- Beranda
- Stories from the Heart
Accidentally In Love [True Story]
...
TS
robotpintar
Accidentally In Love [True Story]
![Accidentally In Love [True Story]](https://s.kaskus.id/images/2014/02/14/6448808_20140214023854.png)
Spoiler for Cover:
![Accidentally In Love [True Story]](https://s.kaskus.id/images/2014/02/14/6448808_20140214024411.png)
So she said what's the problem baby
What's the problem I don't know
Well maybe I'm in love (love)
Think about it every time
I think about it
Can't stop thinking 'bout it
How much longer will it take to cure this
Just to cure it cause I can't ignore it if it's love (love)
Makes me wanna turn around and face me but I don't know nothing 'bout love
Come on, come on
Turn a little faster
Come on, come on
The world will follow after
Come on, come on
Cause everybody's after love
So I said I'm a snowball running
Running down into the spring that's coming all this love
Melting under blue skies
Belting out sunlight
Shimmering love
Well baby I surrender
To the strawberry ice cream
Never ever end of all this love
Well I didn't mean to do it
But there's no escaping your love
These lines of lightning
Mean we're never alone,
Never alone, no, no
We're accidentally in love
Accidentally in love [x7]
Accidentally I'm In Love
Spoiler for Bagian 1:
#1
Quote:
“Gila lu Bon, roti segitu banyak sayang-sayang bakal empan ikan semua!”
“Emang ngapa? Ikan jaman sekarang mah ogah makan cacing, Meng”
Gua jawab aja sekena-nya, memang niatnya gua bawa roti dari rumah buat bekal pas mancing tapi, gara-gara umpan cacing gua dari tadi nggak disentuh ikan terpaksa gua ganti dengan roti. Siapa tau mujarab.
Nggak seberapa berselang, tali pancing gua bergetar, refleks gua tarik joran sekuatnya dan mendarat dengan mulus seekor ikan yang kurang lebih seukuran telapak tangan.
“Anjritt.. dari tadi dapet sapu-sapu mulu gua!”
Sambil melepas mata kail dari mulut ikan sapu-sapu yang barusan gua angkat dan langsung gua lempar lagi kedalam kali.
Tidak berapa lama, melantun lagu “Time Like This”-nya Foo Fighter dari ponsel gua. Tertera tulisan “Rumah” dilayarnya.
“Kenapa mak?”
Karena memang cuma nyokap gua aja yang selalu telpon melalui telepon rumah. Bokap dan adik gua selalu menggunakan ponsel-nya masing-masing jika ada keperluan.
“Assalamualaikum , Mancing kagak rapi-rapi luh, nih ada kiriman surat buat elu”
“Dari siapa?”
“Kagak tau, bahasanya emak nggak ngerti”
“Simpenin dulu, nih aye udah mau pulang”
“Yaudah buruan, jangan maghriban dijalan, pamali. Assalamualaikum”
“Waalaikumsalam”
Gua kantongin lagi ponsel k-ekantong celana pendek yang sekarang udah kotor campur lumpur, sambil berteriak ke temen gua; Komeng, yang lagi berkutat dengan tali pancingnya yang kusut.
“Meng, ayo balik.. udah sore”
“Belon juga dapet sekilo, udah mau balik aje”
“Yauda elu terusin dah, gua balik duluan”
Komeng menjawab dengan sedikit gumam di bibirnya terdengar seperti “Yaelah..” sambil berjalan gontai menyusul gua.
------
Itu kejadian beberapa tahun yang lalu, dimana gua dan Komeng masih biasa mencari cacing buat umpan ikan di kebun singkong belakang rumahnya Haji Salim dan kemudian pergi memancing disepanjang pinggiran sungai Pesanggrahan, Jakarta.
Sekarang, gua sedang duduk sambil bersandar di sebuah kursi lipat di pinggir danau di daerah Leeds, Inggris. Menghabiskan hari libur akhir musim gugur dengan memancing sambil bernostalgia, mencoba membangkitkan memori tentang memancing, tentang si Komeng, tentang Jakarta, tentang rumah.
Setelah berjam-jam memancing, menghabiskan berkaleng-kaleng ‘Diet Coke’ akhirnya gua memutuskan untuk menyudahi kegiatan sialan ini. Pulang dengan membawa 6 Ekor ikan Yelowtail (di Indonesia disebut ikan patin) dan sedikit kenangan tentang ‘rumah’, gua berjalan gontai menuju tempat dimana sepeda kesayangan gua diparkir, sempat kebingungan awalnya karena sekarang ada banyak sepeda yang diparkir, padahal tadi pagi baru sepeda gua aja yang nongkrong disini, setelah celingak-celinguk akhirnya ketemu juga dan gua mulai mengayuh.
Jarak dari tempat gua biasa mancing ke tempat dimana gua tinggal di Moorland Ave, Leeds kurang lebih 3,5 mil atau kalau dalam satuan Kilometer sekitar 5,5 Km. Jarak segitu kalo disini, di Inggris bisa dibilang ‘deket’, kalau naik sepeda bisa cuma 30 menit.
Oiya, nama gua Boni. Gua lahir dan dibesarkan di Jakarta. Saat ini gua kerja dan tinggal di Leeds, Inggris sekitar 2-3 jam dari London (dengan kereta). Gua kerja sebagai Sound Designer disalah satu Agensi perfilman dan periklanan di Leeds yang juga punya kantor di London. Sudah hampir 4 tahun gua kerja dan tinggal disini, ditempat dimana nggak ada sungai dengan air berwarna cokelat keruh yang banyak ikan sapu-sapunya dan nggak ada teman yang suka menggerutu “Yaelah”.
Sambil mendengarkan “Heaven” nya Lost Lonely Boys lewat headset, gua mengayuh sepeda menuju ke rumah, pulang. Melewati jalan berpasir yang dipenuhi pohon-pohon maple di kedua sisinya menuju jalan utama. Jalan yang sangat sepi dan hening, jam menunjukkan angka 4 sore, menandakan waktu shalat maghrib, di sabtu sore seperti sekarang ini memang didaerah sini sangat sepi, kebanyakan penduduk sekitar sedang ke stadion atau pub-pub untuk menyaksikan Leeds United bertanding. Ingin buru-buru sampai di rumah, karena perut udah mulai keroncongan, gua kayuh sepeda lebih cepat. Sampai kemudian terdengar sayup-sayup suara musik yang makin lama makin nyaring, suara musik RnB yang sepertinya diputar dari dalam mobil dengan volume maksimal. Suara tersebut datang dari arah belakang dan kemudian menyusul gua, sebuah BMW silver yang melaju cepat bahkan boleh dibilang sangat cepat, sambil meninggalkan debu persis seperti mobil yang sedang Rally Dakkar.
“Orang Gila!!” gua mengumpat, masih sambil dengerin coda lagu “Heaven” nya Lost Lonely Boys. Sampai gua melihat beberapa detik kemudian lampu rem BMW tersebut menyala dan kemudian berhenti.
Deg!, “Wuanjrit, sakti juga tuh orang bisa denger suara gua” sambil berhenti dan melepas headset dari telinga. Yang ternyata setelah gua sadar, suara gua nggak sepelan pas pakai headset tadi. Gua nunggu sambil dag dig dug, kalau dia ngerti ucapan gua, dia pasti orang Indonesia dan kalo ternyata bukan gua bakal siap-siap kabur.
Pintu penumpang pun terbuka, terbuka secara paksa tepatnya, sedetik kemudian keluar seseorang dari kursi penumpang, terhuyung dan kemudian terjatuh, terdengar makian dari dalam BMW tersebut mungkin seperti “bitch” atau semacamnya dan sesaat kemudian BMW tersebut pergi, mengasapi orang yang tersungkur itu dengan debu jalanan.
Nggak mau terlalu ambil pusing, sambil bernafas lega dan bilang dalam hati; “untung bukan gua”, gua meneruskan mengayuh sepeda.
“Get up Bro, life is brutal”
gua berkata ke orang itu sambil melewatinya tetap melanjutkan mengayuh. Dan beberapa meter kemudian gua mendengar sebuah teriakan, teriakan yang (pada akhirnya) bakal merubah hidup gua.
“Woii.. Help me!, you’re Indonesian, right?”
“Tolongin gue dong…”
Gua berhenti mengayuh, turun dan bengong. Sudah hampir setahun gua nggak denger secara langsung orang bicara ke gua dengan bahasa Indonesia dan suara perempuan pula.. Lima, ah mungkin sepuluh detik kemudian baru gua memalingkan muka tapi masih tetap bengong.
