- Beranda
- Stories from the Heart
Accidentally In Love [True Story]
...
TS
robotpintar
Accidentally In Love [True Story]
![Accidentally In Love [True Story]](https://s.kaskus.id/images/2014/02/14/6448808_20140214023854.png)
Spoiler for Cover:
![Accidentally In Love [True Story]](https://s.kaskus.id/images/2014/02/14/6448808_20140214024411.png)
So she said what's the problem baby
What's the problem I don't know
Well maybe I'm in love (love)
Think about it every time
I think about it
Can't stop thinking 'bout it
How much longer will it take to cure this
Just to cure it cause I can't ignore it if it's love (love)
Makes me wanna turn around and face me but I don't know nothing 'bout love
Come on, come on
Turn a little faster
Come on, come on
The world will follow after
Come on, come on
Cause everybody's after love
So I said I'm a snowball running
Running down into the spring that's coming all this love
Melting under blue skies
Belting out sunlight
Shimmering love
Well baby I surrender
To the strawberry ice cream
Never ever end of all this love
Well I didn't mean to do it
But there's no escaping your love
These lines of lightning
Mean we're never alone,
Never alone, no, no
We're accidentally in love
Accidentally in love [x7]
Accidentally I'm In Love
Spoiler for Bagian 1:
#1
Quote:
“Gila lu Bon, roti segitu banyak sayang-sayang bakal empan ikan semua!”
“Emang ngapa? Ikan jaman sekarang mah ogah makan cacing, Meng”
Gua jawab aja sekena-nya, memang niatnya gua bawa roti dari rumah buat bekal pas mancing tapi, gara-gara umpan cacing gua dari tadi nggak disentuh ikan terpaksa gua ganti dengan roti. Siapa tau mujarab.
Nggak seberapa berselang, tali pancing gua bergetar, refleks gua tarik joran sekuatnya dan mendarat dengan mulus seekor ikan yang kurang lebih seukuran telapak tangan.
“Anjritt.. dari tadi dapet sapu-sapu mulu gua!”
Sambil melepas mata kail dari mulut ikan sapu-sapu yang barusan gua angkat dan langsung gua lempar lagi kedalam kali.
Tidak berapa lama, melantun lagu “Time Like This”-nya Foo Fighter dari ponsel gua. Tertera tulisan “Rumah” dilayarnya.
“Kenapa mak?”
Karena memang cuma nyokap gua aja yang selalu telpon melalui telepon rumah. Bokap dan adik gua selalu menggunakan ponsel-nya masing-masing jika ada keperluan.
“Assalamualaikum , Mancing kagak rapi-rapi luh, nih ada kiriman surat buat elu”
“Dari siapa?”
“Kagak tau, bahasanya emak nggak ngerti”
“Simpenin dulu, nih aye udah mau pulang”
“Yaudah buruan, jangan maghriban dijalan, pamali. Assalamualaikum”
“Waalaikumsalam”
Gua kantongin lagi ponsel k-ekantong celana pendek yang sekarang udah kotor campur lumpur, sambil berteriak ke temen gua; Komeng, yang lagi berkutat dengan tali pancingnya yang kusut.
“Meng, ayo balik.. udah sore”
“Belon juga dapet sekilo, udah mau balik aje”
“Yauda elu terusin dah, gua balik duluan”
Komeng menjawab dengan sedikit gumam di bibirnya terdengar seperti “Yaelah..” sambil berjalan gontai menyusul gua.
------
Itu kejadian beberapa tahun yang lalu, dimana gua dan Komeng masih biasa mencari cacing buat umpan ikan di kebun singkong belakang rumahnya Haji Salim dan kemudian pergi memancing disepanjang pinggiran sungai Pesanggrahan, Jakarta.
Sekarang, gua sedang duduk sambil bersandar di sebuah kursi lipat di pinggir danau di daerah Leeds, Inggris. Menghabiskan hari libur akhir musim gugur dengan memancing sambil bernostalgia, mencoba membangkitkan memori tentang memancing, tentang si Komeng, tentang Jakarta, tentang rumah.
Setelah berjam-jam memancing, menghabiskan berkaleng-kaleng ‘Diet Coke’ akhirnya gua memutuskan untuk menyudahi kegiatan sialan ini. Pulang dengan membawa 6 Ekor ikan Yelowtail (di Indonesia disebut ikan patin) dan sedikit kenangan tentang ‘rumah’, gua berjalan gontai menuju tempat dimana sepeda kesayangan gua diparkir, sempat kebingungan awalnya karena sekarang ada banyak sepeda yang diparkir, padahal tadi pagi baru sepeda gua aja yang nongkrong disini, setelah celingak-celinguk akhirnya ketemu juga dan gua mulai mengayuh.
Jarak dari tempat gua biasa mancing ke tempat dimana gua tinggal di Moorland Ave, Leeds kurang lebih 3,5 mil atau kalau dalam satuan Kilometer sekitar 5,5 Km. Jarak segitu kalo disini, di Inggris bisa dibilang ‘deket’, kalau naik sepeda bisa cuma 30 menit.
Oiya, nama gua Boni. Gua lahir dan dibesarkan di Jakarta. Saat ini gua kerja dan tinggal di Leeds, Inggris sekitar 2-3 jam dari London (dengan kereta). Gua kerja sebagai Sound Designer disalah satu Agensi perfilman dan periklanan di Leeds yang juga punya kantor di London. Sudah hampir 4 tahun gua kerja dan tinggal disini, ditempat dimana nggak ada sungai dengan air berwarna cokelat keruh yang banyak ikan sapu-sapunya dan nggak ada teman yang suka menggerutu “Yaelah”.
