Kaskus

Story

javieeAvatar border
TS
javiee
BUNGA "PERTAMA" DAN "TERAKHIR"
BUNGA "PERTAMA" DAN "TERAKHIR"


Spoiler for RULES:


BUNGA "PERTAMA" DAN "TERAKHIR"


INTRO

Perkenalkan, nama gw Raden Fajar Putro Mangkudiningrat Laksana...Bohong deng, kepanjangan...sebut aja gw Fajar. Tinggi 175 cm berat 58kg. bisa disebut kurus karena tinggi dan berat badan gw ga proposional. emoticon-Frown. Gw ROCKER...!! Pastinya Rocker Kelaparan.
Gw terlahir dari keluarga biasa saja yang serba "Cukup". dalam arti "cukup" buat beli rumah gedongan, "cukup" buat beli mobil Mewah sekelas Mercy. (ini jelas jelas bohong). yang pasti gw bersyukur dilahirkan dari keluarga ini.

Gw Anak pertama dari 3 bersaudara. Adik adik gw semuanya perempuan. Gw keturunan Janda alias Jawa Sunda. Bokap asli dari Jepara bumi Kartini. Tempatnya para pengrajin kayu yang terkenal di Nusantara bahkan diakui oleh Dunia. Tapi bokap gw bukan pengusaha mebel seperti kebanyakan orang Jepara. Nyokap gw asli Sumedang Kota yang terkenal dengan TAHU nya. Tapi wajahnya sama sekali nggak mirip tahu ya. Sunda tulen nan cantik jelita. Beliau bidadari gw nomer "1" di dunia ini.

Spoiler for INDEKS:


Spoiler for INDEKSII:
Diubah oleh javiee 06-04-2015 23:49
anasabilaAvatar border
nona212Avatar border
manusia.baperanAvatar border
manusia.baperan dan 4 lainnya memberi reputasi
3
729K
2.9K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.9KAnggota
Tampilkan semua post
javieeAvatar border
TS
javiee
#647
PART 40
Gw bangkit dari kasur rumah sakit. Tingkat kesadaran gw sudah membaik saat itu. Gw sudah mampu melihat dan mendengar dengan jelas. Tidak samar samar lagi seperti tadi. Sepertinya dokter dan asistennya sudah selesai memberikan perawatan kepada gw. Mereka pun terlihat sedang membereskan peralatan medisnya. Lalu dengan tangan gemetaran, gw ambil jimbot di dalam saku celana. Gw perhatikan sekeliling jimbot, untungnya jimbot gw baik baik saja tak ada tanda tanda kerusakan ketika gw 'nyungsrug' tadi. Kemudian secara perlahan gw mengetik sebuah sms...

"Aku kecelakaan..." Sent to Bunga.

Dialah orang yang pertama gw beri kabar tentang keadaan gw saat itu. Kedua orang tua gw bahkan belum mengetahui keadaan gw. Entah kenapa gw malah mendahulukan kekasih tercinta gw ketimbang orang tua gw...

"Oke...kamu boleh langsung pulang. Kondisi kamu nggak begitu parah. Nggak perlu dirawat disini. Cukup dirawat dirumah..." ucap pak dokter.

"Emm makasih Dok."

"Tapi nanti dua atau tiga hari lagi, kamu kembali lagi kesini untuk menjalani pemeriksaan sinar-x." Lanjut dokter.

"Haahh?? Di apain tuh dok?" tanya gw.

"Kepala kamu...Itu harus diperiksa. Takutnya ada luka dalam atau gegar otak ringan." Jawab dokter.

"Ooh gitu ya Dok..."

"Ini saya udah buatkan resep, nanti obatnya ditebus aja di apotik xxxx" Ujarnya sembari memberikan selembar kertas. Gw nggak tau itu kertas tulisannya apa. Karena memang nggak bisa dibaca.

"Iya Dok...makasih..."

Resep?? Gw bingung ini mau dikasih obat macam apa? Masa iya luka luka begini diobatin pake paracetamol? Sudahlah....gw menurut saja apa kata dokter.