“Woii..”
Akhirnya gua turun dari sepeda, kemudian menghampiri orang itu. Terduduk di depan gua sosok perempuan, hitam manis dengan kepala tertutup hood jaket hitam, celana jeans dan sepatu model boots sebetis berwarna cokelat.
“Elu nggak apa-apa?”
“Menurut Lo? Kalo gue gak apa-apa, ngapain gua teriak minta tolong elu!!”
Gua nggak menjawab, berusaha membantu dia berdiri sambil bertanya lagi bagaimana keadaannya. Sekali lagi dia mengumpat;
“Gila!, nggak punya hati banget sih lu!, ya jelas lah gue kenapa-kenapa.. nih liat!”
Sambil memperlihatkan telapak tangan dan siku-nya yang luka dan kemudian menyibak celana jeans-nya yang kotor terkena debu dan sobek di beberapa bagian akibat terlempar dari mobil tadi. Sesaat baru dia sadar kalau lutut kanannya juga luka sambil meringis kesakitan dia mencoba membersihkan luka tersebut dengan air liurnya. Sangat Indonesia sekali.
“Gua pikir tadi orang mabok yang lagi berantem, disini mah biasa begitu,mbak!”
Kemudia gua kasih satu-satunya ‘Diet Coke’ sisa memancing tadi, harusnya sih air putih tapi Cuma itu yang gua punya sekarang. Sambil menggerutu karena dikasih ‘Diet Coke’ daripada air putih, diminum juga tuh minuman soda. Kemudian gua menawarkan diri buat mengantar dia ke sebuah toko kecil di ujung jalan ini, untuk membeli plester untuk membalut luka-nya.
“Jauh nggak?”
Dia bertanya sambil menurunkan hood jaketnya dan menyibak rambutnya yang pendek seleher. Kemudian terlihat jelas sebuah luka lebam di sudut mata sebelah kiri-nya, tidak, bukan cuma satu, setidaknya ada 3 luka lebam, selain disudut matanya, satu lagi di dahi sebelah kiri dan satu lagi di sudut bibir sebelah kanan, yang terakhir tampak seperti luka yang baru karena masih meninggalkan sisa bekas darah yang membeku.
Gua nggak berani bertanya, gua hindari menatap kewajahnya sambil menjawab pertanyaa-nya bahwa tokonya nggak begitu jauh dari sini, sambil menunjuk ke arah jalan utama.
---
“Emang ngapa? Ikan jaman sekarang mah ogah makan cacing, Meng”
Gua jawab aja sekena-nya, memang niatnya gua bawa roti dari rumah buat bekal pas mancing tapi, gara-gara umpan cacing gua dari tadi nggak disentuh ikan terpaksa gua ganti dengan roti. Siapa tau mujarab.
Nggak seberapa berselang, tali pancing gua bergetar, refleks gua tarik joran sekuatnya dan mendarat dengan mulus seekor ikan yang kurang lebih seukuran telapak tangan.
“Anjritt.. dari tadi dapet sapu-sapu mulu gua!”
Sambil melepas mata kail dari mulut ikan sapu-sapu yang barusan gua angkat dan langsung gua lempar lagi kedalam kali.
Tidak berapa lama, melantun lagu “Time Like This”-nya Foo Fighter dari ponsel gua. Tertera tulisan “Rumah” dilayarnya.
“Kenapa mak?”
Karena memang cuma nyokap gua aja yang selalu telpon melalui telepon rumah. Bokap dan adik gua selalu menggunakan ponsel-nya masing-masing jika ada keperluan.
“Assalamualaikum , Mancing kagak rapi-rapi luh, nih ada kiriman surat buat elu”
“Dari siapa?”
“Kagak tau, bahasanya emak nggak ngerti”
“Simpenin dulu, nih aye udah mau pulang”
“Yaudah buruan, jangan maghriban dijalan, pamali. Assalamualaikum”
“Waalaikumsalam”
Gua kantongin lagi ponsel k-ekantong celana pendek yang sekarang udah kotor campur lumpur, sambil berteriak ke temen gua; Komeng, yang lagi berkutat dengan tali pancingnya yang kusut.
“Meng, ayo balik.. udah sore”
“Belon juga dapet sekilo, udah mau balik aje”
“Yauda elu terusin dah, gua balik duluan”
Komeng menjawab dengan sedikit gumam di bibirnya terdengar seperti “Yaelah..” sambil berjalan gontai menyusul gua.
------
Itu kejadian beberapa tahun yang lalu, dimana gua dan Komeng masih biasa mencari cacing buat umpan ikan di kebun singkong belakang rumahnya Haji Salim dan kemudian pergi memancing disepanjang pinggiran sungai Pesanggrahan, Jakarta.
Sekarang, gua sedang duduk sambil bersandar di sebuah kursi lipat di pinggir danau di daerah Leeds, Inggris. Menghabiskan hari libur akhir musim gugur dengan memancing sambil bernostalgia, mencoba membangkitkan memori tentang memancing, tentang si Komeng, tentang Jakarta, tentang rumah.
Setelah berjam-jam memancing, menghabiskan berkaleng-kaleng ‘Diet Coke’ akhirnya gua memutuskan untuk menyudahi kegiatan sialan ini. Pulang dengan membawa 6 Ekor ikan Yelowtail (di Indonesia disebut ikan patin) dan sedikit kenangan tentang ‘rumah’, gua berjalan gontai menuju tempat dimana sepeda kesayangan gua diparkir, sempat kebingungan awalnya karena sekarang ada banyak sepeda yang diparkir, padahal tadi pagi baru sepeda gua aja yang nongkrong disini, setelah celingak-celinguk akhirnya ketemu juga dan gua mulai mengayuh.
Jarak dari tempat gua biasa mancing ke tempat dimana gua tinggal di Moorland Ave, Leeds kurang lebih 3,5 mil atau kalau dalam satuan Kilometer sekitar 5,5 Km. Jarak segitu kalo disini, di Inggris bisa dibilang ‘deket’, kalau naik sepeda bisa cuma 30 menit.
Oiya, nama gua Boni. Gua lahir dan dibesarkan di Jakarta. Saat ini gua kerja dan tinggal di Leeds, Inggris sekitar 2-3 jam dari London (dengan kereta). Gua kerja sebagai Sound Designer disalah satu Agensi perfilman dan periklanan di Leeds yang juga punya kantor di London. Sudah hampir 4 tahun gua kerja dan tinggal disini, ditempat dimana nggak ada sungai dengan air berwarna cokelat keruh yang banyak ikan sapu-sapunya dan nggak ada teman yang suka menggerutu “Yaelah”.
Sambil mendengarkan “Heaven” nya Lost Lonely Boys lewat headset, gua mengayuh sepeda menuju ke rumah, pulang. Melewati jalan berpasir yang dipenuhi pohon-pohon maple di kedua sisinya menuju jalan utama. Jalan yang sangat sepi dan hening, jam menunjukkan angka 4 sore, menandakan waktu shalat maghrib, di sabtu sore seperti sekarang ini memang didaerah sini sangat sepi, kebanyakan penduduk sekitar sedang ke stadion atau pub-pub untuk menyaksikan Leeds United bertanding. Ingin buru-buru sampai di rumah, karena perut udah mulai keroncongan, gua kayuh sepeda lebih cepat. Sampai kemudian terdengar sayup-sayup suara musik yang makin lama makin nyaring, suara musik RnB yang sepertinya diputar dari dalam mobil dengan volume maksimal. Suara tersebut datang dari arah belakang dan kemudian menyusul gua, sebuah BMW silver yang melaju cepat bahkan boleh dibilang sangat cepat, sambil meninggalkan debu persis seperti mobil yang sedang Rally Dakkar.
“Orang Gila!!” gua mengumpat, masih sambil dengerin coda lagu “Heaven” nya Lost Lonely Boys. Sampai gua melihat beberapa detik kemudian lampu rem BMW tersebut menyala dan kemudian berhenti.
Deg!, “Wuanjrit, sakti juga tuh orang bisa denger suara gua” sambil berhenti dan melepas headset dari telinga. Yang ternyata setelah gua sadar, suara gua nggak sepelan pas pakai headset tadi. Gua nunggu sambil dag dig dug, kalau dia ngerti ucapan gua, dia pasti orang Indonesia dan kalo ternyata bukan gua bakal siap-siap kabur.
