- Beranda
- Stories from the Heart
BUNGA "PERTAMA" DAN "TERAKHIR"
...
TS
javiee
BUNGA "PERTAMA" DAN "TERAKHIR"

Spoiler for RULES:
INTRO
Perkenalkan, nama gw Raden Fajar Putro Mangkudiningrat Laksana...Bohong deng, kepanjangan...sebut aja gw Fajar. Tinggi 175 cm berat 58kg. bisa disebut kurus karena tinggi dan berat badan gw ga proposional.
. Gw ROCKER...!! Pastinya Rocker Kelaparan.Gw terlahir dari keluarga biasa saja yang serba "Cukup". dalam arti "cukup" buat beli rumah gedongan, "cukup" buat beli mobil Mewah sekelas Mercy. (ini jelas jelas bohong). yang pasti gw bersyukur dilahirkan dari keluarga ini.
Gw Anak pertama dari 3 bersaudara. Adik adik gw semuanya perempuan. Gw keturunan Janda alias Jawa Sunda. Bokap asli dari Jepara bumi Kartini. Tempatnya para pengrajin kayu yang terkenal di Nusantara bahkan diakui oleh Dunia. Tapi bokap gw bukan pengusaha mebel seperti kebanyakan orang Jepara. Nyokap gw asli Sumedang Kota yang terkenal dengan TAHU nya. Tapi wajahnya sama sekali nggak mirip tahu ya. Sunda tulen nan cantik jelita. Beliau bidadari gw nomer "1" di dunia ini.
Spoiler for INDEKS:
Spoiler for INDEKSII:
Diubah oleh javiee 06-04-2015 23:49
manusia.baperan dan 4 lainnya memberi reputasi
3
729.2K
2.9K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.3KAnggota
Tampilkan semua post
TS
javiee
#583
PART 38
Matahari pagi begitu cerahnya memancar ke seluruh sudut kota. Cahayanya yang terang itu perlahan lahan menerpa wajah gw hingga mata ini menyipit karenanya. Alunan nyanyian burung terasa bernada di telinga gw. Entah nadanya "DO-MI-SOL" atau "SOL-DO-MI" atau "SO-DO-MI". Entahlah...
Gw tidak mempedulikan kicauan burung itu bernada apa, yang gw lakukan hanya terus berjalan melangkahkan kaki ini. Hingga akhirnya langkah gw terhenti di sebuah gerbang STM tercinta...Seketika tubuh ini diam tak bergeming. Hanya tatapan kosong disertai fikiran yang pergi jauh melayang.
Fenomena itupun menjadi menu pembuka sebuah pertanyaan di dalam otak gw. Ya, pertanyaan akan seorang gadis yang ikut memberikan kesaksian ketika gw dan Dedi terlibat tawuran kemarin. Siapa gadis itu??? Siapa...??
Firasat gw mengatakan bahwa gadis itu adalah Niar. Tapi apa mungkin? Kalaupun benar dia orangnya, mengapa tak sekalipun dia menemui gw? Gw sama sekali tidak mengerti...Mungkin dia sudah tak sudi lagi untuk sekedar bertatapan wajah dengan makhluk seperti gw ini.
'Mungkin.....'
Lamunan gw tiba tiba buyar ketika seekor anak simpanze datang dengan motor Kirananya ke arah gw sambil cengar cengir nggak jelas. Namun senyuman anak simpanze itu seperti ada sedikit keganjilan. Ada yang berbeda dari mulutnya dia. Dan ketika dia mendekat, terlihatlah dengan jelas bibir bagian atasnya agak melendung, atau bisa disingkat Jontor!! Itu semua pasti akibat tawuran kemarin siang.
"Woi Jar..."
"......." Gw diem.
"Gw kira nginep lu di POLSEK....hahaha"
Gw tidak menghiraukan simpanze itu lantas berjalan memasuki sekolah. Lalu gw duduk mengampar di depan kelas. Mata ini bergerilya memperhatikan setiap sudut sekolah. Sepi....Hanya beberapa cucunguk dan para guru yang baru hadir saat itu.
Mungkin hari ini gw mencatatkan rekor datang paling pagi selama 2 tahun bersekolah disini.
Kemudian anak simpanze itu kembali muncul dengan mimik wajah yang sama seperti tadi. Bahkan kali ini mulutnya terlihat semakin lebar hingga 3/4 wajahnya tertutup bibir. Tidak...tidak..!! Sepertinya itu hanya ilusi...
Kalo gw sih malu...bibir jontor gitu cengar cengir nggak jelas...haha.
"Jar Nggak apa apa lu?" tanya dia.
"Nggak apa apa gw mah...Cuma lecet dikit doang. Nih...." Jawab gw sambil menunjukkan beberapa luka kecil di wajah gw.
"Lu ngapa bisa ketangkep??"
"SATGAS Ded...tau sendiri kan lu. Nggak keciri petugas dia mah. Tiba tiba aja narik gw pas gw lari. Langsung di giring dah gw ke POLSEK..!!" Penjelasan gw.
"Hahaha...Eh Jar, yang bawa Samurai ketangkep nggak?" Tanya dia lagi.
"Kagak Ded...tapi yang mukanya 'tua' kaya elu ketangkep. Hahaha"
"Kampreeett Lu!!." Gerutu dia.
"Hahaha...." Gw tertawa.
"Belakang yu Jar...belum nyarap nih gw" Ajak dia.
"Ayo dah..."
Gw dan Dedi pun pergi menuju kantin belakang. Tentu saja untuk sarapan pagi dilanjutkan dengan ritual membuat kepulan asap.
"Ada korek Jar?" Tanya Dedi.
"Nih....." sahut gw memberikan sebuah korek T*kai.
"Gw dah ngeri aja tuh Jar pas dia ngeluarin samurai. Lawan 2 orang aja sampe pake begituan.." Ujarnya sambil menggelengkan kepala.
"Untungnya lu ngasih tau gw. Kalo nggak...gw jadi apaan nih sekarang." Ujar gw.
"Tapi kayanya nggak berani juga dia buat ngelukain orang pake gituan. Paling buat tameng doaang..." Ujarnya.
