... gua bisa di masukin lagi keperut sama nyokap.
”Ni.. adek lu aja udah punya demenan”
”Ah yang bener mak, siapa, anak mana?”
”Ardi, tau bocah kemayoran ape kebayoran yak, temen kerjanya adek lu..”
”Ohh...”
”Kan jadi ora resep diliatnya, adeknya udah punya demenan abangnya belon..”
”Ya mo gimana lagi...”
”Malah kata si Ika, mereka udah nabung tuh berdua buat biaya nikah..”
”Buset, disalip dong gua mak?”
”Lha iya, emang ngapa, elu-nya jogrok bae, orang mah gasik nyari bini..”
Kemudian Ika datang sambil menenteng kantong plastik yang isinya ’ChikiBalls’ dan ’Taro’;
”Bang kembaliannya beli ginian...”
Ika menyerahkan rokok sambil mengangkat plastik yang berisi jajanan tadi.
”Lah kok marlboro merah sih dek?”
”Emang marlboro apaan? Putih ya? Udah nggak papa beda warna doang, isep yang merah sekali-kali biar nasionalis; merah-putih”
”Ett, kardus...”
”Dek, katanya lu pacaran udah mau kimpoi emang?”
”Ya belon bang, gua kan nungguin lo dulu, sekalian ngumpulin duit..”
”Ya kalo lu udah siap, duluan juga ga papa..”
”Bener... nggak nyesel..., mak dengerin tuh, abang udah ngasih ijin..”
Kemudian Ika mengusel manja ke nyokap, kayak anak anjing abis dikasih makan. Gua tersenyum melihat tingkahnya, kemudian gua mengambil kopi dan bergegas ke teras. Jam menunjukkan pukul sepuluh, sekarang udah masuk bulan November berarti selisih waktu Jakarta-Inggris nyusut sejam, jadi selisihnya sekitar 6 jam. Gua meminjam ponsel Ika, Ika menyerahkannya sambil menggerutu, gua sih dengernya ”Pokoknya beliin pulsa”, kemudian menekan angka nomor ponsel gua.
Setelah beberapa nada sambung.
”Hallo, good day.. Ines speaking, may i help you...”
”Ett.. lagunya.... lagi ngapain?”
”Bon, baliknya kapaaaan?”
”Minggu depan paling dari sini...”
”Ish.. kok? Nggak.. nggak... nggak boleh... ish..kan.. .... .... bohong”
”Iya, nggak kok, besok sore berangkat dari sini..”
”Gue takut tau...”
”Takut apaan? ”
”Semalem nonton ’supernatural’, serem...”
”Ya lagi ngapain nonton pelem begituan..”
”Kan ada Jensen Ackles-nya, ganteng banget doi...tapi sereemmm..”
”Yauda jangan nonton lagi...”
”Iya.. eh lagi ngapain?”
”Kan gua yang nanya duluan tadi, elo lagi ngapain...”
”Lagi motongoin kuku sambil nonto tivi.. elo?”
”Lagi ngopi di teras..”
”Ngerokok ya?”
”Iya,..”
”Ish...”
”Eh Nes, gua nitip salam tuh sama bintang di langit...”
”Salam buat siapa?”
”Buat elu..., ntar kalo udah gelap dan keliatan bintangnya elu ambil ya salam dari gua..”
”Hhehe.. iya, mungkin nggak sih bon, elo disana, gue disini dan kita memandang bintang yang sama?”
”Mungkin aja, tapi kan ada banyak, gimana kalo bulan aja..”
”Iya deh, gampangan bulan soalnya...”
”Eh isi salamnya apa?”
”Lah kalo gua ngomong sekarang ngapain gua titipin sama bulan ntar?”
”Oh iya.,ya.. ”
Kemudian kami berdua diam, lama.
”Door, kok diem aja”
Ines memecah kesunyian.
”Gpp, lagi bengong aja nih..”
”Sayang tau pulsanya...”
”Iya ya.. gua tutup aja ya, sampai ketemu secepatnya deh...”
