- Beranda
- Stories from the Heart
Accidentally In Love [True Story]
...
TS
robotpintar
Accidentally In Love [True Story]
![Accidentally In Love [True Story]](https://s.kaskus.id/images/2014/02/14/6448808_20140214023854.png)
Spoiler for Cover:
![Accidentally In Love [True Story]](https://s.kaskus.id/images/2014/02/14/6448808_20140214024411.png)
So she said what's the problem baby
What's the problem I don't know
Well maybe I'm in love (love)
Think about it every time
I think about it
Can't stop thinking 'bout it
How much longer will it take to cure this
Just to cure it cause I can't ignore it if it's love (love)
Makes me wanna turn around and face me but I don't know nothing 'bout love
Come on, come on
Turn a little faster
Come on, come on
The world will follow after
Come on, come on
Cause everybody's after love
So I said I'm a snowball running
Running down into the spring that's coming all this love
Melting under blue skies
Belting out sunlight
Shimmering love
Well baby I surrender
To the strawberry ice cream
Never ever end of all this love
Well I didn't mean to do it
But there's no escaping your love
These lines of lightning
Mean we're never alone,
Never alone, no, no
We're accidentally in love
Accidentally in love [x7]
Accidentally I'm In Love
Spoiler for Bagian 1:
#1
Quote:
“Gila lu Bon, roti segitu banyak sayang-sayang bakal empan ikan semua!”
“Emang ngapa? Ikan jaman sekarang mah ogah makan cacing, Meng”
Gua jawab aja sekena-nya, memang niatnya gua bawa roti dari rumah buat bekal pas mancing tapi, gara-gara umpan cacing gua dari tadi nggak disentuh ikan terpaksa gua ganti dengan roti. Siapa tau mujarab.
Nggak seberapa berselang, tali pancing gua bergetar, refleks gua tarik joran sekuatnya dan mendarat dengan mulus seekor ikan yang kurang lebih seukuran telapak tangan.
“Anjritt.. dari tadi dapet sapu-sapu mulu gua!”
Sambil melepas mata kail dari mulut ikan sapu-sapu yang barusan gua angkat dan langsung gua lempar lagi kedalam kali.
Tidak berapa lama, melantun lagu “Time Like This”-nya Foo Fighter dari ponsel gua. Tertera tulisan “Rumah” dilayarnya.
“Kenapa mak?”
Karena memang cuma nyokap gua aja yang selalu telpon melalui telepon rumah. Bokap dan adik gua selalu menggunakan ponsel-nya masing-masing jika ada keperluan.
“Assalamualaikum , Mancing kagak rapi-rapi luh, nih ada kiriman surat buat elu”
“Dari siapa?”
“Kagak tau, bahasanya emak nggak ngerti”
“Simpenin dulu, nih aye udah mau pulang”
“Yaudah buruan, jangan maghriban dijalan, pamali. Assalamualaikum”
“Waalaikumsalam”
Gua kantongin lagi ponsel k-ekantong celana pendek yang sekarang udah kotor campur lumpur, sambil berteriak ke temen gua; Komeng, yang lagi berkutat dengan tali pancingnya yang kusut.
“Meng, ayo balik.. udah sore”
“Belon juga dapet sekilo, udah mau balik aje”
“Yauda elu terusin dah, gua balik duluan”
Komeng menjawab dengan sedikit gumam di bibirnya terdengar seperti “Yaelah..” sambil berjalan gontai menyusul gua.
------
Itu kejadian beberapa tahun yang lalu, dimana gua dan Komeng masih biasa mencari cacing buat umpan ikan di kebun singkong belakang rumahnya Haji Salim dan kemudian pergi memancing disepanjang pinggiran sungai Pesanggrahan, Jakarta.
Sekarang, gua sedang duduk sambil bersandar di sebuah kursi lipat di pinggir danau di daerah Leeds, Inggris. Menghabiskan hari libur akhir musim gugur dengan memancing sambil bernostalgia, mencoba membangkitkan memori tentang memancing, tentang si Komeng, tentang Jakarta, tentang rumah.
Setelah berjam-jam memancing, menghabiskan berkaleng-kaleng ‘Diet Coke’ akhirnya gua memutuskan untuk menyudahi kegiatan sialan ini. Pulang dengan membawa 6 Ekor ikan Yelowtail (di Indonesia disebut ikan patin) dan sedikit kenangan tentang ‘rumah’, gua berjalan gontai menuju tempat dimana sepeda kesayangan gua diparkir, sempat kebingungan awalnya karena sekarang ada banyak sepeda yang diparkir, padahal tadi pagi baru sepeda gua aja yang nongkrong disini, setelah celingak-celinguk akhirnya ketemu juga dan gua mulai mengayuh.
Jarak dari tempat gua biasa mancing ke tempat dimana gua tinggal di Moorland Ave, Leeds kurang lebih 3,5 mil atau kalau dalam satuan Kilometer sekitar 5,5 Km. Jarak segitu kalo disini, di Inggris bisa dibilang ‘deket’, kalau naik sepeda bisa cuma 30 menit.
Oiya, nama gua Boni. Gua lahir dan dibesarkan di Jakarta. Saat ini gua kerja dan tinggal di Leeds, Inggris sekitar 2-3 jam dari London (dengan kereta). Gua kerja sebagai Sound Designer disalah satu Agensi perfilman dan periklanan di Leeds yang juga punya kantor di London. Sudah hampir 4 tahun gua kerja dan tinggal disini, ditempat dimana nggak ada sungai dengan air berwarna cokelat keruh yang banyak ikan sapu-sapunya dan nggak ada teman yang suka menggerutu “Yaelah”.
Sambil mendengarkan “Heaven” nya Lost Lonely Boys lewat headset, gua mengayuh sepeda menuju ke rumah, pulang. Melewati jalan berpasir yang dipenuhi pohon-pohon maple di kedua sisinya menuju jalan utama. Jalan yang sangat sepi dan hening, jam menunjukkan angka 4 sore, menandakan waktu shalat maghrib, di sabtu sore seperti sekarang ini memang didaerah sini sangat sepi, kebanyakan penduduk sekitar sedang ke stadion atau pub-pub untuk menyaksikan Leeds United bertanding. Ingin buru-buru sampai di rumah, karena perut udah mulai keroncongan, gua kayuh sepeda lebih cepat. Sampai kemudian terdengar sayup-sayup suara musik yang makin lama makin nyaring, suara musik RnB yang sepertinya diputar dari dalam mobil dengan volume maksimal. Suara tersebut datang dari arah belakang dan kemudian menyusul gua, sebuah BMW silver yang melaju cepat bahkan boleh dibilang sangat cepat, sambil meninggalkan debu persis seperti mobil yang sedang Rally Dakkar.
“Orang Gila!!” gua mengumpat, masih sambil dengerin coda lagu “Heaven” nya Lost Lonely Boys. Sampai gua melihat beberapa detik kemudian lampu rem BMW tersebut menyala dan kemudian berhenti.
Deg!, “Wuanjrit, sakti juga tuh orang bisa denger suara gua” sambil berhenti dan melepas headset dari telinga. Yang ternyata setelah gua sadar, suara gua nggak sepelan pas pakai headset tadi. Gua nunggu sambil dag dig dug, kalau dia ngerti ucapan gua, dia pasti orang Indonesia dan kalo ternyata bukan gua bakal siap-siap kabur.