Pintu penumpang pun terbuka, terbuka secara paksa tepatnya, sedetik kemudian keluar seseorang dari kursi penumpang, terhuyung dan kemudian terjatuh, terdengar makian dari dalam BMW tersebut mungkin seperti “bitch” atau semacamnya dan sesaat kemudian BMW tersebut pergi, mengasapi orang yang tersungkur itu dengan debu jalanan.
Nggak mau terlalu ambil pusing, sambil bernafas lega dan bilang dalam hati; “untung bukan gua”, gua meneruskan mengayuh sepeda.
“Get up Bro, life is brutal”
gua berkata ke orang itu sambil melewatinya tetap melanjutkan mengayuh. Dan beberapa meter kemudian gua mendengar sebuah teriakan, teriakan yang (pada akhirnya) bakal merubah hidup gua.
“Woii.. Help me!, you’re Indonesian, right?”
“Tolongin gue dong…”
Gua berhenti mengayuh, turun dan bengong. Sudah hampir setahun gua nggak denger secara langsung orang bicara ke gua dengan bahasa Indonesia dan suara perempuan pula.. Lima, ah mungkin sepuluh detik kemudian baru gua memalingkan muka tapi masih tetap bengong.
“Woii..”
Akhirnya gua turun dari sepeda, kemudian menghampiri orang itu. Terduduk di depan gua sosok perempuan, hitam manis dengan kepala tertutup hood jaket hitam, celana jeans dan sepatu model boots sebetis berwarna cokelat.
“Elu nggak apa-apa?”
“Menurut Lo? Kalo gue gak apa-apa, ngapain gua teriak minta tolong elu!!”
Gua nggak menjawab, berusaha membantu dia berdiri sambil bertanya lagi bagaimana keadaannya. Sekali lagi dia mengumpat;
“Gila!, nggak punya hati banget sih lu!, ya jelas lah gue kenapa-kenapa.. nih liat!”
Sambil memperlihatkan telapak tangan dan siku-nya yang luka dan kemudian menyibak celana jeans-nya yang kotor terkena debu dan sobek di beberapa bagian akibat terlempar dari mobil tadi. Sesaat baru dia sadar kalau lutut kanannya juga luka sambil meringis kesakitan dia mencoba membersihkan luka tersebut dengan air liurnya. Sangat Indonesia sekali.
“Gua pikir tadi orang mabok yang lagi berantem, disini mah biasa begitu,mbak!”
Kemudia gua kasih satu-satunya ‘Diet Coke’ sisa memancing tadi, harusnya sih air putih tapi Cuma itu yang gua punya sekarang. Sambil menggerutu karena dikasih ‘Diet Coke’ daripada air putih, diminum juga tuh minuman soda. Kemudian gua menawarkan diri buat mengantar dia ke sebuah toko kecil di ujung jalan ini, untuk membeli plester untuk membalut luka-nya.
“Jauh nggak?”
Dia bertanya sambil menurunkan hood jaketnya dan menyibak rambutnya yang pendek seleher. Kemudian terlihat jelas sebuah luka lebam di sudut mata sebelah kiri-nya, tidak, bukan cuma satu, setidaknya ada 3 luka lebam, selain disudut matanya, satu lagi di dahi sebelah kiri dan satu lagi di sudut bibir sebelah kanan, yang terakhir tampak seperti luka yang baru karena masih meninggalkan sisa bekas darah yang membeku.
Gua nggak berani bertanya, gua hindari menatap kewajahnya sambil menjawab pertanyaa-nya bahwa tokonya nggak begitu jauh dari sini, sambil menunjuk ke arah jalan utama.
---
DAFTAR ISI
Quote:
CHAPTER 1
#1 The Beginning
#2 Truly Gentlemen
#3 Place Called Home
#4 The Morning Fever
#5 A Miserable Story
#6 Night Rain
#7 Inside My Head
#8 That Day
#9 Be Tough
#10 Mukena
#1 The Beginning
#2 Truly Gentlemen
#3 Place Called Home
#4 The Morning Fever
#5 A Miserable Story
#6 Night Rain
#7 Inside My Head
#8 That Day
#9 Be Tough
#10 Mukena
Quote:
CHAPTER 2
#11-A Trip To Manchester
#11-B The Swiss Army
#12 Here's and Back Again
#13 I Miss You So Bad
#14 Going Mad
#15 Promise
#16 You’ll Be The Only Light I See
#17 The Winter Tears
#18 She's Gone
#19 That Memories
#11-A Trip To Manchester
#11-B The Swiss Army
#12 Here's and Back Again
#13 I Miss You So Bad
#14 Going Mad
#15 Promise
#16 You’ll Be The Only Light I See
#17 The Winter Tears
#18 She's Gone
#19 That Memories
Quote:
CHAPTER 3
[URL="http://www.kaskus.co.id/show_post/530ff7e41acb17030d8b48f1/479/- "]#19-A The Hood[/URL]
#19-B Heres And Back Again II
#19-C Weak
#19-D Surrender
#19-E The Choice
#19-F Anything For You
#19-G Chelsea Number 8
#19-H Its not always about gold and glory
#19-I Aku
#19-J The Words
#19-K The Persian Cat
#19-L You Really The Only Light I See
#19-M So Be It
#19-N Less Than Perfect
#20 That Day II
[URL="http://www.kaskus.co.id/show_post/530ff7e41acb17030d8b48f1/479/- "]#19-A The Hood[/URL]
#19-B Heres And Back Again II
#19-C Weak
#19-D Surrender
#19-E The Choice
#19-F Anything For You
#19-G Chelsea Number 8
#19-H Its not always about gold and glory
#19-I Aku
#19-J The Words
#19-K The Persian Cat
#19-L You Really The Only Light I See
#19-M So Be It
#19-N Less Than Perfect
#20 That Day II
Quote:
CHAPTER 4 The Prekuel
#21 The Prologue
#22 My Precious
#23 Ticket to Ride
#24 Singapore
#25 Dreams
#26 The Awkward Moment
#27 Logic
#28 Driver In Life
#29 The Risk Taker
#30 Sorry
#31 Rise Again
#32 Goodbye
#21 The Prologue
#22 My Precious
#23 Ticket to Ride
#24 Singapore
#25 Dreams
#26 The Awkward Moment
#27 Logic
#28 Driver In Life
#29 The Risk Taker
#30 Sorry
#31 Rise Again
#32 Goodbye
Quote:
CHAPTER 5!!
#33 London
#34 Unwell
#35 I Was Here
#36 Leeds
#37 New Home, New Life
#38 Alone
#39 Intermezo
#40 Goin' Trough
#41 At Glance
#42 The Past of The Future
#33 London
#34 Unwell
#35 I Was Here
#36 Leeds
#37 New Home, New Life
#38 Alone
#39 Intermezo
#40 Goin' Trough
#41 At Glance
#42 The Past of The Future
Quote:
CHAPTER 6
#43 My First ...
#44 If Lovin' You ...
#45 Goin' Back
#46 Leeds II
#47 I Love You (Jealousy)
#48 After All
#49 Hell Yeah
#50 Conflict
#51 Liar-Liar
#52 Memories
#43 My First ...
#44 If Lovin' You ...
#45 Goin' Back
#46 Leeds II
#47 I Love You (Jealousy)
#48 After All
#49 Hell Yeah
#50 Conflict
#51 Liar-Liar
#52 Memories
Quote:
Quote:
Diubah oleh robotpintar 10-04-2014 08:46
carangkasampah dan 121 lainnya memberi reputasi
120
1.3M
Kutip
2.3K
Balasan
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
robotpintar
#176
Spoiler for Bagian Ke Dua Belas:
#12 Here and Back Again
Quote:
Hari berganti hari, tidak terasa sudah hari ke sepuluh Ines tinggal bersama gua, dan hari ini jadwalnya Ines buat balik lagi ke KBRI, buat menentukan hasil apakah si Ines bisa pulang apa nggak.
Jam di meja kantor menunjukkan angka dua siang saat Ponsel gua berbunyi, melantunkan lagu ’Time like this’-nya Foo Fighter. Gua mengangkatnya, terdengar suara adik gua di ujung telepon, sebuah kabar yang bikin lutut gua langsung lemes. Bokap gua masuk rumah sakit, dirawat dan bersiap untuk dioperasi. Beliau didiagnosa menderita ’Usus Buntu’ Adik gua menanyakan kemungkinan gua untuk balik ke Indo, tanpa pikir panjang gua langsung meng-iya-kannya.
Setelah berbincang dengan atasan gua mengenai kondisi bokap di Indo. Gua memesan tiket secara online, bergegas keluar dari kantor dan menuju ke stasiun kereta, menjemput Ines di London.