”Iya, bubye... nanti ati-ati dijalan ya..”
”Bye..”
Gua menutup telepon, entah apa yang terjadi. Giliran nggak lagi nelpon berasa kangen sama dia, giliran pas nelpon bingung mau ngomongin apa. Aneh, sungguh aneh sekali. Saat-saat kayak gini ingin rasanya gua bertemu dengan komeng, kemudia bertanya; ada apa dengan gua meng?. Belom selesai gua bergumam, komeng muncul dari muka garasi.
”Assalumaikum..”
”Waalaikumsalam..”
”Lah, katanya pengajian kok sepi-sepi aja?”
”Pengajiannya tadi meng abis maghrib..”
”Lah telat berarti gua..?”
Komeng berhenti, mematung, dia dateng dengan menggunakan peci, sarung ditambah nenteng-nenteng yasiin sama plastik yang isinya rambutan.
”Ya telat, banget.., lagian kalo nggak telat juga lo ga bisa ngikut..”
”Mangapa?”
”kan pengajian Ibu-ibu”
”Ya salam..”
Komeng mengelus wajahnya. Kemudian di ngeloyor masuk kedalam, menyerahkan seplastik rambutan ke nyokap gua, dari luar sini terdengar suara tawa membahana, pasti komeng lagi diketawain sama nyokap sama adik gua. Selang beberapa lama dia keluar, sambil menenteng secangkir teh.
”Jadi lo besok balik?”
”Jadi..”
”Gimana si Ines? Udah nelpon?”
”Udah, barusan..”
”Cie..cie..”
Sejurus kemudian gua dan komeng larut dalam obrolan. Tentang Ines.
---
Jam menunjukkan pukul tujuh malam, gua sudah berada dalam pesawat yang menuju ke Doha, Qatar. Bersiap menempuh perjalanan panjang yang melelahkan, gua bersandar ke kursi pesawat, kemudian tersenyum sambil bergumam; ”Tungga abang ya neng”.
Tepat tengah malam lebih sedikit gua sudah berada di Doha, transit. Menurut jadwalnya sih gua masih harus nunggu sekitar 2-3 jam-an sebelum ganti pesawat dan terbang ke Heathrow. Gua kemudian memesan kopi dan mencari smoking room. Nggak terasa, hampir dua jam gua duduk di smoking room sambil membaca komik yang tadi gua beli di Soekarno hatta, komik shinchan. Bwahaha,, komik dewasa ini kalo di Jakarta, jadi konsumsi bocah. Kemudian suara panggilan untuk pesawat ke London pun menggema, gua bergegas.
Jam 8 pagi gua sudah tiba, di Heathrow. Dan sepertinya gua mabok udara, bahasa kerennya sih Jet-lag, tapi serius nggak ada yang keren dalam kondisi seperti ini. Kepala pusing, perut mual, tenggorokan kering ditambah cuaca London yang sedang hujan. Sepertinya secangkir kopi hitam bisa bikin kondisi normal lagi. Tapi entah kenapa pikiran ini terus melayang ke rumah, pikiran yang sejak kemarin, kemarinnya lagi, kemarinnya lagi dan hari-hari sebelumnya terus memaksa untuk ketemu sama Ines. Kata orang sih ini namanya kangen. Kangen inilah yang bikin gua mengabaikan kedai-kedai dengan aroma kopi yang menggiurkan disepanjang jalan keluar bandara.
Gua hampir aja terbujuk cuaca disini untuk masuk kedalam BlackCab, tapi karena gua ogah nangis lagi karena bayar ongkos yang ’kurang’ masuk akal akhirnya gua putuskan buat naik bis aja ke stasiun. Biarin rontok-rontok dah ni badan.
Jam dua belas lebih sedikit gua udah sampai dirumah, gua membuka pintu dan naik ke atas, kemudian mengetuk pintu yang terkunci.
”Nes.. nes..”
Cklek- cklek
Suara anak kunci diputar, pintu terbuka. Kemudian Ines menerjang gua, gua sedikit kewalahan.