"Mata Lo soeekk...Jelas jelas tu SM ampir nancep di kepala gw. Untung ajaa gw ngeles. Tas gw yang kena."
"Ahh masa iya Jar?"
"Serius gw, ampe sobek kebelah dua itu tas..."
"Hahaha untung bukan palalu yang kebelah..."
"Hahahaha...." Kami berdua pun tertawa.
Ditengah obrolan garing itu, tiba tiba jimbot bergetar pertanda ada telefon masuk. Sudah bisa ditebak itu pasti dari Bunga. Gw tidak mengangkatnya... Cukup dengan memperhatikan layarnya saja. Sengaja gw berbuat seperti itu sebab gw ingin sedikit mengerjai dia tepat di hari ulang tahunnya ini. Getaran itu kemudian berhenti dan nampak tulisan '1 misses call' di layar jimbot.
Kembali gw melanjutkan perbincangan dengan Dedi sembari ngebul.
"Ga diangkat Jar?" Tanya Dedi.
"Biarin aja...pengen gw kerjain. haha" jawab gw.
"Wah parah lu..."
"Ded, ntar siang nyari lagi ya..."
"Nyari apaan? " tanya dia.
"Kado coy...kan kemaren belum dapet. Sekarang dah hari-H nih.." Ujar gw.
"Nyari dimana?"
"Kemana kek...kita puterin Bogor aja. Ntar gw tambahin buat bensin motor lu. Ok??"
Dia tidak langsung mengiyakan ajakan gw. Dia tampak berfikir sejenak. Namun akhirnya dia setuju dengan ajakan gw.
"Oke lah...."
...…………………………………
.....................……………..
6 jam sudah hari itu gw lewati di sekolah. Dan sekarang waktunya gw pulang lanjut mencari kado untuk seorang bidadari tercinta. Dedi sudah menunggu gw di depan gerbang sekolah dengan motor Kirananya. Gw segera berjalan menghampiri dia.
"Lu yang bawa nih Jar..." Ujarnya.
"Ogah Ded...kagok gw bawa motor lu...setangnya miring!! sama kaya otak lu.."
"Jahh gini gini juga motor keramat babeh gw Jar!!"
"Babeh lu mulu dibawa bawa Ded...Bentar bentar Babeh, dikit dikit Babeh.....heran gw sama lu.." Ujar gw.
"Hahaha...yaudah nyok jalan"
Kami berdua akhirnya berangkat ditemani dengan sebatang rokok yang menghiasi mulut kami berdua. Motor yang dikendarai Dedi berjalan santai dan pelan. Hanya sekitar 40km/jam kecepatan laju motor.
Perjalanan dimulai menuju ke arah timur, lanjut melintang ke barat. Entah sudah berapa lama kami berputar putar. Setiap jalan sudah gw lalui, dan puluhan lampu merah sukses dilewati. Tetapi gw sama sekali belum menemukan hadiah yang tepat untuk Bunga.
Sebenarnya ada sih beberapa toko yang sudah gw singgahi, mulai toko mainan, toko pakaian, toko parfum, distro, sampai butik terkenal di Bogor. Namun 'budget' tidak sesuai dengan kondisi kantong gw.
Maklum lah...Gw mah apa atuh. Cuma modal ganteng doang, duit mah nggak ada. Hahaha...(GANTENG : GANGGUAN TELINGA. CATET!!)
Ketika di atas motor, jimbot ini terasa bergetar beberapa kali. Karena gw sudah tau orang yang menelfon siapa, maka gw tidak menghiraukannya. Gw lihat layar jimbot, disitu tertera satu sms masuk dari Bunga. Sudah bisa ditebak isi sms dari dia itu :
"Kamu dimana? Sama siapa? Sedang berbuat apa?"
Kurang lebih seperti itu isi sms dari Bunga. Cenderung mirip dengan sebuah lagu yang dipopulerkan oleh Band melayu Indonesia. Tak perlu gw beri tahu, karena kalian pasti sudah mengetahuinya...
Sepertinya gw harus bergerak lebih cepat lagi untuk menunaikan tugas ini. Masih ada dua tujuan lagi yang belum gw singgahi. Yaitu arah utara, dan selatan.
Setelah mondar mandir, hasilnya tetap sama...gw belum dapet apa apa dari hasil pencarian gw yang memakan waktu kurang lebih hampir satu jam. Lalu kami pun memutuskan untuk istirahat sejenak di warung rokok pinggir jalan.
"Jar...mau nyari kemana lagi nih??" Tanya Dedi.
"Aduuh...kemana ya Ded? Gw bingung nih mau beliin apa..." jawab gw.
"Yailah Jar...Tentuin aja lu mau beli apaan. Baru dah kita nyari..."
"Maka dari itu gw bingung...Beliin apa ya Ded? Kasih solusi dong..."
"Terserah lu Jar."
"Ahh...Lu daritadi bilangnya terserah mulu jadi makin bingung gw..."
"Yaudah, beli rokok aja dulu sana. Biar pinter otak lu...hahaha."
Tanpa fikir panjang lagi gw langsung menuju warung. Dua batang rokok, dan dua gelas air mineral sudah gw beli.
Sambil menikmati rokok, kepala gw bergerak tengok kanan dan kiri. Dan gw melihat sebuah toko boneka yang cukup besar di seberang jalan. Entah gw mendapat perintah darimana, gw pun perlahan menyebrangi jalan menuju toko tersebut.
Dimulai dengan menyebut 'Bismillah', gw memasuki toko. Gw mulai mengelilingi toko melihat lihat koleksi bonekanya. Gw perhatikan satu persatu boneka yang tertata rapih di rak besar. Tak jarang juga gw bertanya pada penjaga toko perihal harga setiap barang. Ya, sudah cukup jelas karena gw hanya mempunyai budget terbatas.
Mata gw terhenti di salah satu boneka kucing mirip garfield sedang selonjoran. Tanpa basa basi, gw langsung mengambil boneka itu lalu menuju meja kasir.
Kenapa harus kucing?? Ya, karena gw orang yang menyukai kucing sehingga gw membelinya. Ditambah harganya yang sesuai dengan isi kantong gw.