---
Ines sudah sejak tadi pagi berangkat ke KBRI di London, dia berangkat bareng Intan (Temen-nya Arya) yang juga ada keperluan ke KBRI. Sesampainya disana gua melihat Intan dan Ines sedang berbincang di ruang tunggu.
”Udah kelar?, gimana, bisa?”
Gua menggelontorkan pertanyaan ke Ines.
”Bisa, tapi harus ngelampirin pasfoto terbaru, fotocopi KTP ato paspor ato akte”
”Lah kalo nggak ada gimana?”
”Ya nggak bisa...”
”Yauda ntar dipikirin lagi deh, yuk pulang..”
”Kenapa sih kok kayaknya buru-buru banget?”
”Bokap masuk rumah sakit..”
”Ya ampun.. sakit apa?”
”Usus buntu...”
”Kok bisa?”
”Nggak tau, nelen biji kecapi kali..”
Gua berusaha mencairkan suasana. Kemudian kami bertiga; gua, Ines dan Intan bergegas pulang.
Dirumah Ines membantu gua packing, gua bilang ke dia kalau nggak usah bawa baju, di Indo baju gua banyak. Akhirnya gua hanya membawa tas ransel yang biasa gua pake.
Gua menangkap raut kesedihan di wajahnya, gua yakin dia sedih bukan karena bakal gua tinggal, melainkan karena proses pengurusan paspor dan visa-nya yang nggak ujung ketemu titik terangnya. Gua kemudian duduk di sofa disamping Ines yang sedang menonton tivi.
”Gue sendirian dong?”
”Gua Cuma sebentar, paling lama seminggu...”
”Seminggu lama kali, bon..”
”Ntar sekalian gua coba ngurus paspor lu dari sana..”
”Yah, nggak usah deh, ngerepotin elo, ntar elo malah lama baliknya...”
”Gapapa..”
Kemudian kami saling terdiam.
Gua bangkit, berdiri dan mengeluarkan dua lembar ratusan pounds dan debit card dari dompet, meletakkannya di atas meja makan.
”Nih kalo ada apa-apa, pake aja.. Pin nya 5 tiga kali 6 tiga kali, nih handphone gua, lu pegang..”
”Lo nggak bawa hp?”
”Gausah, ntar disono gua telepon pake hp adek gua aja..”
”Gua ikut nganter ke airport ya...”
”Nggak usah lah, ntar baliknya repot..”
”Gapapa, gua berani sendiri kok..”
”Dibilang gausah, udah dirumah aja..”
”Yaah..”
Kemudian gua mengambil jaket dan memakai ransel, Ines berdiri mematung di hadapan gua. Tadinya gua berniat mencium keningnya sebelum berangkat, biar kayak di film-film holywood gitu, tapi apa daya, gua nggak berani.
”Ati –ati ya bon..”
”Iya.. elo yang ati-ati dirumah, pintu-nya jangan lupa dikunci, nggak usah kemana-mana kalo nggak perlu-perlu banget, kalo malem pemanasnya nyalain, trus kaos kakinya dipake”
Ines berbisik ”Bawel..”
---
Gua tiba di bandara Heathrow saat waktu menunjukkan pukul 5 sore, setelah menukarkan tiket online, gua pun menunggu boarding sambil duduk di bangku-bangku berderet yang terletak mengitari ruang informasi yang dibangun mirip seperti meja resepsionis, di lantai atas terdapat gerai-gerai yang menjual makanan, baju, majalah bahkan ponsel prabayar. Untuk penumpang VIP malah disediakan ruang tunggu semacam Lounge yang tempat duduknya aja dari sofa dan pasti dengan pelayanan yang ekstra. Pun begitu, disini, ditempat gua duduk menunggu juga udah cukup bersih dan nyaman. Bandara Heathrow ini termasuk bandara paling ruame yang pernah gua datangi dalam hidup gua. Orang dari berbagai negara ada disini dari wanita yang menggunakan ’sari’ khas India, pria ber’turban’ khas pakistan, dan nggak ketinggalan orang-orang yang berpakaian formil seperti kemeja dan jas lengkap dengan dasi-nya.
---
Gua melihat jam swiss army baru gua, jam sembilan malam. Gua sudah berada di kabin pesawat Qatar Airways. Perjalanan dari London ke Jakarta biasanya memakan waktu sekitar 18 sampai 19 jam, gua sengaja memilih maskapai-maskapai timur tengah karena maskapai-maskapai ini rata-rata transit di tengah-tengah rute perjalanan sehingga gua nggak capek di pesawat, ya walaupun di dalam pesawat juga banyak fasilitas yang nggak bikin bosen tapi tetep aja namanya didalem pesawat, elo nggak bisa koprol sambil ngopi diatas sini. Beda dengan pesawat dari maskapai kayak Singapore atau Malaysian Airlines yang transitnya di Changi ato KL,15 jam setelah terbang baru kemudian lanjut ke Jakarta dengan sisa tempuh 2 jam. Bayangin 15 jam didalam pesawat.
Langit hitam diluar sana, terlihat cahaya kota London berbinar-binar dari atas sini, pesawat sudah lepas landas. Belum berapa lama dan nggak seberapa jauh, gua sudah kangen sama Ines, lagi apa ya dia sekarang. Gua memandang Jam swiss army pemberian Ines, tersenyum sendiri dan mengangkat selimut menutup tubuh, mencoba untuk tidur.
---
Jam 5 sore keesokan harinya, gua tiba di Soekarno Hatta. Penerbangan dari Doha, Qatar sempet delay 2 jam-an, seharusnya menurut jadwal jam 3-an gua sudah sampe disini.
Gua sedikit menyesuaikan suhu dan cuaca disini, melepas Jaket sambil berjalan keluar dengan langkah cepat. Gua memilih taksi berwarna biru muda yang kemudian bergerak menyusuri area bandara dan meluncur melintasi tol Dr Sedyatmo menuju ke rumah.
Sampai dirumah sekitar jam 9 malem gua disambut pelukan manja adik gua satu-satunya, Ika. Nyokap gua ada dirumah sakit, nemenin bokap. Menurut cerita si Ika, bokap udah selesai di operasi dan kondisinya sekarang membaik.
”Oh, jadi pas kemaren lu nelpon gua, udah mau dioperasi?”
”Iya itu, baba udah masuk ruang operasi, bang.”
Gua mengucap syukur dalam hati, mudah-mudahan bokap dan nyokap diberi kesehatan selalu. Kemudian gua meluncur ke rumah sakit dengan dibonceng sama Ika menggunakan motor matik-nya. Sampai dirumah sakit suasana berubah menjadi seperti lebaran, nyokap, ncang, ncing, dan saudara lainnya berkumpul menyambut gua, gua menghampiri nyokap, memeluknya dan melepaskan rindu. Sudah hampir dua tahun gua nggak ngeliat nyokap, disusul menghampiri bokap yang baru aja bangun dan memeluknya di tempat tidur, sambil berbisik :
”Makanya, baba kalo makan kecapi bijinye jangan ditelen..”
Malam itu gua menghabiskan waktu bercengkrama dengan nyokap dan adek gua didalam kamar rumah sakit. Melepas rindu yang sudah sekian lama terpendam.
---
Besok pagi-nya, dengan meminjam ponsel Ika, gua menelpon Ines. Beberapa kali gua mencoba tapi nggak kunjung diangkat, sampai akhirnya suara lemah Ines bergaung di ujung telepon.
”Hallo..hallo, elu sakit nes? Suara lu lemes banget..”
”Halo, nggak kok, gue kebangun, sekarang tengah malem bon disini..”
Gua menepok jidat, lupa.
”Yauda deh, tidur lagi, gua Cuma ngabarin kalo uda sampe semalem..”
”Ish.. nggak langsung ngabarin... gimana bokap?”
”Iya capek semalem, bokap uda abis dioperasi paling lusa udah boleh pulang..”
”Oh syukurlah, salam ya buat keluarga disana..”
”Oke.. yauda tidur lagi sana, pemanasnya dinyalain, kaos kaki-nya dipake..”
”Iya, kamu take careya...”
Tut tut tut tut
Gua menutup telepon, gua masih terdiam mendengar kata terakhir dari Ines tadi, bukan kalimatnya yang bilang agar gua menjaga diri yang bikin gua terperanjat. Tapi, biasanya dia menggunakan kata ”Elo” buka ”Kamu” dalam kalimatnya.