”Akhirnya pulang juga... eh kenapa kok diem aja? Nggak kangen emang?”
”Nes.. gua sakit nih kayaknya...”
”Hah.. kenapa, pusing?”
Gua mengangguk kemudian masuk kedalam, merebahkan diri diatas sofa. Sekilas gua memandang, nggak ada yang berubah dari tempat ini, Cuma jauh, jauh lebih bersih dari sebelumnya.
”Dikamar aja deh, istirahatnya..”
Ines kemudian menarik tangan gua, sempoyongan gua masuk kedalam kamar dan menjatuhkan diri diatas kasur. Masih memakai sepatu dan belum melepas jaket. Kemudian yang gua ingat hanya suara Ines ;
”Yaah.. jangan sakit dong, please..”
Gua pun tertidur.
---
Gua terbangun saat petir menyambar-nyambar, diluar sepertinya sedang hujan. Gua melihat jam, waktu menunjukkan pukul 11 lebih 20 malam, hampir setengah hari gua tertidur. Rasa pusing dan mual sudah hilang, kayaknya memang ’Jet-lag’, kemudian muncul masalah baru; Lapar. Kelaparan menghinggapi gua tengah malam begini, saat hendak menurunkan kaki dari kasur, Kaki gua menyentuh sesuatu, Kepalanya Ines. Gua duduk dan memandangi Ines, tertidur dengan kepala diatas kasur dan tubuhnya di lantai masih menggenggam lap basah, gua menyentuh kening. Dia habis mengompres gua.
Kemudian gua mengangkatnya ke atas kasur dan menyelimutinya, terdengar samar dia menggumam; ”Jangan sakit dong..”.
Gua mendekatkan bibir ke telinganya, kemudian berbisik. ”Iya, gua nggak sakit..”, kemudian gua mengusap rambut dan memberanikan diri mengecup keningnya. Gua meninggalkan Ines dan kemudian menikmati dua cup mie instan di depan tivi. Astaga! Gua abis nyium cewek, dosa nggak ya gua..
---
”Mak, lagian ngapain oni pake diselametin segala...”
”Emang ngapa sih, ni.. kan sekalian nyelametin baba luh..”
”Yah.. mak.., lagian ngapa sih emak doyan banget selametan? Oni sama Ika naek kelas-selametan, lulus sekolah-selametan, rapot kagak ada merahnye-selametan, Ika potong rambut-selametan, oni ulang taon-selametan...”
”EH, ni.. asal lu tau, ye.. selama itu mendatangkan berkah dan ngasih rejeki ke orang laen ya kagak ngape-ngape.. ”
Kemudian Ika, adik gua datang dan langsung ikut ke dalam pembicaraan.
”Ish.. abang nggak tau sih, waktu itu malah emak mau ’selametan’ karena selametan yang pertama sukses..”
”Eh buset.. selametan di atas selametan dong?”
”Iya, ’nyelametin’ selametan...”
Gua nepok jidat, kemudian gua mengambil telapak tangan Ika, dan memperhatikannya, persis seperti tukang ramal tangan yang ada di Kota Tua.
”Ngapain bang? Ngeramal?”
”Nggak, nih telapak tangan apa kaki sih?..”
”Songong....”
”Tangan lu alus banget dek..”
”Iya dong, ..”
”Biasanya tangan model begitu kalo nyeduh kopi enak tuh...”
”Yee, bilang aja minta bikinin kopi..”
”Yaudah gidah, ntar gua upahin...”
Kemudian Ika beranjak ke dapur.
Gua merhatiin Nyokap yang dari tadi masih sibuk mengelap gelas dan memasukkannya kedalam lemari, sedangkan gua masih berbaring diruang tamu depan tivi sambil menikmati kue pisang bikinan nyokap. Selama ini nyokap emang jagonya bikin kue, apalagi kalo bikin combro sama misro, rasanya nggak ada yang ngalahin.
