Kaskus

Hobby

kangdalijoAvatar border
TS
kangdalijo
[ask & share] alas krendho wahono
apakah benar ada hutan yg bernama ALAS KRENDHO WAHONO...di tunggu comment sesepuh semuanya.....??
0
21.6K
74
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Supranatural
Supranatural
KASKUS Official
15.9KThread14.6KAnggota
Tampilkan semua post
SarvaAvatar border
Sarva
#69
Alas Purba Krendhowahono dan tradisi "MAHESA LAWUNG"


kaskus-image

“ Bismillahirrohmanirrohim sluman slumun slamet slamet kersaning Allah sengkolo-sengkolo podo nyingkiro jatu’ kramaku cepakno laailaahaillallah teguh rahayu – rahayu ”
( kata kunci apabila kita memasuki kawasan alas krendowahono, bahwa keselamatan itu harus di utamakan, karena sesuatu yang besar bermula dari yang kecil)


Do’a itu yang diyakini ampuh apabila memasuki kawasan Alas Krendowahono, do’a tersebut diajarkan oleh Juru kunci alas krendowahono yakni Mbah Lurah Wiryono.

Beliau telah mengabdi menjadi juru kunci selama 25 tahun. Di usianya yang hampir 1 abad dengan setia tetap mengemban amanah dari sang Sinuhun Paku Buwono X. Alas yang terletak di pinggir desa Krendowahono, Kecamatan Gondangrejo, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah masih menjadi situs sejarah terkait erat dengan Kraton Surakarta.

kaskus-image

Untuk mencapai lokasi tersebut kita harus berjalan kaki kira-kira 500 m melalui jalan setapak yang di lapisi batu bata berwarna abu-abu, jalan yang naik turun dan berundak-undak, serta rimbun pohon bambu yang masih liar menambah tantangan tersendiri bagi para peminat sejarah atau bahkan wisatawan. Jalan yang kami lalui ternyata telah melalui proses renovasi oleh pemerintah masa jabatan Hj. Rina Iriani S. Pd M. Hum. sebagai Bupati Kabupaten Karanganyar.

Namun demikian, sangat disayangkan dalam hal perawatan kompleks alas tersebut bisa dikatakan kurang, karena minimnya perhatian dari pemerintah setempat, misalnya penerangan dan perawatan yang layak untuk alas tersebut, padahal alas tersebut merupakan situs yang harus dilestarikan karena nilai kesejarahannya. Alas krendowahono sering juga di datangi oleh pengunjung, baik dari kalangan pelajar/mahasiswa, wisatawan asing maupun lokal.

kaskus-image

Wisatawan asing yang pernah datang berasal dari prancis, biasanya orang-orang yang mengunjungi situs ini dilatarbelakangi beberapa faktor, ada yang ingin mengetahui sisi sejarahnya, bahkan untuk bertapa agar mendapat keberkahan dalam hidupnya sampai ada yang meyakini apabila kita memohon dengan sungguh-sungguh di depan punden permintaan kita akan terkabul. Dalam lokasi ini terdapat beberapa situs yakni:
1. Punden Krendowahono,
2. Bangsal,
3. Selo Gilang, dan
4. Sendang Sihna

Di setiap masing-masing tempat masih terdapat dupa dan juga kembang 7 rupa yang aromanya menambah suasana Mistik dalam Alas Krendowahono.


Sekilas Sejarah Alas Krendowahono
Alas Krendowahonoadalah tempat yang disakralkan kraton Surakarta yang terletak di desa krendowahono Surakarta. Tempat ini dulunya merupakan hutan yang angker, pepatah mengatakan jalmo moro jalmo mati. Alas krendowahono juga merupakan tempat persemayaman eyang bethari durga.

Bila dilihat dari dimensi alam lain alas krendowahono juga merupakan kerajaan dengan pemerintahan yang telah tertata rapi. Pada masa perjuangan melawan penjajah tempat ini sering dijadikan persembunyian dan tempat menyusun strategi penyerangan terhadap penjajahan Belanda.

Konon pangeran kerajaan yogya yang terkenal yaitu Pangeran Diponegoro dengan pihak Keraton Surakarta sering mengadakan perundingan di tempat ini dan setiap Belanda mengadakan pengejaran di alas krendowahono selalu tidak kembali.

Presiden pertama dan kedua kita yakni Soekarno dan Soeharto kabarnya juga pernah menyepi ditempat ini untuk urusan besar mengenai negara. Keberadan tempat ini sangat lama bahkan sudah diketahui sejak jaman Kediri, terbukti dari ramalan Jayabaya yang juga menyinggung mengenai keberadaan tempat ini. Hingga sekarang area alas krendowahono masih tetap membawa kesan angker dan begitu terasa hawa mistiknya.