Pintu penumpang pun terbuka, terbuka secara paksa tepatnya, sedetik kemudian keluar seseorang dari kursi penumpang, terhuyung dan kemudian terjatuh, terdengar makian dari dalam BMW tersebut mungkin seperti “bitch” atau semacamnya dan sesaat kemudian BMW tersebut pergi, mengasapi orang yang tersungkur itu dengan debu jalanan.
Nggak mau terlalu ambil pusing, sambil bernafas lega dan bilang dalam hati; “untung bukan gua”, gua meneruskan mengayuh sepeda.
“Get up Bro, life is brutal”
gua berkata ke orang itu sambil melewatinya tetap melanjutkan mengayuh. Dan beberapa meter kemudian gua mendengar sebuah teriakan, teriakan yang (pada akhirnya) bakal merubah hidup gua.
“Woii.. Help me!, you’re Indonesian, right?”
“Tolongin gue dong…”
Gua berhenti mengayuh, turun dan bengong. Sudah hampir setahun gua nggak denger secara langsung orang bicara ke gua dengan bahasa Indonesia dan suara perempuan pula.. Lima, ah mungkin sepuluh detik kemudian baru gua memalingkan muka tapi masih tetap bengong.
“Woii..”
Akhirnya gua turun dari sepeda, kemudian menghampiri orang itu. Terduduk di depan gua sosok perempuan, hitam manis dengan kepala tertutup hood jaket hitam, celana jeans dan sepatu model boots sebetis berwarna cokelat.
“Elu nggak apa-apa?”
“Menurut Lo? Kalo gue gak apa-apa, ngapain gua teriak minta tolong elu!!”
Gua nggak menjawab, berusaha membantu dia berdiri sambil bertanya lagi bagaimana keadaannya. Sekali lagi dia mengumpat;
“Gila!, nggak punya hati banget sih lu!, ya jelas lah gue kenapa-kenapa.. nih liat!”
Sambil memperlihatkan telapak tangan dan siku-nya yang luka dan kemudian menyibak celana jeans-nya yang kotor terkena debu dan sobek di beberapa bagian akibat terlempar dari mobil tadi. Sesaat baru dia sadar kalau lutut kanannya juga luka sambil meringis kesakitan dia mencoba membersihkan luka tersebut dengan air liurnya. Sangat Indonesia sekali.
“Gua pikir tadi orang mabok yang lagi berantem, disini mah biasa begitu,mbak!”
Kemudia gua kasih satu-satunya ‘Diet Coke’ sisa memancing tadi, harusnya sih air putih tapi Cuma itu yang gua punya sekarang. Sambil menggerutu karena dikasih ‘Diet Coke’ daripada air putih, diminum juga tuh minuman soda. Kemudian gua menawarkan diri buat mengantar dia ke sebuah toko kecil di ujung jalan ini, untuk membeli plester untuk membalut luka-nya.
“Jauh nggak?”
Dia bertanya sambil menurunkan hood jaketnya dan menyibak rambutnya yang pendek seleher. Kemudian terlihat jelas sebuah luka lebam di sudut mata sebelah kiri-nya, tidak, bukan cuma satu, setidaknya ada 3 luka lebam, selain disudut matanya, satu lagi di dahi sebelah kiri dan satu lagi di sudut bibir sebelah kanan, yang terakhir tampak seperti luka yang baru karena masih meninggalkan sisa bekas darah yang membeku.
Gua nggak berani bertanya, gua hindari menatap kewajahnya sambil menjawab pertanyaa-nya bahwa tokonya nggak begitu jauh dari sini, sambil menunjuk ke arah jalan utama.
---
“Emang ngapa? Ikan jaman sekarang mah ogah makan cacing, Meng”
Gua jawab aja sekena-nya, memang niatnya gua bawa roti dari rumah buat bekal pas mancing tapi, gara-gara umpan cacing gua dari tadi nggak disentuh ikan terpaksa gua ganti dengan roti. Siapa tau mujarab.
Nggak seberapa berselang, tali pancing gua bergetar, refleks gua tarik joran sekuatnya dan mendarat dengan mulus seekor ikan yang kurang lebih seukuran telapak tangan.
“Anjritt.. dari tadi dapet sapu-sapu mulu gua!”
Sambil melepas mata kail dari mulut ikan sapu-sapu yang barusan gua angkat dan langsung gua lempar lagi kedalam kali.
Tidak berapa lama, melantun lagu “Time Like This”-nya Foo Fighter dari ponsel gua. Tertera tulisan “Rumah” dilayarnya.
“Kenapa mak?”
Karena memang cuma nyokap gua aja yang selalu telpon melalui telepon rumah. Bokap dan adik gua selalu menggunakan ponsel-nya masing-masing jika ada keperluan.
“Assalamualaikum , Mancing kagak rapi-rapi luh, nih ada kiriman surat buat elu”
“Dari siapa?”
“Kagak tau, bahasanya emak nggak ngerti”
“Simpenin dulu, nih aye udah mau pulang”
“Yaudah buruan, jangan maghriban dijalan, pamali. Assalamualaikum”
“Waalaikumsalam”
Gua kantongin lagi ponsel k-ekantong celana pendek yang sekarang udah kotor campur lumpur, sambil berteriak ke temen gua; Komeng, yang lagi berkutat dengan tali pancingnya yang kusut.
“Meng, ayo balik.. udah sore”
“Belon juga dapet sekilo, udah mau balik aje”
“Yauda elu terusin dah, gua balik duluan”
Komeng menjawab dengan sedikit gumam di bibirnya terdengar seperti “Yaelah..” sambil berjalan gontai menyusul gua.
------
Itu kejadian beberapa tahun yang lalu, dimana gua dan Komeng masih biasa mencari cacing buat umpan ikan di kebun singkong belakang rumahnya Haji Salim dan kemudian pergi memancing disepanjang pinggiran sungai Pesanggrahan, Jakarta.
Sekarang, gua sedang duduk sambil bersandar di sebuah kursi lipat di pinggir danau di daerah Leeds, Inggris. Menghabiskan hari libur akhir musim gugur dengan memancing sambil bernostalgia, mencoba membangkitkan memori tentang memancing, tentang si Komeng, tentang Jakarta, tentang rumah.
Setelah berjam-jam memancing, menghabiskan berkaleng-kaleng ‘Diet Coke’ akhirnya gua memutuskan untuk menyudahi kegiatan sialan ini. Pulang dengan membawa 6 Ekor ikan Yelowtail (di Indonesia disebut ikan patin) dan sedikit kenangan tentang ‘rumah’, gua berjalan gontai menuju tempat dimana sepeda kesayangan gua diparkir, sempat kebingungan awalnya karena sekarang ada banyak sepeda yang diparkir, padahal tadi pagi baru sepeda gua aja yang nongkrong disini, setelah celingak-celinguk akhirnya ketemu juga dan gua mulai mengayuh.
Jarak dari tempat gua biasa mancing ke tempat dimana gua tinggal di Moorland Ave, Leeds kurang lebih 3,5 mil atau kalau dalam satuan Kilometer sekitar 5,5 Km. Jarak segitu kalo disini, di Inggris bisa dibilang ‘deket’, kalau naik sepeda bisa cuma 30 menit.
Oiya, nama gua Boni. Gua lahir dan dibesarkan di Jakarta. Saat ini gua kerja dan tinggal di Leeds, Inggris sekitar 2-3 jam dari London (dengan kereta). Gua kerja sebagai Sound Designer disalah satu Agensi perfilman dan periklanan di Leeds yang juga punya kantor di London. Sudah hampir 4 tahun gua kerja dan tinggal disini, ditempat dimana nggak ada sungai dengan air berwarna cokelat keruh yang banyak ikan sapu-sapunya dan nggak ada teman yang suka menggerutu “Yaelah”.