Gua melihat kerutan-kerutan di sudut mata dan keningnya, nyokap sudah mulai termakan usia, sedangkan cita-citanya naik haji belum terwujud, setelah kebon punya bokap dijual buat bayar kuliah gua dulu.
Sebenernya gua udah bikin ’Tabungan Haji’ buat bokap sama nyokap, duitnya dari hasil patungan gua sama Ika. Dan sampai saat ini mereka belom tahu kalo udah didaftarin naik haji untuk keberangkatan dua tahun lagi. Gua melarang Ika buat ngasih tau ke mereka sampai tinggal setahun dari tanggal keberangkatan, biar surprise gitu. Tiba-tiba nyokap membuka suara, mengeluarkan pertanyaan sakti yang bikin gua pengen berlari masuk kekamar, mengunci pintu dan merebahkan diri dikasur seperti adegan-adegan yang ada di sinetron khas Indonesia.
”Ni..”
”Hmm..”
”Ni..”
”Iye mak..”
”Elu kapan mau kaw-in?”
” ...”
”...”
”...”
”Yah mak, gak ada pertanyaan laen apa?”
”Ni, emak Cuma mau ngeliat lu seneng, kayak anak orang-orang laen noh, udah pada mbawain duit *orang”
*mbawain duit itu dalam istilah betawi artinya ’ngelamar’
”Ya oni juga maunya begitu mak.. tapi yang mau dibawain duitnya engka’ (Langka, nggak ada)..”
”Ya lu cari dong, masa bertaon-taon diluar negri kagak kecantol bule barang atu..”
”Emang emak mau punya mantu bule?”
”Ya mau.. asal seiman mah...”
Ika datang membawa segelas kopi hitam, kemudian duduk disebelah gua yang masih rebahan didepan tivi ruang tamu.
”Yah mak, abang kan nggak pernah pacaran.. boro-boro bule, yang lokal juga nggak dapet-dapet..”
”Reseh lu, beli rokok gih.. nih..”
Gua menoyor kepala ika, kemudian mengambil selembar 20 ribuan dari kantong dan menyerahkannya ke Ika.
Ingin rasanya gua bercerita tentang Ines ke nyokap gua. Tapi setelah menimbang-nimbang gua urungkan niat tersebut. Apa kata nyokap gua nanti, gua ngerantau di negri orang, jauh dari orang tua, eh kumpul kebo sama cewek, brrrr... gua bisa di masukin lagi keperut sama nyokap.
”Ni.. adek lu aja udah punya demenan”
”Ah yang bener mak, siapa, anak mana?”
”Ardi, tau bocah kemayoran ape kebayoran yak, temen kerjanya adek lu..”
”Ohh...”
”Kan jadi ora resep diliatnya, adeknya udah punya demenan abangnya belon..”
”Ya mo gimana lagi...”
”Malah kata si Ika, mereka udah nabung tuh berdua buat biaya nikah..”
”Buset, disalip dong gua mak?”
”Lha iya, emang ngapa, elu-nya jogrok bae, orang mah gasik nyari bini..”
Kemudian Ika datang sambil menenteng kantong plastik yang isinya ’ChikiBalls’ dan ’Taro’;
”Bang kembaliannya beli ginian...”
Ika menyerahkan rokok sambil mengangkat plastik yang berisi jajanan tadi.
”Lah kok marlboro merah sih dek?”
”Emang marlboro apaan? Putih ya? Udah nggak papa beda warna doang, isep yang merah sekali-kali biar nasionalis; merah-putih”
”Ett, kardus...”
”Dek, katanya lu pacaran udah mau kimpoi emang?”
”Ya belon bang, gua kan nungguin lo dulu, sekalian ngumpulin duit..”
”Ya kalo lu udah siap, duluan juga ga papa..”
”Bener... nggak nyesel..., mak dengerin tuh, abang udah ngasih ijin..”