Sambil mendengarkan “Heaven” nya Lost Lonely Boys lewat headset, gua mengayuh sepeda menuju ke rumah, pulang. Melewati jalan berpasir yang dipenuhi pohon-pohon maple di kedua sisinya menuju jalan utama. Jalan yang sangat sepi dan hening, jam menunjukkan angka 4 sore, menandakan waktu shalat maghrib, di sabtu sore seperti sekarang ini memang didaerah sini sangat sepi, kebanyakan penduduk sekitar sedang ke stadion atau pub-pub untuk menyaksikan Leeds United bertanding. Ingin buru-buru sampai di rumah, karena perut udah mulai keroncongan, gua kayuh sepeda lebih cepat. Sampai kemudian terdengar sayup-sayup suara musik yang makin lama makin nyaring, suara musik RnB yang sepertinya diputar dari dalam mobil dengan volume maksimal. Suara tersebut datang dari arah belakang dan kemudian menyusul gua, sebuah BMW silver yang melaju cepat bahkan boleh dibilang sangat cepat, sambil meninggalkan debu persis seperti mobil yang sedang Rally Dakkar.
“Orang Gila!!” gua mengumpat, masih sambil dengerin coda lagu “Heaven” nya Lost Lonely Boys. Sampai gua melihat beberapa detik kemudian lampu rem BMW tersebut menyala dan kemudian berhenti.
Deg!, “Wuanjrit, sakti juga tuh orang bisa denger suara gua” sambil berhenti dan melepas headset dari telinga. Yang ternyata setelah gua sadar, suara gua nggak sepelan pas pakai headset tadi. Gua nunggu sambil dag dig dug, kalau dia ngerti ucapan gua, dia pasti orang Indonesia dan kalo ternyata bukan gua bakal siap-siap kabur.
Pintu penumpang pun terbuka, terbuka secara paksa tepatnya, sedetik kemudian keluar seseorang dari kursi penumpang, terhuyung dan kemudian terjatuh, terdengar makian dari dalam BMW tersebut mungkin seperti “bitch” atau semacamnya dan sesaat kemudian BMW tersebut pergi, mengasapi orang yang tersungkur itu dengan debu jalanan.
Nggak mau terlalu ambil pusing, sambil bernafas lega dan bilang dalam hati; “untung bukan gua”, gua meneruskan mengayuh sepeda.
“Get up Bro, life is brutal”
gua berkata ke orang itu sambil melewatinya tetap melanjutkan mengayuh. Dan beberapa meter kemudian gua mendengar sebuah teriakan, teriakan yang (pada akhirnya) bakal merubah hidup gua.
“Woii.. Help me!, you’re Indonesian, right?”
“Tolongin gue dong…”
Gua berhenti mengayuh, turun dan bengong. Sudah hampir setahun gua nggak denger secara langsung orang bicara ke gua dengan bahasa Indonesia dan suara perempuan pula.. Lima, ah mungkin sepuluh detik kemudian baru gua memalingkan muka tapi masih tetap bengong.
“Woii..”
Akhirnya gua turun dari sepeda, kemudian menghampiri orang itu. Terduduk di depan gua sosok perempuan, hitam manis dengan kepala tertutup hood jaket hitam, celana jeans dan sepatu model boots sebetis berwarna cokelat.
“Elu nggak apa-apa?”
“Menurut Lo? Kalo gue gak apa-apa, ngapain gua teriak minta tolong elu!!”
Gua nggak menjawab, berusaha membantu dia berdiri sambil bertanya lagi bagaimana keadaannya. Sekali lagi dia mengumpat;
“Gila!, nggak punya hati banget sih lu!, ya jelas lah gue kenapa-kenapa.. nih liat!”
Sambil memperlihatkan telapak tangan dan siku-nya yang luka dan kemudian menyibak celana jeans-nya yang kotor terkena debu dan sobek di beberapa bagian akibat terlempar dari mobil tadi. Sesaat baru dia sadar kalau lutut kanannya juga luka sambil meringis kesakitan dia mencoba membersihkan luka tersebut dengan air liurnya. Sangat Indonesia sekali.
“Gua pikir tadi orang mabok yang lagi berantem, disini mah biasa begitu,mbak!”
Kemudia gua kasih satu-satunya ‘Diet Coke’ sisa memancing tadi, harusnya sih air putih tapi Cuma itu yang gua punya sekarang. Sambil menggerutu karena dikasih ‘Diet Coke’ daripada air putih, diminum juga tuh minuman soda. Kemudian gua menawarkan diri buat mengantar dia ke sebuah toko kecil di ujung jalan ini, untuk membeli plester untuk membalut luka-nya.
“Jauh nggak?”
Dia bertanya sambil menurunkan hood jaketnya dan menyibak rambutnya yang pendek seleher. Kemudian terlihat jelas sebuah luka lebam di sudut mata sebelah kiri-nya, tidak, bukan cuma satu, setidaknya ada 3 luka lebam, selain disudut matanya, satu lagi di dahi sebelah kiri dan satu lagi di sudut bibir sebelah kanan, yang terakhir tampak seperti luka yang baru karena masih meninggalkan sisa bekas darah yang membeku.
Gua nggak berani bertanya, gua hindari menatap kewajahnya sambil menjawab pertanyaa-nya bahwa tokonya nggak begitu jauh dari sini, sambil menunjuk ke arah jalan utama.
---
“Emang ngapa? Ikan jaman sekarang mah ogah makan cacing, Meng”
Gua jawab aja sekena-nya, memang niatnya gua bawa roti dari rumah buat bekal pas mancing tapi, gara-gara umpan cacing gua dari tadi nggak disentuh ikan terpaksa gua ganti dengan roti. Siapa tau mujarab.