Sambil mendengarkan “Heaven” nya Lost Lonely Boys lewat headset, gua mengayuh sepeda menuju ke rumah, pulang. Melewati jalan berpasir yang dipenuhi pohon-pohon maple di kedua sisinya menuju jalan utama. Jalan yang sangat sepi dan hening, jam menunjukkan angka 4 sore, menandakan waktu shalat maghrib, di sabtu sore seperti sekarang ini memang didaerah sini sangat sepi, kebanyakan penduduk sekitar sedang ke stadion atau pub-pub untuk menyaksikan Leeds United bertanding. Ingin buru-buru sampai di rumah, karena perut udah mulai keroncongan, gua kayuh sepeda lebih cepat. Sampai kemudian terdengar sayup-sayup suara musik yang makin lama makin nyaring, suara musik RnB yang sepertinya diputar dari dalam mobil dengan volume maksimal. Suara tersebut datang dari arah belakang dan kemudian menyusul gua, sebuah BMW silver yang melaju cepat bahkan boleh dibilang sangat cepat, sambil meninggalkan debu persis seperti mobil yang sedang Rally Dakkar.
“Orang Gila!!” gua mengumpat, masih sambil dengerin coda lagu “Heaven” nya Lost Lonely Boys. Sampai gua melihat beberapa detik kemudian lampu rem BMW tersebut menyala dan kemudian berhenti.
Deg!, “Wuanjrit, sakti juga tuh orang bisa denger suara gua” sambil berhenti dan melepas headset dari telinga. Yang ternyata setelah gua sadar, suara gua nggak sepelan pas pakai headset tadi. Gua nunggu sambil dag dig dug, kalau dia ngerti ucapan gua, dia pasti orang Indonesia dan kalo ternyata bukan gua bakal siap-siap kabur.
Pintu penumpang pun terbuka, terbuka secara paksa tepatnya, sedetik kemudian keluar seseorang dari kursi penumpang, terhuyung dan kemudian terjatuh, terdengar makian dari dalam BMW tersebut mungkin seperti “bitch” atau semacamnya dan sesaat kemudian BMW tersebut pergi, mengasapi orang yang tersungkur itu dengan debu jalanan.
Nggak mau terlalu ambil pusing, sambil bernafas lega dan bilang dalam hati; “untung bukan gua”, gua meneruskan mengayuh sepeda.
“Get up Bro, life is brutal”
gua berkata ke orang itu sambil melewatinya tetap melanjutkan mengayuh. Dan beberapa meter kemudian gua mendengar sebuah teriakan, teriakan yang (pada akhirnya) bakal merubah hidup gua.
“Woii.. Help me!, you’re Indonesian, right?”
“Tolongin gue dong…”
Gua berhenti mengayuh, turun dan bengong. Sudah hampir setahun gua nggak denger secara langsung orang bicara ke gua dengan bahasa Indonesia dan suara perempuan pula.. Lima, ah mungkin sepuluh detik kemudian baru gua memalingkan muka tapi masih tetap bengong.
“Woii..”
Akhirnya gua turun dari sepeda, kemudian menghampiri orang itu. Terduduk di depan gua sosok perempuan, hitam manis dengan kepala tertutup hood jaket hitam, celana jeans dan sepatu model boots sebetis berwarna cokelat.
“Elu nggak apa-apa?”
“Menurut Lo? Kalo gue gak apa-apa, ngapain gua teriak minta tolong elu!!”
Gua nggak menjawab, berusaha membantu dia berdiri sambil bertanya lagi bagaimana keadaannya. Sekali lagi dia mengumpat;
“Gila!, nggak punya hati banget sih lu!, ya jelas lah gue kenapa-kenapa.. nih liat!”
Sambil memperlihatkan telapak tangan dan siku-nya yang luka dan kemudian menyibak celana jeans-nya yang kotor terkena debu dan sobek di beberapa bagian akibat terlempar dari mobil tadi. Sesaat baru dia sadar kalau lutut kanannya juga luka sambil meringis kesakitan dia mencoba membersihkan luka tersebut dengan air liurnya. Sangat Indonesia sekali.
“Gua pikir tadi orang mabok yang lagi berantem, disini mah biasa begitu,mbak!”
Kemudia gua kasih satu-satunya ‘Diet Coke’ sisa memancing tadi, harusnya sih air putih tapi Cuma itu yang gua punya sekarang. Sambil menggerutu karena dikasih ‘Diet Coke’ daripada air putih, diminum juga tuh minuman soda. Kemudian gua menawarkan diri buat mengantar dia ke sebuah toko kecil di ujung jalan ini, untuk membeli plester untuk membalut luka-nya.
“Jauh nggak?”
Dia bertanya sambil menurunkan hood jaketnya dan menyibak rambutnya yang pendek seleher. Kemudian terlihat jelas sebuah luka lebam di sudut mata sebelah kiri-nya, tidak, bukan cuma satu, setidaknya ada 3 luka lebam, selain disudut matanya, satu lagi di dahi sebelah kiri dan satu lagi di sudut bibir sebelah kanan, yang terakhir tampak seperti luka yang baru karena masih meninggalkan sisa bekas darah yang membeku.
Gua nggak berani bertanya, gua hindari menatap kewajahnya sambil menjawab pertanyaa-nya bahwa tokonya nggak begitu jauh dari sini, sambil menunjuk ke arah jalan utama.
---
DAFTAR ISI
Quote:
CHAPTER 1
#1 The Beginning
#2 Truly Gentlemen
#3 Place Called Home
#4 The Morning Fever
#5 A Miserable Story
#6 Night Rain
#7 Inside My Head
#8 That Day
#9 Be Tough
#10 Mukena
#1 The Beginning
#2 Truly Gentlemen
#3 Place Called Home
#4 The Morning Fever
#5 A Miserable Story
#6 Night Rain
#7 Inside My Head
#8 That Day
#9 Be Tough
#10 Mukena
Quote:
CHAPTER 2
#11-A Trip To Manchester
#11-B The Swiss Army
#12 Here's and Back Again
#13 I Miss You So Bad
#14 Going Mad
#15 Promise
#16 You’ll Be The Only Light I See
#17 The Winter Tears
#18 She's Gone
#19 That Memories
#11-A Trip To Manchester
#11-B The Swiss Army
#12 Here's and Back Again
#13 I Miss You So Bad
#14 Going Mad
#15 Promise
#16 You’ll Be The Only Light I See
#17 The Winter Tears
#18 She's Gone
#19 That Memories
Quote:
CHAPTER 3
[URL="http://www.kaskus.co.id/show_post/530ff7e41acb17030d8b48f1/479/- "]#19-A The Hood[/URL]
#19-B Heres And Back Again II
#19-C Weak
#19-D Surrender
#19-E The Choice
#19-F Anything For You
#19-G Chelsea Number 8
#19-H Its not always about gold and glory
#19-I Aku
#19-J The Words
#19-K The Persian Cat
#19-L You Really The Only Light I See
#19-M So Be It
#19-N Less Than Perfect
#20 That Day II
[URL="http://www.kaskus.co.id/show_post/530ff7e41acb17030d8b48f1/479/- "]#19-A The Hood[/URL]
#19-B Heres And Back Again II
#19-C Weak
#19-D Surrender
#19-E The Choice
#19-F Anything For You
#19-G Chelsea Number 8
#19-H Its not always about gold and glory
#19-I Aku
#19-J The Words
#19-K The Persian Cat
#19-L You Really The Only Light I See
#19-M So Be It
#19-N Less Than Perfect
#20 That Day II
Quote:
CHAPTER 4 The Prekuel
#21 The Prologue
#22 My Precious
#23 Ticket to Ride
#24 Singapore
#25 Dreams
#26 The Awkward Moment
#27 Logic
#28 Driver In Life
#29 The Risk Taker
#30 Sorry
#31 Rise Again
#32 Goodbye
#21 The Prologue
#22 My Precious
#23 Ticket to Ride
#24 Singapore
#25 Dreams
#26 The Awkward Moment
#27 Logic
#28 Driver In Life
#29 The Risk Taker
#30 Sorry
#31 Rise Again
#32 Goodbye
Quote:
CHAPTER 5!!