Olraiitss...kado untuk Bunga pun sudah gw dapatkan. Gw bergegas keluar toko menuju Dedi yang telah menunggu gw selama di dalam toko.
"Ded....gimana..lucu ga?" Tanya gw smbil memperlihatkan boneka kucing itu.
"Lumayan Jar...Lucu! kayak muka Lu."
"Kampreet Lu Ded...."
"Yaudah yuk cabut" Ajak Dedi.
"Nyok...." sahut gw.
Belum sempat gw menaiki motor, lagi lagi jimbot ini bergetar. Mungkin bidadari No.2 gw sudah khawatir sedari tadi karena gw sama sekali tak menghiraukannya. Seketika akal bulus itu pun hinggap di dalam otak gw. Oke, gw ingin benar benar mengerjainya...
Dan permainan pun dimulai....
"Ded....dia nelefon nihh....!!"
"Lah...ngapa ngomong ke gw? Bukannya lu angkat!" Ujarnya.
"Nggak Ded, gw mau ngerjain dia..."
"Parah lu Jar...ngerjain gimana??"
"Lu bisa suara ngondek ga?? tanya gw.
"Njiiirr...lu kira gw banci?"
"Nggak...nggak..Bukannya gitu, lu pura pura aja. Jadi, pas dia nelfon lagi, lu yang angkat. Pake suara ngondek...Lu pake nama siapa kek...Ngaku ngaku aja. Gimana??"
"Aneh aneh aja lu Jar...!!" Ujarnya.
"Haha....Coba jajal dulu, gw pengen denger" Pinta gw.
"Ekhem...Ekhem.....'HALOO'..." Dedi menjajalnya dengan suara yang berbeda.
"Aahh...Masih ngebass suara lu!! coba naikin satu oktaf lagi." Perintah gw.
"Ribet lu ah!!......'HALOO'...." Dedi kembali menjajalnya.
"Emmm....masih kurang!! Coba Falsetto Ded!!"
"Oke....'HALOO'...."
"Dikiiiit lagi Ded...naikin lagi."
"HALOO..."
"Aahh...terlalu cempreng bahlul...!!" Ujar gw.
"Asliii ngeselin lu Jar...!!" Dedi menggerutu.
"Hahaha...Coba turunin dikit Ded setengah oktaf..."
"Ya ampuuunnn.......'HALOO'..."
"Nahhhh itu....Itu dia Ded!! Jadi keliatan cantik lu..Hahaha" Gw ngakak.
"Lu mau ngerjain gw apa ngerjain dia??? Aah!!" Gerutu Dedi.
"Yailah...sekalian coyy. Haha."
Tak perlu menunggu lama lagi, akhirnya Bunga kembali menelfin gw. Jimbot gw serahkan ke Dedi yang akan berpura pura sebagai wanita jadi jadian.
"Ded!! Doi nelfon!!! buru angkat Nihh..." Ujar gw menyerahkan jimbot kepadanya.
"Okeee....."
" Eh bentar Ded, motor lu nyalain. Biar seolah olah lagi di atas motor.
"Yaudah...Jar, ngomong apaan Nih???" Tanya dia lagi.
"Terserah lu dah improvisasi aja. Jangan lupa loudspeaker." Jawab gw.
Akhirnya telefon dari Bunga pun di angkat juga. Tapi jelas bukan gw yang mengangkatnya. Melainkan Dedi....
Tentunya dia bicara atas arahan dari gw.
"HALOOO" Ucap Dedi dengan nada ngondek.
“Haloo....Kamu kemana aja???” Tanya Bunga dari seberang sana.
“EH MAAF INI SIAPA YA?” ucap Dedi.
“Loh....Kok Cewe?? Elu siapaaa?? Fajarnya mana??” Tanya Bunga.
“KOK MALAH BALIK NANYA GW??” Ujar Dedi.
“Heh...!! Elu siapa?? Cowo gua manaa??” Tanya Bunga dengan nada tinggi. Sepertinya dia sudah mulai terpancing.
“GW MELLY...COWO YANG MANA MBAK?” Dedi kembali bertanya.
“Fajaar....Fajarnya mana???” Tanya Bunga lagi. Keadaan mulai memanas.
“OOH ADA NIH LAGI BAWA MOTOR DIANYA. MAKA DARI ITU GW YANG NGANGKAT.” Jawab Dedi.
“Haahh??? Dia itu nggak bawa motor kali...Lu siapanya Fajar??” Tanya Bunga lagi.
“LOH SITU SIAPANYA FAJAR JUGA??” Kembali Dedi balik bertanya.
Pertanyaan Dedi tak dijawab oleh Bunga, karena telefon langsung ditutup sepihak olehnya. Sepertinya gw berhasil mengerjai dia...
Gw hanya menahan tawa disaat mereka berdua mengobrol...Tapi, apakah ini terlalu berlebihan? Sepertinya tidak...karena ini hanya sebuah sandiwara.
Ya, sandiwara untuk membuat kejutan kecil kepada Bunga.
“Gimana Jar?? Doi kena tuh sama omongan gw. Hahaa” Ujar Dedi.
“Hahaha....asli cantik Lu Ded ngomong kaya begitu...”
“Jiah...kagak pake cantik juga kali Jar...”
“Hahaha...yaudah sekarang anterin gw sampe rumahnya dia yaak...” Pinta gw.
“Hah....?? Ogah amat gw..!” Dedi menolak.
“Yailah Deed, ntar gw tambahin lagi bensin mah gampang!!” Bujuk gw.
“Kambing conge dong gw??”
“Ya nggak Ded, abis itu lu balik juga nggak apa apa terserah...” Ujar gw.
“Okelah....Jangan lupa ya full tank!!”
“Iya udah tenang bae ahh..!!”
Perjalanan kembali dilanjut, kali ini tujuan kami menuju kediaman seorang gadis yang baru saja gw kerjai. Atas permintaan dari gw, Dedi membawa motor dengan sangat cepat. Selap selip di jalanan kota Bogor yang saat itu agak sepi.
Gw sudah tak sabar ingin bertemu dengan Bunga,
Gw ingin cepat cepat memberikan ‘kado’ ini untuknya..