Petikan Kisah Pewayangan "Satriya Sungging Sela Gumuling"
Kocap kacarita, dikisahkan Pangeran Rahadyan Seta putra mahkota dari Kerajaan Wiratha harus kabur ke hutan karena diusir dan hampir dibunuh oleh ayahnya sendiri yaitu Sang Prabu Durgandana. Ayah dan anak itu sebelumnya telah berselisih paham tentang pernikahan yang harus segera dilaksanakan oleh puteranya. Kekerasan hati Pangeran Seta yang menolak untuk segera menikah telah membuat murka Ayahnya. Dalam pelariannya, kini Sang Pangeran berdiam diri dalam sepi, di sebuah hutan jauh dari Negara Wiratha. Ia hendak meredam rasa amarah dan kesedihan yang berkecamuk di hatinya dengan melakukan laku tapa atau bersemedi. Pangeran Rahadyan Seta menemukan sebuah gundukan besar menyerupai batu di bawah sebuah pohon beringin putih nan sangat besar, di situlah ia melakukan pertapaannya untuk mengadukan keresahan hatinya kepada Sang Dewata.

Ditengah keheningannya bersemedi, tiba-tiba batu tempat Pangeran Seta duduk, tampak bergerak-gerak. Ternyata yang dikira batu besar oleh Pangeran Seta itu, tak lain adalah seekor kerbau yang sedang bersemedi juga. Kerbau itu bernama Mahesa Lawung yang berarti kerbau jantan nan liar. Mahesa Lawung marah-marah karena merasa dilecehkan, dijadikan alas duduk dan bersemedi oleh Pangeran Seta. Terjadi percekcokkan yang berakhir dengan perkelahian antara Pangeran Rahadyan Seta dengan Mahesa Lawung. Mahesa Lawung kalah berhadapan dengan senjata sakti Sang Pangeran yaitu Pusaka Kyai Gada Wesi Putih. Dalam kekalahannya, muncullah wujud asli dari Mahesa Lawung yang sebenarnya adalah Sang Hyang Sambu, putra dari Bathara Guru. Melihat hal tersebut, Pangeran Rahadyan Seta langsung sujud menyembah dan meminta maaf atas kelancangan sikapnya. Sang Hyang Sambu ternyata hanya memberi ujian terhadap laku tapa brata dari Sang Pangeran. Ia lalu memberikan petunjuk untuk mengatasi segala keresahan hati Pangeran Rahadyan Seta melalui pesan yang akan tertatah di sebuah batu yang bernama Sela Gumuling. Dalam petunjuknya tersebut, Sang Pangeran akan menikah dengan Dewi Kanekawati, puteri Bathara Narada yang pernah turun ke dunia menyamar sebagai raja bernama Kanekanata.

kaskus-image

dengan hal yang sama raja-raja Mataram Surakartajuga mengadakan perjanjian dengan Bathari Kalayuwati atau NYI GEDENGPERMONI alias Betari Durga yang berkedudukan di Hutan Krendawahana (sekitar 20 km utara Kota Solo)


kaskus-image
Kosmologi Kota Solo: Tmur-Gunung Lawu, Utara-Hutan Krendawahana, Barat-Gunung Merapi, Selatan-Samudra Hindia

kaskus-image
Bathari Kalayuwati atau NYI GEDENGPERMONI alias betari durga yang berkedudukan di Hutan Krendawahana

kaskus-image



Konon, diantara tokoh sakti yang pernahl lelaku(bertapa) di tempat angker ini, adalah Prabu Paku Buwono (PB) IV asal Keraton Surakarta. Jika bertandang di tempat sejuk dan asri ini, Paku Buwono IV bisa seharian penuh menikmati kekhusukan dalam semedinya di sekitar punden. Bahkan, jika dia merasa perlu menggembleng ilmu lebih tinggi lagi, Paku Buwono IV melakukan tirakatan di sekitar sendang Sihna hingga berhari-hari.

Tradisi melakukan ritual khusus di punden Bathari Durga bagi petinggi keraton Kasunanan Surakarta ini, akhirnya terbawa sampai turun-temurun. Beberapa keturunan Paku Buwono IV secara turun-temurun meneruskan warisan lelaku di punden. Mulai dari Paku Buwono V hingga Paku Buwono X.

Mereka selain melakukan semedi, juga mengadakan ritual siraman di sendang Sihna. Khusus untuk laku siraman, raja-raja Surakarta melakukannya sebelum mereka melakukan semadi di Punden Bethari Durga. Atau dengan istilah lain, sebelum ritual menyucikan diri lebih dulu dengan njamas (mandi) di sendang Sihna. Setidaknya mereka melakukan ritual di puden setiap tahun sekali, atau secara insidensil (sewaktu-waktu) ketika mereka sedang membutuhkan bantuan penunggu punden.

Kebiasaan demikian juga diwarisi oleh masyarakat umum. Keberadaan punden selama ini menjadi tempat untuk ngalab berkah serta melakukan ritual semedi dan tirakatan. Syarat-syarat yang dipenuhi para peziarah, cukup menyiapkan sesaji yang telah disiapkan. Diantaranya berupa kembang tabur dan kemenyan.