Kemudian gua menelpon komeng, meminta dijemput di rumah sakit. Komeng yang kayaknya baru bangun tidur terdengar kaget karena baru tau gua lagi di Jakarta. Sejam kemudian komeng sudah berdiri dihadapan gua, komeng yang gua lihat sekarang bener-bener berbeda dengan komeng empat tahun yang lalu, sekarang wajahnya terlihat lebih tangguh dan ditumbuhi brewok yang menghiasi dagu-nya. Gua dan komeng kemudian ngobrol ngalor-ngidul, saling bercerita tentang hidup masing-masing, dan gua pun bercerita tentang Ines.
”Wah, gokil.. udah berani nyimpen cewek sekarang lu..”
”Anjriit, nggak gitu kali, meng.. eh besok lu cuti kerja aja nemenin gua..”
”Ngapain?”
”Ada dah, mau ya?”
”Ah gila lo, gua udah ijin kerja mulu dari kemaren-kemaren..”
”Gua mao ke bekas tempat kerjanya Ines ato ke kampusnya dia..”
”Sendiri emang ga berani?”
”Et, gua udah lama nggak naek motor, kagok..”
”Sial, gua disuru ngojekin doang..”
”Mau kagak?”
”Yaudah iya”
Besoknya setelah mengantar Bokap dari rumah sakit ke rumah, gua meluncur sama komeng ke daerah Sudirman. Bermodal cerita Ines tentang tempat dia kerja dan kuliah waktu di Jakarta, gua menyusuri jalan sudirman, Jalan di disini bener-bener pas banget buat ngelatih kesabaran, macetnya tiada tara. Kemudian kami tiba di sebuah gedung tinggi, sekitar 40-an lantai, menuju ke resepsionis dan mengatakan kalo gua mau ke sebuah perusahanan advertising yang ada di gedung ini, si resepsionis menyebut lantai 8 sambil menunjukkan elevator untuk bisa sampai kesana.
Nggak lama gua sudah berhadapan dengan pria necis dengan rambut kelimis, yang akhirnya gua tau bernama pak Bowo, HRD disini. Dia menanyakan ada keperluan apa dan gua menanyakan apakah disini dulu pernah ada karyawan bernama Ines. Dia berfikir sejenak dan kemudian bertanya ada perlu apa dengan Ines, gua mengaku sebagai temannya dan menjelaskan sedikit kronologinya ke Pak Bowo, dia kemudian berdiri mengambil odner besar dari dalam laci dan membolak-balik kertas di dalamnya.
Setelah selesai, Pak Bowo duduk kembali dan berkata kalau dia punya data-data Ines, tapi tidak punya dokumen seperti fotokopi KTP atau yang lainnya. Pihak perusahaan memiliki data-data pribadi Ines, tapi menurut kebijakan kantor, data tersebut tidak bisa diserahkan ke orang luar. Gua berusaha membujuk tapi dia tetap bergeming, akhirnya gua menyerah dan langsung menuju ke Lokasi berikutnya; Kampus.
Berdasar cerita Ines ke gua, dia pernah kuliah di salah satu kampus di daerah Panglima Polim, jurusan Desain Komunikasi Visual. Gua dan Komeng pun meluncur kesana.
Sesampainya disana gua bertemu dengan bagian administrasi, berlagak sebagai wali mahasiswa yang ingin menyelesaikan urusan administrasi.
”Siang mas, silahkan duduk.. ada yang bisa dibantu?”
”Begini pak, sebenernya saya bukannya mau ngurus pembayaran mahasiswa..”
”Lho terus ada perlu apa?”
Si petugas administrasi bertanya sambil mengernyitkan dahi.
”Temen saya di Inggris, katanya dulu mahasiswi sini, saya disuru minta data-data diri nya dia kalo masih ada gitu, ..”
”Lho emang dia nggak punya?”
”Wah ceritanya panjang pak..”
”Ya susah kalo gitu mas, saya nggak bisa bantu...”
Gua kemudian mendesah sambil berdiri.
”Yaudah deh pak, permisi..”
Sampai diluar ruang administrasi, komeng bertanya ke gua;
”Gimana, bisa?”
Gua Cuma menggeleng lesu.
”Ah payah lu, .. mana sini duit, duit, cepe’”
”Bakal apaan?”
”Udah mana sini”
Gua mengeluarkan uang 100 ribu dari dalam dompet dan menyerahkannya ke Komeng, penasaran apa yang bakal diperbuat Komeng dengan uang itu.
”Yang mana orangnya?” komeng bertanya ke gua
”Tuh yang kumisan..”
”Yaudah ayo..”
Gua mengikuti komeng masuk kedalam, lagi.
Kemudian Komeng ngobrol-ngobrol sebentar dengan petugas administrasi yang tadi dan menyalami nya sambil menyerahkan uang 100 ribu yang tadi. Sejurus kemudian petugas tersebut berubah jadi ramah, mempersilahkan kami duduk dan menawarkan minuman. Dalam hati gua memuji kemampuan komeng dalam bernegosiasi.
”Jadi, siapa nama mahasiswanya?”
”Ines, pak”
”Ines ya.. kemudian si petugas mengetik sesuatu di komputer”
”Nama lengkapnya siapa? Jurusan apa? Angkatan taun berapa?”
”Waduh... saya taunya Cuma Ines aja pak.. DKV”
”Wah susah itu mah..”
Kemudian datang petugas satu lagi, yang bertanya ada keperluan apa, petugas yang pertama menjelaskan keperluan gua dan komeng.
”Ines.. ines, yang rambutnya pendek ya?’
Tanya petugas yang baru datang. Gua mengangguk.
”Anak DKV kan?”
Disusul pertanyaan berikutnya, gua mengangguk lagi sambil bilang ”Iya pak bener..”
”Oh itu loh, gus.. Anak yang pernah mau ngebakar perpus.. siapa ya nama lengkapnya... Imanes.. coba di cari...”
Petugas yang baru datang menjelaskan ke petugas di depan komputer yang kemudian melakukan pencarian.
”Ada nih datanya, tapi kita nggak bisa ngasih, kalo mau mas-nya nyatet aja..”
”Wah saya justru butuh dokumennya pak, fotocopian gapapa”
”Kita dari pihak kampus nggak mengijinkan mas, kalo ketahuan rektorat saya bisa kena omel..”
Kemudian komeng mengeluarkan uang 50 ribu, melipatnya jadi keciiil sekali dan meletakkannya di bawah gelas, sambil berkata, ”Tolong deh pak..”
Si petugas kemudian beranjak, membuka lemari arsip, melakukan pencarian dan kembali dengan sebuah Map berwarna hijau yang berisi Dokumen-dokumen Ines.
”Oke ini saya Fotokopiin dulu, butuhnya apa aja?”
”Kalo ada KTP sama Akte pak, tapi kalo ada ijasah juga boleh”
Setengah jam kemudian gua berjalan ke arah parkiran motor dengan membawa fotokopi KTP, akte lahir dan Ijasah SMA Ines. Nggak ada habisnya gua memuji kemampuan negosiasi si Komeng tadi. Dia Cuma menjawab dengan senyuman dan tepukan di dada yang artinya kurang lebih ”Siapa dulu”.
”Eh.. ganti tuh duit gua tadi gocap...”
Gua mengeluarkan dompet, mengeluarkan uang 100rb dan menyerahkannya kepada Komeng.
”Nih, cepe.. sama ongkos ojek”
”Kalo sama ongkos ojek kurang,bon..”
Disusul suara tawa kami berdua.
---
Malam harinya, gua duduk di ’bale’ diteras rumah, ditemani secangkir kopi hitam dan sebatang marlboro light. Gua memegang fotokopi KTP Ines dan memandanginya.
IMANES HARTONO
Nama yang tertera disana. Gua tersenyum, owh, namanya Imanes Hartono, disitu tertera tanggal lahir Ines; 8 Agustus 19xx dan juga alamat rumahnya. Gua melihat tanggal ’expired’ KTP tersebut dan ternyata sudah kadaluarsa.
Gua meminjam ponsel Ika dan menghubungi Ines, nada sambung berbunyi beberapa kali sampai terdengar suara Ines di ujung sana. Gua sengaja nggak mau ngasih tau dulu tentang KTP, Akte dan Ijasahnya ke Ines.
”Halo..Nes..”
”Iya..Lagi apa?”
”Lagi mikirin elu nih.. lu lagi ngapain?”
”Hehehe kangen ya.. lagi nelpon..”
”Serius. ah..”
”Baru selesai makan, lagi ntn tivi..”