Kemudian ada sesosok laki laki agak gemuk masuk ke dalam ruangan. Gw mengenalinya...Dia Mang Aep, tukang ojek yang sering mangkal di sekitaran komplek gw. Dia juga langganan antar jemput gw waktu dulu saat masih SMP. Gw melongok ke arah luar, mata ini tidak melihat keberadaan dua pemuda tadi yang membawa gw kesini. Entahlah mereka kemana...

"Geus beres Jar??" Tanya dia.

"Anggeus mang...." jawab gw.

"Indung jeung Bapa maneh geus dibere nyaho can? (Ibu Bapak kamu udah dikasih tau belum?)" Tanya dia.

"Teu acan mang...Keur arindit mang. Teuing indit kamana...ceunah mah balikna sore. (Belum mang...lagi pada pergi. Nggak tau pergi kemana, katanya mah pulangnya sore)." Jawab gw.

"Nya nggeus atuh..hayu balik..(Yasudah ayo pulang)" Ajak dia.

"Ari ongkos rumah sakit kumaha mang? (Ongkos rumah sakit gimana mang?)" Tanya gw lagi.

"Kalem lah tong dipikiran. Geus ditalangan ku amang...(Santai lah jgn difikirin, udah ditalangin sama amang." Jawab dia.

"He...Nuhun atuh mang...Jadina ngaripuhkeun amang yeuh. (He...Makasih ya mang. Jadinya ngerepotin amang nih)." Ujar gw.

"Nya sami sami...sing penting mah maneh di ubaran heula. (Ya sama sama. yang penting mah kamu diobatin dulu)" Ujar dia.

"Oh iya,Mang baturan urang kumaha?? (Mang, temen saya gimana?)" Gw bertanya lagi.

"Tadi mah masih keneh di tempat kejadian. Ayeuna mah teuing kamana...( Tadi sih masih di tempat kejadian, sekarang nggak tau kemana)" Jawab dia.

"Tapi manehna hirup keneh kan mang? (Tapi dianya masih hidup kan mang?)" Tanya gw.

"Nya hirup atuh...Baturan maneh mah teu kunanaon, ngan lecet saeutik hungkul. Manehna mah make helm...Mun maneh teu make nya? (Ya hidup lah...temen kamu mah nggak apa apa, cuma lecet sedikit doang. Dia mah pake helm, kalo kamu nggak pake ya?)" Ujarnya.

"Oh..sukur atuh mang. Urang geus panik Atuh da teu hudang hudang eta budak...Kalahkah urang nu pingsan mang... (Oh, sukur deh mang. Saya udah panik! soalnya ga bangun bangun tuh anak. Malahan saya yang pingsan mang..)" Ucap gw.

"Nya nggeus atuh Hayu pulang...." Ajak dia.

Syukurlah...Dedi tidak apa apa. Gw sempat panik berat saat dia tergeletak tak bergerak sedikitpun. Yang gw khawatirkan dia tertabrak mobil sesaat setelah jatuh. Karena memang posisi dia saat itu persis berada di tengah jalanan. Sedangkan posisi gw berada sedikit di sisi jalan. Ternyata dia hanya pingsan saja ketika itu.
Dan lagi lagi, nasib dia lebih beruntung daripada gw..
Deeeed.....Deeed!!!

Lalu bagaimana dengan Jupii dan orang yang kami tabrak??
Keadaan jupii hancur berantakan hampir tak berbentuk akibat benturan keras itu. Terutama pada bagian depannya. Bahkan roda yang umumnya berupa lingkaran, malah hampir menyerupai angka 8. Gw tidak mengerti kenapa bisa sampai seperti itu. Padahal kecepatan motor saat itu tidak terlalu kencang. Hanya sekitar 80km/jam kurang lebih.
Sedangkan Orang yang kami tabrak tidak mengalami luka yang serius. Hanya saja kamera yang ada di dalam tasnya rusak. Lensanya pecah...Keadaan motornya juga tak separah Jupii. Hanya hancur dibagian sampingnya saja. Namun dia tidak menuntut ganti rugi. Sebab memang dia jelas bersalah karena belok tidak menyalakan lampu 'sein'.

Gw bersyukur karena ada mang Aep yang menolong gw sekaligus 'membayar' biaya rumah sakit. Saat terjadinya kecelakaan tadi, kebetulan dia tengah melintasi jalan itu dan melihat gw yang sudah tergeletak di jalanan. Karena saat itu dia masih membawa penumpang, dia hanya bisa meminta tolong pada pemuda setempat untuk membawa gw ke Rumah Sakit. Setelah mengantarkan penumpangnya, dia pun menyusul gw disini.