Kemudian Ika mengusel manja ke nyokap, kayak anak anjing abis dikasih makan. Gua tersenyum melihat tingkahnya, kemudian gua mengambil kopi dan bergegas ke teras. Jam menunjukkan pukul sepuluh, sekarang udah masuk bulan November berarti selisih waktu Jakarta-Inggris nyusut sejam, jadi selisihnya sekitar 6 jam. Gua meminjam ponsel Ika, Ika menyerahkannya sambil menggerutu, gua sih dengernya ”Pokoknya beliin pulsa”, kemudian menekan angka nomor ponsel gua.
Setelah beberapa nada sambung.
”Hallo, good day.. Ines speaking, may i help you...”
”Ett.. lagunya.... lagi ngapain?”
”Bon, baliknya kapaaaan?”
”Minggu depan paling dari sini...”
”Ish.. kok? Nggak.. nggak... nggak boleh... ish..kan.. .... .... bohong”
”Iya, nggak kok, besok sore berangkat dari sini..”
”Gue takut tau...”
”Takut apaan? ”
”Semalem nonton ’supernatural’, serem...”
”Ya lagi ngapain nonton pelem begituan..”
”Kan ada Jensen Ackles-nya, ganteng banget doi...tapi sereemmm..”
”Yauda jangan nonton lagi...”
”Iya.. eh lagi ngapain?”
”Kan gua yang nanya duluan tadi, elo lagi ngapain...”
”Lagi motongoin kuku sambil nonto tivi.. elo?”
”Lagi ngopi di teras..”
”Ngerokok ya?”
”Iya,..”
”Ish...”
”Eh Nes, gua nitip salam tuh sama bintang di langit...”
”Salam buat siapa?”
”Buat elu..., ntar kalo udah gelap dan keliatan bintangnya elu ambil ya salam dari gua..”
”Hhehe.. iya, mungkin nggak sih bon, elo disana, gue disini dan kita memandang bintang yang sama?”
”Mungkin aja, tapi kan ada banyak, gimana kalo bulan aja..”
”Iya deh, gampangan bulan soalnya...”
”Eh isi salamnya apa?”
”Lah kalo gua ngomong sekarang ngapain gua titipin sama bulan ntar?”
”Oh iya.,ya.. ”
Kemudian kami berdua diam, lama.
”Door, kok diem aja”
Ines memecah kesunyian.
”Gpp, lagi bengong aja nih..”
”Sayang tau pulsanya...”
”Iya ya.. gua tutup aja ya, sampai ketemu secepatnya deh...”
”Iya, bubye... nanti ati-ati dijalan ya..”
”Bye..”
Gua menutup telepon, entah apa yang terjadi. Giliran nggak lagi nelpon berasa kangen sama dia, giliran pas nelpon bingung mau ngomongin apa. Aneh, sungguh aneh sekali. Saat-saat kayak gini ingin rasanya gua bertemu dengan komeng, kemudia bertanya; ada apa dengan gua meng?. Belom selesai gua bergumam, komeng muncul dari muka garasi.
”Assalumaikum..”
”Waalaikumsalam..”
”Lah, katanya pengajian kok sepi-sepi aja?”
”Pengajiannya tadi meng abis maghrib..”
”Lah telat berarti gua..?”
Komeng berhenti, mematung, dia dateng dengan menggunakan peci, sarung ditambah nenteng-nenteng yasiin sama plastik yang isinya rambutan.
”Ya telat, banget.., lagian kalo nggak telat juga lo ga bisa ngikut..”
”Mangapa?”
”kan pengajian Ibu-ibu”
”Ya salam..”
Komeng mengelus wajahnya. Kemudian di ngeloyor masuk kedalam, menyerahkan seplastik rambutan ke nyokap gua, dari luar sini terdengar suara tawa membahana, pasti komeng lagi diketawain sama nyokap sama adik gua. Selang beberapa lama dia keluar, sambil menenteng secangkir teh.
”Jadi lo besok balik?”
”Jadi..”
”Gimana si Ines? Udah nelpon?”
”Udah, barusan..”
”Cie..cie..”
Sejurus kemudian gua dan komeng larut dalam obrolan. Tentang Ines.