#33 London
#34 Unwell
#35 I Was Here
#36 Leeds
#37 New Home, New Life
#38 Alone
#39 Intermezo
#40 Goin' Trough
#41 At Glance
#42 The Past of The Future
#33 London
#34 Unwell
#35 I Was Here
#36 Leeds
#37 New Home, New Life
#38 Alone
#39 Intermezo
#40 Goin' Trough
#41 At Glance
#42 The Past of The Future
Quote:
CHAPTER 6
#43 My First ...
#44 If Lovin' You ...
#45 Goin' Back
#46 Leeds II
#47 I Love You (Jealousy)
#48 After All
#49 Hell Yeah
#50 Conflict
#51 Liar-Liar
#52 Memories
#43 My First ...
#44 If Lovin' You ...
#45 Goin' Back
#46 Leeds II
#47 I Love You (Jealousy)
#48 After All
#49 Hell Yeah
#50 Conflict
#51 Liar-Liar
#52 Memories
Quote:
Quote:
Diubah oleh robotpintar 10-04-2014 08:46
carangkasampah dan 121 lainnya memberi reputasi
120
1.3M
Kutip
2.3K
Balasan
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
robotpintar
#100
Spoiler for Bagian kesepuluh:
#10 Mukena
Quote:
Hari jumat siang, gua duduk di pelataran Makkah Masjid. Habis dari kantor gua tadi langsung mampir buat jumatan sebelum pulang ke rumah, Ines gua tinggal sendirian, kayaknya dia udah mulai terbiasa dengan suhu dan cuaca disini, hari ini dia mau masak katanya. Makkah masjid terletak di daerah West Yorkshire, kalau dari kantor gua jaraknya sekitar 15 menit bersepeda.
Tadi sehabis jumatan gua ketemu sama Arya, adiknya temen kuliah gua dulu waktu di Jakarta. Gua sempet ngobrol-ngobrol sebentar dengan Arya sebelum pulang.
”Hai, bang.. apa kabar?”
”Wuihh.. arya.. baik, elu gimana? Udah kelar kuliah?”
”InsyaAllah sebentar lagi, bang. Do’ain ya..”
”Nggak ah.. gua doain diri gua aja males, masa doain orang.. hahahaha”
”Bisa aja...”
”Yaudah bang, saya pamit ya.. ”
”Mau kemana buru-buru ya?”
”Ini temen kampus minta anter nyari kerudung.. jilbab..”
”Ohh.. yaudah deh, salam buat abang lu ya kalo nelpon..”
”Siip..” Arya ngeloyor pergi.
Gua masih duduk mengikat tali sepatu Reebok cokelat kesayangan gua, kemudian berdiri dan bergegas mengejar Arya.
”Ya... Arya,tunggu...”
Si Arya yang dipanggil menengok dan berhenti berjalan. Gua berlari sambil menuntun sepeda setelah berhasil menyusul Arya gua berjalan disampingnya.
”Ada apaan bang?”
”Elu mau beli jilbab?”
”Eh bukan saya bang, temen kampus, orang Indo juga, Cewek, cakep, mau saya kenalin...?”
Arya menjelaskan sambil menggebu-gebu, di kata ”cakep” ditekankan sambil mengacungkan dua ibu jarinya.
Gua menggeleng.
”Belinya dimana?”
”Paling yang di deket stadion bang..”
”Elland Rd..?”
”Iya..”
”Ada yang jual mukena juga?”
”Banyak bang.., emang mukena bakal siapa bang?”
Melihat nada pertanyaan yang seakan-akan menyudutkan gua. Gua langsung buru-buru menjawab.
”Bukan-bukan buat gua, buat hadiah.., gua nitip yak?”
”Lah, ngikut aja bang.. ntar model sama ukuran kan saya nggak tau..”
”Elu sama pacar lu kan? Yauda dia aja yang suru milihin..ukurannya samain aja sama ukuran pacar lu”
”Bukan pacar bang, temen... lagian emang abang pernah liat temen saya?”
Gua mengeluarkan empat lembar puluhan pounds dari dompet dan memberikannya ke Arya.
”Bang.. emang abang tau harganya?”
”Nggak.. ya ntar kalo kurang lu tombokin dulu, trus kalo udah lu anterin ke rumah gua.. masih inget kan?”
”Iya dah..”
”Ntar gua upahin..”
”Nggak usah bang, emang saya bocah pake diupahin...”
Setelah itu Arya pun pamit, gua melambai sambil berteriak ”Yang cakep yak”. Kemudian berbalik arah dan mengayuh sepeda niatnya sih menuju ke rumah. Tapi saat melihat Jam, baru jam dua siang akhirnya gua putuskan untuk berbalik memutar arah, ke Primark.
---
Di Primark gua memilih model-model baju yang ada di manekin, niatnya gua mau beliin baju buat Ines, karena selama ini tu anak makein kaos sama celana training gua melulu. Gua sedikit kebingungan dalam memilih model yang di manekin, kok model gaun semua. Akhirnya gua memalingkan diri dari display manekin dan menuju ke lorong paling dalam, disana berjajar kaos-kaos dengan shape dan size wanita.
Mata gua tertuju pada kaos berwarna cokelat tua bergambar John Lennon, gua mengambilnya dan memilih secara acak dua kaos panjang bergaris-garis horisontal dan satu kaos panjang selutut dengan motif vektor bunga-bunga. Gua kemudian duduk sambil membentangkan baju-baju tersebut, mencoba membayangkan Ines dengan memakai pakaian-pakaian ini.
Agak lama gua memandangi dan membentangkan baju-baju tersebut, sampai seorang SPG menghampiri gua. Seorang wanita mungkin berusia sekitar 35an, dengan rambut pirang tergerai, Nametag-nya tertera nama ’Catherine Miller’.
”Hi.. nice choice..., for your girlfriend or err.. wife..?”
”Oh hii there... actually, i’m lil bit confuse here ’bout the size..”
”How tall is she?”
Gua berdiri dan mengangkat telapak tangan di bahu gua.
”Hmm... this one isnt fit at all..”
Dia mengangkat kaos cokelat bergambar John Lennon.
”And three other?”
”it’s will fit enough”
”Do you have any size larger or something like yellow or brighter..”
”Oh.. of course, but for the brighter colour i think we’d out of stock here..mm no no we have magenta and white for this”
”Well, magenta sounds good”
”I’ll be back with your magenta..”