Gw ingin tahu, bagaimana tanggapan dia dengan ‘kado’ yang gw berikan.
Dan gw juga ingin melihat ekspresinya ketika mengetahui sosok ‘Melly’ yang sebenarnya.
Setelah memakan waktu selama 30 menit, akhirnya kami berdua tiba di depan sebuah rumah yang masih dalam proses pembangunan. Dedi memilih menunggu gw di samping tak jauh dari rumah tersebut. Gw melongok ke arah teras depan rumahnya dia. Sepi....
Biasanya ada beberapa mas mas yang bekerja, tapi kali ini keadaan teras kosong melompong. Kemudian gw mengucap salam beberapa kali. Masih belum ada jawaban dari penghuni disini.
Justru yang keluar malah salah satu Mas mas yang gw kenal sebagai tukang disini.
“Mas...Bunganya ada?” Tanya gw.
“Ada...Bentar Tak panggilin dulu.” Jawabnya.
Tak lama Bunga pun muncul.Bukan senyum seperti biasanya ketika gw datang, melainkan wajah cemberut yang dia perlihatkan. Gw sudah menduga akan seperti ini sebelumnya. Tapi ini semua hanya sebuah kejutan kecil untuknya...
Ya, kejutan yang aneh!!
“Ngapain kamu kesini...??” Tanya dia dengan wajah bete.
“Selamat ulang tahuuuunn....” Ucap gw, lalu menggenggam kedua tangannya.
“Semoga panjang umur, sehat selalu, dimudahkan rezekinya, dilancarkan urusannya, dan selalu dalam lindungan Allah SWT....”
“Kamuu......” Perlahan bibir tipis itupun menampakkan sebuah senyuman.
“Makasih yaa....Tapi kamu jahat sama akuu...” Ucap dia merengek..
“Jahat kenapa Bunga?” Tanya gw.
“Iya...Melly itu siapa? Tadi aku telefon kamu yang ngangkat dia...”
“Oh, dia temen aku kok...”
“Bohong!! Fajar pasti bohong...”
“......”
Gw hanya tersenyum mendengar ucapannya yang mengatakan gw bohong
Lalu gw keluar, memanggil Dedi yang menunggu gw di samping rumah.
“Nih...aku ajak Melly kesini kok...” Ucap gw sambil nyengir.
“Hah??” Bunga melongo.
Kemudian Dedi pun muncul di hadapan dia...
“Aaaaaaaa.....Fajarnya jahaaat. Bunga dikerjain...!!”
“Hahaha....Surpriiseee...”
“Surprise apaan...Bunga kena tipu gini dibilang surprise...” Ucapnya merengek.
“Hehee....sini Lu Ded, ngapain lu malah bengong aje.” Ujar gw pada Dedi.
Gw perhatikan Dedi masih bengong. Entah dia itu kenapa tiba tiba mangap sambil planga plongo ketika melihat Bunga.
AAhh...penyakit ini mah namanya...penyakit!!
“Bunga, kenalin ini temen aku...”
Lalu mereka pun bersalaman saling memperkenalkan diri.
“Oh, namanya Dedi, kirain Melly...nggak taunya Melly jadi jadian ya...” Ujar Bunga kepada Dedi.
Dedi hanya cengar cengir ketika Bunga bicara seperti itu. Lalu...
“Jar...keluar dulu bentar..”
“Eh ngapain?” Tanya gw.
“Udah ikut gw bentar...”
Gw mengikuti Dedi keluar. Sepertinya ada yang ingin dia sampaikan kepada gw.
“Eh,, lu dapet yang kaya begitu darimana??”
“Jiahh...kenapa lu nanya gitu?”
“Haha...nggak apa apa. Heran aja gw sama lu...Gw langsung balik ya Jar.” Ujarnya kemudian menaiki motornya.
“Oke lah...Makasih banyak Ded dah bantuin gw...Nih, buat gantiin bensin lu.” Ucap gw sambil memberikan sepuluhribu rupiah padanya.
“Udah Jar nggak usah....masih cukup bensin mah.” Ujarnya.
“Yailah masih aja lu malu malu sama gw...Udah nih pegang!!” Gw memaksa.
“Oke, gw terima ya...Yaudah gw cabut dulu Jar. Salam tuh buat si cantik. Hahahaha” Dedi pun pamit.
“Haha...sip Ded...makasih!!”
Gw kembali masuk ke dalam rumah dan duduk di sebelah Bunga.
“Loh temen kamu pulang ya?” Tanya dia.
“Iya, dah sore katanya...Oya, aku ada sesuatu nih buat kamu.”
“Heee.....”
Gw merogoh rogoh isi tas. Dan mengeluarkan boneka kucing sebagai hadiah untuk Bunga di hari ulang tahunnya.
“Ini buat kamu.....”
“Aaaa....Kuciiiing...lucu banget!!” Ujarnya kagum.
“Hehe...maaf ya, aku Cuma bisa ngasih ini...” Ucap gw.
“Kok gituu?? Justru aku seneng...Aku juga suka kucing...makasih ya...” Ujarnya sembari memeluk boneka itu.
Hah...syukurlah...sepertinya Bunga menyukai hadiah pemberian dari gw. Kali ini terlihat wajahnya nampak sumringah dihiasi senyum kebahagiaan.
Gw pun turut merasakannya...merasakan kebahagiaan seperti yang dia rasakan.
Gw bersyukur dipertemukan dengan gadis seperti dia...Gw bersyukur bisa memilikinya. Dia gadis yang baik. Dengan segala kepolosan dan keluguannya, dia menghiasi hari hari gw. Karena hal itu, gw jadi semakin menyayanginya.
Entah berapa lama gw mengobrol dengannya, becanda, tertawa bersama, hingga tak terasa hari sudah mulai gelap, dan gw harus segera pulang.
“Bunga...aku pulang dulu ya...” Ucap gw.
“Yaah...aku masih mau sama kamu...”
“Besok lagi kan bisa....Hehee...”
“Yaudah kalo gitu...”
“Nggak apa apa kan kalo akunya pulang...”
“Iya....Emmm....Aku boleh panggil kamu....’Sayang’....” Ujarnya.