---
Jam menunjukkan pukul tujuh malam, gua sudah berada dalam pesawat yang menuju ke Doha, Qatar. Bersiap menempuh perjalanan panjang yang melelahkan, gua bersandar ke kursi pesawat, kemudian tersenyum sambil bergumam; ”Tungga abang ya neng”.
Tepat tengah malam lebih sedikit gua sudah berada di Doha, transit. Menurut jadwalnya sih gua masih harus nunggu sekitar 2-3 jam-an sebelum ganti pesawat dan terbang ke Heathrow. Gua kemudian memesan kopi dan mencari smoking room. Nggak terasa, hampir dua jam gua duduk di smoking room sambil membaca komik yang tadi gua beli di Soekarno hatta, komik shinchan. Bwahaha,, komik dewasa ini kalo di Jakarta, jadi konsumsi bocah. Kemudian suara panggilan untuk pesawat ke London pun menggema, gua bergegas.
Jam 8 pagi gua sudah tiba, di Heathrow. Dan sepertinya gua mabok udara, bahasa kerennya sih Jet-lag, tapi serius nggak ada yang keren dalam kondisi seperti ini. Kepala pusing, perut mual, tenggorokan kering ditambah cuaca London yang sedang hujan. Sepertinya secangkir kopi hitam bisa bikin kondisi normal lagi. Tapi entah kenapa pikiran ini terus melayang ke rumah, pikiran yang sejak kemarin, kemarinnya lagi, kemarinnya lagi dan hari-hari sebelumnya terus memaksa untuk ketemu sama Ines. Kata orang sih ini namanya kangen. Kangen inilah yang bikin gua mengabaikan kedai-kedai dengan aroma kopi yang menggiurkan disepanjang jalan keluar bandara.
Gua hampir aja terbujuk cuaca disini untuk masuk kedalam BlackCab, tapi karena gua ogah nangis lagi karena bayar ongkos yang ’kurang’ masuk akal akhirnya gua putuskan buat naik bis aja ke stasiun. Biarin rontok-rontok dah ni badan.
Jam dua belas lebih sedikit gua udah sampai dirumah, gua membuka pintu dan naik ke atas, kemudian mengetuk pintu yang terkunci.
”Nes.. nes..”
Cklek- cklek
Suara anak kunci diputar, pintu terbuka. Kemudian Ines menerjang gua, gua sedikit kewalahan.
”Akhirnya pulang juga... eh kenapa kok diem aja? Nggak kangen emang?”
”Nes.. gua sakit nih kayaknya...”
”Hah.. kenapa, pusing?”
Gua mengangguk kemudian masuk kedalam, merebahkan diri diatas sofa. Sekilas gua memandang, nggak ada yang berubah dari tempat ini, Cuma jauh, jauh lebih bersih dari sebelumnya.
”Dikamar aja deh, istirahatnya..”
Ines kemudian menarik tangan gua, sempoyongan gua masuk kedalam kamar dan menjatuhkan diri diatas kasur. Masih memakai sepatu dan belum melepas jaket. Kemudian yang gua ingat hanya suara Ines ;
”Yaah.. jangan sakit dong, please..”
Gua pun tertidur.
---
Gua terbangun saat petir menyambar-nyambar, diluar sepertinya sedang hujan. Gua melihat jam, waktu menunjukkan pukul 11 lebih 20 malam, hampir setengah hari gua tertidur. Rasa pusing dan mual sudah hilang, kayaknya memang ’Jet-lag’, kemudian muncul masalah baru; Lapar. Kelaparan menghinggapi gua tengah malam begini, saat hendak menurunkan kaki dari kasur, Kaki gua menyentuh sesuatu, Kepalanya Ines. Gua duduk dan memandangi Ines, tertidur dengan kepala diatas kasur dan tubuhnya di lantai masih menggenggam lap basah, gua menyentuh kening. Dia habis mengompres gua.
Kemudian gua mengangkatnya ke atas kasur dan menyelimutinya, terdengar samar dia menggumam; ”Jangan sakit dong..”.