”Owh..”
”Elo kapan balik..?”
Gua terdiam sesaat, ternyata dia balik lagi menggunakan bahasa ”Elo”, mungkin kemaren gua salah denger ato dia yang salah ucap.
”Belom tau nih, bokap sih udah sehat..”
”Buruan balik doong..”
”Kenapa? Kangen ya?”
”Iya.. eh.. nggak juga sih, udah pokoknya elo cepetan balik”
”Hahaha... iya deh, yauda gua tutup ya, pulsanya boros nih soalnya”
”Iya deh, jaga diri ya..”
”Iya..”
Tut tut tut tut tut.
Gua menyerahkan ponsel ke Ika sambil bilang kalo besok gua mau minjem motornya. Gua mau mencari alamat rumah Ines yang tertera di KTP, Napak Tilas.
Besok harinya, jam 10 pagi gua sudah berada di daerah Beji, Depok. Setelah bertanya beberapa kali, akhirnya gua sampe juga ke subuah komplek perumahan yang nggak begitu jauh dari jembatan serong, Depok. Gua masuk kedalam komplek perumahan tersebut dan akhirnya tiba didepan sebuah rumah yang sesuai dengan alamat di KTP Ines. Sebuah bangunan mungil dengan tembok berwarna putih dan pagar besi berwarna hitam. Lampu di teras rumahnya menyala, halamannya yang nggak sebegitu luas juga terlihat terlantar dengan daun-daun mangga kering yang berjatuhan disana. Gua kemudian mengetuk-ngetuk pagar beberapa kali dan nggak ada jawaban.
Sesaat kemudian keluar dari rumah yang persis disebelahnya seorang ibu yang sedang menggendong anak kecil menghampiri gua.
”Cari siapa mas?”
”Cari Ines bu..”
”Oh.. kayaknya udah lama mbak Inesnya nggak pulang kesini deh, mungkin ikut kakaknya ke ostrali, mas ini siapa?”
”Anu bu, saya temennya Ines, dia tinggal sendiri disini bu?”
”Iya tinggal sendiri..”
”Yauda terima kasih ya bu, maap ngerepotin”
”Sama-sama”
Kemudian gua naik kemotor, bergegas pulang kerumah. Sebelum sampai dirumah gua mampir ke salah satu Mall di daerah Blok-M untuk memesan tiket di agen travel disana. Sekalian beliin Pizza buat Ika sebagai ganti biaya sewa motor.
---
Jam di meja kantor menunjukkan angka dua siang saat Ponsel gua berbunyi, melantunkan lagu ’Time like this’-nya Foo Fighter. Gua mengangkatnya, terdengar suara adik gua di ujung telepon, sebuah kabar yang bikin lutut gua langsung lemes. Bokap gua masuk rumah sakit, dirawat dan bersiap untuk dioperasi. Beliau didiagnosa menderita ’Usus Buntu’ Adik gua menanyakan kemungkinan gua untuk balik ke Indo, tanpa pikir panjang gua langsung meng-iya-kannya.
Setelah berbincang dengan atasan gua mengenai kondisi bokap di Indo. Gua memesan tiket secara online, bergegas keluar dari kantor dan menuju ke stasiun kereta, menjemput Ines di London.
---
Ines sudah sejak tadi pagi berangkat ke KBRI di London, dia berangkat bareng Intan (Temen-nya Arya) yang juga ada keperluan ke KBRI. Sesampainya disana gua melihat Intan dan Ines sedang berbincang di ruang tunggu.
”Udah kelar?, gimana, bisa?”
Gua menggelontorkan pertanyaan ke Ines.
”Bisa, tapi harus ngelampirin pasfoto terbaru, fotocopi KTP ato paspor ato akte”
”Lah kalo nggak ada gimana?”
”Ya nggak bisa...”
”Yauda ntar dipikirin lagi deh, yuk pulang..”
”Kenapa sih kok kayaknya buru-buru banget?”
”Bokap masuk rumah sakit..”
”Ya ampun.. sakit apa?”
”Usus buntu...”
”Kok bisa?”
”Nggak tau, nelen biji kecapi kali..”
Gua berusaha mencairkan suasana. Kemudian kami bertiga; gua, Ines dan Intan bergegas pulang.
Dirumah Ines membantu gua packing, gua bilang ke dia kalau nggak usah bawa baju, di Indo baju gua banyak. Akhirnya gua hanya membawa tas ransel yang biasa gua pake.
Gua menangkap raut kesedihan di wajahnya, gua yakin dia sedih bukan karena bakal gua tinggal, melainkan karena proses pengurusan paspor dan visa-nya yang nggak ujung ketemu titik terangnya. Gua kemudian duduk di sofa disamping Ines yang sedang menonton tivi.
”Gue sendirian dong?”
”Gua Cuma sebentar, paling lama seminggu...”
”Seminggu lama kali, bon..”
”Ntar sekalian gua coba ngurus paspor lu dari sana..”
”Yah, nggak usah deh, ngerepotin elo, ntar elo malah lama baliknya...”
”Gapapa..”
Kemudian kami saling terdiam.
Gua bangkit, berdiri dan mengeluarkan dua lembar ratusan pounds dan debit card dari dompet, meletakkannya di atas meja makan.
”Nih kalo ada apa-apa, pake aja.. Pin nya 5 tiga kali 6 tiga kali, nih handphone gua, lu pegang..”
”Lo nggak bawa hp?”
”Gausah, ntar disono gua telepon pake hp adek gua aja..”
”Gua ikut nganter ke airport ya...”
”Nggak usah lah, ntar baliknya repot..”
”Gapapa, gua berani sendiri kok..”
”Dibilang gausah, udah dirumah aja..”
”Yaah..”
Kemudian gua mengambil jaket dan memakai ransel, Ines berdiri mematung di hadapan gua. Tadinya gua berniat mencium keningnya sebelum berangkat, biar kayak di film-film holywood gitu, tapi apa daya, gua nggak berani.
”Ati –ati ya bon..”
”Iya.. elo yang ati-ati dirumah, pintu-nya jangan lupa dikunci, nggak usah kemana-mana kalo nggak perlu-perlu banget, kalo malem pemanasnya nyalain, trus kaos kakinya dipake”
Ines berbisik ”Bawel..”
---
Gua tiba di bandara Heathrow saat waktu menunjukkan pukul 5 sore, setelah menukarkan tiket online, gua pun menunggu boarding sambil duduk di bangku-bangku berderet yang terletak mengitari ruang informasi yang dibangun mirip seperti meja resepsionis, di lantai atas terdapat gerai-gerai yang menjual makanan, baju, majalah bahkan ponsel prabayar. Untuk penumpang VIP malah disediakan ruang tunggu semacam Lounge yang tempat duduknya aja dari sofa dan pasti dengan pelayanan yang ekstra. Pun begitu, disini, ditempat gua duduk menunggu juga udah cukup bersih dan nyaman. Bandara Heathrow ini termasuk bandara paling ruame yang pernah gua datangi dalam hidup gua. Orang dari berbagai negara ada disini dari wanita yang menggunakan ’sari’ khas India, pria ber’turban’ khas pakistan, dan nggak ketinggalan orang-orang yang berpakaian formil seperti kemeja dan jas lengkap dengan dasi-nya.
---
Gua melihat jam swiss army baru gua, jam sembilan malam. Gua sudah berada di kabin pesawat Qatar Airways. Perjalanan dari London ke Jakarta biasanya memakan waktu sekitar 18 sampai 19 jam, gua sengaja memilih maskapai-maskapai timur tengah karena maskapai-maskapai ini rata-rata transit di tengah-tengah rute perjalanan sehingga gua nggak capek di pesawat, ya walaupun di dalam pesawat juga banyak fasilitas yang nggak bikin bosen tapi tetep aja namanya didalem pesawat, elo nggak bisa koprol sambil ngopi diatas sini. Beda dengan pesawat dari maskapai kayak Singapore atau Malaysian Airlines yang transitnya di Changi ato KL,15 jam setelah terbang baru kemudian lanjut ke Jakarta dengan sisa tempuh 2 jam. Bayangin 15 jam didalam pesawat.
Langit hitam diluar sana, terlihat cahaya kota London berbinar-binar dari atas sini, pesawat sudah lepas landas. Belum berapa lama dan nggak seberapa jauh, gua sudah kangen sama Ines, lagi apa ya dia sekarang. Gua memandang Jam swiss army pemberian Ines, tersenyum sendiri dan mengangkat selimut menutup tubuh, mencoba untuk tidur.