Catherine berlalu sambil membawa kaos John Lennon cokelat yang menurut dia kekecilan itu. Tidak sampai dua menit, dia pun kembali dengan membawa Kaos dengan gambar yang sama namun dengan warna yang berbeda; magenta. Dan kemudian membuka bungkus plastik dan hanger nya dan menyerahkannya ke gua.
”Can we proceed your one, two,..four item here for you?”
”Well, actually im also looking for denim pants, if you dont mind..”
”Oh thats really, really ’okey’, this way mister..”
Catherine menunjukkan jalan menunjukan jalan melewati lorong-lorong rak pakaian dan kami berhenti di sebuah ujung lorong yang di penuhi celana jeans berbahan denim.
”How ’bout this?”
Dia mengambil salah satu celana jeans berwarna biru muda dengan model ’belel’. Gua mengambilnya, membentangkan celana tersebut.
”If you know the size number, that will be much easier..”
Gua mengangkat bahu.
”Not for sure, but probably something like...”
Gua membentangkan tangan, membentuk ukuran pinggul Ines, sebatas mengira-ngira.
”The hips?”
”Yeah..”
Catherine memilihkan satu, jeans berwarna sama dengan yang masih gua pegang, tapi kali ini modelnya nggak ’belel’.
”Hmmm.. ”
”....”
Dia mengambilkan satu lagi, ukurannya sedikit lebih besar dan dengan warna lebih gelap. Gua kebingungan dan akhirnya gua putuskan buat mengambil keduanya. Kemudian Catherine mengantarkan gua ke kasir untuk melakukan pembayaran, dan menawarkan apakah ingin dibungkus dengan kertas atau kotak kado dan kartu ucapan, gua menggeleng sambil tersenyum. Kemudian Catherine mengantarkan sampai ke pintu counter, melambaikan tangan dan mengucapkan terima kasih.
Ini salah satu yang gua suka dari Inggris. Disini, elu nggak perlu terlihat kaya dan necis untuk mendapatkan pelayanan kelas raja untuk berbelanja barang yang total harganya nggak sampai 50 pounds.
---
Hujan mulai turun saat gua baru setengah jalan menuju ke rumah. Gua memutuskan untuk berteduh sebentar, memasukkan belanjaan tadi kedalam tas dan bersiap menerobos hujan. Sebelum jalan sekilas gua melihat papan iklan elektronik di sebuah gedung yang menampilkan iklan pertandingan sepakbola, sabtu besok pertandingan antara United versus Liverpool, gua memandangnya sekilas kemudian berlalu.
Hujan sedikit mereda, menyisakan gerimis yang bercampur dengan angin saat gua sampai di rumah. Gua membuka pintu dan menenteng masuk sepeda.
Ines sedang memasak saat gua masuk ke dalam, gua menggantung jaket dan duduk di meja makan.
”Masak apa mbak?”
”Cap cay.. doyan nggak?”
”Wuihh, emang bisa?”
”Ntar lo coba aja deh..pasti ketagihan...kok tumben udah pulang? Kangen sama gue ya...”
”Wow, percaya diri sekali anda ini...”
Gua kemudian mengambil susu di kulkas dan merebahkan diri ke sofa, tivi dalam keadaan menyala. Mungkin Ines memasak sambil nonton tivi. Layar di tivi menayangkan lagi iklan pertandingan United versus Liverpool dengan tagline besar bertuliskan ”Big Match”.
Gua mengambil ponsel, mencari kontak bernama ”Heru” dan menekan tombol ’panggil’, terdengar nada sambung beberapa kali disusul suara berat diujung telepon.
”Hallo...”
”Ruk,....ini gua Boni”
”Iya gua tau, handphone gua juga ada fitur contact listnya kali..”
Heru (gua biasa manggil dia ’Beruk’ karena badanya yang hitam dan kerempeng) adalah temen gua yang sama-sama satu agensi dan satu angkatan waktu datang ke Inggris. Beda-nya dia kerja dan tinggal di Manchester dan gua di Leeds, dia adalah fans United sejati walaupun dia sering protes kalau disebut ’Manchunian’ karena menurut pahamnya; manchunian itu sebutan yang lebih cocok untuk seluruh warga Manchester (yang artinya fans united dan city), bukan Cuma untuk fans United aja. Dulu waktu pertama kali dateng kesini gua sering banget nonton United bareng dia di Old Trafford, sampai akhirnya gua menyadari kalo nonton bola secara langsung di stadion, dengan tim sekelas United, selalu sukses bikin kantong gua bocor, cor, cor, cor. Senengnya 90 menit, nangisnya berjam-jam, kemudian makan mie instan (masih tetep) sambil nangis selama lima hari.
Masih tetap menelpon gua kemudian masuk ke kamar dan menutup pintunya.
”Cariin gua tiket dong..”
”Tiket apaan?”
”Kalo gua nelpon lu, trus nanya tiket, kira-kira tiket apaan?”
”Ya kali aja tiket konser”
”Eet beruk, Serius nih gua...”
”Iye.. lu mo nonton apaan, buat kapan?”
”Kalo gua nelpon lu, trus minta tiket nonton, kira-kira nonton apaan?”
”Nonton Portsmouth, bwahahahahaha....”
”Serius, ruk ah elah.. ada nggak? Bakal besok? Dua!”
”Ah gila lu mepet banget nelponnya, susah bro...”
”Yaelah.. katanya lu kenal semua calo di sono...”
”Ya kalo dari calo mah bisa, tapi kan lu tau ndiri harganya...”
”Kalo bisa jangan dari calo, tapi kalo terpaksa gpp dah..”
”Yaudah gua tanya-tanya dulu, ntar kalo ada gua sms aja..”
”Telpon aja ngapa?”
”Mahal broooo.... lagi mo ngeramik rumah di Jakarta nih gua hehehe..”
”Yauda kabarin secepatnya.. dua yak”
Tut tut tut tut tut nada telepon berbunyi, diputus sama Heru dari ujung sana, emang ngeselin banget temen gua yang satu itu. Gua kemudian keluar dari kamar dan disambut Ines yang bawa-bawa sendok dan disodorkan ke gua.
”Cobain deh...”
Gua mangap dan Ines menjejalkan kuah panas ke mulut gua..
”Whanjrhitt.. whanas..maenh.. jejein aya lwuh..”
Gua megapa-megap sambil mengibas-ngibaskan tangan di depan mulut.
”Hehehe maap-maap.. enak nggak?”
Gua masih megap-megap sambil mengacungkan ibu jari ke Ines.
Kemudian ponsel gua berdering lagi, gua pikir si Heru yang telepon, ternyata nama Arya yang muncul dilayar.
”Hallo, Assalamualaikum Bang...”
”Walaikumsalam,, kenapa, ya?”
”Ini bang, saya ada di depan rumah, tapi rumah abang yang nomer berapa yak?”
”Oh.. nomer 31, ya... yang cat putih, tunggu deh, gua keluar..”
Gua menutup telepon dan bergegas keluar. Diluar Arya sedang berdiri ditemani dengan seorang wanita berkerudung.
”Udah lama, ya?”
”Nggak, baru aja, nih titipannya bang, kembaliannya di kantong ya..”
”Lah, emang masih kembali?”
”Masih bang, oiya ini kenalin temen saya, Intan.. Intan ini kenalin temennya kak Andry”
”Halo, Boni...”
”Halo kak, intan..”
”Cakep kan bang?”
”Hehe. Iya, bisa aja lu nyari cewek..”