Masalah biaya Rumah Sakit, gw tidak tahu persis jumlah biaya yang dikeluarkan. Entah 200ribu atau 300ribu. Untungnya dia sedang memegang uang saat itu. Walaupun uang itu adalah uang untuk setoran cicilan motor.

Kemudian gw keluar ruangan dengan bantuan mang Aep memapah gw berjalan. Dan gw pun diantar pulang sampai di rumah olehnya.

.............................
.............................

Perih.....
Ya, itulah satu kata yang jelas menggambarkan keadaan gw pasca kecelakaan. Tiga jahitan di dagu, tiga jahitan di atas bibir, dan 5 jahitan di sudut kening gw. Belum lagi ditambah luka luka kecil di bagian sikut dan lutut.
Total ada 11 jahitan yang bersarang di wajah gw. Apabila itu perban dibuka, mungkin wajah gw mirip boneka 'chuky' yang sering nongol di televisi. Dan gw hanya bisa pasrah....
Gw harus merelakan 'ketampanan gw' direnggut oleh aspal jalanan.

Gw berbaring di atas kursi sofa di ruang tamu. Bidadari No.1 gw menangis ketika melihat keadaan gw yang babak belur penuh dengan perban di sekujur muka. Sedangkan bapak gw hanya menggeleng gelengkan kepalanya. Lagi dan lagi...gw kembali merepotkan orang tua gw.
Udah mah babak belur, motor hancur berantakan, belum lagi biaya pengobatan yang harus dikeluarkan. Sungguh nasib gw selalu saja seperti ini. Selalu saja sial...

Tak lama kemudian jimbot gw bergetar, sepertinya ada sms masuk yang mungkin balasan dari Bunga. Gw meminta tolong pada Bidadari No.1 untuk mengambilkan jimbot yang posisinya agak jauh dari tempat gw berbaring.

1 New message from Bunga...

"Kamu pasti mau ngerjain aku lagi ya Yank?"

Haah...ternyata dia tidak mempercayai gw saat itu. Lalu gw pun membalasnya...

"Aku nggak bohong, aku serius..." Balas gw.

Sms gw tidak dibalas olehnya karena saat itu juga dia langsung menelfon gw.

"Haloo...kamu serius yank??" Tanya dia.

"Iya..." Jawab gw singkat

"Kok bisa? Terus sekarang kamu dimna? Keadaan kamu gimana??"

"Aku di rumah...Ya gitu..."

"Gitu gimana??? Yaudah aku ke rumah kamu sekarang juga...!!" Ujarnya.

"Nggak usah...aku nggak apa apa. Lagian kamu belum waktunya pulang juga kan?" Tanya gw.

"Nggaaak!! pokoknya aku kesana sekarang. Aku bisa izin kok..."

"Yaudah terserah kamu...kamu tau rumah aku?"

"Iya aku tau...yang deket lapangan tenis. Aku jalan sekarang...Tunggu ya!! Daaahh...Assalamualaikum!" Ujarnya kemudian menutup telefon.

Gw kembali berbaring sambil menikmati rasa sakit yang semakin menjadi jadi. Mulut gw menjadi kaku tak bisa bergerak dengan leluasa. Jangankan berteriak, untuk sekedar bicara pun terasa sakit. Gaya bicara gw malah terkesan seperti orang gagu yang lapar meminta makan. "Euu...Euu...Euu.."
Hanya kata itu yang bisa gw ucapkan dengan lancar nan faseh.

Satu persatu para tetangga gw berdatangan ke rumah. Rata rata dari mereka adalah ibu ibu.
Ya...Ibu ibu!! Bukan gadis cantik, artis papan atas Indonesia atau bintang film terkenal macam Pevita pearce yang datang menjenguk gw. Mereka hanya ingin melihat keadaan gw dan tentu saja mengucapkan sepatah kata 'SEMOGA LEKAS SEMBUH'. Kata kata mereka sepertinya boleh menjiplak dari bungkus obat apotik yang umumnya ada tulisan seperti itu.
Sementara adik gw yang paling kecil malah tertawa melihat gw meringis kesakitan. Mungkin dia menganggap wajah gw lucu seperti boneka mumy. Gw nggak ambil pusing dengan adik gw itu. Wajar saja karena dia masih berusia 1,5 tahun.