---
Jam 5 sore keesokan harinya, gua tiba di Soekarno Hatta. Penerbangan dari Doha, Qatar sempet delay 2 jam-an, seharusnya menurut jadwal jam 3-an gua sudah sampe disini.
Gua sedikit menyesuaikan suhu dan cuaca disini, melepas Jaket sambil berjalan keluar dengan langkah cepat. Gua memilih taksi berwarna biru muda yang kemudian bergerak menyusuri area bandara dan meluncur melintasi tol Dr Sedyatmo menuju ke rumah.
Sampai dirumah sekitar jam 9 malem gua disambut pelukan manja adik gua satu-satunya, Ika. Nyokap gua ada dirumah sakit, nemenin bokap. Menurut cerita si Ika, bokap udah selesai di operasi dan kondisinya sekarang membaik.
”Oh, jadi pas kemaren lu nelpon gua, udah mau dioperasi?”
”Iya itu, baba udah masuk ruang operasi, bang.”
Gua mengucap syukur dalam hati, mudah-mudahan bokap dan nyokap diberi kesehatan selalu. Kemudian gua meluncur ke rumah sakit dengan dibonceng sama Ika menggunakan motor matik-nya. Sampai dirumah sakit suasana berubah menjadi seperti lebaran, nyokap, ncang, ncing, dan saudara lainnya berkumpul menyambut gua, gua menghampiri nyokap, memeluknya dan melepaskan rindu. Sudah hampir dua tahun gua nggak ngeliat nyokap, disusul menghampiri bokap yang baru aja bangun dan memeluknya di tempat tidur, sambil berbisik :
”Makanya, baba kalo makan kecapi bijinye jangan ditelen..”
Malam itu gua menghabiskan waktu bercengkrama dengan nyokap dan adek gua didalam kamar rumah sakit. Melepas rindu yang sudah sekian lama terpendam.
---
Besok pagi-nya, dengan meminjam ponsel Ika, gua menelpon Ines. Beberapa kali gua mencoba tapi nggak kunjung diangkat, sampai akhirnya suara lemah Ines bergaung di ujung telepon.
”Hallo..hallo, elu sakit nes? Suara lu lemes banget..”
”Halo, nggak kok, gue kebangun, sekarang tengah malem bon disini..”
Gua menepok jidat, lupa.
”Yauda deh, tidur lagi, gua Cuma ngabarin kalo uda sampe semalem..”
”Ish.. nggak langsung ngabarin... gimana bokap?”
”Iya capek semalem, bokap uda abis dioperasi paling lusa udah boleh pulang..”
”Oh syukurlah, salam ya buat keluarga disana..”
”Oke.. yauda tidur lagi sana, pemanasnya dinyalain, kaos kaki-nya dipake..”
”Iya, kamu take careya...”
Tut tut tut tut
Gua menutup telepon, gua masih terdiam mendengar kata terakhir dari Ines tadi, bukan kalimatnya yang bilang agar gua menjaga diri yang bikin gua terperanjat. Tapi, biasanya dia menggunakan kata ”Elo” buka ”Kamu” dalam kalimatnya.
Kemudian gua menelpon komeng, meminta dijemput di rumah sakit. Komeng yang kayaknya baru bangun tidur terdengar kaget karena baru tau gua lagi di Jakarta. Sejam kemudian komeng sudah berdiri dihadapan gua, komeng yang gua lihat sekarang bener-bener berbeda dengan komeng empat tahun yang lalu, sekarang wajahnya terlihat lebih tangguh dan ditumbuhi brewok yang menghiasi dagu-nya. Gua dan komeng kemudian ngobrol ngalor-ngidul, saling bercerita tentang hidup masing-masing, dan gua pun bercerita tentang Ines.
”Wah, gokil.. udah berani nyimpen cewek sekarang lu..”
”Anjriit, nggak gitu kali, meng.. eh besok lu cuti kerja aja nemenin gua..”
”Ngapain?”
”Ada dah, mau ya?”
”Ah gila lo, gua udah ijin kerja mulu dari kemaren-kemaren..”
”Gua mao ke bekas tempat kerjanya Ines ato ke kampusnya dia..”
”Sendiri emang ga berani?”
”Et, gua udah lama nggak naek motor, kagok..”
”Sial, gua disuru ngojekin doang..”
”Mau kagak?”
”Yaudah iya”
Besoknya setelah mengantar Bokap dari rumah sakit ke rumah, gua meluncur sama komeng ke daerah Sudirman. Bermodal cerita Ines tentang tempat dia kerja dan kuliah waktu di Jakarta, gua menyusuri jalan sudirman, Jalan di disini bener-bener pas banget buat ngelatih kesabaran, macetnya tiada tara. Kemudian kami tiba di sebuah gedung tinggi, sekitar 40-an lantai, menuju ke resepsionis dan mengatakan kalo gua mau ke sebuah perusahanan advertising yang ada di gedung ini, si resepsionis menyebut lantai 8 sambil menunjukkan elevator untuk bisa sampai kesana.
Nggak lama gua sudah berhadapan dengan pria necis dengan rambut kelimis, yang akhirnya gua tau bernama pak Bowo, HRD disini. Dia menanyakan ada keperluan apa dan gua menanyakan apakah disini dulu pernah ada karyawan bernama Ines. Dia berfikir sejenak dan kemudian bertanya ada perlu apa dengan Ines, gua mengaku sebagai temannya dan menjelaskan sedikit kronologinya ke Pak Bowo, dia kemudian berdiri mengambil odner besar dari dalam laci dan membolak-balik kertas di dalamnya.
Setelah selesai, Pak Bowo duduk kembali dan berkata kalau dia punya data-data Ines, tapi tidak punya dokumen seperti fotokopi KTP atau yang lainnya. Pihak perusahaan memiliki data-data pribadi Ines, tapi menurut kebijakan kantor, data tersebut tidak bisa diserahkan ke orang luar. Gua berusaha membujuk tapi dia tetap bergeming, akhirnya gua menyerah dan langsung menuju ke Lokasi berikutnya; Kampus.
Berdasar cerita Ines ke gua, dia pernah kuliah di salah satu kampus di daerah Panglima Polim, jurusan Desain Komunikasi Visual. Gua dan Komeng pun meluncur kesana.
Sesampainya disana gua bertemu dengan bagian administrasi, berlagak sebagai wali mahasiswa yang ingin menyelesaikan urusan administrasi.
”Siang mas, silahkan duduk.. ada yang bisa dibantu?”
”Begini pak, sebenernya saya bukannya mau ngurus pembayaran mahasiswa..”
”Lho terus ada perlu apa?”
Si petugas administrasi bertanya sambil mengernyitkan dahi.
”Temen saya di Inggris, katanya dulu mahasiswi sini, saya disuru minta data-data diri nya dia kalo masih ada gitu, ..”
”Lho emang dia nggak punya?”
”Wah ceritanya panjang pak..”
”Ya susah kalo gitu mas, saya nggak bisa bantu...”
Gua kemudian mendesah sambil berdiri.
”Yaudah deh pak, permisi..”
Sampai diluar ruang administrasi, komeng bertanya ke gua;
”Gimana, bisa?”
Gua Cuma menggeleng lesu.
”Ah payah lu, .. mana sini duit, duit, cepe’”
”Bakal apaan?”
”Udah mana sini”
Gua mengeluarkan uang 100 ribu dari dalam dompet dan menyerahkannya ke Komeng, penasaran apa yang bakal diperbuat Komeng dengan uang itu.
”Yang mana orangnya?” komeng bertanya ke gua
”Tuh yang kumisan..”
”Yaudah ayo..”
Gua mengikuti komeng masuk kedalam, lagi.
Kemudian Komeng ngobrol-ngobrol sebentar dengan petugas administrasi yang tadi dan menyalami nya sambil menyerahkan uang 100 ribu yang tadi. Sejurus kemudian petugas tersebut berubah jadi ramah, mempersilahkan kami duduk dan menawarkan minuman. Dalam hati gua memuji kemampuan komeng dalam bernegosiasi.
”Jadi, siapa nama mahasiswanya?”
”Ines, pak”
”Ines ya.. kemudian si petugas mengetik sesuatu di komputer”
”Nama lengkapnya siapa? Jurusan apa? Angkatan taun berapa?”
”Waduh... saya taunya Cuma Ines aja pak.. DKV”
”Wah susah itu mah..”
Kemudian datang petugas satu lagi, yang bertanya ada keperluan apa, petugas yang pertama menjelaskan keperluan gua dan komeng.