Nggak seberapa berselang, tali pancing gua bergetar, refleks gua tarik joran sekuatnya dan mendarat dengan mulus seekor ikan yang kurang lebih seukuran telapak tangan.
“Anjritt.. dari tadi dapet sapu-sapu mulu gua!”
Sambil melepas mata kail dari mulut ikan sapu-sapu yang barusan gua angkat dan langsung gua lempar lagi kedalam kali.
Tidak berapa lama, melantun lagu “Time Like This”-nya Foo Fighter dari ponsel gua. Tertera tulisan “Rumah” dilayarnya.
“Kenapa mak?”
Karena memang cuma nyokap gua aja yang selalu telpon melalui telepon rumah. Bokap dan adik gua selalu menggunakan ponsel-nya masing-masing jika ada keperluan.
“Assalamualaikum , Mancing kagak rapi-rapi luh, nih ada kiriman surat buat elu”
“Dari siapa?”
“Kagak tau, bahasanya emak nggak ngerti”
“Simpenin dulu, nih aye udah mau pulang”
“Yaudah buruan, jangan maghriban dijalan, pamali. Assalamualaikum”
“Waalaikumsalam”
Gua kantongin lagi ponsel k-ekantong celana pendek yang sekarang udah kotor campur lumpur, sambil berteriak ke temen gua; Komeng, yang lagi berkutat dengan tali pancingnya yang kusut.
“Meng, ayo balik.. udah sore”
“Belon juga dapet sekilo, udah mau balik aje”
“Yauda elu terusin dah, gua balik duluan”
Komeng menjawab dengan sedikit gumam di bibirnya terdengar seperti “Yaelah..” sambil berjalan gontai menyusul gua.
------
Itu kejadian beberapa tahun yang lalu, dimana gua dan Komeng masih biasa mencari cacing buat umpan ikan di kebun singkong belakang rumahnya Haji Salim dan kemudian pergi memancing disepanjang pinggiran sungai Pesanggrahan, Jakarta.
Sekarang, gua sedang duduk sambil bersandar di sebuah kursi lipat di pinggir danau di daerah Leeds, Inggris. Menghabiskan hari libur akhir musim gugur dengan memancing sambil bernostalgia, mencoba membangkitkan memori tentang memancing, tentang si Komeng, tentang Jakarta, tentang rumah.
Setelah berjam-jam memancing, menghabiskan berkaleng-kaleng ‘Diet Coke’ akhirnya gua memutuskan untuk menyudahi kegiatan sialan ini. Pulang dengan membawa 6 Ekor ikan Yelowtail (di Indonesia disebut ikan patin) dan sedikit kenangan tentang ‘rumah’, gua berjalan gontai menuju tempat dimana sepeda kesayangan gua diparkir, sempat kebingungan awalnya karena sekarang ada banyak sepeda yang diparkir, padahal tadi pagi baru sepeda gua aja yang nongkrong disini, setelah celingak-celinguk akhirnya ketemu juga dan gua mulai mengayuh.
Jarak dari tempat gua biasa mancing ke tempat dimana gua tinggal di Moorland Ave, Leeds kurang lebih 3,5 mil atau kalau dalam satuan Kilometer sekitar 5,5 Km. Jarak segitu kalo disini, di Inggris bisa dibilang ‘deket’, kalau naik sepeda bisa cuma 30 menit.
Oiya, nama gua Boni. Gua lahir dan dibesarkan di Jakarta. Saat ini gua kerja dan tinggal di Leeds, Inggris sekitar 2-3 jam dari London (dengan kereta). Gua kerja sebagai Sound Designer disalah satu Agensi perfilman dan periklanan di Leeds yang juga punya kantor di London. Sudah hampir 4 tahun gua kerja dan tinggal disini, ditempat dimana nggak ada sungai dengan air berwarna cokelat keruh yang banyak ikan sapu-sapunya dan nggak ada teman yang suka menggerutu “Yaelah”.
Sambil mendengarkan “Heaven” nya Lost Lonely Boys lewat headset, gua mengayuh sepeda menuju ke rumah, pulang. Melewati jalan berpasir yang dipenuhi pohon-pohon maple di kedua sisinya menuju jalan utama. Jalan yang sangat sepi dan hening, jam menunjukkan angka 4 sore, menandakan waktu shalat maghrib, di sabtu sore seperti sekarang ini memang didaerah sini sangat sepi, kebanyakan penduduk sekitar sedang ke stadion atau pub-pub untuk menyaksikan Leeds United bertanding. Ingin buru-buru sampai di rumah, karena perut udah mulai keroncongan, gua kayuh sepeda lebih cepat. Sampai kemudian terdengar sayup-sayup suara musik yang makin lama makin nyaring, suara musik RnB yang sepertinya diputar dari dalam mobil dengan volume maksimal. Suara tersebut datang dari arah belakang dan kemudian menyusul gua, sebuah BMW silver yang melaju cepat bahkan boleh dibilang sangat cepat, sambil meninggalkan debu persis seperti mobil yang sedang Rally Dakkar.
“Orang Gila!!” gua mengumpat, masih sambil dengerin coda lagu “Heaven” nya Lost Lonely Boys. Sampai gua melihat beberapa detik kemudian lampu rem BMW tersebut menyala dan kemudian berhenti.
Deg!, “Wuanjrit, sakti juga tuh orang bisa denger suara gua” sambil berhenti dan melepas headset dari telinga. Yang ternyata setelah gua sadar, suara gua nggak sepelan pas pakai headset tadi. Gua nunggu sambil dag dig dug, kalau dia ngerti ucapan gua, dia pasti orang Indonesia dan kalo ternyata bukan gua bakal siap-siap kabur.