Mereka terlihat salah tingkah, kemudian gua menawarkan mereka untuk masuk. Sesampainya di dalam, Arya terlihat kaget melihat Ines.
”Eh bang, udah merit ya, kok nggak bilang-bilang, kapan?”
Gua disodorin pertanyaan begitu jadi gelapan, ya memang sebelum-sebelumnya belum pernah ada tamu orang Indo juga yang datang selama Ines disini. Belum sempet gua menjawab, Ines sudah menyodorkan tangannya ke Arya dan Intan.
”Bukan kok,.. aku Ines..”
Ines menjabat tangan Arya dan Intan, terlihat Arya masih kebingungan. Kemudian Ines berbisik ke Arya; ”Baru tunangan..” sambil mengedipkan mata dan tersenyum. Bibir Arya sontak membentuk huruf ”O” disusul senyuman dan pandangan aneh ke gua. Gua nepok jidat dan mempersilahkan mereka duduk.
Nggak terasa setengah jam kami berempat ngobrol ngalor-ngidul, nggak karuan. Kemudian Arya dan Intan berdiri untuk pamit.
”Buru-buru banget ya..”
”Iya bang, besok si Intan minta ante jalan-jalan ke Greenwich..”
Disusul suara dehem aneh dari Ines.
”Wah asik banget ya,, bisa jalan-jalan...”
”Iya mbak, soalnya intan kan baru disini sebulan jadi pengen muter-muter katanya..”
Ines mendengus kemudian berkata :
”Owh gitu, aku juga baru seminggu disini, tapi belom diajak jalan-jalan..”
”Hehe.. Yaudah kita pamit dulu ya bang, mbak..Assalamualaikum..”
Arya dan Intan pulang.
---
Beberapa saat suasana hening, Ines Cuma duduk diam di sofa sambil menggonta-ganti channel. Ada sedikit kekecewaan di wajahnya yang sesekali melirik gua yang sedang duduk di kursi meja makan.
”Eh.. makan yuk, penasaran gua mau nyobain masakan lo”
Gua mencoba mencairkan suasana. Ines kemudian berdiri, menuju ke meja makan.
Akhirnya kami makan dalam diam, hening. Yang terdengar Cuma suara sendok yang beradu dengan piring dan suara pembawa berita cuaca di tivi. Kemudian ponsel gua berbunyi, notifikasi pesan masuk. Gua mengambil ponsel dan membaca pesan masuk dari Heru.
”Ad nih, tpi dr calo. Klo mau @ £70”
Gua kemudian masuk kekamar dan menelpon Heru.
”Gile.. mahal aja ruk?”
”Ya mao kagak, namanya juga dari calo.. lagian di Stretford End ituh..”
”.....”
”Mao nggak?”
”Yauda dah mao, pake duit lo dulu”
Tut tut tut tut
”Kebiasaan nih kunyuk...”
Gua kembali ke meja makan, Ines sudah selesai makan dan sedang mencuci piring kemudian masuk kekamar dan menutup pintu.Gua teringat mukena yang tadi dianterin si Arya, kemudian gua buru-buru menghabiskan makan, mengambilnya mukena yang masih dibungkus plastik dari toko, tergeketak di sofa. Gua ke kamar. Cklek. Terkunci. Ah mungkin lagi ganti baju, gua kemudian mengetuk pelan sambil memanggil namanya.
”Nes.., Nes..”
Nggak ada jawaban.
”Nes,... tidur lu?”
Nggak seberapa lama terdengar langkah dan suara anak kunci diputar. Cklek!
”Apa?.. gue ngantuk mau tidur...”
”Kok pake dikunci?”
”Gue takut diapa-apain sama elo..”
”Yeee... ” gua menoyor kepalanya.
”Ish.. apaan sih..” Ines menepis tangan gua.
”Nih buat lo, sekarang lu nggak ada alesan buat nggak solat..”
Gua menyodorkan mukena baru ke Ines.
”Apaan nih?”
”Mukena..”
”Owh.. yauda makasi..”
”Jutek amat..”
”Bodo!”
Disusul dengan pintu kamar yang ditutup.
Kemudian terbuka lagi sedikit dan Ines menjulurkan kepalanya.
”Gue mao tidur, jangan dibangunin sampe besok, mao ngilangin bosen!!”
Pintu ditutup lagi kali ini ditambah suara Cklek lagi.
Gua Cuma menghela nafas kemudian berbaring lagi di sofa sambil menonton tivi. Tadinya kepikiran buat ngerjain project drama seri yang baru di brief tadi, tapi baru inget kalo laptop gua didalem tas dikamar, begitu juga baju baru buat Ines.
Gua kemudian tertidur..
---
Tadi sehabis jumatan gua ketemu sama Arya, adiknya temen kuliah gua dulu waktu di Jakarta. Gua sempet ngobrol-ngobrol sebentar dengan Arya sebelum pulang.
”Hai, bang.. apa kabar?”
”Wuihh.. arya.. baik, elu gimana? Udah kelar kuliah?”
”InsyaAllah sebentar lagi, bang. Do’ain ya..”
”Nggak ah.. gua doain diri gua aja males, masa doain orang.. hahahaha”
”Bisa aja...”
”Yaudah bang, saya pamit ya.. ”
”Mau kemana buru-buru ya?”
”Ini temen kampus minta anter nyari kerudung.. jilbab..”
”Ohh.. yaudah deh, salam buat abang lu ya kalo nelpon..”
”Siip..” Arya ngeloyor pergi.
Gua masih duduk mengikat tali sepatu Reebok cokelat kesayangan gua, kemudian berdiri dan bergegas mengejar Arya.
”Ya... Arya,tunggu...”
Si Arya yang dipanggil menengok dan berhenti berjalan. Gua berlari sambil menuntun sepeda setelah berhasil menyusul Arya gua berjalan disampingnya.
”Ada apaan bang?”
”Elu mau beli jilbab?”
”Eh bukan saya bang, temen kampus, orang Indo juga, Cewek, cakep, mau saya kenalin...?”
Arya menjelaskan sambil menggebu-gebu, di kata ”cakep” ditekankan sambil mengacungkan dua ibu jarinya.
Gua menggeleng.
”Belinya dimana?”
”Paling yang di deket stadion bang..”
”Elland Rd..?”
”Iya..”
”Ada yang jual mukena juga?”
”Banyak bang.., emang mukena bakal siapa bang?”
Melihat nada pertanyaan yang seakan-akan menyudutkan gua. Gua langsung buru-buru menjawab.
”Bukan-bukan buat gua, buat hadiah.., gua nitip yak?”
”Lah, ngikut aja bang.. ntar model sama ukuran kan saya nggak tau..”
”Elu sama pacar lu kan? Yauda dia aja yang suru milihin..ukurannya samain aja sama ukuran pacar lu”
”Bukan pacar bang, temen... lagian emang abang pernah liat temen saya?”
Gua mengeluarkan empat lembar puluhan pounds dari dompet dan memberikannya ke Arya.
”Bang.. emang abang tau harganya?”
”Nggak.. ya ntar kalo kurang lu tombokin dulu, trus kalo udah lu anterin ke rumah gua.. masih inget kan?”
”Iya dah..”
”Ntar gua upahin..”
”Nggak usah bang, emang saya bocah pake diupahin...”
Setelah itu Arya pun pamit, gua melambai sambil berteriak ”Yang cakep yak”. Kemudian berbalik arah dan mengayuh sepeda niatnya sih menuju ke rumah. Tapi saat melihat Jam, baru jam dua siang akhirnya gua putuskan untuk berbalik memutar arah, ke Primark.