”Ines.. ines, yang rambutnya pendek ya?’
Tanya petugas yang baru datang. Gua mengangguk.
”Anak DKV kan?”
Disusul pertanyaan berikutnya, gua mengangguk lagi sambil bilang ”Iya pak bener..”
”Oh itu loh, gus.. Anak yang pernah mau ngebakar perpus.. siapa ya nama lengkapnya... Imanes.. coba di cari...”
Petugas yang baru datang menjelaskan ke petugas di depan komputer yang kemudian melakukan pencarian.
”Ada nih datanya, tapi kita nggak bisa ngasih, kalo mau mas-nya nyatet aja..”
”Wah saya justru butuh dokumennya pak, fotocopian gapapa”
”Kita dari pihak kampus nggak mengijinkan mas, kalo ketahuan rektorat saya bisa kena omel..”
Kemudian komeng mengeluarkan uang 50 ribu, melipatnya jadi keciiil sekali dan meletakkannya di bawah gelas, sambil berkata, ”Tolong deh pak..”
Si petugas kemudian beranjak, membuka lemari arsip, melakukan pencarian dan kembali dengan sebuah Map berwarna hijau yang berisi Dokumen-dokumen Ines.
”Oke ini saya Fotokopiin dulu, butuhnya apa aja?”
”Kalo ada KTP sama Akte pak, tapi kalo ada ijasah juga boleh”
Setengah jam kemudian gua berjalan ke arah parkiran motor dengan membawa fotokopi KTP, akte lahir dan Ijasah SMA Ines. Nggak ada habisnya gua memuji kemampuan negosiasi si Komeng tadi. Dia Cuma menjawab dengan senyuman dan tepukan di dada yang artinya kurang lebih ”Siapa dulu”.
”Eh.. ganti tuh duit gua tadi gocap...”
Gua mengeluarkan dompet, mengeluarkan uang 100rb dan menyerahkannya kepada Komeng.
”Nih, cepe.. sama ongkos ojek”
”Kalo sama ongkos ojek kurang,bon..”
Disusul suara tawa kami berdua.
---
Malam harinya, gua duduk di ’bale’ diteras rumah, ditemani secangkir kopi hitam dan sebatang marlboro light. Gua memegang fotokopi KTP Ines dan memandanginya.
IMANES HARTONO
Nama yang tertera disana. Gua tersenyum, owh, namanya Imanes Hartono, disitu tertera tanggal lahir Ines; 8 Agustus 19xx dan juga alamat rumahnya. Gua melihat tanggal ’expired’ KTP tersebut dan ternyata sudah kadaluarsa.
Gua meminjam ponsel Ika dan menghubungi Ines, nada sambung berbunyi beberapa kali sampai terdengar suara Ines di ujung sana. Gua sengaja nggak mau ngasih tau dulu tentang KTP, Akte dan Ijasahnya ke Ines.
”Halo..Nes..”
”Iya..Lagi apa?”
”Lagi mikirin elu nih.. lu lagi ngapain?”
”Hehehe kangen ya.. lagi nelpon..”
”Serius. ah..”
”Baru selesai makan, lagi ntn tivi..”
”Owh..”
”Elo kapan balik..?”
Gua terdiam sesaat, ternyata dia balik lagi menggunakan bahasa ”Elo”, mungkin kemaren gua salah denger ato dia yang salah ucap.
”Belom tau nih, bokap sih udah sehat..”
”Buruan balik doong..”
”Kenapa? Kangen ya?”
”Iya.. eh.. nggak juga sih, udah pokoknya elo cepetan balik”
”Hahaha... iya deh, yauda gua tutup ya, pulsanya boros nih soalnya”
”Iya deh, jaga diri ya..”
”Iya..”
Tut tut tut tut tut.
Gua menyerahkan ponsel ke Ika sambil bilang kalo besok gua mau minjem motornya. Gua mau mencari alamat rumah Ines yang tertera di KTP, Napak Tilas.
Besok harinya, jam 10 pagi gua sudah berada di daerah Beji, Depok. Setelah bertanya beberapa kali, akhirnya gua sampe juga ke subuah komplek perumahan yang nggak begitu jauh dari jembatan serong, Depok. Gua masuk kedalam komplek perumahan tersebut dan akhirnya tiba didepan sebuah rumah yang sesuai dengan alamat di KTP Ines. Sebuah bangunan mungil dengan tembok berwarna putih dan pagar besi berwarna hitam. Lampu di teras rumahnya menyala, halamannya yang nggak sebegitu luas juga terlihat terlantar dengan daun-daun mangga kering yang berjatuhan disana. Gua kemudian mengetuk-ngetuk pagar beberapa kali dan nggak ada jawaban.
Sesaat kemudian keluar dari rumah yang persis disebelahnya seorang ibu yang sedang menggendong anak kecil menghampiri gua.
”Cari siapa mas?”
”Cari Ines bu..”
”Oh.. kayaknya udah lama mbak Inesnya nggak pulang kesini deh, mungkin ikut kakaknya ke ostrali, mas ini siapa?”
”Anu bu, saya temennya Ines, dia tinggal sendiri disini bu?”
”Iya tinggal sendiri..”
”Yauda terima kasih ya bu, maap ngerepotin”
”Sama-sama”
Kemudian gua naik kemotor, bergegas pulang kerumah. Sebelum sampai dirumah gua mampir ke salah satu Mall di daerah Blok-M untuk memesan tiket di agen travel disana. Sekalian beliin Pizza buat Ika sebagai ganti biaya sewa motor.
---
Backsound untuk #12


All my bags are packed, I'm ready to go
I'm standin' here outside your door
I hate to wake you up to say goodbye
But the dawn is breakin', it's early morn
The taxi's waitin', he's blowin' his horn
Already I'm so lonesome I could die
So kiss me and smile for me
Tell me that you'll wait for me
Hold me like you'll never let me go
'Cause I'm leaving on a jet plane
I don't know when I'll be back again
Oh, babe, I hate to go
I'm ...
There's so many times I've let you down
So many times I've played around
I'll tell you now, they don't mean a thing
Every place I go, I think of you
Every song I sing, I sing for you
When I come back I'll wear your wedding ring
So kiss me and smile for me
Tell me that you'll wait for me
Hold me like you'll never let me go
'Cause I'm leaving on a jet plane
I don't know when I'll be back again
Oh, babe, I hate to go
Now the time has come to leave you
One more time, oh, let me kiss you
And close your eyes and I'll be on my way
Dream about the days to come
When I won't have to leave alone
About the times that I won't have to say ...
Oh, kiss me and smile for me
Tell me that you'll wait for me
Hold me like you'll never let me go
'Cause I'm leaving on a jet plane
I don't know when I'll be back again
Oh, babe, I hate to go
And I'm leaving on a jet plane
I don't know when I'll be back again
Oh, babe, I hate to go
But I'm leaving on a jet plane


All my bags are packed, I'm ready to go
I'm standin' here outside your door
I hate to wake you up to say goodbye
But the dawn is breakin', it's early morn
The taxi's waitin', he's blowin' his horn
Already I'm so lonesome I could die
So kiss me and smile for me
Tell me that you'll wait for me
Hold me like you'll never let me go
'Cause I'm leaving on a jet plane
I don't know when I'll be back again
Oh, babe, I hate to go
I'm ...
There's so many times I've let you down
So many times I've played around
I'll tell you now, they don't mean a thing
Every place I go, I think of you
Every song I sing, I sing for you
When I come back I'll wear your wedding ring
So kiss me and smile for me
Tell me that you'll wait for me
Hold me like you'll never let me go
'Cause I'm leaving on a jet plane
I don't know when I'll be back again
Oh, babe, I hate to go
Now the time has come to leave you
One more time, oh, let me kiss you
And close your eyes and I'll be on my way
Dream about the days to come
When I won't have to leave alone
About the times that I won't have to say ...
Oh, kiss me and smile for me
Tell me that you'll wait for me
Hold me like you'll never let me go
'Cause I'm leaving on a jet plane
I don't know when I'll be back again
Oh, babe, I hate to go
And I'm leaving on a jet plane
I don't know when I'll be back again
Oh, babe, I hate to go
But I'm leaving on a jet plane
Spoiler for Klipnya:
Diubah oleh robotpintar 18-03-2014 09:36
regmekujo dan 18 lainnya memberi reputasi
19
Kutip
Balas
![Accidentally In Love [True Story]](https://s.kaskus.id/images/2014/04/07/6448808_20140407033338.jpg)