Pintu penumpang pun terbuka, terbuka secara paksa tepatnya, sedetik kemudian keluar seseorang dari kursi penumpang, terhuyung dan kemudian terjatuh, terdengar makian dari dalam BMW tersebut mungkin seperti “bitch” atau semacamnya dan sesaat kemudian BMW tersebut pergi, mengasapi orang yang tersungkur itu dengan debu jalanan.
Nggak mau terlalu ambil pusing, sambil bernafas lega dan bilang dalam hati; “untung bukan gua”, gua meneruskan mengayuh sepeda.
“Get up Bro, life is brutal”
gua berkata ke orang itu sambil melewatinya tetap melanjutkan mengayuh. Dan beberapa meter kemudian gua mendengar sebuah teriakan, teriakan yang (pada akhirnya) bakal merubah hidup gua.
“Woii.. Help me!, you’re Indonesian, right?”
“Tolongin gue dong…”
Gua berhenti mengayuh, turun dan bengong. Sudah hampir setahun gua nggak denger secara langsung orang bicara ke gua dengan bahasa Indonesia dan suara perempuan pula.. Lima, ah mungkin sepuluh detik kemudian baru gua memalingkan muka tapi masih tetap bengong.
“Woii..”
Akhirnya gua turun dari sepeda, kemudian menghampiri orang itu. Terduduk di depan gua sosok perempuan, hitam manis dengan kepala tertutup hood jaket hitam, celana jeans dan sepatu model boots sebetis berwarna cokelat.
“Elu nggak apa-apa?”
“Menurut Lo? Kalo gue gak apa-apa, ngapain gua teriak minta tolong elu!!”
Gua nggak menjawab, berusaha membantu dia berdiri sambil bertanya lagi bagaimana keadaannya. Sekali lagi dia mengumpat;
“Gila!, nggak punya hati banget sih lu!, ya jelas lah gue kenapa-kenapa.. nih liat!”
Sambil memperlihatkan telapak tangan dan siku-nya yang luka dan kemudian menyibak celana jeans-nya yang kotor terkena debu dan sobek di beberapa bagian akibat terlempar dari mobil tadi. Sesaat baru dia sadar kalau lutut kanannya juga luka sambil meringis kesakitan dia mencoba membersihkan luka tersebut dengan air liurnya. Sangat Indonesia sekali.
“Gua pikir tadi orang mabok yang lagi berantem, disini mah biasa begitu,mbak!”
Kemudia gua kasih satu-satunya ‘Diet Coke’ sisa memancing tadi, harusnya sih air putih tapi Cuma itu yang gua punya sekarang. Sambil menggerutu karena dikasih ‘Diet Coke’ daripada air putih, diminum juga tuh minuman soda. Kemudian gua menawarkan diri buat mengantar dia ke sebuah toko kecil di ujung jalan ini, untuk membeli plester untuk membalut luka-nya.
“Jauh nggak?”
Dia bertanya sambil menurunkan hood jaketnya dan menyibak rambutnya yang pendek seleher. Kemudian terlihat jelas sebuah luka lebam di sudut mata sebelah kiri-nya, tidak, bukan cuma satu, setidaknya ada 3 luka lebam, selain disudut matanya, satu lagi di dahi sebelah kiri dan satu lagi di sudut bibir sebelah kanan, yang terakhir tampak seperti luka yang baru karena masih meninggalkan sisa bekas darah yang membeku.
Gua nggak berani bertanya, gua hindari menatap kewajahnya sambil menjawab pertanyaa-nya bahwa tokonya nggak begitu jauh dari sini, sambil menunjuk ke arah jalan utama.
---
DAFTAR ISI
Quote:
CHAPTER 1
#1 The Beginning
#2 Truly Gentlemen
#3 Place Called Home
#4 The Morning Fever
#5 A Miserable Story
#6 Night Rain
#7 Inside My Head
#8 That Day
#9 Be Tough
#10 Mukena
#1 The Beginning
#2 Truly Gentlemen
#3 Place Called Home
#4 The Morning Fever
#5 A Miserable Story
#6 Night Rain
#7 Inside My Head
#8 That Day
#9 Be Tough
#10 Mukena
Quote:
CHAPTER 2
#11-A Trip To Manchester
#11-B The Swiss Army
#12 Here's and Back Again
#13 I Miss You So Bad
#14 Going Mad
#15 Promise
#16 You’ll Be The Only Light I See
#17 The Winter Tears
#18 She's Gone
#19 That Memories
#11-A Trip To Manchester
#11-B The Swiss Army
#12 Here's and Back Again
#13 I Miss You So Bad
#14 Going Mad
#15 Promise
#16 You’ll Be The Only Light I See
#17 The Winter Tears
#18 She's Gone
#19 That Memories
Quote:
CHAPTER 3
[URL="http://www.kaskus.co.id/show_post/530ff7e41acb17030d8b48f1/479/- "]#19-A The Hood[/URL]
#19-B Heres And Back Again II
#19-C Weak
#19-D Surrender
#19-E The Choice
#19-F Anything For You
#19-G Chelsea Number 8
#19-H Its not always about gold and glory
#19-I Aku
#19-J The Words
#19-K The Persian Cat
#19-L You Really The Only Light I See
#19-M So Be It
#19-N Less Than Perfect
#20 That Day II
[URL="http://www.kaskus.co.id/show_post/530ff7e41acb17030d8b48f1/479/- "]#19-A The Hood[/URL]
#19-B Heres And Back Again II
#19-C Weak
#19-D Surrender
#19-E The Choice
#19-F Anything For You
#19-G Chelsea Number 8
#19-H Its not always about gold and glory
#19-I Aku
#19-J The Words
#19-K The Persian Cat
#19-L You Really The Only Light I See
#19-M So Be It
#19-N Less Than Perfect
#20 That Day II
Quote:
CHAPTER 4 The Prekuel
#21 The Prologue
#22 My Precious
#23 Ticket to Ride
#24 Singapore
#25 Dreams
#26 The Awkward Moment
#27 Logic
#28 Driver In Life
#29 The Risk Taker
#30 Sorry
#31 Rise Again
#32 Goodbye
#21 The Prologue
#22 My Precious
#23 Ticket to Ride
#24 Singapore
#25 Dreams
#26 The Awkward Moment
#27 Logic
#28 Driver In Life
#29 The Risk Taker
#30 Sorry
#31 Rise Again
#32 Goodbye
Quote:
CHAPTER 5!!