Gua mendekatkan bibir ke telinganya, kemudian berbisik. ”Iya, gua nggak sakit..”, kemudian gua mengusap rambut dan memberanikan diri mengecup keningnya. Gua meninggalkan Ines dan kemudian menikmati dua cup mie instan di depan tivi. Astaga! Gua abis nyium cewek, dosa nggak ya gua..
---
Backsound untuk #13


What time is it where you are?
I miss you more than anything
And back at home you feel so far
Waitin' for the phone to ring
It's gettin’ lonely livin’ upside down
I don't even wanna be in this town
Tryin' to figure out the time zones makin' me crazy
You say good morning
When it's midnight
Going out of my head
Alone in this bed
I wake up to your sunset
And it's driving me mad
I miss you so bad
And my heart, heart, heart is so jet-lagged
Heart, heart, heart is so jet-lagged
Heart, heart, heart is so jet-lagged, is so jet-lagged
What time is it where you are?
Five more days and I'll be home
I keep your picture in my car
I hate the thought of you alone
I've been keepin' busy all the time
Just to try to keep you off my mind
Tryin' to figure out the time zones makin’ me crazy
You say good morning
When it's midnight
Going out of my head
Alone in this bed
I wake up to your sunset
And it's drivin' me mad
I miss you so bad
And my heart, heart, heart is so jet-lagged
Heart, heart, heart is so jet-lagged
Heart, heart, heart is so jet-lagged, is so jet lagged
I miss you so bad [x5]
I wanna share your horizon
I miss you so bad
And see the same sun rising
I miss you so bad
And turn the hour hand back to when you were holding me.
You say good morning
When it's midnight
Going out of my head
Alone in this bed
I wake up to your sunset
And it's drivin' me mad
I miss when you say good morning
But it's midnight
Going out of my head
Alone in this bed
I wake up to your sunset
And it's drivin' me mad
I miss you so bad
And my heart, heart, heart is so jet-lagged
Heart, heart, heart is so jet-lagged
Heart, heart, heart is so jet-lagged, is so jet-lagged, is so jet-lagged


What time is it where you are?
I miss you more than anything
And back at home you feel so far
Waitin' for the phone to ring
It's gettin’ lonely livin’ upside down
I don't even wanna be in this town
Tryin' to figure out the time zones makin' me crazy
You say good morning
When it's midnight
Going out of my head
Alone in this bed
I wake up to your sunset
And it's driving me mad
I miss you so bad
And my heart, heart, heart is so jet-lagged
Heart, heart, heart is so jet-lagged
Heart, heart, heart is so jet-lagged, is so jet-lagged
What time is it where you are?
Five more days and I'll be home
I keep your picture in my car
I hate the thought of you alone
I've been keepin' busy all the time
Just to try to keep you off my mind
Tryin' to figure out the time zones makin’ me crazy
You say good morning
When it's midnight
Going out of my head
Alone in this bed
I wake up to your sunset
And it's drivin' me mad
I miss you so bad
And my heart, heart, heart is so jet-lagged
Heart, heart, heart is so jet-lagged
Heart, heart, heart is so jet-lagged, is so jet lagged
I miss you so bad [x5]
I wanna share your horizon
I miss you so bad
And see the same sun rising
I miss you so bad
And turn the hour hand back to when you were holding me.
You say good morning
When it's midnight
Going out of my head
Alone in this bed
I wake up to your sunset
And it's drivin' me mad
I miss when you say good morning
But it's midnight
Going out of my head
Alone in this bed
I wake up to your sunset
And it's drivin' me mad
I miss you so bad
And my heart, heart, heart is so jet-lagged
Heart, heart, heart is so jet-lagged
Heart, heart, heart is so jet-lagged, is so jet-lagged, is so jet-lagged
Spoiler for Klipnya:
Diubah oleh robotpintar 18-03-2014 09:39
junti27 dan 19 lainnya memberi reputasi
20
Kutip
Balas
![Accidentally In Love [True Story]](https://s.kaskus.id/images/2014/04/07/6448808_20140407033338.jpg)