“Hee...iya boleh kok...” Jawab gw singkat.
“Makasih ya Sayaaang....Makasih boneka kucingnya....”
“Iyaa...sama sama sayaang...” Balas gw.
Gw membereskan tas serta jaket gw bersiap untuk pulang.
Sesaat sebelum gw pulang gw kembali mendekat ke arah dia.
Naluri itu tiba tiba muncul...
Gw pegang lembut wajahnya, kemudian satu kecupan hangat mendarat di keningnya...Dia membalasnya dengan senyuman manis seraya mengucapkan ‘Terima Kasih’
Ini sebuah pertanda, kalau gw sangat menyayanginya...Bahkan gw mencintainya...
Iya....gw mencintainya....
Gw tidak mempedulikan kicauan burung itu bernada apa, yang gw lakukan hanya terus berjalan melangkahkan kaki ini. Hingga akhirnya langkah gw terhenti di sebuah gerbang STM tercinta...Seketika tubuh ini diam tak bergeming. Hanya tatapan kosong disertai fikiran yang pergi jauh melayang.
Fenomena itupun menjadi menu pembuka sebuah pertanyaan di dalam otak gw. Ya, pertanyaan akan seorang gadis yang ikut memberikan kesaksian ketika gw dan Dedi terlibat tawuran kemarin. Siapa gadis itu??? Siapa...??
Firasat gw mengatakan bahwa gadis itu adalah Niar. Tapi apa mungkin? Kalaupun benar dia orangnya, mengapa tak sekalipun dia menemui gw? Gw sama sekali tidak mengerti...Mungkin dia sudah tak sudi lagi untuk sekedar bertatapan wajah dengan makhluk seperti gw ini.
'Mungkin.....'
Lamunan gw tiba tiba buyar ketika seekor anak simpanze datang dengan motor Kirananya ke arah gw sambil cengar cengir nggak jelas. Namun senyuman anak simpanze itu seperti ada sedikit keganjilan. Ada yang berbeda dari mulutnya dia. Dan ketika dia mendekat, terlihatlah dengan jelas bibir bagian atasnya agak melendung, atau bisa disingkat Jontor!! Itu semua pasti akibat tawuran kemarin siang.
"Woi Jar..."
"......." Gw diem.
"Gw kira nginep lu di POLSEK....hahaha"
Gw tidak menghiraukan simpanze itu lantas berjalan memasuki sekolah. Lalu gw duduk mengampar di depan kelas. Mata ini bergerilya memperhatikan setiap sudut sekolah. Sepi....Hanya beberapa cucunguk dan para guru yang baru hadir saat itu.
Mungkin hari ini gw mencatatkan rekor datang paling pagi selama 2 tahun bersekolah disini.
Kemudian anak simpanze itu kembali muncul dengan mimik wajah yang sama seperti tadi. Bahkan kali ini mulutnya terlihat semakin lebar hingga 3/4 wajahnya tertutup bibir. Tidak...tidak..!! Sepertinya itu hanya ilusi...
Kalo gw sih malu...bibir jontor gitu cengar cengir nggak jelas...haha.
"Jar Nggak apa apa lu?" tanya dia.
"Nggak apa apa gw mah...Cuma lecet dikit doang. Nih...." Jawab gw sambil menunjukkan beberapa luka kecil di wajah gw.
"Lu ngapa bisa ketangkep??"
"SATGAS Ded...tau sendiri kan lu. Nggak keciri petugas dia mah. Tiba tiba aja narik gw pas gw lari. Langsung di giring dah gw ke POLSEK..!!" Penjelasan gw.
"Hahaha...Eh Jar, yang bawa Samurai ketangkep nggak?" Tanya dia lagi.
"Kagak Ded...tapi yang mukanya 'tua' kaya elu ketangkep. Hahaha"
"Kampreeett Lu!!." Gerutu dia.
"Hahaha...." Gw tertawa.
"Belakang yu Jar...belum nyarap nih gw" Ajak dia.
"Ayo dah..."
Gw dan Dedi pun pergi menuju kantin belakang. Tentu saja untuk sarapan pagi dilanjutkan dengan ritual membuat kepulan asap.
"Ada korek Jar?" Tanya Dedi.
"Nih....." sahut gw memberikan sebuah korek T*kai.
"Gw dah ngeri aja tuh Jar pas dia ngeluarin samurai. Lawan 2 orang aja sampe pake begituan.." Ujarnya sambil menggelengkan kepala.
"Untungnya lu ngasih tau gw. Kalo nggak...gw jadi apaan nih sekarang." Ujar gw.
"Tapi kayanya nggak berani juga dia buat ngelukain orang pake gituan. Paling buat tameng doaang..." Ujarnya.
"Mata Lo soeekk...Jelas jelas tu SM ampir nancep di kepala gw. Untung ajaa gw ngeles. Tas gw yang kena."
"Ahh masa iya Jar?"
"Serius gw, ampe sobek kebelah dua itu tas..."
"Hahaha untung bukan palalu yang kebelah..."
"Hahahaha...." Kami berdua pun tertawa.
Ditengah obrolan garing itu, tiba tiba jimbot bergetar pertanda ada telefon masuk. Sudah bisa ditebak itu pasti dari Bunga. Gw tidak mengangkatnya... Cukup dengan memperhatikan layarnya saja. Sengaja gw berbuat seperti itu sebab gw ingin sedikit mengerjai dia tepat di hari ulang tahunnya ini. Getaran itu kemudian berhenti dan nampak tulisan '1 misses call' di layar jimbot.
Kembali gw melanjutkan perbincangan dengan Dedi sembari ngebul.
"Ga diangkat Jar?" Tanya Dedi.
"Biarin aja...pengen gw kerjain. haha" jawab gw.
"Wah parah lu..."
"Ded, ntar siang nyari lagi ya..."
"Nyari apaan? " tanya dia.
"Kado coy...kan kemaren belum dapet. Sekarang dah hari-H nih.." Ujar gw.
"Nyari dimana?"
"Kemana kek...kita puterin Bogor aja. Ntar gw tambahin buat bensin motor lu. Ok??"