#33 London
#34 Unwell
#35 I Was Here
#36 Leeds
#37 New Home, New Life
#38 Alone
#39 Intermezo
#40 Goin' Trough
#41 At Glance
#42 The Past of The Future
#33 London
#34 Unwell
#35 I Was Here
#36 Leeds
#37 New Home, New Life
#38 Alone
#39 Intermezo
#40 Goin' Trough
#41 At Glance
#42 The Past of The Future
Quote:
CHAPTER 6
#43 My First ...
#44 If Lovin' You ...
#45 Goin' Back
#46 Leeds II
#47 I Love You (Jealousy)
#48 After All
#49 Hell Yeah
#50 Conflict
#51 Liar-Liar
#52 Memories
#43 My First ...
#44 If Lovin' You ...
#45 Goin' Back
#46 Leeds II
#47 I Love You (Jealousy)
#48 After All
#49 Hell Yeah
#50 Conflict
#51 Liar-Liar
#52 Memories
Quote:
Quote:
Diubah oleh robotpintar 10-04-2014 08:46
carangkasampah dan 121 lainnya memberi reputasi
120
1.3M
Kutip
2.3K
Balasan
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
robotpintar
#130
Spoiler for Bagian Ke Sebelas A:
#11A Trip To Manchester
Quote:
Jam weker dikamar gua berbunyi samar, gua terbangun. Leher dan punggung gua berasa sakit gara-gara salah posisi tidur. Gua mencari-cari ponsel dan memastikan kalo sekarang jam 5 pagi. Kemudian gua mengetik sms untuk Heru, mengkonfirmasi tiket pesenan gua, nggak sampe 2 menit, heru membalas sms gua, isinya singkat, Cuma tiga huruf; OK!.
Gua beranjak ke kamar mandi, ambil wudhu dan solat subuh di depan tivi. Kemudian gua mengetuk pintu kamar, mencoba membangunkan Ines.
”Nes.. nes, bangun.. nes..”
Gua mencoba membuka pintu, ternyata nggak dikunci, gua masuk dan kemudian sebuah pemandangan yang menakjubkan bikin lutut gua lemes.
Gua memandang sosok perempuan berbalut mukena berwarna biru muda yang ukurannya sedikit kebesaran, wajah mungilnya yang tersembunyi dibalik mukena tersebut sukses bikin jantung gua berhenti. Ines sedang duduk tahiyat akhir, dia sedang solat.
Gua duduk di tepi kasur menunggu Ines selesai, kemudian mengambil tas dan mengeluarkan bungkusan plastik dari dalamnya. Sesaat kemudian Ines selesai, dia melipat mukena dan sajadahnya.
”Awas gue mau tidur lagi... ”
Ines merebahkan diri diatas kasur.
”Nes... mandi gih sono..”
”Ogah.. dingin!”
”Nih mandi terus ganti pake ini, katanya mau jalan-jalan..”
Ines bangun, memandang gua sebentar kemudian berpaling ke bungkusan yang gua letakkan di dekat kakinya.
”Apaan nih?”
”Baju buat lu, udah sono mandi, ganti baju, katanya mau jalan-jalan?”
Ines memandang gua, matanya berbinar kemudian tangisnya pecah. Dia menerjang dan memeluk gua. Gua terdiam, shock baru kali ini, iya baru satu kali ini ada perempuan yang bukan nyokap atau adek gua yang memeluk gua dengan sukarela. Kaki gua langsung berasa lemes, keringet dingin muncul di dahi dan telapak tangan gua. Ines masih memeluk gua, erat dan menangis sesenggukan.
”Kok malah nangis?”
”Gue nggak tau.. gue nggak tau kenapa gue nangis, bon..”
”Yauda siap-siap sana..”
Ines melepaskan pelukannya, satu tangannya menggenggam tangan gua dan satu tangannya lagi mengusap air mata yang menggenangi pipinya, kemudian berujar;
”Kita ke Greenwich ya.. ya.. ya... ya..”
”What?.. Greenwich is fairly fun but, i’ll give an experience that you’ll never forget.. now get-up and take a bath...”
”Gendooong..”
”Ogah...”
Setengah jam kemudian Ines sudah siap, gua terpana melihat dia menggunakan kaos John Lennon warna magenta dan celana denim biru muda dengan model ’belel’, dibalut dengan jaket ’consina’ gua dan syal yang baru gua beliin kemarin.
”Tuh kan.. gue udah siap, elonya belon ngapai-ngapain...”
Gua bangkit, berdiri dan menuju kamar mandi sambil mendendangkan sebuah lagu, entah lagu siapa, gua lupa;
”Kau cantik hari ini,
Dan aku suka...
Kau lain sekali,
Dan aku suka ...”
---
Jam menunjukkan pukul sembilan saat kereta mulai berangkat, kami berangkat dari London naik ’Virgin train’, untuk bisa naik kereta cepat ini menuju Manchester, gua harus rela merogoh kocek £30 untuk sekali jalan. Dan sampai kita duduk di kereta, si Ines belum tau kemana gua akan mengajak dia pergi.