---
Di Primark gua memilih model-model baju yang ada di manekin, niatnya gua mau beliin baju buat Ines, karena selama ini tu anak makein kaos sama celana training gua melulu. Gua sedikit kebingungan dalam memilih model yang di manekin, kok model gaun semua. Akhirnya gua memalingkan diri dari display manekin dan menuju ke lorong paling dalam, disana berjajar kaos-kaos dengan shape dan size wanita.
Mata gua tertuju pada kaos berwarna cokelat tua bergambar John Lennon, gua mengambilnya dan memilih secara acak dua kaos panjang bergaris-garis horisontal dan satu kaos panjang selutut dengan motif vektor bunga-bunga. Gua kemudian duduk sambil membentangkan baju-baju tersebut, mencoba membayangkan Ines dengan memakai pakaian-pakaian ini.
Agak lama gua memandangi dan membentangkan baju-baju tersebut, sampai seorang SPG menghampiri gua. Seorang wanita mungkin berusia sekitar 35an, dengan rambut pirang tergerai, Nametag-nya tertera nama ’Catherine Miller’.
”Hi.. nice choice..., for your girlfriend or err.. wife..?”
”Oh hii there... actually, i’m lil bit confuse here ’bout the size..”
”How tall is she?”
Gua berdiri dan mengangkat telapak tangan di bahu gua.
”Hmm... this one isnt fit at all..”
Dia mengangkat kaos cokelat bergambar John Lennon.
”And three other?”
”it’s will fit enough”
”Do you have any size larger or something like yellow or brighter..”
”Oh.. of course, but for the brighter colour i think we’d out of stock here..mm no no we have magenta and white for this”
”Well, magenta sounds good”
”I’ll be back with your magenta..”
Catherine berlalu sambil membawa kaos John Lennon cokelat yang menurut dia kekecilan itu. Tidak sampai dua menit, dia pun kembali dengan membawa Kaos dengan gambar yang sama namun dengan warna yang berbeda; magenta. Dan kemudian membuka bungkus plastik dan hanger nya dan menyerahkannya ke gua.
”Can we proceed your one, two,..four item here for you?”
”Well, actually im also looking for denim pants, if you dont mind..”
”Oh thats really, really ’okey’, this way mister..”
Catherine menunjukkan jalan menunjukan jalan melewati lorong-lorong rak pakaian dan kami berhenti di sebuah ujung lorong yang di penuhi celana jeans berbahan denim.
”How ’bout this?”
Dia mengambil salah satu celana jeans berwarna biru muda dengan model ’belel’. Gua mengambilnya, membentangkan celana tersebut.
”If you know the size number, that will be much easier..”
Gua mengangkat bahu.
”Not for sure, but probably something like...”
Gua membentangkan tangan, membentuk ukuran pinggul Ines, sebatas mengira-ngira.
”The hips?”
”Yeah..”
Catherine memilihkan satu, jeans berwarna sama dengan yang masih gua pegang, tapi kali ini modelnya nggak ’belel’.
”Hmmm.. ”
”....”
Dia mengambilkan satu lagi, ukurannya sedikit lebih besar dan dengan warna lebih gelap. Gua kebingungan dan akhirnya gua putuskan buat mengambil keduanya. Kemudian Catherine mengantarkan gua ke kasir untuk melakukan pembayaran, dan menawarkan apakah ingin dibungkus dengan kertas atau kotak kado dan kartu ucapan, gua menggeleng sambil tersenyum. Kemudian Catherine mengantarkan sampai ke pintu counter, melambaikan tangan dan mengucapkan terima kasih.
Ini salah satu yang gua suka dari Inggris. Disini, elu nggak perlu terlihat kaya dan necis untuk mendapatkan pelayanan kelas raja untuk berbelanja barang yang total harganya nggak sampai 50 pounds.
---
Hujan mulai turun saat gua baru setengah jalan menuju ke rumah. Gua memutuskan untuk berteduh sebentar, memasukkan belanjaan tadi kedalam tas dan bersiap menerobos hujan. Sebelum jalan sekilas gua melihat papan iklan elektronik di sebuah gedung yang menampilkan iklan pertandingan sepakbola, sabtu besok pertandingan antara United versus Liverpool, gua memandangnya sekilas kemudian berlalu.
Hujan sedikit mereda, menyisakan gerimis yang bercampur dengan angin saat gua sampai di rumah. Gua membuka pintu dan menenteng masuk sepeda.
Ines sedang memasak saat gua masuk ke dalam, gua menggantung jaket dan duduk di meja makan.
”Masak apa mbak?”
”Cap cay.. doyan nggak?”
”Wuihh, emang bisa?”
”Ntar lo coba aja deh..pasti ketagihan...kok tumben udah pulang? Kangen sama gue ya...”
”Wow, percaya diri sekali anda ini...”
Gua kemudian mengambil susu di kulkas dan merebahkan diri ke sofa, tivi dalam keadaan menyala. Mungkin Ines memasak sambil nonton tivi. Layar di tivi menayangkan lagi iklan pertandingan United versus Liverpool dengan tagline besar bertuliskan ”Big Match”.
Gua mengambil ponsel, mencari kontak bernama ”Heru” dan menekan tombol ’panggil’, terdengar nada sambung beberapa kali disusul suara berat diujung telepon.
”Hallo...”
”Ruk,....ini gua Boni”
”Iya gua tau, handphone gua juga ada fitur contact listnya kali..”
Heru (gua biasa manggil dia ’Beruk’ karena badanya yang hitam dan kerempeng) adalah temen gua yang sama-sama satu agensi dan satu angkatan waktu datang ke Inggris. Beda-nya dia kerja dan tinggal di Manchester dan gua di Leeds, dia adalah fans United sejati walaupun dia sering protes kalau disebut ’Manchunian’ karena menurut pahamnya; manchunian itu sebutan yang lebih cocok untuk seluruh warga Manchester (yang artinya fans united dan city), bukan Cuma untuk fans United aja. Dulu waktu pertama kali dateng kesini gua sering banget nonton United bareng dia di Old Trafford, sampai akhirnya gua menyadari kalo nonton bola secara langsung di stadion, dengan tim sekelas United, selalu sukses bikin kantong gua bocor, cor, cor, cor. Senengnya 90 menit, nangisnya berjam-jam, kemudian makan mie instan (masih tetep) sambil nangis selama lima hari.
Masih tetap menelpon gua kemudian masuk ke kamar dan menutup pintunya.
”Cariin gua tiket dong..”
”Tiket apaan?”
”Kalo gua nelpon lu, trus nanya tiket, kira-kira tiket apaan?”
”Ya kali aja tiket konser”
”Eet beruk, Serius nih gua...”
”Iye.. lu mo nonton apaan, buat kapan?”
”Kalo gua nelpon lu, trus minta tiket nonton, kira-kira nonton apaan?”
”Nonton Portsmouth, bwahahahahaha....”
”Serius, ruk ah elah.. ada nggak? Bakal besok? Dua!”
”Ah gila lu mepet banget nelponnya, susah bro...”
”Yaelah.. katanya lu kenal semua calo di sono...”
”Ya kalo dari calo mah bisa, tapi kan lu tau ndiri harganya...”
”Kalo bisa jangan dari calo, tapi kalo terpaksa gpp dah..”
”Yaudah gua tanya-tanya dulu, ntar kalo ada gua sms aja..”