Juru kunci punden Mbah Wiryo mengingatkan, siapa pun yang hendak ngalab berkah di punden Bathari Durga harus selalu mawas diri. Dia mewanti-wanti agar memenuhi persyaratan lebih dulu. Diantaranya, menguatkan hati dan niat yang suci. Menjaga jangan sampai terkena murka penunggu punden. “Penunggu punden akan marah kalau orang yang datang tidak bersih hatinya, atau datang untuk tujuan yang kurang baik. Masalah hati dan niat ini harus yang lebih dulu dikuatkan,” ujar Mbah Wiryo

Paling ditakutkan adalah berbuat asusila yang dilarang oleh agama dan norma masyarakat. Pengunjung berlawanan jenis yang datang diingatkan agar tidak terbuai asmara. Hingga melakukan ‘pergumulan setan’ alias melakukan hubungan intim yang bukan mukhrimnya di tempat ini.

“ Toh, kalaupun dilanggar akibat yang ditimpakan akan membuat seseorang celaka. Mungkin jatuh sakit atau mengalami kecelakaan di jalan,” jelas Mbah Wiryo.

Sampai sekarang alas Krendawahana, khususnya Punden Bethari Durga merupakan tempat yang teramat keramat dan angker. Sawab gaibnya mengalahkan kekuatan-kekuatan lain di wilayah sekitar. Kawasan punden tidak ubahnya sebagai istanannya lelembut setempat. Bahkan, diyakini Mbah Wiryo, di tempat itu Dewi Bathari Durga berada. Konon, kawasan punden diyakini sebagai istana Bathari dan bala tentara lelembutnya.

Hasil telisik mengungkap, kedalaman alam bathin di Alas (hutan) Krendhawahana di tempat ini merupakan kerajaan lelembut yang sangat besar dan luas. Dihuni oleh koloni koloni Jin dan banyak terdapat pusaka pusaka sakti serta batu mustika. Dipimpin Ratu Kerajaan Alam siluman bernama Bethari Durga.

Begitu besar sawab serta kekuatan ghoib di punden Krendhawahana. Maka wajar saja jika masyarakat sekitar sering menjumpai kejadian yang aneh-aneh. Seperti diketahui, di punden sering kali muncul kejadian ganjil yang sulit dicerna dengan akal sehat. Mulai dari kemunculan lelembut berwujud binatang buas, barisan prajurit sampai suara berisik para wanita seperti sedang mandi di sendang Sihna.

Di Kota Solo sendiri, Keraton Surakarta Hadiningrat mengadakan sejumlah upacara yang bertujuan untuk menghormati hubungan baik antara dunia manusia dengan dunia kasat mata. Sesaji Mahesa Lawung yang diadakan setahun sekali misalnya, adalah sarana untuk memperingati perjanjian sakral antara Sinuhun Pakubuwono sebagai Pancer dengan Bethari Kalayuwati sebagai utara agar semua yang masuk dalam lingkup kosmologis Kota Solo terhindar dari bencana dan malapetaka.


Menu Spesial: Kepala Kerbau dan Ciu Bagi Sang Bhatari
Kepala kerbau sebagai menu santap siang, pasti lezat selezat makanan olahan kepala kerbau di masa kerajaan Demak. Itu terjadi karena kerajaan Demak begitu menghormati tradisi Majapahit yang notabene beragama Hindu dan menghormati sapi sebagai wahana Dewa Wisnu. Dengan begitu tradisi qurban yang biasanya menyembelih sapi, diganti dengan kerbau.

Kepala kerbau, walang, bahkan ciu –minuman fermentasi- menjadi menu spesial bagi sang Bhatari penungu alas Krendawahana. Tak sembarang kerbau, kerbau yang ini sangat lezat bila disajikan saat masih perjaka alias belum pernah kimpoi dan belum pernah dipekerjakan.

Alas Krendawahana adalah benteng utara kraton surakarta, pantas kiranya bila benteng spiritual ini masih dipertimbangkan. Dulu alas Krendawahana menjadi pusat dari seluruh penjaga dunia spiritual Jawa. Tak hanya negeri girimulto –tahun 387 m, kerajan Pengging, bahkan kerajaan Demak dengan 9 walinya pun harus mengikuti tradisi ini karena tak mempan menanggulangi bebendu –bencana- yang melanda negeri Demak saat itu. Sunan Kalijaga lah yang mendapat wahyu untuk memasan sesaji di alas Krendawahana. Tentu saja beberapa prosesinya diutak atik agar sesuai dengan aturan keislaman, termasuk diantaranya doa yang dipimpin oleh para sunan.

Saat ini mahesa lawung –begitu para abdi dalem ini menyebutnya, dilaksanakan untuk menjaga keutuhan kraton surakarta dan bangsa Indonesia.





Sumber & Selengkapnya di: http://primbondonit.blogspot.com/201...dhowahono.html
Indahnya Berbagi Informasi
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.