Dia tidak langsung mengiyakan ajakan gw. Dia tampak berfikir sejenak. Namun akhirnya dia setuju dengan ajakan gw.
"Oke lah...."
...…………………………………
.....................……………..
6 jam sudah hari itu gw lewati di sekolah. Dan sekarang waktunya gw pulang lanjut mencari kado untuk seorang bidadari tercinta. Dedi sudah menunggu gw di depan gerbang sekolah dengan motor Kirananya. Gw segera berjalan menghampiri dia.
"Lu yang bawa nih Jar..." Ujarnya.
"Ogah Ded...kagok gw bawa motor lu...setangnya miring!! sama kaya otak lu.."
"Jahh gini gini juga motor keramat babeh gw Jar!!"
"Babeh lu mulu dibawa bawa Ded...Bentar bentar Babeh, dikit dikit Babeh.....heran gw sama lu.." Ujar gw.
"Hahaha...yaudah nyok jalan"
Kami berdua akhirnya berangkat ditemani dengan sebatang rokok yang menghiasi mulut kami berdua. Motor yang dikendarai Dedi berjalan santai dan pelan. Hanya sekitar 40km/jam kecepatan laju motor.
Perjalanan dimulai menuju ke arah timur, lanjut melintang ke barat. Entah sudah berapa lama kami berputar putar. Setiap jalan sudah gw lalui, dan puluhan lampu merah sukses dilewati. Tetapi gw sama sekali belum menemukan hadiah yang tepat untuk Bunga.
Sebenarnya ada sih beberapa toko yang sudah gw singgahi, mulai toko mainan, toko pakaian, toko parfum, distro, sampai butik terkenal di Bogor. Namun 'budget' tidak sesuai dengan kondisi kantong gw.
Maklum lah...Gw mah apa atuh. Cuma modal ganteng doang, duit mah nggak ada. Hahaha...(GANTENG : GANGGUAN TELINGA. CATET!!)
Ketika di atas motor, jimbot ini terasa bergetar beberapa kali. Karena gw sudah tau orang yang menelfon siapa, maka gw tidak menghiraukannya. Gw lihat layar jimbot, disitu tertera satu sms masuk dari Bunga. Sudah bisa ditebak isi sms dari dia itu :
"Kamu dimana? Sama siapa? Sedang berbuat apa?"
Kurang lebih seperti itu isi sms dari Bunga. Cenderung mirip dengan sebuah lagu yang dipopulerkan oleh Band melayu Indonesia. Tak perlu gw beri tahu, karena kalian pasti sudah mengetahuinya...
Sepertinya gw harus bergerak lebih cepat lagi untuk menunaikan tugas ini. Masih ada dua tujuan lagi yang belum gw singgahi. Yaitu arah utara, dan selatan.
Setelah mondar mandir, hasilnya tetap sama...gw belum dapet apa apa dari hasil pencarian gw yang memakan waktu kurang lebih hampir satu jam. Lalu kami pun memutuskan untuk istirahat sejenak di warung rokok pinggir jalan.
"Jar...mau nyari kemana lagi nih??" Tanya Dedi.
"Aduuh...kemana ya Ded? Gw bingung nih mau beliin apa..." jawab gw.
"Yailah Jar...Tentuin aja lu mau beli apaan. Baru dah kita nyari..."
"Maka dari itu gw bingung...Beliin apa ya Ded? Kasih solusi dong..."
"Terserah lu Jar."
"Ahh...Lu daritadi bilangnya terserah mulu jadi makin bingung gw..."
"Yaudah, beli rokok aja dulu sana. Biar pinter otak lu...hahaha."
Tanpa fikir panjang lagi gw langsung menuju warung. Dua batang rokok, dan dua gelas air mineral sudah gw beli.
Sambil menikmati rokok, kepala gw bergerak tengok kanan dan kiri. Dan gw melihat sebuah toko boneka yang cukup besar di seberang jalan. Entah gw mendapat perintah darimana, gw pun perlahan menyebrangi jalan menuju toko tersebut.
Dimulai dengan menyebut 'Bismillah', gw memasuki toko. Gw mulai mengelilingi toko melihat lihat koleksi bonekanya. Gw perhatikan satu persatu boneka yang tertata rapih di rak besar. Tak jarang juga gw bertanya pada penjaga toko perihal harga setiap barang. Ya, sudah cukup jelas karena gw hanya mempunyai budget terbatas.
Mata gw terhenti di salah satu boneka kucing mirip garfield sedang selonjoran. Tanpa basa basi, gw langsung mengambil boneka itu lalu menuju meja kasir.
Kenapa harus kucing?? Ya, karena gw orang yang menyukai kucing sehingga gw membelinya. Ditambah harganya yang sesuai dengan isi kantong gw.
Olraiitss...kado untuk Bunga pun sudah gw dapatkan. Gw bergegas keluar toko menuju Dedi yang telah menunggu gw selama di dalam toko.
"Ded....gimana..lucu ga?" Tanya gw smbil memperlihatkan boneka kucing itu.
"Lumayan Jar...Lucu! kayak muka Lu."
"Kampreet Lu Ded...."
"Yaudah yuk cabut" Ajak Dedi.
"Nyok...." sahut gw.
Belum sempat gw menaiki motor, lagi lagi jimbot ini bergetar. Mungkin bidadari No.2 gw sudah khawatir sedari tadi karena gw sama sekali tak menghiraukannya. Seketika akal bulus itu pun hinggap di dalam otak gw. Oke, gw ingin benar benar mengerjainya...
Dan permainan pun dimulai....
"Ded....dia nelefon nihh....!!"
"Lah...ngapa ngomong ke gw? Bukannya lu angkat!" Ujarnya.
"Nggak Ded, gw mau ngerjain dia..."
"Parah lu Jar...ngerjain gimana??"
"Lu bisa suara ngondek ga?? tanya gw.
"Njiiirr...lu kira gw banci?"
"Nggak...nggak..Bukannya gitu, lu pura pura aja. Jadi, pas dia nelfon lagi, lu yang angkat. Pake suara ngondek...Lu pake nama siapa kek...Ngaku ngaku aja. Gimana??"
"Aneh aneh aja lu Jar...!!" Ujarnya.