Para Ibu ibu pun akhirnya pamit pulang dan gw pun bisa beristirahat dengan tenang. Namun tak lama kemudian terdengar suara seorang perempuan mengucap salam. Bidadari No.1 gw lantas menuju keluar untuk melihat siapa yang datang.
Sekilas gw mendengar percakapan beliau dengan si tamu tersebut.

Dan ternyata yang datang adalah seorang bidadari juga...Siapa lagi kalau bukan Bunga.
Mengetahui kalau Bunga datang, reflek gw langsung bangkit dari posisi tidur lalu duduk.
Lalu, bayangan dirinya seolah bisa terlihat menembus jendela ruangan. Perlahan lahan sosoknya pun muncul dari balik pintu...
Dan pada akhirnya kedua mata kami saling bertemu.

Dia mendekat ke arah gw sambil terus menatap wajah gw lalu duduk disamping gw.
Dia masih menatap gw...memperhatikan wajah gw. Tak sekalipun matanya berkedip ketika memandangi wajah gw yang seperti mummy ini. Belum satupun kata kata yang terucap dari bibirnya...
Gw yang merasa kalah dengan tatapannya itu kemudian memalingkan wajah ke arah lain.
Dia masih diam belum mengeluarkan sepatah kata...Lalu gw beranikan diri untuk kembali menatap wajahnya. Gw kaget ketika melihatnya...
Dia menangis!!

"Kok kamu nangis?" Tanya gw.

"......" Bunga menggelengkan kepalanya.

"Jangan nangis atuh...." Ujar gw.

"Kamu kenapa bisa kaya gini??!" Ujarnya sambil mengusap airmatanya.

"Yaa...namanya juga musibah..." Ujar gw.

"Bener kan firasat aku....pasti ada apa apa sama kamu. Makannya tadi aku nelefon kamu..aku kefikiran kamu terus. Nggak biasanya kaya gini...Sampe pas tadi ulangan aku sama sekali nggak bisa konsen. Apalagi pas kamu sms kalo kecelakaan...Aku langsung buru buru ngerjainnya. Ngak peduli nilai aku berapa nantinya. Aku kira kamu cuma becanda...ternyata malah kaya gini....Maafin aku yaa..." Ujarnya panjang lebar.

"Loh kenapa minta maaf?" Tanya gw.

"Iya...aku minta maaf karena nggak percaya sama kamu..." Jawabnya.

"Yaudah Nggak apa apa kok. Udah kamu jangan nangis ah ntar cantiknya ilang" Ujar gw.

".........." Dia pun kali ini tersenyum.

Lalu bidadari No.1 gw datang menghampiri kami berdua membawa segelas teh manis hangat. Pastinya itu minuman untuk Bunga...

"Ini tehnya mba..." Ujar beliau kepada Bunga.

"Aduh tante...jadi ngerepotin nih.." Ujar Bunga.

"Udaah ga apa apa. Oh iya, kamu namanya siapa...?" Tanya beliau kepada Bunga

"Aku Bunga tante..." Jawabnya sambil tersemyum.

"Oh, ayo mba Bunga silahkan diminum..."

"Iya tante terima kasih..."

Beliau pun meninggalkan kami berdua di ruang tamu dan kembali ke belakang.

"Itu mama kamu ya?" Tanya Bunga.

"Iya." Jawab gw singkat.

"Masih muda yaa....Udah gitu cantik lagi..."

"Mama aku gitu loh..." ujar gw.

"Hehe...kalo ayah kamu mana yank? Nggak keliatan?" Tanya dia lagi.

"Lagi ngurusin motor. Sekalian dibawa pulang."

"Oh...Oya kondisi motor kamu gimana? terus Dedi?"

"Motor hancur berantakan. Dedi ga apa apa. Dia pake helm.." Jawab gw.

"Ya ampuun...Curang banget si Dedi!! Malah kamu yang parah jadinya." Ujarnya menggerutu.

"Ya...beginilah nasib aku." Ujar gw pasrah.

"Awas aja kalo ketemu aku...mau aku cakar dia!! Gara gara dia nih cowo aku babak belur" Ujarnya sambil manyun.