”Eh kita mau kemana sih, Bon?”
”Udah gausah nanya-nanya.. duduk manis aja..”
”Yaaahh.. perjalanannya lama nggak?”
”Nggak, paling sejam setengah sampe 2 jam-an”
”Yauda gue pinjem mp3 player lu dong, bete kalo lama..”
Gua mengeluarkan Mp3 player dari kantong jaket dan memberikannya ke Ines.
”Jadi cewek kok bete mulu..”
”Bodo wleee...”
Gua menikmati pemandangan luar dari kereta sambil bertopang dagu pada jendela. Si Ines masih asik mendengarkan lagu dari Mp3 player sesekali dia ikutan bernyanyi juga dan menghasilkan suara ”ssssttt” dari kursi belakang dan samping gua. Gua Cuma tersenyum, kadang gua mencuri pandang dan menatapnya lama. Perempuan ini bener-bener bikin gua kalut, bikin perasaan nggak menentu, bikin jantung gua pengen copot.
Ines melepas headset, menggulungnya dan menyimpannya di kantong.
”Gue yang simpen ya?”
Gua mengangguk, masih memandang keluar jendela. Gua melirik Ines, dia sedang menatap kosong ke atas jendela kereta, dimana tertera iklan-iklan baris elektronik yang berjalan.
”Eh, bon.. kok nama keretanya ’Virgin train’ ya..ada hubungannya sama keperawanan ya..”
”Hah, koplak! Ini kereta swasta, yang punya nama perusahaannya ’virgin’”
”Owh...”
”Eh, bon.. kira-kira sekarang lu uda mao ngasih tau, kita mo kemana?”
”Untuk saat ini belom..”
”Trus, berapa lama lagi kita sampe nya?”
”Ish.. bawel amat sih ni cewek..”
Gua ngedumel sambil melihat jam tangan gua, dan ternyata jam gua mati. Gua mencoba melepas dan mengocok-ngocoknya, gua lihat lagi dan.. tetep mati. Gua mengambil ponsel, melihat jamnya dan mengatakan ke Ines kalau paling telat satu jam lagi kita sampai.
”Kenapa jam lo? Mati ya..”
”Iya nih, jam tua soalnya...”
”Dari orang yang spesial ya..”
”Iya dari nyokap, dikasih pas gua lulus SMA..”
”Owh..pantesan udah buluk gitu..”
”Biar buluk juga, awet banget nih jam..”
”Awet darimana? Tuh buktinya mati..”
”Iya ya.. ah bodo dah..”
Gua mengantongi jam Swiss Army lawas bertipe analog dengan tali kulit berwarna cokelat yang udah pada mengelupas.
”Merk-nya apa sih, coba liat?”
Gua mengeluarkan jam tersebut dan menyerahkannya pada Ines.
”Paling batre-nya abis..”
”Elo suka merk ini?”
”Nggak juga, kan itu dikasih...”
Kemudian Ines menyerahkan jam itu lagi ke gua dan mengantonginya, lagi. Ines menyandarkan kepalanya di bahu gua. Astaga.. dengkul gua lemes lagi.
Empat puluh menit berlalu, terdengar suara perempuan yang nadanya datar dari pengeras suara di dalam kereta, yang isinya memberitahukan bahwa sebentar lagi kereta akan tiba di Stasiun Piccadilly, Manchester. Penumpang yang akan turun distasiun ini harap bersiap-siap, tidak meninggalkan barang bawaannya dan berhati-hati saat melangkah keluar peron. Gua membangunkan Ines yang tertidur, ni anak, gampang pingsan, gambang nangis, sekarang tambah satu; gampang molor.
”Nes.. bangung, udah sampe..”
”Hoaammm,, finally...dimana nih?”
Ines bertanya sambil celingukan. Gua memakai tas dan memberikan isyarat ke Ines supaya berdiri.
---
Jam 11 kurang lima menit. Kami tiba di stasiun Piccadilly, Manchester. Terpajang tulisan billboard besar dengan tulisan ’Welcome to Manchester’, di jam-jam sekarang ini stasiun Piccadilly ini menjamur orang-orang yang keluar dari kereta-kereta dengan menggunakan baju merah-merah dan atribut Liverpool lengkap. Mungkin sekitar 1 atau 2 jam lagi bisa tambah crowded.
”Waaahhh.. Manchester.. asyiikk...”
Eh..bon.. emang ada apaan aja sih di sini?”
Gua tersenyum melihat seringai lebar tersungging dibibir Ines.
Kemudian kami berjalan menuju keluar stasiun, suasana disini mirip-mirip dengan suasana di stasiun senen menjelang lebaran, memang begini kalau United lagi menggelar pertandingan melawan tim kayak Liverpool, Arsenal atau Chelsea yang beda Cuma di tone warna atribut yang dipake kerumunan ini, saat ini warna merah hati dan syal berlambang angsa dengan slogan ’You’ll never walk alone’ yang mendominasi.
Ines menggenggam tangan gua, gua meraihnya, kemudian kami meliak-liuk menerobos kerumunan untuk keluar dari sini.
”Elu lebih suka mana? Trem atau bis?”
”Hmmm... gue lebih milih, hmm apa ya? .. trem deh, bis mah udah sering di Jakarta”
”Oke..tapi kalo naek trem ntar jalannya agak jauh, gpp?”
”Gendooong..”
”Ngesot aja...”
”Eh , bon...”
”Apalagi?”
”Kayaknya ada suara yang mangil-manggil gue deh...”
Ines ngomong sambil memasang tampang bingung dan celingak-celinguk.
”Hah siapa? Mantan lo kali?”