"Haha....Coba jajal dulu, gw pengen denger" Pinta gw.
"Ekhem...Ekhem.....'HALOO'..." Dedi menjajalnya dengan suara yang berbeda.
"Aahh...Masih ngebass suara lu!! coba naikin satu oktaf lagi." Perintah gw.
"Ribet lu ah!!......'HALOO'...." Dedi kembali menjajalnya.
"Emmm....masih kurang!! Coba Falsetto Ded!!"
"Oke....'HALOO'...."
"Dikiiiit lagi Ded...naikin lagi."
"HALOO..."
"Aahh...terlalu cempreng bahlul...!!" Ujar gw.
"Asliii ngeselin lu Jar...!!" Dedi menggerutu.
"Hahaha...Coba turunin dikit Ded setengah oktaf..."
"Ya ampuuunnn.......'HALOO'..."
"Nahhhh itu....Itu dia Ded!! Jadi keliatan cantik lu..Hahaha" Gw ngakak.
"Lu mau ngerjain gw apa ngerjain dia??? Aah!!" Gerutu Dedi.
"Yailah...sekalian coyy. Haha."
Tak perlu menunggu lama lagi, akhirnya Bunga kembali menelfin gw. Jimbot gw serahkan ke Dedi yang akan berpura pura sebagai wanita jadi jadian.
"Ded!! Doi nelfon!!! buru angkat Nihh..." Ujar gw menyerahkan jimbot kepadanya.
"Okeee....."
" Eh bentar Ded, motor lu nyalain. Biar seolah olah lagi di atas motor.
"Yaudah...Jar, ngomong apaan Nih???" Tanya dia lagi.
"Terserah lu dah improvisasi aja. Jangan lupa loudspeaker." Jawab gw.
Akhirnya telefon dari Bunga pun di angkat juga. Tapi jelas bukan gw yang mengangkatnya. Melainkan Dedi....
Tentunya dia bicara atas arahan dari gw.
"HALOOO" Ucap Dedi dengan nada ngondek.
“Haloo....Kamu kemana aja???” Tanya Bunga dari seberang sana.
“EH MAAF INI SIAPA YA?” ucap Dedi.
“Loh....Kok Cewe?? Elu siapaaa?? Fajarnya mana??” Tanya Bunga.
“KOK MALAH BALIK NANYA GW??” Ujar Dedi.
“Heh...!! Elu siapa?? Cowo gua manaa??” Tanya Bunga dengan nada tinggi. Sepertinya dia sudah mulai terpancing.
“GW MELLY...COWO YANG MANA MBAK?” Dedi kembali bertanya.
“Fajaar....Fajarnya mana???” Tanya Bunga lagi. Keadaan mulai memanas.
“OOH ADA NIH LAGI BAWA MOTOR DIANYA. MAKA DARI ITU GW YANG NGANGKAT.” Jawab Dedi.
“Haahh??? Dia itu nggak bawa motor kali...Lu siapanya Fajar??” Tanya Bunga lagi.
“LOH SITU SIAPANYA FAJAR JUGA??” Kembali Dedi balik bertanya.
Pertanyaan Dedi tak dijawab oleh Bunga, karena telefon langsung ditutup sepihak olehnya. Sepertinya gw berhasil mengerjai dia...
Gw hanya menahan tawa disaat mereka berdua mengobrol...Tapi, apakah ini terlalu berlebihan? Sepertinya tidak...karena ini hanya sebuah sandiwara.
Ya, sandiwara untuk membuat kejutan kecil kepada Bunga.
“Gimana Jar?? Doi kena tuh sama omongan gw. Hahaa” Ujar Dedi.
“Hahaha....asli cantik Lu Ded ngomong kaya begitu...”
“Jiah...kagak pake cantik juga kali Jar...”
“Hahaha...yaudah sekarang anterin gw sampe rumahnya dia yaak...” Pinta gw.
“Hah....?? Ogah amat gw..!” Dedi menolak.
“Yailah Deed, ntar gw tambahin lagi bensin mah gampang!!” Bujuk gw.
“Kambing conge dong gw??”
“Ya nggak Ded, abis itu lu balik juga nggak apa apa terserah...” Ujar gw.
“Okelah....Jangan lupa ya full tank!!”
“Iya udah tenang bae ahh..!!”
Perjalanan kembali dilanjut, kali ini tujuan kami menuju kediaman seorang gadis yang baru saja gw kerjai. Atas permintaan dari gw, Dedi membawa motor dengan sangat cepat. Selap selip di jalanan kota Bogor yang saat itu agak sepi.
Gw sudah tak sabar ingin bertemu dengan Bunga,
Gw ingin cepat cepat memberikan ‘kado’ ini untuknya..
Gw ingin tahu, bagaimana tanggapan dia dengan ‘kado’ yang gw berikan.
Dan gw juga ingin melihat ekspresinya ketika mengetahui sosok ‘Melly’ yang sebenarnya.
Setelah memakan waktu selama 30 menit, akhirnya kami berdua tiba di depan sebuah rumah yang masih dalam proses pembangunan. Dedi memilih menunggu gw di samping tak jauh dari rumah tersebut. Gw melongok ke arah teras depan rumahnya dia. Sepi....
Biasanya ada beberapa mas mas yang bekerja, tapi kali ini keadaan teras kosong melompong. Kemudian gw mengucap salam beberapa kali. Masih belum ada jawaban dari penghuni disini.
Justru yang keluar malah salah satu Mas mas yang gw kenal sebagai tukang disini.
“Mas...Bunganya ada?” Tanya gw.
“Ada...Bentar Tak panggilin dulu.” Jawabnya.
Tak lama Bunga pun muncul.Bukan senyum seperti biasanya ketika gw datang, melainkan wajah cemberut yang dia perlihatkan. Gw sudah menduga akan seperti ini sebelumnya. Tapi ini semua hanya sebuah kejutan kecil untuknya...
Ya, kejutan yang aneh!!
“Ngapain kamu kesini...??” Tanya dia dengan wajah bete.
“Selamat ulang tahuuuunn....” Ucap gw, lalu menggenggam kedua tangannya.