Ingin rasanya gw tertawa. Bagaimana tidak, sebab raut wajah dia sewaktu menggerutu terlihat lucu sekali. Tapi tawa itu tidak keluar, gw hanya menahannya karena memang gw tidak bisa tertawa.
Kepala gw terasa pusing. Rasanya seperti diputar putar cepat sekali. Lalu gw meminta izin pada Bunga untuk rebahan.

Seketika hening....Tidak ada yang kami bicarakan lagi saat itu. Gw cuma bisa planga plongo sambil menahan rasa sakit dan terkadang mengaduh. Bunga yang melihat gw seperti itu hanya sedikit mengernyitkan dahinya. Dia tidak berani menyentuh wajah gw yang tak karuan seperti ini. Lalu dia mendekat ke arah gw. Dekat sekali...

"Yaaaank..." Panggil Bunga.

"Hemm..." Sahut gw.

"Lukanya pasti kerasa sakit yaa?" Tanya dia.

"Iya..."

"Kamu yang sabar ya..."

"Iya..."

"Kamu mah daritadi iya iya aja...senyumnya mana??" ujarnya.

"Gimana mau senyum...ngomong aja susah..heuu.." Gerutu gw.

"Kan harus dihadapi dengan senyuman...." Ujarnya.

"Itu mah lagu yank..."

"Hehehee...Mana cepetan senyum dulu...!!" Ujarnya memaksa.

"Nggak mau..." Gw menolak.

"Manaa cepeeet..." Ujarnya dengan suara cempreng.

Gw mengalah...dan dengan sangat terpaksa gw menuruti keinginannya untuk senyum. Kaku bibir ini untuk melebar, yang ada malah terasa ngilu dan nyeri. Sepertinya gw dikerjai olehnya saat itu. Sunguh teganya si cantik yang satu ini. Lagi babak belur gw dipaksa harus senyum.
Yapi gw ikhlas melakukannya...Ya, ikhlas...

"Hehe...Senyumnya buat siapa dulu??"

"Buat Bungaa..." Jawab gw.

"Makasih..."

"Iya.."

"Kamu cepet sembuh ya...Biar kita bisa tanding billiard lagi."

"Iya..."

"Aku mau liat kamu masuk kolong lagi...haha" Dia tertawa.

"Heuu...tega banget kamu mah.."

"Hehe...becanda sayank!!" Ujarnya.
"Yank aku ga bisa lama lama disini. Udah sore...Aku pulang nggak apa apa ya?" lanjutnya.

"Hemm...Iya nggak apa apa. Makasih udah nengok aku." Ujar gw.

"Oh iya...Hampir aja aku lupa. Aku udah beliin ini buat kamu..."

Dia membuka tasnya, dan mengeluarkan sebuah kotak. Ternyata dia membelikan kue kesukaan gw. Risol dan tahu isi.

"Waah...makasih ya yank. Tapi gimana aku makannya? Mangap aja ga bisa..heuuu" Ujar gw

"Hehe iya ya...Kalo kamu ga mau, kuenya buat mama kamu aja."

"Iya..."

"Yaudah aku pulang ya...Besok aku kesini lagi." Ucapnya.

"Hah...Kamu beneran besok mau kesini?" Tanya gw.

"Iya sayank...Pulang sekolah langsung kesini. Tapi kalo boleh sama kamu."

"Boleh lah...Malah aku seneng ada yang nemenin."

"Eee...itu mah maunya kamu. Haha..."

Bunga segera membereskan barang barangnya. Lalu dia pun pamit untuk pulang. Tak lupa dia menyempatkan diri untuk sungkem dengan bidadari No.1 gw. Sungguh dia itu adalah calon menantu yang baik.
Ada sedikit obrolan dari mereka berdua. Terlihat ekspresi bidadari no.1 gw agak sedikit berbeda ketika bicara dengan Bunga. Raut wajah senang terlihat di wajah beliau. Dan Bunga pun juga tidak merasa gugup ketika berhadapan dengan beliau.
Segala hal tadi dapat disimpulkan bahwa beliau sepertinya menyukai Bunga....


manusia.baperan
Darpox
efti108
efti108 dan 2 lainnya memberi reputasi
3
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.