Gua juga jadi penasaran dan celingak-celinguk juga sambil pasang telinga.
”Enak aja! Bukan...”
Ines meletakkan tangan kirinya di belakang telinganya membentuk posisi kuping gajah.
”Oh.. kayaknya dari arah sana deh suaranya, bon...hehehe..”
Ines kemudian menunjuk salah satu restaurant cepat saji dengan dominasi warna merah-kuning dan logo huruf ’M’ besar di salah satu sudut pintu keluar stasiun.
”Ngomong aja kalo laper....”
”Hehehe...”
---
Gua beranjak ke kamar mandi, ambil wudhu dan solat subuh di depan tivi. Kemudian gua mengetuk pintu kamar, mencoba membangunkan Ines.
”Nes.. nes, bangun.. nes..”
Gua mencoba membuka pintu, ternyata nggak dikunci, gua masuk dan kemudian sebuah pemandangan yang menakjubkan bikin lutut gua lemes.
Gua memandang sosok perempuan berbalut mukena berwarna biru muda yang ukurannya sedikit kebesaran, wajah mungilnya yang tersembunyi dibalik mukena tersebut sukses bikin jantung gua berhenti. Ines sedang duduk tahiyat akhir, dia sedang solat.
Gua duduk di tepi kasur menunggu Ines selesai, kemudian mengambil tas dan mengeluarkan bungkusan plastik dari dalamnya. Sesaat kemudian Ines selesai, dia melipat mukena dan sajadahnya.
”Awas gue mau tidur lagi... ”
Ines merebahkan diri diatas kasur.
”Nes... mandi gih sono..”
”Ogah.. dingin!”
”Nih mandi terus ganti pake ini, katanya mau jalan-jalan..”
Ines bangun, memandang gua sebentar kemudian berpaling ke bungkusan yang gua letakkan di dekat kakinya.
”Apaan nih?”
”Baju buat lu, udah sono mandi, ganti baju, katanya mau jalan-jalan?”
Ines memandang gua, matanya berbinar kemudian tangisnya pecah. Dia menerjang dan memeluk gua. Gua terdiam, shock baru kali ini, iya baru satu kali ini ada perempuan yang bukan nyokap atau adek gua yang memeluk gua dengan sukarela. Kaki gua langsung berasa lemes, keringet dingin muncul di dahi dan telapak tangan gua. Ines masih memeluk gua, erat dan menangis sesenggukan.
”Kok malah nangis?”
”Gue nggak tau.. gue nggak tau kenapa gue nangis, bon..”
”Yauda siap-siap sana..”
Ines melepaskan pelukannya, satu tangannya menggenggam tangan gua dan satu tangannya lagi mengusap air mata yang menggenangi pipinya, kemudian berujar;
”Kita ke Greenwich ya.. ya.. ya... ya..”
”What?.. Greenwich is fairly fun but, i’ll give an experience that you’ll never forget.. now get-up and take a bath...”
”Gendooong..”
”Ogah...”
Setengah jam kemudian Ines sudah siap, gua terpana melihat dia menggunakan kaos John Lennon warna magenta dan celana denim biru muda dengan model ’belel’, dibalut dengan jaket ’consina’ gua dan syal yang baru gua beliin kemarin.
”Tuh kan.. gue udah siap, elonya belon ngapai-ngapain...”
Gua bangkit, berdiri dan menuju kamar mandi sambil mendendangkan sebuah lagu, entah lagu siapa, gua lupa;
”Kau cantik hari ini,
Dan aku suka...
Kau lain sekali,
Dan aku suka ...”
---
Jam menunjukkan pukul sembilan saat kereta mulai berangkat, kami berangkat dari London naik ’Virgin train’, untuk bisa naik kereta cepat ini menuju Manchester, gua harus rela merogoh kocek £30 untuk sekali jalan. Dan sampai kita duduk di kereta, si Ines belum tau kemana gua akan mengajak dia pergi.
”Eh kita mau kemana sih, Bon?”
”Udah gausah nanya-nanya.. duduk manis aja..”
”Yaaahh.. perjalanannya lama nggak?”
”Nggak, paling sejam setengah sampe 2 jam-an”
”Yauda gue pinjem mp3 player lu dong, bete kalo lama..”
Gua mengeluarkan Mp3 player dari kantong jaket dan memberikannya ke Ines.
”Jadi cewek kok bete mulu..”
”Bodo wleee...”
Gua menikmati pemandangan luar dari kereta sambil bertopang dagu pada jendela. Si Ines masih asik mendengarkan lagu dari Mp3 player sesekali dia ikutan bernyanyi juga dan menghasilkan suara ”ssssttt” dari kursi belakang dan samping gua. Gua Cuma tersenyum, kadang gua mencuri pandang dan menatapnya lama. Perempuan ini bener-bener bikin gua kalut, bikin perasaan nggak menentu, bikin jantung gua pengen copot.
Ines melepas headset, menggulungnya dan menyimpannya di kantong.
”Gue yang simpen ya?”
Gua mengangguk, masih memandang keluar jendela. Gua melirik Ines, dia sedang menatap kosong ke atas jendela kereta, dimana tertera iklan-iklan baris elektronik yang berjalan.
”Eh, bon.. kok nama keretanya ’Virgin train’ ya..ada hubungannya sama keperawanan ya..”
”Hah, koplak! Ini kereta swasta, yang punya nama perusahaannya ’virgin’”
”Owh...”
”Eh, bon.. kira-kira sekarang lu uda mao ngasih tau, kita mo kemana?”
”Untuk saat ini belom..”
”Trus, berapa lama lagi kita sampe nya?”
”Ish.. bawel amat sih ni cewek..”