“Semoga panjang umur, sehat selalu, dimudahkan rezekinya, dilancarkan urusannya, dan selalu dalam lindungan Allah SWT....”
“Kamuu......” Perlahan bibir tipis itupun menampakkan sebuah senyuman.
“Makasih yaa....Tapi kamu jahat sama akuu...” Ucap dia merengek..
“Jahat kenapa Bunga?” Tanya gw.
“Iya...Melly itu siapa? Tadi aku telefon kamu yang ngangkat dia...”
“Oh, dia temen aku kok...”
“Bohong!! Fajar pasti bohong...”
“......”
Gw hanya tersenyum mendengar ucapannya yang mengatakan gw bohong
Lalu gw keluar, memanggil Dedi yang menunggu gw di samping rumah.
“Nih...aku ajak Melly kesini kok...” Ucap gw sambil nyengir.
“Hah??” Bunga melongo.
Kemudian Dedi pun muncul di hadapan dia...
“Aaaaaaaa.....Fajarnya jahaaat. Bunga dikerjain...!!”
“Hahaha....Surpriiseee...”
“Surprise apaan...Bunga kena tipu gini dibilang surprise...” Ucapnya merengek.
“Hehee....sini Lu Ded, ngapain lu malah bengong aje.” Ujar gw pada Dedi.
Gw perhatikan Dedi masih bengong. Entah dia itu kenapa tiba tiba mangap sambil planga plongo ketika melihat Bunga.
AAhh...penyakit ini mah namanya...penyakit!!
“Bunga, kenalin ini temen aku...”
Lalu mereka pun bersalaman saling memperkenalkan diri.
“Oh, namanya Dedi, kirain Melly...nggak taunya Melly jadi jadian ya...” Ujar Bunga kepada Dedi.
Dedi hanya cengar cengir ketika Bunga bicara seperti itu. Lalu...
“Jar...keluar dulu bentar..”
“Eh ngapain?” Tanya gw.
“Udah ikut gw bentar...”
Gw mengikuti Dedi keluar. Sepertinya ada yang ingin dia sampaikan kepada gw.
“Eh,, lu dapet yang kaya begitu darimana??”
“Jiahh...kenapa lu nanya gitu?”
“Haha...nggak apa apa. Heran aja gw sama lu...Gw langsung balik ya Jar.” Ujarnya kemudian menaiki motornya.
“Oke lah...Makasih banyak Ded dah bantuin gw...Nih, buat gantiin bensin lu.” Ucap gw sambil memberikan sepuluhribu rupiah padanya.
“Udah Jar nggak usah....masih cukup bensin mah.” Ujarnya.
“Yailah masih aja lu malu malu sama gw...Udah nih pegang!!” Gw memaksa.
“Oke, gw terima ya...Yaudah gw cabut dulu Jar. Salam tuh buat si cantik. Hahahaha” Dedi pun pamit.
“Haha...sip Ded...makasih!!”
Gw kembali masuk ke dalam rumah dan duduk di sebelah Bunga.
“Loh temen kamu pulang ya?” Tanya dia.
“Iya, dah sore katanya...Oya, aku ada sesuatu nih buat kamu.”
“Heee.....”
Gw merogoh rogoh isi tas. Dan mengeluarkan boneka kucing sebagai hadiah untuk Bunga di hari ulang tahunnya.
“Ini buat kamu.....”
“Aaaa....Kuciiiing...lucu banget!!” Ujarnya kagum.
“Hehe...maaf ya, aku Cuma bisa ngasih ini...” Ucap gw.
“Kok gituu?? Justru aku seneng...Aku juga suka kucing...makasih ya...” Ujarnya sembari memeluk boneka itu.
Hah...syukurlah...sepertinya Bunga menyukai hadiah pemberian dari gw. Kali ini terlihat wajahnya nampak sumringah dihiasi senyum kebahagiaan.
Gw pun turut merasakannya...merasakan kebahagiaan seperti yang dia rasakan.
Gw bersyukur dipertemukan dengan gadis seperti dia...Gw bersyukur bisa memilikinya. Dia gadis yang baik. Dengan segala kepolosan dan keluguannya, dia menghiasi hari hari gw. Karena hal itu, gw jadi semakin menyayanginya.
Entah berapa lama gw mengobrol dengannya, becanda, tertawa bersama, hingga tak terasa hari sudah mulai gelap, dan gw harus segera pulang.
“Bunga...aku pulang dulu ya...” Ucap gw.
“Yaah...aku masih mau sama kamu...”
“Besok lagi kan bisa....Hehee...”
“Yaudah kalo gitu...”
“Nggak apa apa kan kalo akunya pulang...”
“Iya....Emmm....Aku boleh panggil kamu....’Sayang’....” Ujarnya.
“Hee...iya boleh kok...” Jawab gw singkat.
“Makasih ya Sayaaang....Makasih boneka kucingnya....”
“Iyaa...sama sama sayaang...” Balas gw.
Gw membereskan tas serta jaket gw bersiap untuk pulang.
Sesaat sebelum gw pulang gw kembali mendekat ke arah dia.
Naluri itu tiba tiba muncul...
Gw pegang lembut wajahnya, kemudian satu kecupan hangat mendarat di keningnya...Dia membalasnya dengan senyuman manis seraya mengucapkan ‘Terima Kasih’
Ini sebuah pertanda, kalau gw sangat menyayanginya...Bahkan gw mencintainya...
Iya....gw mencintainya....
"Little Wing"
Well, she's walking through the clouds,
With a circus mind that's running wild,
Butterflies and Zebras,
And Moonbeams and fairy tales.
That's all she ever thinks about.
Riding with the wind.
When I'm sad, she comes to me,
With a thousand smiles she gives to me free.
It's alright, she says it's alright,
Take anything you want from me,
Anything.
Fly on little wing.
Well, she's walking through the clouds,
With a circus mind that's running wild,
Butterflies and Zebras,
And Moonbeams and fairy tales.
That's all she ever thinks about.
Riding with the wind.
When I'm sad, she comes to me,
With a thousand smiles she gives to me free.
It's alright, she says it's alright,
Take anything you want from me,
Anything.
Fly on little wing.
efti108 memberi reputasi
1