”Telpon aja ngapa?”
”Mahal broooo.... lagi mo ngeramik rumah di Jakarta nih gua hehehe..”
”Yauda kabarin secepatnya.. dua yak”
Tut tut tut tut tut nada telepon berbunyi, diputus sama Heru dari ujung sana, emang ngeselin banget temen gua yang satu itu. Gua kemudian keluar dari kamar dan disambut Ines yang bawa-bawa sendok dan disodorkan ke gua.
”Cobain deh...”
Gua mangap dan Ines menjejalkan kuah panas ke mulut gua..
”Whanjrhitt.. whanas..maenh.. jejein aya lwuh..”
Gua megapa-megap sambil mengibas-ngibaskan tangan di depan mulut.
”Hehehe maap-maap.. enak nggak?”
Gua masih megap-megap sambil mengacungkan ibu jari ke Ines.
Kemudian ponsel gua berdering lagi, gua pikir si Heru yang telepon, ternyata nama Arya yang muncul dilayar.
”Hallo, Assalamualaikum Bang...”
”Walaikumsalam,, kenapa, ya?”
”Ini bang, saya ada di depan rumah, tapi rumah abang yang nomer berapa yak?”
”Oh.. nomer 31, ya... yang cat putih, tunggu deh, gua keluar..”
Gua menutup telepon dan bergegas keluar. Diluar Arya sedang berdiri ditemani dengan seorang wanita berkerudung.
”Udah lama, ya?”
”Nggak, baru aja, nih titipannya bang, kembaliannya di kantong ya..”
”Lah, emang masih kembali?”
”Masih bang, oiya ini kenalin temen saya, Intan.. Intan ini kenalin temennya kak Andry”
”Halo, Boni...”
”Halo kak, intan..”
”Cakep kan bang?”
”Hehe. Iya, bisa aja lu nyari cewek..”
Mereka terlihat salah tingkah, kemudian gua menawarkan mereka untuk masuk. Sesampainya di dalam, Arya terlihat kaget melihat Ines.
”Eh bang, udah merit ya, kok nggak bilang-bilang, kapan?”
Gua disodorin pertanyaan begitu jadi gelapan, ya memang sebelum-sebelumnya belum pernah ada tamu orang Indo juga yang datang selama Ines disini. Belum sempet gua menjawab, Ines sudah menyodorkan tangannya ke Arya dan Intan.
”Bukan kok,.. aku Ines..”
Ines menjabat tangan Arya dan Intan, terlihat Arya masih kebingungan. Kemudian Ines berbisik ke Arya; ”Baru tunangan..” sambil mengedipkan mata dan tersenyum. Bibir Arya sontak membentuk huruf ”O” disusul senyuman dan pandangan aneh ke gua. Gua nepok jidat dan mempersilahkan mereka duduk.
Nggak terasa setengah jam kami berempat ngobrol ngalor-ngidul, nggak karuan. Kemudian Arya dan Intan berdiri untuk pamit.
”Buru-buru banget ya..”
”Iya bang, besok si Intan minta ante jalan-jalan ke Greenwich..”
Disusul suara dehem aneh dari Ines.
”Wah asik banget ya,, bisa jalan-jalan...”
”Iya mbak, soalnya intan kan baru disini sebulan jadi pengen muter-muter katanya..”
Ines mendengus kemudian berkata :
”Owh gitu, aku juga baru seminggu disini, tapi belom diajak jalan-jalan..”
”Hehe.. Yaudah kita pamit dulu ya bang, mbak..Assalamualaikum..”
Arya dan Intan pulang.
---
Beberapa saat suasana hening, Ines Cuma duduk diam di sofa sambil menggonta-ganti channel. Ada sedikit kekecewaan di wajahnya yang sesekali melirik gua yang sedang duduk di kursi meja makan.
”Eh.. makan yuk, penasaran gua mau nyobain masakan lo”
Gua mencoba mencairkan suasana. Ines kemudian berdiri, menuju ke meja makan.
Akhirnya kami makan dalam diam, hening. Yang terdengar Cuma suara sendok yang beradu dengan piring dan suara pembawa berita cuaca di tivi. Kemudian ponsel gua berbunyi, notifikasi pesan masuk. Gua mengambil ponsel dan membaca pesan masuk dari Heru.
”Ad nih, tpi dr calo. Klo mau @ £70”
Gua kemudian masuk kekamar dan menelpon Heru.
”Gile.. mahal aja ruk?”
”Ya mao kagak, namanya juga dari calo.. lagian di Stretford End ituh..”
”.....”
”Mao nggak?”
”Yauda dah mao, pake duit lo dulu”
Tut tut tut tut
”Kebiasaan nih kunyuk...”
Gua kembali ke meja makan, Ines sudah selesai makan dan sedang mencuci piring kemudian masuk kekamar dan menutup pintu.Gua teringat mukena yang tadi dianterin si Arya, kemudian gua buru-buru menghabiskan makan, mengambilnya mukena yang masih dibungkus plastik dari toko, tergeketak di sofa. Gua ke kamar. Cklek. Terkunci. Ah mungkin lagi ganti baju, gua kemudian mengetuk pelan sambil memanggil namanya.
”Nes.., Nes..”
Nggak ada jawaban.
”Nes,... tidur lu?”
Nggak seberapa lama terdengar langkah dan suara anak kunci diputar. Cklek!
”Apa?.. gue ngantuk mau tidur...”
”Kok pake dikunci?”
”Gue takut diapa-apain sama elo..”
”Yeee... ” gua menoyor kepalanya.
”Ish.. apaan sih..” Ines menepis tangan gua.
”Nih buat lo, sekarang lu nggak ada alesan buat nggak solat..”
Gua menyodorkan mukena baru ke Ines.
”Apaan nih?”
”Mukena..”
”Owh.. yauda makasi..”
”Jutek amat..”
”Bodo!”
Disusul dengan pintu kamar yang ditutup.
Kemudian terbuka lagi sedikit dan Ines menjulurkan kepalanya.
”Gue mao tidur, jangan dibangunin sampe besok, mao ngilangin bosen!!”
Pintu ditutup lagi kali ini ditambah suara Cklek lagi.
Gua Cuma menghela nafas kemudian berbaring lagi di sofa sambil menonton tivi. Tadinya kepikiran buat ngerjain project drama seri yang baru di brief tadi, tapi baru inget kalo laptop gua didalem tas dikamar, begitu juga baju baru buat Ines.
Gua kemudian tertidur..
---
Backsound Untuk #10

SHE'S IN FASHION - Suede
She's the face on the radio
She's the body on the morning show
She's there shaking it out on the scene
And she's the colour of a magazine
And she's in fashion
Ouh Ouh Ouh
And she's in fashion
Ouh Ouh Ouh
She's employed where the sun don't set
And she's the shape of a cigarette
And she's the shake of a tambourine
And she's the colour of a magazine
Ah Ah
And if she tells you two is one
Then two is one my love
Ah Ah
And if she tells you you should know
Then you should know my love
She is strung out on a TV dream
And she's the taste of the gasoline
And she's as similar as you can get
To the shape of a cigarette
The sunshine will blow my mind
And the wind blows my brain
Spoiler for Klipnya:
Diubah oleh robotpintar 27-02-2014 16:00
aripinastiko612 dan 16 lainnya memberi reputasi
17
Kutip
Balas
![Accidentally In Love [True Story]](https://s.kaskus.id/images/2014/04/07/6448808_20140407033338.jpg)