Gua ngedumel sambil melihat jam tangan gua, dan ternyata jam gua mati. Gua mencoba melepas dan mengocok-ngocoknya, gua lihat lagi dan.. tetep mati. Gua mengambil ponsel, melihat jamnya dan mengatakan ke Ines kalau paling telat satu jam lagi kita sampai.
”Kenapa jam lo? Mati ya..”
”Iya nih, jam tua soalnya...”
”Dari orang yang spesial ya..”
”Iya dari nyokap, dikasih pas gua lulus SMA..”
”Owh..pantesan udah buluk gitu..”
”Biar buluk juga, awet banget nih jam..”
”Awet darimana? Tuh buktinya mati..”
”Iya ya.. ah bodo dah..”
Gua mengantongi jam Swiss Army lawas bertipe analog dengan tali kulit berwarna cokelat yang udah pada mengelupas.
”Merk-nya apa sih, coba liat?”
Gua mengeluarkan jam tersebut dan menyerahkannya pada Ines.
”Paling batre-nya abis..”
”Elo suka merk ini?”
”Nggak juga, kan itu dikasih...”
Kemudian Ines menyerahkan jam itu lagi ke gua dan mengantonginya, lagi. Ines menyandarkan kepalanya di bahu gua. Astaga.. dengkul gua lemes lagi.
Empat puluh menit berlalu, terdengar suara perempuan yang nadanya datar dari pengeras suara di dalam kereta, yang isinya memberitahukan bahwa sebentar lagi kereta akan tiba di Stasiun Piccadilly, Manchester. Penumpang yang akan turun distasiun ini harap bersiap-siap, tidak meninggalkan barang bawaannya dan berhati-hati saat melangkah keluar peron. Gua membangunkan Ines yang tertidur, ni anak, gampang pingsan, gambang nangis, sekarang tambah satu; gampang molor.
”Nes.. bangung, udah sampe..”
”Hoaammm,, finally...dimana nih?”
Ines bertanya sambil celingukan. Gua memakai tas dan memberikan isyarat ke Ines supaya berdiri.
---
Jam 11 kurang lima menit. Kami tiba di stasiun Piccadilly, Manchester. Terpajang tulisan billboard besar dengan tulisan ’Welcome to Manchester’, di jam-jam sekarang ini stasiun Piccadilly ini menjamur orang-orang yang keluar dari kereta-kereta dengan menggunakan baju merah-merah dan atribut Liverpool lengkap. Mungkin sekitar 1 atau 2 jam lagi bisa tambah crowded.
”Waaahhh.. Manchester.. asyiikk...”
Eh..bon.. emang ada apaan aja sih di sini?”
Gua tersenyum melihat seringai lebar tersungging dibibir Ines.
Kemudian kami berjalan menuju keluar stasiun, suasana disini mirip-mirip dengan suasana di stasiun senen menjelang lebaran, memang begini kalau United lagi menggelar pertandingan melawan tim kayak Liverpool, Arsenal atau Chelsea yang beda Cuma di tone warna atribut yang dipake kerumunan ini, saat ini warna merah hati dan syal berlambang angsa dengan slogan ’You’ll never walk alone’ yang mendominasi.
Ines menggenggam tangan gua, gua meraihnya, kemudian kami meliak-liuk menerobos kerumunan untuk keluar dari sini.
”Elu lebih suka mana? Trem atau bis?”
”Hmmm... gue lebih milih, hmm apa ya? .. trem deh, bis mah udah sering di Jakarta”
”Oke..tapi kalo naek trem ntar jalannya agak jauh, gpp?”
”Gendooong..”
”Ngesot aja...”
”Eh , bon...”
”Apalagi?”
”Kayaknya ada suara yang mangil-manggil gue deh...”
Ines ngomong sambil memasang tampang bingung dan celingak-celinguk.
”Hah siapa? Mantan lo kali?”
Gua juga jadi penasaran dan celingak-celinguk juga sambil pasang telinga.
”Enak aja! Bukan...”
Ines meletakkan tangan kirinya di belakang telinganya membentuk posisi kuping gajah.
”Oh.. kayaknya dari arah sana deh suaranya, bon...hehehe..”
Ines kemudian menunjuk salah satu restaurant cepat saji dengan dominasi warna merah-kuning dan logo huruf ’M’ besar di salah satu sudut pintu keluar stasiun.
”Ngomong aja kalo laper....”
”Hehehe...”
---
Backsound untuk #11-A

KISS ME - Sixpence None The Richer
Kiss me out of the bearded barley
Nightly, beside the green, green grass
Swing, swing, swing the spinning step
You wear those shoes and I will wear that dress.
Oh, kiss me beneath the milky twilight
Lead me out on the moonlit floor
Lift your open hand
Strike up the band and make the fireflies dance
Silver moon's sparkling
So kiss me
Kiss me down by the broken tree house
Swing me upon its hanging tire
Bring, bring, bring your flowered hat
We'll take the trail marked on your father's map

KISS ME - Sixpence None The Richer
Kiss me out of the bearded barley
Nightly, beside the green, green grass
Swing, swing, swing the spinning step
You wear those shoes and I will wear that dress.
Oh, kiss me beneath the milky twilight
Lead me out on the moonlit floor
Lift your open hand
Strike up the band and make the fireflies dance
Silver moon's sparkling
So kiss me
Kiss me down by the broken tree house
Swing me upon its hanging tire
Bring, bring, bring your flowered hat
We'll take the trail marked on your father's map
Spoiler for Klipnya:
Diubah oleh robotpintar 27-02-2014 16:02
regmekujo dan 16 lainnya memberi reputasi
17
Kutip
Balas
![Accidentally In Love [True Story]](https://s.kaskus.id/images/2014/04/07/6448808_20140407033338.jpg)